Anda di halaman 1dari 2

Pandanglah sekitar kalian sejenak, kemudian atur pernafasan kalian setenang mungkin.

Tarik
nafas, hembuskan! Tarik nafas, hembuskan perlahan-lahan. Tataplah malam, bisakah kau lihat
bintang di atas sana? Atau rembulan? Jika tidak maka biarlah, jika iya maka syukurilah.
Pejamkan matamu sejenak kemudian rasakan tiup angin yang menyapa tubuhmu, rasakan dan
rasakan. Rasakan semilirnya, rasakan hembusannya pada kulit tubuhmu. Dengarkan udara
yang bergerak, ciumlah aroma tanah basah, embun pagi, dan juga ketenangan.
Apa yang biasa kalian lakukan di malam-malam seperti ini? Sudah tertidurkah nyenyak di
kamar dengan kasur yang empuk? Dengan cahaya bola lampu yang terang dan hangat? Juga
selimut tebal? Menyesalkah kalian di sini sekarang? Pertanyaan demi pertanyaan datang dan
dijawab sepi olehmu. Bukan, bukan karena kalian tak bisa menjawab, melainkan karena
kalian memang sedang menjawabnya dalam hati. Iya, benar di rumah lebih nyaman, lebih
menyenangkan, lebih hangat, dan lebih dekat dengan mereka, orang tua kita.
Pernahkah sebelumnya kalian berpikir, bahwa keluarga adalah sesuatu yang harus disyukuri.
Sadarkah kalian bahwa tidak setiap anak-anak memiliki keluarga untuk menumpahkan keluh
kesahnya? Untuk sekedar mengucapkan Selamat malam. Tapi pernahkah kita berpikir
bahwa itu adalah anugerah.
Ini malam, dingin menyergap. Hiruplah udara pagi dalam-dalam, sedalam yang mampu
kalian lakukan. Mulailah merenung sejenak, di waktu menjelang fajar ini. Pernahkah kita
menyia-nyiakan anugerah yang diberikan Tuhan. Membuat orang-orang yang mneyayangi
kita menangis? Seseorang menangis, karena disakiti; seseorang disakiti, karena dia peduli
kepada orang yang menyakitinya; seseorang peduli, karena dia memiliki perasaan; seseorang
berperasaan, karena dia adalah manusia biasa. Jadi, jika kau memiliki perasaan, peduli, sakit,
menangis... Itu semua karena kau adalah seorang manusia biasa. Jadi, Ketika bersedih
ataupun marah, maafkanlah dirimu dan orang yang menyakitimu, karena kita sama-sama
manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Bertumbuh menjadi tua adalah sebuah
kehidupan, tetapi menjadi dewasa adalah sebuah pengalaman. Semua orang pasti akan
menjadi tua, tetapi tidak semua orang bisa menjadi dewasa.
Manusia memiliki sepasang mata, terletak di depan dan sama rata, agar kita melihat setiap
orang dengan pandangan setara; manusia memiliki 2 telinga, terletak di dua sisi yang
berbeda, agar kita tidak mendengar cerita dari satu sisi saja; manusia memiliki 2 sisi otak,
agar kita tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi memikirkan orang lain juga. Sudahkah
kita mendengar? Sudahkah kita memahami? Sudahkah kita mengerti? Sudahkah?
Lima belas, enam belas, atau tujuh belas, menengoklah ke belakang melihat perjalanan hidup.
Apa yang orang tua kalian lakukan untuk kalian, membimbing, merawat, membiayai, dan
melakukan banyak hal untuk membuat kalian menjadi orang yang baik, menjadi orang yang
bermanfaat, beradap, dan berbudi pekerti luhur. Sudahkah semua itu kalian lakukan? Berapa
banyak waktu yang mereka sisihkan untuk kalian, berapa banyak tenaga yang mereka
korbankan untuk kalian? Berapa banyak biaya yang mereka keluarkan untuk menjadikan
kalian menjadi seperti sekarang? Lantas, apakah balasan yang kau berikan?
Sebuah kebahagiaan untuk merekakah? Sebuah kebanggaan untuk merekakah? Sebuah
senyuman, atau justru sebaliknya, sebuah tangisan dan air mata? Waktu berjalan begitu cepat,
bukankah kalian baru merasa bahwa baru kemarin saja kalian belajar berjalan? Bukankah
baru kemarin saja kalian memakai seragam merah putih? Waktu juga berlari untuk mereka,
orang tua. Kapan terakhir kali kau memegang tangan Bapak? Memegang tangan ibu? Tak kau

rasakankah sesuatu yang berbeda? Mungkin tangan-tangan mereka mulai mengerut, waktu
dan kerja keras membuat mereka menua sedemikian cepat. Tapi sadarkah kalian? Masih
ingatkah kalian akan kemarahan mereka? Kemarahan kalian atas ketidakberdayaan mereka
mengabulkan keinginan-keinginan kalian? Tak ada orang tua yang tak menginginkan anaknya
bahagia, tak ada orang tua yang menginginkan anaknya bersedih, semua hanya soal waktu,
semua hanya soal kemampuan. Saat mereka mengatakan tak bisa, bukan berarti mereka tak
sayang, jauh di lubuk hati mereka, mereka mengatakan dengan tulus Kalau saja itu bisa,
maka akan kuberikan, apa yang tidak untuk seorang anak?
Orang bilang usia adalah rahasia, antara Tuhan dan hanya Tuhan. Bukankah kita baru
menyesal setelah kita terlambat. Entah kita yang pergi atau mereka yang pergi. Kematian bisa
datang kapanpun, saat kita merasa semua baik-baik saja, atau saat kita memang tengah
terlena. Usia adalah tanda tanya, namun menua adalah pasti. Kita tak mau bukan meminta
maaf saat detak nadi nyaris berhenti, saat helaan nafas sudah diambang batas, saat belaian
tangan begitu lemah menggenggam. Dengan suara terbata mereka berkata Aku harus pergi!
Jaga dirimu baik-baik, sebab setelah ini aku mungkin hanya bisa melihatmu dari tempat yang
sangat jauh. Maaf belum bisa membahagiakanmu, maaf jika selama ini mengecewakanmu,
maaf jika aku tak mampu mendidikmu dengan baik. Ma... maa... af
Kau tak bisa mengubah lingkungan, tetapi kau bisa mengubah dirimu sendiri; Kau tak bisa
mengubah kenyataan, tetapi kau bisa mengubah sikap; kau tak bisa mengubah masa lalu,
tetapi kau bisa mengubah sekarang; kau tak bisa mengendalikan orang lain, tetapi kau bisa
mengontrol diri sendiri; kau tak bisa meramal hari esok, tetapi kau bisa mensyukuri hari ini;
kau tak bisa selalu berhasil melakukan segala sesuatu, tetapi kau bisa selalu berhati-hati
melakukan segala sesuatu; kau tak bisa mengetahui berapa panjang sebuah kehidupan, tetapi
kau bisa memutuskan berapa lebarnya sebuah kehidupan.