Anda di halaman 1dari 16

TUGAS ELEKTROANALITIK

KONDUKTOMETRI

FEBRISKY SANNOVA S
LULU ULJANNAH
BOBY CANDRA JUWITA
RENITA HARY P
FATIMAH UMMU H

(J3L113001)
(J3L113037)
(J3L113052)
(J3L113063)
(J3L113025)

PROGRAM KEAHLIAN ANALISIS KIMIA


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya,
kami dapat menyelesaikan tugas elektroanalitik yang berjudul Konduktometri
dengan tepat waktu. Adapun tugas ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
elektroanalitik.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini, terutama kepada dosen dan
asisten dosen mata kuliah elektroanalitik yang telah membimbing kami, berbagi
pengalaman dan memberikan informasi sehingga dapat membantu kami dalam
menyelesaikan tugas ini.
Dengan segala kerendahan hati, kami menyadari bahwa tugas ini masih
jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang
dapat membangun untuk menyempurnakan tugas ini.

Bogor, Desember 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

1 KONDUKTOMETRI

1.1 Pengertian dan Prinsip Konduktometri

1.2 Aplikasi Konduktometri

1.3 Elektroda

1.4 Alat Konduktometer

1.5 Klasifikasi Konduktometer

2. Konduktometer Genggam (315i, 330i, 340i)

3. Konduktometer Portabel

4. Konduktometer InoLab 720

5. Konduktometer InoLab 730

6. Konduktometer InoLab 740

7. Konduktometer 315i, 330i,340i

1.6 Contoh Soal

1.7 Kelebihan dan Kelemahan


DAFTAR PUSTAKA

10
10

DAFTAR GAMBAR

Alat konduktometer
Diagram konduktometer
Sel konduktivitas (a) dua kutub (b) empat kutub
Konduktometer Vario
Konduktometer genggam 315i, 330i, dan 340i
Konduktometer portable
Konduktometer InoLab 720
Konduktometer InoLab 730
Konduktometer InoLab740
Konduktometer 315i, 330i, dan 340i

4
5
5
6
7
7
8
8
9
9

1 KONDUKTOMETRI
1.1 Pengertian dan Prinsip Konduktometri
Konduktometri merupakan salah satu cara analisis kimia yang berdasarkan
pada sifat kelistrikan dari larutan elektrolit yaitu daya hantar listrik
(konduktuvitas) (Djenar et al 2013). Daya hantar listrik merupakan suatu
kemampuan substansi tenaga listrik dari ujung substan ke ujung substan yang
lainnya. Daya hantar listrik tidak hanya dimiliki oleh benda padat namun terdapat
pula pada benda cair seperti larutan elektrolit. Menurut Beran (2000) menyatakan
bahwa zat elektrolit merupakan suatu zat yang dalam bentuk larutannya akan
terurai menjadi partikel-partikel yang berupa atom atau gugus atom yang
bermuatan listrik yang dinamakan dengan ion. Daya hantar larutan bergantung
pada jumlah, ukuran, muatan ion dan sifat-sifat pelarut seperti kekentalan. Ion
yang berbeda diperkirakan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap daya
hantar larutannya (Atkins dan Paula 2006). Titrasi konduktometri ini sangat
berhubungan dengan daya hantar listrik sehingga berhubungan dengan adanya
ion-ion dalam larutan yang berperan untuk menghantarkan arus listrik dalam
larutan. Arus listrik ini tidak akan bisa melewati larutan yang tidak terdapat
ion ion, sehingga larutan non elektrolit tidak bisa menghantarkan arus listrik.
Titrasi konduktometri ini juga sangat berhubungan dengan konsentrasi dan suhu
dari larutan yang akan ditentukan daya hantarnya sehingga suhu larutan harus
dijaga agar berada dalam keadaan konstan, Jika suhu berubah-ubah maka bisa saja
konsentrasi yang besar seharusnya memilki daya hantar yang besar tetapi
memiliki daya hantar yang kecil karena suhunya menurun sehingga ionion dalam
larutan tidak dapat begerak dengan bebas (Stoker 1993).
Konduktometri biasanya merupakan prosedur tritasi sedangkan konduktansi
dapat digunakan untuk mengikuti reaksi titrasi jika perbedaannya antara
konduktansi cukup besar sebelum dan sesudah penambahan reagen. Tetapan sel
harus diketahui. Berarti selama pengukuran yang berturut-turut jarak eletroda
harus tetap, tetapi pengenceran akan mengakibatkan hantarannya tidak berfungsi
secara linear lagi dengan konsentransi (Khopkar 2010). Prinsip dari titrasi
konduktometri adalah substitusi ion-ion dengan suatu konduktivitas oleh ion-ion
dengan konduktivitas yang lain. Konduktivitas menyatakan kemudahankemudahan suatu analit untuk meneruskan arus listrik. Satuan konduktivitas
adalah (ohm meter). Suatu larutan elektrolit asam kuat ketika ditambahkan basa,
nilai konduktansi (hantaran) akan turun, hal ini disebabkan terjadi subtitusi ionion H+ yang memiliki konduktivitas tinggi dengan ion-ion dari larutan basa yang
memiliki konduktivitas rendah. Prinsip titrasi konduktometri secara umum adalah
dengan mengukur daya hantar larutan berdasarkan suatu pergerakan ion dalam
larutan dengan bantuan sel elektroda (Djenar et al 2013).
1.2 Aplikasi Konduktometri
Pengukuran hantaran listrik (DHL) biasanya dilakukan pada larutan
menggunakan alat konduktometer (zat terlarut yang larut dalam pelarut yang
diukur pada suhu ruang atau 25 oC). Pengukuran-pengukuran hantaran biasanya

dilakukan pada larutan yang berair (H2O adalah penghantar yang buruk, L H2O =
5 x 10 -8 mho/cm pada 250 C). Kenaikan konsentrasi dari zat akan menyebabkan
naiknya hantaran listrik secara linear terutama untuk larutan elektrolit kuat.
Nilainya akan meningkat kemudian menurun. Contoh aplikasi konduktometri
diantaranya analisis kandungan NO2.H2O dalam asam nitrat. Hantaran
(konduktans) diukur pada HNO3 sebelum dan sesudah perlakuan dengan KNO3.
Prosedur yang digunakan ini sangat mudah dan baik untuk melakukan analisis air
terutama bermanfaat untuk penentuan amoniak dalam material biogas, dimana
amoniak dikeluarkan kemudian ditampung dalam H3BO3, kemudian hantaran
spesifiknya diukur. Konduktometri juga dapat digunakan untuk menentukan ion
tertentu pada suatu konsentrasi tertentu terhadap ion lain, reagen yang selektif
akan membuat ion yang diinginkan terendapkan atau menjadi kompleks tidak
terionisasi. Nilai K ditentukan sebelum dan sesudah penambahan reagen tersebut.
Namun, pengukuran langsung mempunyai kelemahan selektivitas karena spesi
dalam zat dapat menambah nilai total dari konduktansi. Konduktometri memiliki
aplikasi maksimum dalam kromatografi ion. Data konduktansi memberikan
informasi yang cukup untuk asosiasi atau disosiasi kesetimbangan dalam larutan
ionik berair.
Metode konduktometri dapat digunakan untuk analisis secara titrimetri
dimana harus terdapat perbedaan cukup besar antara konduktansi sebelum dan
sesudah penambahan reagen/titran dengan tetapan sel yang diketahui. Pengukuran
dilakukan terus-menerus selama titrasi berjalan dan dengan jarak elektroda yang
harus tetap. Hantaran (konduktans) memiliki nilai yang sebanding dengan
konsentrasi pada suhu yang tetap, tetapi dengan adanya pengenceran maka akan
menyebabkan konduktans yang dihasilkan tidak lagi linear dengan konsentrasi
larutan. Titrasi konduktometri dapat digunakan untuk menentukan titik ekuivalen
suatu titrasi, seperti titrasi asam kuat basa kuat (contohnya larutan HCl dan NaOH
yang merupakan elektrolit kuat), dapat digunakan dalam pengukuran daya hantar
larutan sampel air atau air limbah, sampel makanan, minuman atau obat seperti
proses netralisasi pada penentuan kadar tablet aspirin, dan titrasi pengendapan
yang digunakan untuk menentukan kelarutan dan hasil kali kelarutan suatu larutan
elektrolit yang sulit larut. Total padatan tersuspensi (Total Suspended Solid, TSS)
dan total padatan terlarut (Total Dissolved Solid, TDS) juga dapat ditentukan
dengan metode konduktometri berdasrkan pengukuran daya hantar listrik.
Reaksi netralisasi pada pengukuran konduktans titrasi NaOH terhadap HCl
menunjukkan bahwa hantaran ion H+ berkurang sampai titik ekivalen tercapai,
kemudian setelah penambahan titran, hataran total setelah titik ekivalen akan naik
kembali. Ion Cl- tidak berperan terhadap hantaran, tetapi ion Na+ turut bepengaruh.
Ion H+ sendiri akan memberikan sumbangan sebesar 82% sedangkan Cl - akan
memberikan sumbangan sebesar 18% . selain itu ada titrasi untuk berbagai asam
asetat tersubstitusi oleh klor.
Reaksi-reaksi pengendapan, penggantian, maupun pengkompleksan seperti
titrasi NH4Cl + NaOH ataupun EDTA dapat dilakukan dengan metode
konduktometri. Titrasi asam lemah terhadap basa lemah dapat dilakukan dengan
metode konduktometri. Pada titik ekivalen hantaran akan turun pada tingkat yang
paling rendah. Sebagai contoh, titrasi AgSO4 dengan BaCl2 dapat dititrasi dengan
metode konduktometri sampai titik akhir ditandai dengan terbentuknya BaSO4
secara kuantitatif. Titrasi konduktometri sangat berguna bila perbedaan hantaran

sebelum dan sesudah reaksi cukup jauh, tetapi metode konduktometri ini kurang
bagus digunakan untuk larutan dengan konsentrasi ionik yang terlalu tinggi,
misalkan titrasi Fe3+ dengan KMnO4, karena pada saat titrasi perubahan hantaran
sebelum dan sesudah titik ekivalen terlalu kecil dibandingkan dengan besarnya
konduktans total.
1.3 Elektroda
Pengukuran daya hantar listrik dari suatu elektrolit dapat diukur dengan
menggunakan elektroda. Elektroda adalah suatu konduktor dimana arus listrik
akan memasuki atau meninggalkan pada suatu larutan atau media (Underwood
2002). Elektroda dicelupkan ke dalam larutan elektrolit yang sesuai sehingga akan
terjadi kontak antar muka elektroda dengan elektrolit. Namun pelarut yang
digunakan harus tidak dapat bereaksi dengan analit atau dengan produk dan tidak
harus mengalami reaksi elektrokimia pada kisaran potensial yang berlebih (Gosser
1993). Elektroda terdapat berbagai macam elektroda yang digunakan
diantaranya :a. Elektroda Kerja (WE)
Elektroda kerja merupakan suatu elektroda tempat reaksi yang diinginkan
terjadi (Underwood 2002). Karakteristik yang ideal dari elektroda kerja adalah
memiliki daerah kerja yang lebar, dengan hambatan yang kecil dan permukaan
yang reprodusibel. Daerah potensial dari masing-masing elektroda akan
tergantung pada bahan kerja yang digunakan dan komposisi dari elektrolit itu
sendiri. Daerah potensial ini dapat disesuaikan dengan elektroda dan larutan
elektrolit yang digunakan (Fifield dan Haines 1995). Elektroda kerja digunakan
untuk menunjukkan secara tidak langsung jika elektroda ini merespon beberapa
setengah reaksi spesifik (Reiger 1994).
a. Elektroda pembanding
Elektroda pembanding merupakan elektroda yang mempunyai potensial
elektrokimia konstan sepanjang tidak ada arus yang mengalir dan sama sekali
tidak peka terhadap komposisi larutan yang akan diselidiki. Elektroda
pembanding digunakan untuk mengukur potensial pada elekroda kerja. Pasangan
elektroda pembanding adalah elektroda kerja. Potensial yang akan diukur
bergantung pada konsentrasi zat yang akan diselidiki (Hendayana 1994).
Pemilihan elektroda pembanding harus memperhatikan beberapa faktor yaitu
elektroda pembanding harus reversibel dan sesuai dengan persamaan Nerst,
tegangannya harus konstan setiap waktu danpotensialnya harus kembali ke nilai
dasar setelah arus kecil dilewatkan melalui.
b. Elektroda kounter (Counter Electrode)
Elektroda kounter merupakan suatu konduktor yang melengkapi sel.
Elektroda ini biasanya digunakan untuk konduktor yang bersifat inert seperti
platinum dan grafit, tetapi dapat juga digunakan logam yang sama dengan
elektroda kerjanya. Arus yang mengalir akan menuju larutan melalui elektroda
kerja yang selanjutnya akan meninggalkan larutan melalui elektroda kounter.
Elektroda kounter dapat sekaligus digunakan sebagai elektroda kerja pada saat
arus yang mengalir dalam sel adalah kecil.

1.4 Alat Konduktometer


Konduktometer adalah alat yang digunakan untuk menentukan daya hantar
suatu larutan dan mengukur derajat ionisasi suatu larutan elektrolit dalam air
dengan cara menetapkan hambatan suatu cairan. Larutan yang digunakan untuk
kalibrasi konduktometer ialah KCl 0.01M. Larutan KCl 0.01M memiliki nilai
konduktansi sebesar 1413 S. Elektroda dimasukkan kedalam larutan standar KCl
0.01M sampai pada monitor menunjukkan angka 1413 Lalu tekan CAL. Kegitan
kalibrasi dilakukan pada awal pengukuran nilai konduktansi dari larutan analit.
Hal ini dilakukan agar alat tetap akurat dalam membaca nilai konduktansi dari
larutan analit tersebut. Berikut gambar alat konduktometer :

Gambar 1 Alat konduktometer (Radiometer Analytical SAS 2004)


Pengukuran konduktivitas memiliki banyak kegunaan terutama untuk tujuan
kontrol kualitas. Seperti menganalisis kemurnian air, kontrol air minum dan
proses kualitas air, estimasi jumlah ion dalam larutan atau pengukuran komponen
langsung dalam larutan dapat dilakukan menggunakan pengukuran konduktivitas.
Keandalan yang tinggi, kepekaan dan biaya yang relatif rendah membuat
pengukuran konduktivitas menjadi parameter utama pengukuran yang baik.
Pengukuran konduktivitas mencakup berbagai konduktivitas dari air murni yaitu
kurang dari 1x10-7 S/cm dengan nilai-nilai yang lebih besar dari 1 S/cm untuk
larutan terkonsentrasi. Secara umum, pengukuran konduktivitas cepat dan murah
dengan cara menentukan kekuatan ionik dari larutan. Namun, teknik tersebut
kurang spesifik karena tidak dapat membedakan antara berbagai jenis ion.
Sebuah konduktivitas meter menerapkan arus (I) pada frequency optimal
untuk dua elektroda aktif dan mengukur potensialnya (V). Potensi yang digunakan
untuk menghitung konduktansi (I/V). Konduktivitas meter kemudian
menggunakan konduktansi dan sel konstan
untuk menampilkan konduktivitas.

Gambar 2 Diagram konduktometer (Radiometer Analytical SAS 2004)

(a) (b)
Gambar 3 Sel konduktivitas (a) dua kutub (b) empat kutub (Radiometer Analytical
SAS 2004)
Sel konduktivitas dua kutub, pegukuran arus diterapkan antara 2 kutub dan
diukur tegangan yang dihasilkan. Tujuannya yaitu untuk mengukur resistensi
larutan (Rsol). Namun, resistensi (Rel) disebabkan oleh polarisasi elektroda dan
efek medan yang mengganggu pengukuran. Sel konduktivitas empat kutub
pengukuran arus diterapkan pada cincin luar (1 dan 4) sedemikian rupa sehingga
perbedaan potensial konstan dipertahankan antara cincin (2 dan 3). Geometri sel
konduktivitas empat kutub dengan tabung luar meminimalkan efek medan kaca,
karena volume pengukuran yang baik diidentifikasikan dalam tabung. Posisi sel
konduktivitas pada pengukuran atau volume sampel tidak memberikan pengaruh
pada pengukuran.
Pengukuran konduktivitas tergantung suhu, jika suhu meningkat,
konduktivitas meningkat. Misalnya konduktivitas diukur dalam larutan 0,01 M
KCl pada 20C adalah 1.273 mS / cm sedangkan pada 25C , itu adalah 1.409

mS / cm . Konsep suhu referensi digunakan untuk perbandingan konduktivitas


yang diperoleh pada suhu yang berbeda. Suhu referensi biasanya 20C atau 25C .
Konduktometer mengukur konduktivitas yang sebenarnya dan suhu, kemudian
mengkonversikannya dengan suhu referensi menggunakan fungsi koreksi suhu
dan menampilkan konduktivitas pada suhu acuan. Jika tidak diterapkan koreksi
suhu, konduktivitas yang terukur ialah nilai yang diambil pada suhu pengukuran
(Radiometer Analytical SAS 2004).
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pengukuran :
a. Kalibrasi
Nilai konstan sel merupakan faktor penting dari pengukuran konduktivitas.
Pemeriksaan nilai konstan dianjurkan terutama ketika menggunakan sel yang
dilapisi platinum, karena peningkatan risiko kontaminasi atau modifikasi kimiafisik dari lapisan platinum .
b. Kondisi suhu dan pengadukan
Pembacaan konduktivitas dapat dinyatakan pada suhu pengukuran atau pada
suhu referensi menggunakan faktor koreksi suhu.
c. Posisi sel konduktivitas
Pastikan bahwa semua kutub dari sel konduktivitas benar-benar tertutup
oleh sampel
1.5 Klasifikasi Konduktometer
Klasifikasi konduktometer terbagi menjadi beberapa jenis, antara lain :
1. Konduktometer Vario
Konduktometer vario merupakan salah satu jenis kondutometer yang baru
baru. Alat ini memiliki spesifitas yaitu dengan fasilitas layar sentuh, range luas,
dan tanpa kabel. Alat ini dapat digunakan selama 500 jam dalam
pengoperasiannya, baterai mudah diisi, cepat dan hasil yang ditunjukan akurat.

Gambar 4 Konduktometer Vario


2. Konduktometer Genggam (315i, 330i, 340i)
Konduktometer genggam ada 3 versi, konduktometer 315i merupakan
konduktometer yang mudah digunakan ketika keperluan mendesak, karena hanya
menggunakan 5 kunci untuk pengukuran bebas dari kesalahan hasil pengukuran
dengan pengukuran suhu paralel, suhu otomatis, kompensasi, dan menggunakan
teknologi 4 elektroda. Konduktometer 330i merupakan konduktometer yang kuat
dan tahan air dengan tampilan suhu paralel, suhu otomatis dan kompensasi
manual dengan temperatur linear dan non linear untuk kemurnian air ultra dan air

natural. Konduktometri 340i sama seperti 330i, namun versi 340i tersedia berupa
analog, digital, maupun listrik.

Gambar 5 Konduktometer genggam 315i, 330i, dan 340i


3. Konduktometer Portabel
Konduktometer portabel dengan jenis ProfiLine Cond 197i merupakan
gabungan antara (IP66 hoseproof) dan (IP67 submersible). Alat ini memiliki
spesifitas dapat mengatur waktu dan rekorder pengukuran, mudah dibawa dengan
baterai NiMH yang dapat di charge ulang, dapat mengukur kedalaman yang
rendah hingga 330 ft (100m) dengan mengkombinasikan TA 197 LF.

Gambar 6 Konduktometer portable


4. Konduktometer InoLab 720
Walaupun konduktometer ini sederhana, namun dapat dipercaya. Alat ini
biasanya digunakan dalam laboratorium karena memiliki fungsi yang luas seperti
temperatur acuan yang dapat dapat diatur,. Alat ini dapat digunakan juga untuk
mengatur konstanta sel yang berbeda, artinya sel-sel konduktivitas yang
dihubungkan dengan 4 elektroda sel konduktivitas TetraCon 325 dan sel
konduktivitas sel air kemurnian ultra LR 325/01

Gambar 7 Konduktometer InoLab 720


5. Konduktometer InoLab 730
Konduktometer jenis InoLab 730 ini teliti. Alat ini merupakan
konduktometer standart laboratorium dengan fungsi luas, seperti suhu paralel.
Spesifitas alat ni yaitu suhu acuan dapat diatur, data yang dihasilkan dapat
langsung dihubungkan dengan printer dengan kertas termal yang biasa digunakan
atau menggunakan RS-232 digital melalui PC atau printer eksternal. Alat ini dapat
digabungkan dengan 4 elektroda sel konduktivitas TetraCon 325 dan
konduktivitas sel air kemurnian ultra LR 325/01.

Gambar 8 Konduktometer InoLab 730


6. Konduktometer InoLab 740
Konduktometer jenis InoLab 740 merupakan jenis baru yang fleksibel dan
merupakan konduktometer laboratorium kinerja tinggi dengan tampilan berupa
grafik dan perekam digital. Spesifitas alat ini adalah suhu otomatis, hasil
pengkuran dapat dicetak. Alat ini dapat digabungkan dengan 4 elektroda sel
konduktivitas TetraCon 325 dan konduktivitas sel air kemurnian ultra LR
325/01. Alat ini memiliki fitur tambahan diantaranya perekam digital, password
proteksi, alarm batas, dan lain sebagainya.

Gambar 9 Konduktometer InoLab740


7. Konduktometer 315i, 330i,340i
Konduktometer ini kuat, tahan air, tahan terhadap perubahan, dapat
digunakan selama 1500 jam penggunaan, digunakan 4 range elektroda dalam
penggunaan, dapat dibawa kemana saja, mudah digunakan, dan akurat.

Gambar 10 Konduktometer 315i, 330i, dan 340i


Berdasarkan jenis-jenis konduktometer rentang aplikasi yang dapat
disarankan sebagai berikut :

10

1.6 Contoh Soal


1 Daya hantar ekivalen NH4OH 0.0123 N sebesar 1.05 x 10 -4 mho cm-1, dan nilai
daya hantar pengenceran tak hingga sebesar 1.84 x 10 -4. Berapakah nilai dan
dan Kb larutan tersebut ?
daya hantar larutan
1.05 x 104
=
=
=0.5706
Jawaban :
daya hantar tak hingga 1.84 x 104
2

Kb =

2 x C (0.5706) x 0.0123
=
= 9.33 x 10-6
1
10.5706

2. Larutan CH3COOH diketahui dengan daya hantar larutan sebesar 0.98 x 10 -3.
Larutan memiki nilai tetapan sel sebesar 0.5623. Hitunglah luas permukaan
elektroda jika diinginkan jarak antar electrode yaitu 1.5 cm !
Jawaban :
L xl
0.98 x 103 mh o cm1 x 1.5 cm
A=
=
= 2.09 x 10-3 cm2
K
0.5623
3. Jelaskan pengertian daya hantar ekivalen !

11

Jawaban : Daya hantar ekivalen adalah daya hantar 1 gram solut atau zat terlarut
diantara dua permukaan elektroda dengan jarak masing-masing yaitu 1 cm.
Semakin rendah konsentrasi atau zat terlarut dalam larutan maka luas permukaan
elektroda semakin besar, hal ini menunjukan bahwa keduanya berbanding
terbalik.
4. Suatu percobaan dengan menggunakan titrasi konduktometri dengan titran
NaOH untuk penentuan HCl diperoleh persamaan garis y1 = 0.6487 - 0.0604 x dan
y2 = -0.4626 + 0.0753 x. Percobaan tersebut menggunakan 10 ml larutan HCl
yang ditambahkan aquades hingga 100 ml. Tentukan volume terpakai hasil titrasi
tersebut dan berapakah konsentrasi HCl dalam N dan % b/v jika diketahui larutan
NaOH standar adalah 0,0991 N !
Jawaban : y1 = y2
0.6487 - 0.0604 x = -0.4626 + 0.0753 x
x = 8.19 ml (Volume NaOH yang terpakai atau Volume TE)
N NaOH x V NaOH
0.0991 N x 8.19 ml
N HCl =
=
= 0.0812 N
V HCl
10 ml
Massa HCl = N x BE x V(L) = 0.0812 N x 36.5 g/mek x 0,01 L = 0.0296
gram
gram HCl
0.0296 g
x 100 =
x 100
% b/v =
= 0.30 %
V HCl
10 ml
5. Hasil percobaan diperoleh larutan asam lemah mengalami penguraian sebesar
48%. Tentukan nilai Ka Asam lemah tersebut jika diketahui konsentrasinya
sebesar 0,01 M !
2
2
x C (0.48) x 0.01
=
= 4.43 x 10-3
Jawaban : Ka =
1
10.48
1.7 Kelebihan dan Kelemahan
Kelebihan dari metode konduktometri adalah metode ini tidak memerlukan
indikator dalam penggunaannya sebagai titrasi konduktometri. Alat ini dapat
digunakan untuk titrasi pada larutan yang berwarna dan dapat menimbulkan
pengendapan. Metode ini lebih praktis, karena menggunakan alat instrumen,
pelaksanaannya lebih cepat, dan waktu yang diperlukan cenderung lebih singkat,
tingkat persentasi kesalahan yang diperoleh lebih kecil daripada titrasi volumetri
(Khopkar 2010).
Kelemahan dari metode konduktometri ialah hanya dapat diterapkan pada
larutan elektrolit namun tidak bisa dilakukan pada larutan yang pekat. Alat sangat
dipengaruhi oleh suhu. Peralatan instrumen yang cukup mahal, tidak dapat
dilakukan pada larutan yang terlalu asam, atau terlalu basa karena dapat merusak
alat, konsentrasi larutan elektrolit yang tinggi dapat menimbukan gangguan pada
pengukuran (Fifield dan Kealey 2000).

12

DAFTAR PUSTAKA
Atkins P dan Paula J. 2006. Physical Chemistry. Great Britain (GB) : W.H
Freeman and Company
Beran JA. 2000. Chemistry In The Laboratory. New York (US) : Jhon Wiley
Anson
Djenar NS, Widiastuti E, Marlina A.2001. Kimia Analitik Instrumentasi. Bandung
(ID) : Politeknik Negeri Bandung Press
Fifield FW dan Kealey D. 2000. Principles and Practice of Analytical Chemistry
Fifth Edition. USA: Blackwell Science Ltd
Fifield FW dan Haines PJ. 1995. Environmental Analytical Chemistry. London
(UK) : Chapman and Hall
Gosser. 1993. Cyclic Voltammetry Simulation and Analysis of Reaction
Mechanism. New York (UK): VCH Publisher
Hendayana S. 1994. Kimia Analitik Instrumen. Semarang (ID): IKIP
Khopkar SM. 2010. Konsep Dasar Kimia Analitik. A.Sapto Rahardjo, penerjemah.
Jakarta (ID): UIPress. Terjemahan dari: Fundamental Concept of
Analitycal Chemistry
Radiometer Analytical SAS. 2004. Conductivity Theory and Practice. Perancis
(UK) : Mater lab
Reiger PH. 1993. Electrochemistry. New York (US): Chapman and Hall Inc
Stoker HS. 1993. Introduction to chemical Principle. New York (US) : Macmillan
Publishing Company
Underwood LA dan Day RA. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Sopyan I,
penerjemah. Jakarta (ID) : Erlangga. Terjemahan dari : Quantitative
Analysis