Anda di halaman 1dari 40

makalah makrosomia

MAKALAH MAKSOROMIA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses kehamilan sampai melahirkan merupakan rantai satu kesatuan dari hasil konsepsi.
Pemeriksaan kehamilan dilakukan pada setiap kehamilan terutama kehamilan pertama.
Perlunya pengawasan awal agar dapat secepatnya diketahui apakah ada komplikasi pada
kehamilan tersebut. Kehamilan merupakan yang besar maknanya, kehamilan memerlukan
pengawasan minimal 4 kali dalam kunjungan. (Prawiroharjo, 2002).
Gangguan dan penyulit pada kehamilan umumnya ditemukan pada kehamilan resiko tinggi.
Yang dimaksud dengan kehamilan resiko tinggi adalah kehamilan yang akan menyebabkan
terjadinya bahaya dan komplikasi yang lebih besar baik terhadap ibu maupun terhadap janin
yang dikandungnya selama masa kehamilan, melahirkan ataupun nifas bila dibandingkan
dengan kehamilan persalinan dan nifas normal. Secara garis besar, kelangsungan suatu
kehamilan sangat bergantung pada keadaan dan kesehatan ibu, plasenta dan keadaan janin.
(R. Haryono Roeshadi, 2009).
Makrosomia adalah salah satu komplikasi pada kehamilan yang akan berdampak buruk
pada persalinan dan pada saat bayi lahir apabila komplikasi tersebut tidak dideteksi secara
dini dan segera ditangani. Bayi besar (makrosomia) adalah bayi yang begitu lahir memiliki
bobot lebih dari 4000 gram. Padahal pada normalnya, berat bayi baru lahir adalah sekitar
2.500-4000 gram. Berat neonatus pada umumnya kurang dari 4000 gram dan jarang
melebihi 5000 gram. Frekuensi berat badan lahir lebih dari 4000 gram adalah 5,3% dan
yang lebih dari 4500 gram adalah 0,4%. (www.wikimu.com).
Persalinan ialah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta) yang cukup bulan
atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan
bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri). Peran dari penolong persalinan adalah
mengantisipasi dan menangani komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu dan janin. Salah
satu upaya yaitu dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan
dalam menolong persalinan dengan berdasarkan pada konsep asuhan persalinan normal.
Asuhan persalinan normal merupakan asuhan yang bersih, aman selama persalinan dan
setelah bayi lahir serta upaya pencegahan komplikasi terutama perdarahan pasca
persalinan, hipotermi dan asfiksia bayi baru lahir. (Manuaba Ida Bagus, 1998)
Persalinan dengan penyulit makrosomia umumnya faktor keturunan memegang peranan
penting. Selain itu janin besar dijumpai pada wanita hamil dengan diabetes mellitus, pada
postmaturitas dan pada grande multipara. Pada panggul normal, janin dengan berat badan
kurang dari 4500 gram pada umumnya tidak menimbulkan kesukaran persalinan. Kesukaran
dapat terjadi karena kepala yang besar atau kepala yang lebih keras (pada post maturitas)
tidak dapat memasuki pintu atas panggul, atau karena bahu yang lebar sulit melalui rongga
panggul. (http://www.drdidispog.com/2008
Apabila kepala anak sudah lahir tetapi kelahiran bagian-bagian lain macet janin dapat
meninggal akibat asfiksia. Pada disproporsi sefalopelvik (tidak seimbang kepala panggul)
karena janin besar, seksio sesarea perlu dipertimbangkan. (http://www.drdidispog.com/2008)
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mendeteksi secara dini adanya penyulit pada persalinan sehingga dapat melakukan

asuhan kebidanan yang tepat dan dapat menekan angka morbiditas dan mortalitas pada ibu
dan bayi.
2. Tujuan khusus
a) Untuk mengetahui penyulit pada kehamilan dan persalinan dengan makrosomia
b) Untuk mengetahui penyebab makrosomia
c) Untuk mengetahui komplikasi pada kehamilan dan persalinan akibat makrosomia
d) Untuk mengetahui tanda dan gejala pada kehamilan dan persalinan dengan makrosomia.
e) Untuk mengetahui asuhan kebidanan yang diberikan pada ibu bersalin dengan
makrosomia.
C. Manfaat
1. Bagi Tenaga Kesehatan
Agar dapat mendeteksi secara dini adanya komplikasi persalinan dengan makrosomia
sehingga dapat memberikan asuhan kebidanan yang tepat sehingga tidak membahayakan
jiwa ibu dan janin.
2. Bagi mahasiswa
Agar dapat membantu bidan mendeteksi secara dini adanya komplikasi persalinan dengan
makrosomia sehingga dapat memberikan asuhan yang sesuai dengan wewenang bidan.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian
1. Kehamilan dengan penyulit janin besar
Kehamilan dengan janin besar merupakan salah satu penyulit pada kehamilan yang bisa
disebabkan beberapa faktor antara lain adalah karena penyakit Diabetes Mellitus yang
diderita ibu, faktor genetik dan faktor kecukupan gizi selama hamil. Pada ibu hamil
pemeriksaan antenatal memegang peranan penting dalam perjalanan kehamilan dan
persalinannya.
Usaha untuk pencegahan penyulit kehamilan dan persalinan tergantung pada berbagai
faktor dan tidak semata-mata tergantung dari sudut medis atau kesehatan saja. Faktor sosial
ekonomi diduga sangat berpengaruh. Karena pada umumnya seseorang dengan keadaan
sosial ekonomi baik memiliki kemampuan untuk memenuhi gizi seimbang pada saat hamil.
Hal ini juga memungkinkan ibu kelebihan nutrisi pada saat hamil sehingga menyebabkan
bayi besar. oleh karena itu pemeriksaan antenatal yang sesuai standar dapat membantu
mendeteksi penyulit pada masa kehamilan.
Dalam kehamilan, pertumbuhan dan perkembangan janin sebaiknya harus dapat diikuti
dengan baik. Adanya kelainan pertumbuhan janin seperti KMK (kecil untuk masa
kehamilan), BMK (besar untuk masa kehamilan), kelainan bawaan seperti hidrosefalus,
hidramnion, kehamilan ganda ataupun adanya kelainan letak janin sedini mungkin harus
segera dapat di deteksi. Bila keadaan ini baru di diagnosa pada kehamilan lanjut, maka
penyulit pada kehamilan dan persalinan akan sering dijumpai.
Jika ibu sehat dan didalam darahnya terdapat zat-zat makanan dan bahan-bahan organis

dalam jumlah yang cukup, maka pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam kandungan
akan berjalan baik. Demikian juga bila ditemukan kelainan pertumbuhan janin baik berupa
kelainan bawaan ataupun kelainan karena pengaruh lingkungan, maka pertumbuhan dan
perkembangan janin dalam kandungan dapat mengalami gangguan. (R. Haryono Roeshadi,
2009)
2. Persalinan dengan janin besar
Persalinan dengan penyulit makrosomia adalah penyulit dalam persalinan akibat janin besar
yang merupakan kelanjutan dari penyulit kehamilan dengan janin besar. Apabila tidak
ditangani secara tepat akan berakibat fatal bagi ibu dan bayi. Kehamilan Implikasi
makrosomia bagi ibu melibatkan distensi uterus, menyebabkan peregangan yang berlebihan
pada serat-serat uterus. Hal ini menyebabkan disfungsional persalinan, kemungkinan ruptur
uterus, dan peningkatan insiden perdarahan postpartum. Persalinan dapat menjadi lebih
lama dan tindakan operasi pada saat melahirkan menjadi lebih dimungkinkan. (Persis Mary,
1995)
Pada panggul normal, janin dengan berat badan 4000 - 5000 gram pada umumnya tidak
mengalami kesulitan dalam melahirkannya. Menentukan besarnya janin secara klinis
memang sulit. Kadang-kadang baru diketahui adanya janin besar setelah tidak adanya
kemajuan persalinan pada panggul normal dan his yang kuat. Pemeriksaan yang teliti
tentang adanya disproporsi sefalopelvik dalam hal ini perlu dilakukan. Besarnya kepala dan
tubuh janin dapat diukur pula secara teliti dengan menggunakan alat ultrasonik.
Pada panggul normal, janin dengan berat badan kurang dari 4500 gram pada umumnya
tidak menimbulkan kesukaran persalinan. Kesukaran dapat terjadi karena kepala yang besar
atau kepala yang lebih keras (pada post maturitas) tidak dapat memasuki pintu atas panggul,
atau karena bahu yang lebar sulit melalui rongga panggul. Pada disproporsi sefalopelvik
(tidak seimbang kepala panggul) karena janin besar, seksio sesarea perlu dipertimbangkan.
(http://www.drdidispog.com/2008)
3. Bayi makrosomia
Pengertian dari makrosomia menurut pendapat para ahli sebagai berikut :
- Makrosomia adalah bayi yang berat badannya pada saat lahir lebih dari 4.000 gram.
(Keperawatan Maternitas Edisi 4. Bobak Lowdermilk, Jensen).
- Menurut Cunningham (1995 : 421) semua neonatus dengan berat badan 4000 gram atau
lebih tanpa memandang umur kehamilan dianggap sebagai makrosomia.
Kondisi bayi dengan berat lahir makrosomia membutuhkan perawatan yang lebih/intensif
dan harus selalu dipantau untuk menghindari resiko dikemudian hari. Berat neonatus pada
umumnya kurang dari 4000 gram dan jarang melebihi 5000 gram. Frekuensi berat badan
lahir lebih dari 4000 gram adalah 5,3% dan yang lebih dari 4500 gram adalah 0,4%.
(www.drdidispog.com/2008).
B. Etiologi
Beberapa keadaan pada ibu dapat menyebabkan terjadinya kelahiran bayi besar / Baby
giant. Faktor-faktor tersebut diantaranya :
1. Ibu yang menderita Diabetes Mellitus (DM) sebelum dan selama kehamilan.
Kadar gula darah ibu hamil penderita Diabetes Melitus tergolong tinggi. Kondisi inilah yang
memberi peluang janin untuk tumbuh melebihi ukuran rata-rata. Jika fungsi plasenta dan
tali pusaT baik, maka si calon bayi dapat tumbuh makin subur.
2. Ibu mempunyai riwayat melahirkan bayi besar.
Ibu yang pada kehamilan pertama melahirkan Baby giant berpeluang besar melahirkan anak
kedua dengan kondisi yang sama pada kehamilan berikutnya.
3. Faktor genetik
Obesitas dan overweight yang dialami ayah-ibu dapat menurun pada bayi.

4. Pengaruh kecukupan gizi


Porsi makanan yang dikonsumsi ibu hamil akan berpengaruh terhadapa bobot janin. Asupan
gizi yang berlebih bisa mengakibatkan bayi lahir dengan berat diatas rata-rata. Pola makan
ibu yang tidak seimbang atau berlebihan juga mempengaruhi kelahiran bayi besar.
5. Bukan kehamilan pertama
Ada kecenderungan berat badan lahir anak kedua dan seterusnya lebih besar daripada anak
pertama. (www.wikimu.com).
C. Manifestasi Klinis
1. Pada saat kehamilan :
a) Uterus lebih besar dari biasanya atau tidak sesuai dengan usia gestasi
b) Tinggi fundus pada kehamilan aterm lebih dari 40 cm.
c) Taksiran berat badan janin (TBBJ) dari 4000 gram.
2. Pada bayi baru lahir :
a) Berat badan lebih dari 4000 gram
b) Badan montok dan kulit kemerahan
c) Organ internal membesar (hepatosplenomegali, spenomegali, kardiomegali)
d) Lemak tubuh banyak. (Markum, A.H. 1996)
C. Patofisiologis
Makrosomia ini disebabkan oleh terjadinya hiperglikemia pada janin (akibat hiperglikemia
ibu) dan hiperinsulinisme janin yang menyebabkan :
- Timbunan lemak subkutan janin dan glikogen hati bertambah
- Pertambahan ukuran dan berat dari hampir seluruh organ, yang memperlihatkan
hipertropf dan hyperplasia seluler
- Hematopiesis ektramedularis khususnya dari hepar yang menyebabkan pertambahan berat
badan. (Markum, A.H. 1996)
Umumnya bayi dengan makrosomia ini dilahirkan oleh ibu diabetik kelas A, B dan C. Insulin
dikatakan merupakan hormon pertumbuhan primer untuk perkembangan intra uterin.
Diabetes Maternal mengakibatkan peningkatan kadar asam-asam amino bus plasenta,
pancreas janin berespon dengan memproduksi insulin untuk disesuaikan dengan sediaan
bahan baker akselerasi sintesis protein yang diakibatkan bersama dengan penyimpanan
glikogen dan lemak berlebih bertanggung jawab terhadap terjadinya makrosomia yang khas
pada kehamilan diabetik. (Markum, A.H. 1996)
Bayi dari ibu yang menderita diabetes memperlihatkan insiden sindrom kegawatan
pernafasan yang lebih besar dari pada bayi ibu yang normal pada umur kehamilan yang
sama. Insiden yang lebih besar mungkin terkait dengan pengaruh antagonis antara kortisol
dan insulin pola sintesis surfakton. (Arvin Behrman Kliegmen, 1996)
D. Komplikasi
Bayi besar yang sedang berkembang merupakan suatu indikator dari efek ibu. Yang
walaupun dikontrol dengan baik dapat timbul pada janin, maka sering disarankan
persalinan yang lebih dini sebelum aterm. Situasi ini biasanya dinilai pada sekitar
kehamilan 38 minggu. Penilaian yang seksama terhadap pelvis ibu. Tingkat penurunan
kepala janin dan diatas serviks. Bersama dengan pertimbangan terhadap riwayat kebidanan
sebelumnya. Seringkali akan menunjukkan apakah induksi persalinan kemungkinan dan
menimbulkan persalinan pervaginam. (Bobak, dkk. 2005)
Jika terjadi penyulit-penyulit ini dapat dinyatakan sebagai penatalaksanaan yang salah.
Karena hal ini sebenarnya dapat dihindarkan dengan seksio sesarea yang terencana.
Walaupun demikian, yang perlu dingat bahwa persalinan dari bayi besar (baby giant)
dengan jalan abdominal bukannya tanpa resiko dan hanya dapat dilakukan oleh dokter

bedah kebidanan yang terampil. (Arvin Behrman Kliegmen, 1996).


Bayi besar juga kerap menjadi penyulit pada saat persalinan normal, karena dapat
menyebabkan cedera baik pada ibu maupun bayinya.
Kesulitan yang dapat terjadi adalah :
1. Kesulitan pada ibu :
a) Robekan hebat jalan lahir
b) Perdarahan
c) Terjadi peningkatan persalinan dengan sectio caesaria.
d) Ibu sering mengalami gangguan berjalan pasca melahirkan akibat peregangan maksimal
struktur tulang panggul. Keluhan keluhan tersebut bisa sembuh dengan perawatan yang
baik.
2. Pada bayi :
a) Terjadinya distosia bahu yaitu kepala bayi telah lahir tetapi bahu tersangkut di jalan lahir.
b) Asfiksia pada bayi sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan untuk melahirkan bahu.
c) Brachial Palsy (kelumpuhan syaraf di leher) yang ditandai dengan adanya gangguan
motorik pada lengan.
d) Patah tulang selangka (clavicula) yang sengaja dilakukan untuk dapat melahirkan bahu.
e) Kematian bila bayi tidak dapat dilahirkan.
Makrosomia dapat meningkatkan resiko pada bayi mengalami hipoglikemia, hipokalsemia,
hiperviskostas, dan hiperbilirubinemia.
1. Hipoglikemia
Hipoglikemi sering terjadi pada bayi dari ibu yang menderita penyakit DM karena cadangan
glukosa rendah. Pada ibu DM terjadi transfer glukosa yang berlebihan pada janin sehingga
respon insulin juga meningkat pada janin. Saat lahir di mana jalur plasenta terputus maka
transfer glukosa berhenti sedangkan respon insulin masih tinggi (transient hiperinsulinisme)
sehingga terjadi hipoglikemi.
Hipoglikemi adalah masalah serius pada bayi baru lahir, karena dapat menimbulkan kejang
yang berakibat terjadinya hipoksi otak. Bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan
kerusakan pada susunan saraf pusat bahkan sampai kematian.
Glukosa merupakan sumber kalori yang penting untuk ketahanan hidup selama proses
persalinan dan hari-hari pertama pasca lahir. Setiap stress yang terjadi mengurangi
cadangan glukosa yang ada karena meningkatkan penggunaan cadangan glukosa, misalnya
pada asfiksia, hipotermi, hipertermi, gangguan pernapasan. (Khosim MS, dkk. 2004)
Istilah hipoglikemia digunakan bila kadar gula darah bayi secara bermakna dibawah kadar
rata-rata. Dikatakan hipoglikemia bila kadar glukosa darah kurang dari 30 mg/dl pada
semua neonatus tanpa menilai masa gestasi atau ada tidaknya gejala hepoglikemia.
Umumnya hepoglikemia terjadi pada neonatus umur 1 2 jam.
2. Hipokalsemia
Bayi menderita hipokalsemia bika kadar kalsium dalam serum kurang dari 7 mg/dl
(dengan/tanpa gejala), atau kadar kalsium 10 n kurang dari 3 mg/dl. Kejadiannya adalah
kira-kira 50% pada bayi dari ibu penderita DM. Beratnya hipokalsemia berhubungan
dengan beratnya diabetes ibu dan berkurangnya fungsi kelenar paranoid kadar kalsium
terendah terjadi pada umur 24-72 jam.
3. Polestemia dan Hiperviskositas
Penyebab polestemia kurang jelas akan tetapi mungkin disebabkan oleh meningkatnya
produksi sel darah merah yang sekunder disebabkan oleh hipoksia intra uterin kronik pada
ibu dengan penyakit vaskuler dan oleh transfusi plasenta intra uterin akibat hipoksia akut
pada persalinan atau kelahiran.
Dengan adanya polisetemia akan menyebabkan hiperviskositas darah dan akan merusak
sirkulasi darah. Selain itu peningkatan sel darah yang akan dihemolisis ini meningkatkan

beban hederobin potensial heperbilirubinemia. Bayi makrosomia dapat menderita fraktur


klavikula, laserasi limpa atau hati cedera flesus brakial, palsi fasial, cedera saraf frenik atau
hemoragi subdural.
Hiperviskositas mengakibatkan menurunnya aliran darah dan terjadinya hipoksia jaringan
serta manifestasi susunan saraf pusat berupa sakit kepala, dizziness, vertigo, stroke, tinitus
dan gangguan penglihatan berupa pandangan kabur, skotoma dan diplopia. (Markum, A.H.
1996).

4. Hiperbilirubinemia
Hiperbilirubinemia adalah keadaan kadar bilirubin dalam darah >13 mg/dL. Bilirubin pada
neonatus meningkat akibat terjadinya pemecahan eritrosit. Bilirubin mulai meningkat secara
normal setelah 24 jam, dan puncaknya pada hari ke 3-5. Setelah itu perlahan-lahan akan
menurun mendekati nilai normal dalam beberapa minggu. Pada bayi baru lahir, ikterus yang
terjadi pada umumnya adalah fisiologis, kecuali:
a) Timbul dalam 24 jam pertama kehidupan
b) Bilirubin total/indirek untuk bayi cukup bulan > 13 mg/dL atau bayi kurang bulan >10
mg/dL
c) Peningkatan bilirubin > 5 mg/dL/24 jam
d) Kadar bilirubin direk > 2 mg/dL
e) Ikterus menetap pada usia >2 minggu
f) Terdapat faktor resiko
Peningkatan kadar bilirubin umum terjadi pada setiap bayi baru lahir, karena:
- Hemolisis yang disebabkan oleh jumlah sel darah merah lebih banyak dan berumur lebih
pendek.
- Fungsi hepar yang belum sempurna
E. Mekanisme Persalinan
Pada panggul normal, janin dengan berat badan 4000 - 5000 gram pada umumnya tidak
mengalami kesulitan dalam melahirkannya. Menentukan besarnya janin secara klinis
memang sulit. Kadang-kadang baru diketahui adanya janin besar setelah tidak adanya
kemajuan persalinan pada panggul normal dan his yang kuat. Pemeriksaan yang teliti
tentang adanya disproporsi sefalopelvik dalam hal ini perlu dilakukan. Besarnya kepala dan
tubuh janin dapat diukur pula secara teliti dengan menggunakan alat ultrasonik.
Pada panggul normal, janin dengan berat badan kurang dari 4500 gram pada umumnya
tidak menimbulkan kesukaran persalinan. Kesukaran dapat terjadi karena kepala yang besar
atau kepala yang lebih keras (pada post maturitas) tidak dapat memasuki pintu atas panggul,
atau karena bahu yang lebar sulit melalui rongga panggul. Apabila kepala anak sudah lahir
tetapi kelahiran bagian-bagian lain macet karena lebarnya bahu, janin dapat meninggal
akibat asfiksia. (http://www.drdidispog.com/2008)
Pada disproporsi sefalopelvik (tidak seimbang kepala panggul) karena janin besar, seksio
sesarea perlu dipertimbangkan. Kesulitan melahirkan bahu tidak selalu dapat diduga
sebelumnya. Apabila kepala sudah lahir sedangkan bahu sulit dilahirkan, hendaknya
dilakukan episiotomi mediolateral yang cukup luas, hidung serta mulut janin dibersihkan,
kemudian kepala ditarik curam ke bawah secara hati-hati dengan kekuatan yang terukur.
Bila tidak berhasil, tubuh janin diputar dalam rongga panggul, sehingga bahu belakang
menjadi bahu depan dan lahir di bawah simfisis. Bila dengan cara ini pun belum berhasil,
penolong memasukkan tangannya ke dalam vagina dan berusaha melahirkan lengan
belakang janin dengan menggerakkan di muka dadanya. Untuk melahirkan lengan kiri

digunakan tangan kanan penolong, dan sebaliknya. Kemudian bahu depan diputar ke
diameter miring dari panggul guna melahirkan lengan depan.
Pada keadaan dimana janin telah mati sebelum bahu dilahirkan, dapat dilakukan kleidotomi
pada satu atau kedua klavikula (tulang disamping leher) untuk mengurangi kemungkinan
perlukaan jalan lahir. (http://www.drdidispog.com/2008)
F. Pencegahan
Selama perawatan antepartal dilakukan pengkajian ukuran pelvic ibu dan ukuran janin yang
sedang berkembang. Ukuran janin ditentukan dengan palpasi panjang crown-rump janin
dalam uterus. Sonografi pelvimetri dapat memberikan informasi lebih lanjut. Bila terlihat
uterus yang sangat besar, hidramnion, atau ukuran janin yang sangat besar, atau janin lebih
dari satu merupakan hal yang perlu dipertimbangkan sebagai kemungkinan penyebab.
Hal hal yang dilakukan untuk mengantisipasi makrosomia :
1. Melakukan pemeriksaan kehamilan yang teratur sehingga kenaikan berat badan janin saat
masih dalam kandungan dapat dikontrol dengan baik.
2. Melakukan pemeriksaan kadar gula dalam darah.
3. Konsultasikan pola makan dan asupan gizi semasa hamil dengan dokter.
4. Sesuaikan kenaikan berat badan ibu selama kehamilan antara 8-12 kg.
5. Lebih banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung protein (ikan, susu, daging,
tahu, tempe) vitamin dan mineral (sayur dan buah buahan).
6. Kurangi makan makanan yang banyak mengandung karbohidrat seperti nasi, gula, mie,
roti/kue, dll. Melakukan USG secara rutin selama kehamilan, sehingga dapat memantau
penambahan berat badan bayi selama dalam kandungan dan dapat diambil langkah langkah
untuk mencegah terjadinya bayi besar. (Hendrik, 2009)
G. Penatalaksanaan Medis
Pemeriksaan klinik dan ultrasonografi yang seksama terhadap janin yang sedang tumbuh,
disertai dengan faktor-faktor yang diketahui merupakan predisposisi terhadap makrosomia
(bayi besar) memungkinkan dilakukannya sejumlah kontrol terhadap pertumbuhan yang
berlebihan. Peningkatan resiko bayi besar jika kehamilan dibiarkan hingga aterm harus
diingat dan seksio sesarea efektif harus dilakukan kapan saja persalinan pervaginam. (Arvin
Behrman Kliegmen, 1996).
Tanpa memandang besarnya semua bayi dari ibu diabetes sejak semula harus mendapat
pengamatan dan perawatan yang intensif, kadar gula darah pada bayi harus ditentukan
pada 1 jam post partum dan kemudian setiap 6 8 jam berikutnya, jika secara klinis baik
dan kadar gula darahnya normal. Mula-mula diberikan makanan oral/sonde air glukosa 5%
dilanjutkan dengan ASI. Air susu formula yang dimulai pada umur 2 3 jam dan diteruskan
dengan interval makanan oral. Pemberian makanan harus dihentikan dan glukosa di berikan
dengan infus intravena perifer pada kecepatan 4 8 mg/kg BB/menit untuk mengatasi :
1. Hipoglikemia
Tujuan utama pengobatan hipoglikemia adalah agar kadar glukosa serum tetap normal pada
kasus hipoglikemia tanpa gejala lakukan tindakan berikut :
- Apabila kadar glukosa dengan dextrosix 25 mg/dl maka bayi diberi larutan glukosa
sebanyak 6 mg/kg BB/menit dan kemudian diperiksa tiap 1 jam hingga normal dan stabil.
- Bila doxtrosix menunjukkan hasil 25 46 mg/dl dan bayi tidak tampak sakit maka diberi
minum glukosa 5% lalu diperiksa tiap jam hingga stabil. Pada kasus hipoglikemia dengan
gejala diberikan larutan glukosa 10% sebanyak 2 4 ml/kg BB intra vena selama 2 3
menit hingga kadar glukosa stabil.
2. Hipokalsemia
Hipokalsemia dengan kejang harus diobati dengan larutan kalsium glukonat 10% sebanyak

0.2 0.5 ml/kg BB intravena yang harus diperhatikan selama pemberian adalah aritmia
jantung, bradikardi dan ekstravasasi cairan dan alat infuse, kadar kalsium serum harus
dipantau tiap jam.
3. Hiperbilirubinemia
Sejak bayi mulai kurang kadar bilirubin harus dipantau dengan teliti kalau perlu berikan
terapi sinar/transfusi darah.
4. Polisitemia
Dicoba dengan penambahan pemberian minum sebanyak 20 40 ml/kg BB/ hari disamping
itu dipantau Hb darah tiap 6 12 jam tanpa gejala, bila dengan gejala seperti gangguan
nafas jantung atau kelainan neurologik harus dilakukan transfusi parsial dengan plasma
beku segar. (Bobak, dkk. 2005)

ASUHAN KEPERAWATAN BAYI NORMAL APLIKASI NANDA, NOC,


NIC
A. Pendahuluan
Bayi baru lahir (BBL) dengan kondisi normal merupakan dambaan setiap pasangan orang tua.
Sebagian besar BBL (< 80%) akan lahir dengan kondisi normal. Hal ini sebagian besar merupakan
kelanjutan keberhasilan hasil konsepsi dan indikator pelayanan kesehatan maternal-neonatal yang
baik dan berkualitas. Namun ada kalanya bayi yang lahir dalam keadaan normal dalam perjalanan
hidupnya kemudian menjadi bermasalah. Untuk itu diperlukan kecermatan dan perhatian dalam
perawatan BBL, meskipun terlahir normal.
Nasib anak yang dilahirkan dengan seksio sesarea (SC) banyak tergantung dari keadaan yang
menjadi alasan untuk melakukan SC.

Menurut statistik di negara-negara dengan pengawasan

antenatal dan intranatal yang baik, kematian perinatal pasca SC berkisar 4-7%.
B. Kriteria Bayi Normal
a.

Masa gestasi cukup bulan: 37-40 minggu

b. Berat lahir 2500-4000 gram


c.

Lahir tidak dalam keadaan asfiksia: (lahir menangis keras, nafas spontan dan teratur, skor Apgar >7.

d. Tidak terdapat kelainan kongenital berat

C. Langkah Promotif/Preventif
a.

Mempersiapkan kehamilan ibu dengan baik dengan memperhatikan status nutrisi, kesehatan dan
kesejahteraan ibu hamil

b. Melaksanakan perawatan antenatal yang teratur


c.

Melakukan perawatan perinatal esensial

d. Mencegah persalinan prematur


e.

Melakukan resusitasi dengan baik dan benar.

D. Langkah Diagnosis

1. Anamnesis
a.

Riwayat perawatan antenatal yang teratur

b. Riwayat HPMT 9 hari pertama haid terakhir)


c.

Riwayat kehamilan ibu baik; tidak ada DM, preeklamsia / eklamsia, hipertensi, perdarahan
antepartum

d. Riwayat persalinan normal


e.

Riwayat bayi lahir langsung menagis

2. Pemeriksaan fisik :
a.

Berat lahir 2500-4000 gram

b. Tidak dijumpai tanda-tanda prematuritas


c.

Bayi bugar, menangis keras, tonus otot baik, kulit kemerahan dan denyut jantung >100 kali/menit

d. Tidak dijumpai kelainan kongenital

3. Pemeriksaan penunjang
Biasanya tidak diperlukan pemeriksaan penunjang, kecuali dalam keadaan ragu dan atau untuk
menghitung masa gestasi, maka dapat dilakukan pemeriksaan skor ballard atau dubowitz

E. Penatalaksanaan
Manajemen BBL normal
1

Perawatan esensial pasca persalinan yang bersih dan aman, serta inisiasi pernafasan spontan
(resusitasi), dilanjutkan dengan

a.

Stabilisasi suhu atau jaga agar suhu badan bayi tetap hangat dengan jalan membungkus badan dengan
kain, selimut, atau pakaian kering dan hangat, memakai tutup kepala, segera meletakkan pada dada
atau puting susu ibu, tidak memandikan sebelum berumur 6 jam.

b. Pemeriksaan asi dini dan eksklusif, dimulai pada 30 menit pertama


2

Pencegahan terhadap infeksi dan pemberian imunisasi

Pemberian vitamin K, secara intramuskuler atau oral, dosis injeksi 1 mg sekali pemberian, atau oral 2
mg sekali pemberian atau 1 mg 3 kali pemberian (saat lahir, umur 3-10 hari, dan umur 4-6 minggu).

Perawatan mata dengan pemberian tetes mata antibiotika tetrasiklin atau klorampenikol.

Perawatan tali pusat dengan menjaga kebersihan dan agar tetap kering tidak lembab.

Pemberian vaksin polio dan hepatitis B pertama.

F. Pemantauan
Terapi

1. Bayi normal biasanya tidak memerlukan terapi lebih lanjut


Pemantauan lain:

2. Meskipun bayi normal, tetap harus dipantau selama minimal 6 jam untuk melihat
kemungkinan timbulnya bahaya, terutama hipotermi dan hipoglikemia serta gangguan
nafas.

Pemantauan tumbuh kembang:

3. Perlu kunjungan tindak lanjut pada bidan atau dokter


4. Pemeriksaan imunisasi BCG pada usia 1 bulan
5. Periksa teratur di klinik tumbuh kembang, pos yandu, puskesmas, bidan atau dokter praktek
untuk memantau tumbuh kembangnya.

G. Asuhan keperawatan bayi baru lahir normal


Pengkajian

1. Pengkajian fisik
a.

Pengukuran umum :

Lingkar kepala 33-35 cm,


Lingkar dada 30,5-33 cm,
Lingkat kepala 2-3 cm > dari linkar dada,
Panjang kepala ke tumit 48-53 cm,
BBL 2700-4000 gram
b.

Tanda vital :

Suhu 36,50C-370C (aksila),


Frekwensi jantung 120-140 x/m (apical),
Pernafasan 30-60x/m
Tekanan darah
c.

Kulit :

Saat lahir: merah terang, menggembung, halus


Hari kedua-ketiga: merah muda, mengelupas, kering
Vernik kaseosa
Lanugo
Edema sekitar mata, wajah, kaki, punggung tangan, telapak, dan skrotum atau labia.
d. Kepala
Fontanel anterior: bentuk berlian, 2,5-4,0 cm
Fontanel posterior:bentuk segitiga 0,5-1 cm
Fontanel harus datar, lunak danpadat
Bagian terlebar dari fontanel diukur dari tulang ke tulang, bukan dari sututa ke sutura.
e.

Mata :

Kelopak biasanya edema, mata tertutup

Warna agak abu-abu, biru gelap, coklat


Tida ada air mata
Ada refleks merah, reflek pupil (repon cahaya), refleks berkedip (respon cahaya atau sentuhan)
Fiksasi rudimenter pada obyek dan kemampuan mengikuti ke garis tengah.
f.

Telinga :

Posisi puncak pinna berada pada garis horizontal bersama bagian luar kantus mata
Reflek moro atau refleks terkejut ditimbulkan oleh bunyi keras dan tiab-tiba
Pina lentur adanya kartilago.
g.

Hidung :

patensi nasal, rabas nasal-mukus putih encer, bersin


h. Mulut dan tenggorok :
Utuh, palatum arkus-tinggi, uvula di garis tengah, frenulum lidah, frenulum bibir atas
Reflek menghisap kuat dan terkoordinasi, reflek rooting
Refleks gag, refleks ekstrusi
Salivasi minimal atau tidak ada, menangis keras.
i.

Leher :

Pendek, gemuk, biasanya dikelilingi oleh lipatan kulir, reflek leher tonik, refleks neck-righting, refleks
otolith righting
j.

Dada :

Diameter anterior posteriordan lateral sama


Retraksi sternal sedikit terlihat selama inspirasi
Terlihat prosesusxifoideus pembesaran dada.
k. Paru-paru :
Pernafasan utamanya adalah pernafasan abdominal
Reflek batuk tidak ada saat lahir, ada setelah 1-2 hari.
Bunyi nafas bronchial sama secara bilateral
l.

Jantung :

Apeks: ruang intercostal ke4-5, sebelah lateral batas kiri sternum


Nada S2 sedikit lebih tajam dan lebih tinggi daripada S1
m. Abdomen :
Bentuk silindris
Hepar: dapat diraba 2-3 cm dibawah marjin kostal kanan
Limpa: puncak dapat diraba pada akhir minggu pertama
Ginjal: dapat diraba 1-2 cm diatas umbilicaus
Pusat umbilicus: putih kebiruan pada saat lahir dengan 2 arteri dan 1 vena

Nadi femoral bilateral sama


n. Genetalia wanita :
Labia dan klitoris biasanya edema
Labia minora lebih besar dari labia mayora
Meatus uretral di belakang klitoris
Verniks kaseosa di antara labia
Berkemih dalam 24 jam
o. Genetalia pria :
p. Punggung dan rektum :
Spina utuh, tidak ada lubang masa, atau kurva menonjol
Refleks melengkung, batang tubuh
Wink anal
Lubang anal paten
Lintasa mekonium dalam 36 jam
q.

Ekstrimitas :

10 jari kaki dan tangan


rentang gerak penuh
punggung kuku merah muda, dengan sianosis sementara segera setelah lahir
fleksi ekstremitas atas dan bawah
telapak biasanya datar
ekstrimitas simetris
tonus otot sama secara bilateral, terutama tahanan pada fleksi berlawanan
nadi brakialis bilateral sama.
r.

Sistem neuromuskuler:

Ekstrimitas biasanya mempertahankan derajat fleksi


Ekstensi ekstrimitas diikuti dengan posisi fleksi sebelumnya.
Kelambatan kepala saat duduk, tetapi mampu menahan kepala agar tetap tegak walaupun sementara
Mampu memutar kepala dari satu sisi kesisi lain ketika tengkuran
Mampu menahan kepala dalam garis horizontal dengan punggung bila tengkurap.

2. Pengkajian usia gestasi


3. Observasi status tidur dan aktivitas
Tidur regular: 4-5 jam/hari, 10-20 menit/siklus mata tertutup, pernafasan regular, Tak ada gerakan
kecuali sentakan tubuh yang tiba-tiba.

Tidur ireguler: 12-15 jam/hari, 20-45 menit/siklus tidur, mata tertutup, pernafasan tidak teratur, sedikit
kedutan pada otot.
Mengantuk: bervariasi, mata mungkin terbuka, pernafasan ireguler, gerakan tubuh aktif.
Inaktivitas sadar: 2-3 jam/hari. Berespon terhadap lingkungan dengan gerakan aktif dan mencari obyek
pada rentang dekat.
Terbangun dan menangis: 1-4 jam/hari.

Mungkin dengan merengek dan sedikit gerakan tubuh,

berlanjut pada menangis keras dan marah serta gerakan ekstrimitas yang tidak terkoordinasi.

4. Observasi perilaku kedekatan orang tua


Bila bayi dibawa ke orang tua, apakah mereka meraih anak dan memanggil namanya?
Apakah orang tua membicarakan tentang anaknya dalam hal identifikasi/
Kapan orang tua menggendong bayi, kontak tubuh seperti apa yang terjadi?
Ketika bayi bangun, stimulasi apa yang dilakukan?
Seberapa nyaman keleihatan orang tua dalam merawat bayi?
Tipe afeksi apa yang ditunjuukan pada bayi baru lahir, seperti tersenyum, membelai, mencium atau
menimang?
Bila bayi rewel, tehnik kenyamanan apa yang dilakukan orang tua?
Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d. mucus berlebihan, posisi tidak tepat
2. Risiko infeksi b.d. kurangnya pertahanan imunologis, faktor lingkungan, penyakit ibu.
3.

Hipotermi b.d berada di lingkungan yang dingin/sejuk, pakaian yang tidak memadai, evaporasi kulit
di lingkungan yang dingin.

4. Risiko trauma berhubungan dengan ketidakberdayaan fisik


5.

Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh (resiko tinggi) b.d. imaturitas, kurang pengetahuan
orang tua.

6. Perubahan oroses keluarga b.d krisis maturasi, kelahiran cukup bulan, perubahan dalam unit keluarga
7. PK Hipoglikemi

Diagnosa keperawatan yang sering muncul


1. bersihkan jalan nafas tidak efektif sampai dengan obstruksi jalan nafas banyaknya
mukus.
2. resiko infeksi
3. resiko ketidakseimbangan suhu tubuh dengan faktor resiko paparan dingin/sejuk:
perubahan suhu infra uteri ke extra uteri.

Rencana Keperawatan
No
1.

Dianogsa

Tujuan
Intervensi
Keperawatan
Bersihan jalan nafas takSetelah dilakukan tindakanManajemen Jalan Nafas (3140) :
efektif b.d obstruksi jalankeperawatan selama X 24 Buka jalan nafas
nafas : banyaknya mucus. jam, klien diharapkan mampu

Posisikan

klien

untuk

memak-simalkan

menunjukan jalan nafas yangventilasi


Batasan karakteristik :

paten dengan indicator :

jalan nafas buatan

Dyspuea
Cyanosis
Kelainan

Identifikasi klien perlunya pema-sangan alat

suara

Status Respirasi : Patensi Keluarkan sekret dengan suction


Auskultasi suara nafas, catat adanya suara
nafasJalan Nafas (0410) :

Mata melebar

Pasien tampak tenang (tidaktambahan


Monitor respirasi dan ststus O2
cemas)

Produksi sputan

RR: 30-60X/menit

Gelisah

Irama nafas teratur

(kracles)

Suction Jalan Nafas (3160) :

Perubahan frekwensi dan Pengeluaran sputum pada Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah
irama nafas

jalan nafas
Tidak

suctioning
ada

suara

nafas Informasikan pada keluarga tentang suctioning

tambahan

Berikan O2 dengan menggunakan nasal untuk

Warna kulit kemerahan

memfasilitasi suction nasotracheal


Gunakan alat yang steril setiap melakukan
tindakan
Berikan waktu istirahat pada klien setelah
kateter dikeluarkan dari naso trakeal

Hentikan suction dan berikan O2 jika


klien

menunjukan

peningkatan saturasi O2, dll.

bradikadi,

Resiko
2.
infeksi

Setelah dilakukan tindakanMengontrol Infeksi (6540) :


keperawatan selamaX 24 Bersihkan box / incubator setelah dipakai bayi

Batasan karakteristik:

jam,

pasien

Prosedur invasif

terhindar

dari

Malnutrisi

gejala

infeksi

diharapkanlain
tanda

Ketidakadekuatan imunindicator :
Status Imun (0702) :
buatan

dan Pertahankan teknik isolasi bagi bayi ber-

denganpenyakit menular
Batasi pengunjung
Instruksikan pada pengunjung untuk cuci

RR : 30-60X/menit

tangan sebelum dan sesudah berkunjung

Irama napas teratur

Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan

Suhu 36-37 C

Cuci tangan sebelum dan sesudah mela-kukan

Integritas kulit baik

tindakan keperawatan

Integritas nukosa baik

Pakai sarung tangan dan baju sebagai

Leukosit dalam batas normal pelindung


Pertahankan

lingkungan

aseptik

selama

pemasangan alat
Ganti letak IV perifer dan line kontrol dan
dressing sesuai ketentuan
10. Tingkatkan intake nutrisi
Beri antibiotik bila perlu.

Mencegah Infeksi (6550)


Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan
lokal
Batasi pengunjung
Skrining

pengunjung

terhadap

penyakit

menular
Pertahankan teknik aseptik pada bayi beresiko
Bila perlu pertahankan teknik isolasi
Beri perawatan kulit pada area eritema
Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap
kemerahan, panas, dan drainase
Dorong masukan nutrisi yang cukup
Berikan antibiotik sesuai program

3.

Resiko ketidakseimbanganSetelah dilakukan tindakan


Mengatur temperature (3900) :
suhu tubuh b.d faktorkeperawatan selamaX 24 Monitor temperatur klien sampai stabil
resiko paparan dingin /jam
diharapkan
klien Monitor nadi, pernafasan
sejuk : perubahan suhuterhindar
dari
ketidak- Monitor warna kult
intrauteri ke extrauteri.
seimbangan
suhu
tubuh Monitor tanda dan gejala hipotermi /
dengan indicator :
hipertermi
Termoregulasi
Neonatus Perhatikan keadekuatan intake cairan
(0801) :
Pertahankan panas suhu tubuh bayi (missal :
segera ganti pakaian jika basah)
Suhu axila 36-37 C
Bungkus bayi dengan segera setelah lahir
RR : 30-60 X/menit
untuk mencegah kehilangan panas
HR 120-140 X/menit
Jelaskan kepada keluarga tanda dan gejala
Warna kulit merah muda
Tidak ada distress respirasi hipotermi / hipertermi
Letakkan bayi setelah lahir di bawah lampu
Hidrasi adekuat
sorot / sumber panas
Tidak menggigil
10. Jelaskan kepada keluarga
cara untuk
Bayi tidak gelisah
mencegah kehilangan panas / mencegah panas
Bayi tidak letargi
bayi berlebih
Tempatkan bayi di atas kasur dan berikan
selimut.

DAFTAR PUSTAKA
_________, 1985, Buku Kuliah 1, Ilmu Kesehatan Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran,
Universitas Indonesia, Jakarta.
IOWA Outcomes Project, Nursing Outcomes Classification (NOC), Edisi 2, 2000, Mosby
IOWA Outcomes Project, Nursing Interventions Classification (NIC), Edisi 2, 2000, Mosby
Nelson, 1992, Ilmu Kesehatan Anak, Bagian 2, EGC, Jakarta
Pusponegoro.H.D., dkk, 2004, Standar Pelayanan Medis Kesehatan anak, Edisi I, Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Ralph & Rosenberg, 2003, Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2005-2006, Philadelphia USA
Wong, 2003, Keperawatan Pediatrik, EGC, Jakarta
Carpenito, rencana Asuhan dan dokumentasi Keperawatan, Edisi 2, 1995, EGC, Jakarta
Noer. S., Waspadji.S., Rachman.M., Lesmana.L.A, Widodo.D., Isbagio.I., Alwi.I., Husodo.U.B.,1996, Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.

LAPORAN PENDAHULUAN
BAYI BARU LAHIR
I. KONSEP MEDIK
A. Pengertian
Bayi lahir normal adalah Bayi yang lahir dalam presentasi belakang kepala melalui
vagina tanpa memakai alat, pada usia kehamilan genap 37 minggu sampai dengan 42 minggu,
dengan berat badan 2500-4000 gram, nilai Apgar > 7 dan tanpa cacat bawaan.
Neonatus ialah bayi yang baru mengalami proses kelahiran dan wajib
menyesuaikan diri dari kehidupan intra uterin ke kehidupan ekstrautern. Beralih dari
ketergantungan mutlak pada ibu menuju kemandirian fisiologi. Tiga faktor yang
mempengaruhi perubahan fungsi dan proses vital neonatus yaitu maturasi, adaptasi dan
toleransi. Selain itu pengaruh kehamilan dan proses persalinan mempunyai peranan penting
dalam morbiditas dan mortalitas bayi. Empat aspek transisi pada bayi baru lahir yang paling
dramatik dancepat berlangsung adalah pada sistem pernapasan, sirkulasi, kemampuan
menghasilkan sumber glukosa.
B. Karakteristik Bayi Baru lahir
Pada kehamilan cukup bulan, bebagai sistem fisiologi dan anatomi mencapai
tingkat perkembangan dan fungsi yang memungkinkan janin memiliki eksistensi terpisah dari
ibunya. Periode neonatal yang berlangsung sejak bayi lahir sampai usianya 28 hari,
merupakan waktu berlangsungnya perubahan fisik yang dramastis pada bayi baru lahir.
1. Karakteristik Biologis
a.

Sistem Kardiovaskuler
Sistem kardiovaskuler mengalami perubahan yang nencolok setelah bayi lahir.
Foramen ovale, duktus arteriosus dan duktus venosus menutup. Arteri umbulikalis, dan arteri
hapatika menjadi ligamen.
a) Bunyi dan Denyut Jantung
Frekuensi denyut jantung bayi rata-rata 140 kali/menit saat lahir, dengan variasi
berkisar antara 120 dan 160 kali/menit. Frekuensi saat bayi tidur berbeda dengan frekuensi
saat bayi baru bangun. Pada usia satu minggu, frekuensi denyut jantung bayi rata-rata ialah
128 kali/menit saat tidur dan 163 kali/menit saat bangun (Lowrey, 1986). Bunyi Lub
merupakan bunyi jantung pertama dan bunyi Dub merupakan bunyi jantung kedua. Siklus
normal jantung bermula dari sistol (Guyton, 1991). Bunyi jantung selama periode neonatal
bernada tinggi (high pitch), lebih cepat ( short in duration), dan memiliki intensitas yang
lebih besar dari bunyi jantung orang dewasa.
b) Volume dan Tekanan Darah
Tekanan darah sistolik bayi baru lahir ialah 78 dan tekanan diastolik rata-rata ialah
42. tekanan darah sistolik bayi sering menurun (sekitar 15 mmHg) selama satu jam pertama
setelah lahir. Menangis dan bergerak biasanya menyebabkan peningkatan tekanan darah
sistolik.

b.

c.

d.

1.
2.

3.
4.
5.
6.
e.

Volume darah bayi baru lahir bervariasi dari 80 sampai 110 ml/kg selama beberapa
hari pertama dan berkembang/berubah naik dua kali lipat pada akhir tahun pertama. Secar
proporsional, bayi baru lahir memiliki volume darah sekitar 10% lebih besar dan memiliki
jumlah sel darah merah hampir 20% labih banyak dari orang dewasa. Namun bayi baru lahir
mengandung volume plasma sekitar 20% lebih kecil bila dibanding kg badan orang dewasa.
Sistem Hematopoeisis
Karakteristik hematopoesis bayi baru lahir mencakup hematopoesis orang dewasa dengan
variasi tertentu. Saat bayi lahir, nilai Hb berkisar antara 14,5 sampai 22,5 g/dl. Hematokrit
bervariasi dari 44% sampai 72% dan hitung SDM berkisar antara 5 sampai 7,5 juta/mm.
Darah bayi baru lahir mengandung sekitar 80% Hb janin. Golongan darah bayi baru lahir
ditentukan pada awal kehidupan janin. Akan tetapi selama periode neonatal terjadi
peningkatan kemampuan aglutinogen membran SDM secara bertahab.
Sistem Pernapasan
Penyesuaian paling kritis yang wajib dialami bayi baru lahir ialah penyesuaian sistem
pernapasan. Paru-paru bayi cukup bulan mengandung sekitar 20 ml cairan/kg (Blackburn,
Loper, 1992). Udara wajib diganti oleh cairan yang mengisi traktus respiratoris samapi
alveoli. Pada kelahiran pervaginam normal, sejumlah kecil cairan keluar dari trakea dan paruparu bayi.
Setelah pernapasan mulai berfungsi, napas bayi menjadi dangkal dan tidak teratur,
bervariasi dari 30 sampai 60 kali/menit, disertai apnea singkat (minus dari 15 detik). Bayi
baru lahir biasanya bernapas melalui hidung.
Sistem Ginjal
Pada bayi baru lahir, hampir semua massa yang teraba di abdomen berasal dari ginjal.
Perbedaan keseimbangan cairan dan elektrolit bayi baru lahir dari respon fisiologis orang
dewasa ialah sebagai berikut:
Distribusi cairan ektrasel (sekitar 40% berta badan bayi baru lahir) dan intrasel bayi berbeda
dari cairan ektrasel (hanya 20%) dan itrasel orang dewasa.
Kecepatan pertukaran ektrasel berbeda. Pemasukan dan pengeluaran BBL 600-700 ml air
yang ekivalen dengan 20% total cairan tubuh atau 50% cairan ektrasel.. Pada orang dewasa
menukar 2000 ml air yang ekuivalen dengan 55 total cairan tubuh dan 14% cairan ektrasel.
Terdapat variasi komposisi cairan tubuh. Konsentrasi natrium, fosfat, klorida dan asam
organik lebih tinggi dan konsentrasi ion lebih rendah pada BBL.
Kecepatan laju glomerulus ialah 30% pada bayi, pada orang dewasa 50%.
Reabsorbsi natrium menurun akibat aktivitas ATP-ase rendah
BBL memiliki ambang glukosa yang lebih tinggi.
Sistem Cerna
BBL cukup bulan mampu menelan, mencerna, memetabolisme, dan mengabsorbsi
protein dan karbohidrat sederhana, serta dapat mengemulsi lemak. Kecuali amilase pankreas,
karakteristik enzim dan cairan pencernaan bahkan sudah ditemukan pada bayi yang berat
badannya rendah.
Pencernaan
Keasaman lambung bayi saat lahir umumnya sama dengan keasaman lambung orang
dewasa., tetapi akan menurun dalam satu minggu dan tetap rendah selama 2 sampai 3 bulan.
Penurunan asam lambung ini dapat menimbulkan kolik.

Tinja
Saat lahir, usus bayi bagian bawah penuh dengan mekonium. Jumlah feses pada bayi
baru lahir cukup bervariasi selama minggu pertama dan jumlah paling banyak adalah antara
hari ketiga dan hari keenam. Feses transisi (kecil-kecil, bewarna coklat sampai hijau akibat
mekonium) dikeluarkan sejak hari ketiga sampai keenam.
Bayi mulai memiliki pola defekasi pada minggu kedua kehidupannya. Dengan
tambahan makanan padat, tinja bayi secara bertahap mulai menyerupai tinja orang dewasa.
Perilaku Pemberian Makan
Selera makan, gejala lapar, dan jumlah makanan yang dikonsumsi bayi setiap kali
makan berbeda-beda. Jumlah yang dapat dimakan pada saat pemberian makan tentunya
teergantung pada ukuran bayi, tetapi ada faktor lain yang juga menentukan.
Sistem Hepatika
Pada bayi baru lahir, hati dapat dipalpasi sekitar 1 cm dibawah batas kanan iga karena
hati besar dan menempati sekitar 40% rongga abdomen.
Hati mengtur jumlah bilirubin tidak terikat dalam darah. Hiperbilirubinea fisiologis
atau ikterik neonatal merupakan kondisi yang normal pada 50% bayi cukup bulan dan pada
80% bayi prematur
Pembentukan dan ekskresi bibirubin
Sel darah merah
Hemoglobin

Hem

Besi

Globin

Bilirubin
+
Plasma

Hati
Glukoroniltransferase

Bilirubin tidak terkonyugasi + asam glukoronat


Glukoronat bilirubin terkonyugasi
Diekskresi melalui feses atau urine
Sistem Imun
Sel-sel yang menyuplai imunitas bayi berkembang pada awal kehidupan janin. Bayi
mulai menyintesis IgG dan mencapai sekitar 40% kadar IgG orang dewasa pada satu tahun,
sedangkan kadar orang dewasa dicapai pada usia 9 bulan. IgA, IgD, dan IgE diproduksi
secara bertahab. Bayi yang menyusui mendapat kekebalan pasif dari kolustrum dan ASI.
Tingkat proteksi bervariasi tergantung pada usia dan kematangan bayi serta sistem imunitas
yang dimiliki ibu.
Sistem Integumen
Semua struktur kulit bayi sudah terbentuk sat lahir, tetapi masih belum matang. Kulit
bayi sangat sensitif dan mudah rusak.
Kaput Suksedaneum
Ialah edema pada kulit kepala yang ditemukan dini tonjolan edema, yang terlihat saat
bayi lahir, memanjang sesuai garis sutura tulang tengkorak dan lenyap secara spontan dalan
tiga sampai empat hari.
Sefalhematoma
Ialah kumpulandarah diantara tulang tengkorakdan periosteumnya. Dengan demikian,
sefalhematoma tidak pernah melewati garis satura kepela.
Deskuamasi
Deskuamasi (pengelupasan kulit) pada kulit bayi tidak terjadi sampai beberapa hari
setelah lahir. Deskuamasi saat bayi lahir merupakan indikasi pascamaturitas.
Kelenjar Lemak dan Kelenjar Keringat
Kelenjar keringat sudah ada sejak bayi lahir, tetapi ini berespon terhadap peningkatan
suhu tubuh. Terjadi sedikit hiperplasia kelenjar lemak (sebasea) dan sekresi sebum akibat
penngaruh hormon saat hamil.
Bintik Mongolia
Bintik mongolia, daerah pimentasi biru-kehitaman. Dapat terlihat pada semua permukaan
tubuh, termaksud pada ekstremitas terytama dipunggung dan bokong.
Nevi
Dikenal sebagai gigitan burung bangau, nevi telangietaksis berwarna merah muda
dan mudah memutih, terlihat pada mata bagian atas, hidung, tulang oksipital bawah, dan
tengkuk. Tanda ini tidak memiliki makna klinis yang berarti dan akan lenyap antara tahun
pertama dan kedua.
Eritoma Toksikum
Suatu ruam sementara, eritema toksikum, juga disebut eritema neonatorum atau dermatitis
gigitan kutu.
Sistem Reproduksi
Wanita
Saat lahir ovarium bayi berisi beribu-ribu sel germinal primitif. Pada bayi baru lahir
cukup bulan, labia mayora dan labia minora menutupi vestibulum.
Pria

Testis turun ke dalam skotum pada 90% bayi baru lahir laki-laki.
Pembengkakan Jaringan Payudara
Pembengkakan jaringan payudara pada kedua jenis kelamin bayi baru lahir
dikarenakan oleh peningkatan estrogen selama masa hamil.
Sistem Skelet
Arah pertumbuhan sefalocaudal terbukti pada pertumbuhan tubuh secara keseluruhan.
Kepala bayi cukup bulan berukuran seperempa panjang tubuh. Lengan sedikit lebih panjang
daripada tungkai.
Wajah relatif kecil terhadap ukuran tengkorak. Ukuran dan bentuk kranium dapat
mengalami distorsi akibat molase (pembentukan kepala janin akibat tumpang tindih tulangtulang kepala.
Ada dua kurvatura pada kolumna vertebrali; toraks dan sakrum. Pada bayi baru lahir,
lutut saling berjauhan sat kaki diluruskan dan tumit disatukan, sehingga tungkai bawah
terlihat agak melengkung.
Ekstremitas wajib simetris. Wajib terdapat kuku jari tangan dan kuku jari kaki. Garisgaris telapak tangan dan kakki sudah terlihat pada bayi cukup bulan.
Sistem Neuromuskuler
Pertumbuhan otak setelah lahir mengikuti pola pertumbuhan cepat, yang dapat
diprediksi selama periode bayi sampai awal masa kanak-kanak.
Otak memerlukan glukosa sebagai sumber energi dan suplai oksigen dalam jumlah
besar untuk proses metabolisme yang adekuat.
Kontrol neuromuskuler pada bayi baru lahir, walaupun masih terbatas dapat
ditemukan. Apabila bayi baru lahir diletakkan di atas permukaan yang keras dengan wajah
menghadap ke bawah, bayi kan memutar kepalanya kesamping untuk mempertahankan jalan
napas.
Refleks pada Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir memiliki banyak refleks primitif. Waktu, saat refleks bayi lahir ini
muncul dan menghilang, menunjukkan kematangan dan perkembangan sistem saraf yang
baik.
Sistem Termogenik
Termogenesis berarti produksi panas (termo=panas, genesis=asal-usul). Perawatan
neonatus yang efektif didasarkan pada upaya mempertahankan suhu optimum udara di dalam
ruangan.
Produksi Panas
Mekanisme produksi panas dengan cara menggigil jarang terjadi pada bayi.
Termognesis tampa menggigil dapat dicapai, terutama akibat adanya lemak coklat yang unik
pada bayi baru lahir (Blackburn, Loper, 1992; Fanarolff, Martin, 1992) dan kemudian
dibentuk akibat metabolisme diotak, di jantung, dan di hati.
Pengaturan Suhu
Perbedaan anatomi dan fisiologis antara bayi baru lahir dan orang dewasa ialah:
1. Insulasi suhu pada bayi baru lahir minus, jika dibandingkan insulasi pada orang dewasa.
2. Rasio permukaan tubuh bayi baru lahir lebih besar terhadap berat badan.

3.

Kontrol vasomotor bayi baru lahir belum berkembang dengan baik, kemampuan untuk
mengontriksi pembuluh darah subkutan dan kulit sama baik pada bayi prematur dan pada
orang dewasa.
4. Bayi baru lahir memproduksi panas terutama melalui upaya termogenesis tampa menggigil.
5. Kelenjar keringat bayi baru lahir hampir tidak berfungsi sampai minggu keempat setelah
bayi lahir.
Stres Dingin
Stres dingin (cold stres) menimbulkan masalah fisiologis dan metabolisme pada
semua bayi baru lahir tampa memandang usia kehamilan dan kondisi lain.
C. Potensial komplikasi
1. Berat badn lahir rendah.
2. Aspirasi air ketuban
3. Aspiksia
4. Infeksi
5. Hipoglikemia
6. Hiperbilirubinemi
D. Penatalaksanaan
1. Mengeringkan dengan segera dan membungkus bayi dengan kain yang cukup hangat untuk
mencegah hipotermia.
2. Menghisap lendir untuk membersihkan jalan nafas sesuai kondisi dan kebutuhan.
3. Memotong dan mengikat tali pusat, memberi ntiseptik sesuai ketentuan setempat.
4. Bonding Attacment (kontak kulit dini) dan segera ditetekan pada ibunya.
5. Menilai apgar menit pertama dan menit kelima
6. Memberi identitas bayi: Pengecapan telapak kaki bayi dan ibu
jari ibu, pemasangan gelang nama sesuai ketentuan setempat
7. Mengukur suhu, pernafasan, denyut nadi.
8. Memandikan/membersihkan badan bayi, kalau suhu sudah stabil (bisa tunggu sampai enam
jan setelah lahir)
9. Menetetesi obat mata bayi untuk mencegah opthalmia neonatorum.
10. Pemerikksaan fisik dan antropometri.
11. Pemberian vitamin K oral/parenteral sesuai kebijakan setempat.
12. Rooming in (rawat gabung): penuh atau partial.
II. KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Seperti pada alat pengkajian maternal, alat pengkajian bayi baru lahir telah dibuat
dengan memanfaatkan fokus keperawatan sebagai pengganti pendekatan medis atau dari
ujung kepala ke ujung kaki atau pendekatan medis terhadap tinjauan sistem . Alat ini
tidak dibagi ke dal;am bagian subjektif/objektif karena informasi yang dicatat diperoleh
secara objektif dari pengkajian fisik terhadap bayi baru lahir dan tinjauan terhadap maternal,
intrapartum, dan catatan kelahiran. Namun, pertanyaan subyektif khusus dapat diindikasikan
berdasarkan pada temuan fisik individu (Marilynn E. Doenges & Mary Frances Moorhouse,
2001 dalam Rencana Perawatan Maternal/Bayi, Halm. 551)
Jam Pertama Kehidupan (Marilynn E. Doenges & Mary Frances Moorhouse, 2001 dalam
Rencana Perawatan Maternal/Bayi, Halm.557)

Fokus utama pada waktu ini adalah transisi dari kehidupan intrauterus ke ekstrauterus
dengan mengenalkan kepada anggota keluarga sesuai kondisi neonatus.
Pengkajian Dasar Data Neonatus ( Cukup Bulan ):
1. Sirkulasi
Nadi apikal berfluktuasi dari 110 sampai 180 dpm
Tekanan darah 60 sampai 80 mm Hg (sistolik), 40 sampai 45 mm Hg (distolik)
Bunyi jantung: Lokasi dimediastinum denngan titik intensitas maksimal tepat di kiri dari
midsternum pada ruang interkostal ketiga atau keempat.
Murmur biasa terjadi selama beberapa jam pertama kehidupan
Tali pusat putih dan bergelatin, mengandung dua arteri dan satu vena.
2. Eliminasi
Dapat berkemih saat lahir
3. Makanan/Cairan
Berat badan: 2500 sampai 4000 g.
Panjang badan: 44 sampai 55 cm
Turgor kulit elastis (bervariasi sesuai usia gestasi)
4. Neurosensori
Tonus otot: Fleksi hipertonik dari semua ekstremitas.
Sadar dan aktif, mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit pertama setelah
kelahiran (periode pertama reaktivitas)
Penampilan asimetris (molding, edema, hematoma).
Menangis kuat, sehat, nada sedang (nada menangis tinggi menunjukkan abnormalitas genetik,
hipoglikemia, atau efek narkotik yang memenjang).
5. Pernapasan
Skor Apgar: 1 menit: 5 menit
.Skor optimal wajib antara 7 sampai 10.
Rentang dari 30 sampai 60/mnt; pola periodik dapat terlihat
Bunyi napas bilateral, kadang-kadang krekels umum pada awalnya.
Silindrik torak; kartilago xifoid menonjol, umum terjadi.
6. Keamanan
Suhu terentang dari 36,5C sampai 37,5C.
Ada verniks (jumlah dan distribusi tergantung pada usia gestasi).
Kulit:
Lembut, flelsibel; pengelupasan tangan/kaki dapat terlihat; warna merah muda atau
kemerahan; mungkin belang-belang menunjukkan memar minor (mis., kelahiran dengan
forsep), atau perubahan warna harlequin; petekie pada kepala/wajah (dapat menunjukkan
peningkatan tekanan berkenaan dengan kelahiran atau korda nukhal); bercak pott-wine, nevi
telangiektatis (kelopak mata, antara alis mata, atau pada oksipital), atau bercak mongolia
(terutama punggung bawah dan bokong) dapat terlihat.
Abrasi kulit kepala mungkin ada (penempatan elektroda internal)
7. Pemeriksaan Diagnostik
pH tali pusar: Tingkat 7, 20 sampai 7,24 menunjukkan status praasidosis; tingkat rendah
menunjukkan asfiksia bermakna.
Hemoglobin/hematokrit (Hb/Ht): Kadar Hb 15-20 g dan Ht 43%-61%.
Tes Croombs langsung pada darah tali pusat: Menentukan adanya kompleks antigen-antibodi
pada membran sel darah merah, menunjukkan kondisi hemolitik.

8. Prioritas Keperawatan
1. Meningkatkan upaya kardiopulmonar efektif
2. Memberikan lingkungan termonetral, dan mempertahankan suhu tubuh
3. Mencegah cedera atau komplikasi.
4. Meningkatkan kedekatan orangtua-bayi
Neonatus Usia 2 Jam sampai 3 Hari (Marilynn E. Doenges & Mary Frances Moorhouse,
2001 dalam Rencana Perawatan Maternal/Bayi, halm. 567-569)
Pengkajian Dasar Data Neonatus ( Cukup Bulan ):
Rujuk pada MK: Jam Pertama Kehidupan.
1. Aktivitas/Istirahat
Status sadar mungkin 2-3 jam beberapa hari pertama.
Bayi tampak semi-koma saat tidur dalam; meringis atau tersenyum adalah bukti tidur dengan
gerakan mata cepat (REM); tidur sehati rata-rata 24 jam.
2. Sirkulasi
Rata-rata nadi apikal 120 180 dpm (115 dpm pada 4-6 jam, berkembang/berubah naik
sampai 120 dpm pada 12-24 jam setelah kelahiran); dapat berfluktuasi dari 70-100 dpm
(tidur) sampai 180 dpm (menangis).
Nadi perifer mungkin lemah (nadi kuat menunjukkan duktus arteriosus paten); nadi brakialis
adan radialis lebih muda dipalpasi dari pada nadi femoralis (tidak adanya nadi femoralis dan
dorsalis menunjukkan koarktasi aorta).
Murmur jantung sering ada selama periode transisi.
Tekanan darah (TD) terentang dari 60 sampai 80 mm Hg (sistolik)/40 sampai 45 mm Hg
(distolik, rata-rata tekanan istirahat kira-kira 74/46 mmHg; TD paling rendah pada usia 3 jam.
Tali pusat diklem dengan aman tampa rembesan darah; menunjukkan tanda-tanda
pengeringan dalam 1-2 jam kelahiran, mengerut dan menghitam pada hari ke-2 atau ke-3.
3. Eliminasi
Abdomen lunak tampa distensi; bising usus aktif ada beberapa jam setelah kelahiran..
Urin tidak bewarna tau kuning pucat, dengan 6-10 popok basah per 24 jam.
Pergerakan feses mekonium dalam 24-48 jam kelahiran.
4. Makanan/Cairan
Berat badan rerata 2500 sampai 4000 g (5 lb 8 oz sampai 8 lb 13 oz); minus dari 2500 g
menunjukkan kecil untuk usia gestasi (SGA) (mis., prematur, sindrom rubella, atau gestasi
multipel), lebih dari 4000 g menunjukkan besar usia gestasi (LGA) (mis., diabetes maternal;
atau dapat dihubungkan dengan herediter). (Rujuk pada MK Bayi Praterm; penyimpangan
pada pola pertumbuhan).
Penurunan berat badan diawal 5%-10%.
Mulut: Saliva banyak, mutiara Epstein (kristal epitelial) dan lepuh cekung adalah normal
pada palatum keras/margin gusi, gigi prekosius mungkin ada.
5. Neurosensori
Lingkar kepala 32-37 cm; fontanel anterior dan posterior lunak dan datar.
Kaput suksedaneum dan/atau molding mungkin ada selama 3-4 hari; sutura krnial yang
bertumpang tindih dapat terlihat, sedikit obliterasi fontanel anterior (lebar 2-3 cm) dan
fontanel posterior (lebar 0,5-1,0 cm).

Mata dan kelopak mata mungkin edema; hemoragi subkonjugtiva atau hemoragi retina
mungkin terlihat; konjungtivitis kimia dalam 1-2 hari mungkin setelah terjadi penetesan obat
tetes oftalkmik terapeutik.
Strabismus dan fenomena mata boneka sering ada.
Bagian telinga atas sejajar dengan bagian dalam dan luar kantus mata (telinga tersusun
rendah menunjukkan abnormalitas ginjal atau genetik.
Pemeriksaan neurologis: Adanya refleks moro, plantar, genggaman palmar, dan Babinskis;
respon refleks bilateral/sama (refleks moro unilateral menandakan fraktur klavikula atau
cedera pleksus brakialis); gerakan bergulung sementara mungkin terlihat.
Tidak adanya kegugupan, letargi, hipotonia dan parese.
6. Pernapasan
Takipnea sementara dapat terlihat;, khususnya setelah kelahiran sesaria atau presentasi
bokong.
Pola pernapasan: Diafragmatik dan abdominal dngan gerakan sinkron dari dada dan
abdomen (inspirasi yang lambat atau perubahan gerakan dada dan abdomen menunjukkan
distres pernapasan); pernapasan dangkal atau kuping hidung ringan kadang-kadang dapat
terlihat; pernapasan kuping hidung nyata, ekspirasi sulit, atau retraksi interkostal, substernal
atau otot subkostal nyata menandakan distres pernapasan; krekels inspirasi dapat menetap
selama beberapa jam pertama setelah kelahiran (ronki pada inspirasi dan ekspirasi dapat
nenandakan aspirasi).
7. Keamanan
Warna kulit: Akrosianosis mungkin ada untuk beberapa hari selama periode transisi (kebiruan
yang luas dapat menandakan polisitemia); kemerahan atau area ekomotik dapat tampak diatas
pipi atau dirahang bawah atau area parietal sebagai akibat dari penggunaan forsep pada
kelahiran.
Sefalohematoma dapat tampak sehari setelah kelahiran, peningkatan ukuran pada usia 2-3
hari; kemudian direabsorbsi perlahan lebih dari 1 sampai 6 bulan.
Ekstremitas: Gerakan rentang sendi normal kesegala arah, gerakan nenunduk ringan atau
rotasi medial dari ekstremitas bawah, tonus otot baik.
8. Seksualitas
Genitalia wanita: Labia vagina agak kemerahan atau edema, tanda vagina/himen dapat
terlihat; rabas mukosa putih (smegma) atau rabas berdarah sedikit (pseudomenstruasi)
mungkin ada.
Genitalia pria: Testis turun, skrotum tertutup rugae, fimosis biasa terjadi (lubang perpusium
sempit, mencegah retraksi foreskin ke glan).
9. Penyuluhan/Pembelajaran
Usia gestasi antara minggu ke-38 dan 42 didasarkan pada kriteria Dubowitz.
10. Pemeriksaan Diagnostik
Jumlah sel darah putih (SDP): 18.000/mm, neutrofil berkembang/berubah naik sampai
23.000-24.000/mm hari pertama setelah lahir (menurun bila ada sepsis).
Hemoglobin (Hb): 15-20 g/dl (kadar lebih rendah sehubungan dengan anemia atau hemolisis
berlebihan)
Hematokrit (Ht): 43%-61% (peningkatan sampai 65% atau lebih menandakan polisitemia;
penurunan kadar menunjukkan anemia atau hemoragi prenatal/perinatal.

1.
2.
3.
4.
5.
1.
2.
3.
4.

1.
2.
3.
B.

1.
2.

Essai inhibisi Guthrie: Tes untuk adanya metabolit fenilalanin, manandakan fenilketonuria
(PUK)>
Bilirubin total: 6 mg/dl pada hari pertama kehidupan, 8 mg/dl 1 sampai 2 hari, dan 12 mg/dl
pada 3 sampai 5 hari.
Detroksik: Tetes glukosa pertama selama 4-6 jam pertama setelah kelahiran rata-rata 40
sampai 50 mg/dl, berkembang/berubah naik 60 sampai 70 mg/dl pada gari ketiga.
Prioritas Keperawatan
Memudahkan adaptasi untuk hidup di luar uterus
Mempertahankan termonetralitas.
Mencegah komplikasi.
Meningkatkan kedekatan orangtua-bayi.
Memberikan informasi dan bimbingan antisipasi pada orangtua.
Tujuan Pulang
Bayi baru lahir secara efektif beradaptasi pada kehidupan di luar uterus.
Bebas dari komplikasi.
Kedekatan orangtua-bayi dilakukan.
Orangtua mengekspresikan kepercayaan diri akan perawatan bayi.
Neonatus 24 Jam Setelah Pulang Awal (Marilynn E. Doenges & Mary Frances Moorhouse,
2000 dalam Rencana Perawatan Maternal/Bayi, halm. 591)
Pengkajian Dasar Data Neonatus:
Untuk memenuhi kriteria kuat untuk pulang awal, bayi baru lahir wajib
normal, byi sehat ditentukan oleh pemeriksaan fisik menyeluruh: Usia gestasi minggu ke-38
sampai 42, berat badan lahir 2500 sampai 4000 g, tanda-tanda vital dan suhu stabil, Apgar
skor lebih dari 7 pada 1 dan 5 menit, pola eliminasi normal, menyusui berhasil. (Rujuk pada
MK: Neonatus pada Usia 2 jam sampai 3 hari.
Pemeriksaan Diagnostik
Hematokrit (Ht): 40%-61%.
Tes Coooms: Negatif
Tes skrining, seperti fenilketonuria (PUK) dan tes tiroid lengkap.
Prioritas Keperawatan
Mendukung transisi bayi baru lahir untuk kehidupan ekstrauterus.
Meningkatkan interaksi orangtua-bayi positif
Memberikan dukungan dan informasi mengenai perawatan bayi di rumah.
Diagnosa Keperawatan
Jam Pertama Kehidupan (Marilynn E. Doenges & Mary Frances Moorhouse, 2001 dalam
Rencana Perawatan MaternalBayi, Halm. 558-566)
Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan stressor intrapartum,
produksi mukus berlebihan, dan stress akibat dingin.
Resiko tinggi terhadap perubahan suhu tubuh berhubungan dengan usia eksterm
( ketidakmampuan untuk mengigil, permukaan tubuh luas dalam hubungannya dengan massa,
jumlah lemak subkutan terbatas, sumber yang tidak dapat diperbaharui dari lemak coklat dan
beberapa simpanan lemak putih, epidermis tipis dengan penyatuan dekat dari pembuluh darah
ke kulit).

3.
4.

1.

2.
3.
4.
5.
6.

1.
2.
3.
4.
C.

1.

Perubahann proses keluarga berhubungan dengan transisi perkembangan dan/atau


penambahan anggota keluarga.
Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan anomali kongenital tidak terdeteksi atau
tidak teratasi, pemajangan pada agen-agen infeksius.
Neonatus Usia 2 Jam sampai 3 Hari (Marilynn E. Doenges & Mary Frances Moorhouse,
2001 dalam Rencana Perawatan Maternal/Bayi, halm. 569-590)
Resiko tinggi terhadap perubahan suhu tubuh berhubungan dengan usia tua
(ketidakmampuan menggigil, permukaan tubuh luas dalam hubungannya dengan massa,
keterbatasan jumlah lemak subkutan, sumber lemak coklat yang tidak dapat diperbaharui dan
simpanan lemak putih sedikit, epidermis tipis dengan pembuluh darah dekat pada kulit.
Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan stressor
pranatal/intrapartum, produksi mukus berlebihan, fluktuasi temperatur tubuh.
Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi minus dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
peningkatan laju metabolik, kebutuhan kalori tinggi, kelelahan, simpanan nutrisis minimal.
Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan kulit rusak, jaringan trauma, pemajangan
lingkungan, ketidakadekuatan imunitas yang didapat.
Risiko tinggi terhadap konstipasi berhubungan dengan ketidakadekuatan masukan cairan,
obstruksi intestinal.
Minus pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai pertumbuhan/perkembangan dan
perawatan bayi berhubungan dengan kurangnya pemajangan.
Neonatus 24 Jam Setelah Pulang Awal (Marilynn E. Doenges & Mary Frances Moorhouse,
2001 dalam rencana perawatan maternak/bayi, Halm. 591-599).
Perubahan nutrisi minus dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk
mencerna nutrien adekuat (karena kelelahan, sekresi orofaring berlebihan).
Resiko tinggi terhadap cedera, kerusakan sistem saraf pusat berhubungan dengan fungsi
biokimia atau regulatoris.
Resiko tinggi terhadap perubahan menjadi orangtua berhubungan dengan kekurangan
dukungan antara/dari orang terdekat; minus pengetahuan; adanya stresor.
Minus pengetahuan (Kebutuhan belajar) mengenai perawatan bayi berhubungan dengan
minus mengingat dan/atau ada informasi tidak lengkap; kesalahan interprestasi.
Rencana Keperawatan
Jam Pertama Kehidupan (Marilynn E. Doenges & Mary Frances Moorhouse, 2001 dalam
Rencana Perawatan MaternalBayi, Halm. 558-566)
Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan stressor intrapartum,
produksi mukus berlebihan, dan stress akibat dingin.
Tujuan:
Bebas tanda distres pernapasan..
TINDAKAN/INTERVENSI
RASIONAL

Mandiri
1.
Ukur skor Apgar pada menit ke-1 dan
ke-5 setelah kelahiran.
Perhatikan komplikasi pranatal yang
mempengaruhi status plasenta dan/atau
janin (mis., kelainan jantung atau ginjal,
hipertensi karena kehamilan, atau
diabetes).
Bersihkan jalan napas; hisap
nasofaring dengan perlahan, sesuai
kebutuhan, dngan memanfaatkan spuit
balon atau kateter penghisap DeLee
(lebih disukai sambil kepala bayi
2.
diperineum ibu bila ada cairan amniotik
mengndung mekonium). Pantau nadi
apikal selama penghisapan.
Keringkan bayi dengan selimut hangat,
tempatkan stoking penutup kepala, dan
3.
tempatkan dilengan orangtua.
Tempatkan bayi
pada posisi
Trendelenburg yang dimodifikasi pada
sudut 10 derajat.
Kolaborasi
Lakukan penghisapan dalam bila bayi
4.
menunjukkan bukti depresi pernapasan
yang
tidak
berespon
terhadap
penghisapan perlahan atau rangsangan
taktil perlahan.
Berikan tindakan resusitatif, dan
siapkan untuk pemindahan bayi ke unit
perawatan intensif neonatus (NICU) tau
fasilitas tingkat III/IV, sesuai indikasi.

Membantu menentukan kebutuhan


terhadap intervensi segera (mis.,
penghisapan, oksigen). Skor total dari
0 sampai 3 menunjukkan asfiksia berat
atau kemungkinan disfungsi pada
control neurologist dan/atau kimia
terhadap pernapasan. Skor 4 sampai 6
memperberat kesulitan beradaptasi
terhadap kehidupan ekstrauterus. Skor
7 sampai 10 menandakan tidak ada
kesulitan
beradaptasi
terhadap
kehidupan ekstrauterus.
Komplikasi ini dapat mengakibatkan
hipoksia
kronis
dan
asidosis,
meningkatkan risiko kerusakan sistem
saraf pusat dan memerlukan perbaikan
setelah kelahiran.
Membantu menghilangkan akumulasi
cairan,
memudahkan
upaya
pernapasan, dan membantu mencegah
aspirasi.
Penghisapan
orofaring
menyebabkan rangsangan vagal yang
menimbulkan bradikardi.
Menurunkan efek-efek stres dingin
(mis., peningkatan kebutuhan oksigen)
dan berhubungan dengan hipoksia,
yang selanjutnya dapat menekan upaya
pernapasan
dan
mengakibatkan
asidosis
saat
bayi
memaksa
metabolisme anaerobik dengan produk
akhir asam laktat. (Rujuk pada DK:
Suhu tubuh, perubahan, risiko tinggi
terhadap).
5. Memudahkan drainase mukus dari
nasofaring dan trakea denga gravitasi.
6. Pada walnya, sehat, menangis kuat
meningkatkan PO2 alveolar dan
menghasilkan perubahan kimia yang
diperlukan untuk mengubah sirkulasi
janin menjadi sirkulasi bayi, sehingga
frekuensi jantung berkembang/berubah
naik 170-180 dpm dan kemudian
biasanya kembali ke normal dalam 4-6
jam berikutnya.

7.

Menandakan hipoksia intrauterus


kronis,
yang
kemungkinan
dihubungkan dengan asidosis dan
memerlukan tindakan resusitatif.

2. Resiko tinggi terhadap perubahan suhu tubuh berhubungan dengan usia eksterm
( ketidakmampuan untuk mengigil, permukaan tubuh luas dalam hubungannya dengan massa,
jumlah lemak subkutan terbatas, sumber yang tidak dapat diperbaharui dari lemak coklat dan
beberapa simpanan lemak putih, epidermis tipis dengan penyatuan dekat dari pembuluh darah
ke kulit).
Tujuan:
Bebas tanda distres pernapasan dan stres dingin.
TINDAKAN/INTERVENSI
RASIONAL
Mandiri
1.
Hipoksia janin atau penggunaan
1. Pastikan obat-obat yang diterima ibu Demerol
oleh
ibu
mengubah
selama
periode
prenatal
dan metabolisme janin terhadap lemak
intrapartum. Perhatikan adanya distres coklat, sering menyebabkan penurunan
atau hipoksia pada janin.
suhu bayi yang berarti. Magnesium
2. Keringkan kepala dan tubuh bayi baru Sulfat dapat menyebabkan vasodilatasi
lahir, pakaikan stoking penutup kepala; dan mempengaruhi kemampuan bayi
dan bungkus dalam selimut hangat.
untuk menyerap panas.
3. Tempatkan bayi baru lahir dalam
2. Mengurangi kehilangan panas akibat
lingkungan hangat atau pada lengan evaporasi dan konduksi, melindungi
orangtua. Hangatkan objek yang kontak kelembaban bayi dari aliran udara atau
bayi (mis., timbanga, stetoskop, meja pendingin udara, dan membatasi stres
pemeriksaan dan tangan).
akibat perpindahan lingkungan dari
4. Perhatikan suhu lingkungan. Hilangkan uterus yang hangat kelingkungan yang
aliran
udara
dan
minimalkan lebih dingin (kemungkinan 5F [19C]
penggunaan pendingin udara; hangatkan lebih rendah dari pada suhu intrauterus).
oksigen bila diberikan melalui masker.
(Catatan: Kerna besar area relatif dari
5. Kaji suhu inti neonatus, pantau suhu kepala
bayi
baru
lahir
dalan
kulit secar kontinu dengan alt pemeriksa hubungannya dengan tubuh, bayi dapat
kulit dengan tepat.
mengalami kehilangan panas dramatik
Kolaborasi
dari kelembaban, kepala tidak tertutup).
6. Pertimbangan masuk ke NICU
3. Mencegah kehilangan panas melalui
konduksi, dimana panas dipindahkan
dari bayi baru lahir ke objek atau
permukaan yang lebih dingin daripada
bayi. Digendong erat dekat tubuh orang
tua dan kontak kulit dengan kulit
menurunkan kehilangan panas bayi baru
lahir.

4. Penurunan suhu lingkungan 2C (3,6F)


cukup untuk menendakan konsumsi
oksigen
neonatal
cukup
bulan.
Kehilangan panas melalui konveksi
terjadi bila bayi kehilangan panas
kealiran udara yang lebih dingin.
Kehilangan melalui radiasi terjadi bila
panas dipindahkan dari bayi baru lahir
keobjek atau permukaan yang tidak
berhubungan langsung dengan bayi baru
lahir (Mis.,sisi tau dinding inkubator).
5.
Suhu tubuh wajib dipertahankan
mendekati 36,5C (97,6F). Suhu inti
(rektal) biasanya 0,5C (0,9F) lebih
tinggi dari suhu kulit, namun
perpindahan kontinu dari inti kekulit
terjadi sehingga perbedaan antara suhu
inti dan kulit lebih besar, makin cepat
pemindahan makin cepat suhu ini
menjadi dingin.
6. Peningkatan suhu yang terlalu cepat
dapat mengakibatkan apnea pada bayi
yang mengalami stres dingin.
3. Perubahann proses keluarga berhubungan dengan transisi perkembangan dan/atau
penambahan anggota keluarga.
Tujuan:
Dengan tepat mengidentifikasi bayi untuk menyakinkan hubungan keluarga yang benar.
TINDAKAN/INTERVENSI
RASIONAL
Mandiri
1.
Menghilangkan ansietas orangtua
1. Informasikan kepada orangtua tentang berkenaan dengan kondisi bayi mereka.
kebutuhan-kebutuhan neonatus segera Membantu orangtua untuk memahami
dan perawatan yang diberikan.
rasional intervensi pada periode awal
2. Tempatkan bayi dalam lengan ibu/ayah bayi baru lahir.
segera setelah
kondisi
neonatus
2. Jam pertama dari kehidupan bayi adalah
memungkinkan.
masa yang paling khusus bermakna
3. Anjurkan orangtua untuk mengelus dan untuk interaksi keluarga dimana ini
bicara pada bayi baru lahir; anjurkan ibu dapat meningkatkan awal kedekatan
untuk menyusui bayi bila diinginkan.
antara orangtua dan bayi serta
penerimaan bayi baru lahir sebagai
anggota keluarga baru.
3.
Memberikan kesempatan untuk
orangtua dan bayi baru lahir memulai
pengenalan dan proses kedekatan.

Neonatus Usia 2 Jam sampai 3 Hari (Marilynn E. Doenges & Mary Frances Moorhouse,
2001 dalam Rencana Perawatan Maternal/Bayi, halm. 569-590)
1.
Resiko tinggi terhadap perubahan suhu tubuh berhubungan dengan usia tua
(ketidakmampuan menggigil, permukaan tubuh luas dalam hubungannya dengan massa,
keterbatasan jumlah lemak subkutan, sumber lemak coklat yang tidak dapat diperbaharui dan
simpanan lemak putih sedikit, epidermis tipis dengan pembuluh darah dekat pada kulit.
Tujuan:
Bebas dari tanda-tanda stress dingin atau hipotermia.
TINDAKAN/INTERVENSI
RASIONAL
Mandiri
Pertahankan suhu lingkungan dalam
zona termoneural yang ditetapkan
(TNZ) dengan mempertimbangkan berat
badan neonatus, usia gestasi, dan
pakaian yang biasanya diberikan.
Pantau aksila bayi, kulit (abdomen),
atau suhu timpanik dan lingkungan
sedikitnya setiap 30-60 menit selama
periode stabilisasi, atau lebih sering
perprotokol.
Kaji frekuensi pernapasan; perhatikan
takipnea (frekuensi lebih besar dari
60/menit).

Dalam respon terhadap suhu


lingkungan yang rendah, bayi cukup
bulan meningkatkan suhu tubuhnya
dengan menangis atau meningkatkan
aktivitas
motorik,
karenanya
mengkonsumsi energi lebih banyak
(simpanan glukosa) dan meningkatkan
kebutuhan oksigen mereka.
Stabilisasi suhu mungkin tidak terjadi
sampai 8-12 jam setelah lahir.
Kecepatan konsumsi oksigen dan
metabolisme minimal bila suhu kulit
(indikator dari pertukaran energi
antara bayi dan lingkungan yang dapat
dipercaya) dipertahankan diatas 36C.
Bayi menjadi takipnea dalam respon
terhadap
peningkatan
kebutuhan
oksigen yang dihubungkan dengan
stres dingin dan upaya mengeluarkan
kelebihan
karbondioksida
untuk
menurunkan asidosis respiratori.
2.
Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan stressor
pranatal/intrapartum, produksi mukus berlebihan, fluktuasi temperatur tubuh.
Tujuan:
Bebas tanda distres pernapasan
TINDAKAN/INTERVENSI
RASIONAL
Mandiri
Sistem surfaktan berkembang sesuai
Perkirakan usia gestasi dengan kemajuan gestasi. Bila janin mencapai
memanfaatkan kriteria Dubowitz
gestasi
minggu
ke-35.
Adanya
Tinjau ulang kejadian pranatal dan fosfatidilgliserol
(komponen
dari
intrapranatal, perhatikan faktor resiko kompleks surfaktan, yang menandakan
yang dapat memperberat kelebihan maturasi paru janin) secara nyata
cairan paru atau aspirasi cairan amniotik menurunkan insiden distres pernapasan
(mis., diabetes maternal, kelahiran (RDS). Bayi dari ibu diabetik yang telah

sesaria atau kelahiran presentasi


bokong, perdarahan maternal, asfiksia
intrapranatalm sedasi berlebihan pada
ibu).
Kaji frekuensi dan upaya pernapasan.
Bedakan pola pernapasan periodik dari
episodik apnea.
Hisap nasofaring sesuai kebutuhan.
Perhatikan warna, jumlah dan karakter
mukus yang dimuntahkan.
Posisikan bayi miring dengan gulungan
handuk untuk menyokong punggung.

terpajan pada hiperinsulinemia dalam


waktu yang lama sebagai respon
terhadap hiperglikemia ibu, mungkin
produksi surfaktannya tertekan dan
distres pernapasannya lebih besar
meskipun mereka lebih dari 35 minggu
gestasi saat lahir.
Kejadian
ini
memperberat
ketidakmampuan
bayi
untuk
membersihkan
jalan
napas
dari
kelebihan cairan, mukus, dan materi
yang teraspirasi, dan pada penumpukan
kelebihan cairan dalam paru-paru,
mengakibatkan RDS tipe II, yang
biasanya membaik dalam 6 jam.
Frekuensi pernapasan normal adalah
30-60/mnt. Pernapasan periodik yang
tidak bermakna secara fisiologis
dimanifestasikan dengan periode apneik
yang berakhir 5-15 dtk yang terjadi
selama tidur REM dan periodik aktivitas
motorik.
Menjamin kebersihan jalan napas, yang
penting untuk neonatus, yang baru
bernapas melalui hidung dan mungkin
tidak belajar untuk membuka muluit
dalam sebagai terhadap obstruksi hidung
sampai usia 3-4 minggu.
Memudahkan drainase mukus.
3. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi minus dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
peningkatan laju metabolik, kebutuhan kalori tinggi, kelelahan, simpanan nutrisis minimal.
Tujuan:
Menunjukkan penurunan berat badan sama dengan atau minus dari 5%-10% berat badan lahir
pada waktu pulang.
TINDAKAN/INTERVENSI
RASIONAL
Mandiri
1. Bayi cukup bulan khususnya rentan
Tinjau ulang riwayat pranatal ibu pada hippoglikemi mengalami stres
terhadap adanya kemungkinan stresor kronis dalam uterus, terpajan pada kadar
yang berdampak pada simpanan glukosa glukosa yang tinggi dalam uterus,
neonatus, seperti diabetes, hipertensi menjadi SGA atau LGA, atau secara
karena
kehamilan
(HKK),
atau akut sakit.
gangguam
jantung
atau
ginjal.
2.
Stresor kelahiran dan stres dingin
Perhatikan hasil tes yang berhubungan meningkatkan laju metabolisme dan
dengan
pertumbuhan
janin
dan dengan cepat menurunkan simpanan

kesejahteraan janin/plasenta.
Perhatikan skor Apgar, kondisi saat
lahir, tipe/waktu pemberian obat, dan
suhu awal pada penerimaan diruang
perawatan bayi.
3.
Turunkan stressor fisik seperti stres
dingin, pengerahan fisik, dan pemajanan
berlebihan pada pemancar panas.
4.
Timbang berat badan bayi saat
menerima di ruang perawatan dan
setelah itu setiap hari. Perhatikan adanya
sindrom postmaturitas atau wasting.

glukosa, kemungkinan memanfaatkan


sebanyak 200 kalori/kg/mnt dalam ruang
kelahiran sebelum ke ruang perawatan
bayi.
Hipotermi mningkatkan konsumsi
energi dan penggunaan simpanan lemak
coklat yang tidak dapat diperbaharui.
Menetapkan kebutuhan kalori dan
cairan sesuai dengan berat badan dasar,
yang secara normal menurun sebanyak
5%-10% dalam 3-4 hari pertama dari
kehidupan karena keterbatasan masukan
oral dan kehilangan cairan ekstraseluler.
Bayi dengan sindrom postmaturitas
mengalami peningkatan metabolik dan
kebutuhan kalori pada periode awal bayi
baru lahir.
Neonatus 24 Jam Setelah Pulang Awal (Marilynn E. Doenges & Mary Frances Moorhouse,
2001 dalam rencana perawatan maternak/bayi, Halm. 591-599).
1. Perubahan nutrisi minus dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk
mencerna nutrien adekuat (karena kelelahan, sekresi orofaring berlebihan).
Tujuan:
Menunjukkan penurunan berat badan minus dari 10% dari berat badan lahir.
TINDAKAN/INTERVENSI
RASIONAL
1.

2.

3.

4.

Mandiri
Timbang berat badan bayi. Bandingkan
berat badan dengan berat badan lahir
dan berat badan saat pulang.
Observasi bayi terhadap kemungkinan
adanya
tanda-tanda
regurgitasi.
Anjurkan orangtua untuk menciptakan
suasana hati rileks selama memberikan
makanan dan menempatkan bayi pada
sisi kanan setelah pemberian makan.
Kaji tingkat hidrasi bayi, perhatikan
kondisi fontanel, turgor kulit, jumlah
produksi mukus, dan warna serta
kuantitas urine.
Perhatikan frekuensi, jumlah, dan
penampilan feses serta urine. Palpasi
kelunakan abdomen.

Kebutuhan nutrien berdasarkan pada


berat badan. Penambahan berat badan
atau
penurunan
berat
badan
menandakan keadekuatan masukan.
Neonatus
memerlukan
100-120
kkal/kg (54 kalori/lb) setiap hari.
Hanya ASI atau formula yang boleh
diberikan. Pemberian makan wajib
diberikan kira-kira setiap 3 jam (6-8
kali sehari) atau sesuai kebutuhan.
Rata-rata kebutuhan cairan adalah
5oz/kg/24 jam.
Selama periode transisi, neonatus
dapat secara normal memuntahkan
makanan.
Menenangkan
dan
meyakinkan orangtua membantu bayi
rileks selama makan; posisi yang
benar memudahkan pengosongan
lambung ke dalam usus.

2.

Fontanel cekung, turgor kulit buruk,


penurunan haluaran urine, dan
membran mukosa kering menunjukkan
dehidrasi.
Kegugupan
dapat
menandakan hipoglikemia.
Mengevaluasi keadekuatan masukan
oral. Neonatus wajib berkemih
sedikitnya 2 kali dalam 24 jam
pertama setelah pulang, bertambah
sampai kira-kira 7 kali per 24 jam.
Adanya urat dalam urin menandakan
kebutuhan terhadap masukan cairan
tambahan.
Neonatus
dapat
mengeluarkan feses 2 sampai 7 kali
per 24 jam. Feses pada awalnya adalah
mekonium dan berubah sesuai dengan
diet.
Resiko tinggi terhadap perubahan suhu tubuh berhubungan dengan usia lanjut (mekanisme
regulator imatur [hipothalamus], ketidakefektifan mekanisme menggigil, penurunan lemak
subkutan, dekatnya pembuluh darah kepermukaan kulit, dan rasio besar permukaan tubuh
terhadap massa).
Tujuan:
Mempertahankan kadar bilirubin DBN.
TINDAKAN/INTERVENSI
RASIONAL
Mandiri
Lingkungan rumah yang termonetral
1. Diskusikan pentingnya termoregulasi dibutuhkan
untuk
membantu
pada bayi baru lahir dan kemungkinan kemampuan termoregulasi bayi itu
efek negatif dari menggigil berlebihan.
sendiri. Fluktuasi suhu pada bayi baru
2. Demonstrasikan teknik yang tepat untuk lahir memerlukan penggunaan kalori
mengkaji suhu aksila.
untuk meningkatkan keseimbangan pada
3. Perhatikan tanda-tanda peningkatan kebutuhan pertumbuhan. Selain itu,
iritabilitas, pucat, belang-belang, atau menggigil meningkatkan resiko ikterik
letargis;
perhatikan
kegelisahan bayi baru lahir karna afinitas serum
perspirasi pada kepala/wajah.
albumin terhadap bilirubin berkurang.
4. Kaji lingkungan terhadap kehilangan
Teknik yang tidak tepat dapat
termal melalui konduksi, konveksi, menimbulkan ketidakadekuratan hasil
radiasi, atau evaporasi (mis., ruangan
Menunjukkan
hipotermia
atau
dingin
atau
berangin,
pakaian hipertermia.
tidakadekuat pada bayi, atau tidak Suhu tubuh bayi baru lahir berfluktuasi
adanya penutup kepala) atau untuk dengan cepat sesuai dengan perubahan
kelebihan termal (mis., keranjang bayi suhu lingkungan.
menghadap sinar matahari atau dekat
Informasi
membantu
orangtua
pemanas.
menciptakan lingkungan optimal untuk
5. Bantu orangtua dalam mempelajari bayi mereka. Membungkus bayi dan

tindakan
yang
tepat
untuk
mempertahankan suhu bayi, seperti
membendong bayi dengan tepat dan
menutup kepala bial suhu aksila lebih
rendah dari 36,1C dan memeriksa ulang
suhu 1 jam kemudian.

memberikan
penutup
dikepalanya
membantu menahan panasa tubuh. Suhu
aksila
mengevaluasi
keefektifan
lingkungan.
(Catatan:
Dengan
menginformasikan orangtua bahwa
tangan bayi tetap dingin meskipun suhu
tubuh dalam batas normal [DBN] akan
mengurangi ansietas).
3. Resiko tinggi terhadap perubahan menjadi orangtua berhubungan dengan kekurangan
dukungan antara/dari orang terdekat; minus pengetahuan; adanya stresor.
Tujuan:
Mengungkapkan harapan realitas dari kebuutuhan bayi.
TINDAKAN/INTERVENSI
RASIONAL
Mandiri
Tindak lanjut faktor resiko penting
1. Kaji ulang faktor resiko yang mungkin untuk mengevaluasi kemajuan atau area
telah diidentifikasi selama periode kebutuhan. Pemulangan awal ideal
pranatal
atau
intrapartal
(Mis., untuk banyak keluarga, tetapi beberapa
kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi pasien yang beresiko tinggi terhadap
sebelumnya, atau kekurangan sistem penyiksaan
anak
mungkin
juga
pendukung).
dimasukkan dalam populasi pemulangan
2. Observasi interaksi orangtua-bayi. dini.
Bicara dengan orangtua tentang persepsi Karena status ketergantungan mereka,
mereka dan perasaan terhadap bayi. bayi rentan terhadap perilaku parental
Upaya penguatan ikatan positif.
negatif, pemeliharaan tidak adekuat, dan
3. Bantu orangtua untuk mengidentifikasi penyiksaan. Fase taking-in slama
sumber-sumber yang tersedia untuk dimana
ibu
masih
mencoba
mereka; mis., pelayana komunitas atau mengasimilasi detail-detail persalinan
dukungan, bantuan kesehatan di rumah, dan kelahiran, 2 sampai 3 hari terakhir.
atau pembantu ibu.
Memungkinkan orangtua untuk
4. Buat pengaturan untuk tindak lanjut mengantisipasi
ketersediaan
dan
melalui telepon atau kunjungan.
ketepatan sumber-sumber. Ibu secara
normal memerlukan bantuan tambahan
untuk memenuhi kebutuhan bayinya,
keluarganya, dan diri sendiri dan
mengatasi stres yang tidak terduga
selama periode pascapartum awal.
Memberikan dukungan dan kesempatan
untuk
memperhatikan
kemajuan.
Frekuensi hubungan atau kunjungan
tergantung pada kebutuhan situasi
individu; 3 kali kunjungan dalam
minggu pertama dianjurkan.
4. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan kulit tipis, permeabel dan entri portal
ekstra (tali pusat, sirkumsisi): sistem imunologi imatur; kurangnya flora usus normal.

Tujuan:
Bebas dari tanda-tanda infeksi.
TINDAKAN/INTERVENSI
Mandiri
1. Cuci tangan dan intruksikan orangtua
melakukannya sebagai memegang bayi
2. Observasi bayi terhadap abnormalitas
kulit (mis., lepuh, petekie, pustula,
pletora, atau pucat).
3. Diskusikan perawatan kulit, termaksud
mandi setiap hari, atau minus, sesuai
indikasi, dan memanfaatkan sabun
ringan antibakteri. Anjurkan mandi
dengan spon sampai tali pusat lepas.
4. Inspeksi tali pusat.

RASIONAL
Meminimalkan introduksi bakteri dan
penyebaran infeksi.
Abnormalitas ini mungkin merupakan
tanda-tanda infeksi. (Rujuk pada MK:
Neonatus pada Usia 2 jam sampai 3
Hari, DK: Infeksi, risiko tinggi
terhadap).
Petunjuk bagi orangtua untuk
membantu mereka melindungi kulit bayi
yang rapuh dari kerusakan atau
kekeringan berlebihan.
Tali pusat adalah sisi terbuka yang
rentan terhadap infeksi. Wajib sudah
mulai mengering, dan tidak ada
perdarahan, eksudat, bau, atau rembesan
wajib pada hari kedua kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA
Bobak, dkk, 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Edisi 4. EGC. Jakarta
Doenges E. Marilynn, Moorhouse Frances Mary, 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi. Edisi 2.
EGC. Jakarta.
(http://www.bloddokter.net/2008/03/31/merawat-kulit-bayi/).
(http://www.indonesiaindonesia.com/f/12808-bayi-baru-lahir-and-bayi-normal).
(http://www.foxitsoftware.com)
Daftar pencarian:
lp bayi baru lahir, laporan pendahuluan bayi baru lahir, lp bbl, laporan pendahuluan bayi baru
lahir normal, contoh laporan pendahuluan bayi baru lahir normal, laporan pendahuluan bbl,
laporan pendahuluan bayi baru lahir pdf, contoh LP tentang BBLR bagian pathway pdf, LP
neonatus, letak pemriksa denyut jantung, laporan pendahuluan bayi baru lahir normal pdf, LP
BBL pdf, laporan pendahuluan bbl normal, LP BBLN, pathway bayi baru lahir, kode
diagnosa pseudomenstruasi, laporan pendahuluan asuhan keperawatan bayi baru lahir, tujuan
trendelenburg pada bayi baru lahir, kumpulan lp bbl, lp bayi persalinan normal, materi
rencana perawatan maternal atau bayi, kumpulan pathway bbl, laporan bbl, laporan bbl bayi
baru lahir pdf, laporan pendahuluan dan askeb bbl, poster proses metabolisme bayi baru lahir,
laporan pendahuluan bbln, laporan pendahuluan askep neonatus aterm SIB refrensi terbaru, lp
bayi melahirkan, laporan pendahuluan bbl pdf, contoh lp bbl normal, Contoh LP materi BBL,
lp asuhan kebidanan pada bayi baru lahir pdf, askep resiko infeksi pada bblr pdf, LP bayi, lp
bayi baru lahir pdf, Lp dan askep BBL, rumus klirens hati Qh fub, lp bayi neonatus, lp bbl
terbitan baru, lp dan askep ictus neonatus, sebutkan 3 yg dapat dilakukan untuk mningkatkan
pengetahuan kesehatan reproduksi, LP BBL Normal dalam kebidanan, LP BBL normal,
tujuan trendenburg pada bayi baru lahir, LP BAYI NORMAL, lp bayi baru lahir normal
kesehatan, lp bayi baru lahir dengan reaiko infekai, lp bbl /neonatus pdf, LP BAYI BARU

LAHIR DENGAN PERSALINAN NORMAL, lp bbl dengan caput pdf, lp bbl lengkap, lp bbl
nic noc, lp bayi lahir spontan, rumus dubowitz, pdf lp perawatan bayi baru lahir, perubahan
anatomi dan adaptasi fisiologi pada ibu hamil pada sistem pernafasan dan sistem syarap pdf,
pengkajian bayi baru lahir pdf free, pathway bb spontan, pathway bbl bayi baru lahir,
pathway dari bayi baru lahir normal, pathway infeksi neonatus, patofisiologi bayi baru lahir
normal pdf, pengikatan dan beri contohnya misal pada sel B5, patofisiologi dan pathways
bayi baru lahir, pdf contoh askep lp BBL, pdf laporan bayi baru lahir, makalah laporan
pendahuluan menghisap lendir, makalah bayi baru lahir normal pdf, lp dan konsep askep
neonatus, rumus bmr pafa anak, poster yang berhybungan dengan bayi baru lahir, poster
metabolisme bayi baru lahit, lp neonatus aterm, pohon masalah neonatus normal, lp neonatus
normal, lp nutrisi bbl, pohon masalah neonatus aterm resiko infeksi, pohon masalah laporan
pendahuluan bayi baru lahir normal pdf, LP pada bayi normal, LP Perawatan BBL, pdf lp
bayi baru lahir normal, 3 minggu sesudah persalinan asi tidak keluar baby dinicu, contoh
laporan pendahuluan bayi baru lahir normal pdf, contoh laporan pendahuluan BBL normal
2010, contoh laporan pendahuluan kebidanan neonatus, contoh lp askep bbl, contoh lp
tentang bayi baru lahir, CONTOH PENGKAJIAN LENGKAP PADA BAYI YG BARU
LAHIR NEONATUS, di bagian ginjal dan bawah pusar sakit setelah minum spreer, format
pengkajian ruag nicu sepsis, infeksi neonatus pdf, intervensi keperawatan pada pasien
sefalhematom, konsep askep bayi baru lahir pdf, laporan asuhan bayi baru lahir, contoh
laporan pendahuluan asuhan kebidanan perawatan pada bayi baru lahir, contoh askep anak
neonatus pdf, adaptasi fisiologi BBL pada sistem ginjal, artikel laporan pendahuluan bayi
baru lahir normal, askep bayi baru lahir normal pdf, askep bayi baru lahir pdf, askep bbl pdf,
askep infeksi neonatus pdf, askep lp bayi, askep lp pendahuluan bbl normal, askep neonatus
aterm, askep sga, asuhan bbl dan neonatus pdf, cara nevus nangka muda agar merah, laporan
bayi baru lahir, laporan bayibaru lahir, laporan makalah bbl, laporan pendahuluan neonatus
normal, laporan pendahuluan neonatus resiko infeksi pdf, laporan pendahuluan pada bayi
baru lahir, laporan pendahuluan pada bayi dengan diagnosa BBlC, laporan pendahuluan pada
bayi neonatus dengan abses oksipital, laporan pendahuluan resiko infeksi pada bayi, laporan
pendahuluan resiko infeksi pada bayi baru lahir normal, Laporan pendahuluan tentang bayi
baru lahir, laporan pendahuluan termoregulasi dengan pathway, laporan pendahuluan
termoregulasi pada manusia lengkap sama askepnya, laporan prndahuluan bbl, lp askeb bbl
patofisiologi, Laporan pendahuluan neonatus aterm, laporan pendahuluan neonatus, laporan
pendahulua bbl pdf, Laporan pendahuluan asuhan keperawatan bbl pdf, laporan pendahuluan
bay, laporan pendahuluan bayi baru lahir kumpulan, laporan pendahuluan bbl doc, laporan
pendahuluan bbl lb, laporan pendahuluan bbl wordpres, laporan pendahuluan BBLR anatomi,
laporan pendahuluan berat badan lahir cukup bulan, laporan pendahuluan by neunatus,
laporan pendahuluan dan askep pada anak prematur dan patways dan patofisiologi, laporan
pendahuluan lengkap bayi baru lahir lengkap, lp askep bayi baru lahir
Tagged BBL, Besi Bilirubin, Catatan Kerna, Doenges Mary Frances Moorhouse, EGC,
Ekstremitas Gerakan, Hem Globin, Hematokrit Ht, LGA, Makanan Cairan, Neonatus Usia,
NICU, Pemeriksaan Diagnostik, Prioritas Keperawatan, RASIONAL, Rencana Perawatan
Maternal Bayi, SDM, SGA, Sistem Hepatika, Tes Coooms Negatif

Leave a Reply