Anda di halaman 1dari 17

BAB II

ISI
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Sifat Beban Listrik
Dalam suatu rangkaian listrik selalu dijumpai suatu sumber dan beban.
Bila sumber listrik DC, maka sifat beban hanya bersifat resistif murni, karena
frekuensi sumber DC adalah nol. Reaktansi induktif (XL) akan menjadi nol yang
berarti bahwa induktor tersebut akan short circuit. Reaktansi kapasitif (XC) akan
menjadi tak berhingga yang berarti bahwa kapasitif tersebut akan open circuit.
Jadi sumber DC akan mengakibatkan beban beban induktif dan beban kapasitif
tidak akan berpengaruh pada rangkaian. (Suhendi dan Widjaksono, TT : 2)
Bila sumber listrik AC maka beban yang bersifat induktif atau kapasitif
dapat menggeser titik persilangan nol antara tegangan dan arus. Bila bebannya
merupakan beban induktif persilangan nol gelombang arus muncul beberapa saat
setelah persilangan nol gelombang tegangan muncul. Sebaliknya untuk arus beban
yang bersifat kapasitif, persilangan nol gelombang arus akan muncul beberapa
saat sebelum persilangan nol gelombang tegangan (Sebayang dan Hasibuan,
2013 : 78). Sehingga beban pada listrik bolak balik (AC) dibedakan menjadi 3,
yaitu beban resitif, beban induktif, dan beban kapasitif.
2.1.1.1 Beban Resistif
Beban resitif murni adalah beban yang tidak mempunyai perbedaan phasa
antara arus dan tegangan atau dengan kata lain mempunyai cos = 1. Beban ini
hanya menyerap daya aktif dan tidak menyerap daya reaktif sama sekali. Beban
resitif murni biasa terdapat pada pemanas listrik ataupun pada lampu pijar (Wijaya
dan Sutopo, TT : 128).
Arus bolak-balik yang mengalir melalui tahanan murni (R), berlaku juga
rumus hukum Ohm seperti pada arus searah. Jika digunakan harga-harga sesaat,
maka besarnya arus yang mengalir melalui tahanan R adalah
i = u/R

(2.1)

Besarnya tegangan sesaat (u) untuk gelombang sinus adalah


u = Um sin t

(2.2)

Dengan pengertian :
u

: tegangan sesaat dalam satuan Volt

: arus sesaat dalam satuan Ampere

: tahanan dalam satuan Ohm

Um : tegangan maksimum dalam satuan Volt


Jika persamaan (2.2) dimasukan dalam persamaan (2.1), maka didapatkan
i = (Um sin t)/R
Arus akan maksimum, jika sin t = 1, maka Im = Um/R. Sehingga besar
arus sesaatnya menjadi :
i = Im sin t

(2.3)

Jika diperhatikan persamaan (2.2) dan persamaan (2.3), maka dapat


dikatakan bahwa tegangan dan arus sefase. Bila perbedaan fase dinyatakan dengan
, maka = 0.

Gambar 2.1 Tahanan Murni (R) Dilalui Arus Bolak Balik


(Sumber : Buku Rangkaian Listrik, TT : 51)
(a) Skema Rangkaian
(b) Bentuk Gelombang Tegangan dan Arus
(c) Diagram Pasor Tegangan dan Arus
Apabila persamaan Im = Um/R dinyatakan dalam harga efektif, maka I =
Im /

2 dan U = Um/ 2 , sehingga didapatkan


I = U/R

(2.4)

Karena tegangan dan arus sefase, maka impedansinya adalah sama dengan
tahanan itu sendiri dengan sudut fase 0o.
Z = R < 0o

Z = R + j0

(2.5)

2.1.1.2 Beban Induktif


Beban resitif induktif pada sistem tenaga listrik biasanya terdiri dari
motor-motor

listrik,

pemanas

listrik

jenis

induksi

(induction

heating),

transformator dan beban-beban lainnya yang umumnya berupa kumparan yang


menghasilkan reaktansi induktif. Beban induktif mempunyai cos lagging yaitu
arus tertinggal daripada tegangan (Wijaya dan Sutopo, TT : 128).
Arus bolak-balik yang mengalir melalui inductor murni (L), berlaku suatu
persamaan hubungan antara tegangan dan arus arus sesaat sebagai berikut
u = L . di/dt

(2.6)

Dengan pengertian :
u

: tegangan sesaat, dalam satuan Volt

L : induktansi dalam satuan Henry


i

: arus sesaat dalam satuan Ampere

: waktu dalam satuan detik

Untuk gelombang sinus berlaku juga persamaan


i = Im sin t

(2.7)

Dengan pengertian :
Im

: harga maksimum dalam satuan Ampere

=2f

: kecepatan sudut dalam satuan Radial/detik.

Jika harga-harga tersebut dimasukan pada persamaan (2.6), maka


didapatkan
u = L.

d I m sin t
dt

= L . Im . . cos t
= Im . L . sin (t + /2)

(2.8)

Tegangan akan maksimum, jika sin (t + /2) = 1, sehingga :


Um = Im . L

(2.9)

Persamaan (2.7) dapat dituliskan


u = Um . sin (t + /2)

(2.10)

Persamaan (2.7) dan persamaan (2.9) jika diperhatikan dapat dikatakan


bahwa tegangan mendahului arus sebesar /2 radial (90o), beda fasanya () = 90o.

Gambar 2.2 Induktor Murni Dialiri Arus Bolak Balik


(Sumber : Buku Rangkaian Listrik, TT : 53 )
(a) Skema Rangkaian
(b) Bentuk Gelombang Tegangan dan Arus
(c) Diagram Fasor Tegangan dam Arus
Apabila persamaan (2.9) dinyatakan dalam harga efektif, maka
U=I.L

(2.11)

L adalah merupakan perlawanan dari rangkaian terhadap arus bolak-balik


yang dinamakan reaktansi induktif dan diberi notasi XL , besarnya
XL = L = 2 f L

(2.12)

Karena tegangannya mendahului arus sebesar 90o, maka besarnya


impedansi :
ZL =

U < 90O
I <0O

= XL < 90o
= 0 + j XL

(2.13)

2.1.1.3 Beban Kapasitif


Beban kapasitif adalah beban yang mengandung suatu rangakaian
kapasitor. Beban ini mempunyai faktor daya antara 0 1 leading. Beban ini
mempunyai daya reaktif yang arahnya berlawanan dengan beban induktif. Beban
kapasitif digunakan untuk mengkompensasi daya reaktansi induktif yang
ditimbulkan oleh beban-beban induktif sehingga reaktansi induktif menjadi kecil.

Pada beban kapasitif bentuk gelombang arus mendahului gelombang tegangan


sebesar 0 (Wijaya dan Sutopo, TT : 129).
Arus bolak-balik yang mengalir melalui kapasitor murni (C), besarnya
tegangan sesaat adalah
u = Um sin t

(2.14)

Sedangkan besarnya arus sesaat :


i = dq/dt

(2.15)

Besarnya muatan yang disimpan atau dilepaskan oleh kapasitor :


q=C.u

(2.16)

Dengan pengertian :
q

: muatan listrik sesaat, dalam satuan Coulomb

: kapasitansi dalam satuan Farad

: tegangan sesaat dalam satuan Volt

Jika harga-harga tersebut dimasukan pada persamaan (2.15), maka


didapatkan
i = dCu/dt
= C.

d (U m .sin t )
dt

= C . Um . . cos t
= Um . C . sin (t + /2)

(2.17)

Arus akan maksimum, jika sin (t + /2) = 1, sehingga :


Im = Um . C

(2.18)

Dengan demikian besarnya arus sesaat menjadi


i = Im . sin (t + /2)

(2.19)

Persamaan (2.14) dan persamaan (2.19), jika diperhatikan dapat dikatakan


bahwa arusnya mendahului tegangan sebesar /2 radial (90o), beda fasanya () =
90o.

(c)
Gambar 2.3 Kapasitor Murni (C) Dialiri Arus Bolak Balik
(Sumber : Buku Rangkaian Listrik, TT : 55 )
(a) Skema Rangkaian
(b) Bentuk Gelombang Tegangan dan Arus
(c) Diagram Fasor Tegangan dan Arus
Apabila persamaan (2.18) dinyatakan dalam harga efektif, maka
I =

U
1 /C
(2.20)

1/C adalah merupakan perlawanan dari rangkaian terhadap arus bolakbalik yang dinamakan reaktansi kapasitif dan diberi notasi Xc, besarnya
Xc = 1/C = 1/(2 f C)

(2.21)

Karena arusnya mendahului tegangan sebesar 90o, maka besarnya


impedansi dapat ditulis :
Zc =

U < 90O
I <90O

= Xc < -90o
= 0 j Xc

(2.22)

2.1.2 Daya Listrik


Daya adalah energi yang dikeluarkan untuk melakukan usaha. Dalam
sistem tenaga listrik, daya merupakan jumlah energi yang digunakan untuk
melakukan kerja atau usaha. Terdapat tiga macam daya listrik yang digunakan
untuk menggambarkan penggunaan energi listrik, yaitu daya nyata atau daya aktif,
daya reaktif serta daya semu (Belly, dkk., 2010 : - ).

2.1.2.1 Daya semu


Daya semu (Apparent Power) merupakan daya yang diditribusikan ke
konsumen oleh perusahaan sumber listrik. Daya kompleks atau lebih sering
dikenal sebagai daya semu adalah penjumlahan trigonometri antara daya aktif dan
daya reaktif, di mana :
S = P + jQ

(2.23)

Daya kompleks dinyatakan dengan satuan VA (Volt Ampere) adalah hasil


kali antara besarnya tegangan dan arus listrik yang mengalir pada beban (Belly,
dkk., 2010 : - ), di mana :
S = VI

(2.24)

Dimana : S = daya kompleks (VA)


V = tegangan (Volt)
I = arus listrik (A)
2.1.2.2 Daya Aktif
Daya nyata atau daya aktif adalah daya listrik yang digunakan secara nyata
dan dikonversikan dalam bentuk kerja. Misalnya untuk menghasilkan panas,
cahaya atau putaran pada motor listrik. Satuan daya aktif dalam SI adalah Watt.
Daya nyata dihasilkan oleh beban beban listrik yang bersifat resistif murni (Belly,
dkk., 2010 : - ).
Besarnya daya aktif dapat dinyatakan dengan persamaan :
P = V. I . Cos

(2.25)

Keterangan :
P = Daya Nyata (Watt)
V = Tegangan (Volt)
I = Arus Listrik (A)
Cos = Faktor Daya
2.1.2.3 Daya Reaktif
Daya Reaktif adalah daya listrik yang dihasilkan oleh beban-beban yang
bersifat reaktansi. Terdapat dua jenis beban reaktansi, yaitu reaktansi induktif dan
reaktansi kapasitif. Beban beban yang bersifat induktif akan menyerap daya
reaktif untuk menghasilkan medan magnet. Contoh beban listrik yang bersifat
induktif antara lain transformator, motor induksi satu fasa maupun tiga fasa yang

10

biasa digunakan untuk menggerakkan kipas angin, pompa air, lift, eskalator,
kompresor, konveyor dan lain-lain. Beban beban yang bersifat kapasitif akan
menyerap daya reaktif untuk menghasilkan medan listrik. Contoh beban yang
bersifat kapasitif adalah kapasitor (Belly, dkk., 2010 : - ). Besarnya daya reaktif
dinyatakan dalam persamaan :
Q = V.I.Sin

(2.26)

Keterangan :
Q = Daya Reaktif (VAR)
V = Tegangan (Volt)
I = Arus Listrik (A)
= Beda Fasa antara Tegangan dan Arus
2.1.3 Segitiga Daya
Prinsip dasar rangkaian R, L, dan C yang dihubung paralel pada jaringan
listrik mempunyai sifat yang sama dengan R dan L dihubung paralel maupun R
dan C dihubung paralel, yaitu tegangan pada setiap elemen/cabang adalah sama
dan besarnya arus total juga merupakan jumlah dari fasor arus pada tiap-tiap
elemen.

Gambar 2.4 Rangkaian Tahanan Murni, Induktor, dan Kapasitor


(Sumber : Jurnal Analisis Perbaikan Faktor Daya
oleh Sebayang dan Hasibuan 2013)
Besarnya arus pada cabang tahanan (IR) adalah sefasa dengan tegangan
dan dapat dituliskan
I R=I R <0O =I R + j0
Karena rumus daya adalah perkalian antara tegangan dan arus, maka
besarnya daya nyata akibat beban resitif adalah
P = IR . VR
Dengan pengertian :

11

IR : arus akibat beban resitif dalam satuan Ampere


VR : tegangan pada beban resitif dalam satuan Volt
P

: daya nyata dalam satuan watt

Dengan memasukan persamaan arus pada beban resitif sebelumnya, dan


sudut tegangan adalah 0o maka rumus daya nyata menjadi

P
=

I R <0O

. VR < 0o

= IR . VR <0o
= IR . VR + j0
Dari persamaan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa daya nyata
mempunyai sudut nol derajat (0o).
Arus pada induktor (IL) adalah tertinggal dari tegangan dengan sudut 90o
dan dapat dituliskan :
I L =I L < 90O=0+ j I L
Dengan mengalikan arus dan tegangan maka akan didapat daya reaktif
pada beban induktif adalah sebagai berikut

= V < 0o . IL < 90o

= V IL < 90o
= 0 + j (V IL)
Arus pada cabang kapasitor (Ic) adalah mendahului tegangan dengan sudut
90o dan dapat dituliskan :
I C =I C <90O =0 j I C
Dengan mengalikan arus dan tegangan maka akan didapat daya reaktif
pada beban kapasitif adalah sebagai berikut
c = V < 0o. I < -90o
Q
C
= V . IC < -90o
= 0 j(V. Ic)
Karena daya reaktif induktif dan kapasitif berbeda arah saling meniadakan,
maka besarnya daya reaktif total adalah
Q = QL + QC
= 0 + j (V. IL) + 0 j(V. Ic)
= 0 + j (V. IL) (V. Ic)

12

Dengan pengertian :
Q : Daya Reaktif total dalam satuan VAR
QL : Daya Reaktif Induktif dalam satuan VAR
Qc : Daya Reaktif Kapasitif dalam satuan VAR
Maka besarnya daya semu pada rangkaian adalah sebagai berikut
S = P + jQ
= (IR . V + j0) + (0 + j (V IL) (V. Ic))
= (IR . V + j (V IL) (V. Ic))
Hubungan ketiga buah daya listrik yaitu daya aktif, daya reaktif, serta daya
semu, dinyatakan dengan sebuah segitiga, yang disebut segitiga daya berdasarkan
prinsip trigonometri (B. L. Theraja, 1984: 527) sebagai berikut :

Gambar 2.5 Diagram Faktor Daya


(Sumber : Jurnal Analisis Perbaikan Faktor Daya
oleh Sebayang dan Hasibuan 2013)
Dari gambar segitiga daya tersebut, hubungan antara ketiga daya listrik
dapat dinyatakan sebagai berikut :
S=

P 2+Q2

(2.27)
P = S cos

(2.28)

P = VI cos

(2.29)

Q = S sin

(2.30)

Q = VI sin

(2.31)

Cos = pf =

P
S

(2.32)

Dimana adalah sudut antara daya aktif dan daya semu, sehingga cos
didefinisikan sebagai faktor daya (power factor). Pada gambar 2.10 keadaan
dimana nilai daya reaktif, daya nyata, dan daya semu adalah positif. Dimana daya

13

reaktif berdasarkan vektor sumbu y dan daya nyata berdasarkan vektor sumbu x.
Sedangkan untuk daya semu merupakan resultan dari daya reaktif dan daya nyata.
2.1.4 Faktor Daya
Bila arus dan tegangan berbentuk sinusoidal, maka faktor daya (power
factor) didefinisikan sebagai cosinus sudut yang dibentuk antara simpangan nol
(zero-crossing) tegangan dan simpangan nol arus, dengan nol tegangan sebagai
acuan. Faktor daya merupakan suatu besaran yang dapat dinyatakan sebagai
perbandingan antara daya aktif dan daya semu (Suhendi dan Widjaksono, TT : 4).
Sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut :
Faktor Daya = Daya Aktif (P) / Daya Nyata (S)
= kW / kVA
= V.I Cos / V.I = Cos
Faktor daya merupakan ukuran sebenarnya dari bagaimana kapasitas
sistem tenaga listrik digunakan. Faktor daya mempunyai nilai range antara (-1)
sampai dengan 1 dan dapat juga dinyatakan dalam persen. Faktor daya yang bagus
apabila bernilai mendekati satu. Untuk memperbesar harga cos yang rendah, hal
mudah dilakukan adalah memperkecil sudut yaitu dengan memperkecil
komponen daya reaktif (VAR). Berarti komponen daya reaktif yang ada dikurangi
sekecil mungkin. Untuk daya reaktif yang bersifat induktif dapat dikurangi
dengan menambah suatu sumber daya reaktif yang berupa kapasitor.
Apabila arus mendahului tegangan, maka faktor daya ini dikatakan leading.
Faktor daya leading ini terjadi apabila beban bersifat kapasitif, seperti capacitor,
synchronocus generators, synchronocus motors dan synchronocus condensor.
(Belly, dkk., 2010 : - ). Dalam pengukuran, faktor daya leading mempunyai nilai
negatif. Faktor daya ini terjadi dapat disebabkan oleh pemakaian kapasitor bank
yang berlebih sehingga beban menjadi overcapasitive. Faktor daya mendahului
(leading) adalah keadaan faktor daya saat memiliki kondisi-kondisi sebagai berikut :

1. Beban atau peralatan listrik memberikan daya reaktif pada sistem.


2. Beban atau peralatan listrik bersifat kapasitif.
3. Arus (I) mendahului tegangan (V) dengan sudut . Gambar 2.12
menunjukan gelombang arus mendahului dari tegangan sebesar sudut .

14

Gambar 2.6 Gelombang Arus Leading Terhadap Tegangan


(Sumber : Jurnal Analisis Perbaikan Faktor Daya
oleh Sibayang dan Hasibuan 2013)
2.2 Pengukuran Daya Kapasitif Metode 1
Untuk mengukur daya kapasitif diperlukan besaran-besaran listrik seperti
Tegangan, Arus, dan nilai cosphi kapasitif beban tersebut. Kemudian nilai-nilai
tersebut dapat diolah menghasilkan nilai daya kapasitif di suatu rangkaian
tertutup.
2.2.1 Mengukur Tegangan
Voltmeter adalah alat pengukur beda potensial (tegangan) antara dua titik.
Voltameter juga digunakan untuk mengukur besarnya potensial listrik, mengukur
tingkat tegangan yang ada dalam batterei, dan mengukur turunan tegangan dalam
sirkuit. Untuk mengukur beda potensial antara dua titik pada suatu komponen,
kedua terminal voltmeter harus dihubungkan dengan kedua buah titik yang
tegangannya akan diukur sehingga terhubung secara parallel dengan komponen
tersebut.Voltmeter dapat dibuat dari sebuah galvanometer dan sebuah hambatan
eksternal Rx yang dipasang seri. Adapun tujuan pemasangan hambatan Rx ini
tidak lain adalah untuk meningkatkan batas ukur galvanometer, sehingga dapat
digunakan untuk mengukur tegangan yang lebih besar dari nilai standarnya.

Gambar 2.7 Rangkaian Pengukur Tegangan

Prinsip kerja voltmeter hampir sama dengan ampermeter karena desainnya


juga terdiri dari galvanometer dan hambatan seri atau multiplier. Galvanometer
menggunakan prinsip hukum lorenzt dimana interaksi antara medan magnet dan

15

kuat arus akan menimbulkan gaya magnetic. Gaya magnetik inilah yang
menggerakkan jarum penunjuk sehingga menyimpang pada saat dilewati oleh arus
yang melewati kumparan. Makin besar kuat arus makin besar pula
penyimpangannya.Tegangan selalu berada antara dua titik. Dengan kata lain, yang
diukur adalah perbedan tegangan antara sebuah titik dengan titik lain. Oleh kerena
itu, voltmeter cukup dihubungkan memotong aliran tegangan yang hendak diukur,
seperti terlihat pada gambar dibawah. Sebenarnya tahanan voltmeter harus tidak
menentu supaya tidak mengganggu sirkit, yaitu voltmeter seharusnya menerima
arus sebesar 0 dari sirkit.
2.2.2 Mengukur Arus
Amperemeter bekerja berdasarkan prinsip gaya magnetik (Gaya Lorentz).
Ketika arus mengalir melalui kumparan yang dilingkupi oleh medan magnet
timbul gaya lorentz yang menggerakan jarum penunjuk menyimpang. Apabila
arus yang melewati kumparan besar, maka gaya yang timbul juga akan membesar
sedemikian sehingga penyimpangan jarum penunjuk juga akan lebih besar.
Demikian sebaliknya, ketika kuat arus tidak ada maka jarum penunjuk akan
dikembalikan ke posisi semula oleh pegas. Besar gaya yang dimaksud sesuai
dengan Prinsip Gaya Lorentz F = B.I. L.

Gambar 2.8 Rangkaian Pengukur Arus


2.2.3 Mengukur Beda Fasa
Menurut definisi, faktor daya adalah cosinus sudut fasa antara tegangan
dan arus, dan pengukuran faktor daya biasanya menyangkut penentuan sudut fasa
ini. Pada dasarnya instrumen ini bekerja berdasarkan prinsip elektrodinamometer,
dimana elemen yang berputar terdiri dari dua kumparan yang dipasang pada poros
yang sama tetapi tegak lurus satu sama lain. Kumparan putar berputar di dalam
medan maknetik yang dihasilkan oleh kumparan medan yang membawa arus jalajala. Ini ditunjukkan dalam kerja alat ukur faktor daya.

16

Gambar 2.9 Rangkaian Pengukur Faktor Daya

Sehingga apabila nilai faktor daya menunjukan leading, maka pada


rangkaian tertutup tersebut mempunyai nilai daya kapasitif dengan melakukan
perhitungan :
Q = V. I . sin
Dimana Q = Daya Reaktif Kapasitif
V = Tegangan
I = Arus
= Sudut beda fasa leading
2.3 Pengukuran Daya Kapasitif Metode 2
Untuk melakukan pengukuran daya kapasitif dapat juga dilakukan dengan
bantuan besaran ukur arus

(I) dan nilai reaktansi kapasitif suatu kapasitor.

Kemudian nilai daya kapasitif dihitung menggunakan rumus :


Q = I2 Xc
Dimana, Q = Daya kapasitif kapasitor
I = Arus
Xc = Nilai reaktansi kapasitif kapasitor
2.3.1 Mengukur Arus
Untuk pengukuran arus kurang lebih sama dengan metode 1, yaitu
menggunakan amperemeter yang diseri dengan rangkaian. Amperemeter bekerja
berdasarkan prinsip gaya magnetik (Gaya Lorentz). Ketika arus mengalir melalui
kumparan yang dilingkupi oleh medan magnet timbul gaya lorentz yang
menggerakan jarum penunjuk menyimpang. Apabila arus yang melewati
kumparan besar, maka gaya yang timbul juga akan membesar sedemikian
sehingga penyimpangan jarum penunjuk juga akan lebih besar. Demikian
sebaliknya, ketika kuat arus tidak ada maka jarum penunjuk akan dikembalikan ke

17

posisi semula oleh pegas. Besar gaya yang dimaksud sesuai dengan Prinsip Gaya
Lorentz F = B.I. L.
2.3.2 Mengukur Reaktansi Kapasitor
Reaktansi kapasitor bekerja berdasarkan rumus :
Xc =

1
2 f C

Dimana f adalah frekuensi sistem dan C adalah nilai kapasitansi kapasitor.


Sehingga untuk mengetahui nilai reaktansi kapasitor dapat dilakukan dengan
mengukur nilai C.
Sebelum melakukan pengukuran nilai C, terlebih dahulu mengosongkan
arus-arus listrik yang mungkin tersimpan di dalam kapasitor dengan
menghubungkan kapasitor dengan tahanan. Dengan menggunakan Clamp Meter
pilih mode kapasitansi (

).

Gambar 2.10 Metode Pengukuran Kapasitansi Kapasitor

Kemudian, pilih batas ukur maksimal ukur terlebih dahulu sebelum melakukan
pengukuran. Namun beberapa clamp meter mendukung sistem otomatis
menentukan batas ukur. Setelah nilai kapasitansi terbaca, maka nilai reaktansi
kapasitif dapat dihitung menggunakan rumus diatas.

18

2.4 Prosedur Pengukuran Clamp Meter


Clamp meter merupakan alat ukur yang seba guna yang dapat mengukur
beberapa besaran listrik sekaligus. Sehingga hanya memerlukan sekali
pengukuran untuk mendapatkan beberapa besaran sekaligus. Berikut adalah
prosedur pengukuran menggunakan clamp meter.
1. Sebelum anda menghubungkan alat ukur ke rangkaian atau beban yang
akan diukur, perhatikan apakah menggunakan sumber AC atau DC.
2. Aturlah kenop pemilih pada kisaran yang anda inginkan. Selalu
gunakan batas ukur yang paling tertinggi dahulu apabila belum
mengetahui kisaran nilai besaran tersebut.
3. Apabila meteran memiliki kemampuan autoranging, anda hanya perlu
memilih besaran listriknya (arus atau tegangan).
4. Apabila anda masih ragu dalam menentukan kisaran yang tepat,
pilihlah kisaran tertinggi.
5. Sambungkan meteran kerangkaian, atau pasangkan saja kedua probe
pada dua titik di dalam rangkaian, perhatikan polaritas atau + dan - nya,
hitam ke negatif, merah ke positif.
6. Bacalah angka pengukuran yang ditampilkan (perhatikan agar anda
menghindari kesalahan paralaks pada multitester analog) dan catatlah.
7. Apabila meteran hanya memperlihatkan angka pembacaan yang sangat
kecil, anda dapat menurunkan kisaran pengukuran sampai anda
mendapatkan hasil yang dapat dibaca, dengan terlebih dahulu lepaskan
meteran dari rangkaian.
8. Lepaskan alat ukur dari rangkaian setelah anda mendapatkan angka
pembacaan yang benar
9. Putarlah kenop pemilih ke posisi off atau mati

19