Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH MAAJEMEN MUTU

PDCA Sebagai langkah quality

improvement

Oleh :

Nurmailis (1210105072)
Dosen Pembimbing : Ns dorisnita, s.kep

STIKES ALIFAH PADANG


2015 /2016

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR. i
DAFTAR ISI. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang. 1
1.2 Rumusan Masalah 2
1.3 Tujuan 3
1.4 Manfaat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Defenisi Mutu 4
2.1.1 Batasan Mutu Pelayanan Kesehatan.. 6
2.1.2 Syarat-Syarat Pokok Pelayan Kesehatan.. 8
2.2 Defenisi PDCA.. 11
2.2.1 Manfaat PDCA.. 13
2.2.2 Proses PDCA... 15
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan..

20

3.2 Saran

21

DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmat-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah ini. Pada kesempatan ini kami mengucapkan
terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam
penyusunan makalah ini, terutama kami mengucapkan terima kasih.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih sangat banyak
kekurangan baik dari segi materi, tata bahasa, maupun penyusunan. Dengan rendah hati penulis
mengharapkan kritik dan saran yang selanjutnya membangun untuk lebih menyempurnakan
makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Padang, 11 Desember 2015

Nurmailis

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat, baik mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan
kesehatan perorangan, keluarga, kelompok maupun masyarakat. Mutu pelayanan kesehatan
adalah timbulnya kepuasan pada pasien sesuai dengan tingkat kepuasan rata rata penduduk
serta tata cara penyelenggaraanya sesuai dengan kode etik dan standar pelayanan profesi yang
ditetapkan.
Dalam menjalankan pelayanan kesehatan masyarakat perlu adanya program menjaga
mutu

atau

program

jaminan

mutu

(Quality

Assurance)

yang

dilaksanakan

secara

berkesinambungan, sistematis, objktif dan terpadu. Semakin tinggi tingkat pemahaman


masyarakat terhadap pentingnya kesehatan untuk

mempertahankan kualitas hidup, maka

customer akan semakin kritis dalam menerima produk jasa, termasuk jasa pelayanan
keperawatan dan kebidanan, oleh karena itu peningkatan mutu kinerja setiap perawat dan bidan
perlu dilakukan terus menerus.
Untuk dapat menjalankan layanan kesehatan sesuai standar maka perlu dimengerti apa
yang dimaksud dengan jaminan mutu dan apa saja program yang ada, Sehingga perlu dipelajari
lebih

sistematis

melalui

makalah

Jenis

QA

menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu.

B. Rumusan Masalah

(Quality

Assurance),

untuk

dapat

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka terdapat
rumusan masalah apakah ada pengaruh dari PDCA sebagai langkah quality improvement dalam
keperawatan.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui apakan ada penagaruh
dari PDCA sebagai langkah quality improvement dalam keperawatan.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penulisan makalah ini yaitu :
a. Untuk mengetahui apa itu mutu
b. Untuk mengetahui apa itu PDCA
D. Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini yaitu, agar kita sebagai seorang perawat dapat
meningkatkan mutu pelayanan kita kearah yang lebih baik lagi sehingga pasien bisa puas dengan
pelayanan yang kita berikan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Mutu
1. Defenisi Mutu
Mutu adalah totalitas dari wujud serta ciri suatu barang atau jasa yang didalamnya
terkandung pengertian rasa aman atau pemenuhn kebutuhan para pengguna (Din ISO 8402,
1986).
Mutu adalah sesuatu untuk menjamin pencapaian tujuan atau luaran yang diharapkan, dan
harus selalu mengikuti perkembangan pengetahuan profesional terkini (consist with current
professional knowledge).
Beberapa definisi mutu pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut:
Mutu pelayanan kesehatan adalah pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan setiap
pemakai jasa pelayanan kesehatan yang sesuai dengan tingkat kepuasaan rata-rata serata
penyelenggaraannya sesuai dengan standart dan kode etik profesi (Azrul Azwar, 1996).
Memenuhi dan melebihi kebutuhan serta harapan pelanggan melalui peningkatan yang
berkelanjutan atas seluruh proses. Pelanggan meliputu, pasien, keluarga, dan lainnya yang datang
untuk pelayanan dokter, karyawan (Mary R. Zimmerman).
Mutu Pelayanan Kesehatan adalah penampilan yang pantas dan sesuai (yang
berhubungan dengan standar-standar) dari suatu intervensi yang diketahui aman, yang dapat
memberikan hasil kepada masyarakat yang bersangkutan dan yang telah mempunyai kemampuan
untuk menghasilkan dampak ( Roemer dalam Amirudin, 2007).
Mutu merupakan kepatuhan terhadap standar yang telah ditetapkan (Saifudin, 2006).

Jadi yang dimaksud dengan mutu pelayanan kesehatan adalah menunjuk pada tingkat
kesempurnaan pelayanan kesehatan dalam menimbulkan rasa puas pada diri setiap pasien. Makin
sempurna kepuasan tersebut, makin baik pula mutu pelayanan kesehatan. Sekalipun pengertian
mutu yang terkait dengan kepusan ini telah diterima secara luas, namun penerapannya tidaklah
semudah yang diperkirakan. Masalah pokok yang ditemukan ialah karena kepuasan tersebut
bersifat subyektif. Tiap orang, tergantung dari latar belakang yang dimiliki, dapat saja memiliki
tingkat kepuasan yang berbeda untuk satu mutu pelayanan kesehatan yang sama. Di samping itu,
sering pula ditemukan pelayanan kesehatan yang sekalipun dinilai telah memuaskan pasien,
namun ketika ditinjau dari kode etik serta standar pelayanan profesi, kinerjanya tetap tidak
terpenuhi.
2. Batasan Mutu Pelayanan Kesehatan
Untuk mengatasi masalah dalam perbedaan tingkat kepuasaan setiap orang dalam
menerima pelayanan kesehatan, maka telah disepakati bahwa pembahasan tentang kepuasan
pasien yang dikaitkan dengan mutu pelayanan kesehatan mengenal paling tidak dua pembatasan,
yaitu:
1) Pembatasan pada derajat kepuasan pasien
Pembatasan pertama yang telah disepakati adalah pada derajat kepuasan pasien. Untuk
menghindari adanya subjektivitas individual yang dapat mempersulit pelaksanan program
meenjaga mutu, maka ditetapkan bahwa ukuran yang dipakai untuk mengukur kepuasan disini
bersifat umum yakni sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk.
2) Pembatasan pada upaya yang dilakukan

Pembatasan kedua yang telah disepakati pada upaya yang dilakukan dalam
menimbulakan rasa puas pada diri setiap pasien. Untuk melindungi kepentingan pemakai jasa
pelayanan kesehatan, yang pada umumnya awam terhadap tindakan kedokteran, ditetapkanlah
upaya yang dilakukan tersebut harus sesuai dengan kode etik serta standar pelayanan profesi,
bukanlah pelayanan kesehatan yang bermutu. Dengan kata lain dalam pengetian mutu pelayanan
kesehatan tercakup pula kesempurnaan tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik
serta standar pelayanan prifessi yang telah ditetapkannya.
3. Syarat Pokok Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan
Syarat pokok pelayanan kesehatan yang dimaksud (Azwar, 1996) adalah :
a. Tersedia dan berkesinambungan
Syarat pokok pertama pelayanan kesehatan yang baik adalah pelayanan tersebut harus
tersedia di masyarakat (available) serta bersifat berkesinambungan (continuous). Artinya semua
jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat dan mudah dicapai oleh masyarakat.
b. Dapat diterima dan wajar
Syarat pokok kedua pelayanan kesehatan yang baik adalah apa yang dapat diterima
(acceptable) oleh masyarakat serta bersifat wajar (appropriate). Artinya pelayanan kesehatan
tersebut tidak bertentangan dengan adat istiadat, kebudayaan, keyakinan, kepercayaan
masyarakat dan bersifat wajar.
c. Mudah dicapai
Syarat pokok ketiga pelayanan kesehatan yang baik adalah yang mudah dicapai
(accessible) oleh masyarakat. Pengertian ketercapaian yang dimaksud disini terutama dari sudut

lokasi. Dengan demikian untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang baik, maka pengaturan
sarana kesehatan menjadi sangat penting.
d. Mudah dijangkau
Syarat pokok pelayanan kesehatan yang ke empat adalah mudah dijangkau (affordable)
oleh masyarakat. Pengertian keterjangkauan di sini terutama dari sudut biaya. Pengertian
keterjangkauan di sini terutama dari sudut jarak dan biaya. Untuk mewujudkan keadaan seperti
ini harus dapat diupayakan pendekatan sarana pelayanan kesehatan dan biaya kesehatan
diharapkan sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat.
e. Bermutu
Syarat pokok pelayanan kesehatan yang kelima adalah yang bermutu (quality).
Pengertian mutu yang dimaksud adalah yang menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan
kesehatan yang diselenggarakan, yang disatu pihak dapat memuaskan para pemakai jasa
pelayanan, dan pihak lain tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik serta standar .
Menurut Amiruddun (2007) dalam pelakukan penilaian mutu ada tiga pendekatan
penilaian mutu, yaitu :
1) Struktur

Struktur meliputi sarana fisik perlengkapan dan peralatan, organisasi dan manajemen,
keuangan, sumber daya manusia lainnya di fasilitas kesehatan.

Struktur = input

Baik tidaknya struktur sebagai input dapat diukur dari :

Jumlah, besarnya input

Mutu struktur atau mutu input

Besarnya anggaran atau biaya

Kewajaran

2) Proses

Proses merupakan semua kegiatan yang dilaksanakan secara profesional oleh tenaga
kesehatan (dokter, perawat dan tenaga profesi lain) dan interaksinya dengan klien

Proses mencakup diagnosa, rencana pengobatan, indikasi tindakan, prosedur dan


penanganan kasus.

Baik tidaknya proses dapat diukur dari :

Relevan tidaknya proses itu bagi klien

Fleksibilitas dan efektifitas

Mutu proses itu sendiri sesuai dengan standar pelayanan yang semestinya

Kewajaran, tidak kurang dan tidak berlebihan

3) Outcomes

Outcome adalah hasil akhir kegiatan dan tindakan tenaga kesehatan profesional terhadap
klien

Dapat berarti adanya perubahan derajat kesehatan dan kepuasan baik positif maupun
negatif.

Outcome jangka pendek adalah hasil dari segala suatu tindakan tertentu atau prosedur
tertentu.

Outcome jangka panjang adalah status kesehatan dan kemampuan fungsional klien
yang telah ditetapkan.

B. PDCA
1. Defenisi PDCA
PDCA merupakan salah satu kebijakan dalam menjamin mutu pelayanan kesehatan.
PDCA, singkatan bahasa Inggris dari "Plan, Do, Check, Act" (Rencanakan, Kerjakan, Cek,
Tindak lanjuti), adalah suatu proses pemecahan masalah empat langkah iteratif yang umum
digunakan dalam pengendalian kualitas. PDCA dikenal sebagai siklus Shewhart, karena
pertama kali dikemukakan oleh Walter Shewhart beberapa puluh tahun yang lalu. Namun dalam
perkembangannya, metodologi analisis PDCA lebih sering disebut siklus Deming. Hal ini
karena Deming adalah orang yang mempopulerkan penggunaannya dan memperluas
penerapannya. Namun, Deming sendiri selalu merujuk metode ini sebagai siklus Shewhart, dari
nama Walter A. Shewhart, yang sering dianggap sebagai bapak pengendalian kualitas statistis.
Belakangan, Deming memodifikasi PDCA menjadi PDSA ("Plan, Do, Study, Act") untuk lebih
menggambarkan rekomendasinya. Dengan nama apa pun itu disebut, PDCA adalah alat yang
bermanfaat untuk melakukan perbaikan secara terus menerus tanpa berhenti.
Perusahaan memerlukan cara menilai sistem manajemen secara keseluruhan, dalam arti
bagaimana sistem tersebut mempengaruhi setiap proses dan setiap karyawan serta diperluas pada

setiap produk dan pelayanan. Pengendalian proses pelayanan adalah sebuah pertanda untuk
perbaikan kualitas pelayanan, tetapi hal itu tergantung pada kesehatan dan vitalitas dari
organisasi, kepemimpinan dan komitmen. Konsep PDCA tersebut merupakan pedoman bagi
setiap manajer untuk proses perbaikan kualitas secara terus menerus tanpa berhenti tetapi
meningkat ke keadaan yang lebih baik dan dijalankan di seluruh bagian organisasi
Pengidentifikasian masalah yang akan dipecahkan dan pencarian sebab-sebabnya serta
penentuan tindakan koreksinya, harus selalu didasarkan pada fakta. Hal ini dimaksudkan untuk
menghindarkan adanya unsur subyektivitas dan pengambilan keputusan yang terlalu cepat serta
keputusan yang bersifat emosional. Selain itu, untuk memudahkan identifikasi masalah yang
akan dipecahkan dan sebagai patokan perbaikan selanjutnya, perusahaan harus menetapkan
standar pelayanan.
Kualitas saat ini sudah tidak lagi diartikan sebagai sebuah pengertian tradisional dimana
kualitas hanya dipahami sebagai pemenuhan terhadap suatu persyaratan, melainkan dikaitkan
sebagai suatu produk atau hasil yang dapat memuaskan konsumen dan memajukan suatu
organisasi atau perusahaan. Ketika suatu organisasi atau perusahaan dibangun, berbagai tahapan
atau proses harus dilalui, seperti perencanaan (planning), pelaksanaan/ kerjakan (do),
pengontrolan, pengawasan, tidak luput dari sebuah penjagaan kualitas agar dapat menghasilkan
output yang optimal. Tahapan dalam penjagaan sebuah kualitas agar tetap berada pada standar
yang telah ditetapkan, menjadi sebuah penekanan terpenting dalam keberlangsungan hidup
sebuah organisasi/ perusahaan. Tahapan tersebut diantaranya adalah : perencanaan dimana
diperlukan sebuah prosedur perencanaan kualitas, tahap pelaksanaan diperlukan sebuah jaminan
kualitas, tahap evaluasi diperlukan sebuah pengontrolan terhadap kualitas, dan tahap penjagaan
serta pengembangan mutu. Untuk menciptakan sebuah produk yang berkualitas sesuai dengan

keinginan konsumen, tidak harus mengeluarkan biaya yang lebih besar. Maka dari itu, diperlukan
sebuah program peningkatan kualitas yang baik, yaitu misalnya dengan menerapkan program
PDCA (Plan, Do, Check, Act).
2. Manfaat PDCA
PDCA seringkali dipergunakan dalam kegiatan KAIZEN dan DMAIC dipergunakan pada
aktivitas LEAN SIX SIGMA. PDCA sangatlah cocok untuk dipergunakan untuk skala kecil
kegiatan continues improvement pada memperpendek siklus kerja, menghapuskan pemborosan
di tempat kerja dan produktivitas. Sementara DMAIC akan lebih powerfull dalam hal
menghilangkan varian output, kestabilan akan mutu, improve yield, situasi yang lebih komplek,
struktur penghematan biaya, dan efektivitas organisasi bisnis.
Manfaat dari PDCA antara lain :
a. Untuk memudahkan pemetaan wewenang dan tanggung jawab dari sebuah unit
organisasi;
b. Sebagai pola kerja dalam perbaikan suatu proses atau sistem di sebuah organisasi;
c. Untuk menyelesaikan serta mengendalikan suatu permasalahan dengan pola yang runtun
dan sistematis;
d. Untuk kegiatan continuous improvement dalam rangka memperpendek alur kerja;
e. Menghapuskan pemborosan di tempat kerja dan meningkatkan produktivitas.

3. Proses PDCA

Di dalam ilmu manajemen, ada konsep problem solving yang bisa diterapkan ditempat
kerja kita yaitu menggunakan pendekatan P-D-C-A sebagai proses penyelesaian masalah. Dalam
bahasa pengendalian kualitas, P-D-C-A dapat diartikan sebagai proses penyelesaian dan
pengendalian masalah dengan pola runtun dan sistematis. Secara ringkas, proses PDCA dapat
dijelaskan sebagai berikut :
a. P (Plan = Rencanakan)
Artinya merencanakan SASARAN (GOAL=TUJUAN) dan PROSES apa yang
dibutuhkan untuk menentukan hasil yang sesuai dengan SPESIFIKASI tujuan yang ditetapkan.
PLAN ini harus diterjemahkan secara detil dan per sub-sistem.
Perencanaan ini dilakukan untuk mengidentifikasi sasaran dan proses dengan mencari
tahu hal-hal apa saja yang tidak beres kemudian mencari solusi atau ide-ide untuk memecahkan
masalah ini. Tahapan yang perlu diperhatikan, antara lain: mengidentifikasi pelayanan jasa,
harapan, dan kepuasan pelanggan untuk memberikan hasil yang sesuai dengan spesifikasi.
Kemudian mendeskripsikan proses dari awal hingga akhir yang akan dilakukan. Memfokuskan
pada peluang peningkatan mutu (pilih salah satu permasalahan yang akan diselesaikan terlebih
dahulu). Identifikasikanlah akar penyebab masalah. Meletakkan sasaran dan proses yang
dibutuhkan untuk memberikan hasil yang sesuai dengan spesifikasi. Mengacu pada aktivitas
identifikasi peluang perbaikan dan/ atau identifikasi terhadap cara-cara mencapai peningkatan
dan perbaikan. Terakhir mencari dan memilih penyelesaian masalah.
b. D (Do = Kerjakan)
Artinya MELAKUKAN perencanaan PROSES yang telah ditetapkan sebelumnya.
Ukuran-ukuran proses ini juga telah ditetapkan dalam tahap PLAN. Dalam konsep DO ini kita

harus benar-benar menghindari penundaan, semakin kita menunda pekerjaan maka waktu kita
semakin terbuang dan yang pasti pekerjaan akan bertambah banyak. Implementasi proses dalam
langkah ini, yaitu melaksanakan rencana yang telah disusun sebelumnya dan memantau proses
pelaksanaan dalam skala kecil (proyek uji coba). Mengacu pada penerapan dan pelaksanaan
aktivitas yang direncanakan.
c. C (Check = Evaluasi)
Artinya melakukan evaluasi terhadap SASARAN dan PROSES serta melaporkan apa saja
hasilnya. Kita mengecek kembali apa yang sudah kita kerjakan, sudahkah sesuai dengan standar
yang ada atau masih ada kekurangan. Memantau dan mengevaluasi proses dan hasil terhadap
sasaran dan spesifikasi dan melaporkan hasilnya.Dalam pengecekan ada dua hal yang perlu
diperhatikan, yaitu memantau dan mengevaluasi proses dan hasil terhadap sasaran dan
spesifikasi. Teknik yang digunakan adalah observasi dan survei. Apabila masih menemukan
kelemahan-kelemahan, maka disusunlah rencana perbaikan untuk dilaksanakan selanjutnya. Jika
gagal, maka cari pelaksanaan lain, namun jika berhasil, dilakukan rutinitas. Mengacu pada
verifikasi apakah penerapan tersebut sesuai dengan rencana peningkatan dan perbaikan yang
diinginkan.
d. (Act = Menindaklanjuti)
Artinya melakukan evaluasi total terhadap hasil SASARAN dan PROSES dan
menindaklanjuti dengan perbaikan-perbaikan. Jika ternyata apa yang telah kita kerjakan masih
ada yang kurang atau belum sempurna, segera melakukan action untuk memperbaikinya. Proses
ACT ini sangat penting artinya sebelum kita melangkah lebih jauh ke proses perbaikan

selanjutnya. Menindaklanjuti hasil untuk membuat perbaikan yang diperlukan. Ini berarti juga
meninjau seluruh langkah dan memodifikasi proses untuk memperbaikinya sebelum
implementasi berikutnya. Menindak lanjuti hasil berarti melakukan standarisasi perubahan,
seperti mempertimbangkan area mana saja yang mungkin diterapkan, merevisi proses yang
sudah diperbaiki, melakukan modifikasi standar, prosedur dan kebijakan yang ada,
mengkomunikasikan kepada seluruh staf, pelanggan dan suplier atas perubahan yang dilakukan
apabila diperlukan, mengembangkan rencana yang jelas, dan mendokumentasikan proyek. Selain
itu, juga perlu memonitor perubahan dengan melakukan pengukuran dan pengendalian proses
secara teratur.
Dalam Model Proses ISO 9001, manajemen suatu organisasi setelah memahami
persyaratan-persyaratan Sistem Manajemen Mutu, selanjutnya melakukan tahap-tahap sebagai
berikut :

menetapkan komitmennya untuk melaksanakan sistem manajemen mutu;

menetapkan kebijakan mutu dan sasaran mutu;

melakukan penetapan dan pendelegasian tugas dan wewenang;

menunjuk wakil manajemen yang bertugas mengawasi pelaksanaan sistem manajemen


mutu;

melakukan tinjauan manajemen.


Tanggungjawab manajemen tersebut merupakan Proses Perencanaan (plan), dan

organisasi harus memenuhi proses ini terlebih dahulu dalam memulai suatu sistem manajemen
mutu, barulah kemudian menetapkan dokumentasi-dokumentasi yang diperlukan untuk

kelengkapan proses ini. Yang dimaksud manajemen disini adalah manajemen puncak suatu
organisasi/ perusahaan seperti Presiden Direktur, Direktur, General Manager, atau fungsi yang
mengatur jalannya organisasi secara integral.
Proses berikutnya yang juga merupakan Proses Perencanaan (plan) adalah Pengelolaan
Sumber Daya, dimana organisasi menetapkan sumber daya-sumber daya yang diperlukan untuk
melaksanakan sistem manajemen mutu dan memenuhi persyaratan pelanggan. Sumber daya
tersebut berupa :
o
o
o
o
o

sumber daya manusia (karyawan)


infrastruktur (bangunan)
proses
alat transportasi
komunikasi dan lingkungan kerja
Pada tahap selanjutnya, organisasi harus melaksanakan (DO) perencanaan-perencanaan

yang telah ditetapkan dalam proses Realisasi Produk. Pada proses ini yang dilakukan organisasi
adalah :

menetapkan semua kebutuhan untuk membuat proses


melakukan kegiatan verifikasi, validasi, monitor, inspeksi
pengujian yang dibutuhkan untuk kriteria penerimaan produk
komunikasi dengan pelanggan, kegiatan desain dan pengembangan, pembelian, kegiatan
pengendalian perlengkapan produksi dan pelayanan, pengendalian alat ukur, dan lain
sebagainya.

Dengan kata lain, semua kegiatan operasional suatu perusahaan merupakan bagian dari
proses Realisasi Produk dalam ISO 9001:2000. Pada tahapan ini, Persyaratan Pelanggan
merupakan input bagi proses sedangkan outputnya adalah Kepuasan Pelanggan. Setelah proses

implementasi (do) dijalankan, maka proses berikutnya adalah pemeriksaan (check) hasil-hasil
yang diperoleh dan penetapan tindakan (act) yang diperlukan untuk perbaikan. Pada proses ini :
o
o
o
o
o
o

organisasi memonitor dan mengukur kepuasan pelanggan


melakukan audit mutu internal (internal quality audit)
memonitor dan mengukur proses-proses dan produk
melakukan pengendalian terhadap ketidaksesuaian (non conformity) yang terjadi
menganalisa semua data yang diperoleh termasuk kecenderungan proses-proses
kemudian melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan.

Hasil dari proses ini kemudian digunakan sebagai input bagi proses perencanaan
selanjutnya. Keempat proses di atas, Plan-Do-Check-Act (PDCA) merupakan satu siklus yang
tidak terputus dan saling berinteraksi satu sama lain. Siklus PDCA sudah seharusnya digunakan
untuk meningkatkan sistem manajemen mutu (kinerja organisasi) secara terus menerus.
Jadi PDCA merupakan proses yang kontinu dan berkesinambungan. Jika produk sudah
sesuai dengan mutu yang direncanakan maka proses tersebut dapat dipergunakan di masa
mendatang. Sebaliknya, jika hasilnya belum sesuai dengan yang direncanakan, maka prosedur
tersebut harus diperbaiki atau diganti di masa mendatang. Dengan demikian,

proses

sesungguhnya tidak berakhir pada langkah Act, tetapi merupakan proses yang kontinu dan
berkesinambungan sehingga kembali lagi pada langkah pertama dan seterusnya (Hendra
Poerwanto G).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Mutu pelayanan kesehatan adalah menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan
kesehatan dalam menimbulkan rasa puas pada diri setiap pasien. Batasan Mutu Pelayanan

Kesehatan terdiri dari, Pembatasan pada derajat kepuasan pasien dan pembatasan pada upaya
yang dilakukan.
PDCA merupakan salah satu kebijakan dalam menjamin mutu pelayanan kesehatan.
PDCA, singkatan bahasa Inggris dari "Plan, Do, Check, Act" (Rencanakan, Kerjakan, Cek,
Tindak lanjuti), adalah suatu proses pemecahan masalah empat langkah iteratif yang umum
digunakan dalam pengendalian kualitas.
Manfaat dari PDCA antara lain :
o Untuk memudahkan pemetaan wewenang dan tanggung jawab dari sebuah unit organisasi
o Sebagai pola kerja dalam perbaikan suatu proses atau sistem di sebuah organisasi
o Untuk menyelesaikan serta mengendalikan suatu permasalahan dengan pola yang runtun
dan sistematis
o Untuk kegiatan continuous improvement dalam rangka memperpendek alur kerja
o Menghapuskan pemborosan di tempat kerja dan meningkatkan produktivitas.

B. Saran
Sebainya perawat lebih memahami lagi tentang bagaimana cara meningkatkan mutu
pelayanan kepada pasien sehingga pasien bisa puas dengan pelayanan yang diberikan oleh
perawat.

DAFTAR PUSTAKA
Azwar Azrul. 1996. Pengantar administrasi kesehatan. Jakarta : yayasan penernit IDI.
Jenny J.S. Sondakh, dkk. 2013. Mutu Pelayanan Kesehatan dan Kebidanan. Jakarta : Salemba
Medika.
http://teknikelektronika.com/pengertian-siklus-pdca-plan-do-check-act/.
Desember 2015 pukul 20.00 WIB.

Diakses

pada

11