Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN PRAKTIKUM ALAT-ALAT UKUR LISTRIK

1

JEMBATAN WHEATSTONE

(P4)

Agus Jarod Widodo, Fitri Andriyani Puspitasari, Iin Istiawati, Jauzah Hidayati, Rivca Anissa, Rosi Milita, Tuti Nurlatifah, dan Bastomi Saputra Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin Jalan Brigjen H. Hasan Basry, Banjarmasin 70123 Indonesia e-mail: info@unlam.ac.id

AbstrakPercobaan ini bertujuan mengetahui prinsip kerja dari jembatan wheatstone dan menentukan nilai hambatan sebuah resistor dengan sistem jembatan wheatstone. Metode dengan mengukur panjang AD dan DC kemudian menghitung besar hambatan R 2 dengan menggunakan persamaan:

R 2 = R 1 , diperoleh nilai R 2 pada percobaan pertama sebesar

sebesar {(59,83 0,15) Ω, (60,63 0,15) Ω, (61,17±0,29) Ω}, percobaan kedua sebesar {(54,73 0,12) Ω, (61,87 0,14) Ω,

(60,31

(56,24 0,12) Ω, (55,58 0,12) Ω}. Prinsip kerja jembatan wheatstone yaitu menyeimbangkan tegangan yang melalui rangkaian. Ketidaktepatan hasil yang diperoleh dengan teori disebabkan karena ada beberapa kendala yaitu kabel yang digunakan longgar sehingga pembacaan skala pada multimeter berubah-ubah.

0,13) Ω}, pada percobaan ketiga sebesar {(58,50 0,12) Ω,

Kata KunciJembatan wheatstone, Resistor, Tegangan.

I.

PENDAHULUAN

J embatan wheatstone merupakan susunan rangkaian listrik untuk mengukur suatu tahanan yang tidak diketahui harga

atau besarnya. Kegunaan dari jembatan wheatstone adalah untuk mengukur nilai suatu hambatan dengan cara mengalirkan arus pada galvanometer agar skala pada galvanometer sama dengan nol, karena potensial ujung- ujungnya sama dengan besar sehingga dapat dirumuskan dengan perkalian silang. Jembatan wheatstone merupakan alat ukur yang dikemukakan oleh Samuel Hunter Christie pada tahun 1833 kemudian dipopulerkan oleh Sir Charles wheatstone pada tahun 1843. Jembatan wheatstone digunakan untuk mengukur suatu yang tidak diketahui nilai atau besar

hambatan listrik yaitu dengan menyeimbangkan dua kali dari rangkaian jembatan. Satu kali yang mencakup komponen yang diketahui kerjanya mirip dengan aslinya potensiometer. Berdasarkan latar belakang diatas dapat dibuat suatu rumusan masalah yaitu “ Bagaimana prinsip kerja dari jembatan wheatstone dan berapa nilai hambatan sebuah resistor dengan sistem jembatan wheatstone?”. Adapun tujuan dari percobaan ini adalah agar mengetahui prinsip kerja dari jembatan wheatstone dan menentukan nilai hambatan sebuah resistor dengan sistem jembatan wheatstone.

II. KAJIAN TEORI

Untuk

mengetahui

besarnya

nilai

resistansi

dari

suatu

jembatan

dapat

ditentukan

(diukur)

dengan

menggunakan

sistem sambungan jembatan wheatstone. Pada umumnya sambungan jembatan wheatstone ini terdiri dari empat buah tahanan yang masing-masing R 1 , R 2 , R X dan R n , sebuah galvanometer dan sebuah sumber tegangan. Sumber tegangan E akan mengalirkan sejumlah kuat arus I yang akan mengalir ke tahanan-tahanan tadi. Asas utama pengukuran menggunakan jembatan Wheatstone adalah “ mengatur R 1 , R 2 , R X dan Rn sedemikian rupa sehingga sambungan jembatan tadi berada dalam keadaan setimbang (balance), dimana pada kawat cabang CD tidak akan dialiri arus listrik. Jadi, pada keadaan seimbang galvanometer G akan menunjukkan angka nol (0).

seimbang galvanometer G akan menunjukkan angka nol (0). Gambar 1. Sirkuit jembatan wheatstone Jika saklar ditutup

Gambar 1. Sirkuit jembatan wheatstone Jika saklar ditutup dan tidak ada arus yang mengalir melalui galvanometer G ( jembatan), maka dikatakan jembatan itu telah seimbang. Dalam keadaan demikian, maka:

I 1 .R 1 = I 3. R 3

(1)

I 2 .R 2 = I 4. R 4 Jika persamaan (1) dibagi dengan (2) diperoleh:

(2)

R 1 / R 2 = R 3 / R 4

(3)

jika R 4 dan R 3 diganti dengan kawat yang homogen maka rangkaian menjadi:

diganti dengan kawat yang homogen maka rangkaian menjadi: Gambar 2. Galvanometer menunjukkan titik nol Dalam keadaan

Gambar 2. Galvanometer menunjukkan titik nol

Dalam keadaan galvanometer menunjukkan nol maka letak D adalah titik kesetimbangan, disini berlaku:

R 1 / R 2 = AD/DC

(4)

LAPORAN PRAKTIKUM ALAT-ALAT UKUR LISTRIK

2

Jika R 2 adalah hambatan yang akan ditentukan maka:

R 2 = R 1 DC/AD [1]

Rangkaian jembatan wheatstone mempunyai empat lengan resitif beserta sebuah sumber ggl (baterai) dan sebuah detektor nol yang biasanya adalah galvanometer atau alat ukur sensitif lainnya.

(5)

adalah galvanometer atau alat ukur sensitif lainnya. (5) Gambar 3. Jembatan wheatstone dengan empat lengan Arus

Gambar 3. Jembatan wheatstone dengan empat lengan

Arus yang melalui galvanometer bergantung pada beda potensial antara titik C dan D. Jembatan disebut seimbang jika beda potensial pada galvanometer adalah nol volt, artinya tidak ada arus yang melalui galvanometer. Hal ini jika V CA = V DA atau jika V DC = V DB. Jadi;

V CA = V DA

I 1 .R 1 = I 2. R 2

(6)

Jadi arus galvanometer adalah nol, kondisi berikut juga dipenuhi:

I 1 = I 3 =

(7)

I 1 = I 4 =

(8)

Dengan

menggabungkan

persamaan

(7)

dan

(8),

maka

diperoleh:

=

(9)

atau:

R 1 .R 4 = R 2 .R 3

 

(10)

Persamaan diatas merupakan suatu bentuk kesetimbangan

jembatan wheatstone. Berarti jika hambatan R 4 adalah hambatan yang tidak diketahui ( sebagai R x ), maka:

R x = R 3

(11)

Dengan:

R 3 = lengan standar R 2 dan R 1 = lengan pembanding (ratio arms) Detektor nol yang digunakan pada jembatan wheatstone harus memiliki spesifikasi yang cukup untuk menghasilkan

posisi setimbang jembatan pada tingkat presisi yang diperlukan. Sumber kesalahan yang lain bisa mencakup antara lain yaitu sensitivitas detektor nol yang tidak cukup, perubahan tahanan lengan-lengan jembatan karena efek pemanasan, kesalahan karena tahanan kawat sambung dan kontak-kontak luar. Dengan menganggap bahwa tahanan dalam baterai adalah nol maka tahanan Thevenin pengganti diperoleh:

R TH = R 1 // R 3 + R 2// R 4

R TH =

(12)

(13)

Bila detektor nol dihubungkan ke terminal keluaran rangkaian pengganti Thevenin, arus galvanometer menjadi:

rangkaian pengganti Thevenin, arus galvanometer menjadi: Gambar 4. Arus pada galvanometer detektor nol. [ 2 ]

Gambar 4. Arus pada galvanometer detektor nol. [2]

Didalam teori pengukuran listrik yang dimaksudkan dengan pengukuran galvanometer yaitu suatu instrumen yang dipergunakan untuk memperlihatkan arus yang lemah. Untuk menyatakan dengan jelas kadang dipisahkan untuk instrumen- instrumen yang peka (sensitif), yang banyak dipakai di laboratorium dan terutama sistem jembatan yang banyak kita

jumpai. [3] Jembatan wheatstone adalah alat yang paling umum digunakan untuk pengukuran tahanan yang teliti dalam daerah

1 sampai 100.000 ohm. Jembatan wheatstone terdiri dari

tahanan R 1 , R 2 , R 3, dimana tahanan jembatan merupakan tahanan yang diketahui nilainya dengan teliti dan dapat diatur.

Jika konduktor-konduktor yang cenderung menggerakkan konduktor itu dalam arah tegak lurus medan. Prinsip itu digunakan dalam instrumen pendeteksi arus. [4]

III. METODE PERCOBAAN Pada percobaan jembatan wheatstone ini diperlukan peralatan seperti dua buah baterai, sebuah galvanometer, dua buah stand baterai, dua buah resistor keramik (27 Ω, 39 Ω, dan

47 Ω), satu set jembatan dengan kotak geser, sebuah meteran,

sepuluh buah kabel penghubung, sebuah resistor gelang, dan sebuah multimeter.

penghubung, sebuah resistor gelang, dan sebuah multimeter. Adapun rumusan hipotesis dalam percobaan ini yaitu jika R

Adapun rumusan hipotesis dalam percobaan ini yaitu jika R 1 (hambatan sumbar) yang digunakan dalam percobaan diperbesar, maka panjang AD (pengganti R 3 ) yang dihasilkan juga semakin besar, tetapi panjang DC (pengganti R 4 ) semakin kecil, R 2 nya tetap. Identifikasi variabel terbagi menjadi tiga yaitu variabel manipulasi, variabel respon dan variabel kontrol. Pada

LAPORAN PRAKTIKUM ALAT-ALAT UKUR LISTRIK

3

percobaan ini telah ditentukan identifikasi dan definisi operasional variabel, dimana pada percobaan jembatan wheatstone variabel yang dimanipulasi adalah R 1 (hambatan sumbar) yaitu hambatan atau tahanan merupakan komponen elektronika yang berfungsi untuk menahan atau menghambat arus yang melewati rangkaian agar arus yang masuk sesuai dengan kebutuhan, dimana hambatan tersebut dinyatakan dalam satuan ohm. Pada percobaan ini dengan mengubah-

ubah besar tahanan sebanyak tiga kali yaitu sebesar 27Ω, 39Ω, dan 47Ω dengan menggunakan resistor keramik. Variabel responnya adalah panjang AD dan DC yaitu panjang AD dan

DC merupakan jarak yang diukur dari titik A ke titik D dan

dari titik D ke titik C yang diukur dengan menggunakan meteran yang dinyatakan dalam satuan meter. Dan variabel kontrolnya adalah tegangan sumber (Vs) didefinisikan sebagai beda potensial yang digunakan untuk mengalirkan arus dalam rangkaian, dinyatakan dalam satuan volt yang mana pada percobaan menggunakan sumber tegangan berupa baterai sebesar 3 volt, jenis jembatan, galvanometer, resistor gelang

dengan resistansi 1,5±5 Ω, R 2 dan kabel penghubung sebanyak 10 buah.

Adapun prosedur kerja dalam percobaan ini yaitu menyusun rangkaian seperti pada gambar 5, yaitu AC adalah jembatan dengan kotak geser D, R adalah hambatan, R 1 adalah hambatan sumbat dan R 2 adalah hambatan yang tidak diketahui nilainya. Menentukan hambatan R 1 dengan mencabut salah satu hambatan sumbar, menghubungkan saklar

dan menggeser kotak geser sepanjang kawat homogen AC

sehingga galvanometer menunjukkan nilai nol. Mengukur panjang AD dan DC, memutuskan saklar dan mengubah besar R 1 kemudian menutup saklar dan menggeser kotak geser sehingga galvanometer kembali menunjukkan nol. Mengulangi langkah perobaan tersebut dengan R 1 yang berbeda-beda yaitu sebesar 27Ω, 39Ω, dan 47Ω, mencatat hasilnya pada tabel pengamatan, menghitung R 2 untuk setiap percobaan.

Untuk menentukan nilai ketidakpastian hambatan R 2 digunakan persamaaan berikut:

Ω

(15)

Untuk menentukan nilai kesalahan relatif persamaaan berikut:

digunakan

KR =

(16)

Untuk menentukan nilai derajat ketidakpastian digunakan persamaaan berikut:

DK = 100

-KR

(17)

PF

= (

(18)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

NST Multimeter NST Meteran Nilai teori R 2

Tabel 1. Hasi pengamatan percobaan jembatan wheatstone

: 0,01 volt

: 0,1 cm ; ∆l : 0,05 cm

: (56,30

0,01) Ω

Percobaan

(R 1

0,01)Ω

(l AD

0,05)

(l DC

0,05)

.10 -2 m

.10 -2 m

   

34,00

68,50

Pertama

29,70

33,70

68,80

33,50

69,00

   

42,00

60,50

Kedua

38,00

39,00

63,50

39.50

62,70

   

45,50

57,00

Ketiga

46,70

46,50

56,00

46,80

55,70

Tabel 2. Hasil perhitungan percobaan jembatan wheatstone Percobaan KR ( ) DK ( ) PF
Tabel 2. Hasil perhitungan percobaan jembatan wheatstone
Percobaan
KR (
)
DK (
)
PF (Ω)
0,254
99,746
(59,83
0,15)
Pertama
0,254
99,746
(60,63
0,15)
0,475
99,525
(61,17
0,29)
0,228
99,772
(54,73
0,12)
Kedua
0,323
99,768
(61,87
0,14)
0,231
99,169
(60,31
0,13)
0,217
99,783
(58,50
0,12)
Ketiga
0,217
99,783
(56,24
0,12)
0,217
99,783
(55,58
0,12)

Gambar 5. Rangkaian percobaan jembatan wheatstone

Teknik Analisis

Teknik analisis yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut:

digunakan

Untuk

menentukan

nilai

hambatan

R 2

persamaaan berikut:

Ω

(14)

Pada percobaan jembatan wheatstone variabel yang dimanipulasi adalah R 1 (hambatan sumbar) yaitu sebanyak 3 kali sebesar 27 Ω, 39 Ω, dan 47 Ω, jika diukur dengan menggunakan multimeter sebesar (29,70±0,01)Ω, (38,00±0,01)Ω dan (46,70±0,01)Ω. Pada percobaan pertama diambil data pengamatan sebanyak 3 kali, begitu juga dengan percobaan kedua dan ketiga seperti yang terlihat pada tabel 1. Nilai hambatan R 2 pada percobaan pertama dengan R 1 27 Ω dan dihitung dengan menggunakan persamaan (R 2 = R 1 )

diperoleh berturut-turut sebesar (59,83 0,15)Ω, (60,63 0,15)Ω, (61,17±0,29)Ω, dengan kesalahan relatif (KR)

LAPORAN PRAKTIKUM ALAT-ALAT UKUR LISTRIK

4

berturut-turut sebesar 0,254 , 0,254 , 0,475 , pada percobaan kedua dengan R 1 39Ω diperoleh nilai hambatan R 2 sebesar (54,73 0,12)Ω, (61,87 0,14)Ω, (60,31 0,13)Ω dengan kesalahan relatif (KR) berturut-turut sebesar 0,228 , 0,232 , dan 0,231 , sedangkan pada percobaan ketiga dengan R 1 47Ω diperoleh nilai hambatan R 2 sebesar (58,50 0,12)Ω, (56,24 0,12)Ω, dan (55,58 0,12)Ω dengan kesalahan relatif berturut-turut sebesar 0,217 , 0,217 , 0,217 . Pada percobaan pertama nilai hambatan R 2 yang paling mendekati dengan nilai teoritis (56,30 0,01)Ω adalah sebesar (60,63 0,15)Ω dengan memakai hambatan R 1 sebesar 27Ω dengan kesalahan relatif (KR) sebesar 0,254 , pada percobaan kedua nilai hambatan R 2 yang paling mendekati adalah sebesar (54,73 0,12)Ω dengan memakai hambatan R 1 sebesar 39Ω dengan kesalahan relatif (KR) sebesar 0,228 , sedangkan pada percobaan ketiga nilai hambatan R 2 yang paling mendekati adalah sebesar (56,24 0,12)Ω dengan memakai hambatan R 1 sebesar 47Ω dengan kesalahan relatif (KR) sebesar 0,217 . Jika hasil percobaan yang diperoleh kita bandingkan dengan hipotesis yang telah dibuat sebelumnya yaitu “Jika R 1 (hambatan sumbar) yang digunakan pada percobaan diperbesar maka panjang AD (pengganti R 1 ) yang dihasilkan juga semakin besar akan tetapi panjang DC ( pengganti R 4 ) akan semakin kecil, R 2 nya akan tetap”, maka akan sedikit berbeda, perbedaannya adalah pada nilai R 2 yang dihasilkannya. Pada percobaan nilainya selalu berubah sesuai dengan nilai R 1 yang digunakan pada percobaan, panjang AD dan panjang DC nya. Nilai R 2 pada masing-masing percobaan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3. Nilai hambatan R 2 jembatan wheatstone

Perc. 1 (Ω)

Perc. 2 (Ω)

Perc. 3 (Ω)

(59,83

0,15)

(54,73

0,12)

(58,50

0,12)

(60,63

0,15)

(61,87

0,14)

(56,24

0,12)

(61,17

0,29)

(60,31

0,13)

(55,58

0,12)

Ketidaktepatan hasil yang diperoleh disebabkan karena ketidakmahiran praktikan dalam menggunakan alat. Kabel penghubung yang longgar juga menyebabkan hasil pembacaan pada multimeter berubah ketika terjadi getaran dan kurang telitinya praktikan dalam membaca skala alat ukur.

V. SIMPULAN

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah agar mengetahui prinsip kerja dari jembatan wheatstone dan menentukan nilai hambatan sebuah resistor dengan sistem jembatan wheatstone. Prinsip kerja dari jembatan wheatstone yaitu hubungan antara resitivitas dan hambatan yang berarti setiap penghantar memiliki besar hambatan tertentu dan menentukan hambatan sebagai fungsi dari perubahan suhu, hukum ohm yang menjelaskan tentang hubungan antara hambatan, hukum kirchoff 1 dan 2, yang mana sesuai dari hukum ini menjelaskan jembatan dalam keadaan seimbang karena besar arus pada kedua ujung galvanometer sama besar sehingga saling meniadakan.

Hambatan R 2 pada percobaan pertama yang dihitung dengan menggunakan persamaan (R 2 = R 1 ) diperoleh berturut-

turut sebesar (59,83 0,15) Ω, (60,63 0,15) Ω, (61,17±0,29) Ω, pada percobaan kedua sebesar (54,73 0,12) Ω, (61,87 0,14) Ω, dan (60,31 0,13) Ω sedangkan pada percobaan ketiga sebesar (58,50 0,12) Ω, (56,24 0,12) Ω, dan (55,58 0,12) Ω. Hal ini tidak sesuai dengan teori bahwa nilai hambatan R 2 selalu tetap yaitu sebesar (56,30 0,01) Ω.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis A.J.W. mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT karena berkat rahmat-Nya laporan ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya dan penulis ucapkan terima kasih kepada asisten praktikum Percobaan Jembatan Wheatstone (P4) yaitu Bastomi Saputra yang telah memberikan panduan serta bimbingan saat melakukan percobaan dan juga penulis ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan praktikum satu kelompok yaitu kelompok 3 yang telah bekerjasama dalam menyelesaikan percobaan ini. Tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Abdul Salam M., M.Pd selaku dosen pembimbing yang telah memberikan pengarahan serta bimbingannya sehingga percobaan ini dapat berjalan dengan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

[1]

Lister,

Eugene

C.1993.Mesin

dan

Rangkaian

Listrik.

Jakarta:Erlangga.

 

[2]

Suryatmo,F.1974.Teknik untuk Pengukran.Jakarta:Bina Aksara.

[3]

Tim Dosen Alat-alat Ukur Listrik.2015.Penuntun Praktikum Alat-alat Ukur Listrik.Banjarmasin:FKIP UNLAM.