Anda di halaman 1dari 22

KATA PENGANTAR

Syukur atas kehadirat Allah Subhana Wa Taala karena berkah limpahan


rahmat dan hidayah-Nya saya sebagai penulis dapat menyelesaiakan makalah
tugas mata pelajaran Fisika dengan judul Gejala-gejala pada Gelombang. Di
dalam makalah ini penulis sengaja membahas mengenai gejala-gejala gelombang,
perumusan gejala-gejala gelombang, serta penerapannya dalam kehidupan seharihari.
Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada guru pembimbing mata
pelajaran Fisika yang mengarahkan penulis dalam mengerjakan makalah ini.
Akhirnya saya selaku pemakalah berharap makalah ini bermanfaat bagi
pemakalah secara khususnya, dan bagi pembaca pada umumnya. Kritik dan saran
dari rekan-rekan siswa sangat diharapakan demi penyempurnaan makalah
selanjutnya. Terima kasih.

Makassar, 22 Agustus 2015

Penulis

DAFTAR ISI

Judul
Halaman
Kata Pengantar .................................................................................................................
i
Daftar Isi ..........................................................................................................................
ii

BAB I

PENDAHULUAN
A Latar Belakang ...........................................................................................
..................................................................................................................
B Rumusan Masalah ......................................................................................
..................................................................................................................
C Manfaat Penulisan......................................................................................
..................................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN
A Dispersi Gelombang ..................................................................................
..................................................................................................................
B Pemantulan Gelombang..............................................................................
..................................................................................................................
....................................................................................................................
C Pembiasan Gelombang ..............................................................................
..................................................................................................................
D Difraksi Gelombang ..................................................................................
................................................................................................................
E Interfensi Gelombang ................................................................................
................................................................................................................

F Polarisasi Gelombang ................................................................................


................................................................................................................
BAB III PENUTUP
A Kesimpulan ................................................................................................
................................................................................................................
B Saran ..........................................................................................................
................................................................................................................

Daftar Pustaka

...........................................................

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada zaman yang serba modern ini teknologi menjadi hal penting. Teknologi
dapat memudahkan pekerjaan dan memperpendek jarak yang sebenarnya ribuan
mil, misalnya dengan menggunakan telepon. Salah satu hal penting yang
mendukung keberadaan teknologi adalah sarana, misalnya energi atau gelombang
sebagai media.
Gelombang adalah getaran yang merambat, baik melalui medium ataupun
tidak melalui medium. Berdasarkan medium perambatannya, gelombang dibagi
menjadi dua yaitu gelombang mekanik dan gelombang elektromagnetik.
Berdasarkan arah getar dan arah rambatnya, gelombang dibagi menjadi dua yaitu
gelombang transversal dan gelombang longitudinal. Berdasarkan amplitudonya
(simpangan terjauh) gelombang juga dibagi menjadi dua yaitu gelombang berjalan
dan gelombang diam. Pada gelombang terdapat Muka Gelombang yang berarti
sebuah garis atau permukaan pada suatu lintasan gelombang yang sedang
merambat, dimana semua partikel pada garis atau permukaan tersebut memiliki
fase gelombang yang sama.
Gelombang dapat mengalami dispersi, pemantulan (refleksi), pembiasan
(refraksi), hambur (difraksi), interferensi, polarisasi dan efek Doppler. Ketujuh
gejala gelombang tersebut dapat dipelajari dari tangki riak. Tangki riak digunakan
untuk menghasilkan muka gelombang lurus maupun muka gelombang lingkaran.
Gejala-gejala pada gelombang inilah yang akan dibahas dalam makalah ini.

B. Rumusan Masalah

1. Apa sajakah yang termasuk dalam gejala-gejala gelombang?


2. Apa sajakah contoh dalam kehidupan sehari-hari dari gejala-gejala
gelombang tersebut?
3. Bagaimanakah perumusan pada gejala-gejala gelombang tersebut?
C. Manfaat Penulisan
Untuk memberikan wawasan, pengetahuan dan pembelajaran mengenai
gejala-gejala yang terdapat pada gelombang serta penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari.

BAB II

PEMBAHASAN

Ada beberapa gejala gelombang yang berlaku umum, baik untuk gelombang
mekanik maupun gelombang elektromagnetik. Gejala-gejala gelombang tersebut
adalah: dispersi, pemantulan, pembiasan, difraksi, interferensi, polarisasi, dan efek
Doppler.

A. Dispersi Gelombang

Ketika Anda menyentakkan ujung tali naik-turun (setengah getaran), sebuah


pulsa transversal merambat melalui tali (tali sebagai medium). Sesungguhnya
bentuk pulsa berubah ketika pulsa merambat sepanjang tali, pulsa tersebar atau
mengalami dispersi (perhatikan Gambar 1.1). Jadi, dispersi gelombang adalah
perubahan bentuk gelombang ketika gelombang merambat suatu medium.

Gambar 1.1 Dalam suatu medium dispersi, bentuk gelombang berubah begitu
gelombang merambat
Medium nyata yang gelombangnya merambat dapat disebut sebagai medium
nondispersi. Dalam medium nondispersi,gelombang mempertahankan bentuknya.

Gambar 1.2 Dispersi

Dispersi adalah peristiwa penguraian cahaya polikromarik (putih) menjadi


cahaya-cahaya monokromatik (me, ji, ku, hi, bi, ni, u) pada prisma lewat
pembiasan atau pembelokan. Hal itu membuktikan bahwa cahaya putih terdiri atas
harmonisasi berbagai cahaya warna dengan panjang gelombang yang berbedabeda.
Pelangi adalah spektrum cahaya matahari yang diuraikan oleh butir-butir
air. Pelangi hanya dapat terlihat jika kita membelakangi matahari dan hujan terjadi
di depan kita.Jika seberkas sinar matahari mengenai butir-butir air yang
besar,maka sinar itu akan dibiaskan oleh bagian depan permukaan air. Sinar akan
memasuki butir air. Sebagian kecil sinar akan dipantulkan oleh bagian belakang
butir air. Selanjutnya sinar pantul ini mengenai permukaan depan dan di biaskan
oleh permukaan depan. Karena sinar pantul ini dibiaskan, maka sinar ini pun
diuraikan atas spektrum-spektrum matahari. Ketika cahaya merambat dalam suatu
medium, maka kecepatan rambat gelombang umumnya bergantung pada
frekuensinya.
Cahaya warna ungu merambat lebih lambat daripada cahaya warna merah.
Jika cahaya putih jatuh pada bidang batas-batas medium dengan sudut
tertentu,maka gelombang yang masuk ke medium kedua mengalami pembiasan.
Besarnya sudut bias bergantung pada kecepatan rambat cahaya dalam medium
tersebut. Karena gelombang dengan frekuensi berbeda mempunyai v (kecepatan)

yang berbeda, maka gelombang dengan frekuensi berbeda akan memiliki sudut
bias yang berbeda pula. Akibatnya,dalam medium kedua, berkas dengan frekuensi
yang berbeda bergerak dalam arah yang berbeda. Peristiwa tersebut dapat
dikatakan sebagai penguraian cahaya putih dari spektrum-spektrum yang memiliki
frekuensi yang berbeda atau disebut dispersi. Peristiwa dispersi ini terjadi karena
perbedaan indeks bias tiap warna cahaya. Cahaya berwarna merah mengalami
deviasi terkecil sedangkan warna ungu mengalami deviasi terbesar.
Setiap warna mengalami pembiasan yang berbeda. Setiap warna
mengalami deviasi dari arah semula. Sudut yang dibentuk oleh sinar yang keluar
dengan sinar datang dinamakan sudut devisiasi.

Selisih sudut devisiasi ungu dengan sudut devisiasi merah dinamakan


sudut disperse. Untuk kondisi dimana terjadi devisiasi minimum (D) dan sudut
pembias kecil, maka berlaku hubungan sebagai berikut:
Sudut dispersi untuk kondisi ini adalah :

B. Pemantulan Gelombang
5

Pemantulan gelombang, adalah pembelokan arah rambat gelombang karena


mengenai bisang batas medium yang berbeda. Gelombang pantul memiliki arah
yang berlawanan dengan gelombang datang namun mesih berada pada medium
yang sama. Dalam bagian ini, kita akan mempelajari pemantulan dari dua
dimensi, yaitu gelombang permukaan air.
Bentuk gelombang yang dihasilkan oleh permukaan air akan berupa
lingkaran-lingkaran. Mulai dari lingkaran kecil, kemudian lingkaran kecil tersebut
merambat menjauhi titik pusat llingkarannya membentuk lingkaran-lingkaran
yang lebih besar. Pada peristiwa pemantulan gelombang dikenal istilah muka
gelombang dan sinar gelombang. Muka gelombang didefinisikan sebagai
kedudukan titik-titik yang memiliki fase yang sama pada suatu gelombang. Jika
pusat getaran gelombang itu merupakan sebuah titik, muka gelombangnya akan
berupa lingkaran-lingkaran. Jika sumber getarannya berupa garis lurus, getarangetaran yang dihasilkan akan merambat dengan bentuk muka gelombang lurus.
Jarak antara dua muka gelombang yang berdekatan sama dengan satu panjang
gelombang () dan waktu yang dibutuhkan untuk menempuh satu panjang
gelombang disebut satu periode (T). Sedangkan sinar gelombang merupakan arah
rambatan gelambang dan arahnya selalu tegak lurus muka gelombang.

(a) Muka gelombang lurus dihasilkan

(b) Muka gelombang lurus dihasilkan

oleh getaran pembakit keeping.

oleh getaran pembangkit bola.

(c)
(d) Gambar 1.3 Muka gelombang lingkaran dan sinar gelombang.
a. Pemantulan Gelombang Permukaan Air
(e) Gelombang permukaan air dapat berupa gelombang lurus atau
gelombang lingkaran.
(1) Pemantulan gelombang lurus oleh bidang datar
(f) Apa yang terjadi jika dalam tangki riak dipasang sebuah bidang
datar dari logam sehingga merintangi sinar-sinar gelombang dengan muka
gelomang lurus? Pada pemantulan ini diperoleh gelombang lingkaran yang
pusatnya adalah sumber gelombang S. Gelombang pantul yang dihasilkan
oleh bidang lurus juga berupa gelombang lingkaran S sebagai pusat
lingkaran. Jarak S ke bidang pantul sama dengan jarak s ke bidang pantul.
Menurut Hukum Snellius, gelombang datang, gelombang pantul, dan garis
normal berada pada satu bidang dan sudut dating akan sama dengan sudut
pantul, seperti tampak pada gambar berikut :
(g)

(h)

(2)

(i) Gambar 1.4 Hukum Pemantulan


(j)
Pemantulan gelombang lingkaran oleh bidang datar
(k) Bagaimanakah jika yang mengenai bidang datar adalah muka

gelombang lingkaran? Gambar 1.5 menunjukkan pemantulan gelombang


lingkaran sewaktu mengenai batang datar yang merintanginya. Gambar 1.8
adalah adalah analisis dari Gambar 1.7. Sumber gelombang datang adalah
titik O. Dengan menggunakan hukum pemantulan, yaitu sudut datang =
sudut pantul, kita peroleh bayangan O adalah I. Titik I merupakan sumber

gelombang pantul sehingga muka gelombang pantul adalah lingkaranlingkaran yang berpusat di I, seperti ditunjukkan pada gambar 1.6.

(l)
(m)
Gambar 1.5 Pemantulan gelombang
Lingkaran oleh bidang datar.

(n) Gambar 1.6 Bayangan sumber


gelombang datang O adalah I (sumber
gelombang pantul).

(o)
C. Pembiasan Gelombang
(p) Pada umumnya cepat rambat gelombang dalam satu medium tetap.
Oleh karena frekuensi gelombang selalu tetap, maka panjang gelombang

v
f ), juga tetap untuk gelombang yang menjalar dalam satu medium.

Apabila gelombang menjalar pada dua medium yang jenisnya berbeda,


misalnya gelombang cahaya dapat merambat dari udara ke air. Di sini,
cepat rambat cahaya berbeda. Cepat rambat cahaya di udara lebih besar

daripada cepat rambat cahaya di dalam air. Oleh karena (

v
f ), maka

panjang gelombang cahaya di udara juga lebih besar daripada panjang

gelombang cahaya di dalam air. Perhatikan sebanding dengan v. Makin


besar nilai v, maka makin besar nilai , demikian juga sebaliknya.
(q) Perubahan panjang gelombang dapat juga diamati di dalam tangki
riak dengan cara memasang keping gelas tebal pada dasar tangki sehingga
tangki riak memiliki dua kedalaman air yang berbeda, dalam dan dangkal,
seperti ditunjukkan pada Gambar 1.7. Pada gambar tampak bahwa panjang
gelombang di tempat yang dalam lebih besar daripada panjang gelombang
di tempat yang dangkal (1 > 2). Oleh karena v=f, maka cepat rambat
gelombang di tempat yang dalam lebih besar daripada di tempat yang
dangkal (v1 > v2).
(r)

(s) Gambar 1.7 Muka gelombang lurus lewat dari air dalam ke air dangkal.
Panjang gelombang di tempat yang dalam lebih besar daripada panjang
gelombang di tempat yang dangkal (1 >2)
(t) Perubahan panjang gelombang menyebabkan

pembelokan

gelombang seperti diperlihatkan pada foto pembiasan gelombang lurus


sewaktu gelombang lurus mengenai bidang batas antara tempat yang
dalam ke tempat yang dangkal dalam suatu tangki riak Pembelokan
gelombang dinamakan pembiasan.
(u) Diagram pembiasan ditunjukkan pada Gambar 1.8. Mula-mula,
muka gelombang datang dan muka gelombang bias dilukis sesuai dengan
foto. Kemudian sinar datang dan sinar bias dilukis sebagai garis yang
tegaklurus muka gelombang datang dan bias.

(v)
Gambar 1.8 Diagram pembiasan.
(w) Selanjutnya, garis normal dilukis. Sudut antara sinar bias dan garis
normal disebut sudut bias (diberi lambang r). Pada Gambar 1.10 tampak
bahwa sudut bias di tempat yang dangkal lebih kecil daripada sudut datang
di tempat yang dalam (r < i). Dapat disimpulkan bahwa sinar datang dari
tempat yang dalam ke tempat yang dangkal sinar dibiaskan mendekati
garis normal (r < i). Sebaliknya, sinar datang dari tempat yang dangkal ke
tempat yang dalam dibiaskan menjauhi garis normal (r>i).
(x) Penurunan Persamaan umum pembiasan gelombang
(y) Untuk keperluan penurunan rumus, kita buat diagram skematik
pembiasan seperti pada Gambar 1.11.

(z)
Gambar 1.9 Diagram skematik pembiasan. Medium 1 adalah

(aa)
(ab)

tempat
yang dalam dan medium 2 adalah tempat yang dangkal.

(ac)
(ad)

AP adalah suatu muka gelombang dalam medium 1 yang

memotong bidang batas di titik A. Dalam waktu t gelombang dari P


menempuh jarak v1t dan tiba di titik B pada bidang batas yang

memisahkan kedua medium dengan sudut datang i. Pada waktu t yang


sama, gelombang dari titik A menempuh jarak v2t masuk ke dalam
medium 2 dan tiba di titik B. Muka gelombang baru BB tidak sejajar
dengan muka gelombang AP semula sebab cepat rambat v1 dan v2 berbeda
(ae)

(v2 < v1).


Perhatikan ABP

(af)sin1=
(ag)

sin1=

(ah)
AB =
(ai) 1 = i, sehingga ;
(aj) AB =
....................(i)
(ak) Dengan cara yang sama, untuk DABB:
(al) sin2=
(am)

sin2=

(an)
(ao)

AB =
2 = r, sehingga ;

(ap)
AB =
....................(ii)
(aq)
(ar)Dengan menyamakan ruas kanan persamaan (i) dan (ii) diperoleh:
(as)

(at)
(au) Jadi, persamaan umum yang berlaku untuk pembiasan gelombang adalah :
(av)
= n.. (1-1)
(aw) dengan i = sudut dating, r = sudut bias, v1 = cepat rambat gelombang
dalam medium 1, v2 = cepat rambat gelombang dalam medium 2, n = indeks
bias medium 2 relatif terhadap medium 1.
(ax)

(ay)

Perhatikan persaman (1-1). Jika sinar datang dari tempat yang dalam ke

tempat yang dalam ke tempat yang dalam ke tempat yang dangkal, maka :
(az) v1= v2
(ba)
>1
(bb) sin i > sin r atau sin r < sin i
(bc) Sudut bias < sudut datang, dan hasil ini sesuai dengan Gambar 1.9.
(bd) Jika indeks bias medium 2 adalah n2 dan indeks bias medium 1 adalah n1,
maka n pada dapat ditulis n= . Selanjutnya, ambil sudut datang i = 1 dan
sudut bias r =2, maka persamaan 1.1, dapat ditulis :
(be)
atau n1 sin1 = n2 sin2
(bf)
(bg)

D. Difraksi Gelombang
(bh)

Di dalam suatu medium yang sama, gelombang merambat

lurus. Oleh karena itu, gelombang lurus akan merambat ke seluruh


medium dalam bentuk gelombang lurus juga. Hal ini tidak berlaku bila
pada medium diberi penghalang atau rintangan berupa celah. Untuk
ukuran celah yang tepat, gelombang yang datang dapat melentur setelah
melalui celah tersebut. Lenturan gelombang yang disebabkan oleh adanya
penghalang berupa celah dinamakan difraksi gelombang.
(bi)Jika penghalang celah yang diberikan oleh lebar, maka difraksi
tidak begitu jelas terlihat. Muka gelombang yang melalui celah hanya
melentur di bagian tepi celah, seperti ditunjukkan pada gambar 1.10. Jika
penghalang celah sempit, yaitu berukuran dekat dengan orde panjang
gelombang, maka difraksi gelombang sangat jelas. Celah bertindak
sebagai sumber gelombang berupa titik, dan muka gelombang yang
melalui celah dipancarkan berbentuk lingkaran-lingkaran dengan celah
tersebut sebagai pusatnya seperti ditunjukkan pada gambar 1.11.

(bj)

(bk)
(bl)
(bm)
celah

Gambar
lebar,

1.10

hanya

Pada

(bn)

muka

sempit, difraksi gelombang tampak

gelombang pada tepi celah saja

Gambar 1.11 Pada celah

jelas.

melengkung.

(bo)
(bp)
(bq)
E. Interfensi Gelombang
(br)

Jika pada suatu tempat bertemu dua buah gelombang, maka

resultan gelombang di tempat tersebut sama dengan jumlah dari kedua


gelombang tersebut. Peristwa ini di sebut sebagai prinsip superposisi
linear. Gelombang-gelombang yang terpadu akan mempengaruhi medium.
Nah, pengaruh yang ditimbulkan oleh gelombang-gelombang yang terpadu
tersebut disebutinterferensi gelombang.
(bs)
Ketika mempelajari gelombang stasioner yang dihasilkan
oleh superposisi antara gelombang datang dan gelombang pantul oleh
ujung bebas atau ujung tetap, Anda dapatkan bahwa pada titik-titik
tertentu, disebut perut, kedua gelombang saling memperkuat (interferensi
konstruktif), dan dihasilkan amplitudo paling besar, yaitu dua kali
amplitudo semuala. Sedangkan pada titik-titik tertentu, disebut simpul,
kedua gelombang saling memperlemah atau meniadakan (interferensi
destruktif), dan dihasilkan amplitudo nol.

(bt)Dengan

menggunakan

konsep

fase,

dapat

kita

katakan

bahwa interferensi konstruktif (saling menguatkan) terjadi bila kedua


gelombang yang berpadu memiliki fase yang sama. Amplitudo gelombang
paduan sama dengan dua kali amplitudo tiap gelombang. Interferensi
destruktif (saling meniadakan) terjadi bila kedua gelombang yang
berpadu berlawanan fase. Amplitudo gelombang paduan sama dengan nol.
Interferensi

konstruktif

dan

destruktif

mudah

dipahami

dengan

menggunakan ilustrasi pada Gambar 1.12.

(bu)
(bw)

(bv) Gambar 1.12 Interferensi Konstruktif


Letak titik- titik interferensi konstruktif dan destruktif

mudah ditemukan berdasarkan selisih jarak sumber S1 ke titik yang


ditinjau dengan jarak sumber S2 ke titik yang sama. selisih ini dinamakan
beda lintasan. Yang secara matematis: =r 1r 2 .
(bx)

Pada titik P, dimana puncak gelombang bertemu dengan

puncak gelombang, gelombang dari S2 telah menempuh jarak yang lebih


jauh dari titik S1 sebesar

. Dengan demikian,

= , dan

gelombang- gelombang di titik P ini sefase. Selisih lintasan yang sama


juga terjadi di titik P dan P. Pada titik-titik semacam ini terjadi
interferensi konstruktif, yang secara umum :
(by)

=m ; m=0, 1, 2,
(bz)

Pada titik Q, dimana puncak gelombang bertemu dengan

lembah gelombang, salah satu gelombang telah menempuh jarak yang

lebih jauh sebesar

2 , dan gelombang dititik Q ini berlawanan fase.

Beda linttasan yang sama juga terjadi di titik Q dan Q. Pada titik-titik

(ca)

semacam ini terjadi interferensi destruktif, yang secara umum :


1
= m+ ; m=0, 1, 2,
2

( )

(cb)

Contoh interferensi dapat diamati pada dua buah sumber

bunyi, misalkan dua buah speaker yang menghasilkan bunyi yang sama.
pola interferensi untuk frekuensi rendah dapat dengan mudah dideteksi
oleh telinga manusia. Ketika seseorang berjalan sejajar dengan garis yang
menghubungkan kedua speaker, suara akan terdengal muncultenggelam
berulang-ulang disepanjang garis itu.
(cc)
(cd)
(ce)

F. Polarisasi Gelombang
(cf)Pemantulan, pembiasan, difraksi, dan interferensi dapat terjadi
pada gelombang tali (satu dimensi), gelombang permukaan air (dua
dimensi), gelombang bunyi dan gelombang cahaya (tiga dimensi).
Gelombang tali, gelombang permukaan air, dan gelombang cahaya adalah
gelombang transversal, sedangkan gelombang bunyi adalah gelombang
longitudinal. Nah, ada satu sifat gelombang yang hanya dapat terjadi pada
gelombang

transversal,

yaitu polarisasi.

Jadi,

polarisasi

gelombang tidak dapat terjadi pada gelombang longitudinal, misalnya


pada gelombang bunyi.
(cg)
Fenomena polarisasi cahaya ditemukan oleh Erasmus
Bhartolinus pada tahun 1969. Dalam fenomena polarisasi cahaya, cahaya
alami yang getarannya ke segala arah tetapi tegak lurus terhadap arah
merambatnya (gelombang transversal) ketika melewati filter polarisasi,
getaran horizontal diserap sedang getaran vertikal diserap sebagian (lihat
Gambar 1.13). Cahaya alami yang getarannya ke segala arah di
sebut cahaya tak terpolarisasi, sedang cahaya yang melewati polaroid

hanya memiliki getaran pada satu arah saja, yaitu arah vertikal,
disebut cahaya terpolarisasi linear.

(ch)
(ci) Gambar 1.13 Polarisasi cahaya pada polaroid
(cj) Mengapa polarisasi hanya terjadi pada gelombang transversal?
(ck)
Ide polarisasi gelombang dengan mudah dapat kita pahami
dengan memperhatikan secara seksama suatu gelombang transversal pada
tali ketika melewati sebuah celah. Dari penjelasan sebelumnya dapat kita
nyatakan bahwa suatu gelombang terpolarisasi linear bila getaran dari
gelombang tersebut selalu terjadi dalam satu arah saja. Arah ini
disebut arah polarisasi. Untuk mengamati polarisasi ini, marilah kita ikat
seutas tali pada titik O di dinding, kemudian masukkan ujung tali lain,
yaitu ujung A ke sebuah celah, seperti pada gambar 1.26. Pasang celah
dalam posisi vertikal, kemudian getarkan ujung tali di A sehingga
gelombang transversal yang merambat dari A dapat menembus celah, dan
sampai di titik O. Ubahlah posisi celah menjadi horisontal, kemudian
getarkan kembali ujung tali A secara vertikal. Hasil pengamatan
menunjukkan bahwa gelombang vertikal tidak dapat menembus celah
(tampak tidak ada gelombang diantara celah dan titik O). Jika kemudian
tali di titik A digetarkan berputar, artinya digetarkan ke segala arah dan
celah dipasang vertikal, apa yang terjadi? Ternyata, gelombang dapat
menembus celah dengan arah getaran gelombang yang sama dengan arah
posisi celah, yaitu arah vertikal. Apa yang dapat Anda pahami dari
peristiwa tersebut?

(cl)
(cn)

(cm)
Gambar 1.14 Polarisasi Gelombang
Peristiwa tersebut menunjukkan terjadinya polarisasi pada

gelombang tali yang melewati sebuah celah sempit, dengan arah polarisasi
gelombang sesuai arah celahnya. Polarisasi dapat diartikan sebagai
penyearah gerak getaran gelombang. Jika gelombang bergetar ke segala
arah, seperti pada gambar 1.14 setelah melewati sebuah celah, arah getaran
gelombang menjadi satu arah getar saja, yang disebut dengan gelombang
terpolarisasi linear.
(co)
Jadi, hanya gelombang-gelombang yang memiliki arah
getaran tegaklurus dengan arah rambatannya saja yang disebut sebagai
gelombang transversal, yang dapat mengalami polarisasi. Oleh karena
cahaya atau gelombang elektromagnet termasuk gelombang transversal,
cahaya dapat mengalami polarisasi.
(cp)

Beberapa aplikasi yang memanfaatkan gejala polarisasi

gelombang antara lain:


1. Kacamata Polaroid
(cq) Berfungsi untuk mengurangi silau dengan cara menyeleksi salah
satu arah polarisasi gelombang cahaya saja, sehingga cahaya tak
terpolarisasi lainnya yang mencapai mata menjadi berkurang.
2. Tekanan pada Bahan-Bahan (material)
(cr) Untuk melihat tekanan pada bahan bahan, ahli teknik biadanya
membuat sebuah model dari plastik transparan. Jika model ini dilihat
melalui polaroid, area konsentrasi tekanan akan terlihat simana pita-pita
berwarna saling berdekatan satu sama lain.
3. LCD (Liquid-Crystal Display)
(cs) Beberapa tampilan layar labtop biasanya terpolarisasi. Hal inin
dapat diperiksa dengan meletakan selembar polaroid diatas tampilan,

lalu putarlah polaroid tersebut. Haltersebut akan membuktikan bahwa


tidak ada cahaya yang diteruskan ke mata.
4. Efek Doppler
(ct) Jika suatu gelombang dan penerima bergerak relatif satu sama lain,
frekuensi yang terdeteksi oleh penerima tidak sama dengan frekuensi
sumber. Ketika keduanya bergerak saling mendekati, frekuensi yang
terdeteksi lebih besar daripada frekuensi sumber. Ini disebut Efek
Doppler.
(cu)

(cv)
(cw)
(cx) BAB III
(cy) PENUTUP
(cz)
A. Kesimpulan
(da)

Dari

penjelasan

diatas,

dapat

disimpulkan bahwa

gelombang merupakan gelombang adalah getaran yang merambat, baik


melalui medium ataupun tidak melalui medium. Ada beberapa gejala
gelombang yang berlaku umum, yaitu disperse, pemantulan, pembiasan,
difraksi, interferensi, polarisasi, dan efek Doppler.
B. Saran
(db)

Diharapkan agar para siswi SMA IT Wahdah Islamiyah

lebih memahami pengertian gelombang, pengelompokan gelombang dan


gejala-gejala pada gelombang. Dengan makalah

ini diharapkan siswa

dapat belajar secara mandiri konsep gelombang dengan atau tanpa


bimbingan guru.

(dc)
(dd)
(de)
(df)
(dg)
(dh)
(di)
(dj)

(dk)
(dl)
(dm)
(dn)
(do) DAFTAR PUSTAKA
(dp)

Ervinda,

Agnes.

2014.

Sifat-sifat

Gelombang.

http://www.slideshare.net.
(dq)
Diakses tanggal 22 Agustus 2015.
(dr)
Fisikon.
. Sifat-sifat Gelombang. http://fisikon.com/. Diakses
tanggal 22
(ds)
Agustus 2015.
(dt)
Kanginan, Marthen. 2006. Fisika untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Penerbit
(du)
Erlangga.
(dv)
Ritonga, Annikmah. 2013. Makalah Fisika Gelombang.
(dw)
http://annikmah-nindy.blogspot.com. Diakses tanggal 22
Agustus 2015.
(dx)
(dy)
(dz)

(ea)
(eb)
(ec)