Anda di halaman 1dari 49

2

2.1

SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH

Pendahuluan
Dikutip dari Rekayasa lingkungan, Penerbit Gunadarma

2.1.1

Umum

Air merupakan kebutuhan utama dalam kehidupan sehari-hari. Manusia, binatang, dan
tumbuhan memerlukan air untuk kehidupannya. Air dapat pula digunakan sebagai pelarut,
pembersih dan keperluan lain seperti rumah-tangga, industri maupun usaha-usaha lainnya.
Untuk keperluan industri air berfungsi sebagai pendingin mesin, bahan baku maupun
pembersih atau penggelontor limbah. Di samping itu air juga berfungsi untuk usaha-usaha
pertanian, perikanan, olah raga, rekreasi, pemadam kebakaran dan lain sebagainya.
Dalam dunia kesehatan khususnya kesehatan lingkungan, perhatian air dikaitkan sebagai
faktor perpindahan/penularan penyebab penyakit (agent). Air membawa penyebab penyakit
dari kotoran (faeces) penderita, kemudian sampai ke tubuh orang lain melalui makanan, susu
dan minuman. Air juga berperan untuk membawa penyebab penyakit non mikrobial seperti
bahan-bahan toxic yang dikandungnya. Penyakit-penyakit infeksi yang biasanya ditularkan
melalui air adalah typus abdominalis, cholera, dysentri baciller dan lain-lain. Peracunan
logam juga dapat terjadi melalui media air.
Saat ini masalah penyediaan air bersih menjadi perhatian khusus baik bagi negara-negara
maju maupun negara yang sedang berkembang. Indonesia sebagai halnya pula negara
berkembang lainnya, tidak luput dari permasalahan penyediaan air bersih bagi masyarakatnya.
Salah satu masalah pokok yang dihadapi adalah kurang tersedianya sumber air yang bersih,
belum meratanya pelayanan penyediaan air bersih terutama pada daerah perdesaan dan
sumber air bersih yang ada belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Bahkan pada
beberapa tempat di kota-kota besar, sumber air bersih yang telah dimanfaatkan oleh PDAM
telah tercemari oleh limbah indusri dan limbah domestik, sehingga beban dalam segi
pengelolaan air bersihnya semakin meningkat.
Bertitik tolak dari hal tersebut, maka dalam rangka penyediaan kebutuhan air bersih yang
memenuhi syarat kesehatan, Pemerintah RI mencanangkan program peningkatan penyediaan
air bersih pada daerah perkotaan (urban) dan daerah perdesaan (rural urban) melalui
pipanisasi dan pemanfaatan sumber air yang ada secara optimal.
Merupakan tantangan bagi kita semua bagaimana memperlakukan air agar diperoleh daya
guna yang sebesar-besarnya dan menekan kerusakan pada sumber daya air sekecil-kecilnya.
Dengan demikian maka akan tercapai pemenuhan penyediaan air bersih dan memenuhi syarat
kualitas, kuantitas, kontinuitas dan harga yang terjangkau oleh masyarakat.
2.1.2

Pengertian Air Bersih dan Air Minum

Air Bersih
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan akan menjadi air minum
setelah dimasak terlebih dahulu. Sebagai batasannya, air bersih adalah air jang memenuhi
14

persyaratan bagi sistem penyediaan air minum, dimana persyaratan yang dimaksud adalah
persyaratan dari segi kualitas air yang meliputi kualitas fisik, kimia, biologis dan radiologis,
sehingga apabila dikonsumsi tidak menimbulkan efek samping (Ketentuan Umum Permenkes
No.416/Menkes/PER/IX/1990).
Persyaratan tersebut juga memperhatikan pengamanan terhadap sistem distribusi air bersih
dari instalasi air bersih sampai pada konsumen.
Air Minum
Pengertian air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat-syarat kesehatan yang
dapat diminum. Alasan kesehatan dan teknis yang mendasari penentuan standar kualitatif air
minum adalah efek-efek dari setiap parameter jika melebihi dosis yang telah ditetapkan.
Pengertian dari standar kualitas air minum adalah batas operasional dari kriteria kualitasair
dengan memasukkan pertimbangan non teknis, misalnya kondisi sosial-ekonomi, target atau
tingkat kualitas produksi, tingkat kesehatan yang ada dan teknologi yang tersedia. Sedangkan
kriteria kualitas air merupakan putusan ilmiah yang mengekspresikan hubungan dosis dan
respon efek, yang diperkirakan terjadi kapan dan dimana saja unsur-unsur pengotor mencapai
atau melebihi batas maksimum yang ditetapkan, dalam waktu tertentu. Dengan demikian
maka kriteria kualitas air merupakan referensi dari standar kualitas air. Berdasarkan
Permenkes No.416/Menkes/Per/IX/1990, yang membedakan antara kualitas air bersih dan air
minum adalah standar kualitas setiap parameter fisik, kimia, biologis dan radiologis
maksimum yang diperbolehkan.
2.1.3

Persyaratan Dalam Penyediaan Air Bersih

Ada beberapa persyaratan utama yang harus dipenuhi dalam sistem penyediaan air bersih
Persyaratan tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut:
1.
2.
3.

Persyaratan kualitatif
Persyaratan kuantitatif
Persyaratan kontinuitas

Persyaratan kualitatif
Persyaratan kualitatif menggambarkan mutu atau kualitas dari air baku air bersih. Peryaratan
ini meliputi persyaratan fisik, kimia, biologis dan radiologis. Syarat-syarat tersebut dapat
dilihat berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.416/Menkes/PER/ IX/1990 tentang
syarat-syarat dan pengawasan kualitas air.
1.

Syarat-syarat fisik
Secara fisik air minum harus jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa
(tawar). Warna dipersyaratkan dalam air minum untuk masyarakat karena pertimbangan
estetika. Ada 2 (dua) macam warna pada air yaitu apparent color dan true color.
Apparent color ditimbulkan karena adanya benda-benda zat tersuspensi dari bahan
organik. Hal ini lebih mudah diatasi dibanding dengan jenis true color. True color
adalah warna yang ditimbulkan oleh zat-zat bukan zat organik.
Rasa seperti asin, manis, pahit dan asam dan sebagainya tidak boleh terdapat dalam air
minum untuk masyarakat. Bau yang bisa terdapat dalam air adalah bau busuk, amis, dan
sebagainya. Bau dan rasa biasanya terdapat bersama-sama dalam air.

15

2.

Selain bau, warna dan rasa, syarat lain yang harus dipenuhi secara fisik adalah suhu.
Suhu sebaiknya sama dengan suhu udara atau kurang lebih 25C, dan bila terjadi
perbedaan maka batas yang diperbolehkan adalah 25C 3oC.
Syarat-syarat Kimia
Air minum tidak boleh mengandung bahan-bahan kimia dalam jumlah yang melampaui
batas. Beberapa persyaratan kimia tersebut antara lain:
pH
pH merupakan faktor penting bagi air minum, karena mempengaruhi proses korosi
pada perpipaan, khususnya pada pH < 6,5 dan > 9,5 akan mempercepat terjadinya
reaksi korosi pada pipa distribusi air minum. Selain itu, nilai pH jumlah mikro
organisme patogen semakin banyak dan ini sangat membahayakan bagi kesehatan
manusia.
Zat padat total (total solid).
Total solid merupakan bahan yang tertinggal sebagai residu pada penguapan dan
pengeringan pada suhu 103 - 105C.
Zat organik sebagai KMn04.
Zat organik dalam air berasal dari:
Alam: tumbuh-tumbuhan, alkohol, sellulosa, gula dan pati.
Sintesa: proses-proses industri.
Fermentasi: alkohol, asam, dan akibat kegiatan mikro organisme.
Zat atau bahan organik yang berlebihan dalam air akan mengakibatkan timbulnya
bau yang tidak sedap.
CO2 agresif.
CO2 yang terdapat dalam air berasal dari udara dan dari hasil dekomposisi zat
organik Menurut bentuknya CO2 dapat dibedakan dalam:
CO2 bebas: banyaknya CO2 yang larut dalam air.
CO2 kesetimbangan: CO2 yang dalam air setimbang dengan HCO3.
CO2 agresif: yaitu CO2 yang dapat merusak bangunan, perpipaan dalam
distribusi air minum.
Kesadahan total (total hardness).
Kesadahan adalah sifat air yang disebabkan oleh adanya ion-ion (kation) logbm
valensi, misalnya Ca2+,Mg2+, Fe+, dan Mn+. Kesadaran total adalah kesada lan yang
disebabkan oleh adanya ion-ion Ca2+ dan Mg2+ secara bersama-sama. Air sadah
menyebabkan pemborosan pemakaian sabun pencuci dan mempunyai titik didih
yang lebih tinggi dibandingkan air biasa.
Kalsium (Ca).
Kalsium dalam air minum dalam batas-batas tertentu diperlukan untuk pertumbuhan
tulang dan gigi. Nilai Ca lebih dari 200 mg/l dapat menyebabkan korosi dalam pipa.
Besi dan Mangan.
Zat-zat lain yang selalu ada dalam air adalah besi dan mangan. Besi merupatakan
logam yang menghambat proses desinfeksi. Hal ini disebabkan karena daya
pengikat klor (DPC) selain digunakan untuk mengikat zat organik, juga digunakan
untuk mengikat besi dan mangan, sehingga sisa klor menjadi lebih sedikit dan hal
ini memerlukan desinfektan yang semakin besar pada proses pengolahan air. Selain
itu besi dan mangan menyebabkan warna air menjadi keruh.
Tembaga (Cu)
Pada kadar yang lebih besar dari 1 mg/l akan menyebabkan rasa tidak enak pada
lidah dan dapat menimbulkan kerusakan pada hati.
16

3.

4.

Seng (Zn)
Kelebihan kadar Zn > 5 mg/l dalam air minum menyebabkan rasa pahit.
Chlorida (Cl)
Kadar chlor yang melebihi 250 mg/l akan menyebabkan rasa asin dan korosif pada
logam.
Nitrit
Kelemahan nitrit dapat menyebabkan methamoglobinemia terutama pada bayi yang
mendapatkan konsumsi air minum yang mengandung nitrit.
Fluorida (F)
Kadar F < 1 mg/l menyebabkan kerusakan gigi atau carries gigi. Sebaliknya bila
terlalu banyak akan menyebabkan gigi berwarna kecoklatan.
Logam-logam berat (Pb, As, Se, Cd, Cr, Hg, CN)
Adanya logam-logam berat dalam air akan menyebabkan gangguan pada jaringan
syaraf, pencernaan, metabolisme oksigen, dan kanker.
Syarat-syarat bakteriologis atau mikrobiologis.
Air minum tidak boleh mengandung kuman-kuman patogen dan parasitik seperti
kuman-kuman thypus, kolera, dysentri dan gastroenteritis. Karena apabila bakteri
patogen dijumpai pada air minum maka akan mengganggu kesehatan atau timbul
penyakit. Untuk mengetahui adanya bakteri patogen dapat dilakukan dengan
pengamatan terhadap ada tidaknya bakteri E.Coli yang merupakan bakteri indikator
pencemar air.
Syarat-syarat radiologis.
Air minum tidak boleh mengandung zat yang menghasilkan bahan-bahan yang
mengandung radioaktif, seperti sinar alfa, beta dan gamma.

Persyaratan Kuantitatif.
Persyaratan kuantitatif dalam penyediaan air bersih adalah ditinjau dari banyaknya air baku
yang tersedia. Artinya, air baku tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sesuai
dengan jumlah penduduk yang akan dilayani. Selain itu jumlah air yang dibutuhkan sangat
tergantung pada tingkat kemajuan teknologi dan sosial ekonomi masyarakat setempat.
Sebagai contoh, negara-negara yang telah maju memerlukan air bersih yang lebih banyak
dibandingkan dengan masyarakat di negara-negara sedang berkembang.
Persyaratan Kontinuitas.
Persyaratan kontinuitas untuk penyediaan air bersih sangat erat hubungannya dengan
kuantitas air yang tersedia yaitu air baku yang ada di alam. Arti kontinuitas disini adalah
bahwa air baku untuk air bersih tersebut dapat diambil terus menerus dengan fluktuasi debit
yang relatif tetap, baik pada saat musim kemarau maupun musim hujan.

2.2

Sistem Penyediaan Air Bersih


Dikutip dari Rekayasa lingkungan, Penerbit Gunadarma

2.2.1

Sumber/Asal Air Baku Utama

Dalam memilih sumber air baku air bersih, maka harus diperhatikan persyaratan utamanya
yang meliputi kualitas, kuantitas, kontinuitas dan biaya yang murah dalam proses
pengambilan sampai pada proses pengolahannya.
17

Beberapa sumber air baku yang dapat digunakan untuk penyediaan air bersih dikelompokkan
sebagai berikut:
1.

2.

3.

Air Hujan.
Air hujan disebut juga dengan air angkasa. Beberapa sifat kualitas dari air hujan adalah
sebagai berikut:
Bersifat lunak karena tidak mengandung larutan garam dan zat-zat mineral.
Air hujan pada umumnya bersifat lebih bersih.
Dapat bersifat korosif karena mengandung zat-zat yang terdapat di udara seperti
NH3, CO2 agresif, ataupun SO2. Adanya konsentrasi SO2 yang tinggi di udara yang
bercampur dengan air hujan akan menyebabkan terjadinya hujan asam (acid rain).
Dari segi kuantitas, air hujan tergantung pada besar kecilnya curah hujan. Sehingga air
hujan tidak mencukupi untuk persediaan umum karena jumlahnya berfluktuasi. Begitu
pula bila dilihat dari segi kontinuitasnya, air hujan tidak dapat diambil secara terus
menerus karena tergantung pada musim. Pada musim kemarau kemungkinan air akan
menurun karena tidak ada penambahan air hujan.
Air Permukaan
Air permukaan yang biasanya dimanfaatkan sebagai sumber atau bahan baku air bersih
adalah:
a. Air waduk (berasal dari air hujan).
b. Air sungai (berasal dari air hujan dan mata air).
c. Air danau (berasal dari air hujan, air sungai atau mata air).
Pada umumnya air permukaan telah terkontaminasi dengan berbagai zat-zat yang
berbahaya bagi kesehatan, sehingga memerlukan pengolahan terlebih dahulu sebelum
dikonsumsi oleh masyarakat. Kontaminan atau zat pencemar ini berasal dari buangan
domestik, buangan industri dan limbah pertanian. Zat-zat pencemar tersebut antara lain
Total Suspended Solid (TSS), yang berpengaruh pada kekeruhan, zat-zat organik
sebagai KMn04, logam berat dari air limbah industri misalnya industri baterai yang
menghasilkan Pb (timbal).
Kontinuitas dan kuantitas dari air permukaan dapat dianggap tidak menimbulkan
masalah yang besar untuk penyediaan air bersih yang memakai bahan baku air
permukaan.
Air tanah
Air tanah banyak mengandung garam dan mineral yang terlarut pada waktu air melalui
lapisan-lapisan tanah. Secara praktis air tanah adalah bebas dari polutan karena berada
di bawah permukaan tanah. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa air tanah dapat
tercemar oleh zat-zat yang mengganggu kesehatan seperti kandungan Fe, Mn,
kesadahan yang terbawa oleh aliran permukaan tanah. Bila ditinjau dari kedalaman air
tanah maka air tanah dibedakan menjadi air tanah dangkal dan air tanah dalam. Air
tanah dangkal mempunyai kualitas lebih rendah dibanding kualitas air tanah dalam. Hal
ini disebabkan air tanah dangkal lebih mudah mendapat kontaminasi dari luar dan
fungsi tanah sebagai penyaring lebih sedikit.
Dari segi kuantitas, apabila air tanah dipakai sebagai sumber air baku air bersih adalah
relatif cukup. Tetapi bila dilihat dari segi kontinuitasnya maka pengambilan air tanah
harus dibatasi, karena dikhawatirkan dengan pengambilan yang secara terus menerus
akan menyebabkan penurunan muka air tanah. Karena air di alam merupakan rantai
yang panjang menurut siklus hidrologi, maka bila terjadi penurunan muka air tanah
kemungkinan kekosongannya akan diisi oleh air laut. Peristiwa ini biasa disebut intrusi
air laut. Kondisi ini telah banyak dijumpai khususnya di daerah-daerah dekat pantai atau
laut seperti Jakarta dan Surabaya.
18

4.

Mata Air
Dari segi kualitas, mata air adalah sangat baik bila dipakai sebagai air baku, karena
berasal dari dalam tanah yang muncul ke permukaan tanah akibat tekanan, sehingga
belum terkontaminasi oleh zat-zat pencemar. Biasanya lokasi mata air merupakan
daerah terbuka, sehingga mudah terkontaminasi oleh lingkungan sekitar. Contohnya
banyak ditemui bakteri E.Coli pada air mata air.
Dilihat dari segi kuantitasnya, jumlah dan kapasitas mata air sangat terbatas sehingga
hanya mampu memenuhi kebutuhan sejumlah penduduk tertentu. Begitu pula bila mata
air tersebut terus-menerus kita ambil semakin lama akan habis dan terpaksa penduduk
mencari sumber mata air yang baru.Secara singkat dapat disimpulkan dalam Tabel 2.1.
dibawah ini:
Tabel 2.1 Sumber air kualitas dan kuantitasnya

Sumber
Air hujan

Air permukaan
Air Tanah Dangkal
(< 10m)
Air tanah dalam (> 60 m)
Mata Air

2.2.2

Kualitas

Kuantitas

Kontinuitas

Harga

sedikit terpolusi
oleh polutan
pencemar udara
Tidak baik karena
tercemar
Terpolusi

Tidak memenuhi
untuk persediaan
umum
Mencukupi

Tidak dapat terus


menerus diambil

Murah

Dapat diambil terus


menerus
Pengambilan dibatasi,
berakibat instrusi air
laut
Tidak dapat diambil
secar terus menerus

Relatif mahal

Relatif baik
Relatif baik

Relatif cukup

Sedikit

Relatif murah
Relatif mahal
Murah

Sistem Individual dan Komunal

Untuk menentukan sistem penyediaan air bersih pada masyarakat, maka perlu dilakukan
klasifikasi sistem pelayanan air bersih yang meliputi sistem infividual dan sistem komunal
Sistem individual dan sistem komunal dalam penyediaan air bersih masih dapat dijumpai pada
masyarakat perdesaan (rural urban) maupun masyarakat perkotaan (urban).
Sistem individual dititikberatkan pada pengusahaan pemenuhan kebutuhan air bersih secara
individu atau perorangan sedangkan sistem komunal, pemenuhannya dilakukan secara
terorganisasi melalui sistem pipanisasi.
Beberapa sarana penyediaan air bersih secara individual adalah sebagai berikut:
1.

Sumur
a. Sumur gali (Dug well)
Sumur ini dibuat dengan penggalian tanah sampai kedalaman tertentu maksimum
20 meter, umumnya tidak terlalu dalam sehingga hanya mencapai air tanah di
lapisan atas. Oleh karena itu air yang diperoleh sering berkurang airnya pada
musim kemarau sehingga secara kuantitatif sulit untuk menjamin kontinuitasnya.
b. Sumur Pompa Tangan Dalam (Drilled Well)
Adalah sumur yang dibuat dengan kedalaman pipa 30 meter, kedalaman muka air
lebih dari 7 meter dan dapat dipergunakan untuk melayani kebutuhan beberapa
keluarga. Kontaminasi air sumur dapat berasal dari sumber pencemaran di
sekitarnya dan dari permukaan tanah dimana batang pompa ditanam.
c. Sumur Bor (Bored Well)
Sumur bor adalah sumur yang dibuat dengan bantuan auger. Kedalaman minimum
100 meter.
19

d.

2.

Sumur Pompa Tangan Dangkal.


Adalah sumur yang dibuat dengan kedalaman pipa maksimum 18 meter dan sesuai
untuk kedalaman muka air lebih kecil dari 7 meter.
Bak penampungan air hujan
Pada daerah-daerah tertentu yang tidak atau sedikit memiliki sumber air, air hujan
dimanfaatkan untuk persediaan air bersih untuk keperluan air minum dan keperluan
sehari-hari yang lain terutama pada musim hujan, di samping juga untuk persediaan air
pada waktu musim kemarau. Untuk menyimpannya air hujan ditampung dalam suatu
bejana atau bak Penampungan Air Hujan (PAH). Bak penampungan air hujan ini juga
dapat digunakan untuk penyediaan air bersih secara komunal.
Secara umum displit penyediaan air bersih secara komunal dapat digambarkan sebagai
berikut:
Instalasi
Penjernihan Air

Sumber Air
Saluran Transmisi
Air Baku

Jaringan Distribusi
Air Bersih

Gambar 2.1. Penyediaan air bersih


Beberapa sistem penyediaan air bersih secara komunal adalah sebagai berikut:
1.

2.

3.

4.

Melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)


PDAM adalah merupakan organisasi pengelola air pada daerah tingkat II yang melayani
air melalui sistem perpipaan yang telah mengalami pengolahan dan distribusikan pada
masyarakat yang berminat dan mampu membayar sambungan.
HIPPAM (Himpunan Petani Pemakai Air)
HIPPAM merupakan organisasi pengelola air di daerah perdesaan dimana HIPPAM
biasanya akan memanfaatkan sumber mata air yang ada diwilayah masing-masing
melalui pembinaan dari Departemen Pekerjaan Umum Cipta Karya Sub Teknik
Penyehatan dan Lingkungan, terutama untuk masalah teknis pembuatan bangunan
pengolahan. Sehinggadengan demikian, maka pengelolaan selanjutnya merupakan
tanggung jawab masyarakat desa dan aparat penggelola telah ditetapkan oleh Kepala
Daerah Tingkat II masing-masing. Bagi masyarakat yang ingin mendapatkan pelayanan
melalui HIPPAM akan dikenakan iuran bulanan sesuai dengan ketentuan masingmasing pengelola HIPPAM. HIPPAM ini nantinya dapat menjadi embrio dari PDAM
setelah melalui serangkaian studi kelayakan terutama kelayakan sumber air baku dan
kelayakan dari segi ekonomisnya.
Pembangunan Hidran Umum, Kran Umum dan Terminal Air
Program pembangunan ini terutama ditujukan untuk mengantisipasi semakin mahalnya
harga air relatif terhadap tingkat penghasilan masyarakat dan juga untuk daerah-daerah
kumuh dan terpencil yang rawan air.
Perlindungan mata air.
Perlindungan mata air merupakan sistem penyediaan air bersih dengan memanfaatkar
sumber mata air. Cakupan pelayanan maksimum perlindungan mata air adalah 500 jiwa.
Umumnya perlindungan mata air digunakan untuk wilayah atau daerah perdesaan
dimana masih dijumpai adanya sumber mata air.

20

2.2.3

Kebutuhan Air Bersih

Macam kebutuhan air bersih.


Manusia dan makluk hidup lain di alam ini memerlukan air untuk proses-proses psikologis
yang dibedakan antara lain:
1.

2.

Kebutuhan domestik, adalah kebutuhan air bersih untuk pemenuhan kegiatan sehtri hari
atau rumah tangga seperti: untuk minum, memasak, kesehatan individu (mandi cuci dan
sebagainya, menyiram tanaman, halaman, pengangkutan air buangan (buangan dapur
dan toilet).
Kebutuhan Non Domestik, adalah kebutuhan air bersih yang digunakan untuk beberapa,
kegiatan seperti:
Kebutuhan institusional.
Adalah kebutuhan air bersih untuk kegiatan perkantoran dan tempat pendidikan atau
sekolah.
Kebutuhan komersial dan industri.
Adalah kebutuhan air bersih untuk kegiatan hotel, pasar, pertokoan, restoran
Sedangkan kebutuhan air bersih untuk industri biasanya digunakan untuk ai
pendingin, air pada boiler untuk pemanas, bahan baku proses.
Kebutuhan fasilitas umum
Adalah kebutuhan air bersih untuk kegiatan tempat-tempat ibadah, rekreasi
terminal.

Penentuan Kebutuhan Air Bersih.


1.

Perhitungan proyeksi penduduk.


Beberapa metode proyeksi penduduk yang digunakan dalam perencanaan sistem
penyediaan air bersih adalah sebagai berikut:
a. Metode Rata-rata Aritmatik

Pt = Po + (Pn +1 Pn ) t

b.

dimana,
Po
= jumlah penduduk tahun ke 0
Pn+1 = rata-rata pertumbuhan penduduk
t
= periode perencanaan
pn
=jumlah penduduk pada tahun ke n
Pn+1 = jumlah penduduk pada tahun ke n+1
Metode Geometrik
Metode ini banyak dipakai karena mudah dan mendekati kebenaran.
Pt = Po (1 + r)n

c.

dimana,
Pt = jumlah penduduk tahun proyeksi
Po = jumlah penduduk tahun yang diketahui
r = prosen pertambahan penduduk tiap tahun
n = tahun proyeksi
Metode pertumbuhan seragam
Metode ini mengasumsi bahwa prosen pertumbuhan penduduk dari dekade ke
dekade adalah konstan dan perhitungan didasarkan pada proses pertumbuhan ratarata. Metode ini hanya cocok bagi kota yang relatif muda dengan pertumbuhan
penduduk yang cepat.
21

d.

e.

Metode selisih pertumbuhan


Yaitu jumlah penduduk saat ini ditambah dengan rata-rata pertambahan penduduk
dalam sepuluh tahun dan rata-rata selisih pertambahan.
Metode grafis (rentang grafis populasi)
Proyeksi penduduk dihitung dengan menggunakan kurva, plotting antara waktu
(tahun) dengan populasi. Dari data yang dikumpulkan dan terbentuk kurva,
kemudian direntangkan ke depan sesuai dengan bentuk nature kurva, akan
diperoleh populasi dari tahun yang diinginkan.

Penentuan fluktuasi debit air yang dibutuhkan.


Pada umumnya kebutuhan air di masyarakat tidaklah konstan, tetapi berfluktuasi dengan
adanya perubahan musim dan aktivitas masyarakat. Pada hari tertentu di setiap minggu bulan
atau tahun akan terdapat pemakaian air yang lebih besar dari pada kebutuhan rata-rata perhari.
Pemakaian air tersebut disebut "pemakaian hari maksimum". Demikian pada jam-jam tertentu
di dalam satu hari, pagi atau sore, pemakaian air akan memuncak lebih besar dari pada
kebutuhan air rata-rata perhari. Pemakaian air tersebut disebut "pemakaian jam puncak".
Besarnya pemakaian air hari maksimum dan jam puncak dapat ditentukan dengan mengalikan
pemakaian air dari rata-rata perhari dengan faktor pemakai hari maksimum dan jam puncak.
Banyak faktor yang mempengaruhi fluktuasi pemakaian air jam perjam. Untuk mendapatkan
data fluktuasi pemakaian air jam perjam secara tepat untuk keperluan perencanaan bangunan
pengolahan air bersih, maka cara yang ditempuh umumnya adalah dengan membandingkan
kota (daerah) yang direncanakan dengan kota (daerah) yang telah direncanakan (telah
mempunyai data fluktuasi pemakaian air jam perjam). Tentunya dalam hal ini dicari kota-kota
yang sedikit mungkin berbeda kondisinya (aktivitas masyarakatnya). Misalnya kota Malang
dengan kota Bandung. Makin banyak penduduk dan aktivitas yang dilayani, maka makin kecil
faktor hari maksimum atau jam puncaknya, karena aktivitas penduduk yang sepanjang hari
akan cenderung membutuhkan air bersih mendekati rata-rata. Untuk di Indonesia (perkotaan)
nilai atau faktor hari maksimum dan jam puncak yang berlaku bisa berbeda-beda, tergantung
dari perencanaan (master plan) kota dan perkembangannya.
Perhitungan Kebutuhan Air Bersih
Perhitungan kebutuhan air bersih adalah didasarkan pada jumlah penduduk yang akan
dilayani dan rata-rata kebutuhan air bersih pada setiap orang. Seperti telah dijelaskan
sebelumnya bahwa kebutuhan air bersih akan digunakan untuk perhitungan kapasitas
pengolahan, kapasitas distribusi dan kapasitas produksi. Untuk mengetahui kebutuhan hari
maksimum dan kebutuhan jam puncak adalah nilai faktor hari maksimum dan nilai faktor jam
maksimum. Nilai faktor hari maksimum, (Fl) umumnya adalah 1 sampai dengan 1,5.
Sedangkan faktor jam puncak (F2) umumnya adalah 1,5 sampai dengan 2,5. Dari uraian di
atas, dapat disimpulkan bahwa debit (kapasitas) pengolahan bisa berbentuk:

Q hari maksimum, untuk perencanaan distribusi


Q rata-rata, untuk perencanana distribusi
Q jam puncak, untuk perencanaan distribusi

Dalam menghitung kapasitas produksi, maka selain kapasitas pengolahan (akibat kebutuhan
air minum) perlu juga diperhitungkan hal-hal lain mempengaruhi, yaitu:
1.

Kebutuhan air untuk instalasi, misalnya untuk pencucian filter (backwashing)


melarutkan bahan kimia, keperluan kantor dan lain-lain. Umumnya kebutuhan untuk
instalasi ini sekitar 10% dari kapasitas pengolahan.
22

2.

Kehilangan air di sistem distribusi. Misalnya pada saat pemasangan, penggantian dan
penambahan pipa distribusi, kebocoran teknis (karena sambungan liar dan lain-lain,
keperluan pemadam kebakaran, menyiram tanaman dan lain-lain. Umumnya kehilangan
air ini sekitar 30% dari kepasitas pengolahan. Dengan mengetahui kapasitas pengolahan
kebutuhan air untuk instalasi dan kehilangan air, maka dapat dihitung kapasitas
produksi (debit) yang diperlukan.

Contoh perhitungan proyeksi penduduk dan kebutuhan air bersih.


Jumlah penduduk kota A adalah 100.000 jiwa pada tahun 1995. Tingkat pertumbuhan
penduduk dalam setiap tahun dalam 10 tahun terakhir rata-rata 1%. Hitung kapasitas
pengolahan, kapasitas distribusi, dan kapasitas produksi jika direncanakan untuk memenuhi
kebutuhan air bersih sampai tahun 2015.
Jawab:
Asumsi :

Kebutuhan air bersih rata-rata/orang/hari =100 liter


Faktor hari maksimum = 1,5
Faktor jam puncak = 1,75

Proyeksi jumlah penduduk tahun 2015 (misal dengan metode geometrik)


Pt = Po (1 + r)n
Pt = 100.000 (1 + 0,01)10
Pt = 110.463 jiwa
Kebutuhan air bersih = jumlah penduduk x kebutuhan air rata-rata
Kebutuhan air bersih = 110.463 jiwa x 100 l/orang/hari
= 11.046.300 l/hari
= 127,85 1/dt
Kapasitas pengolahan (kebutuhan hari maksimum)
Kebutuhan air bersih x faktor hari maksimum
= 127,85 1/dt x 1,5
= 191,775 1/dt
Kapasitas distribusi (kebutuhan jam puncak)
Kebutuhan air bersih x faktor jam puncak
= 127,85 1/dt x 1,75
= 223,74 1/dt
2.2.4

Bangunan Pengambilan dan Sistem Transmisi Air Bersih

Intake
Bangunan pengambilan air baku untuk penyediaan air bersih disebut dengan bangunan
penangkap air atau intake. Kapasitas intake ini dibuat sesuai dengan debit yang diperlukan

23

untuk pengolahan. Fungsi utama bangunan intake adalah untuk menangkap air dari sumber air
untuk diolah dalam instalasi pengolahan air bersih.
Ditinjau dari air baku yang akan diambil maka intake dibedakan:
1.

Air baku dari air permukaan


a. River intake
adalah intake untuk menyadap air baku yang berasal dari sungai atau danau.
b. Direct Intake
Direct intake dipakai bila muka muka air dari air baku sangat dalam. Bentuk ini
lebih mahal biayanya bila dibandingkan dengan tipe lainnya. Tipe intake ini
dipakai dalam kondisi:
Sumber air dalam misal sungai dan danau.
Tanggul sangat resisten terhadap erosi dan sedimentasi.
c. Canal Intake
Dipakai bila air baku disadap dari kanal. Suatu bak memiliki bukaan dibangun pada
satu sisi dari tanggul kanal, yang dilengkapi saringan kasar. Dari bak air dialirkan
melalui pipa yang memiliki ujung berbentuk beli mouth yang tertutup saringan
berbentuk parabola.
d. Reservoir Intake (dam)
Digunakan untuk air baku yang diambil dari danau, baik yang alamiah atau (beton).
Bangunan ini dilengkapi dengan beberapa inlet dengan ketinggian yang bervariasi
untuk mengatasi adanya fluktuasi muka air. Dapat juga dibuat menara intake yang
terpisah dengan dam pada bagian upstream. Jika air di reservoir dapatmengalir
secara gravitasi ke pengolahan, maka tidak diperlukan pemompaan dari menara.

Gambar 2.2. Unprotected sungai intake

Gambar 2.3.Intake sungai (atau danau) intake air

24

Gambar 2.4. Struktur intake sungai

Gambar 2.5. intake pada tepi sungai menggunakan infiltrasi saluran

Gambar 2.6. intake dengan variabel kedalaman air danau

25

Gambar 2.7. Multi-level intake (Diadaptasi dari Twort et al, 1994.)

Gambar 2.8. Intake struktur pada dasar danau dangkal

Gambar 2.9. Sruktur intake air sederhana

Gambar 2.10. Intake Mengapung

26

2.

2.2.5

Air baku dari Mata Air


a. Spring Intake (Bround Captering)
Digunakan untuk air yang diambil dari mata air, Dalam pengumpulan mata air,
hendaknya dijaga supaya kondisi tanah tidak terganggu.
b. Sistem Transmisi Air Bersih
Sistem transmisi air bersih adalah sistem perpipaan dari bangunan pengambilan air
baku ke bangunan pengolahan air bersih. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
menentukan sistem transmisi adalah:
Tipe pengaliran jaringan pipa transmisi yang meliputi sistem perpompaan,
sistem gravitasi dan sistem gabungan perpompaan dan gravitasi. Sistem
pemompaan diterapkan pada kondisi dimana letak dari bangunan intake lebih
rendah dari bangunan pengolahan. Sebaliknya sistem gravitasi diterapkan pada
kondisi dimana elevasi letak bangunan penangkap air relatif tinggi atau sama
dengan bangunan pengolahan air. Sistem gabungan diterapkan pada kondisi
topografi bangunan intake ke bangunan pengolahan yang naik turun.
Menentukan tempat bak pelepas tekan
Bak pelepas tekan dibuat untuk menghindari tekanan yang tinggi, sehingga
tidak akan merusakkan sistem perpipaan yang ada. Bak ini dibuat di tempat
dimana tekanan tertinggi mungkin terjadi atau pada stasiun penguat (boaster
pump) sepanjang jalur pipa transmisi.
Menghitung panjang dan diameter pipa
Panjang pipa dihitung berdasarkan jarak dari bangunan penangkap air ke
bangunan pengolahan, sedangkan diameter pipa ditentukan sesuai dengan debit
hari maksimum.
Jalur pipa sebaiknya mengikuti jalan raya dan dipilih jalur yang tidak
memerlukan banyak perlengkapan.
Perlengkapan yang ada pada sistem transmisi perpipaan air bersih:
Wash out, berfungsi untuk penggelontor sedimen atau endapan yang ada pada
pipa
Air valve, berfungsi untuk mengurangi tekanan pada pipa sehingga pipa tidak
pecah
Blow off
Gate valve
berfungsi untuk mengatur debit aliran
Pompa
Proses Pengolahan Air Bersih

Proses pengolahan air bersih tergantung dari kualitas sumber daya air yang digunakan sebagi
air baku dan kualitas air minum yang diinginkan. Pada prinsipnya, proses pengolahan air
minum dibagi atas 3 (tiga) golongan yaitu:
1.

2.

Penggolahan fisik
Yaitu pengolahan untuk menurunkan parameter-parameter fisik, seperti kekeruhan Total
Disolved Solid, warna dan bau.
Pengolahan kimiawi
Yaitu pengolahan untuk menurunkan parameter-paramter kimiawi, seperti kesadahan,
nitrat, magnesium, Mn, Fe dan lain-lain.

27

3.

Proses pengolahan biologis


Yaitu pengolahan untuk menurunkan parameter-parameter biologis, seperti bakteri
E.Coli dan Coli tinja.

Sedangkan menurut jenisnya, pengolahan air minum dibagi menjadi 2 golongan yaitu.
1.
2.

Pengolahan Lengkap
Yaitu sistem pengolahan yang melibatkan pengolahan fisik-kimia dan biologis.
Pengolahan Tidak Lengkap
Yaitu sistem pengolahan yang hanya melibatkan salah satu atau dua diantara proses
pengolahan fisik, kimia dan biologis.

Secara umum kita membedakan proses pengolahan air bersih atas pengolahan air permukaan
(pengolahan lengkap) dan pengolahan air tanah (pengolahan tak lengkap)
Pengolahan Air Permukaan
Proses pengolahan air permukaan (misalnya sungai) adalah proses pengolahan lengkap.
Adapun bangunan pengolahan yang diperlukan untuk proses pengolahan ini meliputi:
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Bangunan Penangkap air (intake)


Bangunan ini berfungsi untuk menangkap air dari badan air (sungai) sesuai dengan
debit yang diperlukan bagi pengolahan air bersih.
Bangunan penenang dan bak pembagi
Berfungsi untuk menenangkan air baku jika digunakan pepompaan pada bangunan
sadap (intake). Bak pembagi berfungsi untuk membagikan air jika digunakan lebih dari
1 (satu) unit bangunan pengolahan (paralel).
Bangunan Prasedimentasi
Berfungsi sebagai tempat proses pengendapan partikel diskrit seperti pasir, lempung dan
zat-zat padat lainnya yang bisa mengendap secara gravitasi.
Bangunan Pengaduk Cepat (rapid mixing)
Berfungsi sebagai tempat proses pencampuran koagulan dengan air baku sehingga
terjadi proses koagulasi. Proses koagulasi adalah dimaksudkan untuk:
melarutkan bahan kimia atau koagulan.
membuat homogen campuran.
mendorong terbentuknya partikel yang berbentuk flok.
Bangunan pengaduk lambat (slow mixing)
Berfungsi sebagai tempat proses terbentuknya flok-flok, dimana prosesnya disebut
dengan proses flokulasi. Pada bak pengaduk lambat, flok-flok yang terbentuk pada bak
pengaduk cepat yang telah terbentuk akan bergabung membentuk flok-flok yang lebih
besar dan akhirnya mengendap secara gravitasi.
Bangunan Sedimentasi
Berfungsi sebagai tempat proses mengendapnya partikel-partikel flokulen (flok-flok)
dari bak flokulasi.
Bangunan Filtrasi
Berfungsi untuk tempat proses penyaringan butir-butir yang tidak ikut terendap pada
bak sedimentasi dan juga berfungsi sebagai penyaring mikroorganisme/bakteri yang
ikut larut dalam air. Beberapa jenis filtrasi adalah sebagai berikut:
Rapid sand filter menggunakan media pasir (single media), antrasit dan pasir yang
terpisah (dual media) dan pasir dan antrasit yang bercampur (mixed media).
Slow sand filter, digunakan untuk pengolahan air tanpa melalui unit koagulasi,
floukulasi dan sedimentasi.
28

8.

9.

Pressure filtration
Dilakukan untuk air baku air tanah. Pompa distribusi yang memompa air dari filter
akan menyebabkan berkurangnya tekanan pada filter sehingga air bisa mengalir ke
filter. Keuntungan adalah menghemat pemompaan ganda.
Direct filtration
Digunakan untuk pengolahan air baku dengan kadar kekeruhan yang rendah misal
air baku dari instalasi pengolahan air buangan.
Unit Pembubuhan Bahan Kimia
Berfungsi untuk tempat melarutkan bahan-bahan kimia dan membubuhkannya ke
bangunan pengolahan. Untuk pembubuhan bahan kimia ini diantaranya adalah
berfungsi sebagai bak pembubuhan desinfektan yaitu chlor (Cl2) sebagai kaporit
Ca(OCl)2. Desinfektan selain digunakan untuk membunuh mikroorganisme patogen
dapat bermanfaat pula sebagai:
pengoksidasi zat organik
mengurangi bau
mencegah berkembang-biaknya bakteri
Pemilihan Chlor sebagai desinfektan adalah karena mudah tersedia dan mudah
penanganannya
biaya investasi dan oeprasi mudah.
lebih aman
Selain Chlor yang dipakai sebagai desinfeksi, ada beberapa jenis desinfeksi yang sering
dilakukan yaitu:
Pemanasan, biasanya dilakukan terbatas pada skala kecil, yaitu rumah tangga;
Sinar ultra violet, tidak sempurna, karena timbul endapan
Getaran ultrasonic
Ozon, tidak bersifat karsinogenik, tetapi harganya mahal
Bangunan Reservoir
Berfungsi untuk tempat penampungan air bersih sebelum didistribusikan dan tempat
penampungan air bersih untuk instalasi.

Gambar 2.11. Skema pengolahan air


Pengolahan Air Tanah
Proses pengolahan air baku air tanah adalah proses yang tidak selengkap pengolahan air
permukaan. Beberapa proses pengolahan yang tidak lengkap adalah proses pengolahan untuk
29

menghilangkan kesadahan dengan penambahan kapur dan soda, sehingga bangunan yang
diperlukan adalah bak pengaduk cepat, flokulator, bak pengendap disamping bak
recarbonisasi untuk penambahan CO2 dan seterusnya.
Beberapa alternatif proses pengolahan dengan air baku air tanah adalah sebagai berikut:
1.

2.

2.2.6

Air tanah yang sifatnya aerobik


Untuk air tanah yang sifatnya aerobik, kualitas atau kandungan bahan-bahan kimia yang
ditemui, masih memenuhi persyaratan, tetapi sedikit bersifat asam sehingga diperlukan
pengolahan terhadap kadar pH agar pH menjadi naik.
Air tanah yang sifatnya anaerobik
Biasanya banyak mengandung unsur-unsur besi, mangan, amonia, dan H2S. Sistem
yang sesuai adalah aerasi yang berfungsi untuk:
mendapatkan oksigen
meremove H2S, CH4
mereduksi konsentrasi CO2
Sistem Distribusi Air Bersih

Definisi sistem distribusi air bersih


Sistem distribusi air bersih adalah pendistribusian atau pembagian air melalui sistem
perpipaan dari bangunan pengolahan (reservoir) ke daerah pelayanan (konsumen).
Dalam perencanaan sistem distribusi air bersih, beberapa faktor yang harus diperhatikan
antara lain adalah:
1.

2.
3.
4.

Daerah Layanan dan jumlah penduduk yang akan dilayani Daerah layanan ini meliputi
wilayah IKK (Ibukota Kecamatan) atau wilayah Kabupaten/Kotamadya. Jumlah
penduduk yang dilayani tergantung pada:
Kebutuhan.
Kemauan/minat.
Kemampuan atau tingkat sosial ekonomi masyarakat.
Sehingga dalam satu daerah layanan belum tentu semua penduduk terlayani.
Kebutuhan air.
Kebutuhan air adalah debit air yang harus disediakan untuk distribusi daerah pelayanan.
Letak topografi daerah layanan, yang akan menentukan sistem jaringan dan pola aliran
yang sesuai.
Jenis sambungan sistem
Jenis sambungan dalam sistem distribusi air bersih dibedakan menjadi:
Sambungan Halaman: yaitu sambungan pipa distribusi dari pipa induk/pipa utama
ke tiap-tiap rumah dan halaman.
Sambungan Rumah: yaitu sambungan pipa distribusi dari pipa induk/pipa utama ke
masing-masing utilitas rumah tangga.
Hidran Umum: merupakan pelayanan air bersih yang digunakan secara komunal
pada suatu daerah tertentu untuk melayani 100 orang dalam setiap hidran umum.
Terminal air: adalah distribusi air melalui pengiriman tangki-tangki air diberikan
pada daerah-daerah kumuh, daerah terpencil atau daerah yang rawan air bersih.
Kran Umum: merupakan pelayanan air bersih yang digunakan secara komunal pada
kelompok masyarakat tertentu, yang mempunyai minat tetapi kurang mampu dalam

30

membiayai penyambungan pipa ke masing-masing rumah. Biasanya 1 (satu) kran


umum dipakai untuk melayani kurang lebih 20 orang.
Pipa distribusi
Pipa distribusi adalah pipa yang membawa air ke konsumen yang terdiri dari:
1.
2.
3.

Pipa Induk, yaitu pipa utama pembawa air yang akan dibagikan ke pada konsumen.
Pipa Cabang, yaitu pipa cabang dari pipa induk.
Pipa Dinas, yaitu pipa pembawa air yang langsung melayani konsumen.

Tipe pengaliran
Tipe pengaliran sistem distribusi air bersih meliputi Aliran Gravitasi dan Aliran secara
Pemompaan. Tipe pengaliran secara gravitasi diterapkan bila tekanan air pada titik terjauh
yang diterima konsumen masih mencukupi. Jika kondisi ini tidak terpenuhi maka pengaliran
harus menggunakan sistem pemompaan.
Pola jaringan
Macam pola jaringan sistem distribusi air bersih
1.

Sistem cabang
Adalah sistem pendistribusi air bersih yang bersifat terputus membentuk cabang-cabang
sesuai dengan daerah pelayanan.

Sumber

Gambar 2.12. Sistem cabang

2.

Keuntungan:
tidak membutuhkan perhitungan dimensi pipa yang rumit karena debit dapat dibagi
berdasarkan cabang-cabang pipa pelayanan.
Untuk pengembangan daerah pelayanan lebih mudah karena hanya tinggal
menambah sambungan pipa yang telah ada.
Kerugian:
Jika terjadi kebocoran atau kerusakan pengaliran pada seluruh daerah akan terhenti.
Pembagian debit tidak merata.
Operasional lebih sulit karena antara pipa yang satu dengan yang lain saling
berhubungan.
Sistem Loop
Sistem loop adalah sistem perpipaan melingkar dimana ujung pipa yang satu bertemu
kembali dengan ujung pipa yang lain.

31

Sumber/ Reservoir

Gambar 2.13. Sistem loop


Keuntungan :
Debit terbagi merata karena perencanaan diameter berdasarkan pada jumlah
kebutuhan total
Jika terjadi kebocoran atau kerusakan atau perubahan diameter pipa maka hanya
daerah tertentu yang tidak mendapat pengaliran, sedangkan untuk daerah yang tidak
mengalami kerusakan aliran air tetap berfungsi.
Pengoperasian jaringan lebih mudah.
Kerugian:
Perhitungan dimensi perpipaan membutuhkan kecermatan agar debit yang masuk
pada setiap pipa merata.
Perlengkapan sistem distribusi air bersih
1.

2.

3.

4.
5.
6.

Reservoir
Fungsi reservoir adalah untuk menampung air bersih yang telah diolah dan memberi
tekanan. Jenis reservoir meliputi:
Ground Reservoir
Ground reservoir adalah bangunan penampung air bersih di bawah permukaan
tanah.
Elevated Reservoir
Adalah bangunan penampung air yang terletak di atas permukaan tanah dengan
ketinggian tertentu sehingga tekanan air pada titik terjauh masih tercapai.
Bahan pipa.
Bahan pipa yang biasa dipakai untuk pipa induk adalah pipa galvanis, bahan cabang
adalah PCV sedangkan untuk pipa dinas dapat digunakan pipa dari PVC atau galvanis.
Keuntungan jika memakai pipa galvanis adalah pipa tidak mudah pecah bila tekanan air
yang mengalir cukup besar atau mendapat tekanan dari yang cukup berat meskipun
harganya relatif mahal. Sedangkan untuk pipa PVC lebih mudah pecah walaupun dari
segi harga lebih murah.
Valve.
Berfungsi untuk mengatur arah aliran air dalam pipa dan menghentikan air pada suatu
daerah apabila terjadi kerusakan.
Meter air.
Berfungsi untuk mengukur besar aliran yang melalui suatu pipa.
Flow restrictor.
Fungsinya untuk pembatas air baik untuk rumah maupun kran umum agar aliran merata.
Assesories perpipaan.
Sok.
Fungsinya untuk menyambungkan pipa pada posisi lurus.
Sok dibedakan menjadi:
Sok turunan yang menghubungkan dua pipa yang mempunyai diameter
berbeda.
32

Sok adaptor yang menghubungkan dua pipa yang mempunyai tipe yang
berbeda, misalnya PVC dengan GI.
Flens.
Berfungsi untuk menyambung pipa.
Penyambungan dengan flens dilakukan untuk pipa yang kedudukannya di atas
permukaan tanah dengan diameter yang lebih besar dari 50 mm.
Flens diperlukan dalam bentuk flens adaptor.
Water mul dan nipel.
Berfungsi untuk menyambung pipa dalam posisi lurus. Pipa ini dapat dibuka
kembali meskipun kedudukan pipa-pipa yang disambung dalam keadaan mati.
Penyambung Gibault.
Khusus dipakai menyambung pipa asbesatos semen.
Dop dan plug.
Berfungsi untuk menutup ujung akhir pada pipa.
Bend.
Berfungsi untuk menyambung pipa yang posisinya membentuk sudut satu sama
lainnya. Sudut bend yang tersedia : 9 , 45, 221/2, 111/4.
Tee.
Fungsi: untuk menyambung pipa bila ada percabangan tiga pipa yang saling tegak
lurus.

Deteksi kebocoran
Dalam perencanaan sistem distribusi air bersih tidak menutup kemungkinan terjadi kebocoran
atau kehilangan air. Kehilangan air didefinsikan sebagai jumlah air yang hilang akibat:

pemasangan sambungan yang tidak tepat.


terkena tekanan dari luar sehingga menyebabkan pipa retak atau pecah.
penyambungan liar

Untuk mengetahui jika terjadi kebocoran yang tidak tepat misalnya air rembesan dari
keretakan pipa, dapat diatasi dengan alat pendeteksi kebocoran yang disebut Leak Detector.
Sedangkan upaya untuk mengurangi terjadinya kehilangan air yang lebih besar dalam
perencanaan perencanaan sistem distribusi air dilakukan pembagian wilayah atau zoning
untuk memudahkan pengontrolan kebocoran pipa, serta pemasangan meteran air.

2.3

Bangunan Penangkap Mata Air (PMA).


Dikutip dari Petunjuk Praktis Pembangunan Penangkap Air, Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Cipta Karya

Ruang lingkup
Modul ini mencakup pengertian, persyaratan teknis dan prosedur pembangunan bangunan
Penangkap Mata Air (PMA).

33

2.3.1

Pengertian

Yang dimaksud dengan:


1.

2.
3.
4.
5.

Bangunan PMA (Penangkap Mata Air) adalah bangunan untuk menangkap dan
melindungi mata air terhadap pencemaran dan dapat juga dilengkapi dengan bak
penampung.
Aliran artesis terpusat adalah mata air yang terjadi karena adanya tekanan hidrolis dan
pemunculan air ke permukaan tanah secara terpusat.
Aliran artesis tersebar adalah mata air yang terjadi karena adanya tekanan hidrolis dan
pemunculan air ke permukaan tanah secara tersebar.
Aliran artesis vertikal adalah mata air yang terjadi karena tekanan hidrolis dan
pemunculan air ke permukaan tanah melalui celah tegak lurus lapisan kedap air.
Aliran gravitasi kontak adalah mata air yang terjadi akibat terhalang lapisan kedap air
sehingga air naik ke permukaan.

Gambar 2.14. Sistem gravitasi

Gambar 2.15. Sisiem pompa


2.3.2

Persyaratan

Persyaratan umum
Bangunan PMA (Penangkap Mata Air) secara umum harus memenuhi persyaratan berikut:
1.
2.
3.

Bentuk PMA tidak mengikat, disesuaikan dengan topografi dan situasi lahan.
Bangunan PMA diusahakan berbentuk elips bersudut tumpul atau empat persegi
panjang.
Pipa keluar (Pipa OutLet) pada bak pengumpul dari bangunan PMA (Penangkap Mata
Air) tidak boleh lebih tinggi dari muka air asli sebelum dibangun PMA.

Persyaratan teknis
1.

Tipe PMA
a. tipe IA: arah aliran artesis terpusat.
b. tipe IB: arah aliran artesis tersebar.
34

2.

c. tipe IC: arah aliran artesis vertikal.


d. tipe ID: aliran gravitasi kontak.
Sedangkan berdasarkan kelengkapan bangunan, yaitu bak penampung, maka jenis PMA
terdiri atas:
a. tipe I IA : volume bak penampung 2 x 2 x 1 m3
b. tipe IIB : volume bak penampung 2 x 4 x 1 m3
c. tipe IIC : volume bak penampung 2 x 5 x 1 m3
Berdasarkan cara pelayanan (Pengaliran) terdiri dari
a. Pengaliran Mata Air Grafitasi
b. Pengaliran Mata Air Pompa.
Ukuran
Ukuran bak penampung mata air ditentukan berdasarkan:
a. Debit minimum mata air
b. Besarnya pemakaian dan waktu
c. Asumsi kebutuhan 30 sampai dengan 60 liter per orang per hari
d. Waktu pengambilan adalah 8 sampai 12 jam sehari sesuai Tabel berikut.
Tabel 2.2. Ukuran bak penampung mata air
Pelayanan Orang
200 - 300
300 - 500

3.

Debit
< 0,5 lt/dt
5 m3
10 m3

Debit
0,5 - 0,8 lt/dt
2 m3
10 m3

Debit
0.7 - 0,8 lt/dt
2 m3
5 m3

Debit
> 0,8 lt/dt
2 m3
2 m3

Bahan
Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan perlindungan mata air harus memenuhi
syarat sebagai berikut:
a. Semen portland, harus mempunyai kehalusan dan sifat ikat yang baik yang sesuai
dengan SN I IS-2049-1990 tentang Mutu dan cara Uji Semen Portland
b. Pasir beton, harus bersih, berbutir tajam dan keras
c. Kerikil, harus bersih dan keras
d. Besi beton, harus bersih dan tidak berkarat
e. Air, harus bersih dan bebas dari minyak
f. Batu bata
g. Pipa dan perlengkapannya
h. Bahan elemen konstruksi dan pelengkap yang digunakan untuk pembuatan
bangunan perlindungan mata air sesuai Tabel 2.3, Tabel 2.4 dan Tabel 2.5.
Tabel 2.3. Bahan elemen penangkap mata air
No
1
2
3

i.

Elemen

Bahan Yang Digunakan

Lantai dasar/ pondasi


Dinding
Penutup

1 semen 2 : pasir : 3 kerikil


1 semen 2 : pasir : 3 kerikil
1 semen 2 : pasir : 3 kerikil

Kebutuhan bahan untuk pembangunan bak penampung sesuai tipenya dapat dilihat
pada tabel berikut:

35

Tabel 2.4. Kebutuhan bahan bangunan penampung air


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

Jenis Bahan

Satuan

Semen
Pasir Urug
Pasir Pasang
Pasir beton
Kerikil
Batu Kali
Batu Bata
Besi Beton dia. 8 mm
Besi Beton 6 mm
Paku
Kawat Beton
Kayu Bekisting
Pipa GIP dia. 3"
Pipa GIP W
Bend 90 GIP dia. 3"
Tee GIP 3"
Kran dia. B"
Dop GIP dim. 3 "
Socket GIP dia. %"

Zak
M3
M3
M3
M3
M3
Buah
Batang
Batang
Kg
Kg
M3
Batang
Batang
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah

Volume
Tipe II A
15
0,64
2,85
1,5
0.5
2,2
600
15
11
5
10
0,3
2
1
4
3
1
3

Tipe II B
30
1,17
3,6
3
0,8
3,00
900
25
16
7
15
0,6
2
1
4
4
1
4

Tipe II C
40
1,42
4,20
4
1,2
3,40
1050
35
22
10
20
0,8
2
1
4
5
1
5

Tabel 2.5. Kebutuhan bahan bangunan hidran umum


Jenis Bahan

Satuan

Volume

Semen
Pasir Urug
Batu Kali
Pipa GIP dia. 3"
Pipa GIP %"
Bend 90 GIP dia. 3"
Tee GIP 3"
Kran dia. B"
Socket GIP dia. %"
Tangki Fiber Kapasitas4 m3

Zak
M3
M3
Batang
Batang
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah

10
0,8
2,5
Tergantung jarak
1
2
3
3
2

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

4.

Fungsi
Fungsi dan komponen bangunan perlindungan mata air sesuai Tabel 2.6
Tabel 2.6. Fungsi komponen bak penampung PMA
Komponen

Fungsi

Bangunan penangkap air

Lubang pelimpah

3
4

Lubang masuk
Lubang keluar

Manhole

Untuk mengumpulkan air dari mata air


Untuk melindungi air dari pencemaran
Untuk mengalirkan kelebihan air yang ada di dalam bak pelindung mata
air
Untuk memasukkan air dari mata air ke bak penangkap
Untuk mengalirkan air dari bak penangkap air ke bak penampung atau ke
jaringan distribusi
Untuk pergantian udara
Untuk jalan masuk manusia dalam rangka pemeliharaan dan perbaikan bak
bagian dalam

No

36

5.

Kekuatan
Kekuatan struktur yang harus dipenuhi untuk pembuatan bangunan perlindungan mata
air sebagi berikut:
a. Bangunan penangkap bagian luar kedap terhadap air dan tahan longsor
b. Bak penangkap harus kedap air, permukaan bak licin dan tertutup
c. Lantai saluran drainase harus kedap air

2.3.3

Cara Pengerjaan

Pekerjaan persiapan
Pekerjaan persiapan harus dilakukan sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.

Adakan pertemuan antara masyarakat untuk membuat rencana kerja pembangunan


PMA
Siapkan peralatan dan bahan sesuai yang disebutkan di atas
Bersihkan dengan hati-hati lokasi sumber air yang akan dibangun dari daun-daun,
kayu dan lain-lain agar aliran air tidak tertutup atau tersumbat
Lakukan pematokan untuk menetapkan posisi bangunan sesuai petunjuk dalam
gambar perencanaan.

Pekerjaan konstruksi bangunan penangkap air


1.

2.

1.
2.

3.

Penggalian Tanah
a. Pasang patok (dari bambu atau kayu) sesuai ukuran bangunan PMA yang akan
dibangun,
b. Gali tanah untuk meratakan dasar lokasi bangunan PMA pondasi,
Pemasangan Pondasi
a. Pemasangan pondasi dilakukan sebagai berikut:
b. Buat patok dari bambu atau kayu sesuai ukuran badan pondasi dan dipasang pada
jarak 30 cm ujung,
c. Hubungkan patok yang satu dengan yang lain dengan benang/tali hingga
mempunyai ketinggian yang sama,
Gali tanah untuk pondasi hingga kedalaman 60 cm pada lereng tebing dan 30 cm pada
sisi lain dari bak PMA,
Pemasangan Dinding
a. Lakukan pemasangan batu kali dengan adukan 1 semen : 4 pasir,
b. Pasang pipa peluap sekitar 20-30 cm dari permukaan dinding atas dan pipa keluar
yang menembus dinding pada bagian dasar lantai setinggi 20-30 cm,
Pemasangan Tutup dan Lubang Pemeriksa
Pemasangan tutup dan lubang pemeriksa dilakukan sebagai berikut:
a. Pasang bekisting untuk pembuatan tutup bangunan PMA.
b. Pasang cetakan (terbuat dari bahan triplek) di atas bekisting,
c. Susun pembesian ukuran 8 mm - 15 mm yang telah dirakit, sesuai ukuran tutup
bangunan PMA yang akan dicor di atas cetakan,
d. Pasang pipa udara pada bagian yang telah ditentukan sebelum dicor,
e. Ganjal batu setebal 2-3 cm diseluruh bidang di bawah pembesian
f. Buat sekat ukuran 60 cm x 60 cm dari kayu tipis pada bagian tutup bak kontrol,
g. Lakukan pengecoran dengan memasukkan adukan dengan perbandingan 1 semen :
2 pasir : 3 kerikil sambil dirojok agar seluruh bidang terisi dan pembesian tertutup
rata,
37

h.
i.

4.

5.

Buat cetakan untuk tutup lubang pemeriksa (manhole)


Pasang pembesian untuk tutup lubang pemeriksa dan lengkapi dengan pegangan
yang terbuat dari besi 3/4 inchi,.
j. Cor tutup beton dengan ketebalan kurang lebih 10 cm, biarkan hasil pengecoran 3
sampai 4 hari (sampai kering),.
Pemasangan Turap
Pemasangan turap pada dinding dan saluran air di atas bangunan PMA dilakukan
sebagai berikut:
a. Buat turap dari batu kali dibagian dinding sepanjang bangunan PMA dengan
perbandingan adukan 1 cemen : 2 pasir.
b. Buat badan saluran yang terbuat dari batu kali dengan perbandingan adukan
1 semen : 4 pasir,
c. Plester badan saluran dengan perbandingan adukan 1 semen : 2 pasir.
Penyambungan Pipa
Penyambungan pipa dilakukan sebagai berikut:
a. Sambungkan pipa peluap dengan pipa keluar
b. Sambungkan pipa keluar sampai ke bak penampung,

Pekerjaan konstruksi bak penampung


Pekerjaan konstruksi bak penampung dikerjakan sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Gali tanah untuk pondasi 60 cm pada lereng dan pada dinding 30 cm,
Lapisi dengan pasir padat dan batu kosong di bawah pondasi.
Pasang pondasi dan urug pinggir pondasi dengan tanah urug,
Pasang lantai beton bak penampung.
Pasang tiang beton pada setiap sudut
Pasang dinding bak dengan konstruksi batu bata dan pasang pipa masuk diameter 3
inchi dan pipa keluar (untuk pengaliran ke daerah pelayanan) diameter 3 inchi,
serta pipa untuk kran diameter 3/4 inchi,
g. Plester dinding luar bak penampung setebal 1 sampai 1,5 cm dengan perbandingan
adukan 1 semen : 2 pasir,
h. Pasang bekisting untuk pembuatan tutup bak. Pasang cetakan terbuat dari bahan
triplek) di atas bekisting. Susun pembesian ukuran 8 mm - 15 mm yang telah
dirakit, sesuai ukuran tutup bak penampung. Pasang pipa udara pada bagian yang
telah ditentukan dan buat sekat ukuran 60 cm x 60 cm dari kayu tipis pada bagian
tutup bak kontrol,
i. Lakukan pengecoran dengan memasukkan adukan dengan perbandingan 1 semen :
2 pasir : 3 kerikil sambil dirojok agar seluruh bidang tutup bak penampung terisi
dan pembesian tertutup rata.
j. Pasang plat tutup bak dengan konstruksi beton tulang dan pasang pipa udara serta
tutup lubang kontrol,
k. Plester bagian permukaan setelah pengecoran kering.
l. Pasang peralatan dibagian samping tempat kran air
m. Pasang saluran pembuangan dengan konstruksi batu bata.

38

2.3.4

Pekerjaan Konstruksi Hidran Umum

Pekerjaan pondasi dan tangki air


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

j.
k.

Buat lingkaran pada tanah di lokasi Hidran Umum dengan diameter (lingkaran)
luar 2,20 meter,
Gali tanah untuk pondasi berbentuk lingkaran dengan lebar diameter luar 2,2 m dan
diameter dalam 0,6 m dengan kedalaman 60 cm,
Lapisi dengan pasir padat setebal 5 cm,
Pasang batu kosong sepanjang lingkaran
Pasang pondasi dari batu kali dengan adukan 1 semen : 4 pasir di atas pasangan
batu kosong. Urug pinggir pondasi dengan tanah urug dan padatakan,
Lanjutkan pemasangan pondasi hingga mencapai ketinggian 50 cm dari muka
tanah,
Urug celah antar pondasi dengan tanah urug dan padatkan hingga ketinggian 50 cm
dari muka tanah sejajar dengan tinggi pondasi yang mengelilinginya.
Buat campuran beton tumbuk dengan perbandingan 1 semen : 2 pasir: 3 kerikil
Buat lantai kerja dengan cara menuangkan campuran beton tumbuk setebal 5 cm di
atas pondasi dan lahan yang dibatasi oleh pondasi. Ratakan lantai kerja dengan
roskam (alat perata dari kayu),
Biarkan lantai beton sampai kering
Pasang tangki fiber di atas pondasi tersebut dan pasang pipa masuk (besi/GI)
dengan diameter 1 inchi dan pipa keluar untuk kran diameter % inci sebanyak
4 unit,

Pekerjaan lantai dan saluran pembuangan air


a.
b.
c.
d.
e.
f.
2.3.5

Kupas (gali) tanah dasar 1/3 lingkaran sepanjang 1,20 m dari sisi (pinggir) pondasi
dengan kedalaman 20 cm.
Lapisi dengan pasir padat setebal 5 cm
Pasang batu kali atau batu bata dengan adukan 1 semen : 4 pasir.
Tuangkan campuran beton setebal 3 cm dan ratakan dengan roskam (alat perata
dari kayu),
Biarkan beton sampai kering
Pasang saluran pembuangan dengan konstruksi pasangan batu.
Cara Pengoperasian dan Pemeliharaan

Pengoperasian
1.

2.

Persiapan Pengoperasian
a. Buka katup keluar sesuai dengan kebutuhan air hingga bak penampung terisi
b. Bula katup penguras agar kotoran yang terdapat didalam bak penangkap air dan
bak penampung dapat dibersihkan
c. Tutup katup penguras agar bak penampung terisi penuh.
Pelaksanaan Pengoperasian
a. Lakukan pengecekan pada setiap bagian bak penampung terhadap kebocoran, jika
tidak ada maka bak dapat dioperasikan
b. Buka katup untuk daerah pelayanan
c. Gunakan pompa untuk daerah layanan yang elevasinya lebih tinggi dari PMA

39

Pemeliharaan
1.

Pemeliharaan harian atau mingguan


a. Bersihkan bangunan bak penangkap dari kotoran dan sampah-sampah
b. Periksa bangunan bak penangkap air terhadap kerusakan, jika terjadi kerusakan
segera perbaiki.
c. Bersihkan katup keluar dari tanah atau kotoran dan periksa kerusakan dan
kebocoran, jika terjadi kerusakan cepat diganti
d. Bersihkan kotoran sekitar bak penampung, cek bangunan dan perlengkapannya
terhadap kerusakan
e. Bersihkan rumah katup dari tanah dan kotoran, cek tehadap kerusakan.
f. Bersihkan lubang kontrol dari kotoran dan cek terhadap kerusakan.
Pemeliharaan Bulanan dan Tahunan
a. Periksa dan jaga sekitar radius 100 meter dari bangunan bak penangkap dari
pencemaran, kotoran dan kerusakan lingkungan
b. Bersihkan Bangunan bagian dalam penangkap bila terjadi penyumbatan
c. Periksa dan bersihkan pipa peluap dari lumut sehingga tidak terjadi penyumbatan
d. Cat rumah katup dan lubang kontrol
e. Buat kelengkapan cara pemeliharaan dan pasang pada bangunan sistem PMA
sesuai tabel berikut.

2.

Tabel 2.7. Pemeliharaan bangunan PMA


PERLENGKAPAN
SISTEM
Penangkap air, katup keluar, bak
penampung, rumah katup, lubang
kontrol
Penangkap air, peluap, katup
keluar, bak penampng, lubang
kontrol, pagar

2.3.6

PEMELIHARAAN
HARIAN/
BULANAN TAHUNAN
MINGGUAN

KETERANGAN
Bersihkan dari kotoran,
sampah, daun
periksa keretakan, kebocoran
Pengecatan, perbaikan,
penggantian komponen yang
rusak

Perbaikan PMA

Kerusakan dan keretakan pada bangunan sistem PMA dapat diperbaiki sebagai berikut:
a.
b.

tambal bangunan yang terbuat dari pasangan batu atau ferrocement dengan
menggunakan adukan cemen atau ferrocement.
ganti peralatan dan perlengkapan yang terbuat dari logam, PVC, dengan yang baru.

40

Gambar 2.16. Mata air pompa

Gambar 2.17. Isometri mata air pompa

41

Gambar 2.18. Valve dan Vent

Gambar 2.19. Bangunan penangkap air tipe IB

42

Gambar 2.20. Potongan bangunan penangkap air tipe IB

43

Gambar 2.21. Bangunan penangkap air tipe IC

44

Gambar 2.22. Bangunan penangkap air tipe ID

45

Gambar 2.23. Potongan bangunan penangkap air tipe ID

Gambar 2.24. Bangunan bak penampung tipe 2

46

Gambar 2.25. Bangunan bak penampung tipe 1

Gambar 2.26. Bangunan hidran umum.

47

2.4

Teknologi Pengolahan Air Bersih Dengan Proses Saringan Pasir Lambat


Dikutip dari. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng.

2.4.1

Pendahuluan

Latar belakang
Dalam rangka meningkatkan kebutuhan dasar masyarakat khususnya mengenai kebutuhan
akan air bersih di daerah pedesaan, maka perlu disesuaikan dengan sumber air baku serta
teknologi yang sesuai dengan tingkat penguasaan teknologi dalam masyarakat itu sendiri.
Salah satu alternatif yakni dengan menggunakan teknologi pengolahan air sederhana dengan
"Saringan Pasir Lambat".
Sistem saringan pasir lambat adalah merupakan teknologi pengolahan air yang sangat
sederhana dengan hasil air bersih dengan kualitas yang baik. Sistem saringan pasir lambat ini
mempunyai keunggulan antara lain tidak memerlukan bahan kimia (koagulan) yang mana
bahan kimia ini merupakan kendala sering dialami pada proses pengolahan air di daerah
pedesaan.
Di dalam sistem pengolahan ini proses pengolahan yang utama adalah penyaringan dengan
media pasir dengan kecepatan penyaringan 5 - 10 m3/m2/hari. Air baku dialirkan ke tangki
penerima, kemudian dialirkan ke bak pengendap tanpa memakai zat kimia untuk
mengedapkan kotoran yang ada dalam air baku. selanjutnya di saring dengan saringan pasir
lambat. Setelah disaring dilakukan proses khlorinasi dan selanjutnya ditampung di bak
penampung air bersih, seterusnya di alirkan ke konsumen.
Jika air baku baku dialirkan ke saringan pasir lambat, maka kotoran-kotoran yang ada di
dalamnya akan tertahan pada media pasir. Oleh karena adanya akumulasi kotoran baik dari
zat organik maupun zat anorganik pada media filternya akan terbentuk lapisan (film) biologis.
Dengan terbentuknya lapisan ini maka di samping proses penyaringan secara fisika dapat juga
menghilangkan kotoran (impuritis) secara bio-kimia. Biasanya ammonia dengan konsetrasi
yang rendah, zat besi, mangan dan zat-zat yang menimbulkan bau dapat dihilangkan dengan
cara ini. Hasil dengan cara pengolahan ini mempunyai kualitas yang baik. Cara ini sangat
sesuai untuk pengolahan yang air bakunya mempunyai kekeruhan yang rendah dan relatif
tetap. Biaya operasi rendah karena proses pengendapan biasanya tanpa bahan kimia. Tetapi
jika kekeruhan air baku cukup tinggi, pengendapan dapat juga memakai baghan kimia
(koagulan) agar beban filter tidak terlalu berat.
Tujuan dan sasaran
Tujuannya adalah menyebar luaskan teknologi pengolahan air khususnya dengan
memanfaakan sumber air sungai untuk diolah dengan proses saringan pasir lambat dengan
arah penyaringan dari bawah ke atas (Up Flow). Sasarannya adalah agar teknologi ini dapat
ditiru atau dimanfaatkan oleh masyarakat.
Manfaat
Dengan menggunakan teknologi saringan pasir lambat Up Flow, dapat dihasilkan air olahan
dengan kualitas yang baik dengan biaya operasional sangat murah. Pengopersiannya sangat
mudah dan sederhana.

48

2.4.2

Proses Pengolahan

Saringan pasir lambat konvensional


Secara umum, proses pengolahan air bersih dengan saringan pasir lambat konvensional terdiri
atas unit proses yakni bangunan penyadap, bak penampung, saringan pasir lambat dan bak
penampung air bersih . Unit pengolahan air dengan saringan pasir lambat merupakan suatu
paket. Air baku yang digunakan yakni air sungai atau air danau yang tingkat kekeruhannya
tidak terlalu tinggi. Jika tingkat kekeruhan air bakunya cukup tinggi misalnya pada waktu
musim hujan, maka agar supaya beban saringan pasir lambat tidak telalu besar, maka perlu
dilengkapi dengan peralatan pengolahan pendahuluan misalnya bak pengendapan awal
dengan atau tanpa koagulasi bahan dengan bahan kimia.
Umumnya disain konstruksi dirancang setelah didapat hasil dari survai lapangan baik
mengenai kuantitas maupun kualitas. Dalam gambar desain telah ditetapkan proses
pengolahan yang dibutuhkan serta tata letak tiap unit yang beroperasi. Kapasitas pengolahan
dapat dirancang dengan berbagai macam ukuran sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.
Biasanya saringan pasir lambat hanya terdiri dari sebuah bak yang terbuat dari beton,
ferosemen, bata semen atau bak fiber glass untuk menampung air dan media penyaring pasir.
Bak ini dilengkapi dengan sistem saluran bawah, inlet, outlet dan peralatan kontrol. Untuk
sistem saringan pasir lambat konvensional terdapat dua tipe saringan yakni:
1.
2.

Saringan pasir lambat dengan kontrol pada inlet (Gambar 2.27).


Saringan pasir lambat dengan kontrol pada outlet. (Gambar 2.28).

Kedua sistem saringan pasir lambat tersebut mengunakan sistem penyaringan dari atas ke
bawah (down flow). Kapasitas pengolahan dapat dirancang dengan berbagai macam ukuran
sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Biasanya saringan pasir lambat hanya terdiri dari
sebuah bak yang terbuat dari beton, ferosemen, bata semen atau bak fiber glass untuk
menampung air dan media penyaring pasir. Bak ini dilengkapi dengan sistem saluran bawah,
inlet, outlet dan peralatan kontrol.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada sistem saringan pasir lambat antara lain yakni:
Bagian inlet
Struktur inlet dibuat sedemikian rupa sehingga air masuk ke dalam saringan tidak merusak
atau mengaduk permukaan media pasir bagian atas. Struktur inlet ini biasanya berbentuk segi
empat dan dapat berfungsi juga untuk mengeringkan air yang berada di atas media penyaring
(pasir).
Lapisan air di atas media penyaring (supernatant)
Tinggi lapisan air yang berada di atas media penyaring (supernatant) dibuat sedemikian rupa
agar dapat menghasilkan tekanan (head) sehingga dapat mendorong air mengalir melalui
unggun pasir. Di samping itu juga berfungsi agar dapat memberikan waktu tinggal air yang
akan diolah di dalam unggun pasir sesuai dengan kriteria disain.

49

Keterangan
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.

Kran untuk inlet air baku dan pengaturan laju penayaringan.


Kran untuk penggelontoran air supernatant
Indikator laju alir.
Weir inlet
Kran untuk pencucian balik unggun pasir dengan air bersih
Kran untuk pengeluaran/pengurasan air olahan yang masih kotor.
Kran distribusi.
Kran penguras bak air bersih

Gambar 2.27. Komponen Dasar Saringan Pasir Lambat Sistem Kontrol Inlet
Bagian pengeluaran (outlet)
Bagian outlet ini selain untuk pengeluran air hasil olahan, berfungsi juga sebagai weir untuk
kontrol tinggi muka air di atas lapisan pasir.
Media pasir (unggun pasir)
Media penyaring dapat dibuat dari segala jenis bahan inert(tidak larut dalam air atau tidak
bereaksi dengan bahan kimia yang ada dalam air). Media penyaring yang umum dipakai yakni
pasir silika karena mudah diperoleh, harganya cukup murah dan tidak mudah pecah. Diameter
pasir yang digunakan harus cukup halus yakni dengan ukuran 0,2-0,4 mm.
Sisten saluran bawah (drainage)
Sistem saluran bawah berfungsi untuk mengalirkan air olahan serta sebagai penyangga media
penyaring. Saluran ini tediri dari saluran utama dan saluran cabang, terbuat dari pipa
berlubang yang di atasnya ditutup dengan lapisan kerikil. Lapisan kerikil ini berfungsi untuk
menyangga lapisan pasir agar pasir tidak menutup lubang saluran bawah.

50

Keterangan :
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.

Kran untuk inlet air baku..


Kran untuk penggelontoran air supernatant
Kran untuk pencucian balik unggun pasir dengan air bersih
Kran untuk pengeluaran/pengurasan air olahan yang masih kotor
Kran pengatur laju penyaringan.
Indikator laju alir.
Weir inlet Kran distribusi.
Kran distribusi.
Kran penguras bak air bersih.

Gambar 2.28. Komponen Dasa Saringan Pasir Lambat Sistem Kontrol Outlet.
Ruang pengeluaran
Ruang pengeluran terbagi menjadi dua bagian yang dipisahkan dengan sekat atau dinding
pembatas. Di atas dinding pembatas ini dapat dilengkapi dengan weir agar limpasan air
olahannya sedikit lebih tinggi dari lapisan pasir. Weir ini berfungsi untuk mencegah
timbulnya tekanan di bawah atmosfir dalam lapisan pasir serta untuk menjamin saringan pasir
beroperasi tanpa fluktuasi level pada reservoir. Dengan adanya air bebas yang jatuh melalui
weir, maka konsentrasi oksigen dalam air olahan akan bertambah besar.
Pengolahan air bersih dengan menggunakan sistem saringan pasir lambat konvensional ini
mempunyai keunggulan antara lain :

Tidak memerlukan bahan kimia, sehingga biaya operasinya sangat murah.


Dapat menghilangkan zat besi, mangan, dan warna serta kekeruhan.
Dapat menghilangkan ammonia dan polutan organik, karena proses penyaringan berjalan
secara fisika dan biokimia.
Sangat cocok untuk daerah pedesaan dan proses pengolahan sangat sederhana.
Sedangkan beberapa kelemahan dari sistem saringan pasir lambat konvensional tersebut
yakni antara lain:
Jika air bakunya mempunyai kekeruhan yang tinggi, beban filter menjadi besar, sehingga
sering terjadi kebutuan. Akibatnya waktu pencucian filter menjadi pendek.
Kecepatan penyaringan rendah, sehingga memerlukan ruangan yang cukup luas.
Pencucian filter dilakukan secara manual, yakni dengan cara mengeruk lapisan pasir
bagian atas dan dicuci dengan air bersih, dan setelah bersih dimasukkan lagi ke dalam bak
saringan seperti semula.
Karena tanpa bahan kimia, tidak dapat digunakan untuk menyaring air gambut.
51

Untuk mengatasi problem sering terjadinya kebuntuan saringan pasir lambat akibat kekeruhan
air baku yang tinggi, dapat ditanggulangi dengan cara modifikasi disain saringan pasir lambat
yakni dengan menggunakan proses saringan pasir lambat "UP Flow (penyaringan dengan
aliran dari bawah ke atas).
Sistem saringan pasir lambat up flow
Teknologi saringan pasir lambat yang banyak diterapkan di Indonesia biasanya adalah
saringan pasir lambat konvesional dengan arah aliran dari atas ke bawah (down flow),
sehingga jika kekeruhan air baku naik, terutama pada waktu hujan, maka sering terjadi
penyumbatan pada saringan pasir, sehingga perlu dilakukan pencucian secara manual dengan
cara mengeruk media pasirnya dan dicuci, setelah bersih dipasang lagi seperti semula,
sehingga memerlukan tenaga yang cucup banyak. Ditambah lagi dengan faktor iklim di
Indonesia yakni ada musim hujan air baku yang ada mempunyai kekeruhan yang sangat
tinggi. Hal inilah yang sering menyebabkan saringan pasir lambat yang telah dibangun kurang
berfungsi dengan baik, terutama pada musim hujan.
Jika tingkat kekeruhan air bakunya cukup tinggi misalnya pada waktu musim hujan, maka
agar supaya beban saringan pasir lambat tidak telalu besar, maka perlu dilengkapi dengan
peralatan pengolahan pendahuluan misalnya bak pengendapan awal atau saringan "Up Flow"
dengan media berikil atau batu pecah, dan pasir kwarsa/silika.
Selanjutnya dari bak saringan awal, air dialirkan ke bak saringan utama dengan arah aliran
dari bawah ke atas (Up Flow). Air yang keluar dari bak saringan pasir Up Flow tersebut
merupakan air olahan dan di alirkan ke bak penampung air bersih, selanjutnya didistribusikan
ke konsumen dengan cara gravitasi atau dengan memakai pompa.
Diagram proses pengolahan serta contoh rancangan konstruksi saringan pasir lambat Up Flow
ditunjukkan pada Gambar 2.29.

Gambar 2.29. Diagram proses pengolahan air bersih dengan teknologi saringan pasir lambat
"Up Flow" ganda.
Dengan sistem penyaringan dari arah bawah ke atas (Up Flow), jika saringan telah jenuh atau
buntu, dapat dilakukan pencucian balik dengan cara membuka kran penguras. Dengan adanya
pengurasan ini, air bersih yang berada di atas lapisan pasir dapat berfungi sebagai air pencuci
media penyaring (back wash). Dengan demikian pencucian media penyaring pada saringan
pasir lambat Up Flow tersebut dilakukan tanpa pengeluran atau pengerukan media
penyaringnya, dan dapat dilakukan kapan saja. Saringan pasir lambat "Up Flow" ini
52

mempunyai keunggulan dalam hal pencucian media saringan (pasir) yang mudah, serta
hasilnya sama dengan saringan pasir yang konvesional. Kapasitas pengolahan dapat dirancang
dengan berbagai macam ukuran sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.
2.4.3

Kriteria Perencanaan

Untuk merancang saringan pasir lambat "Up Flow", beberapa kriteria perencanaan yang harus
dipenuhi antara lain:

Kekeruhan air baku lebih kecil 10 NTU. Jika lebih besar dari 10 NTU perlu dilengkapi
dengan bak pengendap dengan atau tanpa bahan kimia.
Kecepatan penyaringan antara 5-10 m3/m2/hari.
Tinggi Lapisan Pasir 70-100 cm.
Tinggi lapisan kerikil 25-30 cm.
Tinggi muka air di atas media pasir 90-120 cm.
Tinggi ruang bebas antara 25-40 cm.
Diameter pasir yang digunakan kira-kira 0,2-0,4 mm
Jumlah bak penyaring minimal dua buah.

Unit pengolahan air dengan saringan pasir lambat merupakan suatu paket. Air baku yang
digunakan yakni air sungai atau air danau yang tingkat kekeruhannya tidak terlalu tinggi.Jika
tingkat kekeruhan air bakunya cukup tinggi misalnya pada waktu musim hujan, maka agar
supaya beban saringan pasir lambat tidak telalu besar, maka perlu dilengkapi dengan peralatan
pengolahan pendahuluan misalnya bak pengendapan awal atau saringan "Up Flow" dengan
media berikil atau batu pecah.
Secara umum, proses pengolahan air bersih dengan saringan pasir lambat Up Flow sama
dengan saringan pasir lambat Up Flow terdiri atas unit proses:

Bangunan penyadap
Bak Penampung/bak Penenang
Saringan Awal dengan sistem "Up Flow"
Saringan Pasir Lambat Utama "Up Flow"
Bak Air Bersih
Perpipaan, kran, sambungan dll.

Kapasitas pengolahan dapat dirancang dengan berbagai macam ukuran sesuai dengan
kebutuhan yang diperlukan.
2.4.4

Pembangunan Alat

Salah satu rancangan detail konstruksi sistem saringan pasir lampat 'Up Flow" dengan
kapasitas 100 m3 per hari ditunjukkan seperti pada Gambar 2.30 s/d Gambar 2.32.
Bahan yang digunakan
Bahan yang digunakan untuk pembuatan percontohan unit pengolahan air bersih dengan
proses saringan pasir lambat Up Flow antara lain :

Bak penenang manupun bak penyaring dibuat dengan konstruksi beton cor.
Perpipaan menggunakan pipa PVC (poly vinyl chloride) diameter 4".
Media filter yang digunakan yakni batu pecah (split) ukuran 2-3 cm untuk lapisan
penahan, dan pasir sungai/pasir silika untuk lapisan penyaring.
53

Gambar 2.30. Rancangan alat pengolah air bersih " Saringan Pasir Lambat Up Flow"
kapasitas 100 m3/hari. Tampak Atas.

Gambar 2.31. Rancangan alat pengolah air bersih " Saringan Pasir Lambat Up Flow"
kapasitas 100 m3/hari. Potongan A -A.

54

Gambar 2.32. Rancangan " Saringan Pasir Lambat Up Flow" kapasitas 100 m3/hari. Potongan
B-B dan C-C.
Spesifikasi teknis
Salah satu contoh unit pengolahan air dengan saringan pasir lambat "Up Flow" adalah unit ala
pengolah air yang dibangun di Pesantren La Tansa, Lebak, Jawa barat, dengan kapasitas
100 m3/hari seperti ditunjukkan pada gambar desain seperti pada Gambar 2.33.

Gambar 2.33.Unit Pengolahan Air Bersih dengan Saringan pasir lambat dengan arah aliran
dari bawah ke atas (Up Flow) yang sedang beroperasi. Kapasitas 100 m3/hari.
55

Spesifikasi Alat adalah sebagai berikut:


Kapasitas Pengolahan
Bangunan Penyadap
Bak Penerima/Bak Penenang Awal
Saringan Up Flow Awal
Tebal Lapisan Kerikil:
Batu Pecah, ukuran 2 - 3 cm
Batu Pecah , ukuran 1 - 2 cm
Pasir
Kecepatan Penyaringan
Bak Penenang Ke Dua
Saringan Pasir Up Flow Kedua
Kecepatan Penyaringan
Bak Air Bersih
Tebal Lapisan Kerikil:
Batu Pecah, ukuran 2 - 3 cm
Batu Pecah , ukuran 1 - 2 cm
Pasir
Bahan bangunan

: 100 m3/hari.
: Pipa PVC diameter 4 " (berlubang)
: 80 cm x 300 cm x 250 cm
: Ukuran : 200 cm x 300 cm x 225 cm
: 20 cm
: 10 cm
: 70 cm
: 16 m3/m2.hari.
: 80 cm x 500 cm x 225 cm (2 Buah)
: 200 cm x 500 cm x 200 cm (2 buah)
: 5 m3/m2.hari.
: 200 cm x 580 cm x 200 cm ( 20 m3)
: 20 cm
: 10 cm
: 70 cm
: Beton semen cor

Keunggulan
Pengolahan air bersih menggunakan sistem saringan pasir lambat dengan arah aliran dari
bawah ke atas mempunyai keuntungan antara lain:

Tidak memerlukan bahan kimia, sehingga biaya operasinya sangat murah.


Dapat menghilangkan zat besi, mangan, dan warna serta kekeruhan.
Dapat menghilangkan ammonia dan polutan organik, karena proses penyaringan berjalan
secara fisika dan biokimia.
Sangat cocok untuk daerah pedesaan dan proses pengolahan sangat sederhana.
Perawatan mudah karena pencucian media penyaring (pasir) dilakukan dengan cara
membuka kran penguras, sehingga air hasil saringan yang berada di atas lapisan pasir
berfungsi sebagai air pencuci. Dengan demikian pencucian pasir dapat dilakukan tanpa
pengerukan media pasirnya.

Hasil pengolahan
Berdasarkan hasil uji coba alat pengolah air saringan pasir lambat Up Flow yang telah
dibangun di Pesantren La Tansa, Lebak, Jawa Barat, dengan kapasitas operasi 120 m3/hari,
didapatkan hasil analisa kualias air sebelum dan sesudah pengolahan seperti pada Tabel 2.8.
Dari hasil analisa tersebut dapat dilihat bahwa dengan teknologi saringan pasir lambat
tersebut dapat menurunkan zat besi dari 1,16 mg/lt menjadi 0,36 mg/lt. Konsentrasi
ammonium juga turun dari 0,4 mg/lt menjadi tak terdeteksi.
Dari hasil analisa air tersebut secara umum dapat diketahui bahwa hasil air olahan dengan
saringan pasir lambat dengan arah aliran dari bawah ke atas tersebut sudah memenuhi syarat
sebagai air bersih, dan jika direbus sudah dapat digunakan sebagai air minum sesuai dengan
standar kesehatan

56

Tabel 2.8. Hasil Analisa Air Baku dan Air Olahan


Sifat Fisika
1
Keadaan
2
Bau
3
rasa
4
Suhu
5
Kekeruhan
6
Warna
7
Daya Hantar Listrik
Sifat Kimia
S
pH
9
Jumlah Zat Padat
10
Karbon dioksida bebas Karbon
dioksida agresif
11
alkalinitas:
a. phonolphtalein
b. Total
c. hidroksida
d. karbonat
e. bikarbonat
12
Kesadahan
13
Kalsium
14
Magnesium
15
Besi Total
Terlarut
16
Mangan
17
Ammonium
18
Nitrit
19
Nitrat
20
Angka Permanganat
21
Khlorida
22
Sulfat

2.4.5

Satuan

Air Baku

Air Olahan

Standar

C
NTU
Pt-Co
mmhos/cm

277
28,8
25
75

27,7
4,8
0,9
79

tak berbau
tak berasa
normal
5
50

mg/lt
mg/lt mg/lt

6,9
65
-

7,0
63
-

6,5 - 9,0
1500
-

24,2
5,9
17,3
1,16
negatip
0,4
negatip
1,25
1,50
1,0

24,6
6,1
17,4
0,36
negatip
ttd
negatip
1,0
1,55
1,0

500
200
150
1,0
0,5
1,0
10
10
600
400

mg/lt CaC03
sda
sda
sda
sda
sda
mg/lt CaCO3
sda
mg/lt-Fe
sda
mg/It-Mn
mg/lt-NH4+
mg/lt-NO2
mg/lt-NO3
mg/lt
mg/lt-Clmg/lt-SO4

Operasi dan Perawatan

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hal pengoperasian saringan pasir lambat dengan
arah aliran dari atas ke bawah antara lain yakni:

Kecepatan penyaringan harus diatur sesuai dengan kriteria perencanaan.


Jika kekeruhan air baku cukup tinggi sebaiknya kecepatan diatur sesuai dengan kecepatan
disain mimimum (5 m3/m2.hari).
Pencucian media penyaring (pasir) pada saringan awal (pertama) sebaiknya dilakukan
minimal setelah 1 minggu operasi, sedangkan pencucian pasir pada saringan ke dua
dilakukan minimal setelah 3-4 minggu operasi.
Pencucian media pasir dilakukan dengan cara membuka kran penguras pada tiap-tiap bak
saringan, kemudian lumpur yang ada pada dasar bak dapat dibersihkan dengan cara
mengalirkan air baku sambil dibersihkan dengan sapu sehingga lumpur yang mengendap
dapat dikelurakan. Jika lupur yang ada di dalam lapisan pasir belum bersih secara
sempurna, maka pencucian dapat dilakukan dengan mengalirkan air baku ke bak saringan
pasir tersebut dari bawah ke atas dengan kecepatan yang cukup besar sampai lapisan pasir
terangkat (terfluidisasi), sehingga kotoran yang ada di dalam lapisan pasir terangkat ke
atas. Selanjutnya air yang bercampur lumpur yang ada di atas lapisan pasir dipompa
keluar sampai air yang keluar dari lapisan pasir cukup bersih.

57

Gambar 2.34. Pencucian media pasir


2.4.6

Penutup

Aspek yang paling menarik dari sistem saringan pasir lambat adalah pengoperasiannya
sederhana, mudah dan murah. Apabila konstruksi saringan dirancang sesuai dengan kriteria
perencanaan, maka alat ini dapat menghasilkan hasil yang baik dan murah. Di dalam proses
saringan pasir lambat ini selain terjadi penyaringan secara fisik juga terjadi proses biokimia.
Mikroorganisme yang hidup dan menempel pada permukaan media menyaring dapat
menguraikan senyawa organik, amonium serta senyawa mikro polutan lainnya. Selain itu
dengan proses saringan pasir lambat juga dapat menurunkan zat besi dan mangan yang ada
dalam air baku.
Sistem saringan pasir lambat ini sangat sesuai diterapkan di daerah pedesaan di negaranegara berkembang, khususnya di Indonesia, karena sistem ini cukup sederhana baik dari segi
konstruksi operasionalnya, serta biaya operasinya sangat murah. Di samping itu, sistem
saringan pasir lambat ini dapat dirancang mulai dari kapasitas yang kecil sampai kapasitas
yang besar.

Gambar 2.35. Pembangunan bak penyaringan

58

Gambar 2.36. Pengisian lapisan kerikil

Gambar 2.37. Bak penenang ke dua.

Gambar 2.38. Pengisian media pasir ke dalam bak penyaringan.

59

Gambar 2.39. Bak penenang awal

Gambar 2.40. Bak penenanang ke dua

Gambar 2.41. Unit pengolahan air bersih dengan proses saringan pasir lambat Up Flow
yang sedang beroperasi.

60

Latihan/Soal.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.

Jelaskan pentingnya penyediaan air bersih bagi kehidupan manusia!


Jelaskan pengertian air bersih dan air minum !
Sebut dan jelaskan syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam penyediaan air bersih
menurut Permenkes No. 416 tahun 1990!
Jelaskan pula persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengetahui kelayakan air bersih
dari segi kualitas!
Sebutkan macam-macam sumber air baku!
Jelaskan kelebihan dan keterbatasan dari setiap sumber tersebut dari segi kualitas,
kontinuitas, kuantitas dan biaya!
Berikan contoh dan uraikan sarana penyediaan air bersih dengan sistem komunal dan
individual yang saudara ketahui
Apakah yang dimaksud dengan kapasitas pengolahan, kapasitas distribusi dan kapasitas
produksi ?
Apakah yang dimaksud dengan pemakaian jam puncak dan pemakaian hari maksimum?
Tentukan kapasitas pengolahan, kapasitas distribusi, dan kapasitas produksi sampai
tahun 2008 bila dikethaui:
Jumlah penduduk pada tahun: 75.000 jiwa
Prosentase pertumbuhan penduduk setiap tahun rata-rata 1,15%.
Berikan contoh jenis-jenis bangunan penangkap air!
Apakah yang dimaksud dengan sistem transmisi air bersih?
Sebutkan faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan sistem transmisi air
bersih!
Uraikan dengan singkat proses pengolahan yang saudara ketahui! Jelaskan jenis dan
fungsi masing-masing bangunan pengolahan air bersih!
Sebutkan faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam perencanaan dalam perencanaan
sistem distribusi air bersih.
Uraikan dengan singkat bagaimana saudara memilih tipe pengaliran dan jaringan air
bersih sesuai dengan daerah layanan!
Bagaimana cara mendeteksi kebocoran dan upaya apa yang harus dilakukan untuk
mengurangi terjadinya kebocoran!
Uraikan dengan singkat bagaimana saudara merencanakan bangunan penangkap air.
Uraikan dengan singkat bagaimana saudara merencanakan pengelolaan air bersih
dengan proses saringan pasir lambat.
Tugas Sistem Penyediaan Air Bersih
Penduduk Kota Kecamatan A tahun 1996 25.000 jiwa. Tingkat pertumbuhan penduduk
rata-rata tiap tahun 1,5%. Survey lokasi menunjukkan data-data sebagai berikut:
Kondisi topografi relatif datar ketinggian muka air tanah rata-rata < 7 meter Terdapat
sumber mata air dengan debit 5 l/dt
Sistem penyediaan air bersih yang ada saat ini:
50 % menggunakan sumur gali
30 % menggunakan sumur pompa tangan dangkal
10 % menggunakan perlindungan mata air
Sisanya belum mempunyai sarana penyediaan air bersih
Tingkat pendapatan masyarakat adalah sebagai berikut:
40 % penduduk berpendapatan Rp 100 - 300 ribu
20 % penduduk berpendapatan Rp > 300 ribu
40 % penduduk berpendapat Rp < 100 ribu
61

Data kualitas air sumur menunjukkan kualitas yang kurang memenuhi syarat kesehatan
yaitu kadar kesadahan cukup tinggi dan pada musim kemarau debit air sumur
berkurang.
Bila pada daerah tersebut akan dilakukan peningkatan sarana penyediaan air bersih,
maka terlebih dahulu dilakukan survey sosek yang menghasilkan data:
60 % penduduk berminat dan mampu untuk menyambung
30 % penduduk berminat tetapi tidak mampu
10 % penduduk tidak berminat dan tidak mampu
Jika saudara mendapatkan data seperti diatas, langkah-langkah apa yang harus saudara
lakukan untuk mengatasi masalah, dan rencanakan pula pemenuhan kebutuhan air
bersih berdasarkan tahun perencanaan yang saudara buat.

62