Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

TEORI AKUNTANSI
STAKEHOLDER THEORY

OLEH
KELOMPOK 2 :
1. DIAN SAFITRI

I2F015071

2. LALU MOH. SUKRAN

I2F015077

3. M. JULHAM RINALDI

I2F015078

4. USWATUN HASANAH

I2F015088

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI


UNIVERSITAS MATARAM
TAHUN 2016

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang...................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................... 3
2.1. Pengertian Stakeholder......................................................................... 3
2.1.1. Teori Stakeholder....................................................................... 4
2.1.2. Stakeholder Internal................................................................... 7
2.1.3. Stakeholder Eksternal................................................................ 10
2.2. Fungsi Stakeholder Dalam Organisasi.................................................. 12
2.3. Pola Kehidupan Saling Ketergantungan Antar Stakeholder................. 13
2.3.1. Sektor Swasta............................................................................ 13
2.3.2. Sektor Publik............................................................................. 15
2.4. Pertentangan Kepentingan Antar Stakeholder...................................... 17
BAB III PENUTUP............................................................................................. 22
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 23

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

LATAR BELAKANG
Banyak sekali berdirinya organisasi-organisasi bisnis, namun ada juga

organisasi publik. Baik organisasi bisnis maupun organisasi publik masing-masing


membutuhkan stakeholder. Baik stakeholder internal maupun stakeholder
eksternal. Karena sesungguhnya, dibalik organisasi bisnis maupun organisasi
publik, stakeholder memiliki peran yang sangat penting.
Berdirinya organisasi bisnis dan organisasi publik sekalipun karena adanya
stakeholder. Terutama organisasi bisnis, karena organisasi semacam ini bukan
organisasi pemerintahan, maka sewaktu-waktu dapat bangkrut atau gulung tikar.
Sehingga dibutuhkan koordinasi yang tepat dalam memanajemen para
stakeholdernya.
Stakeholder satu dengan stakeholder yang lain saling ketergantungan. Jika
stakeholder satu dengan stakeholder yang lain mengalami suatu permasalahan,
maka organisasi tersebut disarankan agar tanggap dan segera menangani
permasalahan tersebut. Karena permasalahan dari stakeholder satu akan
menularkan permasalahan pada stakeholder yang lain.
Pada umumnya Stakeholder biasanya di artikan sebagai orang yang akan
mengambil peran aktif dalam eksekusi sistem mutu atau orang yang akan
merasakan dampak signifkan dari penggunanya. Stakeholder ini biasanya berupa
orang yang memiliki sebuah proses, orang yang kegiatannya mempengaruhi
sebuah proses, atau orang yang harus berinteraksi dengan sebuah atau sekumpulan
proses. Identifikasi pandangan dan karakteristik dari setiap stakeholder ini sangat
penting, yang merupakan dasar untuk pelaksanaan tahap berikutnya dalam
prakarsa advokasi. Identifikasi yang spesifik ini dapat menghasilkan suatu
profil stakeholder .

1.2.

RUMUSAN MASALAH

1. Apakah yang dimaksud dengan stakeholder (stakeholder internal dan


eksternal)?
2. Apakah fungsi para stakeholder dalam organisasi bisnis?
3. Bagaimanakah pola kehidupan para stakeholder dalam organisasi bisnis?
4. Jelaskan pertentangan kepentingan antar stakeholder?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. PENGERTIAN STAKEHOLDERS


Istilah stakeholder sudah sangat fenomenal. Kata ini telah dipakai oleh
banyak pihak dan hubungannnya dengan berbagi ilmu atau konteks, misalnya
manajemen bisnis, ilmu komunikasi, pengelolaan sumberdaya alam, sosiologi,
dan lain-lain. Lembaga-lembaga publik telah menggunakan istilah stakeholder ini
secara luas ke dalam proses-proses pengambilan dan implementasi keputusan.
Stakeholder merupakan individu, sekelompok manusia, komunitas atau
masyarakat baik secara keseluruhan maupun secara parsial yang memiliki
hubungan serta kepentingan terhadap perusahaan. Individu, kelompok, maupun
komunitas dan masyarakat dapat dikatakan sebagai stakeholder jika memiliki
karakteristik seperti yang diungkapkan oleh Budimanta dkk, 2008 yaitu
mempunyai kekuasaan, legitimasi, dan kepentingan terhadap perusahaan.
Jika diperhatikan secara seksama dari definisi diatas maka telah terjadi
perubahan

mengenai

siapa

pengertian stakeholder perusahaan.

saja
Sekarang

yang
ini

termasuk

perusahaan

sudah

dalam
tidak

memandang bahwa stakeholder mereka hanya investor dan kreditor saja. Konsep
yang mendasari mengenai siapa saja yang termasuk dalam stakeholder perusahaan
sekarang ini telah berkembang mengikuti perubahan lingkungan bisnis dan
kompleksnya aktivitas bisnis perusahaan. Dengan menggunakan definisi diatas,
pemerintah bisa saja dikatakan sebagai stakeholder bagi perusahaan karena
pemerintah mempunyai kepentingan atas aktivitas perusahaan dan keberadaan
perusahaan sebagai salah satu elemen sistem sosial dalam sebuah Negara. Oleh
kerena itu, perusahaan tidak bisa mengabaikan eksistensi pemerintah dalam
melakukan operasinya. Terdapatnya birokrasi yang mengatur jalanya perusahaan
dalam sebuah negara yang harus ditaati oleh perusahaan melaui kepatuhan
terhadap peraturan pemerintah menjadikan terciptanya sebuah hubungan antara
perusahaan dengan pemerintah.

Dari sisi stakeholder terdiri dari stakeholder internal dan eksternal,


pada sektor publik stakeholder internal antara lain adalah lembaga negara
(kabinet, MPR, DPR, dan sebagainya), Kelompok politik (partai politik), manajer
publik (gubernur, bupati, direktur BUMN, BUMD),dan pegawai pemerintah.
Stakeholder eksternal pada sektor publik seperti masyarakat pengguna jasa publik,
masyarakat pembayar pajak, perusahaan dan organisasi sosial ekonomi yang
menggunakan pelayanan publik sebagai input atas aktivitas organisasi, Bank
sebagai kreditor pemerintah, Badan-badan internasional (IMF, ADB, PBB, dan
sebagainya), investor asing, dan generasi yang akan datang. Pada sektor swasta,
stakeholder internal terdiri dari manajemen, karyawan, dan pemegang saham.
Sedangkan stakeholder eksternal terdiri dari bank, serikat buruh, pemerintah,
pemasok, distributor, pelanggan, masyarakat, serikat dagang dan pasar modal.
2.1.1. Teori Stakeholder
Perkembangan teori stakeholder diawali dengan berubahnya

bentuk

pendekatan perusahaan dalam melakukan aktifitas usaha. Ada dua bentuk dalam
pendekatan stakehoder menurut Budimanta dkk, 2008 yaitu old-corporate
relation dan new-corporate relation. Old corporate relation menekankan pada
bentuk pelaksanaan aktifitas perusahaan secara terpisah dimana setiap fungsi
dalam sebuah perusahaan melakukan pekerjaannya tanpa adanya kesatuan
diantara fungsi-fungsi tersebut. Bagian produksi hanya berkutat bagaimana
memproduksi barang sesuai dengan target yang dikehendaki oleh manajemen
perusahaan, bagian pemasaran hanya bekerja berkaitan dengan konsumenya tanpa
mengadakan koordinasi satu dengan yang lainya. Hubungan antara pemimpin
dengan karyawan dan pemasok pun berjalan satu arah, kaku dan berorientasi
jangka pendek. Hal itu menyebabkan setiap bagian perusahaan mempunyai
kepentingan, nilai dan tujuan yang berbeda-beda bergantung pada pimpinan
masing-masing fungsi tersebut yang terkadang berbeda dengan visi, misi, dan
capaian yang ditargetkan oleh perusahaan.
Hubungan dengan pihak di luar perusahaan bersifat jangka pendek dan
hanya sebatas hubungan transaksional saja tanpa ada kerjasama untuk
menciptakan kebermanfaatan bersama. Pendekatan tipe ini akan banyak

menimbulkan

konflik

karena

perusahaan

memisahkan

diri

dengan

para stakeholder baik yang berasal dari dalam perusahaan dan dari luar
perusahaan. Konflik yang mungkin terjadi di dalam perusahaan adalah tekanan
dari karyawan yang menuntut perbaikan kesejahteraan. Tekanan tersebut bisa
berupa upaya pemogokan menuntut perbaikan sistem pengupahan dan sebagainya.
Jika pemogokan tersebut terjadi dalam jangka waktu yang lama maka hal itu bisa
mengganggu aktifitas operasi perusahaan dan mengakibatkan kerugian bagi
perusahaan. Sedangkan konflik yang mungkin terjadi dari luar perusahaan adalah
munculnya tuntutan dari masyarakat karena dampak pembuangan limbah
perusahaan yang berpotensi menimbulkan kerugian signifikan bagi perusahaan
apabila diperkarakan secara hukum.
New-corporate relation menekankan kolaborasi antara perusahaan dengan
seluruh stakeholder-nya sehingga perusahaan bukan hanya menempatkan dirinya
sebagai bagian yang bekerja secara sendiri dalam sistem sosial masyarakat karena
profesionalitas telah menjadi hal utama dalam pola hubungan ini. Hubungan
perusahaan

dengan internal

kebermanfaatan

yang

stakeholders dibangun

membangun

kerjasama

berdasarkan

untuk

bisa

konsep

menciptakan

kesinambungan usaha perusahaan sedangkan hubungan dengan stakeholder di luar


perusahaan bukan hanya bersifat transaksional dan jangka pendek namun lebih
kepada hubungan yang bersifat fungsional yang bertumpu pada kemitraan selain
usaha untuk menghimpun kekayaan yang dilakukan oleh perusahaan, perusahaan
juga berusaha untuk bersama-sama membangun kualitas kehidupan external
stakholders.
Pendekatan new-corporate relation mengeliminasi penjenjangan status
diantara para stakeholder perusahaan seperti yang ada pada old-corporate
relation. Perusahaan tidak lagi menempatkan dirinya di posisi paling atas
sehingga perusahaan mengeksklusifkan dirinya dari para stakeholder sehingga
dengan pola hubungan semacam ini arah dan tujuan perusahaan bukan lagi pada
bagaimana menghimpun kekayaan sebesar-besarnya namun lebih kepada
pencapaian pembangunan yang berkelanjutan (sustainability development).
Asumsi teori stakeholder dibangun atas dasar pernyataan bahwa
perusahaan berkembang menjadi sangat besar dan menyebabkan masyarakat

menjadi sangat terkait dan memperhatikan perusahaan, sehingga perusahaan perlu


menunjukkan akuntabilitas maupun responsibilitas secara lebih luas dan tidak
terbatas hanya kepada pemegang saham. Hal ini berarti, perusahaan dan
stakeholder membentuk hubungan yang saling mempengaruhi.
Menurut Ghazali dan Chariri (2007:409), Teori Stakeholder merupakan
teori yang menyatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi
untuk kepentingan sendiri, namun harus memberikan manfaat kepada seluruh
stakeholder-nya (pemegang saham, kreditor, konsumen, supplier, pemerintah,
masyarakat, analis, dan pihak lain). Kelompok stakeholder inilah yang menjadi
bahan pertimbangan bagi manajemen perusahaan dalam mengungkap atau tidak
suatu informasi di dalam laporan perusahaan tersebut. Tujuan utama dari teori
stakeholder adalah untuk membantu manajemen perusahaan dalam meningkatkan
penciptaan nilai sebagai dampak dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan dan
meminimalkan kerugian yang mungkin muncul bagi stakeholder.
Meskipun stakeholder theory mampu memperluas perspektif pengelolaan
perusahaan dan menjelaskan dengan jelas hubungan antara perusahaan dengan
stakeholder, teori ini memiliki kelemahan. Gray et al (1997) mengatakan bahwa
kelemahan dari stakeholder theory terletak pada fokus teori tersebut yang hanya
tertuju pada cara-cara yang digunakan perusahaan dalam mengatur stakeholdernya. Perusahaan hanya diarahkan untuk mengidentifikasi stakeholder yang
dianggap penting dan berpengaruh dan perhatian perusahaan akan diarahkan
pada stakeholder yang dianggap bermanfaat bagi perusahaan. Mereka yakin
bahwa stakeholder theory mengabaikan pengaruh masyarakat luas (society as a
whole) terhadap penyediaan informasi dalam pelaporan keuangan (Ghozali dan
Chariri, 2007:411).
Warsono dkk. (2009: 29-31) mengungkapkan bahwa terdapat tiga argumen
yang

mendukung

pengelolaan

perusahaan

berdasarkan

perspektif

teori

stakeholder, yakni, argumen deskriptif, argumen instrumental, dan argumen


normatif, berikut penjelasan singkat mengenai ketiga argumen tersebut:

1.

Argumen deskriptif
Menyatakan bahwa pandangan pemangku kepentingan secara sederhana
merupakan deskripsi yang realistis mengenai bagaimana perusahaan
sebenarnya beroperasi atau bekerja. Manajer harus memberikan perhatian
penuh pada kinerja keuangan perusahaan, akan tetapi tugas manajemen lebih
penting dari itu. Untuk dapat memperoleh hasil yang konsisten, manajer harus
memberikan perhatian pada produksi produk-produk berkualitas tinggi dan
inovatif bagi para pelanggan mereka, menarik dan mempertahankan
karyawan-karyawan yang berkualitas tinggi, serta mentaati semua regulasi
pemerintah yang cukup kompleks. Secara praktis, manajer mengarahkan
energi mereka terhadap seluruh pemangku kepentingan, tidak hanya terhadap
pemilik saja.

2.

Argumen instrumental
Menyatakan bahwa manajemen terhadap pemangku kepentingan dinilai
sebagai

suatu

strategi

perusahaan.

Perusahaan-perusahaan

yang

mempertimbangkan hak dan memberi perhatian pada berbagai kelompok


pemangku kepentingannya akan menghasilkan kinerja yang lebih baik.
3.

Argumen normatif
Menyatakan bahwa manajemen terhadap pemangku kepentingan merupakan
hal yang benar untuk dilakukan. Perusahaan mempunyai penguasaan dan
kendali yang cukup besar terhadap banyak sumber daya, dan hak istimewa ini
menyebabkan adanya kewajiban perusahaan terhadap semua pihak yang
mendapat efek dari tindakan-tindakan perusahaan.

2.1.2. Stakeholders Internal


a. Stakeholder pada sektor publik
stakeholder internal pada sektor publik antara lain adalah :
1. Lembaga negara (kabinet, MPR, DPR, dan sebagainya),
Lembaga

Negara

adalah

lembaga

pemerintahan

atau

"Civilizated

Organization" di mana lembaga tersebut dibuat oleh negara, dari negara, dan
untuk negara di mana bertujuan untuk membangun negara itu sendiri.

Lembaga negara terbagi dalam beberapa macam dan mempunyai tugas


masing-masing antara lain. Tugas umum lembaga negara antara lain :
1. Menciptakan suatu lingkungan yang kondusif, aman, dan harmonis.
2. Menjadi badan penghubung antara negara dan rakyatnya.
3. Menjadi sumber insipirator dan aspirator rakyat.
4. Memberantas tindak pidana korupsi, kolusi, maupun nepotisme.
5. Membantu menjalankan roda pemerintahan negara.
Lembaga Negara :
1. DPR atau dewan perwakilan rakyat bertugas membentuk undang-undang
untuk menampung segala usulan dari rakyat.
2. MPR Majelis permusyawaratan rakyat yang bertugas mengatur susunan
amandemen / UUD 1945.
3. TNI Tentara Nasional Indonesia bertugas untuk mengatur keamanan dan
stabilitas negara.
4. PN Pengadilan negeri bertugas untuk menghukum atau mengadili masalah
masalah yang berkaitan dengan hukum perdata maupun hukum pidana.
5. KPK Komisi pemberantasan korupsi bertugas untuk memberantas para
pelaku yang melakukan tindak pidana korupsi.
6. BPK Badan Pemeriksa Keuangan bertugas untuk memeriksa uang Negara.
2. Kelompok politik (partai politik),
Secara umum partai politik adalah suatu kelompok terorganisir yang anggotaanggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama. Adapun
tujuan dibentuknya sebuah partai adalah untuk memperoleh kekuasaan politik,
dan merebut kedudukan politik dengan cara (yang biasanya) konstitusional
yang mana kekuasaan itu partai politik dapat melaksanakan program-program
serta kebijakan-kebijakan mereka.
3. Manajer Publik (Gubernur BUMN, BUMD),
manajer publik ialah orang yang menjalankan fungsi manajemen publik.
Orang tersebut mengatur serta mengkoordinasikan kegiatan dan aspek lainnya,
agar tercapai kesesuaian. Maka seorang manajer dituntut mengerjakan segala
hal secara benar agar dihasilkan efisiensi dalam organisasi.

4. Pegawai Pemerintah.
Pegawai negeri adalah pegawai yang telah memenuhi syarat yang
ditentukan, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam
suatu jabatan negeri, atau diserahi tugas negara lainnya, dan digaji
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku
b. Stakeholder Pada Sektor Swasta
Karena stakeholders internal mudah dikendalikan dan biasanya lebih
diserahkan kepada bagian kepegawaian atau dirangkap langsung oleh eksekutif
puncak. Unsur-unsur stakeholders internal adalah sebagai berikut :
1. Pemegang Saham
Pemegang saham atau pemilik perusahaan mempunyai kekuasaan yang besar
karena mudanya usia perusahaan dan seluruh karyawan mengidentikkan
pemilik sebagai pemimpin spiritual perusahaan. Selama pemilik itu adalah
pendiri hal ini akan berubah bila perusahaan telah go public dan tidak ada lagi
konsentrasi kepemilikan saham pada pihak tertentu. Perusahaan muda adalah
perusahaan yang relative masih dinahkodai oleh pemilik,berada pada generasi
pertama dan dominasi keluarga pemilik.
2. Manajer dan Top Executives
Manajer perusahaan berada dibawah kendali pemilik, hanya dengan kapasitas
memadailah seorang manajer dapat tampil otonom dalam mengelola
perusahaan. Manager professional membutuhkan mitra yang mempunyai
kapasitas manajerial dan wawasan intelektual.
Kasus berpindahnya secara bergerombol (enblock),redaksi senior media massa
yang mapan dalam kurun waktu 1985-1990 ke media baru terjadi karena
adanya daya tarik dari investor baru yang ingin cepat menguasai teknologi
penerbitan dan bayangan hidup lebih baik bagi para wartawan nuda.
Solidaritas pers akan rusak dan persaingan dapat saling mematikan. Tugas
Public Relation adalah memantau gejala-gejala ini dan member masukan dan
rekomendasi kepada perusahaan agar perusahaan tersebut tidak menimbulkan
dampak bagi:

Merosotnya moral kerja karyawan

Hilangnya kepercayaan konsumen

Turut campurnya phak ketiga untuk mengambil alih perusahaan(take


over)/memasukkan orang baru (intervensi)

Merosotnya reputasi eksekutif puncak perusahaan.(perusahaan yang


melepas saham menimbulkan turunya harga saham).

3. Karyawan
Karyawan adalah orang-orang dalam perusahaan yang tidak memegang
jabatan struktural. Public Relation perlu menangani karyawan karena Pertama,
karyawan adalah orang yang paling banyak jumlahnya dalam perusahaan,
secara struktural mereka lemah. Kedua, karena tingkat pendidikannya rendah,
karyawan mudah disulut isu. Ketiga, karyawan adalah ujung tombak
perusahaan jasa. Keempat, karyawan merupakan sumber suara potensial
dalam pemilihan umum. Kelima, pers umumnya bersimpati kepada karyawan
yang dilanggar hak-haknya oleh manajemen.
Public Relation umumnya menggunakan MBWA (Managing by Walking
Aroun) untuk memperoleh simpati kayawan. Tugas Public Relation adalah
menciptakan iklim baik agar karyawan dapat bekerja tenang dan aman. Rasa
tidak aman akan mengakibatkan mereka mencari perlindungan dari pihakpihak diluar perusahaan, turut campurnya pihak luar menunjukkan perusahaan
sudah kehilangan kepercayaan dari karyawannya.
4. Keluarga Karyawan
Tugas Public Relation adalah menimbulkan pemahaman para anggota
keluarga tentang keadaan pekerjaan anggota keluarganya sehingga mereka
dapat menyesuaikan perilakunya. Public Relation juga perlu mendapatkan
kepercayaan dari anggota keluarga karyawannya atas produk-produk yang
dihasilkan perusahaan, sebelum perusahaan memperoleh kepercayaan diri dari
konsumen

raihlah

kepercayaan

dari keluarga karyawan

yang

turut

memproduksi barang itu.


2.1.3. Stakeholders Eksternal
a. Stakeholder pada sektor public
Pada Sektor Publik Stakeholder eksternal antara lain :
1. masyarakat pengguna jasa publik,

10

Sesungguhnya yang menjadi produk dari organisasi pemerintahan adalah


pelayanan masyarakat (publik service). Pelayanan tersebut diberikan untuk
memenuhi hak masyarakat, baik itu merupakan layanan civil maupun
layanan publik. Artinya kegiatan pelayanan pada dasarnya menyangkut
pemenuhan suatu hak. Ia melekat pada setiap orang, baik secara pribadi
maupun berkelompok (organisasi), dan dilakukan secara universal
2. masyarakat pembayar pajak,
Pajak ialah iuran wajib kepada negara berdasarkan undang-undang dengan
tidak mendapat prestasi (balas jasa) kembali secara langsung, manfaat atau
guna pajak yaitu untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum
sehubungan dengan tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan
dan kesejahteraan rakyat. Pajak dibagi dalam dua macam yaitu pajak
langsung dan pajak tidak langsung, disamping itu wajib pajak pun
mempunyai kewajiban dan hak-hak sebagai seorang wajib pajak. Hukum
pajak ialah hukum yang mengatur hubungan antara pemerintah dan wajib
pajak.
3. perusahaan dan organisasi sosial ekonomi yang menggunakan pelayanan
publik sebagai input atas aktivitas organisasi,
4. Bank sebagai kreditor pemerintah,
5. Badan-badan internasional (IMF, ADB, PBB, dan sebagainya), investor
asing, dan generasi yang akan datang.
b. Stakeholder Pada Sektor Swasta
Stakeholders eksternal adalah Unsur-unsur yang ada di luar kendali
perusahaan (uncontrollable). Konsumen adalah raja yang mempunyai hak untuk
memilih barangnya sendiri. Pemerintah adalah penentu kebijakan. Penyalur
menguasai jaringan distribusi dan Pemasok akan mudah berpindah bila tidak
memuaskan,semakin kuat pengaruh pers semakin besar kemungkinan mereka
menjaga jarak dari pengaruh bisnis.
Unsur dalam lingkungan eksternal dapat dilihat dua hal pertama,
kompleksitas lingkungan di ukur dari banyaknya pihak luar perusahaan yang

11

mendapat perhatian perusahaan karena pengaruhnya. Kedua, stabilitas lingkungan


diukur dari perubahan yang ditimbulkan.
Dalam lingkungan stabil, perusahaan cenderung didesain mekanitiks,
mengandalkan peraturan, prosedur, dan lebih birokratis. Tanggung jawab seorang
praktisi Public Relation banyak atau sedikitnya departemen disediakan tergantung
jumlah aktor dalam lingkungan yang perlu diperhatikan (kompleksitas). Semakin
banyak kctor yang berpengaruh, semakin banyak departemen yang harus didesain
untuk melakukan deal dengan masing-masing unsur tersebut. Demikian
sebaliknya. Stakeholder eksternal pada sektor swasta terdiri dari bank, serikat
buruh, pemerintah, pemasok, distributor, pelanggan, masyarakat, serikat dagang
dan pasar modal.
2.2. FUNGSI STAKEHOLDER DALAM ORGANISASI
Pelanggan atau konsumen yang loyal memang penting bagi perusahaan,
tetapi ruang lingkup stakeholder tidak hanya pelanggan saja. Bahkan tidak sedikit
orang mengira dan memahami bahwa yang dimaksud dari stakeholder hanyalah
shareholder saja yaitu pengusaha. Dalam suatu bisnis selain konsumen yang turut
andil juga dalam memberikan saham adalah para karyawan dan masyarakat
sekitar. Mereka mempunyai peranan sendiri-sendiri untuk ikut andil memberikan
saham secara simbiosis mutualistis. Dan juga tidak bisa sebuah perusahaan hanya
fokus pada pelanggan saja, mereka memprioritaskan seluruh aktifitas perusahaan
untuk memuaskan pelanggan. Hanya terfokus kepada satu sisi pelanggan saja
akan menyebabkan kegagalan dari perusahaan tersebut, karena melalaikan
stakeholder yang lain.
Terdapat pendapat yang menyatakan pentingnya internal stakeholders
dalam setiap perusahaan yakni karyawan yang juga merupakan primary
stakeholders terutama dalam usaha manufacturing. Jenis usaha sektor lainnya
lebih menekankan komunitas sekitar korporasi seperti dalam usaha ekstraktif
(mineral dan tambang). Demikian pula konsumen dalam sektor jasa maupun
suppliers dan usaha kecil (UKM) telah pula dipandang sebagai stakeholders.
Dalam hal ini peran pemerintah lokal, kabupaten, propinsi dan nasional dianggap
pula sebagai stakeholders yang penting.

12

Pelanggan eksternal adalah mereka yang bukan bagian dari organisasi,


namun mereka menerima produk atau jasa dari organisasi. Mereka adalah pihak
yang membayar bagi produk atau jasa organisasi. Apabila produk atau jasa
tersebut tidak membuat mereka puas, mereka dapat dengan mudah mencari
perusahaan lain yang menawarkan produk atau jasa yang lebih baik. Sedangkan
pelanggan internal adalah siapa saja di dalam organisasi. Mereka adalah fungsi
lain, cabang lain, atau bahkan rekan kerja. Fungsi yang satu dengan lainnya
berhubungan dengan pelanggan di dalam organisasi. Walaupun di sini yang
merupakan inti adalah pelanggan eksternal, namun bila pelanggan internal
diabaikan, maka dampak langsungnya akan mempengaruhi pelanggan eksternal.
Semakin pelanggan internal diperlakukan dengan baik, maka layanan terhadap
pelanggan eksternal akan makin baik.
2.3.

POLA

KEHIDUPAN

SALING

KETERGANTUNGAN

ANTAR

STAKEHOLDER
2.3.1. Sektor Swasta
Hubungan antara pemimpin dengan karyawan dan pemasok pun berjalan
satu arah, kaku dan berorientasi jangka pendek. Hal itu menyebabkan setiap
bagian perusahaan mempunyai kepentingan, nilai dan tujuan yang berbeda-beda
bergantung pada pimpinan masing-masing fungsi tersebut yang terkadang berbeda
dengan visi, misi, dan capaian yang ditargetkan oleh perusahaan.
Menekankan kolaborasi antara perusahaan dengan seluruh stakeholder-nya
sehingga perusahaan bukan hanya menempatkan dirinya sebagai bagian yang
bekerja secara sendiri dalam sistem sosial masyarakat karena profesionalitas telah
menjadi hal utama dalam pola hubungan ini.
Hubungan perusahaan dengan internal stakeholders dibangun berdasarkan
konsep kebermanfaatan yang membangun kerjasama untuk bisa menciptakan
kesinambungan usaha perusahaan sedangkan hubungan dengan stakeholder di luar
perusahaan bukan hanya bersifat transaksional dan jangka pendek namun lebih
kepada hubungan yang bersifat fungsional yang bertumpu pada kemitraan selain
usaha untuk menghimpun kekayaan yang dilakukan oleh perusahaan, perusahaan

13

juga berusaha untuk bersama-sama membangun kualitas kehidupan eksternal


stakeholders.
1.

Stockholder atau Pemegang saham


Pemegang saham mempunyai hak dalam perusahaan, karena ketika mereka
membeli saham perusahaan, mereka menjadi pemilik perusahaan, dan
memiliki hak untuk mendapatkan dividen. Pemegang saham sangat perhatian
terhadap cara kerja perusahaan karena mereka ingin mendapatkan hasil yang
maksimal dari investasinya. Karena itu mereka mengamati perusahaan dan
manajernya untuk memastikan bahwa mereka bertindak sesuai etika dan tidak
menimbulkan resiko terhadap modal investor dengan melakukan tindakan
yang tidak merusak reputasi perusahaan. Sehingga timbul keinginan untuk
memaksimalkan hasil imbalan atas investasi mereka.

2.

Manajer
Manajer merupakan stakeholder yang sangat vital karena mereka bertanggung
jawab untuk menggunakan modal dan sumber daya perusahaan untuk
meningkatkan kinerja dan harga saham perusahaan. Manajer telah
memberikan ketrampilan, keahlian, dan pengalamannya untuk meningkatkan
kinerja perusahaan sehingga mereka mempunyai hak untuk mendapatkan
penghargaan berupa gaji yang tinggi, promosi jabatan, dan bonus. Manajer
bertanggung jawab untuk menetukan tujuan perusahaan dan menggunakan
sumber daya secara efisien untuk mencapai tujuan tersebut. Keputusankeputusan itu kadang-kadang sangat sulit dan menantang manajer untuk tetap
memegang nilai-nilai etika karena di satu sisi keputusan tersebut dapat
menguntungkan beberapa stakeholder, tapi bisa merugikan kelompok lain.
Selain itu, manajer juga mempunyai hak untuk mengharapkan suatu hasil
imbalan atau penghargaan yang baik dengan menginvestasikan modal manusia
mereka untuk memperbaiki suatu kinerja perusahaan.

3.

Karyawan
Perusahaan bersikap etis terhadap karyawan, bila perusahaan dapat
menciptakan struktur pekerjaan yang wajar dan pemberian penghargaan
dilakukan secara adil. Perusahaan harus melaksanakan pengerahan, pelatihan,
penilaian kinerja dan sistem penghargaan dengan tidak membeda-bedakan.

14

4.

Para Pemasok Dan Distributor


Tidak ada perusahaan yang dapat beroperasi sendiri. Tiap perusahaan selalu
menjalin kerja sama dengan perusahaan lain untuk mensuplai input seperti
bahan baku, buruh kontrak, dan klien. Perusahaan juga sangat tergantung pada
retailer untuk mendistribusikan produknya pada konsumen. Para pemasok
mengharapkan untuk dibayar secara wajar dan segera untuk masukanmasukan mereka. Para distributor mengharapkan juga untuk menerima
produk-produk bermutu pada harga yang disetujui.

5.

Pelanggan atau Konsumen


Konsumen merupakan stakeholder yang paling kritis. Perusahaan harus
bekerja untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas untuk mendapatkan
pelanggan yang setia dan menarik bagi mereka.

6.

Lingkungan, Masyarakat, dan Negara


Efek dari keputusan-keputusan yang diambil oleh perusahaan dan manajernya
sangat mempengaruhi seluruh aspek dalam lingkungan, masyarakat dan
negara dimana perusahaan beroperasi.
Kesimpulannya semua bagian yang ada dalam stakeholder perlu

memahami bahwa mereka adalah bagian dalam kelompok sosial yang besar.
Setiap keputusan yang mereka ambil dan tindakan yang dilakukan tidak hanya
mempengaruhi mereka saja tetapi juga mempengaruhi yang lain.
2.3.2. Sektor Publik
Berdasarkan identifikasi Stakeholder yang telah dilakukan

dengan

memetakan masalah dan lokasi sehingga ditemukan masyarakat sebagai


stakeholder utama, kemudian mengkaitkan masalah baik dari segi kepentingan,
pemihakan dan kewenangan yang dimiliki oleh aktor-aktor baik pemerintah
maupun non pemerintah. Pemetaan ini merupakan pendalaman dari kegiatan
identifikasi stakeholder, yang dilakukan melalui wawancara dan diskusi terfokus.
Informasi yang dikumpulkan menyangkut isu yang relevan dengan kebijakan,
program, dan proyek, pemahaman stakeholder, sikap, alasan dan kepentingan
mereka, jaringan mereka, posisi dan kekuatan pengaruh serta usulan-usulan
mereka.

15

Tabel Pemetaan Stakeholder (Stakeholder mapping)

Tabel Pemetaan Stakeholder (Stakeholder mapping)


Kategori Stakeholder Berdasarkan kekuatan, posisi penting, dan pengaruh
stekholder terhadap suatu isu, stakeholder dapat diketegorikan kedalam beberapa
kelompok.

Ramirez

dalam

Buckles,

http://www.suarapublik.org/Artikel/index.html),

D,

1999

mengelompokkan

(dalam
stakeholder

kedalam stakeholder primer, sekunder dan stakeholder kunci. Sebagai gambaran,


pengelompokan tersebut dapat dikemukakan kelompok stakeholder sebagai
berikut

a. Stakeholder primer.
Stakeholder primer merupakan stakeholder yang memiliki kaitan kepentingan
secara langsung dengan suatu kebijakan, program dan proyek. Mereka harus
ditempatkan sebagai penentu utama dalam proses pengambilan keputusan.
1. Masyarakat dan tokoh masyarakat : Masyarakat yang terkait dengan
proyek, yakni masyarakat yang di identifkasi akan memperoleh manfaat
dan yang akan terkena dampak (kehilangan tanah dan kemungkinan

16

kehilangan mata pencaharian) dari proyek ini. Tokoh masyarakat :


Anggota masyarakat yang oleh masyarakat ditokohkan di wilayah itu
sekaligus dianggap dapat mewakili aspirasi masyarakat
2. Pihak Manajer publik : lembaga/badan publik yang bertanggung jawab
dalam pengambilan dan implementasi suatu keputusan.
b. Stakeholder sekunder.
Stakeholder sekunder adalah stakeholder yang tidak memiliki kaitan
kepentingan secara langsung terhadap suatu kebijakan, program, dan proyek
pemerintah (publik), tetapi memiliki kepedulian dan keprihatinan sehingga
mereka turut bersuara dan berpengaruh terhadap keputusan legal pemerintah.
1. Lembaga(Aparat) pemerintah dalam suatu wilayah tetapi tidak memiliki
tanggung jawab langsung.
2. Lembaga pemerintah yang terkait dengan issu tetapi tidak memiliki
kewenangan secara langsung dalam pengambilan keputusan.
3. Lembaga swadaya Masyarakat (LSM) setempat : LSM yang bergerak di
bidang yang bersesuai dengan rencana, manfaat, dampak yang muncul
yang memiliki concern (termasuk organisasi massa yang terkait).
4. Perguruan Tinggi: Kelompok akademisi ini memiliki pengaruh penting
dalam pengambilan keputusan pemerintah.
5. Pengusaha (Badan usaha) yang terkait.
c. Stakeholder kunci .
Stakeholder kunci merupakan stakeholder yang memiliki kewenangan secara
legal dalam hal pengambilan keputusan.
1. Pemerintah Kabupaten
2. DPR Kabupaten
3. Dinas yang membawahi langsung proyek yang bersangkutan.
2.4. PERTENTANGAN KEPENTINGAN ANTAR STAKEHOLDER
Menurut Jensen dan Meckling (1976) potensi konflik kepentingan bisa
terjadi di antara pihak-pihak yang berhubungan seperti antara pemegang saham
dengan manajer perusahaan (agency costs of equity) atau antara pemegang saham

17

dengan kreditur (agency costs of debt). Menurut mereka agency cost itu meliputi
tiga hal, yaitu monitoring costs, bonding costs dan residual loss. Monitoring costs
merupakan pengeluaran yang dibayar oleh prinsipal untuk mengukur, mengamati
dan mengontrol perilaku agen agar tidak menyimpang. Biaya ini timbul karena
adanya ketidakseimbangan informasi antara prinsipal dan agen. Dalam situasi
tertentu, agen memungkinkan untuk membelanjakan sumber daya perusahaan
(bonding costs) untuk menjamin bahwa agen tidak akan bertindak yang dapat
merugikan prinsipal atau untuk meyakinkan bahwa prinsipal akan memberikan
kompensasi jika dia benar-benar melakukan tindakan tersebut. Akan tetapi masih
bisa terjadi perbedaan antara keputusan- keputusan agen dengan keputusankeputusan yang dapat memaksimalkan kesejahteraan agen. Nilai uang yang
ekuivalen dengan pengurangan kesejahteraan yang dialami prinsipal disebut
dengan residual loss.
Teori agency ini sangatlah sulit untuk diterapkan dan banyak kendala serta
masih belum memadai, sehingga diperlukan suatu konsep yang lebih jelas
mengenai perlindungan terhadap para stakeholders , yang menyangkut masalahmasalah konflik kepentingan dan biaya- biaya agensi yang akan timbul, sehingga
berkembanglah suatu konsep baru yang memperhatikan dan mengatur
kepentingan-kepentingan para pihak yang terkait dengan kepemilikan dan
pengoperasional (stakeholders) suatu perusahaan, yang dikenal dengan konsep
corporate governance. Atas pemikiran Nash yang kemudian disebut sebagai Nash
Equilibrium atau keseimbangan noncooperative, yaitu: satu kompetisi sempurna
dimana setiap produsen memaksimalisasi. Hingga saat ini masih ditemui definisi
yang bermacam-macam tentang Corporate Governance. Namun demikian
umumnya mempunyai maksud dan pengertian yang sama. FCGI dalam publikasi
yang

pertamanya

mempergunakan

definisi

Cadbury

Committee,

yaitu:

"seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham,


pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta
para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan
hak-hak dan kewajiban mereka, atau dengan kata lain suatu sistem yang
mengatur dan mengendalikan perusahaan."

18

Dengan demikian secara lebih komprehensif, corporate governance dapat


diartikan sebagai seperangkat aturan dan prinsip-prinsip antara lain fairness,
transparency, accountability, dan responsibility yang mengatur hubungan antara
pemegang saham, manajemen perusahaan (direksi dan komisaris), pihak kreditur,
pemerintah, karyawan serta stakeholders lainnya yang berkaitan dengan hak dan
kewajiban masing-masing pihak. Tujuannya adalah untuk menciptakan nilai
tambah bagi seluruh stakeholders dalam perusahaan.keuntungannya dan
konsumen dapat memaksimalisasi utilitas berdasarkan kondisi harga yang
diberikan (tertentu).
Jika kondisi optimal ini tidak tercapai maka pasti ada pihak yang
diuntungkan dan dirugikan atau tidak terjadi keseimbangan (equilibrium). Kondisi
ini disebut sebagai kondisi optimal dari penciptaan kebijakan publik yang tepat.
Rumusan teori yang dihasilkan dari penelitian ini adalah: "Bahwa setiap
penetapan kebijakan publik tentunya dapat memberikan suatu kondisi equilibrium
atau solusi optimal bagi setiap pihak yang terkait dengan menghadirkan suatu
metode yang komprehensif dengan mengkombinasikan antara pendekatan
agregasi kepentingan dan interaksi dinamis melalui intervensi optimal sehingga
tercapai gain optimal".
Manajemen sebagai pengurus perusahaan mempunyai ruang gerak untuk
bertindak bebas namun tetap didorong untuk memenuhi kepentingan investor atau
penanam modal. Contoh, baru-baru ini Badan Pengawas Pasar Modal
(BAPEPAM) memberikan sanksi kepada tiga perusahaan yang terdaftar di Bursa.
Salah satu diantaranya terbukti melaksanakan transaksi pinjaman senilai Rp. 10
milyar kepada 64% pemegang sahamnya tanpa persetujuan dari pemegang saham
lainnya. Hal ini dianggap melanggar ketentuan BAPEPAM mengenai benturan
kepentingan.(Bisnis Indonesia, www.bisnis.com).
Karenanya ketentuan-ketentuan dan prosedur diperlukan untuk menjaga
kepentingan penanam modal di mana termasuk di dalamnya: "pengelolaan
pengawasan yang independen, transparansi atas kinerja perusahaan, kepemilikan,
dan pengendalian; dan partisipasi dalam keputusan yang fundamental oleh para
pemegang saham - dengan perkataan lain harus dipatuhinya 'Corporate
Governance'." (Egon Zehnder International, 2000).

19

Ada empat mekanisme Corporate Governance yang sering dipakai dalam


berbagai penelitian mengenai Corporate Governance yang bertujuan untuk
mengurangi konflik keagenan, yaitu: Komite audit mempunyai peran yang sangat
penting dan strategis dalam hal memelihara kredibilitas proses penyusunan
laporan keuangan seperti halnya menjaga terciptanya sistem pengawasan
perusahaan yang memadai serta dilaksanakannya good corporate governance.
Dengan berjalannya fungsi komite audit secara efektif, maka control terhadap
perusahaan akan lebih baik sehingga, konflik keagenan yang terjadi akibat
keinginan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraannya sendiri dapat
diminimalisasi.
Komposisi dewan komisaris merupakan salah satu karakteristik dewan
yang berhubungan dengan kandungan informasi laba. Melalui perannya dalam
menjalankan fungsi pengawasan, komposisi dewan dapat mempengaruhi pihak
manajemen dalam menyusun laporan keuangan sehingga dapat diperoleh suatu
laporan laba yang berkualitas (Boediono, 2005).
Adanya komisaris independen diharapkan mampu meningkatkan peran
dewan komisaris sehingga tercipta Good Corporate Governance di dalam
perusahaan. Manfaat Corporate Governance akan dilihat dari premium yang
bersedia dibayar oleh investor atas ekuitas perusahaan (harga pasar). Jika ternyata
investor bersedia membayar lebih mahal, maka nilai pasar perusahaan yang
menerapkan Good Corporate Governance juga akan lebih tinggi dibanding
perusahaan yang tidak menerapkan atau mengungkapkan praktek Good
Corporate Governance mereka. (Kusumawati dan Riyanto, 2005).
Struktur

kepemilikan

(kepemilikan

manajerial

dan

kepemilikan

institusional) oleh beberapa peneliti dipercaya mampu mempengaruhi jalannya


perusahaan yang pada akhirnya berpengaruh pada kinerja perusahaan dalam
mencapai tujuan perusahaan yaitu maksimalisasi nilai perusahaan. Hal ini
disebabkan oleh karena adanya kontrol yang mereka miliki (Wahyudi dan
Pawestri, 2006).
Pada sektor publik dalam menjalankan roda pemerintahan negara
pertentangan kepentingan antara para anggota birokrasi dengan kepentingan
negara dapat timbul apabila menjadi alat kekuatan tertentu, seperti kekuatm

20

politik, kekuatan ekonomi atau kelompok-kelompok penekan, yang terdapat


dalam masyarakat. Untuk mencegah timbulnya situasi demikianlah, ditekankan
pentingnya netralitas birokrasi dalam arti bahwa kekuatan sosial politik mana pun
yang berkuasa dalam satu kurun waktu tertentu, birokrasi harus mampu
mengabdikan dirinya hanya kepada kepentingan Negara sebagai keseluruhan.
Artinya, semua tindakannya diarahkan kepada pencapaian tujuan negara bangsa
yang bersangkutan.
Hal lain yang berkaitan erat dengan vested interest adalah pertentangan
kepentingan yang juga secara kategorial ditolak sebagai cara bertindak aparatur
pemerintah. Di banyak negara, misalnya terdapat praktek bahwa seseorang yang
menduduki jabatan tertentu dalam pemerintahan diharuskan melepaskan
hubungannya dengan perusahaan-perusahaan di mana ia duduk sebagai pemimpin
atau komisaris atau pemegang saham mayoritas. Bila pemerintah mempunyai
proyek tertentu, penanganannya dilakukan melalui tender terbuka dan transparan
yang maksudnya adalah untuk mencegah timbulnya pertentangan kepentingan
pengambil keputusan dengan kepentingan pemerintah.

21

BAB III
PENUTUP
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan:
1. Teori

stakeholder

terutama

digunakan

untuk

memahami

dan

menginformasikan manajemen dari stakeholder suatu organisasi. Stakeholder


dimaksud adalah stakeholder yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh
tindakan organisasi.
2. Stakeholder internal dan eksternal di dalam organisasi mempunyai fungsi yang
berbeda-beda. Untuk itu diperlukan adanya suatu hubungan yang baik agar
layanan yang diberikan juga semakin baik.
3. Hubungan perusahaan dengan internal stakeholders dibangun berdasarkan
konsep kebermanfaatan yang membangun kerjasama untuk bisa menciptakan
kesinambungan usaha perusahaan. Sedangkan hubungan dengan stakeholder
di luar perusahaan lebih kepada hubungan yang bersifat kemitraan, juga
berusaha untuk bersama-sama membangun kualitas kehidupan eksternal
stakeholders.

22

DAFTAR PUSTAKA

Bryson, John, M. 2001. Perencanaan Strategi bagi Organisasi. Edisi Bahasa


Indonesia. Pustaka Pelajar Offset, Yogyakarta.
http://wahjudinsumpeno.wordpress.com
http://infoduniaini.blogspot.com

23

iii