Anda di halaman 1dari 5

Tiga tipe gerakan tersebut diproses melalui domain perilaku dari setiap individu.

Proses tersebut berlangsung secara terstruktur dalam situasi permainan. Domain perilaku
tersebut adalah:

Domain kognitif : aspek perilaku yang berhubungan dengan tingkat pemahaman,

pengetahuan, dan intelektual abstrak.


Domain afektif : aspek perilaku yang berhubungan dengan rasa, ketertarikan,

tingkah laku, penghargaan, sensasi, dan hubungan yang dalam.


Domai motorik : aspek perilaku yang berhubungan dengan kesadaran kinestetik,
kemampuan gerak, dan pembentukan sensori motor.

Hal tersebut terproses dan muncul dalam bentuk aktivitas, yang mana tersusun secara
baik dan menghasilkan proses perilaku. Media atau peralatan sehari-hari berkontribusi dalam
pendidikan jasmani dimana hal tersebut merupakan kebutuhan aktif untuk praktik, tidak
hanya pemahaman secara pasif.
Hasil dari aktifitas tersebut berefek pada hasrat, kebutuhan, dan sifat dari tiap individu
dan kemampuannya untuk mengenali dan mengaktualisasikan potensinya. Hasil tersebut bisa
terlihat dari baiknya konotasi makrokosmik dari konsep yang dapat terklasifikasikan, seperti
yang dikatakan Jewell pada bukunya "Purpose-oriented concepts of movement", yakni:
1. Perkembangan individu melalui gerak (manusia sebagai pengendali dirinya)
-manusia mengembangkan gerakannya sendiri.
2. Adaptasi lingkungan dan kontrol melalui gerakan (manusia terhadap lingkungan
sekitar) -manusia beradaptasi terhadap lingkungannya melalui gerakan, manusia
mengontrol dan memodifikasi lingkungannya melalui gerakan.
3. Ekspresi dan komunikasi melalui gerakan (manusia dalam kehidupan sosial)
-manusia mengekspresikan dirinya melalui gerakan, berkomunikasi terhadap
gerakannya.
Hal ini sangat mungkin sekali untuk menggambarkan hubungan antara proses-mediahasil seperti contoh yang diberikan pada gambar 3. Urutan proses tersebut tersalur melalui
proses kesadaran, situasi dimana pergerakan manusia itu memiliki tujuanyang dihasilkan dari
setiap individu melalui aktivitas yang melibatkan pemahaman lebih dalam dan menjadi hasil
yang berorientasi pada tujuan yang bergabung sehingga menghasilkan sesuatu yang lebih
baik. Seperti hubungan antara proses-media-hasil mengklarifikasi bagaimana dan untuk apa
interaksi yang berhubungan dengan pendidikan jasmani.

Gambar 3.
Konsep teori dari pendidikan jasmani terletak pada hubungan terhadap fenomena
kedisiplinan gerakan manusia; ini dapat ditemukan susunannya dalam kedua hal baik dari
pengalaman hidup dan pengalaman di sekolah; cara kerja tersebut tersusun oleh proses gerak,
domain perilaku, aktivitas, dan proses pengenalan terhadap diri sendiri, kebutuhan, potensi,
dan keterbatasan dari setiap individu.
Gambar 4
PENGETAHUAN DALAM PENDIDIKAN JASMANI
Konsep teori membentuk kerangka pikir dimana perkembangan pengetahuan dapat
tersusun. Pengetahuan, dalam hal ini, didefinisikan sebagai hal umum yang digunakan untuk
menganalisis dan memvalidasi konsep-konsep yang telah ada. Sehingga demikian,
pengetahuan dapat menguraikan konsep, dimana konsep tersebut merupakan susunan dari
ilmu pengetahuan itu sendiri. Sehingga akan terjadi siklus hubungan antara konsep teori
dengan ilmu pengetahuan.
Para pendidik jasmani harus bisa mengenalkan dirinya terhadap pengetahuan tentang
gerak manusia dan konsep teori pendidikan jasmani. Hal tersebut berhubungan dengan
tingkat pemahaman dan bukti-bukti yang telah ada.
Ilmu pengetahuan secara mutlak merupakan disiplin ilmu dari gerak manusia, dimana
pengetahuan tersebut terbagi dalam banyak area. Ilmu pengetahuan ini terbagi sesuai
kandungannya masing-masing. Disiplin ilmu gerak manusia terdiri dari banyal hal,
diantaranya adalah:
1. Biomekanika gerak
2. Perkembangan pola gerak manusia
3. Fisiologi gerak
4. Belajar gerak
5. Komponen perilaku gerak manusia
6. Arti dari gerak manusia
7. Sejarah gerak manusia
8. Teori tentang arti gerak manusia
9. Aspek social budaya dari gerak manusia
10. Simbol-simbol dari gerak manusia (seni, olahraga, tari, dll)
Beberapa contoh hal diatas disusun berbasis fakta-fakta, yang telah disaring melalui
identifikasi gerak manusia. Oleh karena itu, perancang gerak, dokter kedokteran fisik, ekolog

manusia, pelatih, rekreator, terapis fisik, penari, pengarah atlet, dan pendidik jasmani harus
paham tentang konsep-konsep gerak diatas. Terlebih lagi dalam hal pendidikan, pengetahuan
terhadap gerak man usia harus dijelaskan terhadap seluruh murid untuk meningkatkan
pemahaman terhadap kemampuan mengenali potensi diri.
Pengetahuan tentang pendidikan jasmani berhubungan proses dan produk. Siswa yang
mempelajari pendidikan jasmani harus mengerti bagaimana proses gerak terjadi dan
bagaimana untuk menciptakan sebuah gerakan. Oleh sebab itu, pendidikan jasmani sangat
berhubungan dengan berbagai macam aktivitas, beberapa hal tersebut dapat ditemukan dalam
hal:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kemahiran kemampuan yang didapat melalui gerak yang teratur


Aktualisasi diri melalui gerakan yang umum, teratur, dan kreatif
Pola kreativitas dari setiap aktivitas individu
Menentukan regimen latihan
Membuat keputusan dalam pola gerakan
Pengalaman gerak yang memberikan interaksi terhadap strata sosial, kontrol
sosial, realisasi diri, pemahaman motivasi, proses social, interpretasi etik dan

moral, pembuatan keputusan


7. Kesempatan perilaku untuk komunikasi nonverbal
8. Pemanfaatan pemloncengajaran kognitif dengan perkembangan gerak
Proses area pengetahuan tersebut telah diklasifikasikan sesuai dengan pendukung
aktivitas dan proses yang terjadi. Oleh karena itu, panahan, bowling, sepak bola, hockey,
mekanisme tubuh, latihan beban, judo, basket, dan yang lainnya memiliki kandungan proses
pengetahuan dari pendidikan jasmani.
Hasil dari area pengetahuan tersebut digolongkan menjadi beberapa aktivitas. Hasil
dari pengetahuan di bidang pendidikan jasmani dibagi atas:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Pemanfaatan waktu luang


Kemampuan partisipasi dalam perlombaan olahraga
Pemahaman terhadap aturan, strategi, dan taktik
Kebugaran fisik
Perilaku yang diperlukan
Kepuasan batin yang didapat
Melakukjan pekerjaan secara maksimal dengan usaha yang minimal

Sangat perlu digaris bawahi bahwa hasil dari pendidikan jasmani sangat mendukung
tentang arti dari penilaian. Oleh karena demikian, hasil dari aktivitas fisik dapat dinilai dari
berbagai macam persepsi, bias dinilai sebagai hal yang sangat bermanfaat maupun dinilai
sebagai hal yang kurang baik. Pengetahuan terhadap pendidikan jasmani berfokus pada
proses daripada hasil yang mungkin saja loncengum tentu terjadi.

Sebagai tambahan pengetahuan terhadap gerak manusia, dan pengetahuan tentang


proses dan hasil terhadap pendidikan jasmani, harus ada pengetahuan tentang proses
pengajaran dan pemloncengajaran. Pengetahuan tersebut harus bias diterima oleh consumen
dari pendidikan jasmani (murid) dan sangat mutlak dipahami oleh penyedia pendidikan
jasmani (guru). Bagaimanapun proses loncengajar-mengajar ini dapat mendukung guru dalam
mengajarkan pendidikan jasmani yang lebih baik. Area dalam pengetahuan lonceng belajarmengajar pendidikan jasmani ini dapat ditemukan dalam :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Kinesiologi
Filosofi pendidikan jasmani
Metode pengajaran untuk skil motorik
Loncengajar gerak
Penyusunan kurikulum pendidikan jasmani
Evaluasi terhadap pendidikan jasmani
Proses administrasi terhadap pendidikan jasmani
Penyadur pendidikan jasmani
Praktik pengajaran pendidikan jasmani

Pengetahuan loncengajar-mengajar sangat berhubungan dengan konsep pendidikan


jasmani. Hal ini membiasakan para pengajar untuk terus mencari dan mengembangkan antara
teori dan pengetahuan. Seperti kesesuaian antara pemahaman fisik dengan pendidikan
jasmani, yang dapat tergambarkan melalui gambar 5.
Dalam lonceng pengetahuan tentang pendidikan jasmani, pengetahuan dalam gerak
manusia merupakan pegangan utnuk menggerakkan lonceng. Dimana badan dari lonceng
tersebut memiliki sisi dalam dan luar yang merupakan proses dan hasil pengetahuan tentang
pendidikan jasmani. Bandul lonceng, proses loncengajar-mengajar, memberikan peran
penting dalam membunyikan lonceng tersebut. Setiap bagian dari lonceng tersebut
merupakan bagian dari integritas intelektual yang membuat bel berbunyi dan menghasilkan
pengalaman yang baik.
Gambar 5
KONTEN

PEDAGOGI

OLAHRAGA

SEBAGAI

BAGIAN

TEORI

ILMU

KEOLAHRAGAAN
Perkembangan ilmu keolahragaan yang sangat cepat, dalam hal ini dibutuhkan
disiplin ilmu khusus yang membahas khusus tentang teori ilmiah yang berhubungan dengan
aspek ilmu keolahragaan, yakni pedagogi olahraga.
Untuk mengembangkan konsep pedagogi olahraga sebagai bagian dalam ilmu
keolahragaan maka sangat penting untuk memahami pedagogi olahraga yang merupakan

bagian teori dari pendidikan jasmani. Mester telah mendeskripsikan hubungan tersebut secara
jelas:
1. Pada tahun 1950an, muncul ide tentang pedagogi dalam pendidikan jasmani.
2. Pada tahun 1960an, terdapat perubahan bentuk dari aspek pendidikan jasmani
terhadap pedagogi olahraga yang berhubungan dengan masyarakat.
3. Pada tahun 1970an, awal mula ilmu keolahragaan muncul, dimana salah satu
bagiannya disebut pedagogi olahraga.
Dimensi dalam metodologi telah berkembang menjadi dimensi horizontal dengan
keilmuan, dimana ada persamaan perspektif dalam banyak disiplin ilmu pengetahuan yang
berhubungan dengan aplikasi langsung terhadap metode ilmiah yang dianggap sangat
penting.
DIMENSI PEDAGOGI OLAHRAGA MENURUT K. WIDMER (GAMBAR. 1)
Salah satu studi sistematik terbaru tentang pedagogi olahraga, dipublikasikan oleh K.
Widmer, Prolegamena zur teoretischen Begrundung der Sportpadagogik as Wissenschaft.
Empat tema utama yang dibahas adalah:
1.
2.
3.
4.

Penelitian tentang ilmu pedagogi olahraga.


Dasar dari pedagogi olahraga.
Masalah dalam pedagogi olahraga.
Teori dalam aplikasi praktis pedagogi olahraga.

Teori dasar pedagogi olahraga sebagai ilmu pengetahuan dan dimensi konten, yang
mana akan dijelaskan lebih terperinci. Widmer menggunakan objek formal untuk
mendeskripsikan pedagogi olahraga. Salah satu ucapannya,generasi muda, akan sangat
tertarik dan bias berpartisipasi dalam olahraga. Istilah pedagogi olahraga dibuat oleh
Widmer sebagai dasar dari objek formal seperti berikut:
Istilah pedagogi olahraga meliputi usaha pendidikan terhadap generasi muda, yang
mana sangat tertarik dan dapat berpartisipasi dalam olahraga. Ini termasuk teori dasar dalam
pemikiran pendidikan, sebagaimana perilaku pedagogi olahraga sangat berhubungan dengan
praktik dan teori : the anthropological question, the problems of aims and objectives, the
curriculum treads, and the educational efforts for socialization and individualization of the
young generation through sportive activity