Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Bekerja membutuhkan lingkungan tempat kerja yang bersih, sehat, aman dan nyaman
lingkungan tempatkerja harus memenuhi kebutuhan fisiologis pekerja serta bebas
pencemaran. Tempat kerja yang pengertiannya adalah tiap ruangan atau lapangan,
tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja atau yang sering
dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber sumber
bahaya.harus sehat (UU No 1 Tahun 1970). Tempat kerja yang merupakan tempat yang
paling mungkin memiliki resiko bahaya terhadap pekerja adalah pabrik atau industry.
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia, baik berupa benda
hidup, benda mati, benda nyata atau abstrak, termasuk manusia lainnya serta suasana
yang terbentuk karena terjadinya interaksi diantara elemen elemen yang ada di alam
(Soemirat, 2004).
Penyehatan lingkungan tempat kerja adalah segala upaya untuk meningkatkan dan
memelihara kesehatan tempat kerja beserta lingkungannya dan pengaruhnya terhadap
manusia. Upaya Pelayanan Kesehatan Lingkungan di tempat kerja secara umum
bertujuan untuk menjamin keselamatan dan kesehatan tenaga kerja dan orang lain yang
berada di tempat kerja, serta sumber produksi, proses dan lingkungan kerja dalam
keadaan aman. Upaya penyehatan ini diatur dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi RI No.03/MEN/1982, yang tujuannya lebih terperinci yaitu : Memberikan
bantuan kepada tenaga kerja dalam penyesuaian diri baik fisik maupun mental,
Melindungi tenaga kerja terhadap setiap gangguan kesehatan yang timbul dari pekerjaan
atau lingkungan kerja, Meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental (rohani) dan
kemampuan fisik tenaga kerja, Memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi
bagi tenaga kerja yang sakit.

Sanitasi industri atau industrial sanitation adalah proses untuk membuat bersih di
lingkungan industri sehingga dapat hidup sehat atau The Promotion of Hygiene and The
Prevention of Disease by Maintenance of Sanitary Condition (Websters Dictionary,
1978) dalam (Sutomo. AH, 2006).Atau dengan pengertian lain sanitasi industri sebagai
Kesling industri/kelompok 8/2015

kegiatan

promosi

kesehatan

dan

pencegahan

penyakit

melalui

pemeliharaan

kondisibersih, sehinggabersifat promotif dan prefentif dan artinya jauhdari kegiatan


kuratif.
Terdapat tiga unsur pokok sasaran lingkungan kerja, yakni unsur-unsur : mesin
sebagai peralatan kerja, manusia sebagai pekerja dan lingkungan kerja. Sistem
pengendalian keselamatan kerja terdiri dari standart, pengukuran, evaluasi, dan koreksi
untuk mencapai tujuan keselamatan. Ada tujuh

alternatif kegiatan koreksi yaitu :

pemakaian/pemberian alat pengaman, pengubahan rencana, pemberian dukungan


prosedur, pelatihan, pemberian peringatan, peningkatan pengawasan kualitas lingkungan
dan pengubahan proses produksi.
Untuk memahami sanitasi industry dan pengelolaan limbah,maka akan lebih baik bila
pemahaman mengenai dinamika kesehatan lingkungan ditekankan, sebab dalam teori
simpul pengetahuan akan tahap tahap pencemaran lingkungan, media pencemaran serta
bio-indikator maupun dampak kesehatan akan terjadi. Pengelolaan limbah industry atau
bukan industry umumnya harus di lakukan, bagaimanapun juga bila hal ini tidak
dilakukan, maka pencemaran lingkungan akan terjadi yang pada gilirannya akan
mengenai manusia, danpada akhirnya dampak kesehatan akan terjadi (Sutomo. A.H.
2006).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Dari Sanitasi Industri ?
2. Apa Saja Ruang Lingkup dari Sanitasi Industri ?
3. Apa saja Bahan Pen-Sanitasi ?
4. Undang Undang Apa Saya Yang Mengatur Tentang Sanitasi Industri ?
5. Pengantar ergonomic terhadap sanitasi industry?

1.3 Tujuan
1. Agar mahasiswa dapat mengetahui pegertian dari sanitasi industri
2. Agar mahasiswa dapat mengetahui ruang lingkup dari sanitasi industri
3. Agar mahasiswa dapat mengetahui bahan bahan pen- Sanitasi
4. Agar mahasiswa dapat mengetahui undang undang yang terkait dengan sanitasi
industi
5. Agar mahasiswa dapat mengetahui dasar ergonomi

Kesling industri/kelompok 8/2015

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sanitasi Industri
Pengertian sanitasi menurut WHO adalah pengawasan penyediaan air minum
masyarakat, pembuangan tinja dan air limbah, pembuangan sampah, vektor
penyakit, kondisi perumahan, penyediaan dan penanganan makanan, kondisi
atmosfer dan keselamatan lingkungan kerja.

Kesling industri/kelompok 8/2015

Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitikberatkan


kegiatannya kepada usaha-usaha kesehatan lingkungan hidup manusia.
Sanitasi industri merupakan suatu proses untuk membuat bersih lingkungan
industri sehingga dapat hidup sehat.
Sanitasi pangan merupakan hal terpenting dari semua ilmu sanitasi karena
sedemikian banyak lingkungan kita yang baik secara langsung maupun tidak
langsung berhubungan dengan suplai makanan manusia. Hal ini sudah disadari sejak
awal sejarah kehidupan manusia dimana usaha-usaha pengawetan makanan telah
dilakukan seperti penggaraman, pengasinan, dan lain-lain.
Sanitasi pangan berhubungan erat dengan sanitasi obat-obatan dan kosmetik,
karena penggunaan ketiga komoditi tersebut yang memerlukan kontak baik secara
internal maupun eksternal dengan tubuh manusia. Demikian pula halnya sanitasi
pangan tidak dapat dipisahkan dengan sanitasi lingkungan dimana produk makanan
disimpan, ditangani, diproduksi atau dipersiapkan, dan daripraktek saniter serta
higiene personalia yang harus menangani makanan.
Dalam industri pangan, sanitasi meliputi kegiatan-kegiatan secara aseptik
dalam persiapan, pengolahan dan pengkemasan produk makanan; pembersihan dan
sanitasi pabrik serta lingkungan pabrik dan kesehatan pekerja.

2.2 Ruang Lingkup Sanitasi Industri


1. Pengendalian air
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1405/menkes/sk/xi/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja
Perkantoran dan industri terdapat pengertian mengenai Air Bersih yaitu air yang
dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi persyaratan
kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
dan dapatdiminum apabila dimasak.
Parameter Kualitas Air yang digunakan untuk kebutuhan manusia haruslah air
yang tidak tercemar atau memenuhi persyaratan fisika, kimia, dan biologis.
a. Syarat fisik, antara lain:
Air yang berkualitas harus memenuhi persyaratan fisika sebagai berikut:
Kesling industri/kelompok 8/2015

1) Jernih atau tidak keruh


2) Tidak berwarna
3) Tidak berasa
4) Tidak berbau
5) Temperature normal
6) Tidak mengandung padatan
b. Syarat kimiawi
a) Ph
b) Besi
c) Aluminium
d) Kesadahan
e) Sulfat
f) Zat organic
c. Syarat biologis
Tidak mengandung kuman-kuman penyakit seperti disentri, tipus, kolera, dan
bakteri patogen penyebab penyakit.
2. Tempat kerja
a. Kondisi tempat kerja
1) Tiap orang yang bekerja dalam ruangan sedikit-dikitnya mendapat
ruang udara 10m3, sebaiknya 15m3
2) Tinggi tempat kerja diukur dari lantai sampai loteng paling sedikit 3
meter
3) Luas tempat kerja harus sedemikian rupa sehingga tiap pekerja dapat
tempat cukup untuk bergerak bebas, paling sedikit 2 meter untuk
seorang pekerja
4) Luas seluruh jendela, lobang-lobang atau dinding gelas untuk
memasukkan cahaya ke dalam ruangan harus minimal 1/6 daripada
luas lantai tempat kerja
5)
b. Kualitas udara tempat kerja
1) Untuk memenuhi kebutuhan O2 bagi penghuni ruangan
2) Untuk menghilangkan bau yang mengganggu dalam ruangan
3) Untuk memelihara keseimbangan temperatur dan kelembaban dalam
ruangan
4) Untuk mengendalikan debu dan kontaminan dalam ruangan
c. Ventilasi udara
1) Ventilasi Umum (General Ventilation) :
2) Proses pertukaran udara terkontaminasi dari suatu ruang kerja melalui
saluran buang, dan pemasukan udara segar melalui saluran masuk.
3) Ventilasi Lokal Setempat (Local Exhaust Ventilation):

Kesling industri/kelompok 8/2015

4)

Proses penghisapan dan pengeluaran udara terkontaminasi secara


serentak dari sumber emisi (pancaran), sebelum udara terkontaminasi
menyebar ke seluruh ruang kerja.

2. Sanitasi makanan
a. Cara penyimpanan bahan makanan
b. Cara pengolahan dan tempat pengolahan
c. Tenaga pengelolaan makanan
d. Cara pengangkutan makanan
e. Cara penyajian makanan

3. Pencegahan dan pembasmian vector


4. Perlengkapan fasilitas sanitasi
a. JUMLAH WC (KAKUS)
b. Tiap 15 tenaga kerja = 1 kakus
c. Tiap 100 tenaga kerja = 6 kakus
d. SYARAT WC (KAKUS)
e. Tidak berbau, tdk ada kotoran terlihat, tdk ada vektor, dibersihkan min 23x sehari
f. TEMPAT PENYIMPANAN PAKAIAN (LOCKER)
g. Bila tenaga kerja mempergunakan pakaian kerja selama jam kerja
h. Harus disediakan tempat-tempat penyimpanan pakaian
i.
5. Pembuangan dan pengendalian limbah
2.3 Bahan Pen-Sanitasi
1. Bahan Pembersih (Cleaning)
a. Aktifitas Detergent
1) Sebagai bahan aktif permukaan. Molekul air menyatu dengan molekul air,
dan molekul minyak rnenyatu dengan molekul minyak dan keduanya
tersebut tidak bisa bercampur. Untuk mengaktifkan kedua permukaan yang
tidak saling bisa bercampur, dikenal dengan istilah bahan aktif
permukaan. Sabun dan deterjen adalah bahan aktif permukaan tersebut,
sehingga air dan minyak bercampur dan menjadi mudah dalam pembersihan
.
2) Pembersih (wetting). Partikel/molekul air lebih suka bergabung dengan
sesama molekul air daripada dengan barang lain. Apabila tegangan
permukaan ini dikurangi, maka molekul air bisa bergabung dengan barang
lain, dengan kata lain air bisa membasahi barang lain.
Kesling industri/kelompok 8/2015

3) Pengemulsi (emulsifying). Molekul detejen itu memiliki kutub yang suka


air (hydrofilik) dan kutub yang suka minyak (lipofilik). Kutub yang suka air
bergabung dengan air pelarut, sedang kutub yang suka minyak bergabung
dengan minyak. Karena deterjen merupakan satu kesatuan molekul, maka
suspensi minyak menjadi merata menyatu dengan air, dengan demikian
suspensi tersebut mudah diangkat dari permukaan yang sedang dibersihkan.
4) Sabun dengan deterjen . Sabun itu terdiri dari ion sodium (natrium) dan sisa
asam stearat. Ion sodium ini dalam air akan digantikan dengan ion kalsium
dan magnesium, dan terjadilah kalsium stearat dan magnesium stearat yang
tidak larut dalam air. Zat yang tidak larut ini tampak sebagai kotoran baru
yang timbul. Sedangkan deterjen, justru dibuat untuk mengatasi masalah
ini. Deterjen merupakan zat serupa dengan sabun, tetapi tidak membentuk
padatan kotoran jika bergabung dengan ion kalsium atau magnesium dalam
air.
b. Komponen Bahan Pembersih
1) Bahan Akfif Permukaan (Surfaktan).
Surfaktan (surfactant) singkatan dari surface-active-agents. artinya bahan
akfif permukaan dari deterjen yang bisa membasahi, menembus dan
menyatukan minyak dan air (mengemulsikan). Contoh dari surfaktan ini
antara lain: aryl dan alkyl sulphonaft dodecanolethoxylate
2) Bahan pembentuk (builder).
Bahan ini merupakan penyedia sifat alkali (basa) atau asam yang utamanya
dapat mengubah sifat kimia lemak/minyak menjadi sabun. Jadi sabun ini
terbentuk tepat pada saat pembersihan dilakukan. Dengan demikian kotoran
minyak/lemak yang semula tidak larut air menjadi larut air. Bahan builder
ini juga dapat mengurangi kesadahan air dan dapat menangkap kotoran
padat terjerat di dalam suspensi (campuran). Contoh dari Builder ini antara
lain: sodium / natrium hidroksida (soda api).
3) Bahan pengisi (Filler)
Pengisi ini merupakan bahan yang ditambahkan dalam jumlah tertentu
untuk melarutkan bahan-bahan deterjen dan untuk membesarkan volume
deterjen, sehingga penggunaannya lebih ekonomis dan efisien. Contoh dari
bahan pengisi ini antara lain: sodium sulphate.
Kesling industri/kelompok 8/2015

2. Jenis Bahan Pen-Sanitasi


a. Non Kimia
1) Panas
Panas akan menggumpalkan, protein sel mikroorganisme, sehingga
fungsi hidup tak terganggu. Efisiensi panas tergantung pada suhu yang
dicapai, kelernbaban, dan waktu di mana suhu dipertahankan.
2) Uap
Uap dapat digunakan sebagai sanitizer jika dibuat dari air berkualitas air
minum. Uap tidak akan merusak sernua spora bakteri, tetapi efektif
terhadap bakteri, ragi dan jamur yang hidup jika digunakan selama
minimum waktu kontak 10 menit setelah pedatan mencapai suhu 850
derajat. Uap tidak dapat menernbus retakan dan goresan permukaan,
tidak seperti air, dan uap tidak dapat digunakan untuk pola pembersihan
(Cleaning-In-Place = Pembersihan Di Ternpat).
3) Air Mendidih
Jika tidak dibutuhkan untuk membunuh spora, suhu 85 0C selama 15
menit atau 800C selama 20 menit telah cukup untuk menonaktif-kan
mikroorganisme vegetatif.
4) UV
Radiasi sinar UV mampu untuk menembus sel, dan merusak fungsi sel.
Efektifts radiasi UV tergantung pada jarak dari sumber, lebih dekat lebih
baik.
b. Kimia
1) Bahan berbasis klorin
Aktifitasnya di air dengan membebaskan zat kimia yang dikenal dengan
nama asam hyypochlorous yang bisa membunuh bakteri. Asam ini
dapat berubah dengan mudah menjadi gas khlorin. Panas dan sinar dapat
menyebabkan perubahan ini dan menjadi tidak efektif dan beracun bagi
manusia. Supaya tetap efektif, maka sanitizer ini harus; dibuat dalam
bentuk larutan asam yang dingin, sebab ini akan memudahkan pelepasan
asarn, hypochlorous yang mematikan bakteri. Larutan asam yang
mengandung klorin ini tidak boleh digunakan untuk peralatan logam
karena bersifat korosif.
a) Keuntungan
Murah
Kesling industri/kelompok 8/2015

b)

Aktif untuk semua mikroorganisrne


Mudah campur

Waktu simpan pendek


Berbau sangat kuat
Mengendap di dalam air yang mengandung besi
Berpengaruh jelek pada kulit

Kelemahan

2) Bahan berbasis lodin


Sanitizer ini berupa larutan asam dari iodine yang telah direaksikan
dengan sejenis zat aktif permukaan (surfactant). Pengaruh dari reaksi
ini membuat iodine mudah untuk ditangani daripada antiseptik lainnya.
a) Keuntungan
Stabil daya simpannya lama
Aktif untuk sernua mikroorganisme kecuali spora
Tidak terpengaruh oleh kesadahan air
Tidak korosif pada logam
Mudah campur
b) Kelemahan
Tidak efektif untuk spora
Mahal
Menodai beberapa permukaan plastic

3) Bahan berbasis Ammonium Guaternary


Sanitizer ini lebih sulit dibilas dan kalau tidak bersih, dapat
mengontarninasi rnakanan, oleh karena itu sebaiknya tidak digunakan
untuk pembersihan mesin/alat bagian dalam. Molekulnya bersifat aktif
permukaan dan dapat melarutkan permukaan bakteri sasarannya dan
bercampur dengannya, sehingga efektif pembasmiannya.
Keuntungan :
Stabil / daya simpannya lama
Aktif untuk mikroorganisme tahan panas
Mencegah dan menghilangkan bau
Tidak iritasi pada kulit
Mudah campur
4) Bahan berbasis Asam anionic (Acid Anionic Suffactants).
a) Keuntungan
Stabil / daya simpannya lama
Kesling industri/kelompok 8/2015

Akfif untuk sernua mikroorganisme termasuk spora yang tahan

panas, dan juga untuk ragi


Tidak menimbulkan bau
Menghilangkan lapisan (kerak) kesadahan air
Tidak korosif pada STAINLESS STEEL
Relatif tidak beracun
b) Kelemahan
Korosif pada logam selain stainless steel
Aktifitas rendah terhadap organisme pembentuk spora,
Busa terlalu banyak
Tidak efektif dalam pembasmian spora.

2.4 Undang Undang Tentang Sanitasi Industri


1. UU No. 11 Tahun 1962 tentang Higiene untuk Usaha - Usaha Bagi Umum
2. Undang-undang No. 2 Tahun 1966 tentang Higiene
3. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran
Negara Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3257)
4. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenal
Dampak

Lingkungan

(Lembaran

Negara

Tahun

1993 Nomor 84,

Tambahan Lembaran negara Nomor 3538);


5. Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : Kep- 51/Menlh/10/1995 Tentang
Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri.
6. UUnomor 1 tahun 1970 Peraturan Menteri Perburuhan No. 7 Tahun 1964
7. Undang-Undang No. 27 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup.Perlindungan terhadap lingkungan hidup dari rencana usaha.
8. Keppres nomor 33 tahun 1990 tentang Penggunaan Tanah bagi pembangunan
9.

Industri
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 261/ MENKES/SK/II/1998 tentang
persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja.

Kesling industri/kelompok 8/2015

10

2.5 Pengatar ergonomi


1. Pengertian ergonomic
Ergonomi atau Ergonomic (bahasa Inggrisnya) sebenarnya berasal dari kata
Yunani yaitu Ergo yang berarti kerja dan Nomos yang berarti aturan atau hukum.
Ergonomi mempunyai berbagai batasan arti, di Indonesia disepakati bahwa
Ergonomi adalah ilmu serta penerapannya yang berusaha untuk menyerasikan
pekerjaan dan lingkungan terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan
tercapainya

produktifitas

dan

efisiensi

yang

setinggi-tingginya

melalui

pemanfaatan manusia seoptimal mungkin (Nurmianto, 1996).


2. Cakupan ergonomi pada industry
Ruang lingkup ergonomi yang mencangkup antara pekerja dan lingkungan
yang ada di industry, salah satunya Penerapan ilmu pengetahuan yang berkaitan
kinerja manusia (fisiologi, psikologi, dan industri rekayasa) memperbaiki sistem
kerja, yang terdiri dari orang tersebut, pekerjaan, alat dan peralatan, tempat kerja
dan ruang kerja, dan lingkungan sekitarnya.

Desain, modifikasi, penggantian dan pemeliharaan peralatan untuk

meningkatkan produktivitas dan kualitas produk.


Desain dan modifikasi ruang kerja serta tata letak tempat kerja untuk

kemudahan dan kecepatan operasi, pelayanan dan pemeliharaan.


Desain dan modifikasi metode kerja, termasuk otomatisasi dan alokasi

tugas antara operator (manusia) dan mesin.


Perancangan kondisi lingkungan fisik kerja yang mampu memberikan
kenyamanan, keamanan/keselamatan dan kesehatan kerja bagi manusia
untuk meningkatkan motivasi kerja, kualitas lingkungan kerja dan
produktivitas.

Kesling industri/kelompok 8/2015

11

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Untuk memahami sanitasi industry dan pengelolaan limbah,maka akan lebih baik
bila pemahaman mengenai dinamika kesehatan lingkungan ditekankan, sebab dalam
teori simpul pengetahuan akan tahap tahap pencemaran lingkungan, media
pencemaran serta bio-indikator maupun dampak kesehatan akan terjadi. Pengelolaan
limbah industry atau bukan industry umumnya harus di lakukan, bagaimanapun juga
bila hal ini tidak dilakukan, maka pencemaran lingkungan akan terjadi yang pada
gilirannya akan mengenai manusia, danpada akhirnya dampak kesehatan akan terjadi
(Sutomo. A.H. 2006).

Sanitasi industri atau industrial sanitation adalah proses untuk membuat bersih di
lingkungan industri sehingga dapat hidup sehat atau The Promotion of Hygiene and
The Prevention of Disease by Maintenance of Sanitary Condition (Websters
Dictionary, 1978) dalam (Sutomo. AH, 2006).Atau dengan pengertian lain sanitasi
industry sebagai kegiatan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit melalui
pemeliharaan kondisi bersih, sehingga bersifat promotif dan prefentif dan artinya jauh
dari kegiatan kuratif.

Kesling industri/kelompok 8/2015

12

Kesling industri/kelompok 8/2015

13