Anda di halaman 1dari 5

NURUL FADHILA

LARASATI

A. Latar Belakang Konflik Taliban


Sebelum perang dingin usai, Pakistan satu-satunya negara di sub kawasan
Asia Tengah di pesisir Laut Kaspia yang mengakui pemerintahan Taliban di
Afghanistan, yang ditinggalkan oleh rezim pendudukan Uni Soviet. Bubarnya
Uni Soviet dan digantikan oleh Rusia, Afghanistan memang terpecah belah di
antara penguasa yang komunistis atheis dengan Taliban yang Islami. Osama
bin Laden jutawan Arab Saudi yang hengkang dan bersembunyi di Afghanistan
memang mendukung Taliban yang sempat dipuji oleh Washington (Presiden
Richard Nixon) karena memerangi Uni Soviet yang komunis-atheis. Akan
tetapi akhirnya perang saudara di Afghanistan antara faksi Taliban dengan faksi
pro demokrat-liberalisasi yang didukung Barat dengan pasukan NATO nya,
dimenangkan oleh Hamid Karzai boneka-epigon dari Presiden G.W. Bush.
Sementara bin Laden justru jadi uberan dari Washington karena memimpin

kelompok teroris Al Qaeda yang dituduh pula sebagai dalang serangan 11


September 2001 yang meledakkan gedung kembar Pusat Perdagangan Dunia
(WTC) di New York dan Departemen Pertahanan AS Pentagon di Washington.
Sementara itu Pakistan yang berseteru dengan India dalam memperebutkan
Kasmir, beradu konflik berdasarkan visi Barat , semua entitas Muslim adalah
teroris global yang harus dipunahkan. Akan tetapi India yang selama ini
memiliki hubungan dan kontak militer dengan AS dan Israel serta memperkaya
uranium untuk hulu ledak nuklir saat itu tidak didukung oleh Washington. AS
memang berhasil membuat penguasa Pakistan tidak mendukung Taliban lagi
bahkan turut membantu milternya untuk mencari bin Laden di Afghanistan.
Seperti dikutip oleh AFP dari Camp David, (7 Agustus 2007) Presiden
Afghanistan Hamid Karzai dan Presiden Bush sepakat bahwa Pakistan harus
membantu untuk menumpas kekerasan mematikan di dalam wilayah
Afghanistan, namun mereka berselisih tajam mengenai pengaruh regional Iran.
Satu hari setelah Karzai menyebut republik Islam itu sebagai penolong untuk
menumpas kelompok militan, Bush mengecam pemerintah di Teheran sebagai
kekuatan bukan untuk kebaikan dan berjanji melakukan upaya untuk
mengucilkan Iran terkait dengan program nuklirnya. Kami akan terus bekerja
untuk mengucilkan mereka karena mereka bukan kekuatan untuk kebaikan
sejauh yang kami ketahui, mereka adalah pengaruh yang membuat tidak stabil
di mana pun mereka berada, kata Bush pada jumpa pers dengan Karzai, yang
tidak berkomentar atas pernyataan pemimpin AS itu.
Sejak invasi AS ke Afghanistan dari tahun 2001 hingga sekarang,
pergerakan Taliban tidak hanya di Afghanistan tetapi juga di wilayah
perbatasan Pakistan. Bahkan tercatat terjadi peningkatan pesat intensitas
serangan Taliban baik di Afghanistan maupun Pakistan. Dan berhasil
menewaskan banyak korban sipil maupun militer. Selain itu juga konflik
Taliban disamping menibulkan korban jiwa, menyebabkan negara-negara
regionalnya ikut terlibat konflik ini, bahkan menimbulkan rasa saling curiga
antar negara-negara yang dalam notabene masih satu regional.
Akhir-akhir ini permasalahan Taliban memanas lagi, dengan adanya
penggempuran yang dilakukan oleh militer Pakistan pada kedudukan Taliban di
Peshawar, Pakistan daerah Lembah Swat yang disinyalir merupakan basis kuat
Taliban di Pakistan. Dan hasilnya pemerintah Pakistan mengklaim telah
berhasil merebut kota-kota yang dikuasai Taliban, dan berhasil ditekan ke luar
kota. Namun, seperti yang diberitakan media bahwa Taliban masih belum
menyerah dan terus melakukan perlawanan walaupun terkonsentrasi di luar

kota-kota tersebut. Kegagalan operasi-operasi militer baik dilakukan oleh


militer Afghanistan-NATO maupun militer Pakistan yang ditujukan untuk
memberantas Taliban maupun Al-Qaeda membuktikan bahwa diperlukannya
suatu penyelesaian sehingga konflik tersebut dapat diselesaikan dengan baik
dan efektif. Jadi bagaimanakah cara penyelesaian yang efektif untuk konflik
Taliban?

B. Solusi Penyelesaian Konflik Taliban


Seperti yang kita ketahui bersama konflik Taliban sesungguhnya telah
menjadi konflik internasional karena telah melibatkan berbagai negara sepetti
AS dan sekutu-sekutunya, Pakistan, bahkan Iran. Namun, masyarakat
internasional seakan-akan menutup mata akan terjadinya konflik ini. PBB yang
seharusnya merupakan penjaga perdamaian justru terlihat tak berdaya
menangani konflik yang telah berlarut-larut ini.
Perdamaian sesungguhnya dapat dicapai apabila negara-negara bersikap
berkepala dingin dengan melakukan cara diplomasi dengan melakukan
perundingan secara damai. Taliban sebenarnya selalu bersedia untuk
melakukan perundingan, akan tetapi tidak ditanggapi secara serius oleh negaranegara Barat. Negara-negara Barat selalu melakukan tindakan keras ofensif
dengan menggempur basis-basis Taliban tanpa rasa ampun melalui kekuatan
militer.
Selain itu pula PBB dan OKI yang merupakan wakil dari masyarakat
internasional diharapkan lebih meningkatkan perannya dengan melakukan
pendekatan-pendekatan dengan pihak-pihak yang berkonflik. PBB dan OKI
merupakan mediator potensial dalam mewujudkan perdamaian di kawasan Asia
Tengah dan sekitarnaya. PBB seharusnya mampu menggantikan pasukan ASNATO dengan mengirim pasukan peace keeping mission ke Afghanistan
maupun perbatasan Pakistan, selanjutnya dengan OKI sebagai mediator konflik
dengan menyelenggarakan berbagai bentuk perundingan dan melakukan
pendekatan kepada pihak-pihak yang berkonflik, dengan begitu nantinya
dengan berbagai tahap perundingan nantinya akan tercapai suatu kesepakatan
bersama yang tertuang dalam suatu perjanjian internasional dan ditaati maupun
dihormati oleh pihak-pihak yang berkonflik.

Prinsip transparansi antar negara-negara baik yang terlibat konflik maupun


negara yang satu regional merupakan hal terpenting dalam terselenggaranya
komunikasi politik antar negara. Sehingga nantinya pula tidak terjadi rasa
saling mencurigai sehingga jangan sampai menyebabkan perundingan berhenti
di tengah jalan, dan semakin mengendurkan harapan menuju perdamaian.
Disamping itu prinsip transparasi ada juga prinsip equality yang menempatkan
hak suara yang sama dalam meja perundingan sehingga antara pihak-pihak
yang bertikai tidak ada suatu intervensi apapun dalam keputusan yang
dihasilkan nanti.
Untuk itulah solusi konflik Taliban ini sesungguhnya dapat diselesaikan
dengan baik tanpa ada pertumpahan darah, jalan politik merupakan satusatunya jalan keluar yang dapat ditempuh masyarakat internasional dalam
menciptakan perdamaian dunia. Adakalanya kita tidak melihat suatu persoalan
dalam satu sisi saja namun sesungguhnya masih banyak sisi-sisi lain yang perlu
kita perhatikan sehingga tidak terjadi sesuatu hal justru menghancurkan kita
sendiri. Barat selama ini terlalu terburu-buru dalam menindak setiap persoalan
mengenai Islam. Barat selalu melakukan intervensi-intervensi dalam setiap
keputusan yang dihasilkan dari perundingan-perundingan yang berhubungan
dengan masalah Islam. Sekarang ini mata tertuju kepada Pakistan yang saat ini
tengah melakukan upaya-upaya dalam menyelesaikan konflik dengan Taliban.
Namun, usaha diplomasi Pakistan ditanggapi negatif dunia Barat, bahkan dunia
Barat telah bersiap mengambil alih kendali Pakistan untuk menghancurkan
Taliban. Jadi memang sulit memprediksikan konflik ini ke depan karena Barat
masih tetap berkepala batu dengan menggunakan cara militer menghadapi
Taliban. Dunia Islam pun juga hanya bisa melihat pertumpahan darah pada
saudara-saudaranya, tanpa melakukan perbuatan yang nyata dan intensif dalam
menyelesaikan masalah konflik yang berkepanjangan ini. Untuk itulah
bersama-sama marilah masyarakat internasional kita selesaikan setiap konflik
internasional dengan berkepala dingin sehingga pastinya hasilnya akan baik.
Sehingga tercapailah nantinya perdamaian dunia ini tanpa ada pertumpahan
darah yang terjadi.