Anda di halaman 1dari 6

Aspek-Aspek Keluarga

1.

Aspek Agama
Agama memiliki peran penting dalam membina keluarga sejahtera. Agama
yang merupakan jawaban dan penyelesaian terhadap fungsi kehidupan manusia
adalah ajaran atau system yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan
peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta tata kaidah yang berhubungan
dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Oleh karena itu,
sebuah keluarga haruslah memiliki dan berpegang pada suatu agama yang
diyakininya agar pembinaan keluarga sejahtera dapat terwujud sejalan dengan apa
yang diajarkan oleh agama.
Dalam Islam terdapat konsep keluarga sakinah yakni keluarga yang tenteram
di mana suami-istri dituntut menciptakan kehidupan rumah tangga yang harmoni
antara kebutuhan fisik dan psikis. Yang dimaksud psikis adalah menjadikan
keluarga sebagai basis pendidikan sekaligus penghayatan agama anggota
keluarga. Kesakinahan merupakan kebutuhan setiap manusia. Karena keluarga
sakinah yang berarti: keluarga yang terbentuk dari pasangan suami istri yang
diawali dengan memilih pasangan yang baik, kemudian menerapkan nilai-nilai
Islam dalam melakukan hak dan kewajiban rumah tangga serta mendidik anak
dalam suasana mawaddah warahmah. Sebagaimana dianjurkan Allah dalam surat
Ar-Rum ayat 21 yang artinya:
Dan diantara tanda-tanda kebesaran-Nya ia ciptakan untukmu pasanganpasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenang kepadanya dan
dijadikannya diantaramu rasa cinta dan kasih saying. Sesungguhnya dalam hal
ini terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang memikirkan.
(QS. Ar-Ruum:21)

2.

Aspek Pendidikan
Kehidupan kita dimulai di dalam lingkungan keluarga. Kita besar dan dididik
di dalam keluarga kita. Kita tumbuh dari kecil dalam lingkungan keluarga. Orang
tua mengajar bagaimana kita harus bertindak. Orang tua juga yang membesarkan

kita dengan pendidikan dan etika. Jika kita melihat seorang anak kecil sering
mengucapkan kata-kata kasar, apakah kita sadar bahwa anak tersebut tumbuh di
lingkungan keluarga, sehingga terkadang kita malah menyalahkan anak tersebut,
padahal yang seharusnya disalahkan adalah pendidikan dalam keluarganya?
Sering kali kita menyalahkan anak kecil yang berbuat salah, padahal bukankah
anak kecil belajar dan mencontoh tindakan atau perilaku dari orang dewasa?
Pendidikan keluarga sangat penting namun seringkali dianggap tidak penting.
Etika yang benar harus diajarkan kepada anak semenjak kecil, sehingga ketika
seorang anak menjadi dewasa, ia akan berperilaku baik. Tentu saja perilaku orang
tua juga harus baik dan benar sebagai contoh untuk anaknya. Jikalau semenjak
kecil seorang anak diajarkan dengan baik dan benar maka keluarga tersebut akan
harmonis. Dan seandainya setiap keluarga mengajarkan nilai-nilai etika yang
benar maka semua manusia akan hidup berdampingan dan damai.
Pendidikan adalah segala usaha yang dilakukan untuk menyampaikan kepada
orang atau pihak lain segala hal untuk menjadikannya mampu berkembang
menjadi manusia yang lebih baik, lebih bermutu, dan dapat berperan lebih baik
pula dalam kehidupan lingkungannya dan masyarakatnya.
Keluarga merupakan wahana pertama dan utama dalam pendidikan karakter
anak. Apabila keluarga gagal melakukan pendidikan karakter pada anak-anaknya,
maka akan sulit bagi institusi-institusi lain di luar keluarga (sekolah) untuk
memperbaikinya. Kegagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan
berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang tidak berkarakter. Oleh karena itu,
setiap keluarga harus memilki kesadaran bahwa karakter bangsa sangat
tergantung pada pendidikan karakter anak di rumah.
Keberhasilan keluarga dalam menanamkan nilai-nilai kebajikan (karakter)
pada anak sangat tergantung pada jenis pola asuh yang diterapkan orang tua pada
anaknya. Pola asuh dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dan
orang tua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik (seperti makan, minum, dll)
dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman, kasih sayang, dll), serta sosialisasi
norma-norma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan

lingkungannya. Dengan kata lain, pola asuh juga meliputi pola interaksi orang tua
dengan anak dalam rangka pendidikan karakter anak.
3.

Aspek Ekonomi
Pemerintah mengelompokkan keluarga di Indonesia ke dalam dua tipe.
Pertama, tipe keluarga pra-sejahtera. Yang kita bayangkan ketika mendengar
keluarga tipe ini adalah keluarga yang masih mengalami kesulitan untuk
memenuhi kebutuhan dasar hidupnya berupa sandang, pangan, dan papan.
Keluarga pra-sejahtera identik dengan keluarga yang anaknya banyak, tidak dapat
menempuh pendidikan secara layak, tidak memiliki penghasilan tetap, belum
memperhatikan masalah kesehatan lingkungan, rentan terhadap penyakit,
mempunyai masalah tempat tinggal dan masih perlu mendapat bantuan sandang
dan pangan. Kedua, tipe keluarga sejahtera. Yang terbayang ketika mendengar
keluarga tipe ini adalah sebuah keluarga yang sudah tidak mengalami kesulitan
untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Keluarga sejahtera identik dengan
keluarga yang anaknya dua atau tiga, mampu menempuh pendidikan secara layak,
memiliki penghasilan tetap, sudah menaruh perhatian terhadap masalah kesehatan
lingkungan, rentan terhadap penyakit, mempunyai tempat tinggal dan tidak perlu
mendapat bantuan sandang dan pangan.
Pembinaan terhadap keluarga yang dilakukan oleh pemerintah adalah
menangani keluarga pra-sejahtera. Hal itu terlihat dari program-program dasar
pembinaan keluarga seperti perencanaan kelahiran (KB), Pos Pelayanan Terpadu
(POSYANDU), pelayanan kesehatan gratis, pembinaan lansia, pengadaan rumah
khusus keluarga pra-sejahtera dan sejenisnya.
Namun demikian, jika kita cermati dari tahun ke tahun terkesan bahwa
program pembinaan keluarga menjadi jalan di tempat. Jika kita berani melakukan
refleksi atas hasil pembinaan yang selama ini dilakukan, dapat terlihat beberapa
gejala sebagai berikut:
Pertama, walaupun sudah dilakukan pembinaan bertahun-tahun masih
banyak keluarga yang mengikuti program-program secara pasif partisipatif.
Kedua, masyarakat menganggap bahwa program pembinaan keluarga identik

dengan program pemberian bantuan tertentu. Ketiga, program pembinaan


keluarga identik dengan program pembinaan keluarga miskin.
Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin pesat, kiranya perlu
dilakukan pembenahan dimana keluarga diarahkan untuk menjadi keluarga yang
secara sadar dan proaktif berjuang menjadi keluarga yang sehat dan sejahtera.
Istilah yang kiranya tepat dan berbau promotif adalah membangun keluarga
kreatif, yaitu keluarga yang mampu mengenali permasalahan keluarganya
masing-masing, mencari alternative dalam mengatasi masalah, dan secara
proaktif merencanakan masa depan sendiri sesuai situasi dan kondisi masingmasing.
Persoalannya adalah bagaimana kita mampu melakukan pembinaan terhadap
keluarga agar berkembang menjadi keluarga kreatif. Ada beberapa yang dapat
dilakukan, yaitu:
Melakukan pembinaan dan pendampingan manajemen ekonomi keluarga.
Pembinaan kewirausahaan.
Pemberian bantuan usaha modal usaha.
Pendidikan kreativitas.
Jika saja banyak keluarga Indonesia yang berkembang ke arah keluarga
kreatif, dapat diyakini bahwa semakin hari semakin banyak keluarga Indonesia
yang mampu mewujudkan diri menjadi keluarga yang sehat, sejahtera, sekaligus
mandiri. Jika demikian, pemerintah tidak perlu lagi banyak mengeluarkan
anggaran yang bersifat konsumtif untuk masyarakat. Jika anggaran konsumtif
yang selama ini dikenal sebagai subsidi dapat ditekan seminimal mungkin, maka
secara perlahan-lahan perekonomian negara menjadi lebih kuat. Dan pada
akhirnya keluarga sehat, sejahtera, mandiri dapat terwujud, negara yang sehat,
sejahtera, dan mandiri perlahan-lahan dapat terwujud pula.
4.

Aspek Sosial Budaya

Perkembangan anak pada usia antara tiga-enam tahun adalah perkembangan


sikap sosialnya. Konsep perkembangan sosial mengacu pada perilaku anak dalam
hubungannya dengan lingkungan sosial untuk mandiri dan dapat berinteraksi
atau untuk menjadi manusia sosial. Interaksi adalah komunikasi dengan manusia
lain, suatu hubungan yang menimbulkan perasaan sosial yang mengikatkan
individu dengan sesama manusia, perasaan hidup bermasyarakat seperti tolong
menolong, saling memberi dan menerima, simpati dan empati, rasa setia kawan
dan sebagainya.
Melalui proses interaksi sosial tersebutlah seorang anak akan memperoleh
pengetahuan, nilai-nilai, sikap dan perilaku-perilaku penting yang diperlukan
dalam partisipasinya di masyarakat kelak; dikenal juga dengan sosialisasi. Hal
ini sejalan dengan yang dikatakan Zanden (1986) bahwa kita terlahir bukan
sebagai manusia, dan baru akan menjadi manusia hanya jika melalui proses
interaksi dengan orang lain. Artinya, sosialisasi merupakan suatu cara untuk
membuat seseorang menjadi manusia (human) atau untuk menjadi mahluk sosial
yang sesungguhnya (social human being).
Terdapat tiga elemen utama dalam struktur internal keluarga, yaitu:
1) Status sosial, dimana dalam keluarga distrukturkan oleh tiga struktur utama,
yaitu bapak/suami, ibu/istri dan anak-anak. Sehingga keberadaan status sosial
menjadi penting karena dapat memberikan identitas kepada individu serta
memberikan rasa memiliki, karena ia merupakan bagian dari sistem tersebut.
2) Peran sosial, yang menggambarkan peran dari masing-masing individu atau
kelompok menurut status sosialnya.
3) Norma sosial, yaitu standar tingkah laku berupa sebuah peraturan yang
menggambarkan sebaiknya seseorang bertingkah laku dalam kehidupan sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Ree, Ceria. 2014. Pembinaan Keluarga Sejahtera Dalam Aspek Pendidikan, Sosial,
Budaya,
Dan
ekonomi.
Diakses
melalui
https://www.scribd.com/doc/245430695/Pembinaan-Keluarga-Sejahtera-DalamAspek-Pendidikan. 21 Oktober 2016.