Anda di halaman 1dari 12

AGAMA DAN KESEHATAN MENTAL November 14, 2009

Posted by ppraudlatulmubtadiin in ARTIKEL.


trackback

Manusia dan Agama


Psikologi modern tampaknya memberi porsi yang khusus bagi perilaku keagamaan,
walaupun pendekatan psikologis yang digunakan terbatas pada pengalaman empiris.
Psikologi agama merupakan salah satu bukti adanya perhatian khusus para ahli
psikologi terhadap peran agama dalam kehidupan kejiwaan manusia.
Pendapat yang paling ekstrem pun hal itu masih menunjukkan betapa agama sudah
dinilai sebagai bagian dari kehidupan pribadi manusia yang erat kaitannya dengan
gejala-gejala psikologi. Agama menurut Freud tampak dalam perilaku manusia sebagai
simbolisasi dari kebencian terhadap Ayah yang direfleksi dalam bentuk tasa takut
kepada Tuhan. Secara psikologis, agama adalah ilusi manusia. Manusia lari kepada
agama karena rasaketidakberdayaannya menghadapi bencana. Dengan demikian,
segala bentuk perilaku keagamaan merupakan ciptaan manusia yang timbul dari
dorongan agar dirinya terhindar dari bahaya dan dapat memberikan rasa aman.
Lain halnya dengan penganut Behaviorisme. Walaupun dalam pembahasannya,
Skinner, salah seorang tokoh Behaviorisme tidak menyinggung perilaku keagamaan
secara khusus, namun tampaknya sama sekali tak dapat menghindarkan diri dari
keterkaitannya dengan kenyataan bahwa agama memiliki institusi dalam kehidupan
masyarakat. Dalam hubungan ini pula Skinner melihat agama sebagai isme social yang
lahir dari adanya factor penguat. Menurutnya kegiatan keagamaan menjadi factor
penguat sebagai perilaku yang meredakan ketegangan.
Sejalan dengan prinsip teorinya, bahwa Behaviorisme memandang perilaku manusia itu
lahir karena adanya stimulant (rangsangan dari luar dirinya) teori Sarbond (gabungan
dari stimulant dan respon) yang dikemukakan oleh Behaviorisme tampaknya memang

kurang memberi tempat bagi kajian kejiwaan nonfisik. Namun, dalam masalah perilaku
keagamaan, sebagai sebuah realitas dalam kehidupan manusia tak mampu ditampik
oleh Behaviorisme. Perilaku keagamaan menurut pandangan Behaviorisme erat
kaitannya dengan prinsip reinforcement (reward and punishment). Manusia berperilaku
agama karena didorong oleh rangsangan hukuman dan hadiah. Menghindarkan
hukuman (siksaan) dan mengharapkan hadiah (pahala).
Memang aliran Behaviorisme melihat perilaku bekerja menurut asas mekanistik yang
bersifat serba fisik. Karena itu, para ahli psikologi yang kurang sependapat dengan
pandangan Behaviorisme yang dipelopori oleh E.L. Thorndike, Watso maupun Skinner
menyindir bahwa aliran ini merupakan aliran psikologi yang tidak berjiwa. Mereka
menganggap bahwa perilaku manusia bersifat kondisional, jadi dapat dibentuk dan
diarahkan menurut situasi yang diberikan kepada manusia.
Barang kali yang lebih jelas membahas perilaku keagamaan adalah psikologi
humanistic. Menurut Abraham Maslow, salah seorang pemuka psikologi humanistic
yang berusaha memahami esoteric (rohani) manusia. Maslow menyatakan bahwa
kebutuhan manusia memliki kebutuhan yang bertingkat dari yang paling dasar hingga
kebutuhan yang paling puncak. Pertama,kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan dasar
untuk hidup seperti: makan, minum, istirahat, dan sebagainya. Kedua, kebutuhan akan
rasa aman yang mendorong orang agar bebas dari rasa takut dan
cemas. Ketiga, kebutuhan akan kasih sayang, antara lain berupa pemenuhan
hubungan antarmanusia.Keempat, kebutuhan akan harga diri. Kebutuhan ini
dimanifestasikan manusia dalam bentuk aktualisasi diri antara lain dengan berbuat
sesuatu yang berguna.
Pengalaman puncak yang transeden digambarkan sebagai kondisi yang sehat super
normal (normal super healty) dan sehat super-super (super-super healty), yang oleh
Maslow disebut peakers (transcenderr) dan non-peakers (non-transcenders). Peakers
memiliki pengalaman-pengalaman puncak yang memberikan wawasan yang jelas
tentang diri mereka dan dunia mereka. kelompok ini cenderung menjadi lebih mistik,
puitis, dan saleh.
Teori yang dikemukakan Maslow yang disebutnya sebagai pribadi yang lepas dari
realitas fisik dan menyatu dengan kekuatan transcendental ini dinilainya sebagai tingkat
dari kesempurnaan manusia sebagai pribadi (self). Gambaran tentang kesempurnaan
tingkat kepribadian manusia ini agak mirip dengan konsep insan al-kamil, pribadi
manusia sempurna yang kembali pada fitrah kesuciannya. Fitrah ini menurut M.

Quraish Shihab memiliki ciri-ciri berupa kecenderungan manusia untuk menyenangi


yang benar, baik, indah.
Pendekatan berikutnya adalah yang dikemukakan Victor Frankle pendiri aliran
logoterapi. menurut Frankle, eksistensi manusia ditandai oleh tiga factor,
yaknispirituality (keruhanian), freedom (kebebasan), dan responsibility (tanggung
jawab). Memang Frankle menggunakan istilah spirituality tidak dihubungkan dengan
keberagamaan melainkan semata-mata dikaitkan dengan penghayatan maknawi
manusia akibat adanya kemampuan transedensi terhadap dirinya lingkungannya.
Melalui teori relativisme, Einstein memiliki pengalaman batin yang unik. Menurut Oemar
Hasem dalam bukunya Mengapa Einstein ber-Tuhan, dikemukakan secara garis
besarnya sebagai berikut:
Saat mengadakan percobaan di laboratorium, Einstein membakar batu bara seberat
satu kilogram. sisa pembakaran berupa abu dan asap ia tampung dalam sebuah tabung
kaca. ternyata beratnya menyusut satu gram.
Setiap kali ia melakukan hal yang serupa, senantiasa ditemuinya kasus yang sama.
Einstein mula-mula menjadi heran, ke mana zat yang satu gram itu perginya. padahal
sudah demikian rapinya ia menjaga agar sisa pembakaran itu tidak menguap. akhirnya,
ia menemukan jawabannya bahwa berat yang segram itu berubah menjadi energi. jadi,
setiap terjadi pembakaran satu kilogram batu bara diperoleh energi sebesar satu gram.
Akhirnya, Einstein berkasimpulan bahwa benda-benda langit itu pasti ada yang
menggerakannya. ia menyebutnya sebagai suatu kekuatan Yang Maha Dahsyat. Itulah
Tuhan, cetus Einstein.
Dengan menggunakan pendekatan psikologi agama, barangkali kedua kasus tersebut
dapat di golongkan ke dalam rasa kagum yang oleh Rudloff Otto timbul dari muncul
presaan yang bersumber dari adanya The Wolly Others dan yang menimbulkan
perasaan getaran misterius (mysterium tremendum) dalam hati Einstein.
Agama tampaknya memang tampak tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.
Pengingkaran manusia terhadap agama agaknya dikarenakan factor-faktor tertentu baik
yang disebabkan oleh kepribadian maupun lingkungan masing-masing. Manusia
ternyata memiliki unsur batin yang cenderung mendorongnya untuk tunduk kepada Zat
yang gaib.
Agama sebagai fitrah manusia telah diinformasikan oleh al-Quran:


(30:)
artinya:
maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); tetaplah atas fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada
fitrah Allah. (itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahuinya. (QS 30:30).
Dalam al-Quran dan Terjemahnya (Departemen Agama) dijelaskan bahwa fitrah Allah.
Maksudnya ciptaan Allah. Manusia dicipatakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu
agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu wajar. Mereka
tidak beragama tauhid itu hanya lantaran pengaruh lingkungan.
Muhammad As-Shobuny, mentafsirkannya menjadi sikap ikhlas dan tunduk kepada
Islam sebagai agama Allah dan menjadikan kecenderungan untuk tunduk kepada
agama yang benar, yaitu Islam. dan Allah menjadikan pada diri manusia untuk tunduk
pada fitrah tauhid. dalam berbagai sumber, psikologi agama menurut pendekatan Islam
telah mengungkapkan hubungan manusia dengan agama.

Agama dan Pengaruhnya terhadap Kesehatan Mental


Kesehatan mental (mental bygiene) adalah ilmu yang meliputi system tentang prinsipprinsip, peraturan-peraturan serta prosedur-prosedur untuk mempertinggi kesehatan
ruhani.
Dalam ilmu kedokteran dikenal istilah psikosomatik (kejiwabadanan). Dimaksudkan
dengan istilah tersebut adalah untuk menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang erat
antara jiwa dan badan. istilah makan hati berulam jantung merupakan cerminan
tentang adanya hubungan antara jiwa dan badan sebagai hubungan timbal balik, jiwa
sehat badan segar dan badan sehat jiwa normal.
Sejumlah kasus yang menunjukkan adanya hubungan antara factor keyakinan dan
kesehatan jiwa atau mental tampaknya sudah disadari para ilmuwan beberapa abad
yang lalu. misalnya, pernyataan Carel Gustay Jung diantara pasien saya yang
setengah baya, tidak seorang pun yang penyebab penyakit kejiwaannya tidak
dilatarbelakangi oleh aspek agama. Prof Dr. Muhammad Mahmud Abd Al-Qadir lebih
jauh membahas hubungan antara agama dan kesehatan mental melalui pendekatan
teori biokimia. menurutnya, di dalam tubuh manusia terdapat sembilan kelenjar hormon

yang memproduksi persenyawaan-persenyawaan kimia yang mempunyai pengarih


biokimia tertentu, disalurkan lewat pembuluh darah dan selanjutnya memberi pengaruh
kepada eksistensi dan berbagai-bagai kegiatan tubuh.
Lebih jauh Muhammad Mahmud Abd Al-Qadir berkesimpulan bahwa segala bentuk
gejala emosi seperti bahagia, rasa dendam, rasa marah, takut, berani, pengecut yang
ada dalam diri manusia adalah akibat dari pengaruh persenyawaan-persenyawaan
kimia hormon, di samping persenyawaan lainnya. tetapi dalam kenyataannya,
kehidupan akal dan emosi manusia senantiasa berubah dari waktu ke waktu. karena
itu, selalu terjadi perubahan-perubahan kecil produksi hormon-hormon yang merupakan
unsur dasar dari keharmonisan kesadaran dan rasa hati manusia, tepatnya
perasaannya.
Jika seseorang berada dalam keadaan normal, seimbang hormon dan kimiawinya,
maka ia akan selalu berada dalam keadaan aman. Perubahan yang terjadi dalam
kejiwaan itu disebut oleh Abd Al-Qadir sebagai spectrum hidup. Penemuan Muhammad
mahmud Abd Al-Qadir seorang ulama dan ahli biokimia ini, setidak-tidaknya memberi
bukti akan adanya hubungan antara keyakinan agama dengan kesehatan jiwa.
Pengobatan penyakit batin melalui bantuan agama telah banyak dipraktikkan orang.
Dengan adanya gerakanChristian Science, kenyataan sepeti itu diperkuat pengakuan
ilmiah pula. Dalam gerakan ini dilakukan pengobatan pasien melalui kerja sama antara
dokter, psikiater, dan ahli agama (pendeta). Di sini tampak nilai manfaat dari ilmu jiwa
agama. Barangkali hubungan antara kejiwaan dan agama dalam kaitannya dengan
hubungan antara agama sebagai keyakinan dan kesehatan jiwa, terletak pada sikap
penyerahan diri seseorang terhadap suatu kekuasaan Yang Maha Tinggi. Sikap pasrah
yang itu diduga akan memberi sikap optimis pada diri seseorang sehingga muncul
perasaan positif. Maka, dalam kondisi yang serupa itu manusia berada dalam keadaan
tenang dan normal, yang oleh Muhammad Mahmud Abd Al-Qadir, berada dalam
keseimbangan persenyawaan kimia dan hormon tubuh. Dengan kata lain, kondisi yang
demikian menjadi manusia pada kondisi kodratinya, sesuai dengan fitrah kajadiannya,
sehat jasmani, dan ruhani.
Salah satu cabang ilmu jiwa, yang tergolong dalam psikologi humanistika dikenal
logoterapi (logos berate makna dan juga ruhani). Logoterapi dilandasi falsafah hidup
dan wawsan mengenai manusia yang mengakui adanya dimensi social pada kehidupan
manusia. kemudian, logoterapi menitikberatkan pada pemahaman bahwa dambaan
utama manusia yang asasi atau motif dasar manusia adalah hasrat untuk hidup

bermakna. Diantara hasrat itu terungkap dalam keinginan manusia untuk memiliki
kebebasan dalam menemukan makna hidup. Kebebasan seperti itu dilakukannya
antara lain melalui karya-karya yang diciptakannya, hal-hal yang dialami dan dihayati
(termasuk agama dan cinta kasih) atau dalam sikap atas keadaan dan penderitaan
yang tak mungkin dielakkan. Adapun makna hidup adalah hal-hal yang memberikan
nilai khusus bagi seseorang, yang bila dipenuhi akan menjadikan hidupnya berharga
dan akhirnya akan menimbulkan penghayatan bahagia. Dalam logoterapi dikenal dua
peringkat makna hidup, yaitu makna hidup pribadi dan makna hidup paripurna.
Maka hidup paripurna bersifat mutlak dam universal, serta dapat saja dijadikan
landasan dan sumber makna hidup pribadi. Bagi mereka yang tidak atau kurang
penghayatannya terhadap agama, mungkin saja pandangan falsafah atau ideology
tertentu dianggap memiliki nilai-nilai universal dan paripurna. Sedangkan bagi penganut
agama, maka Tuhan merupakan sumber nilai Yang Maha Sempurna dengan agama
sebagai perwujudan tuntutan-Nya. Di sinilah barangkali letak peranan agama dalam
membina kesehatan mental, berdasarkan pendekatan logoterapi. Karena
bagaimanapun, suatu ketika dalam kondisi yang berada dalam keadaan tanpa daya,
manusia akan kehilangan pegangan dan bersikap pasrah. Dalam kondisi yang serupa
ini ajaran agama paling tidak akan membangkitkan makna dalam hidupnya. Makna
hidup pribadi menurut logoterapi hanya dapat dan harus ditemukan sendiri.
Selanjutnya, logoterapi menunjukkan tiga bidang kegiatan yang secara potensial
memberi peluang kepada seseorang untuk menemukan makna hidup bagi dirinya
sendiri. ketiga itu adalah:
1.

Kegiatan berkarya, bekerja, dan mencipta, serta melaksanakan dengan sebaikbaiknya tugas dan kewajiban masing-masing.
2.
Keyakinan dan penghayatan atas nilai-nilai tertentu (kebenaran, keindahan,
kebaikan, keimanan,n dan lainnya), dan
3.
Sikap tepat yang diambil dalam keadaan dan penderitaan yang tidak terelakkan.
Dalam menghadapi sikap yang tak terhidarkan lagi pada kondisi yang ketiga, menurut
logoterapi, maka ibadah merupakan salah-satu cara yang dapat digunakan untuk
membuka pandangan seseorang akan nilai-nilai potensial dan makna hidup yang
terdapat dalam diri dan sekitarnya.
Terapi Keagamaan
Orang yang tidak merasa tenang, aman serta tenteram dalam hatinya adalah orang
yang sakit ruhani atau mentalnya, tulis H. Carl Witherington. Para ahli psikiatri

mengakui bahwa setiap manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan dasar tertentu yang


diperlakukan untuk melangsungkan proses kehidupan secara lancar. Kebutuhan dapat
berupa kebutuhan jasmani dan berupa kebutuhan ruhani maupun kebutuhan social.
Bila kebutuhan tidak terpenuhi, maka manusia akan berusaha untuk menyesuaikan diri
dengan kenyataan yang dihadapinya. Kemampuan untuk menyesuaikan diri ini akan
mengembalikan ke kondisi semula, hingga proses kehidupan berjalan lancar seperti
apa adanya. Dalam kondisi seperti itu akan pertentangan (konflik) dalam batin.
Pertentangan ini akan menimbulkan ketidakseimbangan dalam kehidupan ruhani, yang
dalam kesehatan mental disebut kekusutan ruhani. kekusutan ruhani seperti ini disebut
kekusutan fungsional.
1.

1. Pengertian Terapi
ialah usaha penaggulangan suatu penyakit atau gejalah yang ada dalam diri makhluk
hidup.

1.

2. Bentuk-Bentuk Terapi
terapi bermacam bentuk ada yang secara lisan yaitu dengan diberi norma-norma
agama, ada pula berbentuk seperti pijat, dan operasi.
Bentuk kakusutan fungsional ini bertingkat. yaitu psychopath, psychoneurose, dan
psikotis. Psychoneurose ditandai bahwa seorang tidak mengikuti tuntutan-tuntutan
masyarakat. pengidap psychoneurose menunjukkan perilaku menyimpang. Sedangkan,
penderita psikotis dinilai mengalami kekusutan mental yang berbahaya sehingga
memerlukan perawatan khusus.
Usaha penanggulangan kekusutan ruhani atau mental ini sebenarnya dapat dilakukan
sejak dini oleh yang bersangkutan. dengan mencari cara yang tepat untuk
menyesuaikan diri dengan memilih norma-norma moral, maka kakusutan mental akan
terselesaikan.
Penyelesaian dengan memilih penyesuaian diri dengan norma-norma moral yang luhur
seperti bekerja dengan jujur, resignasi, sublimasi, kompensasi. dalam konteks ini
terlihat hubungan agama sebagai terapi kekusutan mental. Sebab, nilai-nilai luhur
termuat dalam ajaran agama bagaimanapun dapat digunakan untuk penyesuaian dan
pengendalian diri, hingga terhindar dari konflik batin.

Pendekatan terapi keagamaan ini dapat dirujuk dari informasi al-Quran sendiri sebagai
kitab suci. Diantara konsep terapi gangguan mental ini adalah pernyataan Allah: dalam
surat Yunus dan surat Isra.
.(57: )
.(82: )
artinya:
Wahai manusia, sesungguhnya sudah datang dari Tuhanmu al-Quran yang
mengandung pengajaran, penawar bagi penyakit batin (jiwa), tuntunan serta rahmat
bagi orang-orang yang beriman. (QS Yunus: 57).
Dan kami turunkan al-Quran yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang
beriman. (QS Isra: 82).
Kesehatan mental adalah suatu kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan
tenang, aman, dan tenteram. Upaya untuk menemukan ketenangan batin dapat
dilakukan antara lain melalui penyesuaian diri secara resignasi (penyerahan diri
sepenuhnya kepada Tuhan). Dalam al-Quran petunjuk mengenai penyerahan diri
cukup banyak.

1.

B. Musibah
Musibah merupakan pengalaman yang dirasakan tidak menyenangkan karena
dianggap merugikan oleh korban yang terkena musibah. Berdasarkan asal katanya,
musibah berarti lemparan yang kamudian digunakan dalam makna bahaya, celaka,
atau bencana dan bala. menurut Al-Qurtubi, musibah adalah apa saja yang menyakiti
dan menimpa pada diri seorang, atau sesuatu yang berbahaya dan menyusahkan
manusia, betapapun kacilnya. Musibah dapat menimbulkan penderitaan maupun
kesengsaraan bagi korbannya. Terkadang berlangsung dalam waktu yang panjang,
atau bahkan seumur hidup. Oleh karena itu, setiap orang berusaha untuk menghindar
diri dari kemungkinan tertimpa musibah.
1.
1. Sebab terjadinya Musibah
Penyebab terjadinya musibah bermacam-macam. ada yang disebabkan oleh perbuatan
manusia secara langsung, ataupun penglolaan alam yang keliru, serta yang murni
disebabkan oleh alam.
1.

2. Macam-Macam Musibah

Dari pendekatan agama, musibah dapat dibagi menjadi dua macam.


Pertama, musibah yang terjadi sebagai akibat dari ulah tangan manusia. Karena
kesalahan yang dilakukannya, manusia harus menanggung akibat buruk dari
perbuatannya sendiri. Musibah ini dikenal sebagai hukum karma, yakni sebagai
pembalasan. Kemudian yang
Kedua, musibah sebagai ujian dari Tuhan. Musibah ini sama sekali tidak ada
hubungannya dengan perbuatan keliru manusia. Betapapun baik dan bermanfaatnya
aktivitas yang dilakukan manusia, serta taatnya mereka menjalankan perintah Tuhan,
musibah yang seperti ini bakal mereka alami juga. Oleh karena itu, musibah ini sering
dihubung-hubungkan dengan takdir (ketentuan Tuhan).

Erich Fromm, mencoba menganalisis melalui pendekatan psikologi. Menurutnya derita


yang dialami korban musibah disebabkan adanya rasa kedekatan. Seseorang yang
merasa dekat dengan sesuatu, akan merasa kehilangan bila berpisah dengan sesuatu
atau orang yang ia merasa dekat dengannya. rasa kedekatan yang mendalam, berubah
menjadi rasa cinta. Kesedihan dan derita yang dirasakan seseorang, sebanding dengan
tingkat kecintaannya kepada sesuatu. Semakin tinggi dan mendalam rasa cintanya,
maka akan semakin berat derita yang dialami, bila seseorang kahilangan yang ia cintai
itu.
Sebaliknya, dalam pendekatan keagamaan, kesedihan yang ditimbulkan oleh musibah
terkait dengan rasa memiliki. Terkadang secara tak sadar, manusia menganggap,
bahwa segala yang ia miliki, sepenuhnya diperoleh dari hasil kerja kerasnya.
Adakalanya pula perasaan memiliki ini mencakup kawasan yang lebih luas. Tidak
hanya sekadar kepemilikan bendawi, tetapi juga pribadi-pribadi tertentu. Suami
terhadap Istri dan sebaliknya, atau orang tua terhadap anak dan anak juga terhadap
orang tuanya. Saat ditimpa musibah, manusia terpaksa harus kahilangan sebagian atau
seluruh yang ia miliki. Makin besar nilai kepemilikan yang hilang, akan semakin berat
derita yang dirasakannya. Musibah memang membawa derita bagi korbannya. Derita
fisik maupun batin. berdasarkan pendekatan psikosomatik, sebenarnya derita fisik dan
derit batin tidak dapat dipisahkan. Keduanya akan saling mempengaruhi. Namun dalam
kenyataannya, derita batin lebih mendominasi karena ia langsung berhubungan dengan
perasaan.
Menurut pendekatan psikologi agama, sebenarnya derita yang dialami oleh korban
musibah terkait dengan tingkat keberagamaan. Bagi mereka yang memiliki keyakinan

yang mendalam terhadap nilai-nilai ajaran agama, bagaimanapun akan lebih mudah
dan cepat menguasai gejolak batinnya. Agama menjadi pilihan dan rujukan untuk
mengatasi konflik yang terjadi pada dirinya. Di kala musibah manimbulkan rasa
kehilangan dari apa yang dimilikinya selama ini, hatinya akan dibimbing oleh nilai-nilai
yang terkandung dalam ajaran agamanya. Manusia pada dasarnya memang bukan
pemilik mutlak. Apa saja yang ia miliki, termasuk tubuh dan nyawa, hakikatnya adalah
kepunyaan Allah. Sebagai pemilik mutlak, Tuhan menganugrahkan kepada manusia
nikmat-Nya berupa kehidupan ataupun kekayaan. Statusnya hanya sebagai titipan
amanah. Dalam menjalani kehidupannya manusia senantiasa berada dalam sebuah
arena ujian yang sarat dengan berbagai cobaan.
Salah satu fungsi agama dalam kehidupan manusia, menurut Elizabeth K. Nottingham,
adalah sebagai penyelamat. Dalam kondisi ketidakberdayaan, secara psikologis nilainilai ajaran agama dapat membantu meneteramkan goncangan batin. Dengan kembali
kepada tuntunan agama, korban berusaha menyadarkan dirinya, bahwa musibah
merupakan resiko yang harus dihadapi dalam menjalani kehidupan lebih dari itu ia
menjadi sadar bahwa ia bukan pemilik mutlak dari segala yang menjadi miliknya.
Keluarga, kerabat, bahkan dirinya adalah milik sang pencipta. Semua miliknya hanyalah
titipan yang sewaktu-waktu akan diambil oleh sang pemilik mutlak.
Ditengah-tengah kegoncangan batin korban dapat pula menelusuri hikmah atau nilainilai positif yang terkandung didalamnya. Apakah musibah yang dialaminya sebagai
balasan (Itibar) ataukah ujian (ikhtibar). Bila derita yang dialaminya merupakan balasan
dari perbuatan yang pernah dilakukannya, maka musibah akan menyadarkannya akan
kesalahan masa lalu. Tak diragukan lagi, sebagian besar musibah dan bencana itu
terjadi akibat ulah manusia sendiri. Al-Quran menyatakan: Dan apa saja yang usibah
yang menimpa kamu maka adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri.(Mubsin
Qiraati, 2001:93) Tuntunan ini, setidaknya akan membawanya kepada kesadaran untuk
memperbaiki diri.
Sebaliknya bila deritanya dianggapnya sebagai ujian, maka ia akan berusaha untuk
bersabar. Menerima dengan sabar dan tulus,hingga derita yang berat akan terasa
ringan. Perasaan batinnya diredakan oleh keyakinan, bahwa musibah yang dialaminya
merupakan bagian dari ketentuan dan takdir dari Tuhan. Keyakinan ini akan
menghilangkan beban batin yang menghempit perasaan di kala mengalami musibah.
Dalam suasana perasaaan seperti itu, agama berfungsi sebagai sublimatif. Derita dan
musibah yang dialami disublimasikan ke nilai-nilai luhur yang sejalan dengan ajaran

agama. Sublimasi akan menghilangkan prasangka negatif ka sikap positif. Mengalihkan


ungkapan batin: Wahai Tuhan, jika Engkau adalah Dzat Yang Maha Adil, lalu mengapa
musibah dan bencana ini menimpa kami? menjadi: Wahai Tuhan, semua yang terjadi
adalah karena takdir-Mu.
Secara etimologis, takdir berarti mengukur, memberi kadar atau ukuran. Allah telah
memberikan kadar/ukuran/batas tertantu dalam diri, sifat atau kemampuan maksimal
makhluk-Nya. Harun Yahya menyatakan, bahwa takdir merupakan pengetahuan
sempurna Allah tentang peristiwa masa lalu dan masa yang akan datang. Allah tidak
dibatasi oleh waktu ataupun ruang, karena Dia yang menciptakan semua itu. Masa lalu,
masa depan, dan masa kini, semuanya adalah sama saja bagi Allah; bagi-Nya segala
sesuatu telah terjadi dan berakhir. Takdir adalah ketentuan Allah, dan pasti terjadi.
Dalam menghadapi musibah, orang-orang memiliki keyakinan agama terlihat lebih
tabah. Mereka lebih mudah menetralisasi kegoncangan dan konflik yang terjadi dalam
batinnya. Keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan dijadikan sebagai pilihan tempat
berlindung atau penyalur derita yang dirasakan. dalam keadaan yang demikian, Tuhan
dianggap sebagai satu-satunya penolong atau juru selamat yang mampu meredam
penderitaan yang mereka alami.
Sebaliknya orang-orang yang memiliki tingkat keyakinan agama yang kurang, ataupun
tidak memiliki keyakinan agama sama sekali, terkesan sulit menetralisasi kegoncangan
jiwanya. Sulit menemukan jalan keluar, mudah gelap mata, dan akhirnya mengambil
jalan pintas. Tak jarang korban yang merasa begitu terhempit oleh derita itu mangakhiri
hidupnya dengan bunuh diri. Kemampuan menahan derita dalam menghadapi masalah
musibah, tampaknya tidak ada hubungan dengan latar belakang pendidikan.
Keyakinan terhadap tuhan, akan memberikan rasa damai dalam batin. Kedamaian
dalam keselamatan merupakan bagian dari insting mempertahankan diri yang ada
dalam diri manusia. Oleh karena itu kembali kepada Tuhan dengan memohon
perlindungan, merupakan saluran yang sejalan dengan dorongan instingtif manusia.
Kecenderungan terhadap pertolongan ini tersirat dalam doa. Menurut William James,
seluruh doa dalam agama memuat kalimat yang berisi permohonan perlindungan
kepada Tuhan. Demikian pula mantera-mantera yang ditemui di lingkungan masyarakat
primitif, juga tak lepas dari kecenderungan serupa, yakni kepada sesuatu yang
dianggap sebagai penguasa alam, atau yang menentukan nasib manusia.
Daftar Pustaka

Jalaluddin, Prof, Dr, H, Psikologi Agama, Bandung, Rajawali.


Ibnu Sina, Qanun At-Thib, Beirut, Dar Al-Fikr. 1988