Anda di halaman 1dari 3

NAMA

: Meironi Sadana Putra

NIM

: DBD 114 121

MATKUL

: K3

Analisis SWOT, kaitan K3 sebagai contohnya

Kecelakaan di Tambang Batu Bara China, 19 Tewas

Kecelakaan tambang di China bukanlah suatu hal yang aneh, foto diatas adalah proses evakuasi
jenazah yang tewas akibat kecelakaan tambang batu bara pada 4 Oktober 2011 (Foto: China.org.cn)

SHUOZHUO Setidaknya 19 orang tewas dalam kecelakaan yang terjadi di tambang batu
bara di China Utara. Semua korban diketahui sebagai penambang di sana.
Sebagaimana diwartakan Xinhua, Kamis (24/3/2016), kecelakaan terjadi pada Rabu 23 Maret
2016 malam di platform bawah tanah yang terletak di sebuah tambang di Kota Shuozhuo,
Provinsi Shanxi, China.
Dilaporkan, pengelola tambang tersebut adalah sebuah perusahaan bernama Shanxi Datong
Coal Mine Group. Media setempat CCTV menyatakan saat insiden itu terjadi ada 129 orang
yang sedang berada di bawah tanah.
Selain 19 penambang yang bernasib nahas tersebut, terdapat orang-orang yang berhasil
menyelamatkan diri. Sebab ketika kecelakaan itu terjadi, mereka berlari ke tempat yang
aman.

China memang terkenal dengan perindustrian dan pertambangan yang tidak terlalu
memerhatikan regulasi keselamatan. Sehingga, kelalaian kerap memicu insiden yang dapat
menelan korban jiwa para pekerja.

Sumber : http://news.okezone.com/read/2016/03/24/18/1344581/kecelakaan-di-tambang-batu-barachina-19-tewas.

Analisis SWOT Pembahasan :


Berdasarkan berita dan gambar sebelumnya, menghasilkan kesimpulan dan informasi bahwa
Pertambangan itu sangat minim dalam penetapan Keselamatan para pekerjanya, atau dengan
kata lain manajemen K3-nya sangat kurang di perhatikan. Sehingga Penganalisisan dengan
metode SWOT meliputi hal-hal Sebagai berikut :
1. Kekuatan ( Strength )

Sebagai salah satu Wilayah yang memiliki Sumberdaya yang besar tempat
atau lingkungan tersebut sangatlah memiliki Prospek tinggi untuk menunjang
kebutuhan maupun meningkatkan perekonomian sekitar.
Dengan melakukan penambangan bawah tanah, masalah isu lingkungan bisa
di reduksi (dikurangi) seperti penebangan pohon dan pengerukan tanah.
Dapat menekan biaya pengeluaran, dari pada biaya jika melakukan tambang
terbuka.

2. Kelemahan ( Weakness )

Sangat terlihat bahwa Pengusaha bahkan pekerjanya sendiri sangat kurang


memperhatikan Keselamatan kerja.
Regulasi keselamatan kerja yang tak mengontrol secara penuh tentang
kecelakaan kerja, dengan kata lain regulasi hanya seperti pajangan. Tak
mengikat pada owner atau pengusahanya bila terjadi kecelakaan (mungkin tak
bias ke para pengembangnya).
Kurangnya atau belum adanya pelatihan ( training ) kepada petugas petugas
Pekerja tambang yang ada, sehingga program K3 belum diterapkan dengan
benar. Ini dapat dilihat dari banyaknya kejadian di daerah sana.
Kontruksi yang tidak diperhatikan oleh pengawas, dan kelalaian para
pekerjanya, menunjukan ke tidak pedulian pada resiko.

3. Peluang ( opportunity )

Tersedianya Diploma dan Sarjana Kesehatan Lingkungan yang dapat


menerapkan pengetahuan mengenai K3
Kebutuhan tentang Pebaikan Struktur kontruksi, membuka kesempatan bagi
para konstruktor untuk membangun ulang.
Supply bahan baku untuk membangun kembali kontruksi akan diperlukan.

4. Ancaman/Hambatan ( threat )

Kurangnya pemahaman serta kesadaran tentang pentingnya diterapkan K3 di


sekitar lingkungan kerja di perusahaan itu.
Konstruksi yang tua, dapat menimbulkan kecelakaan susulan.
Tidak ada pengawasan dari pemerintah tentang perlunya K3 diterapkan.
Ketidak pedulian yang hanya akan berakibat fatal, mementingkan Pendapatan
bersih tanpa memperhatikan aspek lain yang memiliki resiko.