Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Istilah Tindak kecurangan di pemerintahan di Indonesia sudah mencapai tingkat
yang memprihatinkan. Bila kita sering membaca surat kabar atau melihat televisi,
maka kita akan disuguhi banyak berita tentang kasus-kasus fraud yang telah
melibatkan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, baik dijajaran lembaga
legislatif, eksekutif bahkan yudikatif. Berbagai usaha telah dilakukan Pemerintah
Indonesia baik dengan memberdayakan secara maksimal lembaga-lembaga
penegak hukum, seperti Kejaksaan, Pengadilan, dan Kepolisian. Bahkan dalam
dasawarsa terakhir Pemerintah juga telah membentuk dan memberdayakan Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melakukan pemberantasan korupsi di
Indonesia. Namun sayangnya hasil yang di dapat masih belum sesuai dengan
harapan, di mana Indonesia masih menduduki 10 negara terkorup di dunia.
Mengapa hal ini terjadi?
Terjadinya kecurangan tersebut yang tidak dapat terdeteksi oleh suatu
pengauditan dapat memberikan efek yang merugikan dan cacat bagi proses
pelaporan keuangan. Adanya kecurangan berakibat serius dan membawa dampak
kerugian. Apabila dilihat dari peran akuntan publik, fenomena kecurangan ini
menjadi masalah yang serius karena menyangkut citra akuntan publik terutama
auditornya.
Kecurangan yang dilakukan oleh oknum-oknum pemerintah sulit terdeteksi
karena

pelaku

biasanya

merupakan

orang-orang

yang

dipercaya

untuk

menjalankan suatu proyek. Oleh karena itu, auditor laporan keuangan harus
mempunyai keahlian untuk mendeteksi kecurangan ini. Untuk tindak lebih lanjut,
auditor laporan keuangan ini hanya dapat mendeteksi saja sedangkan untuk
pengungkapannya diserahkan pada auditor forensik yang lebih berwenang. Auditor
forensik inilah yang nantinya akan menggunakan suatu aplikasi audit lain selain
audit biasa yang digunakan para auditor laporan keuangan untuk mengungkapkan
kecurangan yaitu Audit forensic.
Istilah fraud dalam konteks sederhana adalah perbuatan yang melanggar
hukum. Perbuatan yang disebut fraud mengandung unsur kesengajaan, niat jahat,
penipuan (deception), penyembunyian (concealment), dan penyalahgunaan
kepercayaan (violation of trust). Perbuatan ini dilakukan untuk mengambil
keuntungan haram (illegal advantage) yang berupa uang, barang/harta, jasa,
1

penyuapan kepada petugas atau pejabat dalam kerahasiaan bisnis. (Theodorus M.


Tuanakotta, 2014:28)
Menurut Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) mendefisikan fraud
(kecurangan) berkenaan dengan adanya keuntungan yang diperoleh seseorang
dengan menghadirkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaan yang
sebenarnya. Di dalamnya termasuk unsure-unsur surprise/tak terduga, tipu daya,
licik, dan tidak jujur yang merugikan orang lain.
B. Sistematika Penulisan
Dalam pembahasan, makalah ini menjelaskan tentang Melihat dan Mendeteksi
Fraud dalam Corporate (BUMN/Perbankan).
C. Manfaat Penulisan
Dapat menjelaskan tentang Cara Melihat dan Mendeteksi Fraud dalam
Corporate (BUMN/Perbankan).

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Kecurangan (Fraud)
Kecurangan (FRAUD) perlu dibedakan dengan kesalahan (Errors). Kesalahan
dapat dideskripsikan sebagai Unintentional Mistakes (kesalahan yang tidak di
sengaja). Kesalahan dapat terjadi pada setiap tahapan dalam pengelolaan
transaksi terjadinya transaksi, dokumentasi, pencatatan dari ayat-ayat jurnal,
pencatatan debit kredit, pengikhtisaran proses dan hasil laporan keuangan.
Kesalahan dapat dalam banyak bentuk matematis. Kritikal, atau dalam aplikasi
prinsip-prinsip akuntansi. Terdapat kesalahan jabatan atau kesalahan karena
penghilangan / kelalaian, atau kesalahan dalam interprestasi fakta. Commission
merupakan kesalahan prinsip (error of principle), seperti perlakuan pengeluaran
pendapatan sebagai pengeluaran modal. Sedangkan Omission berarti bahwa
suatu item tidak dimasukkan sehingga menyebabkan informasi tidak benar. Apabila
suatu kesalahan adalah disengaja, maka kesalahan tersebut merupakan
kecurangan (FRAUDulent). Istilah Irregulary merupakan kesalahan penyajian
keuangan yang disengaja atas informasi keuangan.
G.Jack Bologna, Robert J.Lindquist dan Joseph T.Wells mendifinisikan
kecurangan FRAUD is criminal deception intended to financially benefit the
deceiver ( 1993,hal 3 ) yaitu kecurangan adalah penipuan kriminal yang
bermaksud untuk memberi manfaat keuangan kepada si penipu. Kriminal disini
berarti setiap tindakan kesalahan serius yang dilakukan dengan maksud jahat. Dan
dari tindakan jahat tersebut ia memperoleh manfaat dan merugikan korbannya
secara financial. Biasanya kecurangan mencakup tiga langkah yaitu (1)
tindakan/theact., (2) Penyembunyian atau the concealment dan (3) konversi atau
the conversion. Misalnya pencurian atas harta persediaan adalah tindakan,
kemudian pelaku akan menyembunyikan kecurangan tersebut misalnya dengan
membuat bukti transaksi pengeluaran fiktif.
FRAUD (kecurangan) adalah tindakan ilegal yang dilakukan satu orang atau
sekelompok orang secara sengaja atau terencana yang menyebabkan orang atau
kelompok

mendapat

keuntungan,

dan

merugikan

orang

atau

kelompok

lain.FRAUDulent financial reporting (kecurangan laporan keuangan) adalah salah


saji atau pengabaian jumlah dan pengungkapan yang disengaja dengan maksud
menipu para pemakai laporan. Kecurangan dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu :
a. Kecurangan Laporan Keuangan (Financial Statement FRAUD).

Kecurangan Laporan Keuangan dapat didefinisikan sebagai kecurangan yang


dilakukan oleh manajemen dalam bentuk salah saji material Laporan Keuangan
yang merugikan investor dan kreditor. Kecurangan ini dapat bersifat financial atau
kecurangan non financial.
b. Penyalahgunaan aset (Asset Misappropriation).
Penyalahagunaan aset dapat digolongkan ke dalam Kecurangan Kas dan
Kecurangan atas Persediaan dan Aset Lainnya, serta pengeluaran-pengeluaran
biaya secara curang (FRAUDulent disbursement).
c. Korupsi (Corruption).
Korupsi dalam konteks pembahasan ini adalah korupsi menurut ACFE,
bukannya pengertian korupsi menurut UU Pemberantasan TPK di Indonesia.
Menurut ACFE, korupsi terbagi ke dalam pertentangan kepentingan (conflict of
interest), suap (bribery), pemberian illegal (illegal gratuity), dan pemerasan
(economic extortion).
Beberapa konsep AFAI (akuntansi forensik dan audit investigasi) juga dikenal
sebagai fraud audit atau audit atas kecurangan. Manipulasi laporan keuangan
adalah salah satu bentuk fraud seperti yang didefinisikan oleh ACFE. Konsepkonsep yang berkaitan erat dengan fraud adalah sebagai berikut:
1. Fraud Tree, pohon/peta kecurangan yang diterbitkan oleh ACFE. Dalam peta
kecurangan ACFE, ada tiga cabang utama yaitu :
a) Korupsi (corruption) merupakan jenis fraud yang paling sulit dideteksi
karena menyangkut kerja sama dengan pihak lain seperti suap. Jenis
fraud inilah yang sering terjadi di negara-negara berkembang seperti di
Indonesia salah satunya.
b) Penjarahan aset (asset misappropriation) adalah penyalahgunaan/
pencurian aset atau harta perusahaan atau pihak lain.
c) Fraud dalam laporan keuangan (fraudulent statements) adalah tindakan
untuk menutupi kondisi keuangan yang sebenarnya dengan melakukan
rekayasa keuangan (financial engineering) dalam penyajian laporan
keuangannya untuk memperoleh keuntungan (window dressing).
2. Fraud Triangle, segitiga kecurangan yaitu :
a) Sudut pertama, pressure atau tekanan yang dirasakan oleh pelaku
kecurangan yang dipandangnya sebagai kebutuhan keuangan yang
tidak dapat diceritakan kepa orang lain.

b) Sudut kedua, precieved opportunity adalah peluang untuk melakukan


kecurangan seperti yang dipersepsikan pelaku kecurangan.
c) Sudut ketiga, rationalization adalah pembenaran yang dibisikkan untuk
melawan nurani si pelaku kecurangan.
3. Fraud Axioms, proposisi dasar ACFE mengenai kecurangan yang perlu
diperhatikan akuntan forensic sebagai investigator.
4. Fraud Predication, unsur-unsur rekanan yang disingkat W5H2 atau A4M3
yaitu rekanan mengenai apa yang terjadi, siapa pelaku, bagaimana dilakukan,
mengapa, kapan, di mana, berapa besar?
5. Red Flags, tanda bahaya yang menjadi petunjuk tentang potensi terjadinya
fraud.
B. Cara Melihat dan Mendeteksi Fraud
Tujuan utama dari pendeteksian kecurangan adalah dalam rangka membantu
perusahaan menciptakan suasana sehat dan menguntungkan di dalam lingkungan
perusahaan dengan mencegah terjadinya kerugian akibat kecurangan. Terdapat
Deteksi atas Kecurangan Laporan Keuangan antara lain dilakukan dengan
membandingkan hasil analisis atas laporan tersebut dengan laporan periode
sebelumnya. Perbandingan tersebut dapat juga berupa perbandingan data
keuangan dengan data non-keuangan pendukung laporan keuangan. Deteksi atas
kecurangan laporan keuangan antara lain dengan melakukan :
1. Analisis Vertikal
Merupakan anilisis antara item0item Laporan Keuangan (Neraca, Laporan LabaRugi dan Laporan Arus Kas) dan membandingkannnya dengan tahun lalu dan
digambarkan dalam persentase. Bila hasilnya terjadi perbedaan yang tidak wajar
menunjukkan adanya tanda-tanda fraud.
2. Analisis Horizontal
Merupakan analisis perubahan item-item Laporan Keuangan selama beberapa
periode pelaporan yang digambarkan dalam persentase. Bila hasil analisisnya
terjadi perbedaan mencolok, menunjukkan adanya gejala atau tanda-tanda
kecurangan (fraud).
3. Analisis Ratio
Merupakan analisis dengan membandingkan item-item dalam Laporan Keuangan

Berikut ini adalah langkah-langkah dalam menemukan dan mendeteksi suatu


fraud, yaitu :
1. Memahami Gejala Kecurangan
Seiring dengan perkembangan ekonomi saat ini yang merupakan hasil dari
proses pembangunan, teah membuat dunia usaha semakin semarak, kompleks,
variatif dan dinamis. Masing-masing perusahaan berusaha untuk menggali segala
potensi yang ada agar tetap bertahan dan memenuhi kebutuhan pelanggannya.
Namun, seperti juga yang dialami oleh negara-negara maju maupun Negara
berkembang, setiap pencapaian kemampuan di bidang ekonomi, cenderung diiringi
pula dengan munculnya bentuk-bentuk kejahatan baru, baik di bidang ekonomi
maupun sosial.
Para pelaku kejahatan tersebut cenderung untuk mencari dan memanfaatkan
berbagai kelemahan yang ada dalam prosedur, tata kerja, perangkat hukum,
kelemahan para pegawai maupun pengawasan yang belum sempat dibenahi.
Berbagai cara dan usaha telah dilakukan oleh hamper seluruh perusahaan untuk
mencegah terjadinya kecurangan baik dengan cara mempromsikan integritas,
maupun pengenaan sanksi yang sepadan dengan perbuatan yang dilakukannya.
Namun, risiko kecurangan tetap mungkin saja terjadi dalam suatu perusahaan. Hal
yang menjadi prtanyaan selanjutnya adalah bagaimana menilai kemungkinan
masalah demikian muncul.
Dengan memahami gejala kecurangan (Red Flags) manajemen dapat
mengidentifikasikan kondisi kecurangan yang kemungkinan besar akan terjadi atau
telah terjadi.Dengan belajar dari kecurangan yang pernah terjadi,maka kecurangan
dapat sedini mungkin ditangani oleh manajemen atau internal auditor.Dalam hal ini
manajemen

dan

internal

auditor

harus

jeli

melihat

tanda-tanda

atau

kecurangan,yaitu antara lain:


Terdapat perbedaan angka laporan keuangan yang mencolok dengan tahuntahun sebelumnya
Perbedaan antara Buku Besar dengan Buku Tambahannya
Perbedaan yang terungkapkan dari hasil konfirmasi
Transaksi yang tidak didukung oleh bukti yang memadai
Transaksi yang tidak dicatat sesuai dengan otorisasi manajemen baik yang
khusus maupun yang umum
Terdapat perbedaan kepentingan (conflict of interest) pada tugas pekerjaan
karyawan
6

Tanda awal (Red Flags) terjadinya kecurangan sebagai berikut:


a. Situasi

pribadi

yang

mengakibatkan

timbulnya

tekanan

yang

tidk

diharapkan,seperti dililit hutang ,dan menderita sakit berat


b. Keadaan perusahaan yang mengakibatkan timbulnya tekanan yang tidak
semestinya,seperi

kesulitan

ekonomi,banyaknya

hutang,meningkatnya

persaingan dan kredit pinjaman yang terbatas


c. Risiko pengendalian yang spesifik,seperti satu orang menangani semua
bagian dari suatu transaksi yang penting,supervise yang buruk,penugasan
dan tanggung jawab yang tidak jelas.
Selain hal-hal di atas,terdapat kondisi-kondisi tertentu yang dapat menjadi
pemicu terjadinya kecurangan dalam suatu perusahaan.Kondisi-kondis tersebut
seperti:
a. Sistem pengendalian intern yang tidak memadai (lack of internal control
sistem) seperti manajemen tidak menekankan perlunya peranan internal
control,manajemen

tidak

menindak

pelaku

fraud,para

eksekutif

menunjukkan sikap hidup kemewahan,internal auditor tidak diberikan


kewenangan

untuk

menyelidiki

kegiatan

para

eksekutif

terutama

menyangkut pengeluaran yang besar


b. Prosedur penerimaan pegawai yang kurang memepertimbangkan kejujuran
dan integritas calon pegawai
c. Model manajemen dalam perusahaan itu sendiri yang cenderung mengarah
pada hal-hal yang korup,kurang efisien,ataupun tidak cakap
d. Karyawan yang terlalu banyak problem yang belum terselesaikan,terutama
masalah-masalah keuangan seperti banyak hutangpendaatan rendah,gaya
hidup mewah.
Gejala Adanya Fraud (Kecurangan) yang dilakukan oleh manajemen umumnya
lebih sulit ditemukan dibandingkan dengan yang dilakukan oleh karyawan. Oleh
karena itu, perlu diketahui gejala yang menunjukkan adanya kecurangan tersebut,
adapun gejala tersebut adalah:
a. Gejala kecurangan pada manajemen
Ketidakcocokan diantara manajemen puncak;
Moral dan motivasi karyawan rendah;
Departemen akuntansi kekurangan staf;
7

Tingkat komplain yang tinggi terhadap organisasi/perusahaan dari pihak


konsumen, pemasok, atau badan otoritas;
Kekurangan kas secara tidak teratur dan tidak terantisipasi;
Penjualan/laba menurun sementara itu utang dan piutang dagang
meningkat;
Perusahaan mengambil kredit sampai batas maksimal untuk jangka waktu
yang lama;
Terdapat kelebihan persediaan yang signifikan;
Terdapat peningkatan jumlah ayat jurnal penyesuaian pada akhir tahun
buku.
b. Gejala kecurangan pada karyawan/pegawai
Pembuatan ayat jurnal penyesuaian tanpa otorisasi manajemen dan tanpa
perincian/penjelasan pendukung;
Pengeluaran tanpa dokumen pendukung;
Pencatatan yang salah/tidak akurat pada buku jurnal/besar;
Penghancuran,

penghilangan,

pengrusakan

dokumen

pendukung

pembayaran;
Kekurangan barang yang diterima;
Kemahalan harga barang yang dibeli;
Faktur ganda;
Penggantian mutu barang
2. Mendeteksi Kecurangan
Dalam melakukan pendeteksian terhadap kecurangan,tentunya tidak dapat
dilepaskan dari pengetahuan tentang hal-hal yang menjadi pemicu terjadinya
kecurangan dan siapa atau pihak mana yang kemungkinan dapat melakukan
kecurangan.Hal ini sangat perlu diketahui oleh pihak yang mendapat tugas untuk
melakukan pendeteksian kecurangan,karenadengan mengetahui factor pemicu
terjadinya kecurangan dan siapa atau pihak mana yang dilakuakan akan lebih
terarah.
Secara umum hal-hal yang menjadi pemicu terjadinya kecurangan baik yang
dilakukan oleh seseorang ataupun sekelompok orang dapat dirangkum dalam kata
GONE (GONE THEORY yang merupakan singkatan dari Greed (Keserakahan),
Opportunity (Kesempatan), Need (Kebutuhan), dan Exposure (Pengungkapan). Dua
8

factor

yaitu Greed dan Need terutama berhubungan dengan individu (pelaku

kecurangan),

sedangkan

Opportunity

dan

Exposure

berhubungan

dengan

organisasi (korban perbuatan kecurangan). Dalam pembahasan selanjutnya,factorfaktor tersebut dikelompokkan ke dalam factor generic dan factor individu
a. Faktor Generik, faktor ini berada dalam pengendalian organisasi (perusahaan)
yang mencakup :
Kesempatan atau adanya peluang bagi pelaku kecurangan (opportunity) :
Kesempatan melakukan kecurangan tergantung pada kedudukan pelaku
terhadap obyek kecurangan. Kesempatan untuk melakukan kecurangan
tidak dapat dihilangkan secara keseluruhan atau seratus persen. Usaha
untuk

menghilangkan

kesempatan

terjadinya

kecurangan

secara

keseluruhan menjadi tidak ekonomis dan tidak produktif selama perusahaan


tersebut masih memiliki asset, dimana asset tersebut diperdagangkan,
mengalir, dan ada dalam pengendalian pihak lain seperti karyawan,
pembeli, dan penjual.
Kemungkinan bahwa kecurangan akan dapat diketahui dan diungkapkan
(exposure) :
Kondisi

saat

ini

ada

seseorang/sekelompok

kecenderungan

orang

terhadap

makin

tipisnya

kecurangan

yang

kepekaan
terjadi

di

sekelilingnya. Hal ini mungkin saja dipicu oleh kekhawatiran mereka


khususnya berkaitan dengan perlindungan terhadap pihak-pihak yang
mengungkapkan terjadinya kecurangan tersebut. Apabila kondisi ini terus
terjadi, maka secara logika kecurangan makin merajalela, karena para
pelaku kecurangan tersebut merasa bahwa kecurangan apapun yang
mereka lakukan tidak ada pihak lain yang berani mengungkapkannya.
Sanksi yang dikenakan kepada pelaku jika tertangkap dan perbuatannya
terungkap (exposure) :
Terungkapnya

kecurangan

belum

cukup

untuk

mencegah

terulang

kembalinya kejadian tersebut dimasa yang akan datang. Oleh karena itu
harus ada saksi atas perbuatan tersebut yang jelas, tegas, dan diterapkan
sesuai dengan peraturan yang berlaku. Suatu perusahaan yang ingin
melindungi assetnya harus memiliki kebijakan (policy) yang jelas mengenai
sifat dan besarnya sanksi terhadap pelaku kecurangan, seperti : siapapun
yang terlibat kecurangan akan dipecat, semua kecurangan akan dilaporkan
kepada pihak yang berwenang
9

b. Faktor Individu, faktor ini melekat pada diri seseorang yang melakukan
kecurangan. Secara umum, faktor ini dapat dikategorikan menjadi dua yaitu :
moral yang berhubungan dengan keserakahan (greed). Keserakahan
berhubungan dengan atribut seseorang. Bagaimana dengan atribut lainnya
yang ada dalam diri manusia seperti kejujuran, integritas, loyalitas dan
sebagainya, adalah sulit untuk mengetahui apakah seseorang memiliki
atribut serakah ini atau tidak.
Motivasi yang berhubungan dengan kebutuhan (need). Salah satu yang
menjadi

penyebab

seseorang

atau

sekelompok

orang

melakukan

kecurangan adalah berhubungan dengan kebutuhan ekonomi. Disamping


itu juga dapat disebabkan oleh adanya perasaan ketidakpuasan atas
kebijakan yang ditetapkan oleh manajemen, balas dendam, dan tantangan.
Berikut merupakan beberapa perilaku seseorang yang harus menjadi perhatian
karena dapat merupakan indikasi adanya kecurangan yang dilakukan orang
tersebut, yaitu:
Perubahan perilaku secara signifikan, seperti: easy going, tidak seperti
biasanya, gaya hidup mewah, mobil atau pakaian mahal;
Gaya hidup di atas rata-rata;
Sedang mengalami trauma emosional di rumah atau tempat kerja;
Penjudi berat;
Peminum berat;
Sedang dililit utang;
Temuan audit atas kekeliruan (error) atau ketidakberesan (irregularities)
dianggap tidak material ketika ditemukan;
Bekerja tenang, bekerja keras, bekerja melampaui jam kerja, sering bekerja
sendiri
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mendeteksi fraud adalah :
Jangan mengabaikan hal-hal yang jelas. Hal ini untuk menghilangkan
kesan bahwa penyelidikan terhadap kecurangan selalu merupakan aktivitas
kompleks, padahal dalam prakteknya tidak selalu seperti kesan tersebut di
atas. Disamping itu, dalam prekteknya, kebanyakan perbuatan kecurangan
meninggalkan jejak yang jelas.

10

Berikan perhatian pada penyimpangan yang terjadi, jangan selalu mencari


penyelesaian yang kompleks, dan mulailah dengan mencari penyelesaian
yang paling sederhana.

Lakukan konsentrasi ada titik yang paling lemah dan sederhana di dalam
kecurangan.
Pendeeksian dan pencegahan kecurangan merupakan aspek rutin, bukan
suatu hal yang hanya dilakukan sekali.
Tujuan utama mendeteksi kecurangan adalah mencegah terjadinya, bukan
mendeteksi seluruh kecurangan.
Sumber daya dan kemampuan harus dialokasikan secara khusus untuk
melakukan tugas tersebut.
Mendeteksi kecurangan berarti kerja keras.
Kecurangan dapat lolos dari deteksi disebabkan tidak seorangpun
ditugaskan untuk itu.
Pemikiran tentang tanggung jawab auditor dalam

mendeteksi fraud sering

diserupakan dengan istilah dua jenis anjing. Kecurangan (fraud)khususnya dalam


manipulasi laporan keuangan bahwa auditor bukan sebagai bloodhound atau anjing
pelacak tetapi sebagai watchdog atau anjing penjaga (pengadilan banding
Inggris;1896). Upaya mendeteksi fraud dalam laporan keuangan perusahaan
terdapat 4 perspektif yang berbeda yaitu :
a. Perspektif Auditor
Auditor yang mengaudit laporan keuangan. Ia menjadi tumpuan harapan para
pengguna laporan. Dalam peran ini ia dijuluki watchdog atau gate keeper,
namun pengguna laporan mengharapkan perannya lebih ke arahbloodhound.
Langkah-langkah yang dilakukan auditor dalam mendeteksi fraud dalam
laporan keuangan adalah :
Audit Berbasis Risiko yaitu melaksanakan audit berdasarkan standar audit
yang berlaku. Pada waktu ini Indonesia mengadopsi ISA. Inti dari standar ini
ialah Audit Berbsis Risiko (ABR).
Memilih Auditee sebagai Klien ialah menentukan apakah menerima atau
menolak auditee sebagai klien, sebelum KAP-nya yang mengikatkan diri
dalam sebuah perikatan audit.

11

Risiko Klien versus Risiko Auditor. Risiko yang dihadapi auditor lebih besar
daripada kliennya. Auditor harus menilai berapa besar risiko residual
manajemen yang dihadapinya.
Pahami Bisnis Klien dan Industrinya. Auditor harus memahami bisnis yang
digeluti kliennya dan industry mana bisnis itu berada.
Buka Saluran Penerimaan Informasi. Auditor kerap melihat bahwa skandal
kecurangan paling terungkap melaluiwhistleblowing oleh whistleblower.
Tidak jarangwhistleblower menghubungi auditor dengan informasi penting
yang relevan untuk mendeteksi kecurangan, tanpa mengungkapkan
identitasnya.
Sengketa Berbagai Pihak. Sengketa dan gugatan seharusnya merupakan
alarm yang penting bagi auditor
Tanda Bahaya. Salah satu ciri pemahaman yang baik mengenai bisnis klien
dan industrinya ialah mengenali tanda-tanda bahaya yang khas untuk
industry tersebut.
Benfords Law/Teknologi Informasi. Para peneliti Brigham Young University
(BYU) menemukan sistem pendeteksian kecurangan (fraud detection
system) yang paling ampuh akurat. System ini memanfaatkan informasi
yang tersedia untuk umum seperti laporan keuangan perusahaanperusahaan publik.
b. Bankir
Bankir, khususnya mereka yang bertanggung jawab atas pengawasan dan
keamanan

pinjaman

menggunakan

laporan

tang

diberikan

keuangan

yang

bank.

Mereka

diaudit.

tentunya

Namun,

mereka

dapat
juga

mempunyai informasi lain (yang dipunyai atau tidak dipunyai auditor) untuk
mendeteksi manipulasi laporan keuangan, atau setidak-tidaknya mengibarkan
bendera merah tanda adanya potensi ketidakpastian.
Langkah-langkah yang dilakukan auditor dalam mendeteksi fraud dalam
laporan keuangan adalah :
Memahami Bisnis Debitur dan Industrinya. Pemahaman yang baik untuk
mengidentifikasi penyimpangan antara pemahaman bank tersebut dengan
apa yang dilaporkan debiturnya.
Laporan Keuangan untuk Bank. Sangat lazim bagi bank untuk meminta
laporan keuangan dari debiturnya. Debitur untuk pinjaman yang relative
kecil cukup menyampaikan laporan keuangan tanpa audit. Sedangkan
12

untuk pinjaman besar, bankmengharuskan laporan keuangan kuartalan


tanpa audit dan laporan tahunan yang diaudit.
Komunikasi Bank dengan KAP.
Bank Mereviu Laporan Keuangan. Hendaknya bank tidak menyimpan
laporan keuangan yang diterimanya, tanpa meriviu laporan keuangan
tersebut.
Inspeksi Berkala. Inspeksi adalah prosedur yang wajib dilakukanbank dan
auditor. Dengan inspeksi, bank dan auditor melihat cerita di belakang
angka-angka laporan keuangan.
Debitur Mengungkap Manipulasi.
c. Pasar Modal
Mereka yang mempunyai posisi unik untuk mengendus, mengibarkan bendera
merah, bahwa mendeteksi manipulasi laporan keuangan. Kasus-kasus pasar
modal yang digunakan dalam hal ini memperlihatkan, antara lain, peran analis
keuangan, manajer investasi, bahkan jurnalis dalam mengungkap (potensi)
manipulasi laporan keuangan. Peran yang relative baru justru dimainkan oleh
para ahli yang mendalami keahlian membaca perilaku muslihat para eksekutif.
d. Fiskus
Fiskus adalah Negara dan aparatnya yang bertugas mengumpulkan dan
mengawasi pengumpulan pajak. Fiskus mempunyai kepentingan dalam
mendeteksi

manipulasi

laporan

keuangan

yang

dimanfaatkan

untuk

penggelapan pajak. Fiskus juga mempunyai keuntungan tertentu dalam


mendeteksi manipulasi laporan keuangan yang akan digunakan wajib pajak
untuk melapor kewajibannya dan pengenaan denda, bunga, dan kenaikan atas
kesalahannya.

C. Teknik Mendeteksi Fraud


Teknik mendeteksi kecurangan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:

1. Critical Point Auditing (CPA)


Setiap perusahaan pasti memiliki titik rawan yang sering digunakan sebagai
tempat terjadinya kecurangan. Apabila kecurangan terjadi pada titik tersebut, akan
dengan mudah diketahui. Namun, dalam banyak hal keberhasilan suatau
13

kecurangan lebih banyak disebabkan kepandaian pelaku dalam menyembunyikan


kegiatannya diantara transaksi-transaksi yang ada.
CPA merupakan suatu teknik dimana melalui pemeriksaan atas catatan
pembukuan, gejala suatu manipulasi dapat diidentifikasi. Hasilnya berupa gejala
atau kemungkinan terjadinya kecurangan yang pada gilirannya mengarah kepada
penyelidikan yang lebih rinci. Metode ini dapat digunakan pada setiap perusahaan.
Semakin akurat dan komprehensif suatu catatan, maka semakin efektif teknik ini
dalam mengetahui gejala kecurangan.
Critical Point Auditing ini adalah :
a. Analisis Tren
Pengujian ini terutama dilakukan atas kewajaran pembukuan pada rekening
buku besar dan menyangkut pula pembandingannya dengan data sejenis untuk
periode sebelumnya maupun dengan sejenis dari cabang-cabang perusahaan.
Data-data yang digunakan biasanya berupa : Rekening Buku Besar, Neraca, dan
Anggaran.
Pembandingan dengan periode sebelumnya dapat diarahkan untuk :
mendapatkan gejala manipulasi yang dilakukan oleh pihak internal
perusahaan yang melakukan kecurangan.
mendeteksi kemungkinan adanya kerugian kecurangan.
Dampak atas kecurangan yang didasarkan atas analisis rasio dan kinerja
adalah hal yang penting untuk diamati lebih lanjut. Seorang pelaku kecurangan tidak
dapat menjamin bahwa tindakannya dapat dilakukan erus menerus secara teratur.
Pelaku tersebut mungkin cukup agresif, namun jika pengawasan ditingkatkan atau
jika prosedur ataupun pengendalian yang efektif diterapkan, kecurangan akan dapat
dideteksi. Para pelaku kecurangan tersebut membutuhkan waktu dan usaha untuk
menciptakan kesempatan yang baru. Dengan adanya ketidakteraturan dalam
kesempatan untuk melakukan kecurangan, maka memberi dampak tehadap
ketidakkonsistenan pelaku kecurangan dalam melakukan kecurangan tersebut akan
nampak dalam pembukuan perusahaan.

b. Pengujian Khusus
Pengujian khusus dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan yang memiliki risiko
tinggi untuk terjadinya kecurangan. Kegiatan-kegiatan tersebut seperti:
Pembelian
14

Kecurangan pembelian umumnya dilakukan dengan cara meninggikan nilai


yang terdapat dalam faktur. Dalam setiap kecurangan pembelian, hamper selalu
terdapat pengkreditan yang salah pada rekening kreditur. Cara lain yang dilakukan
adalah dengan melakukan pembelian fiktif. Hutang yang timbul kemudian dilunasi
oleh perusahaan, bukan kepada pemasok, namun kepada pelaku kecurangan.
Walaupun rekening dapat dibukukan, namun pelaku kecurangan tidak mampu
menyiapkan bukti pendukung yang lengkap. Oleh karena itu, pengujian pertama
yang sangat penting adalah untuk meyakinkan keabsahan pemasok.
Langkah-langkah yang dapat digunakan untuk meykinkan keabsahan tersebut
adalah :

Membandingkan data pemasok dengan data karyawan perusahaan,


tentang alamat dan nomor teleponnya. Pengujian ini berguna untuk
mengetahui apabila karyawan menciptakan pemasok fiktif dengan
menggunakan alamat karyawan tersebut atau alamat kerabatnya untuk
menerima pengiriman uang dari perusahaan.

Teliti

nama

Bandingkan

perusahaan
data

tempat

perusahaan

karyawan

tersebut

bekerja

denagan

sebelumnya.
data

rekanan

perusahaan. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui kemungkinana


karyawan melakukan kolusi dengan karyawan tempat dia bekerja
sebelumnya.

Periksa beberapa rekanan yang mengajukan penawaran kepada


perusahaan, dan teiti hubungan antara satu dengan yang lainnya.
Pngujian ini dimaksudkan untuk mengetahui adanya tender yang hanya
diikuti rekanan yang mempunyai keterkaitan satu sama lain.

Teliti faktur pembelian, apabila memenuhi unsur berikut, perlu diteliti


lebih lanjut :
Tidak terdapat nomor telepon
Faktur pembeliannya bukan faktur asli
Faktur tidak dikirim melalui pos
Tidak terdapat rincian barang-barang yang dibeli (selain kode
barang)

Verifikasi buku besar


Perhatikan rekening hutang yang muncul setelah penunjukan
pejabat perusahaan yang baru, khususnya yang menangani

15

pembelian. Tidak jarang, pejabat memilih pemasok yang telah


dikenalnya (kemungkinan karena ada hubungan istimewa)
Bandingkan buku pembelian tahun berjalan dengan tahun
sebelumnya, perhatikan hal-hal berikut ini :

Rekening-rekening yang dihapuskan

Rekening yang baru

Kecenderungan (trend) yang tidak wajar atas suatu rekening

Pengkreditan atas suatu rekening selain dari barang yang diterima dan
pendebetan selain kas:
Periksa

tingkat

kewenangan

pejabat

dalam

melakukan

pambelian dan menyetjui faktur. Perhatian harus diarahkan pada


kemungkinan memecah pembelian menjadi beberapa pesanan.
Lakukan uji-petik terhadap beberapa kontrak, terutama dari
pemasok yang barang-barangnya dibeli tanpa ada harga
resminya. Perhatikan hal-hal berikut ini :
Barang dibeli dari pemasok yang bukan merupakan kegiatan
bisnisnya
Pembelian tanpa melalui penawaran yang kompetitif
Mutu barang dibawah standar
Adanya perubahan harga dan/atau perpanjangan waktu
Harga kontrak sedikit dibatas ataas (plafon anggaran). Apabila
dari hasil pengujian terdapat indikasi adanya kecurangan,
langkah berikut harus dilakukan
Teliti kepemilikan perusahaan yang memenagkan tender
Teliti kepemilikan perusahaan yang kalah dalam tender
Penjualan dan Pemasaran
Kecurangan dalam aktivitas ini biasanya dilakukan dengan seolah-olah terjadi
penjualan yang diikuti dengan pengiriman barang namun tanpa pendebetan pada
rekening debitur. Kebalikan dengan pembelian, verifikasi atas penjualan dilakukan
melalui penelitian atas sumber dokumen. Selanjutnya yakinkan bahwa transaksi
tersebut dibukukan dalam rekening yang tepat.
Uraian lengkap pengujian yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
Lakukan

pengujian

terhadap

pembeli

yang

memperoleh

harga

terendah/memperoleh potongan harga ( discount) paling besar


16

Teliti saldo piutang yang melampaui plafon kredit


Teliti pembayaran/pelunasan piutang yang melampaui batas waktu tertentu
Lakukan analisis atas pesanan penjualan, catatan gudang dan faktur,
selanjutnya bandingkan antara ketiganya
Teliti pngiriman barang contoh ke gudang/cabang atau pengiriman barang
kepada pihak ketiga tersebut. Prosedur ini dimaksudkan untuk mendeteksi
kemungkinan penyalahgunaan pengiriman barang sampel
Teliti nota kredit untuk barang-barang yang dikembalikan (diretur) dan
bandingkan dengan penerimaan barangnya (di gudang)
Teliti surat menyurat berkaitan dengan transaksi pembelian. Perhatikan
keluhan konsumen, seperti kesalahan dalam faktur dan sebagainya. Trasir
keluhan-keluhan tersebut kepada barang yang dipesan, pengiriman barang,
dan faktur penjualan
Teliti catatan pelunasan piutang ke rekening yang bersangkutan. Trasir ke
buku kasnya dan slip pembayaran. Perhatikan perbedaan tanggal, nama
pembayar. Prosedur ini dilakukan dalam rangka mendeteksi kemungkinan
terjadinya lapping. Dalam lappin, pembayaran dari debitur tertentu
dibukukan dalam rekening debitur lainnya seolah-olah salah pembukuan
untuk menutupi kecurangan yang telah dilakukan.
Persediaan

Teliti secara detail catatan-catatan persediaan berkaitan dengan hal-hal


berikut ini :

Produk yang mempunyai perputaran (turnover) paling tinggi


Produk yang ada dalam persediaan, padahal tidak terdapat dalam
persediaan tahun sebelumnya
Produk yang ada dalam persediaan tahun-tahun lalu, namun tidak
tersedia tahun ini
Semua koreksi atas catatan persediaan yang disebsbkanadanya
perbedaan pada saat dilakukan stock opname

Periksa jadual pelaksanaan stock opname tahun lalu dengan cara :


Meneliti setiap jenis barang dan kaitkan dengan kewajaran
persediaan, perputaran dan ruang penyimpanan yang tersedia
Meneliti catatan kerja pengemudi perusahaan pada saat dilakukan
inventarisasi
17

Meneliti apakah terdapat pembayaran biaya pengangkutan untuk


pihak ketiga pda saat inventarisasi
Verifikasi kebenaran barang dalam perjalanan
Analisis Hubungan

Teliti debitur yang volume pembeliannya menurun dibandingkan dengan


tren normal, terutama yang disebabkan oleh pembatalan pesanan
maupun retur penjualan

Teliti jumlah pembelian yang dilakukan oleh pedagang besar dan


dibandingkan dengan jumlah kartu garansi yang dikembalikan oleh
konsumen akhir

Teliti rasio penerimaan terhadap penjualan kredit, piutang ragu-ragu


terhadap penjualan

Dapatkan anggaran biaya untuk setiap pusat biaya, dan lakukan


penelitian atas biaya-biaya yang realisasinya masih dibawah 50% pada
awal triwulan III namun mencapai lebih dari 90% mendekati akhir tahun.

2. Job Sensitivity Analysis (JSA)


Setiap

pekerjaan

dalam

suatu

perusahaan

memiliki

berbagai

peluang/kesempatan untuk terjadinya kecurangan. Hal ini tergantung dari beberapa


factor seperti : akses, kemampuan, dan waktu yang tersedia untuk merencanakan
dan melaksanakannya.
Teknik analisis kepekaan pekerjaan (job sensitivity analysis) ini didasarkan
pada suatu asumsi, yakni bila seseorang/sekelompok karyawan bekerja pada posisi
tertentu, peluang/tindakan negative (kecurangan) apa saja yang dapat dilakukan.
Dengan kata lain, teknik ini merupakan analisis dengan risiko kecurangan dari sudut
pelaku

potensial,

sehingga

penegahan

terhadap

kemungkinan

terjadinya

kecurangan dapat dilakukan mesalnya dengan memperketat pengendalian intern


pada posisi-posisi yang rawan kecurangan.

a. Metode Pendekatan
Langkah awal yang dilakukan adalah dengan mengidentifikasikan semua posisi
pekerjaan di dalam perusahaan yang menjadi obyek pemeriksaan. Oleh karena itu,
hal-hal yang perlu diamati dan dipelajari adalah ;
18

Struktur organisasi
Uraian tugas masing-masing pejabat yang ada dalam perusahaan
Manual akuntansi dan formulir-formulir yang digunakan
Pendelegasian wewenang
Langkah berikutnya adalah menyiapkan analisis setiap pejabat. Simpulan yang
diperoleh dari langkah ini harus dapat menunjukkan spesifikasi setiap pekerjaan dan
mencatat perbedaan antara akses yang diperbolehkan dengan akses yang
direncanakan. Sebagai contoh, petugas bagian pesanan penjualan tidak tidak
diperkenankan memiliki akses terhadap catatan pembelian. Namun kita juga harus
mempertimbangkan kondisi nyata dari ruangan yang tersedia dalam paerusahaan
yang bersangkutan, artinya apabila ruangan petugas bagian penjualan bersamasama dengan karyawan bagian pembelian, adalah suatu hal yang tidak realistis
menganggap petugas penjualan tersebut tidak mungkin membaca, merubah, atau
menyembunyikan catatan.
b. Pengawasan Rutin
Suatu hal yang mudah bagi pelaku kejahatan dalm suatu perusahaan untuk
beroperasi, bila mana manajer sibuk dengan tanggung jawab lain. Dalam
melakukan pengendalian juga harus diperhatikan hal-hal seperti bawahan lebih
pandai dari atasannya, atau bila atasan memiliki bawahan yang mempunyai latar
belakang pendidikan yang berbeda.
c. Karakter Pribadi
Karakter pribadi karyawan harus dipertimbangkan. Hal-hal yang harus
diperhatikan seperti :

Kekayaan yang tidak bisa dijelaskan

Pola hidup mewah

Pegawai

yang

sering

merasa

kecewa/tidak

puas

atas

keputusan

manajemen/tidak naik-naik pangkat

Sifat egois dari karyawan (mementingkan diri sendiri)

Karyawan yang sering mengabaikan instruksi/prosedur

Karyawan yang merasa dianggap paling penting

d. Tindak Lanjut
Hasil analisis akan memberikan gambaran tentang jenis pekerjaan mana yang
mengandung risiko tinggi dan metode fraud yang bagaimana yang sebaiknya

19

diterapkan. Pengujian secara detail harus dilakukan guna menentukan apakah


kesempatan yang ada telah digunakan.
D. Contoh Fraud di BUMN/ Perbankan
Contoh kasus fraud yang terjadi di BUMN / Perbankan diantaranya :

1. Kasus PT (Persero) Waskita Karya


Pers memberitahukan manipulasi laporan keuangan Waskita Karya
sejak pertengahan Agustus 2009. Berbagai istilah digunakan untuk fraud ini,
seperti manipulasi laporan keuangan, overstate, penggelembungan, markup,
kelebihan pencatatan laba, dan seterusnya. Kementerian Negara BUMN
menonaktifkan dua direktur PT Waskita Karya terkait kasus kelebihan
pencatatan pada laporan keuangan 2004-2008(Infokorupsi.com : 2009).
Kasus penggelumbungan aset di PT Waskita Karya Persero ini mencuat ketika
terjadi pergantian direksi. Direktur Utama pengganti tidak menerima begitu saja
laporan keuangan manajemen lama dan kemudian meminta pihak ketiga lain
untuk melakukan audit mendalam atas akun tertentu.
Dalam laporan keuangan tahun 2008, diungkapkan bahwa terdapat
salah saji atau penggelumbungan aset di tahun 2005 sebesar Rp5 miliar. Nilai
Rp5 miliar tersebut terdiri dari dua proyek yang sedang berjalan, proyek yang
pertama adalah proyek renovasi Kantor Gubernur Riau. Proyek ini dimulai pada
tahun 2004 dan sudah selesai 100%, nilai kontrak sebesar Rp13,8 miliar.
Namun pada akhir tahun 2005 terdapat pekerjaan tambah kurang senilai Rp3
miliar. Sampai dengan akhir tahun 2008 saldo tersebut masih muncul di neraca
perusahaan sebagai tagihan bruto pada pemberi kerja.
Proyek yang kedua adalah proyek pembangunan Gelanggang Olah
Raga Bulian Jambi. Nilai kontrak sebesar Rp33.998.000.000 dan PT Waskita
Karya Persero mengakui pendapatan kontrak dari progress tersebut sebesar
Rp2 miliar. Saldo tersebut masih outstanding sampi dengan akhir tahun 2008.
Kontrak itu diputus oleh Pemda Batang Hari karena dianggap ditandatangani
oleh pihak yang tidak berwenang, ada kasus pergantian bupati.
Sebagai gambaran tentang seberapa besar materi kas nilai dugaan
penggelumbungan aset pada tahun 2005. Tahun 2005 nilai aset PT Waskita
Karya Persero adalah sebesar Rp1,6 triliun, dan nilai yang diduga
digelembungkan oleh manajemen pada tahun 2005 adalah sebesar Rp5 miliar
atau sebesar 0,3% dari nilai aset tersebut.

2. Kasus PT. Industri Sandang Nusantara


20

Pada Desember 2006 Indonesia Corruptin Watch (ICW) melaporkan


kasus dugaan korupsi ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam ruislaag
(tukar guling) antara asset PT. Industri Sandang Nusantara (ISN), sebuah
BUMN yang bergerak di bidang tekstil, dengan asset PT. GDC, sebuah
perusahaan swasta.
Dalam ruislaag tersebut PT. ISN menukarkan tanah seluas 178.497
meter persegi di kawasan Senayan dengan Tanah seluas 47 hektar beserta
Pabrik dan mesin di karawang. Berdasarkan hasil temuan Badan Pemeriksaan
Keuangan (BPK) semester II Tahun Anggaran 1998/1999, menyatakan ruislaag
itu berpotensi merugikan keuangan Negara sebesar Rp. 121,628 miliar.
Kerugian itu terdiri dari kekurangan luas bangunan pabrik dan mesin
milik PT. GDC senilai Rp. 63,954 miliar, berdasarkan penilaian aktiva tetap oleh
PT. Sucofindo pada 1999; penyusutan nilai asset pabrik milik PT. GDC senilai
Rp. 31,546 miliar; dan kelebihan perhitungan harga tanah senilai Rp. 0,127
miliar. Selain itu juga ditemukan bahwa terdapat nilai saham yang belum
dibayarkan oleh PT. GDC sebesar Rp. 26 miliar.
Dalam kasus Ruislaag di atas, karena ketidakjelasan prosedur dan
syarat-syarat

tukar

guling

asset,

sehingga

sangat

rawan

untuk

diselewengkan.Seharusnya keputusan Tukar Guling tidak hanya menjadi


wewenang salah satu pejabat saja, melainkan melibatkan beberapa pejabat
sebagai pengendali dan control yang baik. Selain itu juga diperlukan sebuah
aturan baku oleh perusahaan mengenai tukar guling, sehingga kemungkinan
penyelewengan menjadi berkurang. Diperlukan juga control dari lembaga
bersangkutan terhadap penelitian tim penilik yang meneliti kelengkapan
mengenai status asset, dokumen kelengkapan asset, sehingga tidak ada
manipulasi dari nilai asset tersebut serta proses tukar menukar.
Walaupun menggunakan jasa Appraisal, penilaian asset tetap juga tetap
harus diawasi untuk mencegah kecurangan-kecurangan.Dari kasus diatas
dapat dibuktikan bahwa PT. ISN memiliki pengendalian intern yang sangat
buruk.Sehingga PT. ISN rawan dicurangi oleh rekanan-rekanan bisnisnya
maupun oleh oknum-oknum pejabat perusahaan yang ingin mengambil
keuntungan.Oleh karena itu hal pertama yang harus dibenahi oleh PT. ISN
adalah soal Pengendalian Internnya.

3. Kasus Laporan Fiktif Kas di Bank BRI Unit Tapung Raya

21

Kepala Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Tapung Raya, Masril (40) ditahan polisi. Ia
terbukti melakukan transfer uang Rp1,6 miliar dan merekayasa dokumen laporan keuangan.
Perbuatan tersangka diketahui oleh tim penilik/pemeriksa dan pengawas dari BRI Cabang
Bangkinang pada hari Rabu 23 Februari 2011 Tommy saat melakukan pemeriksaan di BRI
Unit Tapung. Tim ini menemukan kejanggalan dari hasil pemeriksaan antara jumlah saldo
neraca dengan kas tidak seimbang. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan cermat,
diketahu iadanya transaksi gantung yaitu adanya pembukuan setoran kas Rp 1,6 miliar yang
berasal BRIUnit Pasir Pengaraian II ke BRI Unit Tapung pada tanggal 14 Februari 2011 yang
dilakukanMasril, namun tidak disertai dengan pengiriman fisik uangnya.Kapolres Kampar
AKBP MZ Muttaqien yang dikonfirmasi mengatakan, Kepala BRI Tapung Raya ditetapkan
sebagai tersangka dan ditahan di sel Mapolres Kampar karenamentransfer uang Rp1,6 miliar
dan merekayasa laporan pembukuan.Kasus ini dilaporkan oleh Sudarman (Kepala BRI
Cabang Bangkinang dan Rustian
Martha pegawai BRI Cabang Bangkinang. Masril telah melakukan
tindak pidana membuat atau menyebabkan adanya pencatatan palsu dalam
pembukuan atau laporan maupun dalam dokumen laporan kegiatan usaha, laporan
transaksi atau rekening Bank (TP Perbankan). Tersangka dijeratpasal yang disangkakan
yakni pasal 49 ayat (1) UU No. 10 tahun 1998 tentang perubahan atasUU No. 7 tahun 1992
tentang Perbankan dangan ancaman hukuman 10 tahun, kata Kapolres.
Polres Kampar telah melakukan penyitaan sejumlah barang bukti dokumen BRI
serta melakukan koordinasi dengan instansi terkait, memeriksa dan menahan tersangka dan
6 orang saksi telah diperiksa dan meminta keterangan ahli.

4. Kasus PT. Kimia Farma


Dalam PT Kimia Farma merupakan salah satu dari produsen obatobatan milik pemerintah yang ada di Indonesia. Pada audit tanggal 31
Desember 2001, manajemen Kimia Farma melaporkan adanya laba bersih
yaitu sebesar Rp 132 milyar, dan laporan tersebut di audit oleh Hans
Tuanakotta & Mustofa(HTM).
Namun, Kementrian BUMN dan BAPEPAM menilai bahwa laba bersih
tersebut terlalu besar dan mengandung unsur rekayasa. Setelah dilakukan
audit ulang, pada 3 Oktober 2002 laporan keuangan Kimia Farma 2001
disajikan kembali dan hasilnya telah ditemukan kesalahan yang cukup
mendasar.

22

Pada laporan keuangan yang baru, keuntungan yang disajikan hanya


sebesar Rp 99,56 miliar, atau lebih rendah sebesar Rp 32,6 milyar, atau 24,7%
dari laba awal yang telah dilaporkan. Kesalahan itu timbul pada unit Industri
Bahan Baku yaitu kesalahan berupa overstated penjualan sebesar Rp 2,7
miliar, pada unit Logistik Sentral berupa overstated persediaan barang sebesar
Rp 23,9 miliar, pada unit Pedagang Besar Farmasi berupa overstated
persediaan sebesar Rp 8,1 miliar dan overstated penjualan sebesar Rp 10,7
miliar. Diduga upaya penggelembungan dana yang dilakukan oleh pihak direksi
Kimia Farma, dilakukan untuk menarik para investor untuk menanamkan
modalnya kepada PT. Kimia Farma.
Kesalahan penyajian yang berkaitan dengan persediaan timbul karena
nilai yang ada dalam daftar harga persediaan digelembungkan. PT Kimia
Farma, melalui direktur produksinya, menerbitkan dua buah daftar harga
persediaan pada tanggal 1 dan 3 Februari2002. Daftar harga per 3 Februari ini
telah digelembungkan nilainya dan dijadikan dasar penilaian persediaan pada
unit distribusi Kimia Farma per 31 Desember 2001.
Sedangkan kesalahan penyajian berkaitan dengan penjualan adalah
dengan dilakukannya pencatatan ganda atas penjualan. Pencatatan ganda
tersebut dilakukan pada unit-unit yang tidak disampling oleh akuntan, sehingga
tidak berhasil dideteksi. Berdasarkan penyelidikan Bapepam, disebutkan bahwa
KAP yang mengaudit laporan keuangan PT Kimia Farma telah mengikuti
standar audit yang berlaku, namun gagal mendeteksi kecurangan tersebut.
Selain itu, KAP tersebut juga tidak terbukti membantu manajemen melakukan
kecurangan tersebut.Sebagai akibat dari kejadiannya, ini maka PT Kimia Farma
dikenakan denda sebesar Rp 500 juta, direksi lama PT Kimia Farma terkena
denda Rp 1 miliar, serta partner HTM yang mengaudit Kimia Farma didenda
sebesar 100 juta rupiah. Kesalahan yang dilakukan oleh partner HTM tersebut
adalah bahwa ia tidak berhasil mengatasi risiko audit dalam mendeteksi adanya
penggelembungan laba yang dilakukan PT Kimia Farma, walaupun ia telah
menjalankan audit sesuai SPAP.

23

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN
Dalam Kecurangan Audit adalah upaya untuk mendeteksi dan mencegah
kecurangan dalam transaksi-transaksi komersial. Sebagaimana juga diakui oleh
IAI, kesengajaan sering sulit ditentukan, padahal faktor kesengajaan merupakan
kata kunci yang digunakan oleh IAI untuk menentukan apakah suatu kesalahan
dianggap sebagai kekeliruan (error) atau kecurangan.
Dua kategori utama kecurangan adalah kecurangan dalam laporan keuangan
dan penyalahgunaan aset.

Kecurangan dalam laporan keuangan merupakan

salah saji atau penghapusan terhadap jumlah atau pun pengungkapan yang sering
dilakukan dengan tujuan untuk mengelabui para pengguna. Penyalahgunaan aset
merupakan kecurangan yang melibatkan kecurian atau aset milik entita.Dalam
banyak kasus, namun tidak semuanya, jumlah minimal yang terlibat tidak material
terhadap laporan keuangan.
Terdapat tiga kondisi yang menyebabkan terjadinya kecurangan dalam laporan
keuangan dan penyalahguanaan aset sebagaimana dijelaskan dalam PSA 70 (SA
316)

1. insentif/Tekanan.Manajemen atau pegawai lainnya memiliki insentif atau


tekanan untuk melakukan kecurangan.

2. Kesempatan.Situasi yang memberikan kesempatan bagi manajemen atau


pegawai untuk melakukan kecurangan.

3. Sikap/Rasionalasi.adanya suatu sikap, karakter, atau seperangkat nilai-nilai


etika yang memungkan manajemen atau pegawai untuk melakukan tindakan
yang tidak jujur, atau mereka berada dalam suatu lingkungan yang memberikan
mereka

tekanan

yang

cukup

besar

sehingga

menyebabkan

mereka

membenarkan melakukan perilaku yang tidak jujur tersebut.


Menurut Statement on auditing Standars (SAS) No.1, tanggungjawab dari
auditor

independent

untuk

kegagalan

mendeteksi

kecurangan

(yang

tanggungjawabnya berbeda seperti klien dari pihak lain) timbul hanya apabila
24

kegagalan tersebut secara jelas berakibat dari ketidaktaatan terhadap standar


auditing yang berlaku. Karena litigasi yang meningkat terhadap akuntan dan
perhatian auditor eksternal bahwa mungkin terdapat pernyataan salah yang
material

sebagai

hasil

dari

kecurangan,

profesi

di

Amerika

Serikat

mengembangkan SAS 16. pernyataan ini menggantikan SAS No. 1 yang berkaitan
dengan tanggungjawab auditor terhadap kecurangan. SAS No.16menyatakan :
Sebagai konsekuensinya menurut standar auditing yang berlaku umum, auditor
independen mempunyai tanggungjawab dengan keterbatasan yang melekat pada
proses auditing, untuk merenjanakan pengujiannya untuk mencari kesalahan atau
ketidakberesan yang akan mempunyai pengaruh yang material atas laporan
keuangan, dan melakukan kemahiran profesionalnya secara cermat dan seksama
dalam melakukan pengujian.

25

DAFTAR PUSTAKA
Tuanakotta, Theodorus. M. 2010. Akuntansi Forensik & Audit Investigatif Edisi 2.
Jakarta : Salemba Empat
Karyono. 2013. Forensik FRAUD. Yogyakarta : ANDI
Setiawan,Dikky. 2009. Kementerian BUMN Akan Tindak Auditor Waskita Karya.
http://keuangan.kontan.co.id/news/kementerian-bumn-akan-tindak-auditor-waskitakarya-1. Tanggal : 17 Desember 2015
http://akmalhwk.blogspot.co.id/2014/12/contoh-kasus-kecurangan-audit-fraud.html

26