Anda di halaman 1dari 25

Workshop Antivenom

Christian Budiman,dr.

Berusia 125
tahun

BUMN, 100% saham pemerintah

Asli Indonesia

Produk Kualitas Internasional

Produk Bio Farma

Vaksin

Antisera

Kit
Diagnostik

Antisera

imunoglobulin yang dipurifikasi dari plasma


hewan (kuda, keledai, domba) yang
diimunisasi dengan venom dari satu atau lebih
spesies ular.

Tahun 1890an
Albert Calmette
Institute Pasteur di Saigon
Saat wabah kobra pasca
banjir, 40 korban, 4
meninggal
Kuda antiserum

Sumber: wikipedia

Cara Pembuatan Antivenom

Sumber: CTSC 2016 Adelaide

HEWAN DONOR

BAGIAN PRODUKSI HEWAN DONOR


HIPERIMMUNISASI

PLASMAPHERESIS

BAGIAN FORMULASI PENGISIAN


VAKSIN DAN SERA (FPVS)

PLASMA PROCESSING:
Digesti Enzimatis
Fraksionasi
Dialisis
Repurifikasi
(Lyophilization)

BULK
FINAL BULK

BAGIAN PENGEMASAN

QUALITY ASSURANCE

FINAL PRODUCT

Product Release
Sumber: Produksi Sera BF

Tipe Antivenom
Monovalent
Polyvalent
Whole IgG
F (ab)2
Fab
Sumber: CTSC 2016 Adelaide

Advantage

Polivalen
Spektrum luas
Tidak perlu tahu
jenis ular
Dapat
mempercepat
penatalaksanaan

Disadvantage Volumenya lebih


besar
Insidensi efek
samping lebih
besar
Biaya lebih tinggi

Monovalen
Volumenya lebih
sedikit
Kerjanya lebih efektif
dan cepat
Lebih murah
Insidensi efek samping
lebih rendah
Harus tahu jenis ular
yang menggigit

Antivenom
1

Serum Anti Bisa Ular Polivalen I

Serum Anti Bisa Ular Polivalen II

Geografis Fauna Asia dan Australia

Antisera
1

Serum Anti Bisa Ular Polivalen I

Pengobatan terhadap gigitan ular berbisa Indonesia barat dan tengah


BioSAVE

Kemasan:
Dus: 1 vial @ 5 mL

Komposisi (per 1 mL):


Anti bisa Agkistrodon rhodostoma
Anti bisa Bungarus fasciatus
Anti bisa Naja sputarix
Fenol

10 LD50
25 LD50
25 LD50
2,5 mg

Cara Pemberian:
Dosis pertama sebanyak 2 vial @ 5 mL yang
bila ditambahkan ke dalam larutan fisiologis
menjadi larutan 2% v/v diberikan secara infus
dengan kecepatan 40-80 tetes/menit, diulang
6 jam kemudian

Pemberian yang dianjurkan


oleh RECS Indonesia:
Bungarus:
2 vial /2 jam,40-80 dlm 100cc NS tts/mnt
Naja dan Agkistrodon
2 vial /6 jam 40-80 tts/menit dlm 500 cc (2%)
NS

Antisera
13

Serum Anti Bisa Ular Polivalen II

Pengobatan terhadap gigitan ular berbisa Indonesia Timur (Maluku dan Papua)

CSL Polyvalent
Antivenom

Kemasan:
Dus: 1 vial @ 50 mL

Komposisi :
Bahan aktif:
1,000 unit antibisa Brown Snake
3,000 unit antibisa Tiger Snake
6,000 unit antibisa Death Adder
12,000 unit antibisa Taipan
18,000 unit antibisa Black Snake.

Cara Pemberian:
Satu vial (40.000 units) dilarutkan dalam Hartmans solution atau RL
dengan perbandingan 1:10 (untuk dewasa) atau 1:5 (untuk anakanak), kemudian diberikan secara perlahan melalui infus intravena.
Pemberian secara intramuskular tidak dianjurkan.
Pasien gigitan ular berbisa dengan gejala sistemik berat mungkin
memerlukan beberapa vial (dapat mencapai 6 vial) antibisa ular
untuk mengontrol efek yang terjadi, terutama jika terdapat
koagulopati. Pasien harus dimonitor minimal 6 jam setelah
pemberian.

Diterjemahkan dari: leaflet CSL Polyvalent

Dosis inisial yang dianjurkan :

Brown snake : 2 vial 1


Black snake : 1 vial 1
Taipan
: 1 vial, jika berat gunakan 3 vial1
Death adders : 1 vial, pada kasus berat
peningkatan dosis mungkin diperlukan1
Micropechis ikaheka : 1 vial2
Sumber:
1 oleh Australia expert panel in A Clinicians Guide to Australian Venomous bites and Stings
2 2004 Course Handbook Clinical Management of Snakebite in Papua New Guinea

Indikasi pemberian antivenom


Ada bukti envenomasi sistemik
Koagulopati, neurotoksik, gg.kardiovaskular, AKI,
Hburia, hasil lab mendukung
Pertambahan edema terjadi dengan cepat (lihat
RPP test)
Edema lokal yang melibatkan lebih dar setengah
anggota gerak yang digigit dalam 48 jam
Pembesaran KGB di area anggota gerak yang
tergigit
Sumber: WHO Searo Guideline for The Management of Snakebites, 2016

Kriteria pengulangan dosis antivenom


Persistensi atau rekurensi koagulopati setelah
6 jam atau pendarahan setelah 1-2 jam
Perburukan gejala neurotoksik dan gangguan
kardiovaskular setelah 1 jam

Sumber: WHO Searo Guideline for The Management of Snakebites, 2016

Reaksi anafilaktik
Onset dalam bbrp menit sd 3 jam setelah
pemberian AV
Gatal, urticaria, batuk kering, demam, mual,
muntah, kolik abdomen, diare, takikardia
Hipotensi, brokospasme, angioedema

Sumber: WHO Searo Guideline for The Management of Snakebites, 2016

Reaksi pirogenik
Biasanya terjadi 1-2 jam setelah pemberian AV
Menggigil, demam, vasodilatasi, hipotensi
Pada anak-anak bisa terjadi kejang demam

Sumber: WHO Searo Guideline for The Management of Snakebites, 2016

Reaksi serum sickness


Terjadi 1-12 hari (rata-rata 7 hari) setelah
pemberian AV
Demam, mual, mutah, diare, gatal,
limfadenopati, edema periarticular,
mononeuritis multipleks, proteinuria dengan
nefritis kompleks imun, hingga ensefalopati
(jarang)
Sumber: WHO Searo Guideline for The Management of Snakebites, 2016

Pencegahan reaksi antivenom


Skin test?
Bukan prediktif, sehingga tidak direkomendasikan.
Dapat menyebabkan penundaan AV dan
tersensitasi

Obat profilaksis
Epinefrin SC (dewasa: 0.25 mg dalam 0.1%
solution diberikan sebelum AV, diikuti antihistamin
H1 IV). Pada pasien asma, gunakan 2 agonis
inhalasi untuk mencegah bronkospasme
Sumber: WHO Searo Guideline for The Management of Snakebites, 2016

Penutup
Penggunaan antivenom secara bijak
akan menghindarkan pasien dari risiko reaksi
antivenom,
mencegah pengeluaran biaya kesehatan yang
tidak perlu,
serta menghemat stok antivenom yang langka
dan terbatas untuk mereka yang benar-benar
membutuhkan.

Terima kasih

manpro@biofarma.co.id