Anda di halaman 1dari 22

Keluarga Binaan

Fransisca Hilda Carolina Pratiwi


11-2014-222
Dokter Muda Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta

Pasien Pertama
Hipertensi
Menurut WHO, hipertensi yaitu apabila tekanan darah seseorang sistoliknya lebih dari
120 mmhg dan tekanan diastoliknya lebih dari 90 mmhg atau sedang memakai obat anti
hipertensi. Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya disebut sebagai hipertensi primer,
contoh faktor keturunan, obesitas, pola hidup, sedangkan hipertensi sekunder dengan sebab
yang diketahui, contoh ginjal, vascular, kelainan endokrin.
Klasifikasi hipertensi menurut The Seventh Report Of The Joint Committe on
Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure ( JNC 7 ).
Blood Pressure Classification SBP ( mmhg )
DBP ( mmhg )
Normal
<120
And < 80
Prehypertension
120-139
Or 80-89
Stage 1 hypertension
140-159
Or 90-99
Stage 2 hypertension
160
Or 100
Data epidemiologi menunjukkan bahwa dengan meningkatnya populasi lanjut usia,
maka jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan juga besar, dimana hipertensi sistolik
maupun hipertensi sistolik diastoli sering timbul pada usia > 60 tahun.
Manifestasi Klinis dan Diagnosis
Peninggian tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala. Bila
demikian gejala baru muncul setelah terjadi komplikasi pada ginjal, mata, otak, atau jantung.
Gejala lain yang lebih sering ditemukan adalah sakit kepala, nyeri tengkuk, mata berkunangkunang, dan pusing.
Untuk mendiagnosa hipertensi tidak dapat ditegakkan dalam satu kali pengukuran,
hanya dapat ditetapkan setelah dua kali atau lebih pengukuran pada kunjungan yang berbeda,
kecuali terdapat kenaikan yang tinggi atau gejala-gejala klinis. Pengukuran pertama harus
1

dikonfirmasikan pada sedikitnya 2 kunjungan lagi dalam waktu satu sampai beberapa
minggu. Pengukuran tekanan darah dilakukan dalam keadaan pasien duduk bersandar, setelah
pasien beristirahat dalam 5 menit.
Pemeriksaan laboratorium rutin dilakukan sebelum terapi bertujuan untuk
menentukkan adanya kerusakan organ dan faktor lain atau mencari penyebab hipertensi.
Biasanya diperiksa urin analisa, darah perifer lengkap, kimia darah( kolesterol HDL, LDL ),
dan EKG.
Anamnesis
Anamnesis adalah serangkaian kegiatan wawancara yang dilakukan oleh dokter
kepada pasien untuk menemukan diagnosis penyakit. Hal-hal yang ditanyakan pada
anamnesis meliputi identitas pasien keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat
penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, riwayat pribadi, dan riwayat sosial. Pada
wawancara kunjungan yang dilakukan pada rumah warga Rengasjaya I, Kecamatan
Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, data anamnesis yang didapatkan adalah sebagai
berikut.
a. Identitas Pasien
- Nama
: Ny. S
- Umur
: 61 tahun.
- Jenis kelamin
: Perempuan
- Pekerjaan
: Pegawai Negeri
- Pendidikan
: Sarjana Pendidikan
- Alamat
: Rengasjaya I rt 50 / rw 11
b. Riwayat Penyakit Sekarang
- Keadaan kesehatan sekarang
: Baik
- Penyakit yang diderita saat ini
: Hipertensi
Keluhan tambahan
: Nyeri ulu hati
c. Riwayat Penyakit Dahulu
- Penyakit yang pernah diderita
: Tidak ada
- Penyakit keturunan
: Hipertensi
d. Riwayat Penyakit Keluarga
- Kecacatan anggota keluarga
: Tidak ada
- Penyakit keturunan
: Hipertensi
e. Riwayat Pribadi
- Kebersihan perorangan
: Cukup
- Kebiasaan buruk
:Tidak ada
f. Riwayat Sosial
- Lingkungan tempat tinggal perumahan padat penduduk, rumah jarang dibersihkan,
-

terdapat banyak barang.


Terdapat kandang ayam dibelakang rumah.

Selain data-data diatas, juga didapatkan data-data lainnya yang melengkapi sebagai
berikut.
a. Riwayat Biologis Keluarga.
- Keadaan kesehatan anggota keluarga lainnya
- Kebersihan anggota keluarga lainnya
- Pola makan
- Pola istirahat
- Jumlah anggota keluarga
b. Psikologis Keluarga
- Tempat mencari pelayanan kesehatan
- Pola rekreasi
c. Spiritual Keluarga
- Ketaatan beribadah
- Keyakinan tentang kesehatan
d. Keadaan Sosial Keluarga
- Tingkat pendidikan
- Hubungan antar anggota keluarga
- Hubungan dengan orang lain
- Kegiatan organisasi sosial
- Keadaan ekonomi

: Baik.
: Sedang.
: Sedang
: Sedang.
: 2 orang.
: Puskesmas.
: Kurang.
: Baik.
: Baik
: Baik
: Baik
: Baik.
: Baik.
: Sedang

Pelayanan Kesehatan Dokter Keluarga


Tindakan anjuran untuk penyakit hipertensi adalah sebagai berikut.
a. Promotif
Dilakukan pemberian edukasi tentang gejala-gejala dan komplikasi hipertensi.
Selain untuk penyakit juga dilakukan penyuluhan untuk hidup bersih dan sehat
seperti lebih memperhatikan kebersihan diri dan mengatur pola makan dengan
banyak mengkonsumsi makanan bergizi.
b. Preventif
Pasien dianjurankan untuk meningkatkan aktifitas fisik dengan cara berolah raga
20-25 menit, mengontrol berat badan, membatasi asupan garam.
c. Kuratif
Pemberian obat anti hipertensi seperti amlodipin 10 mg.
d. Rehabilitatif
Melakukan kontrol ke puskesmas setiap satu bulan sekali atau sebelum obat habis.
Pencegahan
Terdapat beberapa pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah tejadinya
penyakit hipertensi:
-

Menjaga pola makan, membatasi asupan garam, dan makanan berlemak


Berolah raga 20-25 menit.
3

Sering memeriksakan kesehatan di puskesmas

Saran
Berdasarkan masalah yang dimiliki keluarga ibu Supinah sebaiknya menjalankan
pengobatan dengan teratur, tidak boleh putus obat dan melakukan aktifitas fisik.

Lampiran Foto

Pasien kedua
Stroke Hemoragik
Stroke adalah gangguan atau disfungsi otak, yang terjadi secara mendadak, baik fokal
atau global, dikarenakan adanya suatu kelainan pembuluh darah otak dengan defisit
neurologis yang terjadi lebih dari 24 jam atau terjadi kematian. Bila disfungsi serebral
sembuh sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam dinamakan TIA ( Transient Ischemic
Attack )
Berdasarkan patologi anatomi dan penyebabnya:
I.

Stroke Iskemik
a. Transient Ischemic Attack (TIA)
b. Trombosis serebri
c. Embolia serebri
5

II.

Stroke Hemoragik
a. Perdarahan intra serebral
b. Perdarahan subarachnoid

Berdasarkan stadium/ pertimbangan waktu:


a. Serangan iskemik sepintas/ TIA
Pada bentuk ini gejala neurologik yang timbul akibat gangguan peredaran
darah di otak akan menghilang dalam waktu 24 jam
b. RIND
Gejala neurologik yang timbul akan menghilang dalam waktu lebih lama
dari 24 jam, tetapi tidak lebih dari seminggu.
c. Progressing stroke atau stroke in evolution
Gejala neurologik yang makin lama makin berat
c. Completed stroke
Gejala klinis sudah menetap.
Berdasarkan sistem pembuluh darah:
a. Sistem Karotis
b. Sistem vertebro-basiler

Faktor potensial kejadian stroke dibedakan menjadi 2 kategori besar yakni :


1. Faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi
Contoh : usia, jenis kelamin, herediter.
2. Faktor yang dapat dimodifikasi :
Contoh : hipertensi, penyakit jantung, diabetes militus, obesitas, hiperkolesterolemia,
merokok.
Gejala umum stroke antara lain : kelemahan atau kelumpuhan dari anggota badan, kesulitan
menelan, kehilangan kesadaran, nyeri kepala, hilangnya sebagian penglihatan atau
pendengaran, penglihatan ganda, sulit memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang tepat,
pingsan.
Perbedaan stroke hemoragik dan stroke infark

Diagnosis stroke

Catatan

: 1. SSS> 1 = Stroke hemoragik


2. SSS < -1 = Stroke non hemoragik

Anamnesis
Pada wawancara kunjungan yang dilakukan pada rumah warga Rengasjaya I RT 53
RW 12, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, data anamnesis yang didapatkan
adalah sebagai berikut.

a. Identitas Pasien
Nama
: Ny. I
Umur
: 46 tahun.
Jenis kelamin
: Perempuan
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Pendidikan
: Tamat SD
Alamat
: Krajan A
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Keadaan kesehatan sekarang
: Sedang
Penyakit yang diderita saat ini
: tangan kiri dan kaki kiri lemas dan
bengkak
Keluhan tambahan
c. Riwayat Penyakit Dahulu

: sakit kepala

Penyakit yang pernah diderita


: hipertensi
Penyakit keturunan
: Ada
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Kecacatan anggota keluarga
: Tidak ada
Penyakit keturunan
: Ada
e. Riwayat Pribadi
Kebersihan perorangan
: Sedang
Kebiasaan buruk
: Tidak ada
f. Riwayat Sosial
Rumah jarang dibersihkan, terdapat banyak barang, pencahayaan kurang dan
sirkulasi udara yang kurang baik.

Selain data-data diatas, juga didapatkan data-data lainnya yang melengkapi sebagai
berikut.
a. Riwayat Biologis Keluarga.
- Keadaan kesehatan anggota keluarga lainnya
- Kebersihan anggota keluarga lainnya
- Pola makan
- Pola istirahat
- Jumlah anggota keluarga
b. Psikologis Keluarga
- Tempat mencari pelayanan kesehatan
- Pola rekreasi
c. Spiritual Keluarga
- Ketaatan beribadah
- Keyakinan tentang kesehatan
d. Keadaan Sosial Keluarga
- Tingkat pendidikan
- Hubungan antar anggota keluarga
- Hubungan dengan orang lain
- Kegiatan organisasi sosial
- Keadaan ekonomi

: Sedang.
: Sedang.
: Buruk
: Kurang baik
: 3 orang.
: Puskesmas.
: Kurang.
: Kurang
: Kurang
: Kurang
: Baik
: Kurang
: Kurang
: Kurang

Pelayanan Kesehatan Dokter Keluarga


Tindakan anjuran untuk penyakit stroke adalah sebagai berikut.
a. Promotif
Dilakukan pemberian edukasi tentang gejala-gejala dan komplikasi penyakit
stroke. Selain untuk penyakit juga dilakukan penyuluhan untuk hidup bersih dan
dan menjaga pola makan pada pasien stroke.
b. Preventif
Pasien dianjurankan untuk menjaga pola makan seperti jangan makan-makanan
yang berlemak, membatasi konsumsi garam.
c. Kuratif
8

Pemberian obat seperti captopril, furosemid, asam traneksamat, dan lain-lain


d. Rehabilitatif
Melakukan kontrol ke puskesmas setiap satu bulan sekali atau sebelum obat habis.
Pencegahan
Terdapat beberapa pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah tejadinya stoke:
1. Pencegahan primer
Memasyarakatkan gaya hidup sehat bebas stroke:
-

Menghindari : rokok, stress mental, alkohol, kegemukan, konsumsi garam


berlebihan, obat-obat golongan amfetamin, kokain dan sejenisnya

Mengurangi: kolesterol dan lemak dalam makanan

Mengendalikan: hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung misalnya


fibrilasi atrium, infark miokard akut, penyakit jantung reumatik), penyakit
vaskular aterosklerotik lainnya

2. Pencegahan sekunder
Modifikasi gaya hidup beresiko stroke dan faktor resiko, misalnya:

Hipertensi: diet, obat anti hipertensi yang sesuai

Diabetes melitus: diet, obat hipoglikemik oral/insulin

Penyakit jantung aritmia nonvalvular (antikoagulan oral)

Dislipidemia : diet rendah lemak dan obat anti dislipidemia

Berhenti merokok

Hindari alkohol, kegemukan dan kurang gerak

Hiperurisemia: diet dan antihiperurisemia


Melibatkan peran serta keluarga seoptimal mungkin

Pencegahan

stroke merupakan salah satu tujuan utama dari program

kesehatan. Pengenalan faktor resiko dan tindakan untuk menghilangkan atau


menurunkan berbagai akibat yang ditimbulkannya merupakan upaya utama
guna mengurangi tingkat kesakitan dan kematian yang diakibatkan oleh
stroke.
Saran
Berdasarkan masalah yang dimiliki keluarga ibu Iti melakukan kontrol ke puskesmas
secara teratur dan minum obat secara teratur, mengatur pola makan, dan pola istirahat.

Lampiran foto

10

Pasien Ketiga
Tuberculosis Paru
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkanoleh kuman
TBC (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TBC menyerang paru,
tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Kuman TBC, cepat mati dengan sinar
matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan
lembab dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dermant, tertidur lama selama beberapa tahun.
Gejala tuberkulosis antara lain :
-

Gejala utama : batuk terus menerus dan berdahak selama hampir 3 minggu
atau lebih.
Gejala tambahan :
Dahak bercampur darah
Batuk darah
Sesak nafas dan nyeri dada
Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun, malaise, berkeringat
malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari sebulan.

Diagnosis TBC dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahat secara
mikroskopis, hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga spesimen
SPS BTA hasilnya positif. Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan
lebih lanjut yatu foto rontgen dada atau pemeriksaan dahak SPS diulang. Jika hasil rontgen

11

mendukung TBC maka penderita didiagnosis sebagai penderita TBC BTA positif. Hasil
rontgen tidak mendukung TBC, maka pemeriksaan dahak SPS diulangi.
Uji tuberkulin dilakukan dengan cara Mantoux ( penyuntikan intrakutan ) dengan semprit
tuberkulin 1 cc. Pembacan dilakukan

48-27 jam setelah penyuntikan. Diukur diameter

transversal dari indurasi yang terjadi, positif bila indurasi > 10 mm ( pada gizi baik ), atau >
5mm ( pada gizi buruk ).

Anamnesis
Anamnesis adalah serangkaian kegiatan wawancara yang dilakukan oleh dokter
kepada pasien untuk menemukan diagnosis penyakit. Hal-hal yang ditanyakan pada
anamnesis meliputi identitas pasien keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat
penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, riwayat pribadi, dan riwayat sosial. Pada
wawancara kunjungan yang dilakukan pada rumah warga bojongkarya I, Kecamatan
Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, data anamnesis yang didapatkan adalah sebagai
berikut.
g. Identitas Pasien
- Nama
: Tn.K
- Umur
: 48 tahun.
- Jenis kelamin
: Laki-laki
- Pekerjaan
: Pedagang
- Pendidikan
: Tamat SMP
- Alamat
: Bojongkarya I
h. Riwayat Penyakit Sekarang
- Keadaan kesehatan sekarang
- Penyakit yang diderita saat ini
Keluhan tambahan
i. Riwayat Penyakit Dahulu
- Penyakit yang pernah diderita
- Penyakit keturunan
j. Riwayat Penyakit Keluarga
- Kecacatan anggota keluarga
- Penyakit keturunan
k. Riwayat Pribadi
- Kebersihan perorangan
- Kebiasaan buruk

: Seang
: TBC
: Nyeri ulu hati
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Buruk
:Tidak

mencuci

tangan

setelah

melakukan kegiatan
12

l. Riwayat Sosial
- Lingkungan tempat tinggal perumahan padat penduduk, rumah jarang dibersihkan,
terdapat banyak barang, dan kurang pencahayaan.
Selain data-data diatas, juga didapatkan data-data lainnya yang melengkapi sebagai
berikut.
e. Riwayat Biologis Keluarga.
- Keadaan kesehatan anggota keluarga lainnya
- Kebersihan anggota keluarga lainnya
- Pola makan
- Pola istirahat
- Jumlah anggota keluarga
f. Psikologis Keluarga
- Tempat mencari pelayanan kesehatan
- Pola rekreasi
g. Spiritual Keluarga
- Ketaatan beribadah
- Keyakinan tentang kesehatan
h. Keadaan Sosial Keluarga
- Tingkat pendidikan
- Hubungan antar anggota keluarga
- Hubungan dengan orang lain
- Kegiatan organisasi sosial
- Keadaan ekonomi

: Baik.
: Sedang.
: Buruk
: Sedang.
: 2 orang.
: Puskesmas.
: Kurang.
: baik.
: Baik
: Kurang
: Baik
: Baik.
: Kurang.
: Kurang

Pelayanan Kesehatan Dokter Keluarga


Tindakan anjuran untuk penyakit TBC adalah sebagai berikut.
e. Promotif
Dilakukan pemberian edukasi tentang gejala-gejala dan komplikasi TBC. Selain
untuk penyakit juga dilakukan penyuluhan untuk hidup bersih dan sehat seperti
lebih memperhatikan kebersihan diri dan mengatur pola makan dengan banyak
mengkonsumsi makanan bergizi.
f. Preventif
Pasien dianjurankan untuk menjaga kebersihan diri, jika batuk tutuplah mulut
dengan sapu tangan atau tisu, membuka jendela setiap pagi, memakai masker,
jangan meludah disembarang tempat.
g. Kuratif
Pemberian anti tbc antara lain rimfampisin, etambutol, INH, pirasinamid
h. Rehabilitatif
Melakukan kontrol ke puskesmas setiap satu bulan sekali atau sebelum obat habis.

13

Pencegahan
Terdapat beberapa pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah tejadinya
penyakit tbc:
-

Menjaga kebersihan diri, seperti mencuci tangan.


Menjaga daya tahan tubuh dengan makanlah makanan bergizi
Hindari kontak lama dengan penderita penyakit batuk-batuk lama.

Saran
Berdasarkan masalah yang dimiliki keluarga tn. K sebaiknya menjalankan pengobatan
dengan terarur, tidak boleh putus obat dan menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan
setelah melakukan kegiatan.

Lampiran foto

Pasien keempat
Poliomielitis
Poliomelitis adalah kelainan yang disebabkan infeksi virus ( poliovirus ) yang
dapat mempengaruhi seluruh tubuh, termasuk otot dan saraf, dapat menyebabkan
14

kelumpuhan bahkan kematian. Ada dua macam vaksin polio yaitu inactivated polio vaccine
dan oral polio vaccine.
Manifestasi klinis
Sekitar 5 persen orang yang terinfeksi akan mengalami gejala ringan, seperti sakit
tenggorokan, leher kaku, sakit kepala, demam, dan seringkali terdiagnosis sebagai flu.
Kelumpuhan otot telah diperkirakan terjadi pada sekitar satu dari setiap 1.000 orang yang
terkena. Masa inkubasi penyakit ini berkisar antara 9-12 hari, tetapi kadang-kadang 3-35
hari.gambaran klinis yang terjadi sangat bervariasi mulai dari yang paling ringan sampai
dengan yang paling berat, yaitu antara lain :
-

Infeksi tanpa gejala


Kejadian infeksi yang asimptomatik ini sulit diketahui, tetapi biasanya cukup
tinggi terutama di daerah yang standar kebersihannya jelek.
Infeksi abortif
Timbul mendadak dan berlangsung 1-3 hari dengan gejala minor illnes seperti
demam bisa mencapai 39,5C, malaise, nyeri kepala, sakit tenggorokan, anoreksia,
muntah, nyeri otot dan nyeri perut serta kadang-kadang diare.
Poliomielitis non paralitik
Gejala klinik sama dengan infeksi abortif yang berlangsung 1-2 hari. setelah itu
suhu menjadi normal, tetapi kemudian naik kembali, disertai dengan gejala nyeri
kepala, mual, muntah lebih berat, dan ditemukan kekakuan pada otot belakang
leher, punggung serta tungkai.
Poliomielitis paralitik
Gambaran klinis sama dengan poliomielitis non paralitik disertai dengan
kelemahan satu atau beberapa kumpulan otot skelet atau kranial. Gejala ini bisa
menghilang selama beberapa hari dan kemudian timbul kembali disertai dengan
kelumpuhan yaitu berupa flaccid paralysis yang biasanya unilateral dan simetris
yaitu paling sering terkena adalah tungkai.

Gambaran umum poliomielitis

15

Anamnesis
Anamnesis adalah serangkaian kegiatan wawancara yang dilakukan oleh dokter
kepada orang tua pasien untuk menemukan diagnosis penyakit. Hal-hal yang ditanyakan pada
anamnesis meliputi identitas pasien keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat
penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, riwayat pribadi, dan riwayat sosial. Pada
wawancara kunjungan yang dilakukan pada rumah warga Rengasjaya I RT 53 RW 12,
Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, data anamnesis yang didapatkan adalah
sebagai berikut.
m. Identitas Pasien
- Nama
: An. N
- Umur
: 14 tahun.
- Jenis kelamin
: Laki-laki
- Pekerjaan
:- Pendidikan
:- Alamat
: Rengasjaya I RT 53 RW 12
n. Riwayat Penyakit Sekarang
- Keadaan kesehatan sekarang
: Sedang
- Penyakit yang diderita saat ini
: Poliomielitis
Keluhan tambahan
:o. Riwayat Penyakit Dahulu
16

- Penyakit yang pernah diderita


: Tidak ada
- Penyakit keturunan
: Tidak ada
p. Riwayat Penyakit Keluarga
- Kecacatan anggota keluarga
: Tidak ada
- Penyakit keturunan
: Tidak ada
q. Riwayat Pribadi
- Kebersihan perorangan
: Buruk
- Kebiasaan buruk
:r. Riwayat Sosial
- Lingkungan tempat tinggal perumahan padat penduduk, rumah jarang dibersihkan,
terdapat banyak barang, dan kurang pencahayaan.
Selain data-data diatas, juga didapatkan data-data lainnya yang melengkapi sebagai
berikut.
i. Riwayat Biologis Keluarga.
- Keadaan kesehatan anggota keluarga lainnya
- Kebersihan anggota keluarga lainnya
- Pola makan
- Pola istirahat
- Jumlah anggota keluarga
j. Psikologis Keluarga
- Tempat mencari pelayanan kesehatan
- Pola rekreasi
k. Spiritual Keluarga
- Ketaatan beribadah
- Keyakinan tentang kesehatan
l. Keadaan Sosial Keluarga
- Tingkat pendidikan
- Hubungan antar anggota keluarga
- Hubungan dengan orang lain
- Kegiatan organisasi sosial
- Keadaan ekonomi

: Baik.
: Sedang.
: Sedang
: Sedang.
: 3 orang.
: Puskesmas.
: Kurang.
: Baik.
: Baik
: Kurang
: Baik
: Baik.
: Kurang.
: Kurang

Pelayanan Kesehatan Dokter Keluarga


Tindakan anjuran untuk penyakit Poliomielitis adalah sebagai berikut.
i. Promotif
Dilakukan pemberian edukasi tentang gejala-gejala dan komplikasi Poliomielitis
Selain untuk penyakit juga dilakukan penyuluhan untuk hidup bersih dan sehat
seperti lebih memperhatikan kebersihan diri dan mengatur pola makan dengan
banyak mengkonsumsi makanan bergizi.
j. Preventif
Orang tua pasien dianjurankan untuk menjaga kebersihan diri pasien, membuka
jendela setiap pagi.
17

k. Kuratif
l. Rehabilitatif
Pencegahan
Terdapat beberapa pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah tejadinya
penyakit Poliomielitis:
-

Menjaga kebersihan diri, seperti mencuci tangan.


Menjaga daya tahan tubuh dengan makanlah makanan bergizi
Melakukan vaksinasi

Saran
Berdasarkan masalah yang dimiliki anak Nandar sebaiknya orang tua pasien tetap
semangat dalam menjaga pasien, membantu membersihkan diri pasien.

Lampiran foto

18

Pasien kelima
Diare

19

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, diare adalah bila tinja mengandung air lebih
banyak dari normal. Menurut WHO diare adalah buang air besar cair lebih dari tiga kali
dalam 24 jam dan lebih menitik beratkan pada konsistensi tinja dari pada menghitung
frekuensi buang air besar. Diare akut adalah diare yang terjadi secara mendadak dan
berlangsung kurang dari 7 hari pada bayi atau anak. Diare kronik adalah diare intermiten
yang berlanjut sampai 2 minggu atau lebih tanpa adanya infeksi. Diare persisten adalah diare
yang berlangsung lebih dari14 hari.
Secara klinis diare dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain infeksi yang disebabkan
oleh bakteri, virus atau parasit, malabsorpsi yang disebabkan oleh karbohidrat, intoleransi
laktosa, lemak dan protein, alergi, keracunan dan lain-lain.
Cara penularan diare melalui cara faecal-oral yaitu melalui makanan atau minuman
yang tercemar kuman atau kontak langsung tangan penderita atau tidak langsung melalui lalat
( melalui 5F faeces, flies, food, fluid, finger )
Faktor risiko terjadinya diare adalah faktor perilaku dan faktor lingkungan.
Manifestasi klinis
Mula-mula bayi/anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan mungkin meningkat, nafsu
makan berkurang atau tidak ada kemudian timbul diare. Tinja makin cair, mungkin
mengandung darah dan atau lendir, warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena
tercampur empedu. Karena seringnya defekasi, anus dan sekitarnya lecet karena tinja makin
lama menjadi asam akibat banyaknya asam laktat, yang terjadi dari pemecahan laktosa yang
tidak dapat diabsorpsi oleh usus. Bila penderita terlalu banyak kehilangan air dan elektrolit
terjadilah gejala dehidrasi, seperti berat badan turun, pada bayi ubun-ubun besar cekung,
tonus, dan turgor kulit berkurang, bibir terlihat kering.
Anamnesis
Pada wawancara kunjungan yang dilakukan pada rumah warga Rengasjaya I RT 53
RW 12, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, data anamnesis yang didapatkan
adalah sebagai berikut.

g. Identitas Pasien
Nama
: Nn. Y
Umur
: 19 tahun.
Jenis kelamin
: Perempuan
Pekerjaan
:Pendidikan
: Tamat SMA
Alamat
: Rengasjaya I RT 50 RW 11
h. Riwayat Penyakit Sekarang
Keadaan kesehatan sekarang
: Sedang
Penyakit yang diderita saat ini
: mencret-mencret
Keluhan tambahan
: mual
i. Riwayat Penyakit Dahulu
20

Penyakit yang pernah diderita


: tidak ada
Penyakit keturunan
: Ada
j. Riwayat Penyakit Keluarga
Kecacatan anggota keluarga
: Tidak ada
Penyakit keturunan
: tidak ada
k. Riwayat Pribadi
Kebersihan perorangan
: Sedang
Kebiasaan buruk
: Tidak ada
l. Riwayat Sosial
Rumah jarang dibersihkan, terdapat banyak barang, pencahayaan kurang dan

sirkulasi udara yang kurang baik.


Terdapat sampah-sampah di depan rumah
Terdapat kandang ayam

Selain data-data diatas, juga didapatkan data-data lainnya yang melengkapi sebagai
berikut.
e. Riwayat Biologis Keluarga.
- Keadaan kesehatan anggota keluarga lainnya
- Kebersihan anggota keluarga lainnya
- Pola makan
- Pola istirahat
- Jumlah anggota keluarga
f. Psikologis Keluarga
- Tempat mencari pelayanan kesehatan
- Pola rekreasi
g. Spiritual Keluarga
- Ketaatan beribadah
- Keyakinan tentang kesehatan
h. Keadaan Sosial Keluarga
- Tingkat pendidikan
- Hubungan antar anggota keluarga
- Hubungan dengan orang lain
- Kegiatan organisasi sosial
- Keadaan ekonomi

: Kurang.
: Kurang
: Buruk
: Kurang baik
: 3 orang.
: Puskesmas.
: Kurang.
: Kurang
: Kurang
: Kurang
: Baik
: Kurang
: Kurang
: Kurang

Pelayanan Kesehatan Dokter Keluarga


Tindakan anjuran untuk penyakit diare adalah sebagai berikut.
e. Promotif
Dilakukan pemberian edukasi tentang gejala-gejala dan komplikasi penyakit diare.
Selain untuk penyakit juga dilakukan penyuluhan untuk hidup bersih dan dan
menjaga pola makan pada pasien diare.
f. Preventif

21

Pasien dianjurankan untuk menjaga pola makan seperti tidak memakan makanan
yang terkena debu.
g. Kuratif
Pemberian obat seperti oralit, domperidon.
h. Rehabilitatif
Melakukan kontrol ke puskesmas.
Pencegahan
Terdapat beberapa pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah tejadinya diare:
menjaga kebersihan pribadi seperti mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, tidak
membeli makanan yang terkena debu.
Saran
Berdasarkan masalah yang dimiliki keluarga nona Yulia melakukan kontrol
puskesmas dan minum obat secara teratur, menjaga kebersihan diri dan menjaga pola makan.

Lampiran foto

22