Anda di halaman 1dari 45

BAB III.

DAMPAK LINGKUNGAN YANG DITIMBULKAN DAN UPAYA


PENGELOLAAN LINGKUNGAN (UKL) SERTA UPAYA PEMANTAUAN
LINGKUNGAN HIDUP (UPL)

3.1. Dampak Lingkungan yang Ditimbulkan oleh Rencana Usaha dan/atau


Kegiatan Klinik Utama ASP
3.1.1. Tahap Prakonstruksi
a. Keresahanan Warga
1).

Sumber Dampak : Penyiapan lahan, pengurusan perijinan, perekrutan

2.)
3).

tenaga kerja
Jenis Dampak
: Keresahan warga
Besaran Dampak : Warga sekitar tapak rencana kegiatan dan/atau

4).

usaha Klinik Utama ASP


: Dampak cukup penting, dapat bersifat positif atau

Sifat Dampak

negatif tergantung persepsi masing-masing warga


terhadap keberadaan sebuah klinik kesehatan.
Warga dengan persepsi positif biasanya didasari
oleh pemahaman akan keuntungan dari adanya
usaha

dan

atau

kegiatan

klinik

antara

kemudahan

akses

layanan

kesehatan,

lain

peluang

mendapat pekerjaan baik sebagai tenaga kerja Klinik


atau membuka usaha lain yang berkaitan dengan
keberadaan Klinik seperti warung/toko disekitar
klinik, sewa mobil.
Warga dengan persepsi negatif biasanya didasari oleh
pemahaman akan kerugian yang bisa timbul akibat
adanya usaha dan/ atau kegiatan klinik antara lain
pencemaran

air,

estetika.
3.1.2. Tahap Konstruksi
a. Peningkatan Debu, Kebisingan, dan Getaran

pencemaran

udara,

gangguan

1)

Sumber Dampak

: Pembangunan fisik gedung dan fasilitas pendukung


klinik, mobilitas kendaraan

material.
: Peningkatan debu, kebisingan, dan getaran

2.

Jenis Dampak

)
3)

Besaran Dampak : Lokasi sekitar tapak Klinik

.
4)

Sifat Dampak

untuk pengangkutan

: Dampak kurang penting, berlangsung sementara


selama tahap konstruksi.

b. Pengurangan ruang terbuka hijau, luasan area resapan air, habitat satwa
1)

Sumber Dampak

: Pembersihan lahan, pembangunan fisik gedung dan

.
2.

Jenis Dampak

fasiilitas pendukung Klinik


: Pengurangan luasan ruang terbuka hijau dan area

)
3)

resapan air.
Besaran Dampak : Area terbangun pada tapak Klinik seluas 2.590.m2

.
4)

Sifat Dampak

: Dampak

cukup

penting,

berlangsung

permanen

sejak tahap konstruksi

c. Peningkatan intensitas penggunaan jalan/kemacetan lalu lintas


1)

Sumber Dampak

: Mobilitas kendaraan untuk pengangkutan material,


dan mobilitas datang-pulang tenaga kerja pada
pembangunan fisik gedung dan fasilitas pendukung
klinik.
: Peningkatan intensitas penggunaan jalan/kamacetan

2.

Jenis Dampak

)
3)

lalu lintas.
Besaran Dampak : Jalur/jalan

.
4)

Sifat Dampak

masuk

menuju

lokasi

tapak

klinik

sepanjang 200 m
: Dampak kurang penting, berlangsung sementara
selama tahap konstruksi

d. Kecelakaan Kerja
1)
.

Sumber Dampak

: Pembangunan fisik bangunan gedung dan fasilitas


pendukung klinik.

2.

Jenis Dampak

)
3)

Besaran Dampak : Sejumlah tenaga kerja konstruksi

.
4)

Sifat Dampak

: Kecelakaan kerja

: Dampak cukup penting, berlangsung sementara


selama tahap konstruksi.

e. Timbulan sampah
1)
.
2.

Sumber Dampak

: Pembangunan fisik bangunan gedung dan fasilitas

Jenis Dampak

pendukung klinik
: Timbulan sampah

dari

proses

serta

sampah

domestik

akibat

aktivitas

pekerja konstruksi.
Besaran Dampak : Sampah domestik sejumlah tenaga kerja konstruksi,

4)

berasal

pembangunan fisik gedung dan fasilitas pendukung


klinik

3)

yang

diasumsikan sebesar 0.25 lt/orang/hari 1)


Sampah proses pembangunan 12.5-13.5 % dari
Sifat Dampak

.
Keterangan :

material bangunan yang digunakan 2)


: Dampak cukup penting, berlangsung sementara
selama tahap konstruksi.

1) Disetarakan dengan timbulan sampah aktivitas pekerja pertokoan pada SNI


3242:2008
2) Devia, Y.P. dkk, 2010.

3.1.3. Tahap Operasional


a. Pencemaran air limbah domestik
1)

Sumber Dampak

: Pelayanan penunjang medis lainnya seperti dari

.
2.

Jenis Dampak

kamar mandi/WC, laundry, dapur, ruang kantor.


: Pencemaran air limbah domestik

)
3)

Besaran Dampak

: 2.848 m3/hari

.
4)

Sifat Dampak

: Dampak

cukup

penting,

berlangsung

permanen

selama klinik beroperasi

b. Pencemaran limbah cair infeksius/klinis


1)

Sumber Dampak

: Pelayanan medis dari unit rawat jalan, unit gawat

.
2.

Jenis Dampak

darurat, unit rawat inap, unit bedah sentral


: Pencemaran limbah cair infeksius

)
3)

Besaran Dampak : 3.762 m3/hari

.
4)

Sifat Dampak

: Dampak

cukup

penting,

berlangsung

permanen

selama klinik beroperasi

c. Pencemaran limbah cair yang mengandung bahan kimia


1)

Sumber Dampak

: Pelayanan penunjang medis dari unit laboratorium

.
2.

Jenis Dampak

: Pencemaran limbah cair mengandung bahan kimia

)
3)

Besaran Dampak

: 0,4 m3/hari

.
4)

Sifat Dampak

: Dampak

cukup

penting,

berlangsung

permanen

selama klinik beroperasi

d. Pencemaran Udara
1)

Sumber Dampak

: Operasional genset

.
2.

Jenis Dampak

: Pencemararan udara berupa CO, NO2

)
3)

Besaran Dampak : Sesuai jumlah pemanfaatan solar (tergantung

.
4)

Sifat Dampak

ketersediaan energi listrik dari PLN)


: Dampak kurang penting, operasional genset hanya
insidentil

e. Timbulan Limbah Padat Medis/ Sampah Medis


1)
.

Sumber Dampak

: -

Pelayanan medis dari unit gawat darurat, rawat


inap, rawat jalan;

2.

Jenis Dampak

pelayanan

penunjang

medis

yaitu

unit

laboratorium dan unit farmasi;


: Timbulan limbah B3 seperti bekas alat suntik,

kateter,

sarung

3)

kadaluwarsa.
Besaran Dampak : 6.38 kg/hari

.
4)

Sifat Dampak

: Dampak

cukup

tangan,

pot

urin/faeces,

penting,

berlangsung

obat

permanen

selama klinik beroperasi.

f. Timbulan Limbah Padat Non Medis/ Sampah Non Medis


1)

Sumber Dampak

- Aktivitas dapur, kamar mandi/WC


- Pelayanan penunjang medis (unit farmasi)
- Kantor/administrasi
: Timbulan sampah domestik seperti sisa bahan

2.

Jenis Dampak

)
3)

makanan, sisa makanan, kertas, kemasan, kardus.


Besaran Dampak : 21.12 kg/hari

.
4)

Sifat Dampak

: Dampak

cukup

penting,

berlangsung

permanen

.
selama klinik beroperasi.
g. Timbulan Limbah B3 Lainnya
1)

Sumber Dampak

.
2.

Jenis Dampak

: Oli bekas, lampu bekas, batu baterai, catridge,

)
3)

kemasan tinta.
Besaran Dampak : Tergantung intensitas

.
4)

Sifat Dampak

Penggunaan genset
Pelayanan penunjang lainnya

tersebut
: Dampak

cukup

penggunaan

penting,

berlangsung

sarana/alat
permanen

selama klinik beroperasi.

h. Infeksi Nosokomial
1)

Sumber Dampak

: Pelayanan medis di unit gawat darurat, rawat jalan,

.
2.

Jenis Dampak

dan rawat inap


: Infeksi nosokomial

)
3)

Besaran Dampak : Tergantung pengelolaan sanitasi dan desinfeksi.

.
4)

Sifat Dampak

.
i.

cukup

penting,

berlangsung

permanen

selama klinik beroperasi.

Risiko Kebakaran
1)

Sumber Dampak

: Jaringan

listrik

listrik/korsleting)

(kejadian
dan

hubungan

aktivitas

dapur

singkat
(ledakan

tabung gas LPG)


: Risiko kebakaran

2.

Jenis Dampak

)
3)

Besaran Dampak : Tergantung kualitas jaringan listrik gedung dan

kesesuaian

4)

Sifat Dampak

.
j.

: Dampak

prosedur

penyimpanan/penggunaan

tabung gas LPG


: Dampak cukup penting, berlangsung permanen
selama klinik beroperasi.

Peningkatan populasi vektor seperti lalat, kecoa, nyamuk


1)

Sumber Dampak

: Dapur, kamar mandi/WC

.
2.

Jenis Dampak

: Peningkatan populasi vektor

)
3)

Besaran Dampak : Tergantung pengelolaan sanitasi

.
4)

Sifat Dampak

: Dampak cukup penting, berlangsung permanen


selama klinik beroperasi.

3.1.4. Tahap Pasca Operasional


a. Keresahanan Warga
1)

Sumber Dampak

: Berakhirnya operasional Klinik

.
2.

Jenis Dampak

: Keresahan warga

)
3)

Besaran Dampak : Warga sekitar lokasi Klinik dan pelanggan Klinik

.
4)

Sifat Dampak

: Dampak kurang penting, berlangsung sementara


hingga

pelanggan

Klinik

dan

warga

sekitar

mendapatkan fasilitas pengganti.


b. Keresahan Pegawai
1)

Sumber Dampak

: Pemutusan hubungan kerja

.
2.

Jenis Dampak

: Keresahan pegawai

)
3)

Besaran Dampak : Sejumlah

.
4)

Sifat Dampak

pegawai

yang belum

memiliki mata

pencaharian pengganti/cadangan.
: Dampak kurang penting, berlangsung sementara
hingga

semua

pegawai

mendapatkan

pekerjaan/penghasilan kembali.
c. Gangguan Estetika Lingkungan
1).
2.)
3).
4).

Sumber Dampak
Jenis Dampak

: Pengosongan bangunan gedung klinik


: Gangguan estetika lingkungan akibat bangunan

Besaran Dampak
Sifat Dampak

yang tak terawat


: Seluas lokasi/tapak klinik (3.690 m2).
: Dampak kurang penting, berlangsung sementara
hingga bangunan gedung difungsikan kembali.

Tabel 10. Matrik Dampak Lingkungan Yang Ditimbulkan oleh Klinik


Utama ASP

No

Tahap Kegiatan

Sumber Dampak

Jenis Dampak

A.
1.
2.

Prakonstruksi
Penyiapan lahan

Harapan mendapat keuntungan

Keresahan warga

Pengurusan ijin

atas pemanfaatan lahan


Persepsi warga terhadap

Keresahan warga

kehadiran fasilitas
3.

Perekrutan tenaga

kesehatan/klinik
Harapan menjadi tenaga kerja

B.
1.

kerja
Konstruksi
Pembersihan lahan

Penebangan pohon dan

Pengurangan ruang terbuka

pemusnahan semak

hijau, area peresapan air hujan,

Keresahan warga

2.

Penyediaan material

pengganggu pekerjaan

dan pengurangan habitat satwa

konstruksi
Mobilisasi angkutan material

Peningkatan debu, getaran, dan


kebisingan
Peningkatan intensitas pengguna
jalan/kemacetan lalu lintas

3.

Pembangunan fisik

Aktivitas pembangunan fisik

Peningkatan debu, getaran, dan

bangunan dan fasilitas

kebisingan

penunjang lain.
Kecelakaan kerja
Timbulan sampah sisa
Aktivitas tenaga kerja

penggunaan material
Timbulan sampah

konstruksi
Alih fungsi lahan

Pengurangan ruang terbuka


hijau dan area peresapan air

C.
1.

Operasional
Pelayanan Medis

Aktivitas datang-pulang tenaga

hujan
Peningkatan intensitas pengguna

kerja konstruksi

jalan/kemacetan

Pelayanan unit gawat darurat,

Pencemaran limbah cair

rawat jalan, rawat inap, bedah

infeksius

sentral

Timbulan limbah/sampah medis


Timbulan limbah/sampah non
medis
Infeksi Nosokomial

2.

Pelayanan penunjang

Pelayanan farmasi

medis

Timbulan limbah medis (obat


kadaluwarsa)

Pelayanan laboratorium

Timbulan sampah non medis


Pencemaran limbah cair

mengandung bahan kimia


Pencemaran limbah/sampah
3.

Pelayanan penunjang

Pelayanan gizi (Dapur)

medis
Pencemaran air limbah domestik

medis lainnya
Timbulan sampah non medis
Peningkatan populasi vektor
Risiko kebakaran

Laundry
Kamar mandi/WC

Pencemaran air limbah domestik


Timbulan sampah non medis
Pencemaran air limbah domestik
Peningkatan populasi vektor
Timbulan sampah B3 (bekas
pembalut)

Pelayanan Kantor

Timbulan sampah non medis


Pencemaran limbah B3 lainnya
(catridge bekas, botol tinta,

Operasional genset

lampu bekas. dll)


Pencemaran udara
Pencemaran Limbah B3 lainnya

D.

Jaringan listrik

Risiko kebakaran

Pasca Operasional
Berakhirnya

Ketiadaan layanan kesehatan

Keresahan masyarakat

operasional Klinik
Pemutusan

Hilangnya pendapatan ekonomi

Keresahan karyawan/pegawai

Pengosongan

Tidak adanya perawatan

Gangguan estetika

bangunan

bangunan/area Klinik

hubungan kerja

3.2.

Bentuk Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup

Upaya pengelolaan lingkungan merupakan upaya terpadu untuk melestarikan


fungsi lingkungan. Upaya pengelolaan lingkungan dilaksanakan pemrakarsa usaha
dan/atau kegiatan sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap munculnya
dampak lingkungan, baik dampak positif maupun dampak negatif, dalam hal ini
akan dimaksimalkan dampak positif dan diminimalkan timbulnya dampak negatif
dari aktivitas fasilitas kesehatan Klinik ASP
3.2.1. Tahap Prakonstruksi
a. Penyiapan lahan
Penyiapan lahan perlu dilakukan agar dikemudian hari tidak terjadi hambatan
teknis dan administrasi dalam menjalankan kegiatan dan/atau usaha.
Berdasarkan Perda Kabupaten Semarang Nomor 6 Tahun 2011 bahwa setiap
pemanfaatan ruang harus sesuai dengan peruntukannya, maka dari itu calon
lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan telah dimintakan informasi tata
ruang oleh pemrakarsa kepada ketua BKPRD Kabupaten Semarang dan saat
ini telah dinyatakan sesuai dengan peruntukannya melalui Surat Kepala
BKPRD Nomor . tanggal . tentang Informasi Tata Ruang
1)

Sumber Dampak

: Penyiapan lahan

.
2)

Jenis Dampak

: Kesesuaian lokasi kegiatan usaha dengan Rencana

.
3)

Tata Ruang wilayah Kabupaten Semarang.


Upaya Pengelolaan : - Berkoordinasi dengan Bappeda Kabupaten

Semarang untuk mengetahui kesesuaian lokasi


kegiatan usaha dengan Rencana Tata Ruang
-

wilayah Kabupaten Semarang.


Mengajukan secara resmi permohonan informasi
tata ruang kepada Ketua BKPRD Kabupaten

4)
.

Semarang.
Lokasi Pengelolaan : SKPD yang memiliki

tupoksi

terkait

dengan

penataan ruang di Wilayah Kabupaten Semarang,


antara lain : Bappeda Kabupaten semarang.

5)
.

Periode/waktu
Pengelolaan

: Pada tahap perencanaan kegiatan dan/atau usaha

b. Pengurusan perijinan
Pengurusan perizinan melibatkan SKPD terkait perizinan usaha dan/atau
kegiatan di

Kabupaten Semarang serta warga yang tinggal berbatasan

langsung dengan lokasi usaha dan/atau kegiatan.

Perizinan yang harus

dipenuhi pemrakarsa selain ijin lingkungan yaitu Ijin Pemanfaatan Ruang


(Keterangan Lokasi), Ijin Mendirikan Bangunan, Ijin Gangguan, dan Ijin Klinik.
Agar proses perizinan berjalan lancar pemrakarsa berupaya memenuhi semua
persyaratan perizinan dan memberikan pemahaman yang baik kepada warga
masyarakat agar menerima/ menyetujui adanya aktivitas usaha dan/atau
kegiatan pemrakarsa di tengah lingkungan mereka melalui sosialisasi.
Sosialisasi/pertemuan warga telah dilaksanakan oleh pemrakarsa pada 21
April 2016,

menghasilkan kesepakatan persetujuan warga atas berdirinya

Klinik Utama ASP dan kesediaan pemrakarsa untuk ikut serta membangun
lingkungan sekitarnya khusunya RT 04 RW 1 Kelurahan Bawen. Daftar hadir
dan kesepakatan bersama terlampir.
1)

Sumber Dampak

: Pengurusan Perijinan

.
2)

Jenis Dampak

: Persepsi SKPD terkait dan masyarakat

.
3)

Upaya Pengelolaan

: -

Pemenuhan
perijinan
Melaksanakan
sekitar

4)
.
5)
.

Lokasi Pengelolaan
Periode/waktu
Pengelolaan

terhadap

semua

pendekatan

persyaratan

kepada

warga

melalui sosialisasi rencana usaha

dan/atau kegiatan
: SKPD yang memiliki kewenangan dalam perijinan,
warga sekitar lokasi klinik
: - Sekali diawal persiapan pelaksanaan usaha
dan/atau

kegiatan

dan

secara

memperpanjang sesuai jenis perijinan.

berkala

Pertemuan secara formal dilakukan satu kali


diawal perencanaan kegiatan usaha, sedangkan
pertemuan

informal

dilakukan

sesuai

kebutuhan

c. Perekrutan tenaga kerja


Adanya kesempatan kerja merupakan hal yang diharapkan warga sekitar,
perekrutan tenaga kerja jika tidak dilakukan dengan baik bisa menimbulkan
keresahan masyarakat maka dari itu perekrutan tenaga kerja tidak hanya
mempertimbangkan aspek keahlian atau ketrampilan

tetapi juga perlu

mengutamakan tenaga kerja dari warga sekitar. Dalam hal pemberian upah
tenaga kerja pun harus layak untuk mendapatkan dukungan warga terhadap
pelaksanaan usaha dan/atau kegiatan.
1)

Sumber Dampak

: Perekrutan tenaga kerja

.
2)

Jenis Dampak

: Adanya peluang pekerjaan

.
3)

Upaya Pengelolaan : -

Mengupayakan penerimaan tenaga kerja dari


warga sekitar lokasi klinik baik tenaga kerja
untuk

4)
.
5)
.

aktivitas

pembangunan

(tahap

konstruksia) maupun operasional klinik.


- Memberikan upah yang layak
Lokasi Pengelolaan : Warga sekitar lokasi Klinik
Periode/waktu
Pengelolaan

: Pada tahap prakonstruksi dan tahap selanjutnya


sesuai kebutuhan pelayanan klinik.

3.2.2. Tahap Konstruksi


a. Pembersihan Lahan
Pembersihan
lahan

perlu

dilaksanakan

guna

persiapan

aktivitas

pembangunan fisik gedung dan sarana pennjang lain. Pembersihan lahan


dilakukan dengan menghilangkan semak belukar dan menebang pohon di

tapak lokasi terbangun. Penghilangan vegetasi tentu saja akan mengurangi


luasan ruang terbuka hijau dan habitat satwa. Kemampuan tanah untuk
meresapkan air hujan pun akan berkurang karena hilangnya vegetasi yang
berperan dalam percepatan penyerapan air hujan dan penahan limpasan
(runoff) air hujan.
1)

Sumber Dampak

: Pembersihan lahan

.
2)

Jenis Dampak

: -

.
3)

Pengurangan luasan ruang terbuka hijau dan

area resapan air.


- Hilangnya habitat satwa
Upaya Pengelolaan : Meminimalkan aktivitas pengurangan vegetasi di

tapak lokasi pembangunan antara lain : tidak


menebang pohon yang tumbuh bukan di area

4)
.
5)
.

terbangun.
Lokasi Pengelolaan : Tapak lokasi usaha dan/atau kegiatan
Periode/waktu
Pengelolaan

: Pada awal tahap konstruksi

b. Penyediaan Material
Penyediaan material merupakan aktivitas pemasokan bahan bangunan dan
material lain guna pembangunan fisik gedung dan sarana penunjang klinik.
Penyediaan material kemungkinan besar dengan sarana transportasi truk atau
tangki yang keberadaannya dapat menyebabkan kebisingan, getaran, dan
timbulnya debu. Mobilitas alat pengangkut material berdampak pula terhadap
intensitas penggunaan jalan serta kemungkinan kecelakaan lalu lintas pada
akses keluar masuk ke tapak lokasi pembangunan.
1)

Sumber Dampak

: Penyediaan material untuk pembangunan

.
2)

Jenis Dampak

: -

3)
.

Upaya Pengelolaan : -

Peningkatan intensitas penggunaan


jalan/kemacetan lalu lintas
Kemungkinan kecelakaan lalu lintas
Peningkatan debu, getaran, dan kebisingan
Memasang rambu-rambu untuk
keamanan
akses

keluar

masuk

ke

tapak

lokasi

pembangunan
Sebisa mungkin menghindari aktivitas mobilitas
angkutan material pada jam-jam padat lalu

4)

lintas.
- Penyiraman tanah untuk pengurangan debu
Lokasi Pengelolaan : Tapak lokasi usaha dan/atau kegiatan hingga

.
5)
.

radius 200 m (panjang lintasan jalan yang


Periode/waktu
Pengelolaan

mungkin terkena dampak)


: Selama tahap konstruksi

c. Pembangunan Fisik
Pembangunan fisik gedung dan sarana penunjang lain berdampak adanya
timbulan sampah dari material sisa bahan bangunan maupun dari para
pekerja konstruksi seperti pembungkus bekal makanan dan minuman.
Aktivitas

pembangunan

baik

manual

maupun

dengan

alat

berat

memungkinkan timbulnya debu, getaran dan kebisingan. Dampak tersebut


diatas bersifat tidak permanen, hanya terjadi pada tahap konstruksi.
Dampak lingkungan yang bersifat permanen dan perlu mendapat perhatian
khusus dalam

pengelolaan

yaitu berkurangnya luasan daerah resapan air

dan pengurangan ruang terbuka hijau. Pengurangan daerah resapan air


membawa dampak lain yang lebih komplek yaitu penurunan cadangan air
tanah dan peningkatan debit banjir. Pengurangan ruang terbuka hijau akan
mempengaruhi

kondisi

iklim

mikro

dan

ikut

berpengaruh

terhadap

pengendalian pemanasan global.


Guna memaksimalkan volume air hujan yang dapat meresap ke tanah maka
dibuat sumur resapan yang akan menampung air hujan yang terbuang dari
atap gedung dan air hujan yang masuk pada saluran drainase air hujan.
Jumlah kebutuhan unit sumur resapan akan disesuaikan dengan kondisi
lapangan.
1)

Sumber Dampak

: Pembangunan gedung dan sarana penunjang lain

.
2)

Jenis Dampak

: -

Peningkatan debu, getaran, dan kebisingan


Adanya
timbulan
sampah
dari
aktivitas
pembangunan maupun aktivitas tenaga kerja

3)
.

Upaya Pengelolaan : -

konstruksi.
Pengurangan RTH dan daerah resapan air
Penyiraman di titik lokasi berdebu
Menggunakan peralatan konstruksi dengan
kualitas baik untuk mengurangi getaran dan

kebisingan.
Memanfaatkan

kembali

bangunan
Mengupayakan

pemilahan

sisa

material/bahan

sampah

(sampah

organik dipendam dalam tanah, sampah laku


jual diberikan kepada pemulung, sedangkan
-

yang tidak laku jual dibuang ke TPS).


Pembangunan sumur resapan dan

lubang

4)

resapan biopori
- Menyiapkan RTH minimal 30% dari luas tapak
Lokasi Pengelolaan : Tapak lokasi usaha dan/atau kegiatan

.
5)

Periode/waktu

Pengelolaan

Sepanjang tahap konstruksi

3.2.3. Tahap Operasional


a. Pelayanan Medis
Dampak signifikan dari pelayanan medis yaitu adanya limbah cair infeksius,
sampah medis, dan infeksi nosokomial. Dalam pengelolaan dampak limbah
cair akan diolah menggunakan IPAL dengan proses biologis. Sampah medis
yang termasuk limbah B3 akan dipilah, diwadahi, disimpan, dan kemudian
diserahkan kepada pihak lain yang memiliki ijin pengelolaan limbah B3 dari
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Infeksi nosokomial sangat mungkin terjadi

mengingat

pelayanan

pengunjung,

medis

aktivitas/interaksi

pasien,

pada
dan

unit-unit
pelayan

kesehatan paling banyak terjadi sehingga memudahkan perpindahan kuman,


virus, bakteri, penyakit dari satu ke yang lain.
1).
2).

Sumber Dampak

: Pelayanan medis (unit rawat inap, rawat jalan,

Jenis Dampak

gawat darurat, dan bedah sentral).


: - Limbah cair infeksius
- Sampah medis (limbah B3 medis)

3).

Upaya Pengelolaan

: -

Infeksi nosokomial
Limbah cair infeksius diolah di IPAL
Sampah medis (limbah B3 medis) : dipilah
berdasarkan karakteristiknya, disimpan dalam
TPS Limbah B3, untuk selanjutnya pengelolaan
diserahkan kepada pihak ke -3 yang memiliki

ijin pengelolaan limbah B3 medis.


Infeksi nosokomial : menjaga

kebersihan

bangunan dan sarana prasarana yang ada,


menyediakan sarana pemutus rantai penularan
4).
5).

seperti cairan desinfeksi dan masker.


Lokasi Pengelolaan : Ruang/ unit pelayanan medis
Periode/waktu
: Setiap hari selama operasional klinik
Pengelolaan

b. Pelayanan Penunjang Medis


Unit Farmasi
1)

Sumber Dampak

: Pelayanan penunjang medis pada unit farmasi

.
2)

Jenis Dampak

: -

Sampah non medis (sampah kemasan obat)


Sampah medis/limbah padat B3 (obat

: -

kadaluwarsa)
Sampah non medis : dipilah, dijual jika masih

.
3)

Upaya Pengelolaan

memiliki nilai ekonomi, yang tidak laku jual


akan dikumpulkan dan dibawa ke TPA setempat
-

oleh layanan persampahan kota.


Sampah
medis
(limbah
B3

medis)

dikumpulkan dan disimpan dalam TPS Limbah


B3, untuk selanjutnya pengelolaan diserahkan
kepada
-

pihak

ke

-3

pengelolaan limbah B3.


Melakukan minimisasi

yang
limbah

memiliki

ijin

antara

lain

dengan cara memesan persediaan obat sesuai


kebutuhan, cermat dalam pemeriksaan tanggal
kadaluwarsa obat, memanfaatkan obat sesuai
urutan kadaluwarsanya.

4)
.
5)
.

Lokasi Pengelolaan
Periode/waktu
Pengelolaan

: Ruang farmasi, gudang farmasi, TPS limbah B3,


TPS non medis
: Setiap hari selama operasional klinik

Unit Laboratorium
1)

Sumber Dampak

: Pelayanan

.
2)

Jenis Dampak

laboratorium
: - Limbah cair mengandung bahan kimia
- Sampah medis/limbah B3 medis (sampel

.
3)

Upaya Pengelolaan

: -

penunjang

medis

pada

unit

infeksius, jarum suntik, kasa, kapas)


Sampah medis (limbah B3 medis) : dipilah
berdasarkan karakteristiknya, disimpan dalam
TPS Limbah B3, untuk selanjutnya pengelolaan
diserahkan kepada pihak ke -3 yang memiliki

ijin pengelolaan limbah B3 medis.


Memonitor alur penggunaan bahan kimia dari

bahan baku hingga menjadi limbah B3.


Limbah cair yang mengandung bahan kimia
akan

dialirkan

menuju

limbah secara kimia/fisika


4)
.
5)
.

Lokasi Pengelolaan
Periode/waktu
Pengelolaan

instalasi

pengolah

kemudian diolah

bersama dalam IPAL.


: Ruang laboratorium, TPS limbah B3
: Setiap hari selama operasional klinik

c. Pelayanan Penunjang Lain


Unit gizi
1)

Sumber Dampak

: Pelayanan gizi

.
2)

Jenis Dampak

: -

Air limbah domestik


Sampah non medis (sisa makanan, sisa bahan
makanan)
Risiko kebakaran
Peningkatan populasi vektor

3)

Upaya Pengelolaan

: -

Air limbah domestik dialirkan ke IPAL


Sampah dapur dipilah : anorganik

masih

memiliki nilai ekonomi, anorganik tak laku jual,


dan organik. Sampah bernilai ekonomi akan
dijual, yang tak laku jual akan dikumpulkan
dan dibawa ke TPA. Sampah organik akan
ditimbun dalam lubang resapan biopori atau
-

diolah dengan alat composter.


Melakukan
prosedur
penyimpanan

dan

penggunaan bahan bakar LPG dengan tepat


untuk

4)
.
5)
.

Lokasi Pengelolaan
Periode/waktu
Pengelolaan

menghindari

kemungkinan

ledakan

tabung LPG
- Menjaga kebersihan dapur dan sekitarnya
: Dapur dan sekitarnya
: Setiap hari selama operasional klinik

Laundry
1)

Sumber Dampak

: Laundry

.
2)

Jenis Dampak

.
3)

: -

Air limbah domestik


Sampah non medis (kemasan deterjen, dll)

Upaya Pengelolaan

: -

Air limbah domestic dialirkan ke IPAL


Sampah dipilah : anorganik masih memiliki

nilai ekonomi, anorganik tak laku jual. Sampah


bernilai ekonomi akan dijual, yang tak laku jual

4)

Lokasi Pengelolaan

akan dikumpulkan dan dibawa ke TPA.


: Ruang laundry, TPS non medis

.
5)

Periode/waktu

: Setiap hari selama operasional klinik

Pengelolaan

Kamar mandi /WC


1)

Sumber Dampak

: Kamar mandi/ WC

.
2)

Jenis Dampak

3)

Upaya Pengelolaan

: -

Air limbah domestik


Sampah non medis (sisa kemasan peralatan

: -

mandi)
Sampah medis (bekas pembalut)
Air limbah domestic dialirkan ke IPAL
Menyediakan tempat sampah di setiap kamar
mandi/WC

terpisah

berdasarkan

karakteristiknya (medis/non-medis)
Sampah dipilah : anorganik masih memiliki
nilai ekonomi dan anorganik tak laku jual.
Sampah bernilai ekonomi akan dijual, yang tak
laku jual akan dikumpulkan dan dibawa ke
TPA. Sampah medis akan diserahkan kepada

4)
.
5)
.

Lokasi Pengelolaan
Periode/waktu
Pengelolaan

pihak ke 3 pengelola limbah B3.


: Kamar mandi/WC
: Setiap hari selama operasional klinik

Ruang kantor
1)

Sumber Dampak

: Ruang kantor

.
2)

Jenis Dampak

: -

Sampah non medis (kertas bekas)


Limbah B3 lainnya (cartridge printer, toner,

Upaya Pengelolaan

: -

wadah tinta)
Mengupayakan

.
3)
.

pengurangan

sampah/

minimisasi sampah
Menyediakan tempat sampah yang terpisah

untuk sampah non medis dan limbah B3.


Sampah dipilah : anorganik masih memiliki
nilai ekonomi dan anorganik tak laku jual.
Sampah bernilai ekonomi akan dijual, yang tak
laku jual akan dikumpulkan dan dibawa ke

4)

Lokasi Pengelolaan

TPA.
: Ruang kantor

.
5)
.

Periode/waktu
Pengelolaan

: Setiap hari selama operasional klinik

Operasional Genset
1).
2).
3).

Sumber Dampak
Jenis Dampak

: Operasional genset
: Pencemaran udara

Upaya Pengelolaan

kebisingan, timbulan limbah B3 oli.


: - Pemilihan ganset dengan teknologi

(CO

dan

NO2),

gangguan
minim

kebisingan, dan efisiensi bahan bakar yang


tinggi
- Perawatan genset sesuai prosedur
- Mencatat waktu operasional/penggunaan genset
- Limbah oli disimpan dan kemudian diserahkan ke
4).
5).

pihak ke 3 yang memiliki ijin pengelolaan.


Lokasi Pengelolaan : Ruang genset
Periode/waktu
: Minimal 1 minggu sekali selama operasional klinik
Pengelolaan

3.2.4. Tahap Pasca Operasional


a. Ketiadaan pelayanan kesehatan terdekat
1).
2).
3).

Sumber Dampak
Jenis Dampak
Upaya Pengelolaan

: Ketiadaan pelayanan kesehatan terdekat


: Keresahan warga
: Menginformasikan fasilitas pelayanan kesehatan

4).
5).

terdekat sebagai alternatif pengganti


Lokasi Pengelolaan : Warga sekitar lokasi Klinik
Periode/waktu
: Sekali pada saat usaha dan/atau kegiatan klinik
Pengelolaan
akan ditutup

b. Pemutusan hubungan kerja


1).
2).
3).

Sumber Dampak
Jenis Dampak
Upaya Pengelolaan

: Pemutusan hubungan kerja


: Keresahan pegawai
: - Menginformasikan kepada pegawai jauh-jauh
hari sehingga ada cukup waktu untuk mencari
-

mata pencaharian pengganti


Apabila ada ketersediaan lowongan pekerjaan di

tempat

lain

memberikan
sekaligus
4).
5).

maka

pemrakarsa

akan

lowongan

kerja

informasi
merekomendasi

pegawai

yang

berkinerja diatas rata-rata.


Lokasi Pengelolaan : Pegawai klinik
Periode/waktu
: Menjelang penutupan klinik hingga berakhirnya
Pengelolaan
operasional klinik.

c. Pengosongan Bangunan Klinik


1).
2).
3).

Sumber Dampak
Jenis Dampak
Upaya Pengelolaan

: Pengosongan bangunan klinik


: Gangguan estetika lingkungan sekitar klinik
: - Tidak membiarkan bangunan mangkrak, segera
-

memfungsikan bangunan bekas klinik.


Melakukan pembersihan area luar klinik secara
berkala

4).
5).

3.3.

sebelum

bangunan

kembali.
Lokasi Pengelolaan : Lokasi tapak klinik (bekas)
Periode/waktu
: Pasca penutupan klinik
Pengelolaan
difungsikan kembali.

hingga

difungsikan

bangunan

Bentuk Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup

3.3.1. Tahap Prakonstruksi


a. Penyiapan lahan
1)

Sumber Dampak

: Penyiapan lahan

.
2)

Jenis Dampak

: Kesesuaian lokasi kegiatan usaha dengan Rencana

Upaya Pemantauan

Tata Ruang wilayah Kabupaten Semarang.


: Cek lokasi usaha dan/atau kegiatan dengan peta

.
3)
.

Rencana

Tata

Semarang

RDTR

Wilayah

Kabupaten

Kecamatan

Bawen

Kabupaten Semarang.
: Perda Kabupaten Semarang Nomor 6 Tahun

4)

Tolok Ukur

.
5)

Lokasi Pemantauan : SKPD

atau

Ruang

yang

memiliki

tupoksi

terkait

dengan

penataan ruang di Wilayah Kabupaten Semarang,

6)
.

Periode/waktu
Pemantauan

antara lain : Bappeda Kabupaten semarang.


: Satu kali diawal perencanaan kegiatan usaha

b. Pengurusan Perijinan
1)

Sumber Dampak

: Pengurusan Perijinan

.
2)

Jenis Dampak

: Persepsi SKPD terkait dan masyarakat

.
3)

Upaya Pemantauan

: -

dengan

pemenuhan
-

SKPD

persyaratan

terkait

guna

perijinan

dan

kelancaran proses perijinan.


Wawancara denga warga sekitar lokasi rencana

usaha dan/atau kegiatan


: Tidak terdapat masalah hukum dan administrasi

4)

Tolok Ukur

.
5)

terkait dengan proses perijinan


Lokasi Pemantauan : SKPD yang memiliki kewenangan dalam perijinan,

.
6)
.

c.

Koordinasi

Periode/waktu
Pemantauan

dan warga sekitar lokasi Klinik


: Sekali diawal persiapan pelaksanaan

usaha

dan/atau kegiatan

Perekrutan tenaga kerja


1)

Sumber Dampak

: Perekrutan tenaga kerja

.
2)

Jenis Dampak

: Adanya harapan mendapat peluang pekerjaan

.
3)

Upaya Pemantauan

: -

Penelitian terhadap berkas pelamar


Wawancara dengan tokoh masyarakat sekitar

lokasi kegiatan dan/atau usaha.


Tidak ada kecemburuan sosial warga sekitar

4)

Tolok ukur

.
5)

terhadap penerimaan tenaga kerja di klinik.


Lokasi Pemantauan : Warga sekitar lokasi Klinik

.
6)
.

Periode/waktu
Pemantauan

: Pada tahap prakonstruksi dan tahap selanjutnya


sesuai kebutuhan pelayanan klinik.

3.3.2. Tahap Konstruksi


a. Pembersihan Lahan
1)

Sumber Dampak

: Pembersihan lahan

.
2)

Jenis Dampak

: -

Upaya Pemantauan

area resapan air.


- Hilangnya habitat satwa
: Pemantauan secara visual

.
4)

Tolok ukur

pembersihan lahan dan kondisi tapak saat ini.


: Masih terdapat vegetasi/pohon yang tidak

.
5)

ditebang
Lokasi Pemantauan : Tapak lokasi usaha dan/atau kegiatan

.
3)

.
6)
.

Periode/waktu
Pemantauan

Pengurangan luasan ruang terbuka hijau dan

terhadap

proses

: Pada awal tahap konstruksi

b. Penyediaan Material
1)
.
2)

Sumber Dampak

: Mobilitas

Jenis Dampak

pembangunan
: Peningkatan debu, getaran, dan kebisingan
Peningkatan
intensitas
penggunaan

.
3)

Upaya Pemantauan

4)

angkutan

penyedia

material

jalan/kemacetan lalu lintas


:- Pengamatan visual terhadap kelancaran lalu lintas
jalan dan keberadaan debu
- Pengamatan terhadap mesin/perkakas

Tolok ukur

untuk

yang

digunakan dalam proses pembangunan,


- Wawancara dengan masyarakat terkena dampak
: arus lalu lintas lancar dan tidak ada keluhan
masyarakat

terhadap

kebisingan,

bau.,

dan

getaran.
5)
.
6)
.

Lokasi Pemantauan : Tapak lokasi usaha dan/atau kegiatan hingga


Periode/waktu
Pengelolaan

radius 200 m
: Selama tahap konstruksi

c. Pembangunan Fisik
1)

Sumber Dampak

: Pembangunan gedung dan sarana penunjang lain

.
2)

Jenis Dampak

: -

3)

Peningkatan debu, getaran, dan kebisingan


Adanya timbulan sampah dari aktivitas
pembangunan maupun aktivitas tenaga kerja

Upaya Pemantauan

: -

konstruksi.
Pengurangan RTH dan daerah resapan air
Wawancara dengan warga sekitar terkait
dengan adanya gangguan debu, kebisingan, dan

getaran akibat aktivitas pembangunan.


Pemantauan secara visual terhadap kondisi
lingkungan

4)

Tolok Ukur

.
6)
.

(kondisi

udara,

tingkat

kebisingan dan getaran, timbulan sampah)


Pemantauan terhadap timbulnya genangan air

: -

hujan
Tidak adanya complain warga terkait dengan

5)

tapak

gangguan debu, kebisingan, dan getaran akibat


-

aktivitas pembangunan.
Tidak terdapat sampah

terdapat tumpukan sisa material tak terpakai.


Getaran dan kebisingan masih dalam batas

toleransi (tidak mengganggu percakapan)


Tidak ditemui genangan dan luapan air di area

berserakan,

tapak.
Lokasi Pemantauan : Tapak lokasi usaha dan/atau kegiatan
Periode/waktu
Pengelolaan

3.3.3. Tahap Operasional


a. Pelayanan Medis

Selama tahap konstruksi

tidak

1)
.
2)

Sumber Dampak
Jenis Dampak

.
3)

Upaya Pemantauan

: Pelayanan medis (unit rawat inap, rawat jalan,


gawat darurat, dan bedah sentral).
: - Limbah cair infeksius
- Sampah medis (limbah B3 medis)
- Infeksi nosokomial
: - Pemantauan terhadap debit limbah

masuk dan keluar IPAL


Pengujian kualitas inlet dan outlet IPAL
Pemantauan terhadap bangunan TPS B3 dan
tata

cara

pengelolaan

limbah

B3

di

lingkungan klinik
Pemantauan terhadap ketersediaan sarana
pemutus

cair

rantai

infeksi

lingkungan klinik
Penelitian terhadap

data

nosokomial
rekaman

di

pasien

dan/atau karyawan yang mengalami infeksi


4)

Tolok Ukur

: -

5)
.
6)
.

nosokomial.
IPAL berfungsi

baik

dan

effluent

dapat

memenuhi baku mutu (Perda Prov. Jateng

Lokasi Pemantauan
Periode/waktu
Pemantauan

Nomor 5 Tahun 2012-Lampiran IV)


Pengelolaan limbah sesuai dengan KepMenKes

No.1204/Menkes/SK/X/2004
Tidak ditemukan pasien dan/ atau karyawan

yang terjangkit infeksi nosokomial.


: Lingkungan klinik
: -

Pemantauan

limbah

cair

infeksius

setiap

minimal 1 (satu) bulan sekali.


Pemantauan sampah medis/limbah B3 medis

dilakukan setiap hari;


Pemantauan terhadap ketersediaan sarana
pemutus rantai infeksi nosokomial dilakukan
setiap hari.

b. Pelayanan Penunjang Medis


Unit Farmasi
1)

Sumber Dampak

: Pelayanan penunjang medis pada unit farmasi

.
2)

Jenis Dampak

.
3)

Upaya Pemantauan

: -

Sampah non medis (sampah kemasan obat)


Sampah medis/limbah padat B3 (obat

: -

kadaluwarsa)
Pemantauan

terhadap

stok

farmasi

(ketersediaan

farmasi

sesuai

dengan

kebutuhan)
Pemantauan

secara

.
-

visual

terhadap

keberadaan sampah non medis dan limbah


Tolok ukur

padat B3
: Dilaksanakan

Lokasi Pematauan

KepMenKes No.1204/Menkes/SK/X/2004
: Ruang farmasi, gudang farmasi, TPS limbah B3,

.
6)

Periode/waktu

TPS non medis


: Setiap hari selama operasional klinik

Pengelolaan

4)
.
5)

pengelolaan

sesuai

dengan

Unit Laboratorium
1)

Sumber Dampak

: Pelayanan

.
2)

Jenis Dampak

laboratorium
: - Limbah cair mengandung bahan kimia
- Sampah medis/limbah B3 medis (sampel

Upaya Pemantauan

: -

.
3)
.

4)

Tolok ukur

pada

kimia/fisika
Pemantauan

secara

penanganan

sampah

: -

unit

infeksius, jarum suntik, kasa, kapas)


Pemantauan terhadap debit limbah cair masuk
dan keluar IPAL secara kimia fisika
Pengujian kualitas inlet dan outlet
visual
medis

IPAL

terhadap
pada

unit

laboratorium
IPAL berfungsi baik, kandungan logam berat
effluent memenuhi baku mutu pada PermenLH

medis

5)

penunjang

No. 5 Tahun 2014 - Lampiran XLIV


Pengelolaan sampah medis sesuai

dengan

KepMenKes No.1204/Menkes/SK/X/2004
Lokasi Pemantauan : Ruang laboratorium, IPAL fisika/kimia (IPAL
laboratorium), TPS Limbah B3

6)
.

Periode/waktu
Pemantauan

: -

Pemantauan limbah cair mengandung bahan

kimia setiap minimal 1 (satu) bulan sekali


Pemantauan pengelolaan sampah medis dari
unit laboratorium dilakukan etiap hari selama
operasional klinik

c. Pelayanan Penunjang Lain


Dapur
1).
2).

3).

Sumber Dampak
Jenis Dampak

: Dapur
: - Air limbah domestik
- Sampah non medis (sisa makanan, sisa bahan

Upaya Pemantauan : -

makanan)
Risiko kebakaran
Peningkatan populasi vektor
Pemantauan saluran air limbah dari dapur

menuju IPAL
Pemantauan terhadap pengelolaan sampah non
medis seperti pemilahan sampah, penimbunan

sampah organik dalam LRB dan komposting.


Pemeriksaan tempat penyimpanan tabung LPG

dan instalasi tungku dan tabung LPG


Pemantauan secara visual terhadap keberadaan

: -

vektor
Air limbah tidak tersumbet dan dapat mengalir

4).

Tolok ukur

5).

lancar menuju IPAL.


- Adanya pemilahan sampah
- Unit LRB dan komposter berfungsi baik.
- TPS limbah non medis terjaga kebersihannya
- Tidak terjadi kebakaran
- Tidak ditemukan vektor disekitar klinik
Lokasi Pemantauan : Dapur dan sekitarnya, gudang penyimpanan LPG,

6).

Periode/waktu
Pemantauan

sarana pengelolaan sampah non medis.


: - Pemantauan jaringan air limbah
-

domestik

setiap minimal 1 (satu) bulan sekali


Pemantauan terhadap pengelolaan sampah non
medis dari dapur dilakukan setiap hari selama

operasional klinik
Pemeriksaan keamanan

penggunaan

LPG

dilakukan minimal 1 minggu sekali selama

operasional klinik
Pengamatan vektor

dilakukan

setiap

hari

selama operasional klinik


Laundry
1)

Sumber Dampak

: Laundry

.
2)

Jenis Dampak

.
3)

: -

Air limbah domestik


Sampah non medis (kemasan deterjen, dll)

Upaya Pemantauan

: -

Pemantauan saluran air limbah dari laundry

menuju IPAL
Pemantauan terhadap pengelolaan sampah dari

4)

Tolok Ukur

.
5)

Lokasi Pemantauan : Area laundry dan sekitarnya

.
6)
.

Periode/waktu
Pemantauan

: -

aktivitas laundry
Aliran air limbah tidak tersumbat
Adanya upaya pemilahan sampah

: -

Pemantauan

jaringan

air

limbah

domestik

setiap minimal 1 (satu) bulan sekali


Pemantauan pengelolaan sampah dilakukan
setiap hari selama operasional klinik

Kamar mandi /WC


1)

Sumber Dampak

: Kamar mandi/ WC

.
2)

Jenis Dampak

: -

Air limbah domestik


Sampah non medis (sisa kemasan peralatan

: -

mandi)
Sampah medis (pembalut wanita)
Pemantauan jaringan perpipaan air limbah dari

kamar mandi dan tangki saptik menuju IPAL


Pemantauan terhadap pengelolaan sampah

: -

antara lain pemilahan sampah.


Tidak terjadi penyumbatan atau kerusakan

3)

Upaya Pemantauan

4)
.

5)

Tolok Ukur

jaringan air limbah


Adanya
upaya
pemilahan

sampah

penanganan sampah dengan tepat


Lokasi Pemantauan : Kamar mandi/WC dan area IPAL

dan

.
6)
.

Periode/waktu
Pemantauan

: -

Pemantauan jaringan perpipaan air limbah

domestik setiap minimal 1 (satu) bulan sekali


Pemantauan pengelolaan sampah dilakukan
setiap hari selama operasional klinik

Ruang kantor
1)

Sumber Dampak

: Pelayanan administrasi

.
2)

Jenis Dampak

: -

Sampah non medis (kertas bekas)


Limbah B3 lainnya (cartridge printer, toner,

wadah tinta)
: Pemantauan terhadap pengelolaan sampah di

3)

Upaya Pemantauan

.
4)

Tolok Ukur

.
5)

Lokasi Pemantauan : Ruangan kantor

.
6)
.

Periode/waktu
Pemantauan

ruang kantor antara lain pemilahan limbah B3.


: - Ada praktek pengelolaan sampah dengan 3R
- Ada wadah pemilah sampah

: Setiap hari selama operasional klinik

Operasional Genset
1).
2).

Sumber Dampak
Jenis Dampak

: Operasional genset
: Pencemaran udara

3).

kebisingan, timbulan limbah B3 oli.


Upaya Pemantauan : - Pengujian kualitas udara ambient (NO 2, CO, SO2,

(CO

O3, HC, TSP, PM10)


- Pengamatan terhadap
limbah
4).
4).
5).

Tolok ukur

:Lokasi Pemantauan :
Periode/waktu
:
Pengelolaan

oli

baik

dan

NO2),

aktivitas

secara

gangguan

pengelolaan

visual

maupun

pencermatan pada logbook limbah B3


Kep Gub Jateng No. 8 Tahun 2001
Kep Ka Bappedal No. 255 Tahun 1996
Area klinik, TPS limbah B3
6 (enam) bulan sekali selama operasional klinik

3.3.4. Tahap Pasca Operasional


a. Ketiadaan pelayanan kesehatan terdekat
1)

Sumber Dampak

: Ketiadaan pelayanan kesehatan terdekat

.
2)

Jenis Dampak

: Keresahan warga

.
3)

Upaya Pemantauan

: Wawancara dengan warga sekitar lokasi

.
4)

Tolok Ukur

.
5)

Lokasi

: Warga sekitar lokasi Klinik

Pemantauan
Periode/waktu
Pemantauan

: Sekali pada saat usaha dan/atau kegiatan klinik

.
6)
.

Tidak terjadi keresahan warga

ditutup

b. Pemutusan hubungan kerja


1).

Sumber Dampak

: Pemutusan hubungan kerja

2).
3).

Jenis Dampak
: Keresahan tenaga kerja
Upaya Pemantauan : Wawancara dengan warga sekitar lokasi (eks

4).

Tolok ukur

5).
6).

mendapatkan mata pencaharian lainnya


Lokasi Pemantauan : Wilayah sekitar lokasi klinik
Periode/waktu
: Sekali setelah berakhirnya operasional klinik.
Pemantauan

tenaga kerja klinik)


: Tidak terjadi keresahan, eks tenaga kerja telah

c. Pengosongan Bangunan Klinik


1)

Sumber Dampak

: Pengosongan bangunan klinik

.
2)

Jenis Dampak

: Gangguan estetika lingkungan sekitar klinik

.
3)

Upaya Pemantauan

: Pengamatan visual pada bekas tapak klinik

.
4)

Tolok Ukur

Bangunan dan area sekitarnya bersih dari sampah


dan semak belukar.

5)
.
6)
.

Lokasi Pemantauan : Lokasi tapak klinik (bekas)


Periode/waktu
Pemantauan

: Setiap bulan sekali setelah penutupan klinik


hingga bangunan difungsikan kembali.

Tabel 11. MATRIK UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (UKL) DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (UPL)
KLINIK UTAMA ANINDITA SEKAR PRIYAMBODO

No

Sumber
Dampak

Jenis Dampak

A.

Tahap Pra
Konstruksi
Penyiapan lahan

1.

2.

Pengurusan ijin

UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP


Lokasi
Periode
Bentuk Upaya Pengelolaan
Pengelolaan
Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Lingkungan
Hidup
Hidup

UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP


Lokasi
Periode
Bentuk Upaya Pemantauan
Pemantauan
Pemantauan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Lingkungan
Hidup
Hidup

Kesesuaian
- Berkoordinasi dengan
lokasi
Bappeda Kabupaten
kegiatan
Semarang untuk
usaha dengan
mengetahui kesesuaian
Rencana Tata
lokasi kegiatan usaha
Ruang wilayah
dengan Rencana Tata
Kabupaten
Ruang wilayah
Semarang.
Kabupaten Semarang.
- Mengajukan secara resmi
permohonan informasi
tata ruang kepada Ketua
BKPRD Kabupaten
Semarang.

SKPD yang
memiliki tupoksi
terkait dengan
penataan ruang
di Wilayah
Kabupaten
Semarang,
antara lain :
Bappeda
Kabupaten
semarang.

Persepsi SKPD - Pemenuhan terhadap


terkait dan
semua persyaratan
masyarakat
perijinan
- Melaksanakan pendekatan
kepada warga sekitar
melalui sosialisasi
rencana usaha dan/atau
kegiatan

SKPD yang
- Sekali diawal
memiliki
persiapan
kewenangan
pelaksanaan
dalam perijinan,
usaha
warga sekitar
dan/atau
lokasi Klinik.
kegiatan dan
secara berkala
memperpanja
ng sesuai jenis
perijinan.
- Pertemuan
secara formal
dilakukan
satu kali

Pada tahap
perencanaan
kegiatan
dan/atau usaha

Cek lokasi usaha dan/atau


kegiatan dengan peta
Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten
Semarang atau RDTR
Kecamatan Bawen
Kabupaten Semarang.

SKPD yang
memiliki tupoksi
terkait dengan
penataan ruang
di Wilayah
Kabupaten
Semarang,
antara lain :
Bappeda
Kabupaten
semarang.

Satu kali
diawal
perencanaan
kegiatan
usaha

Pemrakarsa,
BKPRD Kab.
Semarang

SKPD yang
memiliki
kewenangan
dalam perijinan,
dan warga
sekitar lokasi
Klinik

Sekali diawal
persiapan
pelaksanaan
usaha
dan/atau
kegiatan

Pemrakarsa,
BPMPPTSP K
Semarang,
Bappeda Kab
Semarang, BL
Kab. Semaran

Tolok Ukur :
- Perda Kabupaten
Semarang Nomor 6
Tahun 2011

Koordinasi dengan SKPD


terkait guna pemenuhan
persyaratan perijinan
dan kelancaran proses
perijinan.
Wawancara denga warga
sekitar lokasi rencana
usaha dan/atau kegiatan
Tolok ukur :
Tidak terdapat masalah
hukum dan administrasi
terkait dengan proses

Institusi
Pengelola d
Pemantaua
Lingkunga
Hidup

10

No

3.

B.
1.

2.

Sumber
Dampak

Perekrutan
tenaga kerja

Tahap
Konstruksi
Pembersihan
lahan

Penyediaan

Jenis Dampak

Harapan
positif akan
adanya
peluang
pekerjaan

- Pengurangan
luasan ruang
terbuka
hijau dan
area resapan
air.
- Hilangnya
habitat
satwa

UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP


Lokasi
Periode
Bentuk Upaya Pengelolaan
Pengelolaan
Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Lingkungan
Hidup
Hidup
diawal
perencanaan
kegiatan
usaha,
sedangkan
pertemuan
informal
dilakukan
sesuai
kebutuhan
- Mengupayakan
penerimaan tenaga kerja
dari warga sekitar lokasi
klinik baik tenaga kerja
untuk aktivitas
pembangunan (tahap
konstruksia) maupun
operasional Klinik.
- Memberikan upah yang
layak

Meminimalkan aktivitas
pengurangan vegetasi di
tapak lokasi pembangunan
antara lain : tidak
menebang pohon yang
tumbuh bukan di area
terbangun.

Penin- Penyiraman tanah untuk

Warga sekitar
lokasi Klinik

Tapak lokasi
usaha dan/atau
kegiatan

Pada tahap
prakonstruksi
dan tahap
selanjutnya
sesuai
kebutuhan
pelayanan
klinik.

UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP


Lokasi
Periode
Bentuk Upaya Pemantauan
Pemantauan
Pemantauan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Lingkungan
Hidup
Hidup
perijinan

- Penelitian terhadap berkas


pelamar
- Wawancara dengan
masyarakat sekitar dan
tokoh masyarakat

Masyarakat
sekitar lokasi
tapak kegiatan
usaha

Pada tahap
prakonstruksi
dan tahap
selanjutnya
sesuai
kebutuhan
pelayanan
klinik.

Pemrakarsa,
Dinsosnakert
ns Kab.
Semarang.

Tapak lokasi

Pada awal
tahap
konstruksi

Pemrakarsa,
BLH Kab.
Semarang

Selama tahap

Pemrakarsa,

Tolok ukur : tidak ada


kecemburuan sosial terkait
penerimaan tenaga kerja

Pada awal tahap


konstruksi

Pemantauan secara visual


terhadap proses
pembersihan lahan dan
kondisi tapak.

Institusi
Pengelola d
Pemantaua
Lingkunga
Hidup

usaha dan/atau
kegiatan

Tolok Ukur :
Masih tertinggal
vegetasi/pohon yang
keberadaannya tidak
mengganggu proses
pembangunan
Tapak lokasi

Selama tahap

Pengamatan visual

Tapak lokasi

No

Sumber
Dampak
material untuk
pembangunan

UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP


Lokasi
Periode
Jenis Dampak
Bentuk Upaya Pengelolaan
Pengelolaan
Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Lingkungan
Hidup
Hidup
usaha dan/atau
gkata
pengurangan debu
konstruksi
kegiatan hingga
n
radius 200 m
debu,- Sebisa mungkin
getara
menghindari aktivitas
n,
mobilitas angkutan
dan
material pada jam-jam
kebisi
padat lalu lintas.
ngan
- Memasang rambu-rambu
Penin
untuk keamanan akses
gkata
keluar masuk ke tapak
n
lokasi pembangunan
intens
itas
pengg
unaa
n
jalan/
kema
cetan
lalu
lintas

3.

Pembangunan
gedung dan

UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP


Lokasi
Periode
Bentuk Upaya Pemantauan
Pemantauan
Pemantauan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Lingkungan
Hidup
Hidup
terhadap kelancaran lalu
usaha dan/atau
konstruksi
lintas jalan dan
kegiatan hingga
keberadaan debu
radius 200 m
,
Wawancara dengan
masyarakat terkena
dampak

Institusi
Pengelola d
Pemantaua
Lingkunga
Hidup
BLH Kab.
Semarang

Tolok ukur :
arus lalu lintas lancar dan
tidak ada keluhan
masyarakat terhadap
kebisingan, debu, dan
getaran.

Kemu
ngkin
an
terjad
inya
kecela
kaan
lalu
lintas
Pening- Penyiraman di titik lokasi
katan
berdebu

Tapak lokasi
usaha dan/atau

Selama tahap
konstruksi

- Wawancara dengan warga


sekitar terkait dengan

Tapak lokasi
usaha dan/atau

Selama tahap
konstruksi

Pemrakarsa,
BLH Kab.

No

Sumber
Dampak
sarana
penunjang lain

UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP


Lokasi
Periode
Jenis Dampak
Bentuk Upaya Pengelolaan
Pengelolaan
Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Lingkungan
Hidup
Hidup
debu, - Menggunakan peralatan
kegiatan
getara
konstruksi dengan
n, dan
kualitas baik untuk
kebisi
mengurangi getaran dan
ngan
kebisingan.

- Memanfaatkan kembali
sisa material
- Menyediakan tempat
sampah terpilah antara
sampah laku jual, tidak
laku jual.
- Sampah organik dipendam
Adany
dalam tanah
a
timbul- Pembangunan sumur
an
resapan dan lubang
sampa
resapan biopori
h dari - Menyiapkan RTH minimal
aktivit
30% dari luas tapak
as
lokasi
pemba
nguna
n
maup
un
aktivit
as
tenaga
kerja
konstr
uksi.

Pengur

UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP


Lokasi
Periode
Bentuk Upaya Pemantauan
Pemantauan
Pemantauan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Lingkungan
Hidup
Hidup
adanya gangguan debu,
kegiatan
kebisingan, dan getaran
akibat aktivitas
pembangunan.
- Pemantauan secara visual
terhadap kondisi
lingkungan tapak
(kondisi udara, tingkat
kebisingan dan getaran,
timbulan sampah)
- Pemantauan terhadap
timbulnya genangan air
hujan
Tolok ukur :
Tidak adanya
komplain warga
terkait dengan
gangguan debu,
kebisingan, dan
getaran.
Tidak terdapat
sampah
berserakan, tidak
terdapat
tumpukan sisa
material tak
terpakai.
Getaran dan
kebisingan masih
dalam batas
toleransi (tidak
mengganggu
percakapan)

Institusi
Pengelola d
Pemantaua
Lingkunga
Hidup
Semarang

No

Sumber
Dampak

Jenis Dampak

angan
RTH
dan
daerah
resapa
n air

C.

Tahap
Operasional

UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP


Lokasi
Periode
Bentuk Upaya Pengelolaan
Pengelolaan
Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Lingkungan
Hidup
Hidup

UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP


Lokasi
Periode
Bentuk Upaya Pemantauan
Pemantauan
Pemantauan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Lingkungan
Hidup
Hidup
Tidak ditemui
genangan dan
luapan air di area
tapak

Institusi
Pengelola d
Pemantaua
Lingkunga
Hidup

No

1.

Sumber
Dampak
Pelayanan
medis (unit
rawat inap,
rawat jalan,
gawat darurat,
dan bedah
sentral).

UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN


Lokasi
Jenis Dampak
Bentuk Upaya Pengelolaan
Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Hidup
Ruang/ unit
- Limbah cair
- Limbah cair infeksius :
pelayanan
infeksius
diolah di IPAL
medis

- Sampah medis (limbah B3


medis) : dipilah
- Sampah medis
berdasarkan
(limbah B3
karakteristiknya,
medis)
disimpan dalam TPS
Limbah B3, untuk
selanjutnya pengelolaan
diserahkan kepada pihak
ke -3 yang memiliki ijin
pengelolaan limbah B3
medis.
- Infeksi nosokomial :
menjaga kebersihan
bangunan dan sarana
prasarana yang ada,
menyediakan sarana
- Infeksi
pemutus rantai
nosokomial
penularan seperti cairan
desinfeksi dan masker.

HIDUP
Periode
Pengelolaan
Lingkungan
Hidup
Setiap hari
selama
operasional
klinik

UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP


Lokasi
Periode
Bentuk Upaya Pemantauan
Pemantauan
Pemantauan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Lingkungan
Hidup
Hidup
- Pemantauan terhadap debit Lokasi beserta - Pemantaua
limbah cair masuk dan
penghuni klinik
setiap
keluar IPAL
minimal 1
- Pengujian kualitas inlet
(satu) bulan
dan outlet IPAL
sekali.

- Pemantauan terhadap
bangunan TPS B3 dan
tata cara pengelolaan
limbah B3 di lingkungan
klinik

- Pemantauan terhadap
ketersediaan sarana
pemutus rantai infeksi
nosokomial di
lingkungan klinik
- Penelitian terhadap data
rekaman pasien
dan/atau karyawan yang
mengalami infeksi
nosokomial.
Tolok ukur :
- Perda Prov. Jateng Nomor 5
Tahun 2014-Lampiran IV
- KepMenKes
No.1204/Menkes/SK/X/
2004
- Tidak terdapat pasien/
karyawan terinfeksi

- Pemantauan
dilakukan
setiap hari;

- Pemantauan
dilakukan
setiap hari.

Institusi
Pengelola d
Pemantaua
Lingkunga
Hidup
Pemrakarsa,
BLH Kab.
Semarang.
Dinkes Kab.
Semarang

No

2.

Sumber
Dampak

Jenis Dampak

Pelayanan
- Sampah non penunjang
medis
medis pada unit
(sampah
farmasi
kemasan
obat)
- Limbah padat
B3 (obat
kadaluwarsa
)

3.

Pelayanan
- Limbah cair
penunjang
mengandun
medis pada unit
g bahan
laboratorium
kimia
- Sampah
medis/limba
h B3 medis
(sampel
infeksius,
jarum suntik,
kasa, kapas)
-

UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN


Lokasi
Bentuk Upaya Pengelolaan
Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Hidup
Sampah non medis :
Ruang farmasi,
dipilah, dijual jika masih
Gudang farmasi,
memiliki nilai ekonomi,
TPS non medis,
yang tidak laku jual akan TPS limbah B3
dikumpulkan dan dibawa
ke TPA setempat oleh
layanan persampahan
kota.
Sampah medis (limbah B3
medis) : dikumpulkan
dan disimpan dalam TPS
Limbah B3, untuk
selanjutnya pengelolaan
diserahkan kepada pihak
ke -3 yang memiliki ijin
pengelolaan limbah B3.
Melakukan minimisasi
limbah antara lain
dengan memesan
persediaan obat sesuai
kebutuhan, cermat
dalam pemeriksaan
tanggal kadaluwarsa
obat, memanfaatkan obat
sesuai urutan
kadaluwarsanya.
Ruang
Sampah medis (limbah B3
laboratorium,
medis) : dipilah
TPS Limbah B3
berdasarkan
karakteristiknya,
disimpan dalam TPS
Limbah B3, untuk
selanjutnya pengelolaan
diserahkan kepada pihak
ke -3 yang memiliki ijin
pengelolaan limbah B3
medis.
Memonitor alur
penggunaan bahan kimia

HIDUP
Periode
Pengelolaan
Lingkungan
Hidup
Setiap hari
selama
operasional
klinik

UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP


Lokasi
Periode
Bentuk Upaya Pemantauan
Pemantauan
Pemantauan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Lingkungan
Hidup
Hidup
Setiap hari
- Pemantauan terhadap stok
Ruang farmasi,
selama
farmasi (ketersediaan
Gudang farmasi,
operasional
farmasi sesuai dengan
TPS non medis,
klinik
kebutuhan)
TPS limbah B3
- Pemantauan secara visual
terhadap keberadaan
sampah non medis dan
limbah padat B3 dari
unit farmasi

Institusi
Pengelola d
Pemantaua
Lingkunga
Hidup
Pemrakarsa,
BLH Kab.
Semarang
Dinkes Kab.
Semarang

Tolok ukur :
KepMenKes
No.1204/Menkes/SK/X/20
04

Setiap hari
selama
operasional
klinik

- Pemantauan secara visual


terhadap penanganan
sampah medis pada unit
laboratorium

Ruang
laboratorium,
IPAL
laboratorium
TPS Limbah B3

Setiap
hari
selam
a
opera
sional
klinik
Minim
al 1
bulan
sekali

Pemrakarsa,
BLH Kab.
Semarang
Dinkes Kab.
Semarang

No

4.

Sumber
Dampak

UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP


Lokasi
Periode
Jenis Dampak
Bentuk Upaya Pengelolaan
Pengelolaan
Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Lingkungan
Hidup
Hidup
dari bahan baku hingga
menjadi limbah B3.
- Limbah cair yang
mengandung bahan
kimia akan dialirkan ke
instalasi pengolah
limbah kimia/fisika
kemudian diolah
bersama dalam IPAL.

Pelayanan gizi - Air limbah


domestic

- Air limbah domestik


dialirkan ke IPAL

- Sampah non - Sampah dapur dipilah :


medis (sisa
anorganik masih
makanan,
memiliki nilai ekonomi,
sisa bahan
anorganik tak laku jual,
makanan)
dan organik. Sampah
bernilai ekonomi akan
dijual, yang tak laku jual
akan dikumpulkan dan
dibawa ke TPA.
- Sampah organik akan
ditimbun dalam lubang
resapan biopori.

- Risiko
kebakaran

- Melakukan prosedur
penyimpanan dan
penggunaan LPG dengan
tepat untuk menghindari
kemungkinan ledakan

Dapur dan
sekitarnya

Setiap hari
selama
operasional
klinik

UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP


Lokasi
Periode
Bentuk Upaya Pemantauan
Pemantauan
Pemantauan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Lingkungan
Hidup
Hidup
- Pemantauan terhadap debit
limbah cair masuk dan
keluar IPAL secara kimia
fisika
- Pengujian kualitas inlet
dan outlet IPAL
kimia/fisika

Institusi
Pengelola d
Pemantaua
Lingkunga
Hidup

Tolok ukur :
- PermenLH No. 5 Tahun
2014 - Lampiran XLIV
- KepMenKes
No.1204/Menkes/SK/X/
2004
- Pemantauan saluran air
limbah dari dapur
menuju IPAL
- Pemantauan terhadap
pengelolaan sampah non
medis seperti pemilahan
sampah, penimbunan
sampah organik dalam
LRB dan komposting.

Dapur dan
sekitarnya,
gudang
penyimpanan
LPG, sarana
pengelolaan
sampah non
medis.

- Pemantauan
minimal 1
(satu) bulan
sekali
- Pemantauan
dilakukan
setiap hari
selama
operasional
klinik

- Pemeriksaan tempat
penyimpanan tabung
LPG dan instalasi tungku
dan tabung LPG
- Pemeriksaandi
lakukan

Pemrakarsa,
BLH Kab.
Semarang
Dinkes Kab.
Semarang

No

Sumber
Dampak

Jenis Dampak

UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP


Lokasi
Periode
Bentuk Upaya Pengelolaan
Pengelolaan
Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Lingkungan
Hidup
Hidup
tabung LPG
- Menjaga kebersihan dapur
dan sekitarnya

- Peningkatan
populasi
vektor

5.

6.

Laundry

Kamar mandi/
WC

- Air limbah
- Air limbah domestik
domestik
dialirkan ke IPAL
- Sampah non
medis
(kemasan
deterjen, dll) - Sampah dipilah :
anorganik masih
memiliki nilai ekonomi,
anorganik tak laku jual.
Sampah bernilai
ekonomi akan dijual,
yang tak laku jual akan
dikumpulkan dan dibawa
ke TPA.

Ruang laundry,
TPS non medis

- Air limbah
domestik
- Sampah non

Kamar
mandi/WC

- Air limbah domestic


dialirkan ke IPAL
- Menyediakan tempat

Setiap hari
selama
operasional
klinik

UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP


Lokasi
Periode
Bentuk Upaya Pemantauan
Pemantauan
Pemantauan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Lingkungan
Hidup
Hidup
- Pemantauan secara visual
minimal 1
terhadap keberadaan
minggu
vektor
sekali
selama
Tolok Ukur :
operasional
klinik
- Air limbah tidak tersumbet
dan dapat mengalir
dengan lancar menuju
IPAL.
- Pengamatan
- Adanya pemilahan sampah
vektor
- Unit LRB dan komposter
dilakukan
berfungsi baik.
setiap hari
- TPS limbah non medis
selama
terjaga kebersihannya
operasional
- Tidak terjadi kebakaran
klinik
- Tidak ditemukan vektor
disekitar klinik
- Pemantauan saluran air
limbah dari laundry
menuju IPAL

Area laundry
dan sekitarnya

- Minimal 1
(satu) bulan
sekali
selama
operasional
klinik
- Setiap hari
selama
operasional
klinik

Pemrakarsa,
BLH Kab.
Semarang
Dinkes Kab.
Semarang

Kamar
mandi/WC dan

- Minimal 1
(satu) bulan
sekali

Pemrakarsa,
BLH Kab.
Semarang

- Pemantauan terhadap
pengelolaan sampah dari
aktivitas laundry

Setiap hari
selama
operasional

Tolok Ukur :
- Aliran air limbah tidak
tersumbat
- Adanya upaya pemilahan
sampah
- Pemantauan jaringan
perpipaan air limbah dari
kamar mandi dan tangki

Institusi
Pengelola d
Pemantaua
Lingkunga
Hidup

No

7.

8.

Sumber
Dampak

Ruang kantor

Operasional
Genset

UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP


Lokasi
Periode
Jenis Dampak
Bentuk Upaya Pengelolaan
Pengelolaan
Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Lingkungan
Hidup
Hidup
medis (sisa
klinik
sampah di setiap kamar
kemasan
mandi/WC terpisah
peralatan
berdasarkan
mandi)
karakteristiknya
- Sampah medis
(medis/non-medis)
(bekas
pembalut) - Sampah dipilah :
anorganik masih
memiliki nilai ekonomi
dan anorganik tak laku
jual. Sampah bernilai
ekonomi akan dijual,
yang tak laku jual akan
dikumpulkan dan dibawa
ke TPA. Sampah medis
akan diserahkan kepada
pihak ke 3 pengelola
limbah B3.
- Sampah non - Mengupayakan
medis
pengurangan sampah/
(kertas
minimisasi sampah
bekas)
- Menyediakan tempat
- Limbah padat
sampah yang terpisah
B3 (cartridge
untuk sampah non
printer,
medis dan limbah B3.
toner, wadah
- Sampah dipilah :
tinta)
anorganik masih
memiliki nilai ekonomi
dan anorganik tak laku
jual. Sampah bernilai
ekonomi akan dijual,
yang tak laku jual akan
dikumpulkan dan dibawa
ke TPA.
Pencemaran - Pemilihan ganset dengan
teknologi minim
udara (CO dan
kebisingan, dan efisiensi

Ruang kantor

Setiap hari
selama
operasional
klinik

UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP


Lokasi
Periode
Bentuk Upaya Pemantauan
Pemantauan
Pemantauan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Lingkungan
Hidup
Hidup
sekitarnya
selama
saptik menuju IPAL
operasional
klinik
- Pemantauan terhadap
pengelolaan sampah
antara lain pemilahan
- Setiap hari
sampah.
selama

Institusi
Pengelola d
Pemantaua
Lingkunga
Hidup
Dinkes Kab.
Semarang

operasional
klinik
Tolok Ukur :
- Tidak terjadi penyumbatan
atau kerusakan jaringan
air limbah
- Adanya upaya pemilahan
sampah dan penanganan
sampah dengan tepat

Pemantauan terhadap
pengelolaan sampah di
ruang kantor.

Ruang kantor

Setiap hari
selama
operasional
klinik

Pemrakarsa,
BLH Kab.
Semarang
Dinkes Kab.
Semarang

Ruang genset

6 (enam) bulan
sekali selama

Pemrakarsa,
BLH Kab.

Tolok ukur :
- Adanya praktek
pengelolaan sampah
dengan 3 R, misalnya
penggunaan kembali
kertas bekas
- Adanya wadah pemilah
sampah

Ruang genset

Satu minggu
sekali selama

- Pengujian kualitas udara


ambient (NO2, CO, SO2,
O3, HC, TSP, PM10)

No

D.
1.

2.

3.

Sumber
Dampak

UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP


Lokasi
Periode
Jenis Dampak
Bentuk Upaya Pengelolaan
Pengelolaan
Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Lingkungan
Hidup
Hidup
bahan bakar yang tinggi
NO2),
operasional
- Perawatan genset sesuai
gangguan
klinik
prosedur
kebisingan,
- Mencatat waktu
timbulan
operasional/penggunaan
limbah B3 oli.
genset
- Limbah oli disimpan dan
kemudian diserahkan ke
pihak ke 3 yang memiliki
ijin pengelolaan

Tahap Pasca
Operasional
Ketiadaan
pelayanan
kesehatan
terdekat

Keresahan
warga

Pemutusan
hubungan kerja

Keresahan
pegawai

Pengosongan
bangunan klinik

Gangguan
estetika

Menginformasikan fasilitas
pelayanan kesehatan
terdekat sebagai alternatif
pengganti

Warga sekitar
lokasi Klinik

- Menginformasikan kepada
pegawai jauh-jauh hari
sehingga ada cukup
waktu untuk mencari
mata pencaharian
pengganti
- Apabila ada ketersediaan
lowongan pekerjaan di
tempat lain maka
pemrakarsa akan
memberikan informasi
lowongan kerja sekaligus
merekomendasi pegawai
yang berkinerja diatas
rata-rata.

Pegawai klinik

- Tidak membiarkan
bangunan mangkrak,

Lokasi tapak
klinik (bekas)

UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP


Lokasi
Periode
Bentuk Upaya Pemantauan
Pemantauan
Pemantauan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Lingkungan
Hidup
Hidup
- Pengamatan terhadap
operasional
aktivitas pengelolaan
klinik
limbah oli baik secara
visual maupun
pencermatan pada
neraca limbah B3

Institusi
Pengelola d
Pemantaua
Lingkunga
Hidup
Semarang
Dinkes Kab.
Semarang

Tolok Ukur :
- Kep Gub Jateng No. 8
Tahun 2001
- Kep Ka Bappedal No. 255
Tahun 1996

Sekali pada saat


usaha dan/atau
kegiatan klinik
akan ditutup

Wawancara dengan warga


sekitar lokasi

Menjelang
penutupan klinik
hingga
berakhirnya
operasional
klinik.

Wawancara dengan warga


sekitar lokasi

Pasca
penutupan klinik

Pengamatan visual pada


bekas tapak klinik

Warga sekitar
lokasi Klinik

Sekali setelah
berakhirnya
operasional
klinik.

Pemrakarsa,
BLH Kab.
Semarang
Dinkes Kab.
Semarang

Warga sekitar
lokasi Klinik (eks
tenaga kerja)

Sekali setelah
berakhirnya
operasional
klinik.

Pemrakarsa,
BLH Kab.
Semarang
Dinsosnakert
ns Kab.
Semarang

Lokasi tapak
klinik (bekas)

Setiap bulan
sekali setelah

Pemrakarsa,
BLH Kab.

Tolok ukur :
Tidak terjadi keresahan
warga

Tolok ukur :
Tidak terjadi keresahan,
eks tenaga kerja telah
mendapatkan mata
pencaharian lainnya

No

Sumber
Dampak

UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN


Lokasi
Jenis Dampak
Bentuk Upaya Pengelolaan
Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Hidup
lingkungan
segera memfungsikan
sekitar klinik
bangunan bekas klinik.
- Melakukan pembersihan
area luar klinik secara
berkala sebelum
bangunan difungsikan
kembali.

HIDUP
Periode
Pengelolaan
Lingkungan
Hidup
hingga
bangunan
difungsikan
kembali.

UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP


Lokasi
Periode
Bentuk Upaya Pemantauan
Pemantauan
Pemantauan
Lingkungan Hidup
Lingkungan
Lingkungan
Hidup
Hidup
penutupan
klinik hingga
bangunan
difungsikan
kembali.

Institusi
Pengelola d
Pemantaua
Lingkunga
Hidup
Semarang