Anda di halaman 1dari 6

2.

1 Tahapan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Tahapan-tahapan dalam program pemberdayaan masyarakat desa yaitu (Adi dalam
Herviantoro, 2009):
a.

Tahap Engagement
Tahap ini biasa disebut juga dengan tahap persiapan. Pada tahap persiapan ini, setidaknya

terdapat dua tahapan yang harus dilakukan, yaitu penyiapan petugas dan penyiapan lapangan.
1. Penyiapan petugas, merupakan penyiapan tenaga pemberdayaan masyarakat desa yang bisa
dilakukan oleh community worker. Tahap ini diperlukan terutama untuk menyamakan persepsi
antar anggota tim agen perubah (change agent) mengenai pendekatan apa yang akan dipilih
dalam melakukan pemberdayaan masyarakat desa. Penyiapan petugas lebih diperlukan bila
dalam suatu program pemberdayaan masyarakat desa yang akan dilaksanakan memiliki
tenaga petugas yang berbeda-beda latar belakang pendidikannya.
2. Penyiapan lapangan, merupakan prasyarat suksesnya suatu program pemberdayaan
masyarakat desa yang pada dasarnya diusahakan dilakukan secara non-direktif. Pada tahap ini
community worker pada awalnya melakukan studi kelayakan terhadap daerah yang dijadikan
sasaran, baik dilakukan secara informal maupun formal. Bila telah ditemukan daerah yang
ingin dikembangkan, community worker harus mendapat perijinan dari pihak terkait
sehubungan dengan program yang akan dijalankan. Disamping itu, community worker juga
tetap harus menjalin relasi dengan tokoh-tokoh informal (informal leader) agar hubungan
dengan masyarakat dapat terjalin dengan baik.
b. Tahap Assessment
Tahap ini biasa disebut dengan proses pengkajian. Tahap ini dapat dilakukan secara
individual melalui tokoh-tokoh masyarakat (key-person) dengan melakukan individual
assessment, dan dapat juga melalui kelompok-kelompok dalam masyarakat dengan
menggunakan metode diskusi kelompok terfokus, curah pendapat, ataupun nominal group
process. Pada tahap ini, petugas sebagai agen perubah berusaha untuk mengidentifikasi masalah
(kebutuhan yang dirasakan = felt needs) dan juga sumber daya yang dimiliki klien. Selain itu,
dalam proses assessment ini dapat pula digunakan teknik SWOT, dengan melihat Kekuatan
(Strenght), Kelemahan (Weaknesses), Kesempatan (Opportunities), dan Ancaman (Threats).
Tahap pengkajian ini sebaiknya masyarakat sudah dilibatkan secara aktif agar mereka dapat

merasakan bahwa permasalahan yang sedang dibicarakan benar-benar permasalahan yang


keluar dari pandangan mereka sendiri. Di samping itu, pada tahap ini pelaku perubahan juga
mempunyai peran edukasional untuk memfasilitasi warga dalam menyusun prioritas dari
permasalahan yang akan ditindaklanjuti pada tahap berikutnya maupun memberikan informasi
pada masyarakat agar mereka dapat berdiskusi dan mempertimbangkan keadaan lingkungan
mereka secara lebih rasional.
c. Tahap Designing
Pada tahap ini, hal yang dilakukan petugas adalah melakukan perencanaan alternatif
program. Petugas sebagai agen perubah (change agent) secara partisipatif mencoba melibatkan
warga untuk berpikir tentang masalah yang mereka hadapi dan bagaimana cara mengatasinya.
Dalam upaya mengatasi permasalahan yang ada, masyarakat diharapkan dapat memikirkan
beberapa alternatif program dan kegiatan yang dapat mereka lakukan. Program dan kegiatan
yang akan mereka kembangkan tentunya harus disesuaikan dengan tujuan pemberian bantuan
sehingga tidak muncul program-program yang bersifat charity (amal) yang kurang dapat dilihat
manfaatnya dalam jangka panjang. Dalam proses ini petugas bertindak sebagai fasilitator yang
membantu masyarakat berdiskusi dan memikirkan program dan kegiatan apa saja yang tepat
dilaksanakan pada saat itu.
Setelah

itu,

petugas

membantu

masing-masing

kelompok

masyarakat

untuk

memformulasikan gagasan mereka dalam bentu tertulis, terutama apabila terkait dengan
pembuatan proposal kegiatan kepada pihak penyandang dana. Bantuan

ini biasanya amat

diperlukan terutama pada kelompok yang belum pernah mengajukan proposal kepada
penyandang dana. Dalam tahap ini diharapkan petugas dan masyarakat sudah dapat
membayangkan dan menuliskan tujuan jangka pendek apa yang akan mereka capai dan
bagaimana cara mencapai tujuan tersebut. Sehingga nantinya dapat diarahkan sesuai dengan apa
yang sudah diformulasikan.
d. Tahap Implementasi
Tahap pelaksanaan program (implementasi) merupakan tahap yang paling krusial
(penting) dalam program pemberdayaan masyarakat desa, karena sesuatu yang sudah
direncanakan dengan baik akan dapat melenceng dalam pelaksanaan di lapangan apabila tidak
ada kerja sama antara petugas dan warga masyarakat, maupun kerja sama antar warga. Dalam
upaya melaksanakan program pemberdayaan masyarakat desa, peran masyarakat sebagai kader

diharapkan dapat menjaga keberlangsungan program yang telah dikembangkan. Selain itu,
dalam pelaksanaan program ini seringkali teknologi yang digunakan pun harus disesuaikan
dengan kondisi masyarakatnya.
e. Tahap Evaluasi
Evaluasi sebagai proses pengawasan dari warga dan petugas terhadap program yang
sedang berjalan pada pemberdayaan masyarakat desa sebaiknya dilakukan dengan melibatkan
warga. Dengan keterlibatan warga, pada tahap ini diharapkan akan terbentuk suatu sistem dalam
komunitas untuk melakukan pengawasan secara internal. Sehingga dalam jangka panjang
diharapkan akan dapat terbentuk suatu sistem dalam masyarakatyang lebih mandiri dengan
memanfaatkan sumber daya yang ada. Akan tetapi kadangkala dari hasil pemantauan dan
evaluasi ternyata hasil yang dicapai tidak sesuai dengan yang diharapkan. Bila ini yang terjadi
maka evaluasi proses diharapkan akan dapat memberikan umpan balik yang berguna bagi bagi
perbaikan suatu program ataupun kegiatan. Sehingga bila diperlukan maka dapat dilakukan
kembali assessment terhadap permasalahan yang dirasakan masyarakat ataupun terhadap sumber
daya yang tersedia. Karena agen perubah (change agent) juga menyadari bahwa tolok ukur
(benchmark) suatu masyarakat juga dapat berkembang sesuai dengan pemenuhan kebutuhan
yang sudah terjadi. Evaluasi itu sendiri dapat dilakukan pada input, proses (pemantauan =
monitoring), dan juga pada hasil.
f. Tahap Disengagement
Tahap ini berupa tahap terminasi, yaitu pemutusan hubungan secara formal dengan
komunitas sasaran. Terminasi dalam suatu program pemberdayaan masyarakat desa, tidak
jarang dilakukan bukan karena masyarakat dapat dianggap mandiri, tetapi lebih karena
proyek sudah harus dihentikan karena sudah melebihi jangka waktu yang ditetapkan
sebelumnya, atau karena anggaran sudah selesai dan tidak ada penyandang dana yang dapat dan
mau meneruskan. Meskipun demikian, petugas harus tetap keluar dari komunitas sasaran secara
bertahap dan bukan secara mendadak. Hal ini perlu dilakukan agar warga masyarakat tidak
merasa ditinggalkan secara sepihak dan tanpa disiapkan oleh petugas. Karena itu, apabila
petugas merasa bahwa tugasnya belum diselesaikan dengan baik tidak jarang petugas tetap
melakukan kontak meskipun tidak secara rutin, dan kemudian secara perlahan-lahan
mengurangi kontak dengan komunitas sasaran.

2.2 Langkah Pemberdayaan Masyarakat Desa


Pemberdayaan masyarakat desa dapat dilakukan dengan berdasarkan beberapa langkah
yang perlu diperhatikan, baik dalam lingkup umum maupun khusus. Berikut merupakan langkahlangkah permberdayaan masyarakat yakni (Subiyanto, 2011):
1. Melakukan analisis kebutuhan dimana seseorang agen harus dapat mengenali apa
sesungguhnya yang menjadi kebutuhan masyarakat. Ia harus melakukan need sector.
Analisis kebutuhan dimaksudkan agar tidak terjadi kekeliruan di dalam memetakan apa yang
mestinya diperbuat untuk pemberdayaan masyarakat desa.
2. Melakukan analisis situasi sektor atau social analysis. Melakukan kajian terhadap berbagai
hambatan dan potensi, baik fisik maupun non-fisik yang mempengaruhi atas hidupnya
masyarakat, dan kemudian menempatkan hasil analisis kebutuhan tersebut di dalam peta
hambatan dan potensi yang dimaksud.
3. Menemukan berbagai program yang layak dijadikan sebagai basis pengembangan
masyarkat, mungkin akan ditemui sekian banyak program yang relevan dengan analisis
kebutuhan dan analisis situasi sosialnya.
4. Menentukan sektor program yang diprioritaskan.
5. Melakukan aksi pemberdayaan masyarakat desa sesuai dengan program prioritaskan.
6. Melakukan evaluasi untuk mengetahui keberhasilan atau kegagalan program dan sektorfaktor penyebabnya. Melalui evaluasi ini akan ditindaklanjuti program berikutnya.
Masyarakat merupakan obyek tetapi juga sekaligus subyek pembangunan, oleh karena itu
kegiatan yang dilakukan tenaga pengembang masyarakat sejauh mungkin diarahkan kepada
terwujudnya masyarakat yang lebih mandiri, yakni masyarakat yang mampu merencanakan,
mengambil keputusan, melaksanakan dan menilai usaha dalam memenuhi kebutuhannya
(Kusuma, 2012). Sesungguhnya pemberdayaan masyarakat desa merupakan siklus kegiatan yang
bertahap, untuk materi pelatihan yang disusun mencakup:
1. Persiapan Sektor Identifikasi Potensi, Masalah Dan Kebutuhan (Need Assessment)
Dalam persiapan sektor diperlukan adanya komunikasi antara pemberdaya dan masyarakat.
Hal ini berkaitan dengan prosedur sektor di lokasi kegiatan. Informasi mengenai lokasi kegiatan
perlu dimiliki, oleh karena itu base line survey perlu diadakan. Setelah prosedur administrasi dan
gambaran umum lokasi didapat maka proses selanjutnya yaitu need assement itu merupakan
dialog antara pemberdaya dan anggota masyarakat untuk memperoleh fakta (Fact Finding)
antara lain kondisi fisik lokasi, sektor ekonomi, sumber pendapatan dan lingkungan.

Pada saat itu juga diungkapkan masalah-masalah yang berkaitan dengan masyarakat dan
lingkungannya. Selanjutnya dirumuskan sektor pemecahan masalah secara serta penentuan
prioritas-prioritas pemecahan masalah.

2. Perencanaan Program
Perencanaan program merupakan bagian dari pemberdayaan masyarakat desa yang
membahas dan memutuskan tentang tujuan, target, waktu, pembagian peran dan tanggungjawab,
sumber dana, sektor monitoring dan evaluasi yang semua dipahami oleh anggota masyarakat.
3. Pembentukan dan Dinamisasi Kelompok.
Kelompok sebagai sarana untuk menangani masalah masyarakat, dapat dibentuk
berdasarkan beberapa sektor pendekatan, yaitu:
a. Pendekatan berdasarkan kesamaan masalah
Dalam hal ini masyarakat didekati menurut kesamaan masalah yang dihadapi, misalnya
masalah yang dihadapi pedagang makanan kecil, pedagang buah-buahan, pengrajin sektor.
Pendekatan ini memiliki kekuatan antara lain memudahkan pendampingan karena
masalahnya sama. Kelemahan dari pendekatan ini adalah sulit melakukan pendampingan
secara berkelompok karena mungkin tempatnya berjauhan.
b. Pendekatan berdasarkan tempat berkumpulnya
Masyarakat didekati berdasarkan tempat mereka berkumpul sehari-harinya, misalnya para
pedagang sektor informal di pasar, petani di pedesaan. Pendekatan ini menguntungkan dari
segi pengelompokan karena sudah berkumpul disuatu tempat tertentu.
c. Pendekatan berdasarkan tempat tinggal
Pembinaan dilakukan dilokasi pemukiman, pendekatan ini mempunyai kelebihan terutama
mudah diketahuinya latar belakang keluarga.
4. Pelaksanaan Program Masyarakat
Koordinasi antara masyarakat dengan pihak-pihak yang terkait dalam rangka merealisasikan
program yang sudah ditentukan dengan sumber dana dan sumber daya yang ada.
5. Monitoring Dan Evaluasi
Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk memantau sejauh mana program dilaksanakan,
apakah sesuai dengan perencanaan atau tidak. Dengan demikian dapat mengetahui
penyimpangan dan penyebabnya. Monitoring adalah pemantauan kegiatan untuk melihat
sejauh mana kemajuan pencapaian tujuan, apakah ada penyimpangan-penyimpangan.

Evaluasi adalah pemantauan untuk melihat sejauh mana dampak yang diperoleh dalam
kegiatan pemberdayaan masyarakat desa.
6. Perencanaan Tidak Lanjut
Apabila dalam monitoring dan evaluasi ditemukan penyimpangan maka dilakukan
perbaikan-perbaikan yang dituangkan dalam perencanaan tidak lanjut.