Anda di halaman 1dari 19

Stop Stigma dan Diskriminasi terhadap

Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ)


Dipublikasikan Pada : Jumat, 10 Oktober 2014 07:40:00, Dibaca : 44.868 KaliJakarta, 10
Oktober 2014
Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, merasa prihatin saat mendengar berbagai
stigmatisasi dan diskriminasi yang masih sering dialami oleh anggota masyarakat yang dinilai
berbeda dengan masyarakat pada umumnya, termasuk orang dengan gangguan jiwa (ODGJ),
antara lain dikeluarkan dari sekolah, diberhentikan dari pekerjaan, diceraikan oleh pasangan,
hingga ditelantarkan oleh keluarga, bahkan dipasung, serta dirampas harta bendanya.
Untuk itu, Menkes mengajak seluruh jajaran kesehatan untuk segera dapat melaksanakan Empat
Seruan Nasional Stop Stigma dan Diskriminasi terhadap ODGJ, yaitu: 1) Tidak melakukan
stigmatisasi dan diskriminasi kepada siapapun juga dalam pelayanan kesehatan; 2) Tidak
melakukan penolakan atau menunjukkan keengganan untuk memberikan pelayanan kesehatan
kepada ODGJ; 3) Senantiasa memberikan akses masyarakat pada pelayanan kesehatan, baik
akses pemeriksaan, pengobatan, rehabilitasi maupun reintegrasi ke masyarakat pasca perawatan
di rumah sakit jiwa atau di panti sosial; serta 4) Melakukan berbagai upaya promotif dan
preventif untuk mencegah terjadinya masalah kejiwaan, mencegah timbulnya dan/atau
kambuhnya gangguan jiwa, meminimalisasi faktor risiko masalah kesehatan jiwa, serta
mencegah timbulnya dampak psikososial.
Untuk menyikapi masalah kesehatan jiwa di Indonesia, Pemerintah dan masyarakat telah
melakukan upaya-upaya, antara lain: 1) Menerapkan sistem pelayanan kesehatan jiwa yang
komprehensif, terintegrasi, dan berkesinambungan di masyarakat; 2) Menyediakan sarana,
prasarana, dan sumberdaya yang diperlukan untuk pelayanan kesehatan jiwa di seluruh wilayah
Indonesia, termasuk obat, alat kesehatan, dan tenaga kesehatan dan non-kesehatan terlatih; 3)
Menggerakkan masyarakat untuk melakukan upaya preventif dan promotif serta deteksi dini
gangguan jiwa dan melakukan upaya rehabilitasi serta reintegrasi OGDJ ke masyarakat.
Disamping itu, upaya lain yang tidak kalah pentingnya adalah Pemberdayaan ODGJ, yang
bertujuan agar dapat hidup mandiri, produktif, dan percaya diri di tengah masyarakat, bebas dari
stigma, diskriminasi atau rasa takut, malu serta ragu-ragu. Upaya ini sangat ditentukan oleh
kepedulian keluarga dan masyarakat di sekitarnya, kata Menkes.
Berkaitan dengan hal tersebut, Menkes mengharapkan agar seluruh jajaran Pemerintah dan
lapisan masyarakat, termasuk tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, organisasi
masyarakat, orbanisasi profesi, dan dunia usaha dan swasta, dapat mendukung upaya Pemerintah
dalam memberikan pelayanan kesehatan jiwa terbaik kepada Masyarakat. Stigmatisasi dan
diskriminasi terhadap siapa pun juga harus dihapuskan dari bumi Indonesia karena bertentangan
dengan hak asasi manusia dan berdampak pada munculnya berbagai masalah sosial, ekonomi,
dan keamanan di masyarakat, tandas Menkes.

Undang-Undang No 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa


Komitmen dalam pemberdayaan ODGJ diperkuat dengan diterbitkannya Undang-undang Nomor
18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa yang baru saja disahkan pada 8 Agustus 2014 lalu.
Undang-Undang Nomor 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa ditujukan untuk menjamin setiap
orang agar dapat mencapai kualitas hidup yang baik, serta memberikan pelayanan kesehatan
secara terintegrasi, komprehensif, dan berkesinambungan melalui upaya promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif.
Secara garis besar, Undang-undang tersebut mengamanatkan tentang: 1) Perlunya peran serta
masyarakat dalam melindungi dan memberdayakan ODGJ dalam bentuk bantuan berupa: tenaga,
dana, fasilitas, pengobatan bagi ODGJ; 2) Perlindungan terhadap tindakan kekerasan,
menciptakan lingkungan yang kondusif, memberikan pelatihan keterampilan; dan 3) Mengawasi
penyelenggaran pelayanan di fasilitas yang melayani ODGJ.
Masalah Kesehatan Jiwa di Indonesia
Masalah kesehatan jiwa di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat
penting dan harus mendapat perhatian sungguh-sungguh dari seluruh jajaran lintas sektor
Pemerintah baik di tingkat Pusat maupun Daerah, serta perhatian dari seluruh masyarakat.
Beban penyakit atau burden of disease penyakit jiwa di Tanah Air masih cukup besar. Hasil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, menunjukkan bahwa prevalensi gangguan mental
emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan adalah sebesar 6%
untuk usia 15 tahun ke atas atau sekitar 14 juta orang. Sedangkan, prevalensi gangguan jiwa
berat, seperti schizophrenia adalah 1,7 per 1000 penduduk atau sekitar 400.000 orang.
Berdasarkan jumlah tersebut, ternyata 14,3% di antaranya atau sekira 57.000 orang pernah atau
sedang dipasung. Angka pemasungan di pedesaan adalah sebesar 18,2%. Angka ini lebih tinggi
jika dibandingkan dengan angka di perkotaan, yaitu sebesar 10,7%.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan
RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode
lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan
email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id. - See more at:
http://www.depkes.go.id/article/view/201410270011/stop-stigma-dan-diskriminasi-terhadaporang-dengan-gangguan-jiwa-odgj.html#sthash.cw0nez0H.dpuf
Hari ini, 10 Oktober 2014 merupakan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS). Tahun ini HKJS
mengangkat tema living with schizophrenia yang bertujuan untuk meningkatkan awareness
pentingnya terapi dini yang tepat bagi orang dengan skizofrenia serta mengajak masyarakat
dunia memberikan dukungan dan menerima ODS kembali aktif dan produktif di tengah
masyarakat.

Topik skizofrenia menjadi suatu keprihatinan di Indonesia karena merupakan negara yang
memiliki peringkat terendah dalam hal penyediaan layanan kesehatan jiwa di Asia. Penderita
gangguan jiwa selama ini digambarkan sering mengalami kekerasan dan pemasungan, meskipun
mereka juga masih memungkinkan dilakukan pengobatan agar kembali normal.
Menurut Dr A.A. Ayu Agung Kusumawardhani SpKJ(K), Ketua Seksi Skizofrenia PDSKJI,
skizofrenia merupakan suatu penyakit jiwa berat dan sering kali berlangsung kronis dengan
gejala utama berupa gangguan proses pikir. "Pembicaraan sulit dimengerti, isi pikir yang tidak
sesuai realita (delusi atau waham), disertai gangguan persepsi panca indera yaitu halusinasi, dan
disertai tingkah laku yang aneh, seperti berbicara atau tertawa sendiri," kata Ayu. Gangguan jiwa
ini kerap muncul di usia produktif yaitu 15-25 tahun, sehingga perlu mengenali gejala, serta
terapi sedini mungkin, agar dapat meningkatkan probabilitas pemulihan sempurna (recovery).
Konsep recovery saat ini masih dianggap terlalu jauh. Padahal sangat diperlukan untuk
kehidupan orang dengan skizofrenia (ODS) dalam jangka panjang.
Gejala psikotik awal skizofrenia dapat menyebabkan ODS kesulitan berinteraksi serta menarik
diri dari aktivitas sehari-hari dan dunia luar. Hal ini tentunya akan mengganggu produktivitas dan
kapasitas bekerja serta bersosialisasi di masyarakat.
Saat ini diperkirakan sekitar 26 juta orang di seluruh dunia akan mengalami Skizofrenia dalam
hidup mereka. Meskipun angka tersebut terbilang tinggi, masih banyak kasus yang diperkirakan
tidak terdeteksi akibat kurangnya informasi yang keliru atau kurangnya dukungan dari
masyarakat.
BAGAIMANA KONDISI DI INDONESIA ??
Di dalam menggambarkan kondisi kesehatan jiwa di Indonesia ini dilakukan analisis diskripsi
sederhana dari data hasil Riskesdas 2013 dikombinasi dengan Data Rutin dari Pusdatin dengan
waktu yang disesuaikan.

Dari gambaran di atas terlihat bahwa secara Nasional terdapat 0,17 % penduduk Indonesia yang
mengalami Gangguan Mental Berat (Skizofrena) atau secara absolute terdapat 400 ribu jiwa
lebih penduduk Indonesia.Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi Jogjakarta dan Aceh
sedangkan yang terendah di Provinsi Kalimantan Barat. Selain itu gambaran diatas juga
menunjukkan kalau ada 12 Provinsi yang mempunyai prevalensi gangguan jiwa berat melebihi
angka Nasional.
Jika dilihat jumlah absolute penduduk yang mengalami Gangguan Jiwa Berat, maka Provinsi
Jawa Timur yang terbanyak yaitu 63.483 orang. Disusul provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat dan
Sulawesi Selatan.
Selanjutnya jika dilihat prevalensi Gangguan Mental Emosional (GME) secara Nasional
Prevalensinya sebesar 6,0 % atau secara Absolut lebih dari 10 juta jiwa. Jika dilihat distribusinya
menurut provinsi terlihat seperti pada diagram di bawah.

Diagram di atas menunjukkan bahwa prevalensi tertinggi GME terdapat pada Provinsi Sulawesi
Tengah sebesar 11,6 % sedangkan terendah di Provinsi Lampung 1,2% dari penduduk di Provinsi
tersebut. Disamping itu terdapat 9 provinsi yang mempunyai prevalensi GME melebihi angka
Nasional. Secara jumlah absolute dapat dilihat pada tabel di atas. Dimana jumlah terbanyak
terdapat di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang lebih dari 1 juta jiwa.
BAGAIMANA KONDISI KESEHATAN JIWA DI KABUPATEN NGAWI
Di kabupaten Ngawi, penanganan kasus jiwa mendapatkan perhatian yang serius. Kasus Jiwa di
Ngawi di tangani oleh seksi Matra dan Kesehatan Khusus. Di beberapa puskesmas membuka
poli kesehatan Jiwa yang di tangani oleh Dokter Spesialis Jiwa. Di Rumah Sakit dr. Soeroto juga
telah membuka ruang perawatan khusus penderita sakit jiwa dan ruang Jiwa ini merupakan satusatunya yang ada di wilayah karesidenan Madiun.
Adapun kasus terlaporkan yang tertinggi di wilayah Puskesmas Ngawi Purba sebanyak 256
kasus. Dari data profil kesehatan kasus jiwa lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan
laki-laki.

APAKAH SCHIZOFRENIA DITANGGUNG BPJS ??


Sesuai dengan Permenkes No. 59 tahun 2014, penderita Schizofrenia dan Gangguan Mental
pengobatannya ditanggung oleh BPJS jika penduduk tersebut terdaftar sebagai anggota BPJS
(Baik Mandiri ataupun PBI).
Dengan melihat kondisi yang demikian di atas pertanyaan yang muncul adalah:
1. Seberapa prioritas pelayanan kesehatan Jiwa di Puskesmas ??
2. apakah sudah waktunya tenaga kesehatan Psikolog masuk dalam pelayanan Puskesmas ??
Demikian sekilas tentang gambaran Kesehatan Jiwa di Indonesia. Semoga Bermanfaat dan
mohon maaf jika kurang berkenan.
RISKESDAS 2013

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas Tahun 2013) Prevalensi gangguan jiwa berat
pada penduduk Indonesia 1,7 per mil. Gangguan jiwa berat terbanyak di DI Yogyakarta, Aceh,
Sulawesi Selatan, Bali, dan Jawa Tengah. Proporsi RT yang pernah memasung ART gangguan
jiwa berat 14,3 persen dan terbanyak pada penduduk yang tinggal di perdesaan (18,2%), serta
pada kelompok penduduk dengan kuintil indeks kepemilikan terbawah (19,5%). Prevalensi
gangguan mental emosional pada penduduk Indonesia 6,0 persen. Provinsi dengan prevalensi
ganguan mental emosional tertinggi adalah Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, DI
Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Timur.
Indikator kesehatan jiwa yang dinilai pada Riskesdas 2013 antara lain gangguan jiwa berat,
gangguan mental emosional serta cakupan pengobatannya. Gangguan jiwa berat adalah
gangguan jiwa yang ditandai oleh terganggunya kemampuan menilai realitas atau tilikan
(insight) yang buruk. Gejala yang menyertai gangguan ini antara lain berupa halusinasi, ilusi,
waham, gangguan proses pikir, kemampuan berpikir, serta tingkah laku aneh, misalnya
agresivitas atau katatonik. Gangguan jiwa berat dikenal dengan sebutan psikosis dan salah satu
contoh psikosis adalah skizofrenia.

Gangguan jiwa berat menimbulkan beban bagi pemerintah, keluarga serta masyarakat oleh
karena produktivitas pasien menurun dan akhirnya menimbulkan beban biaya yang besar bagi
pasien dan keluarga. Dari sudut pandang pemerintah, gangguan ini menghabiskan biaya
pelayanan kesehatan yang besar. Sampai saat ini masih terdapat pemasungan serta perlakuan
salah pada pasien gangguan jiwa berat di Indonesia. Hal ini akibat pengobatan dan akses ke
pelayanan kesehatan jiwa belum memadai. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah melalui
Kementerian Kesehatan adalah menjadikan Indonesia bebas pasung oleh karena tindakan
pemasungan dan perlakukan salah merupakan tindakan yang melanggar hak asasi manusia.
Disamping gangguan jiwa berat, Riskesdas 2013 juga melakukan penilaian gangguan mental
emosional pada penduduk Indonesia seperti pada Riskesdas 2007. Gangguan mental emosional
adalah istilah yang sama dengan distres psikologik. Kondisi ini adalah keadaan yang
mengindikasikan seseorang sedang mengalami perubahan psikologis. Berbeda dengan gangguan
jiwa berat psikosis dan skizofrenia, gangguan mental emosional adalah gangguan yang dapat
dialami semua orang pada keadaan tertentu, tetapi dapat pulih seperti semula. Gangguan ini
dapat berlanjut menjadi gangguan yang lebih serius apabila tidak berhasil ditanggulangi.
Prevalensi gangguan mental emosional penduduk Indonesia berdasarkan Riskesdas 2007 adalah
11,6 persen dan bervariasi di antara provinsi dan kabupaten/kota. Pada Riskesdas tahun 2013,
prevalensi gangguan mental emosional dinilai kembali dengan menggunakan alat ukur serta
metode yang sama. Adapun hasil Riskesdas 2013 di provinsi se Indonesia seperti terlihat pada
grafik berikut
Gangguan mental emosional diharapkan tidak berkembang menjadi lebih serius apabila orang
yang mengalaminya dapat mengatasi atau melakukan pengobatan sedini mungkin ke pusat
pelayanan kesehatan atau berobat ke tenaga kesehatan yang kompeten.(Sumber Hasil Riskesdas
2013)
WHO : Penderita Gangguan Jiwa Hampir 450 Juta Orang
Fakta ini cukup mengagetkan. Diperkirakan jumlah penderita gangguan jiwa di
seluruh dunia mencapai hampir 450 juta orang, dimana sepertiganya berdomisili di
negara-negara berkembang. Menurut data dari organisasi kesehatan dunia (WHO),
setidaknya ada 8 dari 10 orang penderita gangguan jiwa ini tidak mendapatkan
perawatan. Sungguh sangat disayangkan.
Lebih lanjut kebanyakan dari penderita gangguan jiwa tersebut terdiri dari korban
yang selamat (survivor) dari penyakit menular, bencana alam, dan perang.

Sebagai contoh, di Afganistan, selama 30 tahun periode konflik mayoritas keluarga


disana kehilangan setidaknya satu anggota keluarga. Hampir separuh penduduk
berusia di atas 15 tahun di negara tersebut menderita gangguan mental seperti
depresi, kecemasan, atau stres pasca trauma.
Hal ini semakin diperparah dengan data dan fakta bahwa hampir separuh populasi
dunia tinggal di negara dimana satu orang psikiater melayani 200.000 orang. WHO
mengungkapkan negara miskin cuma memiliki kurang dari satu orang dokter
spesialis jiwa per satu juta penduduk.
Di negara-negara Afrika seperti Nigeria, seperempat pasien di pusat layanan
kesehatan memiliki gejala depresi tapi sayangnya diperkirakan hanya satu dari
enam pasien yang terdiagnosa tersebut mendapatkan perawatan kesehatan yang
memadai. Sedangkan di Ghana, pasien di klinik kesehatan mental dibiarkan
kelaparan dan telanjang.
Pada bulan Mei 2012 yang lalu dalam pertemuan para menteri kesehatan sedunia
telah disepakati pentingnya resolusi kesehatan mental dan membuat komitmen
baru untuk meningkatkan pemahaman akan isu kesehatan mental serta
meningkatkan standar pelayanan di seluruh dunia.

Prevalensi Gangguan Jiwa Berat Mencapai 1-2 orang dari 1.000


Warga di Indonesia
Para pakar juga menyerukan perlunya gerakan global untuk menghadapi penyakit
gangguan mental.
Dalam Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ke-20 yang bertema Depresi: Suatu Krisis
Global, disadari bahwa penanganan depresi dan kesehatan jiwa pada umumnya
belum menjadi sebuah gerakan. Padahal disadari atau tidak gangguan depresi bisa
menjadi pemicu munculnya berbagai gagguan fisk antara lain gangguan kekebalan
tubuh, penggumpalan darah, sehingga penderita mudah sakit, mulai dari flu,
kanker, hingga serangan jantung dan stroke.
KBRN,Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama dengan
Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Komunitas Peduli
Skizofrenia (KPSI) serta Jhonson and Jhonson Indonesia sebagai wakil pihak swasta
yang aktif mendukung program kesehatan jiwa, menyelenggarakan rangkaian
kegiatan edukatif untuk memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) yang
jatuh pada tanggal 10 Oktober.
Tahun ini HKJS mengangkat tema living with schizophrenia yang bertujuan untuk
meningkatkan awareness pentingnya terapi dini yang tepat bagi orang dengan

skizofrenia serta mengajak masyarakat dunia memberikan dukungan dan menerima


ODS kembali aktif dan produktif di tengah masyarakat.
Menurut Dr A.A. Ayu Agung Kusumawardhani SpKJ(K), Ketua Seksi Skizofrenia
PDSKJI, skizofrenia merupakan suatu penyakit jiwa berat dan sering kali
berlangsung kronis dengan gejala utama berupa gangguan proses pikir.
"Pembicaraan sulit dimengerti, isi pikir yang tidak sesuai realita (delusi atau
waham), disertai gangguan persepsi panca indera yaitu halusinasi, dan disertai
tingkah laku yang aneh, seperti berbicara atau tertawa sendiri," kata Ayu di Jakarta
Rabu (17/09/2014) pada salah satu kegiatan dalam rangka memperingati Hari
Kesehatan Jiwa Sedunia 2014.
Dikataknnya, waspadailah ketika seseorang mulai menarik diri dari pergaulan,
tidak semangat dan tak ada motivasi bergaul. Ini bisa menjadi indikasi seseorang
menderita skizofrenia.
Gangguan jiwa ini kerap muncul di usia produktif yaitu 15-25 tahun, sehingga perlu
mengenali gejala, serta terapi sedini mungkin, agar dapat meningkatkan
probabilitas pemulihan sempurna (recovery).
Konsep recovery saat ini masih dianggap terlalu jauh. Padahal sangat diperlukan
untuk kehidupan orang dengan skizofrenia (ODS) dalam jangka panjang.
Gejala psikotik awal skizofrenia dapat menyebabkan ODS kesulitan berinteraksi
serta menarik diri dari aktivitas sehari-hari dan dunia luar. Hal ini tentunya akan
mengganggu produktivitas dan kapasitas bekerja serta bersosialisasi di masyarakat.
Di sela acara yang sama, Dr Eka Viora SpKJ, Direktur Bina Kesehatan Jiwa,
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, mengatakan dari data Riskesdas 2013,
prevalensi gangguan jiwa berat (termasuk skizofrenia) mencapai 1,7 per mil atau 12 orang dari 1.000 warga di Indonesia mengalami gangguan kejiwaan berat.
Dari jumlah tersebut, sebagian besar belum berinisiatif atau berkesempatan
mendapatkan pengobatan yang tepat, sehingga mengakibatkan kondisi ODS yang
masih sulit diterima kembali di masyarakat.
Data Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi gangguan jiwa berat, termasuk
skizofrenia, mencapai 1,7 per mil atau 1-2 orang dari 1.000 warga di Indonesia. Dari
jumlah tersebut sebagian besar belum mendapat pengobatan yang tepat, sehingga
mengakibatkan kondisi ODS masih sulit diterima kembali di masyarakat.
Oleh karenanya, menurut Eka Viora, selain upaya pengadaan obat-obatan yang
menyeluruh ke pelosok daerah, ODS berhak diperlakukan secara manusiawi dan

tanpa pasung. Ini merupakan perintah UU Kesehatan Jiwa yang disahkan baru-baru
ini.
Dengan UU Kesehatan Jiwa diharapkan penanganan gangguan kejiwaan terutama
skizofrenia lebih komprehensif dan terintegrasi mulai dari edukasi, terapi, dan
dukungan psikologis bagi ODS agar dapat produktif kembali di masyarakat, kata
Eka. (Ria)
Definisi, Penyebab, Jenis, Tanda dan Gejala Gangguan jiwa
Definisi Gangguan Jiwa
Gangguan jiwa adalah gangguan pada satu atau lebih fungsi jiwa. Gangguan
jiwa adalah gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya emosi, proses berpikir,
perilaku,

dan

persepsi

(penangkapan

panca

indera).

Gangguan

jiwa

ini

menimbulkan stress dan penderitaan bagi penderita dan keluarganya (Stuart &
Sundeen, 1998). Gangguan jiwa dapat mengenai setiap orang, tanpa mengenal
umur, ras, agama, maupun status sosial dan ekonomi. Banyak tokoh jenius yang
mengalami

gangguan

kejiwaan,

seperti

Abraham

Lincoln

yang

mengalami

Depression, Michaelangelo mengalami Autism, Ludwig von Beethoven mengalami


Bipolar Disorder, Charles Darwin mengalami Agoraphobia, Leo Tolstoy mengalami
Depression.

Gangguan

jiwa

bukan

disebabkan

oleh

kelemahan

pribadi.

Di

masyarakat banyak beredar kepercayaan atau mitos yang salah mengenai


gangguan jiwa, ada yang percaya bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh gangguan
roh jahat, ada yang menuduh bahwa itu akibat guna-guna, karena kutukan atau
hukuman atas dosanya. Kepercayaan yang salah ini hanya akan merugikan
penderita dan keluarganya karena pengidap gangguan jiwa tidak mendapat
pengobatan secara cepat dan tepat (Notosoedirjo, 2005).
Gangguan jiwa menurut Depkes RI (2000) adalah suatu perubahan pada
fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang
menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan

peran sosial. Penyebab gangguan jiwa itu bermacam-macam ada yang bersumber
dari berhubungan dengan orang lain yang tidak memuaskan seperti diperlakukan
tidak adil, diperlakukan semena-mena, cinta tidak terbalas, kehilangan seseorang
yang dicintai, kehilangan pekerjaan, dan lain-lain. Selain itu ada juga gangguan jiwa
yang

disebabkan

faktor organik, kelainan saraf

dan

gangguan

pada otak

(Djamaludin, 2001). Jiwa atau mental yang sehat tidak hanya berarti bebas dari
gangguan. Seseorang bisa dikatakan jiwanya sehat jika ia bisa dan mampu untuk
menikmati hidup, punya keseimbangan antara aktivitas kehidupannya, mampu
menangani masalah secara sehat, serta berperilaku normal dan wajar, sesuai
dengan tempat atau budaya dimana dia berada. Orang yang jiwanya sehat juga
mampu mengekpresikan emosinya secara baik dan mampu beradaptasi dengan
lingkungannya, sesuai dengan kebutuhan.
Secara lebih rinci, gangguan jiwa bisa dimaknai sebagai suatu kondisi medis
dimana terdapat gejala atau terjadinya gangguan patofisiologis yang menganggu
kehidupan sosial, akademis dan pekerjaan. Gangguan tersebut bisa berbentuk apa
saja yang beresiko terhadap pribadi seseorang dan lingkungan sekitarnya. Contoh
ekstrim yang sering kita lihat dari gangguan jiwa ini adalah mereka yang menderita
skizophrenia. Mereka sering bicara sendiri, tertawa sendiri, cepat tersinggung atau
marah sehingga tidak bisa ikut dalam kegiatan sosial. Contoh gangguan jiwa ringan
yang sebenarnya banyak terjadi, namun sering dianggap masalah sepele adalah
phobia. Takut ketinggian atau acrophobia misalnya, sebenarnya masalah sepele,
namun akan berdampak negatif apabila si penderita diharuskan untuk bekerja di
tempat yang tinggi. Misal si penderita menjadi pegawai di sebuah perusahaan yang
kantornya ada di lantai 8 sebuah gedung. Ada penderita phobia yang harus rela
kehilangan pekerjaan yang sebenarnya sangat ia impikan karena masalah seperti

tadi. Kasus seperti ini juga contoh dari efek negatif gangguan jiwa terhadap diri
sendiri.

Mereka yang menderita gangguan jiwa berat seperti depresi sudah pasti
menghadapi perkara hidup yang lebih sulit dibandingkan orang yang masih normal.
Orang depresi bisa saja kehilangan pekerjaan, diejek, diintimidasi, dihina, yang
berakhir pada kehilangan kepercayaan dirinya, kehilangan harta, kehilangan
keluarga bahkan banyak yang kehilangan nyawanya karena bunuh diri. Untuk
mengetahui apakah seseorang punya masalah kejiwaan, bisa dimulai dengan
bertanya apakah saya hidup normal seperti orang di lingkungan saya, apa ada
perilaku saya yang menyimpang, merusak, atau merugikan diri sendiri dan orang
lain?. Diagnosa gangguan jiwa oleh dokter juga umumnya berdasarkan wawancara
dengan pasien dan keluarganya. Beberapa negara maju juga telah memasukkan
serangkaian pemeriksaan otak (scan) dan pemeriksaan zat kimia tubuh untuk
memberikan diagnosa gangguan jiwa.

Penyebab Gangguan Jiwa


Pertama, Faktor Organobiologi seperti faktor keturunan (genetik), adanya
ketidakseimbangan zatzat neurokimia di dalam otak. Kedua, Faktor Psikologis
seperti adanya mood yang labil, rasa cemas berlebihan, gangguan persepsi yang
ditangkap oleh panca indera kita (halusinasi). Dan yang ketiga adalah Faktor
Lingkungan (Sosial) baik itu di lingkungan terdekat kita (keluarga) maupun yang ada
di luar lingkungan keluarga seperti lingkungan kerja, sekolah, dll. Biasanya
gangguan tidak terdapat penyebab tunggal, akan tetapi beberapa penyebab

sekaligus dari berbagai unsur itu yang saling mempengaruhi atau kebetulan terjadi
bersamaan, lalu timbulah gangguan badan atau pun jiwa.
Faktor Organobiologi terdiri dari :
- Nerokimia (misal : gangguan pada kromosom no 21 yang menyebabkan munculnya
-

gangguan perkembangan Sindrom Down).


Nerofisiologi
Neroanatomi
Tingkat kematangan dan perkembangan organik.
Faktor-faktor prenatal dan perinatal.

Faktor Psikologis terdiri dari :


-

Interaksi ibu-anak.
Interaksi ayah-anak : peranan ayah.
Sibling rivalry.
Hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permainan, dan masyarakat.
Kehilangan : Lossing of love object.
Konsep diri : pengertian identitas diri dan peran diri yang tidak menentu.
Tingkat perkembangan emosi.
Pola adaptasi dan pembelaan sebagai reaksi terhadap bahaya : Mekanisme

pertahanan diri yang tidak efektif.


Ketidakmatangan atau terjadinya

a.
b.

perkembangannya.
Traumatic Event
Distorsi Kognitif
Pola Asuh Patogenik (sumber gangguan penyesuaian diri pada anak) :
Melindungi anak secara berlebihan karena memanjakannya
Melindungi anak secara berlebihan karena sikap berkuasa dan harus tunduk

c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

saja
Penolakan (rejected child)
Menentukan norma-norma etika dan moral yang terlalu tinggi.
Disiplin yang terlalu keras.
Disiplin yang tidak teratur atau yang bertentangan.
Perselisihan antara ayah-ibu.
Perceraian
Persaingan yang kurang sehat diantara para saudara.
Nilai-nilai yang buruk (yang tidak bermoral).

fiksasi

atau

regresi

pada

tahap

k.
l.

Perfeksionisme dan ambisi (cita-cita yang terlalu tinggi bagi si anak).


Ayah dan atau ibu mengalami gangguan jiwa (psikotik atau non-psikotik).
Faktor Lingkungan (Sosial) yang terdiri dari :

Tingkat ekonomi
Lingkungan tempat tinggal : Perkotaan dan Pedesaan.
Masalah kelompok minoritas yang meliputi prasangka,

pendidikan, dan kesejahteraan yang tidak memadai.


Pengaruh rasial dan keagamaan.
Nilai-nilai

fasilitas

kesehatan,

Jenis/Macam Gangguan Jiwa


Gangguan jiwa artinya bahwa yang menonjol ialah gejala-gejala yang
psikologik dari unsur psikis (Maramis, 1994). Macam-macam gangguan jiwa (Rusdi
Maslim, 1998) antara lain Gangguan jiwa organik dan simtomatik, skizofrenia,
gangguan skizotipal dan gangguan waham, gangguan suasana perasaan, gangguan
neurotik, gangguan somatoform, sindrom perilaku yang berhubungan dengan
gangguan fisiologis dan faktor fisik, Gangguan kepribadian dan perilaku masa
dewasa, retardasi mental, gangguan perkembangan psikologis, gangguan perilaku
dan emosional dengan onset masa kanak dan remaja. Berikut penjelasannya :
1.

Skizofrenia
Merupakan bentuk psikosa fungsional paling berat, dan menimbulkan disorganisasi
personalitas yang terbesar. Skizofrenia juga merupakan suatu bentuk psikosa yang
sering dijumpai dimana-mana sejak dahulu kala. Meskipun demikian pengetahuan
kita

tentang

sebab-musabab

dan

patogenisanya

sangat

kurang

(Maramis,

1994).Dalam kasus berat, klien tidak mempunyai kontak dengan realitas, sehingga
pemikiran dan perilakunya abnormal. Perjalanan penyakit ini secara bertahap akan

menuju kearah kronisitas, tetapi sekali-kali bisa timbul serangan. Jarang bisa terjadi
pemulihan sempurna dengan spontan dan jika tidak diobati biasanya berakhir
2.

dengan personalitas yang rusak cacat (Ingram et al.,1995).


Depresi
Merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam
perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur
dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa dan tak
berdaya, serta gagasan bunuh diri (Kaplan, 1998). Depresi juga dapat diartikan
sebagai salah satu bentuk gangguan kejiwaan pada alam perasaan yang ditandai
dengan kemurungan, keleluasaan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna,
putus asa dan lain sebagainya (Hawari, 1997). Depresi adalah suatu perasaan sedih
dan yang berhubungan dengan penderitaan. Dapat berupa serangan yang ditujukan
pada diri sendiri atau perasaan marah yang mendalam (Nugroho, 2000). Depresi
adalah gangguan patologis terhadap mood mempunyai karakteristik berupa
bermacam-macam perasaan, sikap dan kepercayaan bahwa seseorang hidup
menyendiri, pesimis, putus asa, ketidakberdayaan, harga diri rendah, bersalah,
harapan yang negatif dan takut pada bahaya yang akan datang. Depresi
menyerupai kesedihan yang merupakan perasaan normal yang muncul sebagai
akibat dari situasi tertentu misalnya kematian orang yang dicintai. Sebagai ganti
rasa ketidaktahuan akan kehilangan seseorang akan menolak kehilangan dan
menunjukkan kesedihan dengan tanda depresi (Rawlins et al., 1993). Individu yang
menderita suasana perasaan (mood) yang depresi biasanya akan kehilangan minat
dan kegembiraan, dan berkurangnya energi yang menuju keadaan mudah lelah dan
berkurangnya aktifitas (Depkes, 1993). Depresi dianggap normal terhadap banyak
stress kehidupan dan abnormal hanya jika ia tidak sebanding dengan peristiwa

penyebabnya dan terus berlangsung sampai titik dimana sebagian besar orang
mulai pulih (Atkinson, 2000).
3. Kecemasan
Sebagai pengalaman psikis yang biasa dan wajar, yang pernah dialami oleh setiap
orang dalam rangka memacu individu untuk mengatasi masalah yang dihadapi
sebaik-baiknya, Maslim (1991). Suatu keadaan seseorang merasa khawatir dan
takut sebagai bentuk reaksi dari ancaman yang tidak spesifik (Rawlins 1993).
Penyebab maupun sumbernya biasa tidak diketahui atau tidak dikenali. Intensitas
kecemasan dibedakan dari kecemasan tingkat ringan sampai tingkat berat. Menurut
Sundeen (1995) mengidentifikasi rentang respon kecemasan ke dalam empat
4.

tingkatan yang meliputi, kecemasan ringan, sedang, berat dan kecemasan panik.
Gangguan Kepribadian
Klinik menunjukkan bahwa gejala-gejala gangguan kepribadian (psikopatia) dan
gejala-gejala nerosa berbentuk hampir sama pada orang-orang dengan intelegensi
tinggi ataupun rendah. Jadi boleh dikatakan bahwa gangguan kepribadian, nerosa
dan gangguan intelegensi sebagaian besar tidak tergantung pada satu dan lain atau
tidak

berkorelasi.

Klasifikasi

gangguan

kepribadian

kepribadian

paranoid,

kepribadian afektif atau siklotemik, kepribadian skizoid, kepribadian axplosif,


kepribadian anankastik atau obsesif-konpulsif, kepribadian histerik, kepribadian
astenik, kepribadian anti sosial, Kepribadian pasif agresif, kepribadian inadequate
5.

(Maslim,1998).
Gangguan Mental Organik
Merupakan gangguan jiwa yang psikotik atau non-psikotik yang disebabkan oleh
gangguan fungsi jaringan otak (Maramis, 1994). Gangguan fungsi jaringan otak ini
dapat disebabkan oleh penyakit badaniah yang terutama mengenai otak atau yang
terutama di luar otak. Bila bagian otak yang terganggu itu luas, maka gangguan
dasar mengenai fungsi mental sama saja, tidak tergantung pada penyakit yang
menyebabkannya bila hanya bagian otak dengan fungsi tertentu saja yang

terganggu, maka lokasi inilah yang menentukan gejala dan sindroma, bukan
penyakit yang menyebabkannya. Pembagian menjadi psikotik dan tidak psikotik
lebih menunjukkan kepada berat gangguan otak pada suatu penyakit tertentu dari
6.

pada pembagian akut dan menahun.


Gangguan Psikosomatik
Merupakan komponen psikologik yang diikuti gangguan fungsi badaniah (Maramis,
1994). Sering terjadi perkembangan neurotik yang memperlihatkan sebagian besar
atau semata-mata karena gangguan fungsi alat-alat tubuh yang dikuasai oleh
susunan saraf vegetatif. Gangguan psikosomatik dapat disamakan dengan apa yang
dinamakan dahulu neurosa organ. Karena biasanya hanya fungsi faaliah yang

7.

terganggu, maka sering disebut juga gangguan psikofisiologik.


Retardasi Mental
Retardasi mental merupakan keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak
lengkap, yang terutama ditandai oleh terjadinya rendahnya daya keterampilan
selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat kecerdasan
secara menyeluruh, misalnya kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial

8.

(Maslim,1998).
Gangguan Perilaku Masa Anak dan Remaja
Anak dengan gangguan perilaku menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan
permintaan, kebiasaan atau norma-norma masyarakat (Maramis, 1994). Anak
dengan gangguan perilaku dapat menimbulkan kesukaran dalam asuhan dan
pendidikan. Gangguan perilaku mungkin berasal dari anak atau mungkin dari
lingkungannya, akan tetapi akhirnya kedua faktor ini saling mempengaruhi.
Diketahui bahwa ciri dan bentuk anggota tubuh serta sifat kepribadian yang umum
dapat diturunkan dari orang tua kepada anaknya. Pada gangguan otak seperti
trauma

kepala,

ensepalitis,

neoplasma

dapat

mengakibatkan

perubahan

kepribadian. Faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi perilaku anak, dan sering

lebih menentukan oleh karena lingkungan itu dapat diubah, maka dengan demikian
gangguan perilaku itu dapat dipengaruhi atau dicegah.

Macam-macam/jenis gangguan jiwa diatas memiliki kategori spefisiknya lagi.

Tanda dan Gejala Gangguan Jiwa


-

Alam perasaan (affect) tumpul dan mendatar. Gambaran alam perasaan ini dapat
terlihat dari wajahnya yang tidak menunjukkan ekspresi.

Menarik diri atau mengasingkan diri (withdrawn). Tidak mau bergaul atau kontak
dengan orang lain, suka melamun (day dreaming).

Delusi atau Waham yaitu keyakinan yang tidak rasional (tidak masuk akal)
meskipun telah dibuktikan secara obyektif bahwa keyakinannya itu tidak rasional,
namun penderita tetap meyakini kebenarannya. Sering berpikir/melamun yang
tidak biasa (delusi).

Halusinasi yaitu pengalaman panca indra tanpa ada rangsangan misalnya


penderita mendengar suara-suara atau bisikan-bisikan di telinganya padahal tidak
ada sumber dari suara/bisikan itu.

Merasa depresi, sedih atau stress tingkat tinggi secara terus-menerus.

Kesulitan untuk melakukan pekerjaan atau tugas sehari-hari walaupun pekerjaan


tersebut telah dijalani selama bertahun-tahun.

Paranoid (cemas/takut) pada hal-hal biasa yang bagi orang normal tidak perlu
ditakuti atau dicemaskan.

Suka menggunakan obat hanya demi kesenangan.

Memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup atau bunuh diri.

Terjadi perubahan diri yang cukup berarti.

Memiliki emosi atau perasaan yang mudah berubah-ubah.

Terjadi perubahan pola makan yang tidak seperti biasanya.

Pola tidur terjadi perubahan tidak seperti biasa.

Kekacauan alam pikir yaitu yang dapat dilihat dari isi pembicaraannya, misalnya
bicaranya kacau sehingga tidak dapat diikuti jalan pikirannya.

Gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, bicara dengan semangat
dan gembira berlebihan.

Kontak emosional amat miskin, sukar diajak bicara, pendiam.

Sulit dalam berpikir abstrak.

Tidak ada atau kehilangan kehendak (avalition), tidak ada inisiatif, tidak ada
upaya/usaha, tidak ada spontanitas, monoton, serta tidak ingin apa-apa dan serba
malas dan selalu terlihat sedih.