Anda di halaman 1dari 12

HARGA POKOK, PIPETASI DAN QC

I.

Tujuan
-

II.

Harga Pokok Penjualan (HPP)

Untuk mengetahui komponen harga pokok dilaboratorium

Untuk mengetahui cara efesiensi bisnis melalui pemantauan


harga pokok

Pipetasi

Untuk mengetahui cara menggunakan pipet piston (clinipette)


serta membandingkan ketelitiannya dengan pipet gelas

Untuk mengetahui cara mengukur sampel dengan menggunakan


alat spektrofotometer

Quality control (QC)

Untuk mengetahui cara mengontrol alat dan metode

Untuk memastikan hasil pemeriksaan sudah valid

Teori
Harga Pokok Penjualan (HPP)
Manajemen harga pokok adalah salah satu aspek penting di dalam
mengelola sebuah laboratorium karena akan berhubungan dengan efisiensi
dan efektifitas dari proses produksi di laboratorium. Efisiensi dan efektifitas
dalam proses produksi yang tetap mempertahankan kaidah mutu
laboratorium akan berdampak pada laba perusahaan dan kemampuan daya
saing suatu laboratorium.

Dari definisi Harga Pokok Penjualan diatas, bisa kita dapatkan strukture
dasar dalam harga pokok penjaualan umumnya terdiri dari tiga elemen
besar:
Persediaan atau Inventori
Tenaga Kerja Langsung atau Direct Labour Cost
Biaya Overhead (Overhead Cost)

Manajemen harga pokok diperlukan apabila kita akan menentukan

keputusan diantaranya menetapkan harga test, menetapkan harga suatu


proyek, keputusan penggantian alat, keputusan melakukan pembelian alat,
sewa atau kontrak reagen, menentukan arah perkembangan laboratorium.
Harga pokok adalah seluruh biaya yang timbul dari suatu proses produksi
jasa mulai dari awal sampai dengan jasa tersebut diterima pelanggan.
Komponen harga pokok terdiri dari harga pokok langsung dan harga pokok
tidak langsung.
1. Harga pokok langsung adalah biaya yang terkait langsung dengan
proses produksi diantaranya bahan baku (Reagen, Control, Standar),
bahan pembantu/ bahan habis pakai ( Kertas hasil, Sampel cup, Probe
wash, Amplop, kapas dll), biaya personalia tim operasi yang langsung
mengerjakan, biaya listrik, air, biaya pemeliharaan alat.
2. Harga pokok tidak langsung adalah biaya yang dikeluarkan pada proses
penyediaan bahan baku, sampel maupun pengontrolan manajemen
operasional yang akan dikerjakan oleh bagian operasional. Yang
termasuk di dalam harga pokok tidak langsung diantaranya biaya
personalia tim pelayanan, bagian perbekalan dan manajemen mutu.
Perhitungan harga pokok dari suatu test terdiri
1. Harga pokok teoritis, adalah harga pokok yang dihasilkan dari
perhitungan harga reagen terhadap jumlah test teoritis yang tertera di
dalam kemasan
2. Harga pokok teknis adalah harga pokok yang dihasilkan dari
perhitungan harga reagen terhadap jumlah test yang digunakan untuk
proses operasional (test pasien, QC, test kalibrasi, test pengulangan,
reagen terbuang dll).
3. Harga pokok pemasaran adalah harga pokok yang dihasilkan dari
perhitungan harga reagen terhadap jumlah test yang menghasilkan
omset.
Perhitungan HPP
a. Variabel costing
Variabel costing adalah metode penentuan harga pokok penjualan yang
hanya membebankan baiya-biaya penjualan yang bersifat variabel ke
dalam perhitungan harga pokok penjualan. Variabel costing
memperbaiki informasi biaya penuh produk dengan mengelompokkan
biaya menurut perilaku biaya dalam hubungannya dengan perubahan
volume kegiatan. Biaya penjualan yang bersifat tetap pada variabel
costing diperlakukan sebagai biaya periodik, artinya dibebankan
sepenuhnya sebagai biaya periode akutansi dimana biaya tersebut
terjadi.
b. Activity Based Costing (ABC)

Sistem Activity Based-costing (ABC) didesain sistem informasi biaya


yang menyediakan informasi tentang fakta (informing) dan
memberdayakan (empowering) manajemen serta karyawan dalam
pengurangan biaya dan pemrakiraan biaya secara andal. Kekuatan
utama dari sistem ABC terletak pada dua fungsi utama yaitu :

Informing, yaitu kemampuan sistem ABC dalam menyediakan


informasi untuk memantau kinerja personel dalam mewujudkan
rencana

Empowering, yaitu kemampuan sistem ABC dalam


mengklasifikasikan informasi untuk memberdayakan manajemen
serta karyawan, terutama dalam pengurangan biaya dan
pemrakiraan biaya secara andal.

Pipetasi
Pipet digunakan untuk memindahkan sejumlah larutan secara akurat dari
suatu wadah (biasanya beker) ke dalam tabung reaksi untuk pengenceran
atau penetapan kadar, biasanya bersama-sama dengan pengisi pipet
(pipette fillers). Ada dua jenis pipet yang utama, yaitu pipet gelas dan pipet
piston.
Pipet Gelas / Pipet Volume
Pipet volume atau pipet gondok adalah salah satu alat ukur kuantitatif
dengan tingkat ketelitian tinggi, ditandai dengan bentuknya yang ramping
pada penunjuk volume dan hanya ada satu ukuran volume. Pipet
volume digunakan untuk memindahkan cairan dari satu wadah ke wadah
yang lain, biasanya untuk memindahkan larutan baku primer atau sample
pada proses titrasi. Pemindahan cairan dapat dilakukan secara manual
dengan disedot menggunakan piller. Cara pemakaian menggunakan piller:
1. Pasangkan piller pada ujung pipet volume, keluarkan udara pada piller
sampai kempes dengan menekan katup piller bagian atas
2. Masukkan piper volume ke dalam wadah berisi cairan sampai ujung
pipet tercelup sedot cairan sampai melebihi batas ukur dengan
menekan katup piller bagian tengah (antara piller dan pipet)
3. Lap bagian luar pipet dengan kertas tissue untuk mencegah adanya
cairan yang nempel di dinding luar ikut turun pada saat proses
pemindahan
4. Turunkan cairan sampai miniskus tepat pada batas ukur, dengan
menekan katup piller bagian samping
5. Pindahkan cairan pada wadah lain dengan menekan katup
samping piller dan atur posisi pipet volume tegak lurus dan ujung pipet
ditempelkan pada wadah, proses ini untuk mencegah cairan keluar

terlalu cepat sehingga masih ada cairan yang nempel pada dinding
dalam pipet dan tidak ikut keluar.
Pipet Piston / Mikropipet
Mikropipet dan adalah alat untuk memindahkan cairan yg bervolume cukup
kecil, biasanya kurang dari 1000 l. Banyak pilihan kapasitas dlm
mikropipet, misalnya mikropipet yg dapat diatur volume pengambilannya
(adjustable volume pipette) antara 1l sampai 20 l, atau mikropipet yg
tidak bisa diatur volumenya, hanya tersedia satu pilihan volume (fixed
volume pipette) misalnya mikropipet 5 l. dlm
penggunaannya, mikropipet memerlukan tip. Cara penggunaan pipet piston
adalah sebagai berikut:
1. Sebelum digunakan Thumb Knob sebaiknya ditekan berkali-kali untuk
memastikan lancarnya mikropipet.
2. Masukkan Tip bersih ke dalam Nozzle / ujung mikropipet.
3. Tekan Thumb Knob sampai hambatan pertama / first stop, jangan
ditekan lebih ke dalam lagi.
4. Masukkan tip ke dalam cairan
5. Tahan pipet dalam posisi vertikal kemudian lepaskan tekanan dari
Thumb Knob maka cairan akan masuk ke tip.
6. Pindahkan ujung tip ke tempat penampung yang diinginkan.
7. Tekan Thumb Knob sampai hambatan kedua / second stop atau tekan
semaksimal mungkin maka semua cairan akan keluar dari ujung tip
Quality Control
Dalam upaya mencapai tujuan laboratorium klinik, yakni tercapainya
pemeriksaan yang bermutu, diperlukan strategi dan perencanaan
manajemen mutu. Salah satu pendekatan mutu yang digunakan adalah
Quality Management Science (QMS) yang memperkenalkan suatu model
yang dikenal dengan Five-Q.
Westgard (2000) menyatakan Five-Q meliputi :
1. Quality Planning (QP) Pada saat akan menentukan jenis pemeriksaan
yang akan dilakukan di laboratorium, perlu merencanakan dan memilih
jenis metode, reagen, bahan, alat, sumber daya manusia dan
kemampuan yang dimiliki laboratorium.
2. Quality Laboratory Practice (QLP) Membuat pedoman, petunjuk dan
prosedur tetap yang merupakan acuan setiap pemeriksaan
laboratorium. Standar acuan ini digunakan untuk menghindari atau
mengurangi terjadinya variasi yang akan mempengaruhi mutu
pemeriksaan.

3. Quality Control (QC) Pengawasan sistematis periodik terhadap : alat,


metode, dan reagen. QC lebih berfungsi untuk mengawasi, mendeteksi
persoalan dan membuat koreksi sebelum hasil dikeluarkan. Quality
.control adalah bagian dari quality assurance, dimana quality assurance
merupakan bagian dari total quality manajement
4. Quality Assurance (QA) Mengukur kinerja pada tiap tahap siklus tes
laboratorium: pra analitik, analitik dan pasca analitik. Jadi, QA
merupakan pengamatan keseluruhan input-proses-output/outcome, dan
menjamin pelayanan dalam kualitas tinggi dan memenuhi kepuasan
pelanggan. Tujuan QA adalah untuk mengembangkan produksi hasil
yang dapat diterima secara konsisten, jadi lebih berfungsi untuk
mencegah kesalahan terjadi (antisipasi error).
5. Quality Improvement (QI) Dengan melakukan QI, penyimpangan yang
mungkin terjadi akan dapat dicegah dan diperbaiki selama proses
pemeriksaan berlangsung yang diketahui dari quality control dan quality
assessment. Masalah yang telah dipecahkan, hasilnya akan digunakan
sebagai dasar proses quality planning dan quality process laboratory
berikutnya.
Mutu adalah mendapatkan hasil yang benar secara langsung setiap saat
dan tepat waktu, menggunakan sumber daya yang efektif dan efisien. Ini
penting dalam semua tahap proses, mulai dari penerimaan sampel hingga
pelaporan hasil uji.
Pemantapan Mutu laboratorium kesehatan adalah semua kegiatan yang
bertujuan untuk menjamin ketelitian dan ketepatan hasil pemeriksaan
laboratorium. Pemantapan mutu merupakan suatu upaya untuk
meminimalkan atau pencegahan kesalahan semaksimal mungkin mulai dari
kesalahan pra analitik, analitik dan pasca analitik.
Perhatian utama untuk mutu laboratorium klinik adalah akurasi, kebenaran
data, dan tepat waktu, karakteristik yang lainnya tetap penting untuk
diperhatikan dan dilaksanakan.
Akurasi / Ketepatan adalah kemampuan untuk mengukur dengan tepat
sesuai dengan nilai yang benar (true value). Secara kuantitatif, akurasi
diekspresikan dalam ukuran inakurasi. Inakurasi alat dapat diukur dengan
melakukan pengukuran terhadap bahan kontrol yang telah diketahui
kadarnya. Akurasi (ketepatan) atau inakurasi (ketidak tepatan) dipakai
untuk menilai adanya kesalahan acak, sistematik dan keduaduanya (total).
Presisi (ketelitian) adalah kemampuan untuk memberikan hasil yang
sama pada setiap pengulangan pemeriksaan. Secara kuantitatif, presisi
disajikan dalam bentuk impresisi yang diekspresikan dalam ukuran koefisien
variasi. Presisi terkait dengan reproduksibilitas suatu pemeriksaan.

III.

Alat dan bahan

Alat

IV.

Kuvet

Labu ukur

Pipet gelas (volume pipette)

Pipet piston (Clinipette)

Spektrofotometer

Bahan

- Aquadest
- KMNO4

Rancangan kerja
Rancangan Kerja HPP
Pra-analitik

1.

Penyiapan sampel biologis yang akan diproses

2.

Pengambilan sampel

3.

Transport sampel

4.

Registrasi penyimpanan

5.

Sentrifugasi

6.

Preparasi dan perhitungan sampel, bahan baku ( Reagen, QC, kalibrator,


dll)

Analitik

RANCANGAN KERJA QC DAN PIPETASI


Pra-analitik
1. Persiapan pasien
Pasien memenuhi persyaratan yang harus dilakukan sebelum
melakukan pemeriksaan seperti puasa 12 jam, istrahat dengan rentang
waktu yang sudah ditentukan, pola makan dan lain-lain.
2. Persiapan bahan
-

Aquadest

KMNO4

3. Penyiapan alat
-

Kuvet

Labu ukur

Pipet gelas (volume pipette)

Pipet piston (Clinipette)

Spektrofotometer

4. Pengambilan sampel
-

Jenisnya sesuai jenis pemeriksaan

Volume mencukupi

Kondisi baik : tidak lisis,segar/tidak kadaluarsa, tidak berubah warna,

Tidak berubah bentuk, steril (untuk kultur kuman)

Pemakaian antikoagulan atau pengawet tepat

Ditampung dalam wadah yang memenuhi syarat

Indetitas benar sesuai dengan data pasien

5. Penanganan sampel
-

Waktu penyimpanan sampel

Memberi label pada sampel

Menjaga kesterilan dari sampel

Mendistribusikan sampel ke ruang pemeriksaan dengan cepat

6. Penyiapan sampel
-

Sebelum digunakan Thumb Knob sebaiknya berkali-kali untuk


memastikan lancarnya mikropipet.

Masukan Tip bersih ke dalam Nozzle/ujung micropipet

Tekan tombol Thumb Knob sampai hambatan pertama atau first


stop,jangan ditekan lebih ke dalam lagi.

Masukan tip ke dalam cairan yang akan di pipet.

Tahan pipet dalam posisi vertikal kemudian lepaskan tekanan dari


thumb knob maka cairan akan masuk ke tip.

Pindahkan ujung tip ke tempat yang di inginkan.

Tekan thumb knob sampai hambatan kedua / second stop atau tekan
semaksimal mungkin maka semua cairan akan keluar dari ujung tip.

Teknik pemipetan dan penelitian sangat berpengaruh terhadap hasil yang


akan di dapat.untuk pemipetan ukuran sample yang sangat kecil (<50u)
maka sisa semple yang menempel sedikit saja ,akan sangat berpengaruh
terhadap hasil percobaan.
Analitik

PROSEDUR PERCOBAAN PIPETASI DAN QC


1. Buat larutan KMnO4 kadar 50 ppm dengan menimbang 0.005 gram
KMnO4 dilarutkan dengan 100 ml aquadest = > sebagai larutan
baku. Ukur Absorban nya pada panjang gelombang () 546.
2. Dari Larutan Baku, buat larutan KMnO4 kadar 40 ppm dengan
mengencerkan 800 u larutan Baku ditambah 200 u aquadest.
3. Dari Larutan Baku, buat larutan KMnO4 kadar 30 ppm dengan
mengencerkan 600 u larutan Baku ditambah 400 u aquadest.
4. Buatkan pula larutan KMnO4 kadar 20 ppm dengan mengencerkan 400
u larutan Baku ditambah 600 u aquadest.
5. Buat masing masing 5 tabung untuk setiap larutan yang diencerkan.
6. Ukur masing masing larutan dan catat Absorban nya.
7. Hitung masing masing larutan dengan menggunakan Larutan Baku
sebagai standard.
8. Hitung mean ( nilai rata rata ) dari setiap konsentrasi dengan rumus X
= x / n Keterangan : X = nilai rata rata
= jumlah
X = nilai tiap pengamatan
N = Jumlah pengamatan
9. Hitung SD ( Standard Deviasi )/ penyimpangan dari tiap pengukuran
dengan rumus
SD= Akar

( Xx )2
n1

Hitung KV ( Koefisien Variasi ) dari tiap pemgukuran dengan rumus


KV =

SD .100
X

Dari data yang diperoleh dibuat grafik pemantapan ketelitian dengan


ditentukannya batas peringatan (x + 2SD) dan batas kontrolnya (x + 3SD)

V.

Pembahasan
Harga Pokok Penjualan (HPP) yaitu biaya pembuatan atau harga pembelian
yang melekat pada produk barang jadi yang dikirim dari produsen ke
konsumen. Perhitungan harga pokok penjualan bertujuan untuk
menentukan harga penjualan dan laba atau rugi dari penjualan atau

pembelian suatu produk. Harga Pokok Penjualan digunakan oleh seluruh


perusahaan dari segala jenis perusahaan yang memperdagangkan
dagangan baik dalam bentuk barang maupun dalam bentuk jasa. Harga
Pokok Penjualan tidak berpengaruh terhadap Harga Pokok Produksi.
Metode pencatatan persediaan untuk bahan-bahan baku dan bahan
penolong untuk produksi sama yang digunakan untuk mencatat persediaan
pada Harga Pokok Penjualan. Metode-metode yang bisa digunakan dalam
pencatatan persediaan bahan-bahan baku dan bahan penolong Produksi
yaitu : FIFO, LIFO, dan rata-rata. Tetapi biasanya perusahaan menggunakan
metode rata-rata untuk kepraktisannya.
FIFO (First In First Out) adalah metode penentuan harga pokok yang
mengasumsikan bahwa biaya akan mengalir seperti suatu barisan tertentu.
Artinya barang yang pertama masuk diasumsikan akan digunakan (dijual)
pertama kali pula dan barang yang masuk terakhir akan digunakan (dijual)
terakhir pula. Hingga persediaan akhir akan ditentukan dengan
menggunakan harga barang yang terakhir masuk ke perusahaan.
Penggunaan metode FIFO akan mengakibatkan nilai harga pokok penjualan
cenderung lebih rendah dibandingkan dengan metode lain. Sebaliknya nilai
persediaan akhir yang dimiliki perusahaan akan lebih tinggi dibandingkan
dengan menggunakan metode lain.
LIFO (Last In First Out) adalah metode penentuan harga pokok yang
mengasumsikan bahwa biaya akan mengalir secara kebalikan dengan suatu
barisan tertentu. Artinya barang yang terakhir masuk diasumsikan akan
digunakan (dijual) pertama kali dan barang yang masuk pertama kali akan
ditentukan (djual) terakhir kali. Hingga persediaan akhir akan ditentukan
dengan menggunakan harga barang yang pertama masuk ke perusahaan.
Penggunaan metode LIFO akan mengakibatkan nilai harga pokok penjualan
cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan metode lain.
Sebaliknya nilai persediaan akhir yang dimiliki perusahaan akan menjadi
lebih rendah dibandingkan dengan menggunakan metode lain.
Rata-rata (average) adalah metode penentuan harga pokok rata-rata yang
mengasumsikan semua biaya besarnya sama. Artinya tidak ada pembedaan
biaya antara harga barang pertama kali masuk dengan barang yang
terakhir masuk. Nilai persediaan akhir ditentukan atas dasar harga rata-rata
tertimbang seluruh persediaan barang serupa yang dimiliki perusahaan.
Faktor penimbang yang biasanya dipakai untuk menentukan harga pokok
persediaan biasanya menggunakan jumlah persediaan yang dimiliki
perusahaan pada awal periode ditambah dengan jumlah barang yang dibeli
perusahaan selama periode itu. Penggunaan metode rata-rata akan
mengakibatkan nilai harga pokok penjualan cenderung lebih rendah
dibandingkan dengan menggunakan metode LIFO dan lebih tinggi
dibandingkan dengan metode FIFO. Sebaliknya nilai persediaan akhir yang
dimiliki perusahaan akan menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan
menggunakan metode FIFO.

Harga pokok penjualan untuk perusahaan dagang meliputi harga beli


barang dengan ditambah biaya-biaya bersangkutan seperti biaya
pemesanan,biaya transportasi dan biaya penyimpanan. Sedangkan dalam
perusahaan manufactur harga penjualan meliputi pemakaian bahan baku,
biaya upah dan biaya overhead pabrik.
Dalam perhitungan untuk menentukan harga pokok penjualan pada
percobaan yang dilakukan adalah dengan rumus produk jadi untuk dijual
dikurangi persediaan produk akhir periode. Perhitungan harga yang
dilakukan yaitu perhitungan harga normal dan harga KSO. KSO merupakan
suatu perjanjian dimana menggunakan suatu alat dengan reagen yang
sudah ditentukan dari perusahaannya selama beberapa tahun kemudian
ketika sudah memenuhi persyaratan berapa tahun maka alat tersebut akan
menjadi milik perusahaan yang selama ini menggunakannya dengan
membayar uang sewa dan uang reagen. Sedangkan Normal yaitu membeli
alat sendiri dan reagen ditentukan sendiri serta dengan pembelin alat
sendiri maka ada biaya pemeliharaan, biaya penyusutan.
Pada percobaan yang dilakukan untuk pembelian alat sendiri (biaya normal)
yang dibutuh untuk pembelian alat yaitu Rp.500.000.000,00 dengan biaya
pemeliharaan dalam setahun Rp. 5 juta dengan penyusutan selama 4
tahun. Pada perhitungan biaya KSO diperoleh biaya pembelian reagen Rp.
18 juta per bulan selama 4 tahun dan setelah 4 tahun alat itu menjadi milik
sendiri. Ada banyak pemeriksaan yang dilakukan dalam sebulan dengan
hari kerja 25 hari dan kalibrator selama 12 kali dalam sebulan. Dengan
kenaikan jumalah test 20% setiap tahun dan kenaikan tarif laboratorium 5%
setiap tahun.
Dari hasil perhitungan diperoleh total biaya tes pasar dalam sebulan yaitu
Rp. 141.350.000,00 sesuai dengan tarif yang digunakan. Untuk biaya pasar
tidak diperhitungkan reagen yang digunakan. Biaya pasar merupakan biaya
yang kita peroleh dari pasien. Untuk biaya operasional diperhitungkan
harga dari reagent yang digunakan untuk pemeriksaan dengan alat sendiri
atau dengan KSO diperhitungkan. Sehingga total tes per bulan yang
digunakan lebih banyak yang tes operasional dibandingkan dengan dengan
tes pasar. Untuk alat sendiri, total biaya reagen yang digunakan yaitu Rp.
22.638.252,25 dengan jumlah tes dalam per bulan yaitu 6300 Sedangkan
untuk total biaya reagen untuk KSO yaitu Rp. 36.560.508,33 dengan jumlah
tes dalam per bulan yaitu 6300. Dari hasil perhitungan yang dilakukan
diperoleh laba dalam perbulan sebesar Rp.107.878.414 untuk alat sendiri
dan Rp. 104.789.491 untuk KSO. Dari perhitungan laba selama 4 tahun
maka dapat dilihat bahwa dengan membeli alat sendiri memiliki
keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan KSO.

VI.

Kesimpulan
Dari perhitungan harga pokok penjualan dapat disimpulkan :
1. Harga Pokok Penjualan adalah biaya pembuatan atau harga pembelian

yang melekat pada produk barang jadi yang dikirim dari produsen ke
konsumen.
2. Laba yang diperoleh yaitu sebesar Rp.107.878.414 untuk alat sendiri
dan Rp. 104.789.491 untuk KSO dalam perbulan.
3. Pembelian alat sendiri memiliki keuntungan lebih besar dibandingkan
dengan KSO selama 4 tahun. Namun untuk pembelian alat sendiri
dibutuhkan modal yang besar.
Daftar pustaka
Awang. 2010. Pengenalan Alat. http://ekmon-saurus.com/2008/11/bab-1pengenalan-alat.html [diakses pada tanggal 10 Oktober 2016]
Cairns, D. 2009. Intisari Kimia Farmasi. Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta
Day, R. A & A. L, Underwood. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi Keenam.
Erlangga. Jakarta
Maya, Novi. 2010. Kaliberasi Pipet Ukur.
http://catatankimia.com/catatan/kalibrasi-pipet-seukuran-dan-pipetukur.html [diakses pada tanggal 10 Oktober 2016]
Nafarin, M. 2007. Penganggaran perusahaan. Edisi Ketiga. Penerbit Salemba
Empat. Jakarta.
Sudjadi. 2007. Kimia Framasi Analisis. Penerbit Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Umam, Khoirul. 2010. Penggunaan
Mikropipet.http://khoirulumam.com/foodtech-othermenu-27/177penggunaan-mikropipet [diakses pada tanggal 10 Oktober 2016]
Putra. 2008. Harga Pokok Penjualan. http://accounting-financial-tax.com/.
Diakses pada Senin, 10 Oktober 2016
Rahardjo, Sri. 1990. Dasar-Dasar Akuntansi. Intan Pariwara. Yogyakarta
Sulistyanto, Sri. 2008. Manajemen Laba. Grasindo. Jakarta
http://www.informasi-training.com/proses-pengendalian-mutu-pada-laboratoriumpenguji