Anda di halaman 1dari 20

PRAKTIKUM GENETIKA (BI-2105)

PENGGUNAAN MIKROPIPET
Tanggal Praktikum : 13 Oktober 2016
Tanggal Pengumpulan : 21

Oktober 2016

disusun oleh :
Alya Fatina Diandari
10615022
Kelompok 12
Asisten :
Meilisa
10614046

PROGRAM STUDI BIOLOGI


SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Biologi molekular merupakan merupakan salah satu cabang biologi yang
merujuk kepada pengkajian mengenai kehidupan pada skala molekul. Dibutuhkan
alat yang akurat dan presisi untuk mengambil volume sampel pada skala yang
sangat kecil, seperti DNA. Pada tahun 1960, Dr. Hand Schmitz menciptakan alat
yang dinamakan mikropipet. Mikropipet adalah alat bantu dalam pengambilan zat
cair yang berbentuk pipet, yang memiliki skala pasti dalam mengambil zat dalam
mikro liter dan memiliki akurasi yang tinggi (Cabrillio, 2012).
Volume larutan yang sangat beragam disesuaikan dengan kebutuhan sehingga
mikropipet dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan volume yang dimilikinya,
yaitu P10, P200, dan P1000. P10 memiliki rentang volume 0,5-10 l. P200
memiliki rentang volume 10-200 l. Dan P1000 memiliki rentang volume 2001000 l. (Eppendorf, 2013)
Penggunaan mikropipet dalam biologi molekuler salah satu contohnya adalah
pada saat pengambilan sampel DNA. Agar sampel yang diambil sesuai dengan
volume yang diinginkan sehingga tidak terlalu lebih atau tidak terlalu kurang,
perlu kelihaian dalam penggunaan mikropipet (Gilson, 2005).

Tujuan
Praktikum pengenalan mikropipet ini bertujuan untuk :
1. Menentukan perbedaan cara penggunaan mikropipet untuk pengambilan
larutan encer dan larutan kental

2. Menentukan nilai akurasi dan presisi dari mikropipet


3. Menentukan kelayakan mikropipet berdasarkan analisis nilai akurasi,
presisi, dan kebocoran

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Prinsip Kerja Mikropipet


Prinsip kerja mikropipet sama dengan pipet biasa yaitu
pergantian volume udara yang dikeluarkan oleh mikropipet dengan
larutan. Ketika volumenya diatur, piston yang berada di dalam
mikropipet akan berpindah posisi. Ketika tombol ditekan sampai ke
stop pertama piston akan mengeluarkan volume udara. Ketika tips
dicelupkan ke dalam larutan atau cairan dan tombol dilepaskan akan
membuat tekanan parsial yang mengaspirasikan volume tertentu ke
dalam tips. Apabila tombol ditekan ke stop pertama kembali, udara
akan bertukar dengan larutan, dan larutan keluar dari mikropipet.
Tombol stop kedua digunakan ketika ingin mengeluarkan semua
cairan yang ada di dalam mikropipet (Skoog, et al., 1996).
2.2 Jenis-jenis Mikropipet dan Tips (Warna dan Volume)
Menurut Universitas Queensland (2013), beberapa macam
mikropipet bedasarkan skala volumenya rincian terdapat pada tabel 2.1.
Tabel 2.1 Jenis-Jenis Mikropipet Berdasarkan Skala Volume (Universitas
Queensland, 2013)
Jenis Mikropipet

Skala Volume

P10

0,5-10 l

P20

2-20 l

P200

20-200 l

Bentuk

Contoh Penyetalan Volume

P1000

200-1000 l

Tips adalah bagian mikropipet yang dapat dilepas dan dipasang pada
ujung mikropipet. Tips dibedakan warnanya menurut volumenya. Tips
berwarna biru memiliki volume antara 200 hingga 1000 l, tips berwarna
kuning memiliki volume antara 1 hingga 200 l, dan tips berwarna putih,
yang memiliki volume antara 0,5 hingga 10 l.

Gambar 2.2 Jenis-jenis Tips Mikropipet (Edvotek Inc., 2011)


2.3 Bagian-bagian Mikropipet
Bagian-bagian pada mikrometer terdiri atas tombol pengatur
volume, cincin pengatur volume, tombol untuk melepaskan tips, lalu
angka penunjuk volume (dibaca dari atas ke bawah), tempat menempatkan
tips. Pada mikropipet dilengkapi pula oleh sebuah tips, tips merupakan
pelengkap (pasangan) mikropipet yang diletakkan pada ujung pipet
(Gilson, 2005).

`
Gambar 2.3 Bagian mikropipet (Gilson, 2005)
2.4 Hal-hal yang Perlu Diperhatikan pada Penggunaan Mikropipet
Pada saat pemakain mikropipet, volume maksimal dari
mikropipet yang telah ditetapkan perlu diperhatikan dan disesuaiankan
dengan tips yang digunakan. Pastikan juga tips telah terpasang dengan
baik, jika tidak cairan yang masuk ke dalam mikropipet tanpa tips akan
menyebabkan kontaminasi. Hati-hati apabila terhadap cairan yang
masih tersisa dalam tips ketika tips telah dilepas, khususnya cairan
yang berbahaya. Perlu diperhatikan untuk selalu gunakan mikropipet
dalam posisi tegak (Gilson, 2005).
2.5 Akurasi dan Presisi

Pada keadaan ideal, mikropipet akan menyalurkan cairan


secara akurasi dan presisi. Akurasi menunjukkan ketepatan antara nilai
pengukuran dengan nilai yang diharapkan, sedangkan presisi
ditunjukkan jika kesalahan acak pengukuran selalu sama di setiap kali
pengukuran (OConnor, 2013).

Gambar 2.5 Akurasi dan Presisi (OConnor, 2013)


Biasanya, mikropipet di desain untuk beroperasi dengan akurasi
tidak lebih dari 3% dari nilai yang dimaksudkan. Akurasi dari suatu
mikropipet

dapat

berkurang

apabila

mikropipet

diatur

untuk

menyalurkan volume yang mendekati nilai terendah dari rentangnya


(OConnor, 2013). Akurat atau tidaknya suatu mikropipet diukur
melalui besarnya persentase error. Semakin kecil nilai persentase error,
mikropipet semakin akurat. Rumus perhitungan nilai persentase error
adalah sebagai berikut :

E% =

V V 0
x 100%
Vo

E% = Persentase Error
V

= Volume rata-rata dari hasil pengukuran

V0 = Volume standar sesuai spesifikasi alat

Presisi

atau tidaknya suatu

mikropipet ditentukan melalui

besarnya relatif standar deviasi. Semakin kecil nilai relatif standar


deviasi, mikropipet semakin presisi. Rumus perhitungan nilai relatif
standar deviasi adalah sebagai berikut :
SD
V

RSD =

SD =

x 100%

(V V 1)2
N 1
i=1

RSD = Relatif Standard Deviation


SD

= Standard Deviation

V1

Volume masing-masing perhitungan

= Jumlah perhitungan

BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum pengenalan mikropipet adalah
sebagai berikut.
Tabel 3.1 Alat & Bahan
Alat

Bahan

Timbangan analitik

Aquades
Gliserol
Tips
Tabung Eppendorf
Mikropipet

3.2 Cara kerja


3.2.1 Uji Kebocoran Mikropipet
Volume mikropipet diatur hingga mencapai volume maksimal. Tips
kemudian diisi dengan aquades. Mikropipet didiamkan dalam posisi tegak
selama 20 detik. Kondisi mikropipet diamati, apakah ada air yang menetes
atau tidak. Jika terdapat air yang menetes dari ujung tips, maka mikropipet
mengalami kebocoran.
3.2.2

Uji Akurasi dan Presisi


Volume diatur terlebih dahulu. Mikropipet digunakan untuk

memindahkan cairan dalam volume tertentu ke dalam tabung eppendorf.


Tabung eppendorf ditimbang baik sebelum dan setelah diisi cairan.
Selisih massa dihitung, lalu dihitung volume cairan berdasarkan massa

dan berat jenisnya. Volume rata-rata dihitung berdasarkan penimbangan


cairan. Nilai akurasi dan presisi kemudian ditentukan berdasarkan data
yang diperoleh.

BAB IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan dan Perhitungan


Berikut adalah data yang diperoleh berdasarkan percobaan penggunaan
mikropipet disajikan dalam tabel 4.1 dan 4.2 :
Tabel 4.1 Massa Larutan Aquades dan Gliserol
Tabung
Aquades 1
Aquades 2
Aquades 3
Gliserol 1
Gliserol 2
Gliserol 3

Massa Tabung Kosong


1,01 gram
1,01 gram
1,02 gram
1,01 gram
1,01 gram
1,02 gram

Massa Tabung Isi


1,0176 gram
1,0190 gram
1,0228 gram
1,0185 gram
1,0251 gram
1,02620 gram

Massa Larutan
0,0076 mg
0,0090 mg
0,0028 mg
0,0085 mg
0,0151 mg
0,0062 mg

4.1.1 Perhitungan Volume Aquades dan Gliserol


Massa jenis Gliserol = 1,261 gr/mL = 1,261 mg/ L
Massa jenis Aquades = 1 gr/mL = 1 mg/ L

Volume Gliserol =

Massa Gliserol(gr )
Massa Gliserol(mg)
=
Massa jenis Gliserol (gr / mL) Massa Gliserol(mg/ L)

Volume Aquades =

Massa Aquades (mg)


Massa Jenis Aquades(mg/ L)

Tabel 4.2 Volume Aquades dan Gliserol ( L )


Tabung
Aquades 1
Aquades 2

Volume Larutan
7,6 L
9 L

Aquades 3

2,8

Gliserol 1

6,741

Gliserol 2
Gliserol 3

11,975 L
4,917 L

4.1.2 Perhitungan Akurasi dan Presisi dari Mikropipet

Perhitungan akurasi dan presisi mikropipet pada pengambilan aquades

V = Volume rata rata dari hasil pengukuran =

7,6+ 9+2,8
3

= 6,467

Vo = Volume standar sesuai spesifikasi alat = 7 L


V V 0
6,4677
Vo
7 x 100% = 7,6 %
E% =
x 100% =

SD =
=

(V V 1)2 +(V V 2)2+(V V 3)2

N1
i=1
(6,4677,6)2 +(6,4679)2 +(6,4672,8)2
= 3,25
31

SD
V

RSD =

x 100% =

3,25
6,467

x 100% = 50,28 %

Perhitungan akurasi dan presisi mikropipet pada pengambilan gliserol

= Volume rata rata dari hasil pengukuran =

6,741+11,975 +4,917
3

Vo = Volume standar sesuai spesifikasi alat = 7 L


V V 0
7,887
Vo
7 x 100% = 12,53%
E% =
x 100% =

SD =
=

(V V 1)2 +(V V 2)2+(V V 3)2

N1
i=1
(7,886,741)2+(7,8811,975)2+(7,884,917)2
= 3,66
31

= 7,88

RSD =

SD
V

x 100% =

0,52
7,3

x 100% = 46,51%

4.2 Pembahasan
Berdasarkan perhitungan hasil pengamatan yang telah dilakukan, didapatkan
bahwa nilai presisi akuades sebesar 50,28 %dan presisi gliserol sebesar 46,51%,
sedangkan nilai akurasi akuades sebesar 7,6% dan akurasi gliserol sebesar
12,53%. dan akuades Limit error mikropipet menurut (Eppendorf, 2013) terdapat
pada gambar 4.1.
Gambar 4.1 Limit Error Mikropipet

Menurut literatur, akurasi mikropipet Eppendorf sebesar 1,0% dan presisi


sebesar 0,5%. Data ini sangat berbeda jauh dengan hasil pengamatan. Hal ini

mungkin disebabkan oleh perbedaan kelihaian setiap anggota kelompok pada saat
menggunakan mikropipet pada praktikum kali ini.
Mikropipet dapat dikatakan layak pakai apabila tidak ada kebocoran pada
mikropipet tersebut dan juga memiliki nilai akurasi dan presisi sesuai dengan
batas wajar pada literatur. Menurut Gilson (2005), ada banyak penyebab
kebocoran mikropipet. Tip holder pada mikropipet kemungkinan rusak,
penggunaan tips maupun seal yang bukan standar, tekanan uap dari pelarut
organik yang digunakan, dan juga adanya korosi pada piston di dalam mikropipet.
Dari uji kebocoran yang telah dilakukan, tidak ditemukan adanya kebocoran pada
mikropipet yang digunakan. Mikropipet masih layak untuk digunakan walaupun
pada hasil perhitungan tidak presisi dan tidak akurat.
Saat proses pengambilan zat, mikropipet harus selalu dalam keadaan tegak
karena larutan yang telah diambil dapat masuk ke dalam pipet dan merusak
sensitifitas sensor dan piston yang terdapat dalam mikropipet. Jika piston atau alat
lain didalam mikropipet itu rusak, pengukuran volume akan menjadi tidak akurat.
Kondisi yang tegak lurus juga akan membantu cairan untuk turun ke bawah
secara tuntas (COSEE West, 2007).
Penekanan tombol plunger sampai stop 1 hanya pada pengambilan larutan
encer, sedangkan penekanan tombol plunger sampai stop 2 ada pengambilan
larutan kental (Harr, 1994). Hal ini dikarenakan larutan yang bersifat encer
memiliki viskositas rendah menjadi mudah tertarik dan viskositas larutan kental
lebih tinggi dan tidak mudah tertarik. Selain itu, stop 2 digunakan untuk
mengeluarkan seluruh cairan yang berada di alam tips (Skoog, et al., 1996).

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Perbedaan cara penggunaan mikropipet untuk pengambilan larutan encer
dan larutan kental terjadi pada saat penekanan tombol plunge. Penekanan
sampai stop 1 pada pengambilan larutan encer dan penekanan tombol
plunger sampai stop 2 ada pengambilan larutan kental.
2. Dari hasil praktikum, nilai presisi akuades sebesar 50,28 % dan presisi
gliserol sebesar 46,51%, sedangkan nilai akurasi akuades sebesar 7,6%
dan akurasi gliserol sebesar 12,53%
3. Dari hasil perhitungan akurasi, presisi dan kebocoran dapat disimpulkan
bahwa mikropipet masih layak untuk digunakan walaupun pada hasil
perhitungan tidak presisi dan tidak akurat (disebabkan oleh perbedaan
kelihaian dalam menggunakan ).

5.2 Saran
Pada saat dilakukan pengambilan larutan menggunakan mikropipet, sebaiknya
yang melakukan pengambilan hanya satu orang saja agar tidak terjadi perbedaan
kelihaian dalam penggunaan mikropipet.

LAMPIRAN

Tabel 1 Hasil Pengukuran Massa Microtube Kosong dan Microtube Terisi Air
Laboratorium Instruksional Timur
Massa microtube (g)
Air 1
Air 2
Air 3
1,01000 1,01000 1,02000

Massa microtube + larutan (g)


Air 1
Air 2
Air 3
1,01770 1,02050 1,02240

10
Kelompok

1,01000

1,02000

1,01000

1,45300

1,37500

1,38500

11
Kelompok

1,01000

1,01000

1,02000

1,15700

1,15920

1,16330

12
Kelompok

1,01000

1,01000

1,02000

1,01760

1,01900

1,02280

13
Kelompok

1,00800

1,01340

1,01520

1,40000

1,39620

1,40860

14
Kelompok

1,01520

1,00980

1,01650

1,15460

1,16480

1,16270

15
Kelompok

1,01240

1,01210

1,01620

1,01980

1,01980

1,02200

16

1,01279

0,83640

1,01460

1,40060

1,23020

1,40710

Kelompok
Kelompok 9
Kelompok

Tabel 2 Hasil Pengukuran Massa Microtube Kosong dan Microtube Terisi Gliserol
Laboratorium Instruksional Timur

Kelompok
Kelompok 9
Kelompok

Massa microtube (g)


Gliserol Gliserol Gliserol

Massa microtube + larutan (g)


Gliserol Gliserol Gliserol

1
1,01000
1,02000

1
1,01850
1,49200

2
1,01000
1,01000

3
1,01000
1,01000

2
1,01980
1,61900

3
1,01930
1,55600

10
Kelompok
11
Kelompok

1,01000

1,01000

1,01000

1,23600

1,19870

1,16850

12
Kelompok

1,01000

1,01000

1,02000

1,01850

1,02510

1,02620

13
Kelompok

1,00960

1,00770

1,01080

1,49360

1,46810

1,47160

14
Kelompok

1,01400

0,99400

1,01080

1,19080

1,19360

1,19590

15
Kelompok

1,01070

1,01240

1,00900

1,01790

1,01780

1,01860

16
air = 1 g/mL

1,01260

1,01590

1,01440

1,43880

1,37420

1,45740

Tabel 3 Hasil Perhitungan Volume Air Laboratorium Instruksional Timur


Kelompok
Kelompok 9
Kelompok

Massa larutan(g)
Air 1
Air 2
Air 3
0,0077
0,0105
0,0024

Volume larutan (L)


Air 1
Air 2
Air 3
7,700
10,500
2,400

10
Kelompok

0,4430

0,3550

0,3750

443,000

355,000

375,000

11
Kelompok

0,1470

0,1492

0,1433

147,000

149,200

143,300

12
Kelompok

0,0076

0,0090

0,0028

7,600

9,000

2,800

13
Kelompok

0,3920

0,3828

0,3934

392,000

382,800

393,400

14
Kelompok

0,1394

0,1550

0,1462

139,400

155,000

146,200

15
Kelompok

0,0074

0,0077

0,0058

7,400

7,700

5,800

16
0,3878
gliserol = 1,261 g/mL

0,3938

0,3925

387,810

393,800

392,500

Tabel 4 Hasil Perhitungan Volume Gliserol Laboratorium Instruksional Timur

Kelompok

Massa larutan(g)
Gliserol Gliserol Gliserol

Volume larutan (L)


Gliserol Gliserol Gliserol

1
0,0085

2
0,0098

3
0,0093

1
6,741

2
7,772

3
7,375

10
Kelompok

0,4720

0,6090

0,5460

374,306

482,950

432,990

11
Kelompok

0,2260

0,1887

0,1585

179,223

149,643

125,694

12
Kelompok

0,0085

0,0151

0,0062

6,741

11,975

4,917

13
Kelompok

0,4840

0,4604

0,4608

383,822

365,107

365,424

14
Kelompok

0,1768

0,1996

0,1851

140,206

158,287

146,788

15
Kelompok

0,0072

0,0054

0,0096

5,710

4,282

7,613

16

0,4262

0,3583

0,4430

337,986

284,140

351,308

Kelompok 9
Kelompok

Tabel 5 Hasil Perhitungan Persentase Error dan Standar Deviasi Relatif dari
Pengambilan Air Menggunakan Mikropipet Laboratorium Instruksional Timur
Volume
Kelompok

Kelompok 9
Kelompok 10
Kelompok 11
Kelompok 12
Kelompok 13

Air yang
Diharapka
n (L)
7,00
400,00
150,00
7,00
400,00

Rata-Rata
Volume
Air (L)
6,87
391,00
146,50
6,47
389,40

Standar
Deviasi
4,11
46,13
2,98
3,25
5,76

%E (%)

1,90
2,25
2,33
7,62
2,65

RSD (%)

59,91
11,80
2,04
50,28
1,48

Kelompok 14
Kelompok 15
Kelompok 16

150,00
7,00
400,00

146,87
6,97
391,37

7,82
1,02
3,15

2,09
0,48
2,16

5,33
14,66
0,81

Tabel 6 Hasil Perhitungan Persentase Error dan Standar Deviasi Relatif dari
Pengambilan Gliserol Menggunakan Mikropipet Laboratorium Instruksional Timur
Volume

Kelompok

Kelompok 9
Kelompok

Gliserol

Rata-Rata

yang

Volume

Standar

Diharapka

Gliserol

Deviasi

n
(L)
7,00

%E (%)

RSD (%)

(L)
7,30

0,52

4,23

7,13

10
Kelompok

400,00

430,08

54,38

7,52

12,64

11
Kelompok

150,00

151,52

26,81

1,01

17,70

12
Kelompok

7,00

7,88

3,66

12,53

46,51

13
Kelompok

400,00

371,45

10,71

7,14

2,88

14
Kelompok

150,00

148,43

9,15

1,05

6,17

15
Kelompok

7,00

5,87

1,67

16,17

28,47

400,00

324,48

35,56

18,88

10,96

16

DAFTAR PUSTAKA

Cabrillio,
2012.
WORKING
http://www.cabrillo.edu/~
[Accessed 20 October 2016].

WITH

MICROPIPETS.

COSEE West, 2007. Skill Building Activity 1: Manipulating Small Volumes. San
Fransisco: s.n.
Edvotek Inc., 2011. Pipets & Liquid Handling. s.l.:Edvotek The Biotechnology
Education Company..
Eppendorf,
2013.
Eppendorf
Reference
(adjustable-volume).
http://www.eppendorf.com/int/index.php?sitemap=2.1&pb=266359458b3
[Accessed 20 October 2016].
Gilson, 2005. Gilson Guide to Pipetting. 2nd ed. USA: Gilson Inc..
Harr, R. R., 1994. Clinical Laboratory Science Review. Pensylvania: F.A. Davis.
OConnor,
C.,
2013.
Mastering
the
micropipette.
http://capricorn.bc.edu/bi204/wp-content/uploads/2013/08/3-micropipettes.pdf
[Accessed 18 October 2016].
Skoog, D. A., West, D. M. & Holler, F. J., 1996. Fundamental of analytical chemistry.
7th ed. Fort Worth: Saunders College Publishing.
Universitas
Queensland,
2013.
http://www.di.uq.edu.au/sparqmicropipette
[Accessed 21 October 2016].

Universitas

Queensland.