Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

DENGUE HAEMORAGIC FEVER


A.

DEFINISI
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam akut yang disertai dengan

adanya manifestasi perdarahan, yang bertendensi mengakibatkan renjatan yang dapat


menyebabkan kematian.
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah infeksi akut yang disebabkan oleh Arbovirus
(arthropodborn virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes
Albopictus.
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh
virus dengue dengan tipe I IV dengan infestasi klinis dengan 5 7 hari disertai gejala
perdarahan dan jika timbul tengatan angka kematiannya cukup tinggi.
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit yang terutama terdapat pada anak
dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi, dan biasanya memburuk pada dua hari
pertama.
B.

ETIOLOGI
a. Virus dengue
Berdiameter 40 monometer dapat berkembang biak dengan baik pada berbagai macam
kultur jaringan baik yang berasal dari sel sel mamalia, maupun sel sel Arthropoda
misalnya sel aedes Albopictus.
b. Vektor : nyamuk aedes aegypti
yaitu nyamuk aedes aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes polyne siensis, infeksi
dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe
bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe jenis yang lainnya.
c. Host : pembawa.
Jika seseorang mendapat infeksi dengue untuk pertama kalinya maka ia akan
mendapatkan imunisasi yang spesifik tetapi tidak sempurna, sehingga ia masih
mungkin untuk terinfeksi virus dengue yang sama tipenya maupun virus dengue tipe
lainnya.

C.

PATOFISIOLOGI
Virus dengue yang telah masuk ketubuh penderita akan menimbulkan virtemia. Hal

tersebut menyebabkan pengaktifan complement sehingga terjadi komplek imun Antibodi


virus pengaktifan tersebut akan membetuk dan melepaskan zat (3a, C5a, bradikinin, serotinin,
trombin, Histamin), yang akan merangsang PGE2 di Hipotalamus sehingga terjadi termo
regulasi instabil yaitu hipertermia yang akan meningkatkan reabsorbsi Na+ dan air sehingga
terjadi hipovolemi. Hipovolemi juga dapat disebabkan peningkatkan permeabilitas dinding

pembuluh darah yang menyebabkan kebocoran palsma. Adanya komplek imun antibodi
virus juga menimbulkan Agregasi trombosit sehingga terjadi gangguan fungsi trombosit,
trombositopeni, coagulopati. Ketiga hal tersebut menyebabkan perdarahan berlebihan yang
jika berlanjut terjadi shock dan jika shock tidak teratasi terjadi Hipoxia jaringan dan akhirnya
terjadi Asidosis metabolik. Asidosis metabolik juga disebabkan karena kebocoran plasma
yang akhirnya tejadi perlemahan sirkulasi sistemik sehingga perfusi jaringan menurun jika
tidak teratasi terjadi hipoxia jaringan.
Masa virus dengue inkubasi 3-15 hari, rata-rata 5-8 hari. Virus hanya dapat hidup
dalam sel yang hidup, sehingga harus bersaing dengan sel manusia terutama dalam kebutuhan
protein. Persaingan tersebut sangat tergantung pada daya tahan tubuh manusia.sebagai reaksi
terhadap infeksi terjadi (1) aktivasi sistem komplemen sehingga dikeluarkan zat anafilaktosin
yang menyebabkan peningkatan permiabilitas kapiler sehingga terjadi perembesan plasma
dari ruang intravaskular ke ekstravaskular, (2) agregasi trombosit menurun, apabila kelainan
ini berlanjut akan menyebabkan kelainan fungsi trombosit sebagai akibatnya akan terjadi
mobilisasi sel trombosit muda dari sumsum tulang dan (3) kerusakan sel endotel pembuluh
darah akan merangsang atau mengaktivasi faktor pembekuan.
Ketiga faktor tersebut akan menyebabkan (1) peningkatan permiabilitas kapiler; (2)
kelainan hemostasis, yang disebabkan oleh vaskulopati; trombositopenia; dan kuagulopati.

D.

PATHWAY

E.

KLASIFIKASI
Menurut derajat ringannya penyakit, Dengue Haemoragic Fever (DHF) dibagi menjadi

4 tingkat yaitu :
a. Derajat I :
Panas 2 7 hari , gejala umum tidak khas, uji taniquet hasilnya positif
b. Derajat II :
Sama dengan derajat I di tambah dengan gejala gejala pendarahan spontan seperti
petekia, ekimosa, epimosa, epistaksis, haematemesis, melena, perdarahan gusi telinga
dan sebagainya.
c. Derajat III :
Penderita syok ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan
cepat (> 120 / menit) tekanan nadi sempit (< 20 mmHg) tekanan darah menurun (120 /
80 mmHg) sampai tekanan sistolik dibawah 80 mmHg.
d. Derajat IV
Nadi tidak teraba,tekanan darah tidak terukur (denyut jantung > - 140 mmHg) anggota
gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit tampak biru.
Klasifikasi DHF berdasarkan patokan dari WHO DBD dibagi menjadi 4 derajat :
a. Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan uji torniquet (+),
trombositopenia dan hemokonsentrasi.
b. Derajat II
Derajat I dan disertai perdarahan spontan pada kulit atau di tempat lain.
c. Derajat III
d. Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan darah rendah
(hipotensi), gelisah, sianosis sekitar mulut, hidung dan ujung jari.
e. Derajat IV
Renjatan berat (DSS) dengan nadi tak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.
Dengue Shock Syndrome ( DSS )
Dengue shock syndrome ( DSS ) adalah sindroma syok yang terjadi pada penderita
Dengue Hemorrhagic Fever ( DHF ) atau demam berdarah dengue.
Dengue syok sindrom bukan saja merupakan suatu permasalahan kesehatan
masyarakat yang menyebar dengan luas atau tiba tiba, tetapi juga merupakan suatu
permasalahan klinis, karena 30 50 % penderita demam berdarah dengue akan mengalami
renjatan dan berakhir dengan demam suatu kematian terutama bila tidak ditangani secara dini
dan adekuat.
F.

SIKLUS DEMAM DHF

Demam Pelana Kuda


Ciri-ciri Demam DBD atau Demam Pelana Kuda
a. Hari 1 3 Fase Demam Tinggi
Demam mendadak tinggi, dan disertai sakit kepala hebat, sakit di belakang mata,
badan ngilu dan nyeri, serta mual/muntah, kadang disertai bercak merah di kulit.
b. Hari 4 5 Fase KRITIS
Fase demam turun drastic dan sering mengecoh seolah terjadi kesembuhan. Namun
inilah fase kritis kemungkinan terjadinya Dengue Shock Syndrome
c. Hari 6 7 Fase Masa Penyembuhan
Fase demam kembali tinggi sebagai bagian dari reaksi tahap penyembuhan.
G.

MANIFESTASI KLINIS
a. Demam :Awalnya akut, cukup tinggi, dan kontinu, berlangsung lama 2 7 hari
b. Setiap manifestasi perdarahan berikut : petekia, purpura, ekimosis, epistaksis, gusi
berdarah, dan hematemesis dan / atau melena.
c. Uji torniquet positif : Uji torniquet dilakukan dengan memompa manset tekanan darah
sampai suatu titik tengah antara tekanan sistolik dan diastolik selama 5 menit. Hasil uji
di nyatakan positif jika tampak 10 atau lebih petekia per 2,5 cm2. Pada kasus DHF, uji
tersebut biasanya memberikan hasil yang pasti positif bila tampak 20 petekia atau
lebih. Hasil uji mungkin negatif atau agak positif selama fase syok yang dalam. Hasil
tersebut kemudian akan menjadi positif, bahkan terkadang sangat positif, jika
dilakukan setelah pulih dari syok.
d. Pembesaran hati (hepatomegali) : Tampak pada beberapa tahap penyakit yaitu sekitar
90 98 % pada anak anak di thailand, tetapi di negara lain frekuensinya mungkin
bervariasi.
e. Syok : Di tandai dengan denyut yang cepat dan lemah di sertai tekanan denyut yang
menurun ( 20 mmHg atau kurang ), atau hipotensi, juga dengan kulit yang lembab,
dingin, dan gelisah.
f. Temuan laboratorium
1. Trombositipenia ( 100.000 / mm3 atau kurang )
2. Hemokonsentrasi, peningkatan jumlah hematokrit sebanyak 20% atau lebih
Dua kriteria klinis pertama, di tambah dengan trombositopenia dan hemokonsentrasi

atau peningkatan jumlah hematokrit, sudah cukup untuk menetapkan diagnosis klinis DHF.

Efusi pleura ( tampak melalui rontgen dada ) dan / atau hipoalbuminemia menjadi bukti
penunjang adanya kebocoran plasma. Bukti ini sangat berguna terutama pada pasien yang
anemia dan / atau mengalami perdarahan berat. Pada kasus syok, jumlah hematokrit yang
tinggi dan trombositipenia memperkuat diagnosis terjadinya DHF / DSS.
H.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan Darah Lengkap
1. Trombosit menurun.
2. HB meningkat lebih 20 %
3. HT meningkat lebih 20 %
4. Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3
5. Protein darah rendah
6. Ureum PH bisa meningkat
7. NA dan CL rendah
8. Serology : HI (hemaglutination inhibition test).
b. Rontgen thorax : Efusi pleura.
c. Uji test tourniket (+)

I.

PENATALAKSANAAN
a. Medis
1. Demam tinggi, anoreksia dan sering muntah menyebabkan pasien dehidrasi
dan haus. Pasien diberi banyak minum yaitu 1 - 2 liter dalam 24 jam.
Keadaan hiperpireksia diatasi dengan obat antipiretik dan kompres dingin. Jika
terjadi kejang diberikan antikonvulsan. Luminal diberikan dengan dosis : anak
umur < 12 bulan 50 mg im; anak > 1 tahun 75 mg. jika 15 menit kejang belum
berhenti luminal diberikan lagi dengan dosis 3 mg/ kg BB. Infus diberikan
pada pasien DHF tanpa renjatan apabila : pasien terus menerus muntah, tidak
dapat diberikan minum sehingga mengancam terjadinya dehidrasi dan
hematokrit yang cenderung meningkat.
2. Pasien mengalami syok segera dipasang infus sebagai pengganti cairan hilang
akibat kebocoran plasma. Cairan yang diberikan biasanya RL. Jika pemberian
cairan tersebut tidak ada respon diberikan plasma atau plasma ekspander
banyaknya 20 30 mL/kg BB. Pada pasien dengan renjatan berat pemberian
infus harus diguyur. Apabila syok telah teratasi, nadi sudah jelas teraba,
amplitude nadi sudah cukup besar, tekanan sistolik 80 mmHg dan kecapatan
tetesan dikurangi menjadi 10 mL/ kg BB/ jam. Pada pasien dengan syok berat
atau syok berulang perlu dipasang CVV untuk mengukur tekanan vena sebtral
melalui vena jugularis, dan biasanya pasien dirawat di ICU. (Ngastiyah, 1997,
hal : 344-345).
3. Cairan (rekomendasi WHO)
1) Kristaloid

1) Larutan Ringer Laktat (RL) atau Dextrose 5% dalam larutan Ringer


laktat (D5/RL).
2) Larutan Ringer Asetat (RA) atau Dextrose 5% dalam larutan Ringer
Asetat (D5/RA).
3) Larutan Nacl 0,9% (Garal Faali + GF) atau Dextrose 5% dalam
larutan faali (D5/GF).
2) Koloid
1) Dextran 40
2) Plasma
b. Keperawatan
1. Derajat I
Pasien istirahat, obsevasi tanda-tanda vital setiap 3 jam, periksa Ht, Hb dan
trombosit tiap 4 jam sekali. Berikan minum 1,5 2 liter dalam 24 jam dan
kompres dingin.
2. Derajat II
Segera dipasang infus. Bila keadaan pasien sangat lemah sering dipasang pada
2 tempat karena dalam keadaan renjatan walaupun klem dibuka tetesan infus
atau tetesan cairan tetap tidak lancer maka jika 2 tempat akan membantu
memperlancar. Kadang-kadang 1 infus untuk memberikan plasma darah dan
yang lain cairan biasa.
3. Derajat III dan IV (DSS)
a) Penggantian plasma yang keluar dan memberikan cairan elektrolit (RL)
b)
c)
d)
e)

dengan cara diguyur kecepatan 20 mL/ kg BB/ jam.


Dibaringkan dengan posisi semi fowler dan diberikan O2.
Pengawasan tanda-tanda vital dilakukan setiap 15 menit.
Pemeriksaan Ht, Hb dan Trombosit dilakukan secara periodik.
Bila pasien muntah bercampur darah perlu diukur untuk tindakan

secepatnya baik obat-obatan maupun darah yang diperlukan.


f) Makanan dan minuman dihentikan, bila mengalami perdarahan
gastrointestinal biasanya dipasang nasogastrik tube (NGT) untuk
membantu pengeluaran darah dari lambung. NGT perlu dibilas dengan
Nacl karena sering terdapat bekuan darah dari tube. Tube dicabut bila
perdarahan telah berhenti. Jika kesadaran telah membaik sudah boleh
diberikan makanan cair walaupun feses mengndung darah hitam
kemudian lunak biasa.
J.

KOMPLIKASI
a. Syok
Pada Dengue Hemorrhagic Fever derajat IV akan terjadi syok yang disebabkan
kehilangan banyak cairan melalui pendarahan yang diakibatkan oleh ekstravasasi
cairan intravaskuler.
b. Ikterus pada kulit dan mata

Adanya pendarahan akan menyebabkan terjadinya hemolisis dimana hemoglobin akan


dipecah menjadi bilirubin. Ikterus disebabkan oleh adanya deposit bilirubin.
c. Kematian
Kematian merupakan komplikasi lebih lanjut dari Dengue Hemorrhagic Fever apabila
terjadi Dengue Shock Syndrom ( DSS ) yang akan berakibat kepada kematian.
K.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


a. Pengkajian Keperawatan
1. Identitas
DBD dapat mengenai pada semua umur yang tinggal di daerah tropis.
2. Keadaan Umum
Terjadinya peningkatan suhu tubuh / demam dan disertai ruam macula popular.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Umumnya klien dengan DHF datang ke Rumah Sakit dengan keluhan demam
akut 2 7 hari, nyeri otot dan pegal pada seluruh badan, malaise, mual,
muntah, sakit kepala, sakit pada saat menelan, lemah, nyeri ulu hati,
pendarahan spontan.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Diantara penyakit yang pernah diderita yang dahulu dengan penyakit DHF
yang dialami sekarang, tetapi kalau dahulu pernah menderita DHF penyakit itu
berulang.
5. Riwayat Penyakit keluarga
Riwayat adanya penyakit DHF didalam keluarga yang lain, yang tinggal
didalam satu rumah / beda rumah dengan jarak yang berdekatan sangat
menentukan karena ditularkan melalui gigitan nyamuk.
6. Riwayat Penyakit Lingkungan
DHF ditularkan oleh 2 nyamuk yaitu: Aedes aeyipry dan Aedes albopiehis,
hidup dan berkembang biak didalam rumah yaitu pada tempat penampungan
air bersih seperti kaleng bekas, bak mandi yang jarang dibersihkan.
7. Pemeriksaan Fisik
a) Sistem pernafasan : Tidak ada gangguan dalam pernafasan.
b) Sistem persyarafan : Gangguan dalam sistem persyarafan adalah terdapat
respon nyeri.
c) Sistem cardiofaskuler : Terjadi pendarahan dan kegagalan sirkulasi.
d) Sistem pencernaan : Terjadi anorexia, mual dan muntah.
e) Sistem otot dan integument : Ditemukan peteckie, pegal-pegal pada
seluruh tubuh.
f) Sistem eliminasi : Terjadi gangguan pada sistem eliminasi alvi yaitu
terjadi konstipasi.
8. Pengelompokan Data
a) Data Subyektif
1) Panas
2) Lemah
3) Nyeri ulu hati

4) Mual dan tidak nafsu makan


5) Sakit menelan
6) Pegal seluruh tubuh
7) Nyeri otot, persendian, punggung dan kepala
8) Haus
b) Data Obyektif
1) Suhu tinggi selama 2 - 7 hari
2) Kulit terasa panas
3) Wajah tampak merah , dapat disertai tanda kesakitan
4) Nadi cepat
5) Selaput mukosa mulut kering
6) Ruam dikulit lengan dan kaki
7) Epistaksis
8) Nyeri tekan pada epigastrik
9) Hematomesis
10) Melena
11) Gusi berdarah
12) Hipotensi
9. Data Penunjang
a) Hematokrit meningkat
b) Trombositopenia
c) Masa perdarahan memanjang
b. Diagnosa Keperawatan
1. Peningkatan suhu tubuh
2. Nyeri akut
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
4. Kurangnya volume cairan tubuh
5. Keterbatasan mobilitas fisik
6. Resiko terjadinya syok
7. Resiko terjadinya perdarahan

DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn E dkk. 2000. Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa
Keperawatan. EGC ; Jakarta.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid II. Edisi Ketiga. Jakarta : Media
Aesculapius.