Anda di halaman 1dari 18

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DEMONSTRASI


SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN MINAT BELAJAR
SISWA KELAS XII IPS 1 DI SMA 17 AGUSTUS 1945
SURABAYA PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI MATERI
ASPEK-ASPEK INTERPRETASI CITRA PENGINDERAAN
JAUH

Oleh

: Dwi Wulandari Oktovianis

NIM

: 13040274079

Jurusan/Prodi : Pendidikan Geografi/S-1 Pend. Geografi

PROGRAM PENGEMBANGAN PROFESI GURU (PPPG)


UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2016

KATA PENGANTAR

Segenap puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat
dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal Penelitian Tindakan Kelas
yang

berjudul

Penerapan

Model

Pembelajaran

Demonstrasi

Sebagai

Upaya

Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas XII IPS 1 di SMA 17 Agustus 1945 Surabaya
Pada Mata Pelajaran Geografi Materi Aspek-aspek Interpretasi Citra Penginderaan
Jauh. Penelitian ini ditujukan untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah PPP.
Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya saya sampaikan kepada:
1. Rochma, selaku dosen pembimbing lapangan yang telah memberikan bimbingan dan
arahan dalam penyusunan laporan penelitian ini.
2. Dra.Iin Hendarti, selaku guru pamong mata pelajaran Geografi di SMA 17 Agustus
1945 Surabaya, yang telah membimbing peneliti, mulai dari awal mengikuti kegiatan
PPL, sampai penyusunan laporan ini.
3. Seluruh karyawan dan pegawai SMA 17 Agustus 1945 Surabaya, serta teman-teman
seperjuangan guru PPL di SMA 17 Agustus 1945 Surabaya.
Proposal penelitian ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu,
diharapkan dari para pembaca untuk memberikan saran maupun kritik yang
membangun. Semoga proposal penelitian ini dapat bermanfaat baik bagi peneliti
maupun bagi para pembaca pada umumnya bagi peningkatan motivasi belajar siswa
agar mencapai prestasi yang maksimal.
Surabaya, September 2016

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL..............................................................................................................................i
KATA PENGANTAR............................................................................................................................ii
DAFTAR
ISI.............................................................................................................................
.............iii

BAB I....................................................................................................................................................1
PENDAHULUAN................................................................................................................................1
A.

LATAR BELAKANG MASALAH.......................................................................1

B.

RUMUSAN MASALAH.................................................................................... 3

C.

TUJUAN PENELITIAN.................................................................................... 3

BAB II..................................................................................................................................................4
KAJIAN PUSTAKA............................................................................................................................4
Minat Belajar.................................................................................................. 4

A.
1.

Pengertian minat.......................................................................................... 4

2.

Pengertian Belajar........................................................................................ 4

3.

Unsur-unsur minat........................................................................................ 6

4.

Fungsi Minat dalam Belajar............................................................................8

B.

Teori Belajar................................................................................................... 9

C.

Metode Demonstrasi......................................................................................... 9
1.

Pengertian Metode Demonstrasi......................................................................9

2.

Fungsi Metode Demonstrasi..........................................................................11

3.

Kelebihan dan kekurangan Metode Demonstrasi..............................................11

BAB III...............................................................................................................................................13
METODE PENELITIAN..................................................................................................................13
1.

Tempat penelitian........................................................................................... 13

2.

Subjek penelitian........................................................................................... 13

3.

Waktu penelitian............................................................................................ 13

4.

Variabel Penelitian......................................................................................... 13
5.

Jenis dan Desain Penelitian...........................................................................13

6.

Teknik pengumpulan data................................................................................ 15

7.

Teknik analisis data........................................................................................ 15

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................................17

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Kualitas suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)
yang dimiliki oleh bangsa tersebut. Untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya
Manusia (SDM) maka diperlukan peran penting pendidikan. Pendidikan yang
berkualitas mampu meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada.
Agar pendidikan lebih berkualitas maka diperlukan pembaharuan dalam bidang
pendidikan. Pembaharuan ini dilakukan dalam rangka mencari struktur kurikulum,
sistem pendidikan, dan metode pengajaran yang efektif dan efisien untuk
meningkatkan kualitas nasional. Selain itu untuk menunjang pendidikan yang
berkualitas maka diperlukan pula komponen-komponen pengajar yang berkualitas.
Komponen yang utama dalam kegiatan belajar mengajar adalah guru.
Tugas utama guru bukan hanya menyampaikan pengetahuan, melainkan
memupuk pengertian, membimbing siswa untuk belajar sendiri dan memunculkan
minta pada siswa untuk mempelajari sesuatu sehingga mereka dapat belajar dengan
sungguh-sungguh. Ketika seorang guru mampu melaksanakan tugas utamanya dengan
baik, maka hasil yang dicapai selama proses belajar mengajar juga akan maksimal.
Dalam menunjang keberhasilan proses belajar mengajar maka diperlukan adanya
sebuah model pembelajaran yang dinilai efektif. Model pembelajaran yang digunakan
oleh guru akan sangat mempengaruhi hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik.
Sehingga model pembelajaran yang diterapkan selama proses belajar mengajar akan
sangat membantu guru, terutama dalam mata pelajaran yang dianggap sulit oleh
peserta didik dan kurang diminati. Salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit dan
kurang diminati oleh peserta didik adalah mata pelajaran Geografi.
Tinggi rendahnya minat peserta didik terhadap mata pelajaran Geografi sangat
mempengaruhi hasil belajar mereka. Sebagian dari nilai mereka tidak memenuhi
KKM. Hal ini hampir sama dengan yang dialami oleh peserta didik di SMA 17
Agustus 1945 Surabaya. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran
Geografi kelas XII IPS 1 di SMA 17 Agustus 1945 Surabaya yaitu Ibu Dra. Iin
Hendrati, beliau mengatakan bahwa minat belajar peserta didik terhadap mata
pelajaran Geografi sangat rendah. Banyak peserta didik yang menganggap remeh
pelajaran Geografi, sehingga ketika guru menyampaikan materi pelajaran Geografi di
kelas, sebagian besar peserta didik tidak mendengarkan dan ini membuat hasil belajar
mereka tidak mencapai KKM. Selain itu berdasarkan pengamatan yang dilakukan di
1

lapangan melalui tugas harian yang diberikan setelah proses penyampaian materi oleh
guru menunjukkan hasil bahwa 70% peserta didik kurang memenuhi kriteria dari
tugas yang telah ditetapkan. Oleh karena itu sebagai peneliti yang bekerjasama dengan
guru mata pelajaran Geografi kelas XII memberikan alternatif serta tindakan
pemecahan permasalahan yang dihadapi peserta didik dengan cara menerapkan
metode pembelajaran Demonstrasi untuk mengoptimalkan tercapainya hasil belajar
peserta didik dan agar materi pelajaran yang disampaikan guru mendapat perhatian
dari peserta didik.
Peneliti tertarik menggunakan model pembelajaran Demonstrasi karena
merupakan metode yang sesuai untuk mengatasi permasalahan tersebut dan membuat
peserta didik fokus selama proses-belara mengajar. Sehingga mudah untuk
menangkap atau memahami materi-materi yang diajarkan oleh guru. Karena
Demonstrasi merupakan alternatif merupakan metode penyajian pembelajaran
dengan memperagakan dan menunjukan kepada siswa tentang suatu proses, situasi,
atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan yang dikembangkan
agar metode ceramah yang dibawakan oleh guru mendapat perhatian. Ketika peserta
didik memperhatikan dengan baik setiap tahapan yang disampaikan oleh guru, maka
mereka akan dengan mudah memahami materi pelajaran yang disampaikan sehingga
hasil belajar mereka akan mencapai nilai di atas KKM.
Hasil belajar menurut Sudjana (2006) adalah suatu hal yang telah dicapai
peserta didik sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya melalui suatu usaha belajar
yang dikerjakan pada saat tertentu. Hasil belajar digunakan sebagai tolak ukur oleh
guru.
Berdasarkan dari latar belakang di atas, maka peneliti mengadakan penelitian
dengan judul Penerapan Model Pembelajaran Demonstrasi Sebagai Upaya
Meningkatkan Minat Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Geografi Materi
Aspek-aspek Interpretasi Citra Penginderaan Jauh di SMA 17 Agustus 1945
Surabaya.

B. RUMUSAN MASALAH
Dari uraian latar belakang di atas dapat diperoleh rumusan masalah sebagai
berikut: Bagaimana hasil belajar yang dicapai peserta didik setelah penerapan model
pembelajaran Demonstrasi pada mata pelajaran Geografi kelas XII IPS 1 di SMA 17
Agustus 1945 Surabaya?
2

C. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan:
Mengetahui perbandingan hasil belajar peserta didik yang dicapai setelah
penerapan model pembelajaran Demonstrasi pada mata pelajaran Geografi kelas XII
IPS 1 di SMA 17 Agustus 1945 Surabaya.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Minat Belajar
Untuk memudahkan pemahaman tentang minat belajar, maka dalam
pembahasan ini terlebih dahulu akan diuraikan menjadi minat dan belajar.
1. Pengertian minat
Secara bahasa minat berarti kecenderungan hati yang tinggi terhadap
sesuatu. Minat merupakan sifat yang relatif menetap pada diri seseorang. Minat
besar sekali pengaruhnya terhadap kegiatan seseorang sebab dengan minat ia akan
melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya tanpa minat seseorang tidak
akan mungkin melakukan sesuatu. Sedangkan pengertian minat secara istilah telah
banyak dikemukakan oleh para ahli, diantaranyayang dikemukakan oleh hilgard
yang dikutip oleh Slameto menyatakan Interest is persisting tendency to pay
attention to end enjoy some activity and content. (Slameto, 1991:57).

Sardiman A.M.

berpendapat bahwa minat diartikan sebagai suatu

kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi
yang dihubungkan dengan keinginan-keinginannya atau kebutuhan-kebutuhannya
sendiri (Sardiman, 1988:76). Sedangkan menurut I.L. Pasaribu dan Simanjuntak
mengartikan minat sebagai suatu motif yang menyebabkan individu-individu
berhubungan secara aktif dengan sesuatu yang menariknya. Selanjutnya menurut
Zakiah Daradjat, dkk., mengartikan minat adalah kecenderungan jiwa yang tetap
ke jurusan sesuatu hal yang berharga bagi orang. (Daradjat, 1955:133).
Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli seperti yang
dikutip di atas dapat disimpulkan bahwa, minta adalah kecenderungan seseorang
terhadap objek atau sesuatu kegiatan yang digemari yang disertai dengan perasaan
senang, adanya perhatian, dan keaktifan berbuat.
2. Pengertian Belajar
Belajar menurut bahasa adalah usaha berlatih) dansebagai upaya
mendapatkan kepandaian (Poerwadarminta, 1976: 965). Sedangkan menurut
istilah yang dipaparkan oleh beberapa ahli, diantaranya oleh Ahmad Fauzi yang
mengemukakan bahwa Belajar adalah suatu proses dimana suatu tingkah laku
yang ditimbulkan atau diperbaiki melalui serentetan reaksi atas serentetan reaksi
atas situasi yang terjadi (Fauzi, 2004:44). Kemudian Slameto mengemukakan
pendapat dari Gronback yang mengatakan Learning is show by a behavior as a
result pf experience (Slameto, 1991:2).
Selanjutnya Moh.Uzer Usman dan Lilis Setiawan mengartikan belajar sebagai
perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu
dengan individu dengan lingkungan sehingga mereka lebih mampu berinteraksi
dengan lingkungannya (Usman, 2002:4).
Nana Sudjana mengatakan Belajar adalah proses yang aktif. Belajar
adalah mereaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar
adalah proses yang diarahkan kepada tujuan, proses berbuat melalui berbagai
pengalaman. Belajar adalah proses melihat, mengamati, memahami sesuatu
(Sudjana, 1987:28).
Sedangkan menurut Gagne, Belajar adalah perubahan disposisi atau
kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. Perubahan disposisi
tersebut bukan diperoleh langsung dari proses petumbuhan seseorang secara
ilmiah. Lalu Harold Spears berpendapat, Learning is to observe, to read, to
imitate, to try, something themselves, to listen to follow direction. Yang artinya
4

bahwa belajar adalah mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu,


mendengar, dan mengikuti arah tertentu serta mengikuti petunjuk yang ada
(Suprijono:2009).
Learning is any relatively permanent change in behavior that is a result
of past experience, Morgan berpendapat bahwa perubahan perilaku yang bersifat
permanen sebagai hasil dari pengalaman.
Dari beberapa pengertian belajar yang telah dikemukakan oleh para ahli tersebut,
dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu perubahan tingkah laku individu
dari hasil pengalaman dan latihan. Perubahan tingkah laku tersebut, baik dalam
aspek pengetahuannya (kognitif), keterampilannya (psikomotor), maupun
sikapnya (afektif).
Dari pengertian minat dan pengertian belajar seperti yang telah diuraikan
di atas, maka dapat disimpulkan bahwa minat belajar adalah sesuatu keinginan
atau kemauan yang disertai perhatian dan keaktifan yang disengaja yang akhirnya
melahirakan rasa senang dalam perubahan tingkah laku, baik berupa pengetahuan,
sikap dan keterampilan.
3. Unsur-unsur minat
a. Perhatian
Perhatian sangatlah penting dalam mengikuti kegiatan dengan baik dan
hal ini akan berpengaruhi pula terhadap minat peserta didik dalam belajar.
Menutut Sumadi Suryabrata Perhatian adalah banyak sedikitnya kesadaran
yang menyertai sesuatu aktivitas yang dilakukan (Suryabrata,1989:14). Wasti
Sumanto berpendapat perhatian adalah pemusatan tenaga atau kekuatan jiwa
tertentu kepada suatu objek, atau pendayagunaan kesadaran untuk menyertai
saat aktivitas (Sumanto,1984:32). Kemudian aktivitas yang disertai dengan
perhatian intensif dan lebih sukses dan prestasinya pun akan lebih tinggi.
Maka dari itu sebagai seorang guru harus selalu berusaha untuk menarik
perhatian anak didiknya sehingga mereka mempunyai minat terhadap
pelajaran yang diajarkannya.
Orang yang menaruh minat pada suatu aktivitas akan memberikan
perhatian yang besar. Ia tidak segan mengorbankan waktu dan tenaga demi
aktivitas tersebut. Oleh karena ituseorang peserta didik yang mempunyai
perhatian terhadap suatu pelajaran, ia pasti akan berusaha keras untuk
memperoleh nilai yang bagus yaitu dengan belajar.
b. Perasaan

Perasaan dapat didefinisikan sebagai gejala psikis yang bersifat


subjektif yang umumnya berhubungan dengan gejala-gejala mengenal dan
dialami dalam kualitas senang maupun perasaan tidak senang dalam berbagai
taraf. Tiap aktivitas dan pengalaman yang dilakukan akan selalu diliputi oleh
suatu perasaan, baik perasaan senang maupun perasaan tidak senang. Perasan
umumnya bersangkutan dengan fungsi mengenal artinya perasaan dapat timbul
karena mengamati, menganggap, mengingat-ingat atau memikirkan sesuatu.
Yang dimaksud dengan perasaan di sini adalah perasaan senang dan
perasaan tertarik. Perasaan merupakan aktivitas psikis yang didalamnya
subjek menghayati nilai-nilai dari suatu objek. (Winkell, 1983:30). Perasaan
sebagai faktor psikis non intelektual, yang khusus berpengaruh terhadap
semangat belajar. Jika seorang peserta didik mengadakan penilaian yang agak
spontan melalui perasaannya tentang pengalaman belajar di sekolah, dan
penilaian itu menghasilkan penilaian yang positif maka akan timbul perasaan
senang dihatinya, akan tetapi jika penilaiannya negatif maka timbul perasaan
tidak senang.
Perasaan senang akan menimbulkan minat, yang diperkuat dengan
sikap positif. Sedangkan perasaan tidak senang akan menghambat dalam
mengajar, karena tidak adanya sikap yang positif sehingga tidak menunjang
minat dalam belajar.
c. Motif
Kata motif diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang
untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari
dalam dan di dalam subyek untuk melakukan kreativitas tertentu demi
mencapai suatu tujuan. Menurut Sumadi Suryabrata, motif adalah keadaan
dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitasaktivitas tertentu guna mencari suatu tujuan. Seseorang melakukan aktivitas
belajar karena ada yang mendorongnya. Dalam hal ini motivasi sebagai dasar
penggeraknya yang mendorong seseorang untuk belajar. Dan minat merupakan
potensi psikologi yang dapat dimanfaatkan untuk menggali motivasi bila
seseorang sudah termotivasi untuk belajar, maka dia akan melakukan aktivitas
belajar dalam rentang waktu tertentu.
Ketiadaan minat terhadap suatu mata pelajaran menjadi pangkal
penyebab kenapa anak didik tidak bergeming untuk mencatat apa-apa yang
telah disampaikan oleh guru. Itulah sebagai petanda bahwa anak didik tidak
6

mempunyai motivasi untuk belajar. Oleh karena itu guru harus bisa
membangkitkan minat anak didik. Sehingga anak didik yang pada mulanya
tidak ada hasrat untuk belajar, tetapi karena ada sesuatu yang diberi muncullah
minatnya untuk belajar.
Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang
yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tak akan mungkin melakukan
aktivitas belajar. Hal ini merupakan pertanda bahwa sesuatu yang akan
dikerjakan itu tidak menyentuh kebutuhannya. Dan segala sesuatu yang
menarik minat orang tertentu selama sesuatu itu tidak bersentuhan dengan
kebutuhannya. Oleh karena itu, apa yang seseorang lihat sudah tentu
membangkitkan minatnya sejauh apa yang ia lihat itu mempunyai hubungan
dengan kepentingannya sendiri.
Jadi, motivasi merupakan dasar penggerak yang mendorong aktivitas
belajar seseorang sehingga ia berminat terhadap sesuatu objek, karena minat
adalah alat mootivasi dalam belajar.
4. Fungsi Minat dalam Belajar
Minat merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi usaha yang
dilakukan seseorang. Minat yang kuat akan menimbulkan usaha yang gigih serius
dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi tantangan. Jika seorang peserta
didik memiliki rasa ingin belajar, ia akan cepat mengerti dan memahaminya.
Elizabeth B. Hurlock menulis fungsi minat bagi kehidupan anak sebagaimana
yang ditulis oleh Abdul Wahid sebagai berikut:
a. Minat mempengaruhi bentuk intensitas cita-cita
Sebagai contoh, anak berminat pada olahraga maka cita-citanya adalah
menjadi olahragawan yang berprestasi, sedang anak yang berminat pada
kesehatan fisiknya maka cita-citanya menjadi dokter.
b. Minat sebagai tenaga pendorong yang kuat
Minat anak untuk menguasai pelajaran bisa mendorongnya untuk belajar
kelompok di tempat temannya meskipun suasana sedang hujan.
c. Prestasi selalu dipengaruhi oleh jenis dan intensitas
Minat seseorang meskipun diajar oleh guru yang sama dan diberi pelajaran
tapi antara satu anak dan anak yang lain mendapatkan jumlah pengetahuan
yang berbeda. Hal ini terjadi karena perbedaan daya serap mereka dan daya
serap ini dipengaruhi oleh intensitas minat belajar mereka.
d. Minat yang terbentuk sejak kecil/masa kanak-kanak
Hal ini sering terbawa seumur hidup karena minat membawa kepuasan.
Misalnya minat menjadi guru yang telah terbentuk sejak kecil akan terbawa
sampai hal tersebut menjadi kenyataan. Apabila ini terwujud maka semua suka
7

duka menjadi guru tidak akan dirasa karena semua tugas dikerjakan dengan
penuh sukarela. Dan apabila minat ini tidak terwujud maka bisa menjadi
obsesi yang akan dibawa sampai mati (Wahid, 1998: 109-110). Dalam
hubungannya dengan pemusatan perhatian, minat mempunyai peranan dalam
melahirkan perhatian yang serta merta memudahkan terciptanya pemusatan
perhatian dan mencegah gangguan perhatian dari luar (Gie, 2004:57).
Oleh karena itu, minat mempunyai pengaruh yang besar dalam belajar karena
bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat peserta didik
maka peserta didik tersebut tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, sebab
tidak ada daya tarik baginya. Sedangkan bila bahan pelajaran itu menarik
minat peserta didik, maka ia akan mudah dipelajari dan disimpan karena
adanya minat sehingga menambah kegiatan belajar.
Fungsi minat dalam belajar lebih besar sebagai motivating force yaitu sebagai
kekuatan yang mendorong peserta didik untuk belajar. Peserta didik yang
berminat kepada pelajaran akan tampak terdorong terus untuk tekun belajar,
berbeda dengan peserta didik yang sikapnya hanya menerima pelajaran,
mereka hanya tergerak untuk mau belajar tetapi sulit untuk terus tekun karena
tidak ada pendorongnya. Oleh sebab itu, untuk memperoleh hasil yang baik
dalam belajar seorang peserta didik harus mempunyai minat terhadap
pelajaran sehingga akan mendorong ia untuk terus belajar.
B. Teori Belajar
Belajar dalam idealisme berarti kegiatan pesiko-fisik-sosio menuju
perkembangan pribadi yang seutuhnya. Sedangkan menurut Reber, belajar adalah the
process oerf

acquiring

knowledge.

Belajar

adalah

proses

mendapatkan

pengetahuan.
C. Metode Demonstrasi
1. Pengertian Metode Demonstrasi
Sanjaya (2011:152) menjelaskan bahwa metode demonstrasi merupakan
metode pembelajaran yang dalam penyajian pelajarannya dilakukan dengan
memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi
atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan.
Metode demonstrasi menurut Djamarah dan Aswan (2006:90) adalah:
Cara penyajian materi pembelajaran dengan memperagakan atau menunjukkan
kepada siswa suatu proses, situasi, atau benda tertentu yangsedang dipelajari baik
sebenarnya maupun tiruan yang disertai denganpenjelasan lisan.
8

Diharapkan dengan penerapan metode demonstrasi dalam proses


pembelajaran, proses penerimaan peserta didik terhadap materi pelajaran akan
lebih berkesan secara mendalam, sehingga dapat membentuk pengertian peserta
didik dengan baik dan sempurna. Selanjutnya, Djamarah danAswan (2006:91)
menambahkan bahwa:
Metode demonstrasi baikdigunakan untuk mendapatkan gambaran lebih
jelas tentang hal- hal yang berhubungan dengan proses mengatur, sesuatu,
bekerjanya, mengerjakan ataumenggunakan, komponen- komponen pembentuk,
membandingkan, dan mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu.
Menurut Syah (2002:208) bahwa: Metode demonstrasi adalah metode
mengajar

dengan

cara

memperagakan

barang,

kejadian,

aturan,

dan

urutanmelakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui


penggunaanmedia pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi
yang sedang disajikan. Selanjutnya, Djamarah dan Aswan (2006:102)
mengatakan bahwa: Metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk
memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan
dengan bahan pelajaran.
Menurut Sagala (2003:210) metode demonstrasi bertujuan untuk:
Memberi

kesempatan

kepada

peserta

didik

untuk

mengembangkan

kemampuannyamengamati segala benda yang sedang terlibat dalam proses


pembelajaranserta dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan yang diharapkan.
Oleh karena itu, setiap langkah pembelajaran yang didemonstrasikan
tersebut dapat dilihat dengan mudah oleh siswa dan dilaksanakan sesuai dengan
proseduryang benar dan mudah dimengerti materi ajarnya.Dalam demonstrasi,
terutama dalam rangka mengembangkan sikap-sikap guru perlu merencanakan
pendekatan secara lebih berhati- hati danmemerlukan kompetensi untuk
membelajarkan siswa. Hal ini diperlukankarena setiap metode pembelajaran
memiliki kelebihan dan kekurangan,demikian juga halnya dengan metode
demonstrasi.
Jadi, metode mengajar demonstrasi hakikatnya untuk menyampaikan
pembelajaran pada siswa dalam penguasaan proses objek tertentu. Metode
mengajar demonstrasi juga identik dengan metode mengajar modeling. Dalam
pelaksanaan metode mengajar demonstrasi ,selain guru yang akan menjadi model
juga dapat mendatangkan narasumber yangakan mendemonstrasikan objek materi

pelajaran,dengan syarat harus menguasai bahan materi yang didemonstrasikan,


serta mengutamakan aktivitas siswa untuk melakukan demonstrasi tersebut.

2. Fungsi Metode Demonstrasi


Metode demonstrasi merupakan metode mengajar yang menyajikan bahan
pelajaran dengan mempertunjukkan secara langsung objek atau cara melakukan
sesuatu sehingga dapat mempelajarinya secara proses. Demonstrasi dapat
digunakan pada semua mata pelajaran disesuaikan dengan topik dan tujuan
pembelajaran yang akan dicapainya. Demonstrasi digunakan semata-mata hanya
untuk :
Mengonkretkan suatu konsep atau prosedur yang abstrak.
Mengajarkan bagaimana berbuat atau menggunakan prosedur secara tepat.
Menyakinkan bahwa alat dan prosedur tersebut bisa digunakan.
Membangkitkan minat menggunakan alat dan prosedur.
3. Kelebihan dan kekurangan Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi memiliki kelebihan dan kelemahan seperti metodemetode pembelajaran lainnya. Menurut Djamarahdan Aswan (2006:91) kelebihan
dan kelemahan dari metode demonstrasiadalah sebagai berikut:
a. Kelebihan Metode Demonstrasi
1) Dapat membuat proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan lebih
konkret,sehingga akan dapat menghindari verbalisme (pemahaman
secara kata- kata atau kalimat).
2) Menjadikan
siswa
lebih

mudah

memahami

tentang

materi pembelajaran yang diajarkan.


3) Proses pembelajaran menjadi lebih menarik.4. Siswa dirangsang untuk
aktif mengamati, menyesuaikan antarateori dengan kenyataan, dan
mencoba melakukannya sendiri.
b. Kelemahan Metode Demonstrasi
1) Penerapan metode Demonstrasi

dalam

proses

pembelajaran

memerlukan keterampilan khusus dari guru karena tanpa pemahaman


yang maksimal dari guru dapat menyebabkan pelaksanaan metode
demonstrasi dalam proses pembelajaran menjadi tidak efektif.
2) Fasilitas pembelajaran seperti peralatan, tempat, dan
yangmemadai tidak selalu tersedia dengan baik.
3) Penerapan metode demonstrasi dalam proses

biaya

pembelajaran

memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang, disamping


10

memerlukan waktu yang cukup panjang dan terpaksa mengambil


waktu pelajaran lain.
Namun demikian, menurut Sagala (2003:212) ada beberapa cara yang dapat
dilakukan untuk mengatasi kelemahan- kelemahan dari metode demonstrasi, yaitu:
1) Guru harus menentukan terlebih dahulu kompetensi yang ingindicapai dari proses
pembelajaran
2) Guru harus mengarahkan proses demonstrasi, sehingga peserta didikmemperoleh
pengertian

dan

gambaran

yang

benar

serta pembentukan

sikap

dan

kecakapan praktis
3) Usahakan agar seluruh peserta didik dapat mengikuti pelaksanaan demonstrasi,
sehingga dapat memperoleh pengertian dan pemahaman yang sama
4) Pilih dan kumpulkan alat- alat demonstrasi yang akan dilaksanakan
5) Berikan pengertian yang jelas tentang landasan teori dari hal- halyang
didemonstrasikan dan hindari pemakaian istilah yang tidakdipahami oleh peserta
didik
6) Sedapat mungkin materi pelajaran yang didemonstrasikan merupakan hal- hal
yang bersifat praktis dan berguna dalam kehidupan sehari-hari
7) Tetapkan garis-garis besar langkah- langkah demonstrasi yang akan dilaksanakan

BAB III
METODE PENELITIAN
1. Tempat penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA 17 Agustus 1945 Surabaya Kelas XII IPS 1
2. Subjek penelitian
Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas XII IPS 1 SMA 17 Agustus 1945
Surabaya tahun ajaran 2016/2017 sebanyak 36 orang.
3. Waktu penelitian
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 9-19 Agustus 2016

11

4. Variabel Penelitian
a. Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah implementasi model pembelajaran
dengan tipe Demonstrasi.
b. Variabel kontrol
Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah tingkat minat belajar peserta didik
kelas XII IPS 1 SMA 17 Agustus 1945 Surabaya tahun ajaran 2016/2017
terhadap mata pelajaran Geografi materi Aspek-aspek interpretasi citra
penginderaan jauh
5. Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian yang dilaksanakan ini adalah penelitian kuantitatif yang
bertujuan untuk melihat pengaruh penerapan model pembelajaran

tipe

Demonstrasi terhadap mintat belajar peserta didik kelas XII IPS 1 SMA 17
Agustus tahun ajaran 2016/2017 pada materi aspek-aspek interpretasi citra
penginderaan jauh.
Secara prosedural penelitian ini menggunakan satu siklus, hal ini
dikarenakan terbatasnya waktu penelitian. Siklus tersebut dilaksanakan sesuai
dengan strategi pengorganisasian pembelajaran dengan perubahan yang ingin
dicapai. Setiap siklus tersebut dibagi menjadi beberapa tahapan, yaitu:
a. Tahap perencanaan
Perencanaan awal dari penelitian tindakan kelas (PTK) di kelas XII
IPS 1 SMA 17 Agustus 1945 antara lain adalah pertama, menyusun RPP pada
materi aspek-aspek interpretasi citra penginderaan jauh. Kedua, menyiapakan
instrumen penelitian observasi untuk peserta didik. Ketiga, mengembangakan
skenario pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran

tipe

Demonstrasi untuk meningkatkan minat belajar peserta didik.


b. Tahap tindakan
Tahapan tindakan oleh guru di dalam kelas XII IPS 1 SMA 17 Agustus
1945 Surabaya. Pada tahap awal guru melakukan apersepsi, motivasi untuk
mengarahkan peserta didik memasuki kompetensi dasar yang akan dibahas.
Guru menjelaskan gambaran umum tentang pelajaran di dalam kelas. Guru
mendemonstrasikan langkah-langkah kegiatan praktik interpretasi dengan
bantuan media power point.
c. Tahap pengamatan
Pada tahap pengamatan yaitu melakukan pengamatan aktivitas peserta
didik. Pada waktu aktivitas pembelajaran di dalam kelas semua aktivitas
12

peserta didik diamati oleh peneliti. Peneliti melakukan penelitian dengan


didasarkan pada hasil tes dari peserta didik kelas XII IPS 1 SMA Agustus 1945
Surabaya khusus pada bahasan terkait interpretasi citra penginderann jauh.
d. Tahap refleksi
Tahap refleksi dilakukan setelah terkumpul data observasi, dan data
hasil belajar peserta didik. Setelah semua data terkumpul, peneliti mengolah
data yang yang telah dihasilkan. Kegiatan yang dilakukan meliputi analisis,
sintetis, pemaknaan, penjelasan, dan pengumpulan data dari informasi yang
telah berhasil diperoleh. Tahapan refleksi pada siklus pertama ini dilaksanakan
dengan mengidentifikasi, mengevaluasi, menentukan solusi dari kekurangan
dalam pelaksanaan tindakan dan dijadikan pijakan untuk tindakan selanjutnya.

6. Teknik pengumpulan data


Berdasarkan masalah yang diambil dan diteliti maka untuk mendekati
pencapaian tujuan, maka peneliti menggunakan teknik penelitian dengan metode,
yaitu:
a. Metode Observasi
Metode observasi dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
penyelenggaraan belajar dan aktivitas peserta didik selama pembelajaran dengan
pendekatan kontekstual. Pengamatan ini direkam dengan menggunakan lembar
pengamatan pengelolaan pembelajaran dan aktivitas peserta didik dalam
pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Metode ini
ditunjukkan untuk peserta didik kelas XII IPS 1 di SMA 17 Agustus 1945
Surabaya.
b. Metode Dokumentsi
Metode ini digunakan untuk memperoleh informasi mengenai segala
sesuatu yang berkaitan dengan materi dan kondisi sekolah. Dalam hal ini
dokumen yang diperoleh adalah silabus, rpp, jadwal pelajaran, daftar nama dan
jumlah peserta didik atau absensi, dan foto-foto pelaksanaan pembelajaran di kelas
XII IPS 1 di SMA 17 Agustus 1945 Surabaya.
c. Metode Tes
Tes merupakan suatu alat untuk mengukur sesuatu, alat ukur tersebut
dengan sendirinya harus sedemikian keadaannya sehingga memberikan gambaran
hasil seperti yang diharapkan oleh peneliti. Tes ini digunakan untuk mengetahui

13

dan memperoleh data berupa nilai sebagai hasil dari penerapan model
pembelajaran Demonstrasi.
7. Teknik analisis data
Teknik analisis data yang digunakan peneliti adalah didasarkan pada hasil
belajar peserta didik yaitu nilai ulangan di akhir pembelajaran. Kriteria Ketuntasan
Minimum (KKM) mata pelajaran Geografi Kelas XII IPS 1 di SMA Agustus
adalah 80.
Data yang dianalisis adalah perbedaan yang terjadi sebelum pembelajaran
dan setelah pembelajaran. Analisis yang digunakan adalah analisis deskripsi yang
menjelaskan data-data hasil pengamatan observasi dan nilai ulangan. Dengan tolak
ukur dari refleksi penelitian tindakan kelas ini adalah peningkatan minat belajar
yang terlihat dari aktivitas dan antuasias peserta didik dalam pembelajaran yang
secara langsung dapat dilihat dari hasil ulangan.

DAFTAR PUSTAKA
14

Agus, Suprijono. 2009. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta
Pustaka Pelajar
Arikunto, S. 2012. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rhineka Cipta.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka
Cipta
Muhibbin Syah. 2002. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Bandung : Rosdakarya
Sabri, A. 2005. Strategi Belajar Mengajar Microteaching. Jakarta: Quantum Teaching.
Sadirman. 2010. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sagala, Syaiful. (2003). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: CV Alfabeta
Sudjana, Nana. 1987. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Aglesindo
Sudjana, Nana. 2006. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya

15