Anda di halaman 1dari 17

PROPOSAL PENELITIAN

PENAMAAN DESA DAN DUSUN DI KECAMATAN KOPANG

Oleh
Nama : Eva Sivana Dewi
NIM : E1C013007

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA DAN DAERAH


JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu yang menjadi identitas bangsa adalah bahasa. Bangsa
Indonesia ditakdirkan menjadi bangsa yang kaya dan majemuk. Majemuk
suku, agama, dan budaya, bahkan bahasanya. Tercatat pada Kongres Bahasa
Indonesia ke XI di Jakarta, bahwa bangsa kita memiliki lebih dari 746 bahasa
daerah1. Kemudian bahasa Indonesia disepakati sebagai bahasa pemersatu dari
kemajemukan bahasa di negara ini.
Bahasa daerah perlu dipertahankan agar tidak mengalami kepunahan, ini
merupakan suatu hal yang urgen mengingat bahasa merupakan salah satu
bentuk kekayan bangsa ini dan sangat disayangkan apabila hilang begitu saja.
Salah satu upaya dalam melestarikan bahasa adalah penuturnya harus tetap
menggunakan bahasa tersebut dan apabila memungkinkan, lakukan penelitian.
Begitupun yang dilakukan oleh penulis selaku peneliti yang hendak
meneliti bentuk dan makna dari penamaan suatu desa dan dusun di kecamatan
Kopang, Kabupaten Lombok Tengah, tempat tinggal peneliti. Kopang
merupakan kecamatan yang unik dan begitu kukuh dalam memegang teguh
adat istiadatnya. Peneliti mengatakan unik karena kecamatan yang terdiri dari
11 desa dengan 111 dusun2 ini memiliki nama yang unik dan memiliki sejarah
dan cara penamaan tertentu dalam menamakan daerahnya. Meski ada
beberapa daerah yang tidak memiliki arti dalam penamaan tersebut. Masyarkat

1 Kompas (dalam jaringan)


2 Data dari Kantor Camat Kopang

di sana pun percaya dan memegang teguh apa yang menjadi adat istiadat
mereka.
Melihat fenomena di atas, itulah yang membuat peneliti begitu ingin
melakukan penelitian. Salah satu contoh fenomena menarik di atas adalah
nama dusun tempat tinggal peneliti yaitu Aiq Meneng yang berada di desa
Kopang Rembiga yang memiliki arti secara harfiah air dingin, warga setempat
percaya bahwa asal mula penamaan dusun ini adalah karena ada aliran kali
yang melintasi dusun ini yang memiliki air yang sangat jernih, meskipun air
tersebut berasal dari kabupaten Lombok Barat. Dan masih ada lagi nama desa
dan dusun yang lainnya yang tentunya menarik untuk dikaji mengingat
peneltian seperti ini masih sangat jarang dilakukan.
1.2 Rumusan Masalah
Ditinjau dari latar belakang di atas, yang menjadi masalah adalah bentuk
deviasi istilah dalam bahasa Sasak dengan rincian masalah, yakni:
1) Bagaimanakah wujud penamaan dari setiap desa dan dusun yang ada
di kecamatan Kopang?
2) Bagaimanakah makna penamaan dari setiap desa dan dusun yang ada
di kecamatan Kopang?
1.3 Tujuan Penelitian
Ada beberapa tujuan dalam penelitian ini, antara lain:
1. Untuk mendeskripsikan bentuk penamaan dari setiap desa dan dusun yang
ada di kecamatan Kopang.
2. Untuk mendeskripsikan makna dari bentuk penamaan dari setiap desa dan
dusun yang ada di kecamatan Kopang.
1.4 Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoritis

Adapun manfaat penelitian ini secara teoritis yaitu dapat menambah


wawasan mengenai dari penamaan suatu desa dan dusun di kecamatan
Kopang.
b. Manfaat Praktis
1) Peneliti
Penelitian ini merupakan sarana untuk mengasah dan meningkatkan
kemampuan serta kreativitas peneliti dalam mengkaji makna dari
penamaan suatu desa dan dusun di kecamatan Kopang.
2) Para pembaca
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi sehingga
wawasan para pembaca bertambah dan dapat menjadi pertimbangan untuk
memotivasi gagasan-gagasan baru yang lebih kreatif dan inovatif di masa
yang kan datang.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
2.1 Kajian Pustaka
Peneliti mengambil beberapa contoh judul penelitian yang telah dilakukan
oleh beberapa mahasiswa FKIP Unram dan mahasiswa di luar Unram yang
mempunyai kemiripan berkaitan dengan bentuk dan makna dari penamaan,
antara lain:
1. Supyan Hadi (2014), dengan skripsinya yang berjudul Nama
Diri dalam Akun Jejaring Sosial Facebook, yang membahas
tentang bentuk, tipe dan makna dari nama akun facebook.
2. I Gusti Ayu Nila Sutrisna (2015), dengan skripsinya yang
berjudul Sistem Nama Diri Bahasa Bali Pada Komunitas
Penutur Bahasa Bali Di Cakranegara Mataram, yang
membahas tentang bentuk, fungsi, dan makna dalam nama diri
tersebut.
3. Aisa Nur Rohmah (2013), dengan skripsinya yang berjudul
Pemberian Nama Diri Orang Jawa Di Desa Bandungan. Aisa
meneliti tentang pola yang digunakan dalam pemberian nama
masyarakat yang ada di desa Bandungan Jember.
Penelitian yang dilakukan oleh Supyan berkesimpulan bahwa namanama akun dalam jejaring sosial Facebook berbentuk frasa, penggunaan
ortografi yang muncul dalam bentuk perubahan huruf, penggunaan huruf,
dan penggunaan spasi atau jarak antar kata. Selanjutnya, nama-nama dari
akun tersebut memiliki beberapa tipe yaitu tipe berdasarkan nama diri,
keadaan hati, daerah asal, keadaan fisik, sifat khas, dan nasib. Kemudian

makna dari akun-akun tersebut sesuai dengan ungkapan yang menyatakan


keadaan hati, fisik, daerah asal, sifat dan nasib pemilik akun. Sehingga
jelas beda antara kajian yang diteliti oleh peneliti dengan yang dilakukan
oleh Supyan, baik dari segi objek maupun tujuan.
Penelitian selanjutnya oleh I Gusti yang berhasil memaparkan bahwa
dalam nama diri bahasa Bali terdapat bentuk-bentuk yang berdasarkan
kasta, urutan kelahiran, jenis kelamin, nama leluhur, nama pewayangan,
dan toponimi. Lalu, terdapat beberapa fungsi dalam nama diri yang diteliti
yaitu:(1)menyatakan stratifikasi sosial, (2)menyatakan gender, (3)hierarki
dalam

keluarga,

(4)menghargai

leluhur,

(5)mengagungkan

tokoh

pewayangan, dan (6)menyatakan asal usul daerah. Dalam bahasa Bali,


makna nama diri tersebut adalah sebagai makna penghormatan dan makna
solidaritas. Apabila I Gusti menelaah nama diri bahasa Bali masyarakat di
Cakranegara, peneliti justru meneliti seputar bentuk dan makna dari nama
setiap desa dan dusun di daerah penulis.
Terakhir yaitu penelitian yang dilakukan oleh alumni mahasiswa
Universitas Jember, Aisa yang menghasilkan beberapa pola yang
digunakan

oleh

masyarakat

Bandungan

dalam

pemberian

nama

keturunannya. Ada beberapa bagian yang dibahas dalam skripsinya yaitu


pemberian nama tersebut berkenaan dengan mengaitkan peristiwa yang
terjadi pada waktu kelahiran bayi, bentuk pemilihan nama, dan fungsi
penamaan tersebut. Bahasa yang digunakan dalam penamaan tersebut
adalah bahasa Jawa Kuno, bahasa Jawa Modern, bahasa Arab, dan bahasa
Indonesia.

Jelas sudah letak perbedaan penelitian di atas dengan yang dilakukan


peneliti. Baik dari segi objek, tujuan, dan manfaat. Penelitian yang
dilakukan oleh peneliti yang fokus pada nama desa atau dusun dengan
harapan bahwa penelitian ini akan memperkuat budaya daerah setempat,
sehingga penelitian ini layak dilakukan.

2.2 Landasan Teori


2.2.1 Penamaan
Penamaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
berarti proses, cara, perbuatan menamakan. Menurut Sarwiji (2011)
Penamaan adalah proses pelambangan suatu konsep untuk mengacu
kepada sesuatu referen yang berada di luar bahasa. Sebagaimana kita
ketahui bahwa bahasa merupakan lambang bunyi yang bersifat arbiter.
Namun kita dapat menelusuri sebab-sebab yang melatarbelakangi
terjadinya penamaan yang ada dalam kosa kata bahasa Indonesia.
Berikut macam-macam cara penamaan menurut Sarwiji (2011).
1. Peniruan Bunyi
Ada sejumlah kata yang terbentuk sebagai hasil peniruan
bunyi. Maksudnya nama-nama benda atau hal tersebut dibentuk
berdasarkan bunyi dari benda tersebut atau suara yang ditimbulkan
oleh benda tersebut. Misalnya, binatang sejenis reptil kecil yang
melata di dinding disebut cecak karena bunyinya cak, cak, cak-,.
Begitu juga dengan tokek diberi nama seperti itu karena bunyinya
tokek, tokek. Kata-kata yang dibentuk berdasarkan tiruan bunyi
ini disebut kata peniru bunyi atau onomatope.
2. Penyebutan Bagian
Ada istilah pars prototo yaitu gaya bahasa yang
menyebutkan bagian dari suatu benda atau hal, padahal yang
dimaksud adalah keseluruhannya. Misalnya kata kepala pada
kalimat setiap kepala menerima bantuan seribu rupiah, bukanlah
dalam arti kepala itu saja, melainkan seluruh orangnya sebagai
satu kesatuan.
Penamaan sesuatu benda atau konsep berdasarkan bagian
dari benda itu biasanya berdasarkan ciri yang khas atau yang

menonjol dari benda itu dan yang sudah diketahui umum. Misalnya
pada tahun enam puluhan kalau ada orang yang mengatakan ingin
membeli rumah tetapi tidak ada Sudirmannya maka dengan kata
Sudirman yang dimaksudkan adalah uang karena pada waktu itu
uang bergambar almarhum Jenderal Sudirman.
3. Penyebutan Sifat Khas
Hampir sama dengan pars prototo yang dibicarakan di atas
adalah penanaman sesuatu benda berdasarkan sifat khas yang ada
pada benda itu. Di sini terjadi perkembangan yaitu berupa cirri
makna yang disebut dengan kata sifat itu mendesak kata bendanya
karena sifatnya yang amat menonjol itu; sehingga akhirnya, kata
sifat itulah yang menjadi nama bendanya. Umpamanya, orang yang
sangat kikir lazim disebut si kikir atau si bakhil.
4. Penemu dan Pembuat
Banyak nama benda dalam kosakata bahasa Indonesia yang
dibuat berdasarkan nama penemunya, nama pabrik pembuatnya,
atau nama dalam peristiwa sejarah. Nama-nama benda yang
demikian disebut dengan istilah appelativa.
Nama benda yang berasal dari nama orang, antara lain,
mujahir atau mujair yaitu sejenis ikan laut tawar yang mula-mula
ditemukan dan diternakan oleh seorang yang bernama mujair di
Kediri, Jawa Timur.
5. Tempat Asal
Sejumlah nama benda dapat ditelusuri berasal dari nama
tempat asal benda tersebut. Misalnya kata magnet berasal dari
nama tempat Magnesia; kata kenari, yaitu nama sejenis burung,
berasal dari nama Pulau Kenari di Afrika dan sebagainya.
6. Bahan

Ada sejumlah benda yang namanya diambil dari nama


pokok benda itu. Misalnya, kaca adalah nama bahan. Lalu bahanbahan lain yang dibuat dari kaca disebut juga kaca seperti kaca
mata, kaca jendela, kaca spion, dan kaca mobil.
7. Keserupaan
Banyak kata yang digunakan secara metaforis. Artinya kata
itu digunakan dalam suatu ujaran yang maknanya dipersamakan
atau diperbandingkan dengan makna leksikal dari kata itu.
Misalnya kata kaki ada frase kaki meja, kaki gunung, dan kaki
kursi.
8. Pemendekan
Banyak kata-kata dalam bahasa Indonesia yang terbentuk
sebagai hasil penggabungan unsur-unsur huruf awal atau suku kata
dari beberapa kata yang digabungkan menjadi satu. Kata-kata yang
tebentuk sebagai hasil penyingkatan ini lazim disebut akronim.
Kata-kata yang berupa akronim ini dapati hampir semua bidang
kegiatan. Misalnya, ABRI yang berasal dari Angkatan Bersenjata
Republik Indonesia.
9. Penamaan Baru
Penamaan baru ialah kata atau istilah baru yang dibentuk
untuk menggantikan kata atau istilah yang sudah ada diganti
dengan kata-kata baru atau sebutan baru, ini terjadi karena katakata lama dianggap kurang tepat, tidak rasional, kurang ilmiah dan
kurang halus.
Contoh penamaan baru atau penggantian kata, kata pelacur diganti
dengan tuna susila, dan lain-lain.
2.2.2

Kata dan Frasa


1. Kata

Kata adalah suatu unit dari suatu bahasa yang mengandung


arti dan terdiri dari satu atau lebih morfem. Umumnya kata terdiri
dari satu akar kata tanpa atau dengan beberapa afiks. Gabungan
kata-kata dapat membentuk frasa, klausa, atau kalimat.
Menurut Abdul Chaer(20012) berdasarkan bentuknya, kata
bisa digolongkan menjadi empat: kata dasar, kata turunan, kata
ulang, dan kata majemuk. Kata dasar adalah kata yang merupakan
dasar pembentukan kata turunan atau kata berimbuhan. Perubahan
pada kata turunan disebabkan karena adanya afiks atau imbuhan
baik di awal (prefiks atau awalan), tengah (infiks atau sisipan),
maupun akhir (sufiks atau akhiran) kata. Kata ulang adalah kata
dasar atau bentuk dasar yang mengalami perulangan baik seluruh
maupun sebagian sedangkan kata majemuk adalah gabungan
beberapa kata dasar yang berbeda membentuk suatu arti baru.
2. Frasa
Frasa ialah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau
lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa.
Menurut Abdul Chaer (2012) bahwa sebagai fungsi-fungsi
sintaksis frasa-frasa mempunyai kategori sebagai berikut:
1). Frasa Nominal, yang mengisi fungsi subjek dan objek. Contoh
adik saya,
sebuah meja, rumah makan.
2). Frasa Verbal, yang mengisi fungsi predikat. Contoh suka
makan, sudah mandi
3). Frasa ajektifal, yang mengisi fungsi predikat. Contoh bagus
sekali, sangat
indah, merah muda.
4). Frasa preposisional, yang mengisi fungsi keterangan.
Contoh: ke surabaya.
2.2.3

Makna

Pengertian dari makna sendiri sangatlah beragam. Dalam hal ini


Ferdinand

de

Saussure

dalam

Abdul

Chaer,

2012:286)

mengungkapkan pengertian makna sebagai pengertian atau konsep


yang dimiliki atau terdapat pada suatu tanda linguistik.
Aminuddin (2015:50) mengemukakan bahwa makna merupakan
hubungan antara bahsa dengan bahasa luar yang disepakati bersama
oleh pemakai bahsa sehingga dapat saling dimengerti.
Dari pengertian para ahli bahasa tersebut, dapat dikatakan
bahwa batasan tentang pengertian makna sangat sulit ditentukan
karena setiap pemakai bahasa memiliki kemampuan dan cara pandang
yang berbeda dalam memaknai sebuah ujaran atau kata. Makna adalah
bagian yang tidak terpisahkan dari semantik dan selalu melekat dari
apa saja yang kita tuturkan.
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan dua dari berbagai
macam makna yang berkaitan dengan penelitian ini, yaitu makna
konotasi dan makna denotasi.
1. Makna Denotatif
Makna denotatif adalah makna kata yang didasarkan atas
penunjukan yang lugas, polos, dan apa adanya(Sarwiji:2011). Makna
denotatif adalah makna yang sebenarnya. Dengan kata lain, makna
denotatif adalah makna yang objektif. Contohnya makna denotatif
kata kursi yakni perkakas yang digunakan untuk tempat duduk yang
terbuat dari kayu atau besi.
2. Makna Konotatif

Makna konotatif merupakan lawan dari makna denotatif.


Dengan kata lain, makna konotatif adalah makna yang tidak
sebenarnya. Menurut Sarwiji (2011), makna konotatif makna yang
muncul sebagai akibat asosiasi perasaan terhadap leksem yang kita
gunakan. Contohnya adalah kata kurus dan langsing. Kedua kata ini
mempunyai makna denotatif yang sama yaitu mengacu pada seseorang
yang mempunyai berat badan yang kurang. Namun, kedua kata
tersebut memiliki konotasi yang berbeda, menjadi langsing adalah
idaman banyak wanita sedangkan kurus jelas tidak diinginkan.
2.2.4

Desa dan Dusun


Desa diartikan sebagai wilayah yang jauh dari pusat keramaian
kota,memiliki kondisi daerah yang masih alami,dihuni oleh penduduk
yang relatif jarang,dan sebagaian besar lahannya dimanfaatkan untuk
pertanian sehingga sebagian besar mata pencariannya adalah
petani(online http://aanfinalti.WordPress.com/).
Desa merupakan daerah yang terdiri atas satu atau lebih dusun
yang digabungkan sehingga menjadi suatu daerah yang berdiri sendiri
dan berhak mengatur rumah tangganya sendiri. Sedangkan dusun
adalah bagian dari desa atau dalam lingkup rukun warga (RW).

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini bersifat kualitatif, yaitu penelitian yang tidak berwujud
angka-angka, akan tetapi berupa data yang berbentuk kalimat atau kata-kata.
Dalam penelitian ini digunakan jenis penelitian kualitatif-deskriptif. Secara jelas
Sudaryanto dalam Muhammad 2011:180) menyatakan bahwa penelitian kualitatifdeskriptif, penelitian yang dilakukan semata-mata hanya berdasarkan pada faktafakta yang ada atau fenomena yang secara empiris hidup pada penuturnya.

3.2 Data dan Sumber Data


Kata maupun frasa dari nama desa dan dusun yang diteliti dan penamaanya
merupakan data dalam penelitian ini, sedangkan perkataan yang berupa
penjelasan san keterangan dari para pemangku adat maupun kepala desa
setempat merupakan sumber data yang berwujud tuturan.
3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
3.3.1 Metode Cakap
Sudaryanto (dalam Muhammad, 2011:201) menyatakan bahwa wujud
metode cakap atau percakapan ini terjadinya kontak antara peneliti dan penutur.
Berdasarkan pernyataan ini melibatkan tiga hal yaitu percakapan dua
partisipan,yaitu peneliti dan masyarakat yang diteliti. Metode ini sejajar dengan
metode wawancara dalam penelitian ilmu sosial atau antropologi. Untuk
menjalankan metode ini, peneliti menggunakan teknik lanjutan yakni teknik:

a. Teknik Cakap Semuka


Kegiatan ini dilakukan dengan percakapan langsung, tatap
muka, atau bersemuka. Dengan sabar dan tekun mitra wicara digiring
oleh

peneliti,

agar

data

yang

diperlukan

keluar

dari

mitra

wicara(Sudaryanto dalam Muhammad:2011)


. Untuk mempermudah, peneliti mempersiapkan terlebih dahulu
pertanyaan yang akan ditujukan kepada informan. Jadi orang yang
diwawancarai tersebut menjadi sumber informasi, memberi informasi,
membantu peneliti memperoleh data untuk dianalisis
b. Teknik Rekam
Peneliti menggunakan teknik cakap semuka yang diiringi
dengan teknik rekam. Dengan teknik ini, keabsahan data akan terjamin
dan kesalahan akibat kelalaian peneliti dapat dihindari. Data direkam
dan

ditranskripsikan

secara

ortografis

(Sudaryanto

dalam

Muhammad:2011)
3.4 Metode Analisis Data
3.4.1 Metode Padan Intralingual
Padan merupakan kata yang bersinonim dengan kata banding dan sesuatu
yang dibandingkan mengandung makna adanya keterhubungan sehingga padan di
sini diartikan sebagai hal yang menghubungbandingkan; sedangkan intralingual
mengacu pada makna unsur-unsur yang berada dalam bahasa (bersifat lingual),
yang dibedakan dengan unsur yang berada di luar bahasa (ekstralingual), seperti
hal-hal yang menyangkut makna, informasi, konteks tuturan, dan lainlain(mahsun:2005). Jadi, metode padan intralingual adalah metode analisis dengan
cara menghubung-bandingkan unsur-unsur yang bersifat lingual, baik yang
terdapat dalam satu bahasa maupun dalam beberapa bahasa yang berbeda.

Model analisis metode padan, menurut Prof. Mahsun (2005) terdiri atas
teknik hubung banding menyamakan (HBS) dan hubung banding membedakan
(HBB). Selain dua teknik di atas, metode ini memiliki satu teknik lagi, yaitu
teknik hubung banding meyamakan hal pokok (HBSP), yaitu teknik yang
bertujuan untuk mencari kesamaan hal pokok dari pembedaan dan penyamaan
yang dilakukan dengan menerapkan teknik HBS dan HBB, karena tujuan akhir
dari banding meyamakan dan membedakan tersebut adalah menemukan kesamaan
pokok di antara data yang diperbandingkan itu.
3.4.2 Metode Padan Ekstralingual
Berbeda dengan metode padan intralingual, metode padan ekstralingual ini
digunakan untuk menganalisis unsur yang bersifat ekstralingual, seperti
menghubungkan masalah bahasa dengan hal yang berada di luar bahasa. Sebagai
metode yang secara konseptual bersifat abstrak, maka agar dapat teroperasional
diperlukan langkah-langkah konkret yang disebut dengan teknik. Menurut Prof.
Mahsun teknik-teknik yang digunakan dalam pelaksanaan metode ini sama
dengan teknik yang digunakan dalam metode padan intralingual.

DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 2015. Semantik: Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung: Sinar
Baru Algensindo.
Chaer, Abdul. 2012. Linguistik Umum. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Muhammad. 2011. Paradigma Kualitatif Penelitian Bahasa. Yogyakarta: Liebe
Book Press.
Suwandi, Sarwiji. 2011. Semantik: Pengantar Kajian Makna. Yogyakarta: Media
Perkasa.
Aanfinalti.2011. Desa dan Pengertiannya(online http://aanfinalti.WordPress.com/)
diakses pada 28 April 2016.