Anda di halaman 1dari 7

IBD (Inflammatory Bowel Disease)

Inflammatory bowel disease (IBD) merupakan penyakit peradangan menahun pada usus
yang tidak diketahui penyebabnya, kemungkinan melibatkan reaksi sistem imun tubuh terhadap
saluran pencernaan. Inflammatory bowel disease terdiri atas dua tipe, yaitu kolitis ulseratif dan
penyakit Crohn. Sesuai dengan namanya, kolitis ulseratif hanya mengenai kolon sedangkan
penyakit Crohn dapat mengenai semua segmen saluran pencernaan, mulai dari mulut sampai
anus.
Penyakit Crohn adalah peradangan menahun pada dinding usus. Penyakit ini mengenai
seluruh ketebalan dinding usus. Kebanyakan terjadi pada bagian terendah dari usus halus (ileum)
dan usus besar, namun dapat terjadi pada bagian manapun dari saluran pencernaan, mulai dari
mulut sampai anus, dan bahkan kulit sekitar anus.
Kolitis Ulserativa merupakan suatu penyakit menahun, dimana usus besar mengalami
peradangan dan luka, yang menyebabkan diare berdarah, kram perut dan demam. Tidak seperti
penyakit Crohn, kolitis ulserativa tidak selalu memperngaruhi seluruh ketebalan dari usus dan
tidak pernah mengenai usus halus. Penyakit ini biasanya dimulai di rektum atau kolon sigmoid
(ujung bawah dari usus besar) dan akhirnya menyebar ke sebagian atau seluruh usus besar.

SOAL FARMAKOTERAPI IBD


Tn. PM, usia 37 tahun, BB 58 kg, datang ke dokter dengan keluhan sering mengalami
perdarahan di daerah anus, disertai demam, rasa lemas dan Tn PM mengalami penurunan berat
badan sebanyak 5 kg dalam waktu 3 bulan. Dari pemeriksaan, didapatkan terdapat benjolanbenjolan di colon besar Tn. PM. Sebelumnya Ayah Tn. PM juga pernah mengalami hal serupa
dan meninggal setelah 3 tahun kemudian. Hasil pemeriksaan lainnya Hb pasien 9,8 mg/dL. Dari
hasil pemeriksaan tersebut, dokter mendiagnosis bahwa Tn. PM menderita penyakit inflamasi
usus atau IBD. Dokter meresepkan Sulfasalazin dan metilprednisolon.
PERTANYAAN :
1. Jelaskan bagaimana patofisiologi dari terjadinya IBD yang terjadi pada Tn. PM
2. Jelaskan peranan genetik terhadap terjadinya penyakit IBD tersebut

3. Jelaskan bagaimana rekomendasi dosis terapi obat yang diberikan dokter pada Tn. PM
4. Adakah rekomendasi obat lain yang perlu diberikan pada pasien?
JAWABAN :
1. Patofisiologi dari terjadinya IBD pada Tn.PM
Jalur akhir daripada patofisiologi IBD adalah inflamasi pada mukosa traktus intestinal
menyebabkan ulserasi, edema, perdarahan, kemudian hilangnya air dan elektrolit. Banyak
mediator inflamasi yang telah diidentifikasi pada IBD, dimana mediator-mediator ini memiliki
peranan penting pada patologi dan karakteristik klinik penyakit ini. Sitokin yang dikeluarkan
oleh makrofag karena respon daripada berbagai rangsangan antigenik, berikatan dengan reseptorreseptor yang berbeda, kemudian menghasilkan efek-efek autokrin, parakrin, dan endokrin.
Sitokin juga akan mendiferensiasikan limfosit menjadi berbagai tipe sel T. Sel T helper tipe 1
(TH-1) berhubungan dengan CD (crohn disease) , sedangkan TH-2 berhubungan dengan UC
(ulcerative colitis). Respon imun inilah yang akan merusak mukosa intestinal dan menyebab
proses inflamasi yang kronis.
Dari kondisi yang dialami oleh Tn.PM dapat diketahui bahwa Tn.PM mengalami IBD
dengan jenis Crohn disease sebagaimana penjelasan mengenai patofisiologinya sebagai berikut:
Crohn Disease CD dapat melibatkan bagian manapun daripada saluran pencernaan, mulai
dari mulut sampai anus, dan menyebabkan tiga pola penyakit yaitu penyakit inflamasi, striktur,
dan fistula. Penyakit ini melibatkan segmen-segmen oleh karena proses inflamasi granuloma
nonspesifik. Tanda patologi yang paling penting dari CD adalah transmural, melibatkan seluruh
lapisan daripada usus, tidak hanya mukosa dan submukosa, dimana jika mukosa dan submukosa
saja merupakan cirri daripada UC. Selain itu, CD tidak berkesinambungan, dan memiliki skip
area antara satu atau lebih dari area yang terkena penyakit. Jika penyakit ini berlanjut, mukosa
akan tampak seperti batu bulat (cobblestone) oleh karena ulserasi yang dalam dan longitudinal
pada mukosa yang normal. Gejala sistemik yang dapat terjadi adalah demam, berkeringat,
merasa lemas seperti yang dialami oleh Tn.PM. Demam ringan merupakan tanda pertama yang
harus diwaspadai, kemudian pasien dapat merasa kelelahan yang berhubungan dengan anemia.
Berak berdarah, terkadang dengan tenesmus, khas terjadi pada UC, namun pada CD kadangkadang juga dapat terjadi.

Kehilangan berat badan lebih sering terjadi pada CD daripada UC karena terjadinya
malabsorpsi yang berhubungan dengan penyakit pada usus halus. Pasien bisa tidak mau makan
karena ingin mengurangi gejala yang terjadi. Pasien dengan penyakit CD mungkin dapat
ditemukan massa pada kuadran perut kanan bawah yang akan menimbulkan komplikasi seperti
fisura atau fistula perianal, abses, dan prolaps rektum yang akan menyebabkan kehilangan darah
yang tidak biasanya dan anemia.
2.

Terdapat lebih dari 1 juta orang dengan IBD di Amerika Serikat dengan kasus baru

didiagnosis dengan kecepatan 10 kasus dalam 100.000 orang. Penyakit ini terhitung
menyebabkan 700.000 kunjungan dokter per tahun dan 100.000 rawat inap per tahun di Amerika
Serikat. Colitis dapat disembuhkan dengan operasi namun Crohns disease tidak bisa
disembuhkan. Ada terapi medis yang baik tersedia untuk kedua penyakit.
Terdapat faktor genetik dalam risiko terserang IBD sebesar 10-20% jika terdapat anggota
keluarga yang menderita IBD. Terjadinya Crohns disease meningkat antara kerabat pasien
Crohns disease sedangkan terjadinya Ulcerative Colitis meningkat di antara kerabat pasien
radang borok usus besar. Kedua penyakit juga bisa terdapat dalam keluarga yang sama dengan
salah satu anggota keluarga yang menderita ulcerative colitis dan anggota keluarga lain yang
memiliki penyakit Crohn.
IBD juga diduga dipengaruhi oleh faktor genetik, terutama penyakit Crohn. Penelitian
epidemiologi menunjukkan bahwa 25% penderita IBD memiliki riwayat keluarga dengan IBD.
(penulis lain 10-25%). Pada kembar monozigot peluang untuk Penyakit Crohn sekitar 42%-58%
dan peluang untuk Kolitis Ulserativa sekitar 6%-17%. Juga, kerabat tingkat pertama pasien
dengan IBD mengalami peningkatan 13 kali lipat risiko terserang penyakit IGD. Penelitian lain
telah mengamati tanda-tanda genetik yang ditemukan pada mereka dengan IBD (khususnya
kompleks histocompatability utama, HLA-DR2 untuk kolitis ulseratif dan HLA-A2 untuk
penyakit Crohn). Beberapa gen telah dikaitkan dengan IBDs, namun sifat dari produk gen belum
ditetapkan.
Sampai saat ini telah ditemukan beberapa kelainan kromosom yang berhubungan dengan
Penyakit Crohn dan Kolitis Ulserativa atau keduanya. Kromosom 16 (gen IBDI) atau gen
CARD15 berhubungan dengan Penyakit Crohn. Perinuclear antinetrophil antibody (pANCA)

ditemukan pada 70% penderita Kolitis Ulserativa. Kromosom 5 (5q31), 6 (6p21 dan 19p) sering
ditemukan pada penderita IBD.
3. Obat yang diresepkan dokter yaitu sulfasalazin dan metilprednisolon.

Sulfasalazin
Sulfasalazin adalah salah satu jenis obat antiinflamasi non steroid. Obat ini
umumnya digunakan dalam menangani penyakit inflamasi usus seperti kolitis ulseratif
dan penyakit Crohn. Akan tetapi obat ini hanya berfungsi untuk mengurangi gejala dan
bukan untuk menyembuhkan penyakit.
Obat ini dapat dikonsumsi oleh dewasa dan anak-anak. Bentuk sediaannya berupa
tablet. Sulfasalazin harus digunakan dengan resep dokter, terutama untuk anak-anak.
Sulfasalazin sebaiknya dikonsumsi setelah makan, harus minum banyak cairan selama
mengkonsumsinya guna mencegah gangguan ginjal. Sulfasalazin dapat menyebabkan
pusing, sehingga setelah mengkonsumsinya dilarang mengemudi atau mengoperasikan
alat berat. Harus diperhatikan juga kontra indikasi obat ini.
Takaran konsumsi sulfasalazin untuk tiap pasien berbeda-beda, tergantung tingkat
keparahan penyakit, usia, kondisi kesehatan pasien, serta reaksi tubuh pasien terhadap
obat. Dosis konsumsi sulfasalazin untuk pasien dewasa umumnya dianjurkan sebanyak
500 mg per hari yang sebaiknya diminum pada malam hari. Setelah satu minggu,
dosisnya akan ditingkatkan sebanyak 2.000 3.000 mg (2-3 g) per hari. Dosis ini bukan
untuk sekali minum, tapi terbagi dalam beberapa kali konsumsi. Dosis maksimalnya
adalah 3.000 mg per hari.
Untuk dosis sulfasalazin pada Tn. PM sebaiknya mengikuti aturan untuk pasien
dewasa pada umumnya, yaitu 500 mg per hari pada malam hari, kemudian setelah satu
minggu dosisnya dapat ditingkatkan menjadi 2.000 3.000 mg. Dosisnya mengikuti
aturan dosis dewasa secara umum karena IBD yang dialami oleh Tn. PM merupakan

gejala yang dialami pasien pada umumnya.


Metilprednisolon
Metilprednisolon termasuk jenis obat kortikosteroid. Kinerja obat ini adalah
menekan sistem kekebalan tubuh untuk mengurangi gejala peradangan seperti
pembengkakan, nyeri, dan ruam. Obat ini dapat digunakan untuk menangani inflamasi
dalam berbagai penyakit, seperti penyakit Crohn, kolitis ulseratif, alergi, dll.
Obat ini dapat dikonsumsi oleh dewasa dan anak-anak. Bentuk sediaannya berupa
tablet

dan

suntik.

Metilprednisolon

harus

digunakan

dengan

resep

dokter.

Metilprednisolon dikonsumsi dengan makanan atau setelah makan. Peningkatan dan


penurunan dosis perlu dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya efek samping
dan gejala putus obat. Harus diperhatikan juga kontra indikasi obat ini.
Dosis metilprednisolon berbeda-beda untuk tiap pasien, tergantung kondisi
kesehatan pasien, tingkat keparahan penyakit, dan respon tubuh pasien terhadap
pengobatan ini. Takaran metilprednisolon umumnya berkisar 4-48 mg per hari. Dosis obat
ini biasanya akan direvisi ulang oleh dokter setelah beberapa waktu sesuai dengan respon
tubuh terhadap metilprednisolon. Bila telah diperoleh efek terapi yang memuaskan, dosis
harus diturunkan sampai dosis efek minimal untuk pemeliharaan.
Untuk dosis metilprednisolon pada Tn. PM sebaiknya mengikuti aturan untuk
pasien dewasa pada umumnya, yaitu 4-48 mg per hari, kemudian setelah diperoleh efek
terapi yang memuaskan, dosis harus diturunkan sampai dosis

efek minimal untuk

pemeliharaan.
4.

Rekomendasi obat lain , yaitu :

1. Infliksimab
Infliksimab telah disetujui untuk penanganan penyakit Crohn aktif berat pada pasien yang
tidak memberikan respon memadai terhadap terapi kortikosterod dan imunosupresan
konvensional atau yang tidak toleran terhadap obat-obat tersebut. Infliksimab juga diizinkan
untuk penanganan fistulating Crohns disease yang tidak dapat ditangani. Pada anak, manfaat
pengobatan dengan infliksimab hanya pendek (6-8 minggu). Terapi pemeliharaan dengan
infliksimab sebaiknya dipertimbangkan untuk pasien yang memberikan respon terhadap tahapan
induksi awal, interval dosis yang tetap mungkin lebih dibanding dosis yang berselang.
2. Metronidazol
Metronidazol bisa memberikan manfaat pada terapi penyakit Crohn aktif yang
melibatkan perianal, karena aktivitas antibakterinya. Metronidazol pada dosis 0,6-1,5 g sehari
dalam dosis terbagi telah digunakan; hal ini biasanya diberikan selama 1 bulan tetapi tidak lebih
dari 3 bulan, karena adanya kemungkinan terjadi neuropati perifer. Antibakteri lain sebaiknya
diberikan jika secara spesifik diindikasikan (misalnya sepsis yang terkait dengan penyakit
perianal dan fistulas) dan untuk mengatasi pertumbuhan bakteri yang berlebih pada usus kecil.

3. Mesalamin
Mesalamin, dosis 30-50 mg/kg/hari dalam2-4 dosis (maksimal 3,2g/hari). Mesalamine
topikal lebih efektif daripada mesalamine lisan atau steroid topikal untuk disease.36 distal.
Kombinasi lisan dan mesalamine topikal lebih efektif daripada baik sendiri untuk distal aktif
disease 26,36,64,65. Bila diberikan secara oral , biasanya 4 sampai 6 g / hari , dan mungkin
hingga 8 g / hari. Mesalamine jelas lebih efektif daripada placebo tapi tidak lebih efektif daripada
sulfasalazine untuk penyakit yang luas.
4. Budenisone
Mekanisme aksi dari Budesonide mengontrol laju sintesis protein, menekan migrasi
leukosit PMN, fibroblas, membalikkan permeabilitas kapiler dan stabilisasi lisosomal pada
tingkat

sel

untuk

mencegah

atau

mengendalikan

peradangan.

Kontraindikasi

nya

Hipersensitivitas. Efek samping yang dapat ditimbulkan yaitu kehilangan kolagen kulit dan atrofi
SC, hipopigmentasi lokal sangat pigmentasi kulit, kekeringan, iritasi, epistaksis.
5. Para agen imunosupresif
Para agen imunosupresif (azathioprine dan mercaptopurine) adalah umumnya terbatas
pada pasien yang tidak mencapai tanggapan yang memadai terhadap terapi medis standar, atau
untuk mengurangi dosis steroid saat dosis toksik tercapai. Dosis lazim azathioprine adalah 2
sampai 3 mg / kg / hari dan 1 sampai 1,5 mg / kg / hari untuk mercaptopurine. Sampai dengan 3
sampai 4 bulan mungkin diperlukan untuk mengamati respon. Mulai dosis biasanya 50 mg / hari
dan meningkat pada interval 2 minggu.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.idmedis.com/2014/11/pengertian-dehidrasi-gejala-penyebab.html
( diakses tanggal 7 oktober 2016)