Anda di halaman 1dari 9

Masalah atau permasalahan muncul kalau terjadi kesenjangan (gap) antara das Sollen dan

das Sein, ada perbedaan antara apa yang seharusnya dan apa yang ada dalam kenyataan, antara
apa yang diperlukan dan apa yang tersedia, antara apa yang diharapkan dan apa yang dihadapi,
dan sejenis dengan itu. Penelitian pada dasarnya diharapkan dapat memecahkan masalah itu, atau
dengan kata lain dapat menutup atau setidak-tidaknya dapat memperkecil kesenjangan itu.
A. Identifikasi Masalah
Salah satu proses penelitian yang boeh dikatakan paling penting diantara proses lain.
Masalah penelitian akan menentukan kualitas dari penelitian. Masalah penelitian secara umum
ditemukan lewat studi literatur

atau lewat pengamatan lapangan (observasi, Survey, dan

sebagainya).
Identifikasi masalah merupakan suatu tahap permulaan dari penguasaan masalah di
mana objek dalam suatu jalinan tertentu dapat kita kenali sebagai suatu masalah (Suriasumantri,
2001: 309). Dan menurut Amien Silalahi, (2003: 21), identifikasi masalah artinya usaha
mendaftar sebanyak-banyaknya pertanyaan terhadap masalah yang terjadi yang sekiranya dapat
dicari jawaban melalui penelitian.
Masalah yang harus dipecahkan atau dijawab melalui penelitian selalu ada dan tersedia
cukup banyak. Tugas peneliti adalah mengidentifikasikannya, memilihnya, dan merumuskannya. Namun demikian, agar seseorang dapat dengan mudah melihat sesuatu permasalahan, maka
dia harus cukup terlatih. Hal-hal yang menjadi sumber masalah, antara lain, adalah: (1) bacaan,
terutama bacaan yang berisi laporan hasil penelitian, (2) seminar, diskusi, dan lain-lain
pertemuan ilmiah, (3) pernyataan pemegang otoritas, (4) pengamatan sepintas, (5) pengalaman
pribadi, dan (6) perasa-an intuitif (Sumadi Suryabrata, 1983:61).
(1) Bacaan
Bacaan, terutama bacaan yang melaporkan hasil-hasil penelitian (misalnya proceedings,
jurnal penelitian, atau bahkan laporan suatu penelitian) mudah dijadikan sumber masalah
penelitian, karena laporan penelitian yang baik tentu akan mencantumkan rekomendasi untuk
penelitian lebih lanjut dengan arah tertentu. Semakin banyak membaca jurnal-jurnal penelitian,
seseorang akan lebih mudah mendapatkan masalah penelitian. Kecuali semakin mudah

mendapatkan masalah penelitian, semakin banyak membaca jurnal-jurnal penelitian, seseorang


akan dapat dengan mudah melakukan pembahasan terhadap penelitiannya.
Masalah yang timbul sekaitan dengan ini ialah kurang tersedianya jurnal-jurnal penelitian
yang baik. Perpustakaan-perpustakaan kita jarang berlangganan jurnal-jurnal penelitian
bergengsi, terutama jurnal-jurnal penelitian berskala internasional. Ini disebabkan antara lain
berlangganan jurnal-jurnal penelitian internasional sangat mahal untuk ukuran orang Indonesia.
(2) Diskusi, Seminar, Pertemuan Ilmiah
Diskusi, seminar, dan pertemuan ilmiah semacam itu juga merupakan sumber masalah
penelitian yang cukup kaya. Pada pertemuan ilmiah seseorang dapat melihat, menganalisis,
menyimpulkan, dan mempersoalkan hal-hal yang dijadikan pokok pembicaraan.
Seseorang yang ingin menjadi peneliti yang baik harus rajin menghadiri pertemuan ilmiah
semacam itu. Di perguruan tinggi ternama, seseorang dapat menghadiri pertemuan ilmiah
semacam itu, yang biasanya diadakan secara reguler, dengan tanpa biaya. Sebelum ujian tesis
atau disertasi, misalnya, biasanya promovendus diminta menyampaikan tesis atau disertasinya
dalam suatu seminar terbuka yang dapat dihadiri oleh setiap orang. Di Lembaga Penelitian
Universitas juga sering diadakan pertemuan ilmiah untuk menyeminarkan laporan hasil
penelitian sebagai umpan balik untuk menyempurnakan laporan hasil penelitian. Wahana yang
seperti ini juga sangat baik untuk mendapatkan masalah penelitian.
(3) Pernyataan Pemegang Otoritas
Pernyataan pemegang otoritas, baik pemegang otoritas dalam pemerintahan maupun
dalam bidang ilmu tertentu, dapat menjadi sumber masalah penelitian. Pada suatu ketika,
misalnya, Mendiknas mengatakan bahwa daya serap mata pelajaran Matematika untuk siswasiswa sekolah dasar rendah. Pernyataan ini dapat mengundang berbagai penelitian, misalnya
untuk meneliti faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi rendahnya daya serap siswa, apakah
ada perbedaan antara sekolah dasar di perkotaan dan di perdesaan mengenai daya serap siswa,
dan usaha apa yang perlu dilakukan untuk mempertinggi daya serap siswa.
(4) Pengamatan Sepintas

Seringkali terjadi, seseorang menemukan masalah penelitiannya, secara tidak sengaja,


dalam suatu perjalanan. Ketika berangkat dari rumah, seseorang mungkin saja tidak ada rencana
untuk mencari masalah penelitian. Namun dalam perjalanannya ke tempat tujuan mungkin saja
seseorang tersebut menemukan masalah penelitian. Seorang peneliti kependidikan mungkin
mendapatkan masalah penelitian karena di perjalanannya ke kantor dia melihat perkelahian
antarsiswa sekolah menengah.
Masalah penelitian yang muncul dari kejadian itu, misalnya, mengapa para pelajar tersebut
berkelahi, apa yang menyebabkan, dan upaya apa yang perlu dilakukan untuk menghindari
perkelahian. Seorang guru mungkin mengamati bahwa siswa-siswa yang nakal cenderung
mempunyai nilai metematika yang tinggi, sehingga di benaknya timbul masalah penelitian
adakah korelasi positif antara kenakalan anak dengan prestasi belajar matematika.
(5) Pengalaman Pribadi
Pengalaman pribadi sering pula menjadi sumber diketemukannya masalah penelitian.
Lebih-lebih dalam ilmu-ilmu sosial, hal yang demikian mudah sekali terjadi. Mungkin
pengalaman pribadi itu berkaitan dengan sejarah perkembangan dan kehidupan pribadi, mungkin
pula berkaitan dengan kehidupan profesional.
Seorang peneliti mungkin mempunyai pengalaman mengenai anak-anaknya sendiri.
Misalnya dari kelima anaknya, tiga di antaranya suka minum air susu ibu (ASI), sedangkan dua
yang lainnya suka minum susu kaleng. Tiga anaknya tersebut ternyata mempunyai daya tahan
tubuh yang lebih baik dari dua saudaranya yang lain, namun kalah prestasi belajar
matematikanya. Dari pengalaman ini, mungkin saja peneliti mempunyai masalah penelitian,
apakah benar bahwa anak yang diberi ASI cukup mempunyai daya tahan tubuh yang lebih baik
dari pada yang tidak dan apakah benar bahwa anak yang banyak minum susu kaleng lebih cerdas
dari anak yang banyak minum ASI selama tiga tahun pertama.
(6) Perasaan Intuitif
Tidak jarang terjadi, masalah penelitian itu muncul dalam pikiran seseorang pada pagi
hari setelah bangun tidur atau pada saat-saat sedang atau setelah istirahat. Bisa jadi selama tidur
atau istirahat itu terjadi semacam konsolidasi atau pengendapan berbagai informasi yang

berkaitan dengan masalah yang akan diteliti itu, yang lalu muncul dalam bentuk pertanyaan atau
permasalahan penelitian.

B. Pemilihan Masalah
Setelah masalah penelitian diidentifikasi dari suatu sumber, kadang-kadang banyak
ditemukan masalah penelitian. Tentu saja seseorang tidak akan dapat menyelesaikan masalah
penelitiannya dalam waktu yang bersamaan. Oleh karena itu, seseorang harus melakukan
pemilihan masalah penelitian mana yang layak dan sesuai untuk diteliti. Pertimbangan untuk
memilih atau menentukan apakah sesuatu masalah penelitian layak dan sesuai untuk diteliti, pada
dasarnya dilakukan dari dua arah, yaitu: (1) dari sisi objektif, yaitu dari arah masalahnya, dan (2)
dari sisi subjektif, yaitu dari arah calon peneliti.
Pertimbangan objektif
Untuk menentukan apakah sesuatu masalah layak diteliti perlu dibuat pertimbanganpertimbangan objektif, yaitu dari arah masalahnya. Dari sudut pandang objektif ini, biasanya
seseorang akan mempertimbangkan dari dua hal.
Pertama, mempertimbangkan apakah masalah penelitian yang akan diangkatnya dapat
memberikan sumbangan kepada pengembangan teori di bidang itu. Kedua, apakah masalah
penelitian yang diangkatnya akan dapat memberikan sumbangan praktis, misalnya untuk
pemecahan masalah pendidikan di lapangan. Semakin besar sumbangannya terhadap
pengembangan teori dan atau sumbangan praktis, semakin layak untuk diteliti.
Kelayakan sesuatu masalah penelitian untuk diteliti itu sifatnya relatif, tergantung kepada
konteksnya. Sesuatu masalah yang layak untuk diteliti dalam suatu konteks tertentu, mungkin
kurang layak kalau ditempatkan dalam konteks yang lain. Oleh karena itu, calon peneliti harus
melakukan evaluasi kritis mengenai hal ini.
Dari sudut pandang objektif, pemilihan masalah penelitian juga perlu dipertimbangkan
dari sisi kemudahan pencarian data dan analisisnya. Juga perlu dipertimbangkan apakah akan
terdapat dampak etika, moral, dan politik yang berkaitan dengan masalah penelitian. Kalau
masalah penelitian dimungkinkan akan berdampak buruk terhadap etika, moral, dan politik,
seyogyanya dihindari, walaupun pada dasarnya penelitian kuantitatif adalah bebas nilai.

Pertimbangan subjektif
Dari sudut pandang subjektif, yaitu pertimbangan dari arah calon peneliti, perlu
dipertimbangkan apakah masalah itu sesuai dengan kemampuan calon peneliti. Sesuai atau
tidaknya suatu masalah itu untuk diteliti terutama bergantung kepada apakah masalah tersebut
manageable (dapat dilakukan) atau tidak oleh si calon peneliti.
Hal itu terutama dilihat dari lima segi, yaitu: (1) biaya yang tersedia, (2) waktu yang
digunakan, (3) alat dan perlengkapan yang tersedia, (4) bekal kemampuan teoretis, (5)
penguasaan metode yang diperlukan.
Setiap calon peneliti perlu menanyakan kepada diri sendiri apakah dia cukup mampu
menyelesaikan masalah penelitiannya jika dilihat dari kelima hal di atas. Jika tidak, seyogyanya
dipilih masalah penelitian yang lain.Namun demikian, disarankan agar seseorang tidak mudah
menyerah kepada kendala manajerial tersebut. Kadang-kadang kendala manajerial tersebut dapat
pula menjadi tantangan menarik yang harus diselesaikan oleh peneliti, yang kadang-kadang
membuat peneliti lebih maju daripada sebelumnya.
Misalnya, karena mendapat pesanan untuk meneliti dengan responden yang sangat banyak
(misalnya sebanyak 5.000 orang), dia harus menggunakan paket program komputer untuk
mengolah data. Pada hal dia selama ini belum pernah mengoperasikan paket program komputer
satu pun. Maka dia (walaupun mungkin mengeluarkan biaya yang cukup besar) belajar
menggunakan suatu paket program komputer, dengan mengikuti kursus tertentu. Dengan
demikian, kendala penguasaan paket program komputer menjadikan peneliti tersebut lebih baik
daripada sebelumnya. Hal semacam ini perlu dikemukakan, karena pada dasarnya seorang
peneliti haruslah orang-orang yang ulet dan orang-orang yang tidak pernah menyerah dalam
menghadapi tantangan. Karena alasan inilah banyak ilmuwan yang tidak dapat kaya, karena uang
yang diperolehnya selalu dipakai untuk mengupgrade dirinya untuk menjadi peneliti yang lebih
baik. Upgrading ini pun tidak akan pernah berhenti (never ending) sepanjang hayat.
C. Perumusan Masalah
Merupakan petunjuk yang mengarahkan peneliti untuk memformulasikan secara ringkas,
jelas dan tajam, tentang permasalahan utama yang ada di latar belakang, identifikasi masalah
penelitian. Rumusan masalah yang baik adalah menyatakan hubungan antara dua variable atau

lebih. Adapun bentuk rumusan masalah dan hipotesis penelitian dapat dikembangkan
berdasarkan penelitian menurut tingkat eksplanasinya, karena pada dasarnya hasil penelitian
nanti digunakan untuk menjelaskan fenomena-fenomena atau gejala-gejala serta peristiwa
berdasarkan data yang terkumpul.
Syarat Perumusan Permasalahan
Ada beberapa syarat perumusan permasalahan, yaitu :
a. Dirumuskan dalam bentuk pertanyaan
b. Dirumuskan dalam susunan kalimat yang sederhana dan mengurangi penggunaan istilah
c.
d.
e.
f.
g.

yang belum baku


Singkat, jelas, padat. Tidak menimbulkan kerancuan
Mencerminkan keinginan yang hendak dicari
Tidak mempersulit dalam pencarian data lapangan terutama terhadap data langka
Dapat dipakai sebagai dasar dalam perumusan hipotesa
Harus direfleksikan di dalam judul

Bentuk-bentuk Perumusan Masalah Penelitian

Permasalahan Deskriptif
Suatu rumusan masalah yang berkenaaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan
variable atau lebih (variable yang berdiri sendiri).
Contoh : Seberapa tinggi minat baca dan lama belajar rata-rata per hari murid-murid

sekolah di Indonesia?
Permasalahan Komparatif
Rumusan masalah penelitian yang membandingkan keberadaan suatu variable atau lebih
Comtoh : Apakah ada perbedaan prestasi belajar murid dari sekolah negri dan swasta?
(variable penelitian adalah prestasi belajar pada dua sampel yaitu sekolah negeri dan

swasta)
Permasalahan Asosiatif
Rumusan masalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variable
atau lebih. Terdapat tiga hubungan dalam rumusan masalah asosiatif, yaitu:
Hubungan Simetris
Contoh: Adakah hubungan antara jmlah paying yang terjual dengan jumlah murid
sekolah?
Hubungan Kausal
Contoh: Adakah pengaruh pendidikan orang tua terhadap prestasi belajar anak ?
(pendidikan orang tua variable independen dan prestasi belajar variable dependen)
Hubungan Interaktif

Contoh: Hubungan antara kecerdasandengan kekayaan, kecerdasaan dapat


menyebabkan kaya demikian juga orang yang kaya dapat meningkatkan
kercedasan karena gizi terpenuhi.
Contoh Perumusan Masalah
Judul : Pengaruh Kecerdasan Emosi dan Kepuasan Kerja Terhadap Komitmen Organisasi di
Kalangan Dosen di Indonesia
Berdasarkan latar belakang, identifikasi masalah dan batasan masalah, maka dapat peneliti
kemukan beberapa rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Apakah profil kecerdasan emosi, profil kepuasan kerja, profil komitmen pekerjaan dan
profil komitmen organisasi pendidikan tinggi di Indonesia?
2. Adakah terdapat perbedaan yang signifikan antara kecerdasan emosi, kepuasan kerja,
komitmen pekerjaan dan komitmen organisasi pendiddikan tinggi di Indonesia?
3. Adakah terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosi dan kepuasan kerja
dengan komitmen pekerjaan dan komitmen organisasi pendidikan tinggi di Indonesia?
4. Sejauh manakah pengaruh kecerdasan emosi dan kepuasan kerja terhadap komitemen
pekerjaan dan komitmen organisasi pendidikan tinggi di Indonesia?
D. Latar Belakang Masalah
Latar Belakang masalah adalah informasi yang tersusun sistematis berkenaan dengan
fenomena dan masalah problematik yang menarik untuk di teliti. Masalah terjadi saat harapan
idela akan sesuatu hal tidak sama dengan realita yang terjadi. Tidak semua masalah adalah
fenomena dan menarik. Masalah yang fenomenal adalah saat menajdi perhatian banyak orang
dan di bicirakan di berbagai kalangan di masyarakat.
Latar belakang dimaksudkan untuk menjelaskan alasan mengapa masalah dalam penelitian
ingin diteliti, pentingnya permasalahan dan pendekatan yang digunakan untukan untuk
menyelesaikan masalah tersebut baik dari sisi teoritis dan praktis.
Latar belakang penelitian berisi :

Alasan rasional dan esensial yang membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
berdasarkan fakta-fakta, data, referensi dan temuan penelitian sebelumnya.

Gejala-gejala kesenjangan yang terdapat dilapangan sebagai dasar pemikiran untuk


memunculkan permasalahan dan bagaimana penelitian mengisi ketimpangan yang ada

berkaitan dengan topik yang diteliti.


Kompleksitas masalah jika masalah itu dibiarkan dan akan menimbulkan dampak yang
menyulitkan, menghambat, mengganggu bahkan mengancam.
Pendekatan untuk mengatasi masalah dari sisi kebijakan dan teoritis.
Penjelasan singkat tentang kedudukan atau posisi masalah yang diteliti dalam ruang
lingkup bidang studi yang ditekuni peneliti.

Cara Membuat Latar Belakang Masalah


Berikut langkah membuat latar belakang masalah:
a. Pada bagian awal latar belakang adalah gambaran umum tentang masalah yang akan di
angkat. Dengan model piramid terbalik buat gambaran umum tentang masalah mulai dari
hal global sampai mengerucut fokus pada masalah inti, objek serta ruang lingkup yang
akan di teliti
b. Pada bagian tengah unkapkan fakta, fenomena, data-data dan pendapat ahli berkenaan
dengan pentingnya masalah dan efek negatifnya jika tidak segera di atasi dengan di dukung
juga teori dan penelitian terdahulu
c. Bagian akhir di isi dengan alternatif solusi yang bisa di tawarkan (teoritis dan praktis) dan
akhirnya munculah judul

Sumber :
http://mathc-edu.blogspot.co.id/2012/12/identifikasi-pemilihan-dan-perumusan.html

http://www.kompasiana.com/adesuyitno/cara-membuat-latar-belakangmasalah_551acd59a333114f21b65a68