Anda di halaman 1dari 26

TUGAS KELOMPOK

PENGEMBANGAN KURIKULUM DAN INOVASI PENDIDIKAN


Merencanakan Pembelajaran

Oleh:

Er Azmawaty
M. Dede Rosza E.
Syamsudin Ahmad
Yenda Puspita
2B

PROGRAM STUDI MAGISTER ADMINISTRASI PENDIDIKAN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU 2016

PENGERTIAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN


Kaufman (1972:6-8) mengatakan bahwa perencanaan adalah suatu proyeksi
tentang apa yang diperlukan dalam rangka mencapai tujuan absah dan bernilai, di
dalamnya mencakup elemen-elemen :
a. Mengidentifikasi dan mendokumentasikan kebutuhan
b. Menentukan kebutuhan-kebutuhan yang perlu diprioritaskan
c. Spesifikasi rinci hasil yang dicapai dari tiap kebutuhan yang
diprioritaskan
d. Identifikasi persyaratan untuk mencapai tiap-tiap pilihan
e. Sekuensi hasil yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan yang
dirasakan
f. Identifikasi strategi alternatif yang mungkin dan alat atau tools untuk
melengkapi tiap persyaratan dalam mencapai tiap kebutuhan,
termasuk di dalamnya merinci keuntungan dan kerugian tiap strategi
dan alat yang dipakai
Dengan demikian, perencanaan berkaitan dengan penentuan apa yang akan
dilakukan.

Perencanaan

merupakan

suatu

proses

mendahului
untuk

pelaksanaan,

menentukan

mengingat

kemana

harus

perencanaan
pergi

dan

mngidentifikasi persyaratan yang diperlukan dengan cara yang paling efektif dan
efisien.
Pembelajaran atau pengajaran menurut Degeng (1993:2) dan Reigeluth
(1983:279-334) adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Dalam pengertian ini
secara impisit dalam pengajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan,
mengembangkan metode untuk mencapai hasil pengajaran yang diinginkan.
Pemilihan, penetapan dan pengembangan metode ini didasarkan pada kondisi
pengajaran yang ada. Kegiatan ini pada dasarnya merupakan inti dari perencanaan
pembelajaran

Pembelajaran yang akan direncanakan memerlukan berbagai teori untuk


merancangnya agar rencana pembelajaran yang disusun benar-benar dapat
memenuhi harapan dan tujuan pembelajaran. Untuk itu pembelajaran sebagaimana
disebut oleh Degeng dan Reigeluth sebagai suatu disiplin ilmu menaruh perhatian
pada perbaikan kualitas pembelajaran dengan menggunakan teori pembelajaran
deskriptif, sedangkan rancangan pembelajaran mendekati tujuan yang sama dengan
berpijak pada teori pembelajaran preskriptif.
Sanjaya mengatakan bahwa merencanakan pembelajaran adalah proses
pengambilan keputusan hasil berpikir secara rasional tentang sasaran dan tujuan
pembelajaran tertentu, yakni perubahan perilaku serta rangkaian kegiatan yang
harus

dilaksanakan

sebagai

upaya

pencapaian

tujuan

tersebut

dengan

memanfaatkan segala potensi dan sumber belajar yang ada. Hasil akhir dari proses
pengambilan keputusan tersebut adalah tersusunnya dokumen yang berisi tentang
hal-hal tersebut, sehingga selanjutnya dokumen tersebut dapat dijasikan sebagai
acuan dan pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran.
Menurut pendapat Banghart dan Albert Trull (1975:4-15), tidak ada batasan
dalam merencanakan pembelajaran secara eksklusif, melainkan merencanakan
pembelajaran dapat dilihat dari 3 dimensi, yakni karakteristik merencanakan
pembelajaran

berusaha

menggambarkan

sifat-sifat

aktifitas

merencanakan

pembelajaran. Bicara tentang dimensi dalam merencanakan pembelajaran,


berkenaan dengan luas dan cakupan aktifitas perencanaan yang mungkin dalam
sistem pendidikan.
Batasan lain yang dikemukakan adalah pendapat Philip Commbs (1982:1-3).
Beliau mengatakan dalam arti luas, perencanaan pembelajaran adalah suatu
penerapan yang rasional dari analisis sistematis proses perkembangan pendidikan
dengan tujuan agar pendidikan itu lebih efektif dan efisien sesuai dengan
kebutuhan dan tujuan para murid dan masyarakatnya.

KARAKTERISTIK MERENCANAKAN PEMBELAJARAN


Menurut pendapat Banghart dan Albert Trull (1975:4-15), yang merupakan
karakteristik dalam merencanakan pembelajaran adalah :
a. Merupakan proses rasional, sebab berkaitan dengan tujuan sosial dan
konsep-konsepnya dirancang oleh banyak orang.
b. Merupakan konsep dinamik, sehingga dapat dan perlu dimodifikasi
jika informasi yang masuk mengharapkan demikian.
c. Perencanaan terdiri dari beberapa aktifitas, aktifitas itu banyak
ragamnya, namun dapat dikategorikan menjadi prosedur-prosedur dan
pengarahan.
d. Perencanaan pembelajaran berkaitan dengan pemilihan sumber dana,
sehingga harus mampu mengurangi pemborosan, duplikasi, salah
penggunaan dan salah dalam memanajemennya.
Menurut Sanjaya (2010:29), perencanaan pembelajaran

memiliki

karakteristik sebagai berikut :


1. Merencanakan pembelajaran merupakan hasil dari proses berpikir,
artinya dalam merencanakan pembelajaran disusun tidak asal-asalan,
akan tetapi disusun dengan mempertimbangkan segala aspek yang
mungkin

dapat

berpengaruh,

disamping

disusun

dengan

mempertimbangkan segala sumber daya yang tersedia yang dapat


mendukung terhadap keberhasilan proses pembelajaran.
2. Perencanaan pembelajaran disusun untuk mengubah perilaku siswa
sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Ini berari fokus utama dalam
merencanakan pembelajaran adalah ketercapaian tujuan.
3. Perencanaan pembelajaran berisi tentang rangkaian kegiatan yang
harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Oleh karena itulah,
perencanaan pembelajaran dapat berfungsi sebagai pedoman dalam
mendesain pembelajaran sesuai dengan kebutuhan.

DIMENSI MERENCANAKAN PEMBELAJARAN


Menurut Harjanto (1997:4), bicara tentang dimensi dalam merencanakan
pembelajaran yakni berkaitan dengan cakupan dan sifat-sifat dari beberapa
karakteristik yang ditemukan dalam merencanakan pembelajaran. Pertimbangan
terhadap

dimensi-dimensi

itu

memungkinkan

diadakannya

perencanaan

komprehensif yang menalar dan efisien, yakni:


1. Signifikasi. Tingkat signifikansi tergantung pada kegunaan sosial dari
tujuan pendidikan yang diajukan. Dalam mencapai tujuan itu,
pengambil keputusan perlu mempunyai garis pembimbing yang jelas
dan mengajukan kriteria evaluasi. Sanjaya (2010:38) menambahkan,
signifikasi dapat diartikan sebagai kebermaknaan. Nilai signifikansi
artinya

adalah,

bahwa

perencanaan

pembelajaran

hendaknya

bermakna agar proses pembelajaran berjalan efektif dan efisien. Oleh


karena itulah, perencanaan pembelajaran disusun sebagai bagian dari
proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa.
2. Feasibilitas. Maksudnya perlu dipertimbangkan

feasibilitas

perencanaan pembelajaran. Salah satu faktor penentu adalah otoritas


politikal yang memadai, sebab dengan itu feasibilitas teknik dan
estimasi biaya serta aspek-aspek lainnya dapat dibuat dalam
pertimbangan yang realistik.
3. Relevansi. Konsep ini berkaitan dengan jaminan bahwa perencanaan
pembelajaran memungkinkan penyelesaiaan persoalan secara lebih
spesifik pada waktu yang tepat agar dapat dicapai tujuan spesifik
secara optimal. Sanjaya (2010:38) menambahkan, bahwa nilai
relevansi dalam perencanaan adalah bahwa perencanaan yang kita
susun memiliki nilai kesesuaian baik internal maupun eksternal.
Kesesuaian internal adalah perencanaan pembelajaran harus sesuai
dengan kurikulum yang berlaku. Kesesuaian eksternal mengandung

makna, bahwa perencanaan pembelajaran yang disusun harus sesuai


dengan kebutuhan siswa.
4. Kepastian atau definitiveness. Diakui bahwa tidak semua hal-hal yang
sifatnya

kebetulan

dapat

dimasukkan

dalam

perencanaan

pembelajaran, namun perlu diupayakan agar sebanyak mungkin halhal tersebut dimasukkan dalam pertimbangannya. Sanjaya (2010:39)
menambahkan bahwa nilai kepastian itu bermakna bahwa dalam
perencanaan pembelajaran yang berfungsi sebagai pedoman dalam
penyelenggaraan proses pembelajaran, tidak lagi memuat alternatialternatif yang bisa dipilih, akan tetapi berisi langkah-langkah pasti
yang dapat dilakukan secara sistematis. Dengan kepastian itulah, kita
akan terhindar dari persoalan-persoalan yang mungkin muncul secara
tidak terduga.
5. Ketelitian atau

parsimoniusness.

Prinsip

utama

yang

perlu

diperhatikan ialah agar perencanaan pembelajaran disusun dalam


bentuk yang sederhana, serta perlu diperhatikan secara sensitif kaitankaitan yang pasti terjadi antara berbagai komponen.
6. Adaptabilitas. Diakui bahwa perencanaan pembelajaran bersifat
dinamik, sehingga perlu senantiasa mencari informasi sebagai umpan
balik atau balikan. Kalau perencanaan pembelajaran sudah lengkap,
penyimpangan-penyimpangan sudah semakin berkurang dan aktifitasaktifitas spesifik dapat ditentukan. Sanjaya (2010:39) menambahkan,
perencanaan pembelajaran yang disusun hendaknya bersifat lentur
atau tidak kaku. Sebaiknya, perencanaan pembelajaran disusun untuk
dapat diimplementasikan dalam berbagai keadaan dan berbagai
kondisi. Dengan demikian, perencanaan pembelajaran itu dapat
digunakan oleh setiap orang yang akan menggunakannya.

7. Waktu. Faktor-faktor yang berkaitan dengan waktu cukup banyak,


selsin keterlibatan perencanaan pembelajaran dalam memprediksi
masa depan, juga validasi dan realibilitas analisis yang dipakai, serta
kapan untuk menilai kebutuhan kependidikan masa kini dalam
kaitanya dengan masa mendatang.
8. Monitoring atau pemantauan.

Termasuk

didalamnya

adalah

mengembangkan kriteria untuk menjamin bahwa berbagai komponen


bekerja secara efektif. Ukurannya dibangun untuk selama pelaksanaan
perencanaan pembelajaran, namun perlu diberi pertimbangan tentang
toleransi terabatas atas penyimpangan perencanaan.
9. Isi perencanaan. Dimensi terakhir adalah hal-hal yang akan
direncanakan. Perencanaan pembelajaran yang baik perlu memuat:
a. Tujuan atau apa yang diinginkan sebagai hasil proses
pendidikan.
b. Program dan layanan, atau bagaimana cara mengorganisasi
aktifitas belajar dan layanan-layanan pendukungnya.
c. Tenaga manusia, yakni mencakup cara-cara mengembangkan
prestasi, spesialisasi, perilaku, kompetensi, maupun kepuasan
mereka.
d. Bangunan fisik, mencakup tentang cara-cara penggunaan, pola
distribusi, dan kaitannya dengan bangunan fisik lainnya.
e. Keuangan, meliputi rencana pengeluaran dan rencana
penerimaan.
f. Struktur organisasi, maksudnya bagaimana cara mengorganisasi
dan memanajemen operasi dan pengawasan program dan
aktifitas kependidikan yang direncanakan.
g. Konteks sosial atau elemen-elemen lainnya yang perlu
dipertimbangkan dalam perencanaan pembelajaran.
PROSES MERENCANAKAN PEMBELAJARAN

Menurut Harjanto (1997:17-19), agar perencanaan pembelajaran yang


komprehensif dapat diperoleh, maka seyogyanya dilaksanakan dalam 6 tahapan
proses, yaitu:
1. Tahap pra-perencanaan. Tahapan ini mengangkut, 1). Menciptakan
atau

mengadakan

badan

atau

melaksanakan

fungsi

perencanaan,

3).mengadakan

bagian

perencanaan,

2).

yang

bertugas

Menetapkan

reorganisasi

struktural

dalam

prosedur
internal

administrasi agar dapat berpartisipasi dalam proses perencanaan serta


proses implementasinya dan 4). Menetapkan mekanisme serta
prosedur untuk mengumpulkan dan menganalisis data yang diperlukan
dalam perencanaan.
2. Tahap perencanaan awal. Terdiri dari aktifitas-aktifitas: 1). Tahap
diagnosis, merupakan kegiatan membandingkan keluaran atau output
yang diharapkan dengan apa yang telah dicapai sekarang. Tahap ini
bertujuan untuk mengetahui apakah rencana yang dilaksanakan itu
memadai dan relevan, serta cara-cara yang dipakai untuk mencapai
tujuan itu, efektif dan efisien. 2). Tahap formulasi rencana, merupakan
kebijakan yang memberikan arah kepada upaya memperbaiki
kelemahan dan kekurangan suatu rencana. 3). Penilaian kebutuhan,
merupakan tindak lanjut sesudah kebijakan ditetapkan, meliputi : a.
Jumlah orang yang perlu mendapatkan layanan dalam rencana serta
syarat-syarat kualitatifnya, b. Jumlah dan besarnya lembaga atau
program yang diperlukan, c. Jumlah, kompetensi dan syarat pekerjaan
dari orang yang akan mengorganisasikan dan melaksanakan rencana
tersebut, d. Jumlah dan kualitas bahan, saran dan alat-alat yang
diperlukan, e. Jumlah dan kualitas mobiler dan alat-alat lainnya, f.
Jumlah dana yang diperlukan untuk gaji, upah dan beasiswa, g.

Jumlah dan kualitas layanan pendukung dan sebagainya. Pada tahap


ini, perencanaan baru pada tahap inventarisasi sumber manusia dan
materiil yang diperlukan untuk melaksanakan kebijakan yang ada. 4).
Perhitungan biaya. Berdasarkan data biaya tahun sebelumnya, tiap
butir kebutuhan dihitung biayanya dengan menghitungkan fluktuasi
kerja. 5). Penentuan target. Merupakan aktifitas perencanaan untuk
mengkaji dan meneliti kembali kebutuhan yang telah diidentifikasi,
menetapkan prioritas program serta menetapkan tingkat pencapaian
realistik dari tujuan yang ditetapkan.
3. Tahap formulasi rencana. Sebenarnya perencanaan mempunyai dua
maksud, yakni: 1). Menyiapkan seperangkat keputusan yang diambil
oleh pemegang otoritas, dan 2). Menyediakan pola dasar pelaksanaan
yang menjadi pegangan berbagai unit organisasi yang bertanggung
jawab dalam implementasi keputusan-keputusan tersebut.
4. Tahap elaborasi rencana. Sebelum rencana diimplementasikan,
rencana itu perlu dielaborasikan, dalam arti dirinci sehingga tugas
setiap unit menjadi jelas. Dalam rangka elaborasi ini ada dua langkah
yang perlu ditempuh, yakni: 1). Membuat program, yaitu membagi
rencana ke dalam area-area pelaksanaan, yang masing-masing tujuan
spesifik. Tiap area pelaksanaan itu dinamakan program. 2).
Identifikasi dan formulasi proyek. Tiap program terdiri dari kelompok
aktifitas sejenis dan tiap kelompok aktifitas itu dinamakan proyek.
Proyek harus diidentifikasi dan dirumuskan secara tuntas, agar
kegiatan-kegiatan dapat dilaksanakan.
5. Tahap implementasi rencana. Merupakan

saat

atau

momen

pelaksanaan. Pada ssat ini, perencanaan bergabung dengan proses


pelaksana atau manajemennya.

6. Tahap evaluasi dan perencanaan ulang. Selama rencana ini


dilaksanakan, perlu ditetapkan mekanisme evaluasi tentang kemajuan
yang dicapai serta mendeteksi deviasi atau penyimpangan. Evaluasi
mempunyai dua makna, yaitu: 1). Memberikan gambaran tentang
kelemahan rencana. 2). Sebagai bahan diagnosis dan sebagai bahan
dalam membuat perencanaan ulang.
PENTINGNYA MERENCANAKAN PEMBELAJARAN
Ide merencanakan pembelajaran yang baru dikenal sekitar tahun 50-an,
sekarang telah luas mempengaruhi pemikiran tentang pendidikan. Betapa tidak,
pendidikan itu ditujukan kepada anak didik. Anak didik merupakan pewaris hari
depan masyarakat. Terhdap hari depan itu manusia selalu mempunyai anganangan, cita-cita dan rencana yang akan dicapai. Perkembangan ilmu pengetahuan
dan tekhnologi telah memungkinkan manusia menyusun rencana itu secara
sistematis dengan menggunakan perhitungan-perhitungan, maka lahirlah ide yang
bernama merencanakan pembelajaran dalam arti modern. (Harjanto, 1997:22)
Harjanto (1997:22) menambahkan, salah satu aspek tujuan pendidikan
adalah memelihara, mempertahankan dan mengembangkan bagian dari tujuan
menjadi

dasar

integrasi

dari

perencanaan

masyarakat

dan

perencanaan

pembelajaran. Merencanakan pembelajaran seharusnya dipandang sebagai suatu


alat yang dapat membantu para pengelola pendidikan untuk lebih menjadi berdaya
guna dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.
Menurut Sanjaya (2010:31-32), merencanakan pembelajaran penting
dilakukan karena :
1. Pembelajaran adalah proses yang bertujuan. Sesederhana apapun
proses pembelajaran yang dibangun oleh guru, proses tersebut
diarahkan

untuk

mencapai

suatu

tujuan. Guru yang hanya

melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan ceramah,


tentu saja ceramahnya guru diarahkan untuk mencapai suatu tujuan,

demikian juga dengan guru yang melakukan proses pembelajaran


dengan menganalisis kasus, maka proses analisis kasus itu adlah
proses yang bertujuan. Dengan demikian, semakin kompleks tujaun
yang harus dicapai, maka semakin kompleks pula proses pembelajaran
yang berarti akan semakin kompleks pula dalam merencanakan
pembelajaran yang hasrus disusun oleh guru.
2. Pembelajaran adalah proses kerja sama. Proses pembelajaran minimal
akan melibatkan guru dan siswa. Guru tidak mungkin berjalan sendiri
tanpa keterlibatan siswa. Dalam suatu proses pembelajaran, guru
tanpa siswa tidka akan memiliki makna. Demikian juga halnya, siswa
tanpa guru dalam proses pembelajaran tidak mungkin berjalan efektif,
apalagi untuk siswa yang masih memerlukan bimbingan sepenuhnya
pada guru, misalnya siswa pada tingkat pendidikan dasar, maka peran
guru

sangat

diperlukan.

Dengan

demikian,

dalam

proses

pembelajaran, guru dan siswa perlu bekerja sama secara harmonis.


Disini

pentingnya

merencanakan

pembelajaran.

Guru

perlu

merencanakan apa yang harus dilakukan oleh siswa agar tujuan


pembelajaran dapat dicapai secara optimal, disamping guru juga harus
merencanakan apa yang sebaiknya diperankan oleh dirinya sebagai
pengelola pembelajaran.
3. Proses pembelajaran adalah proses yang kompleks. Pembelajaran
bukan hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran, akan tetapi
suatu proses pembentukan perilaku siswa. Siswa adalah organisma
yang unik, yang sedang berkembang. siswa bukan benda mati yang
dapat diatur begitu saja. Mereka memiliki minat dan bakat yang
berbeda, mereka juga memiliki gaya belajar yang berbeda. Itulah
sebabnya proses pembelajaran adalah proses yang kompleks, yang

harus

memperhitungkan

barbagai

kemungkinan

yang

terjadi.

Kemungkinan-kemungkinan itulah yang selanjutnya memerlukan


perencanaan yang matang dari setiap guru.
4. Proses pembelajaran akan efektif manakala memanfaatkan berbagai
sarana dan prasarana yang tersedia, termasuk memanfaatkan berbagai
sumber belajar. Salah satu kelemahan guru dewasa ini dalam
pengelolaan pembelajaran adalah kurangnya pemanfaatan sarana dan
prasarana yang tersedia. Dibandingkan dengan profesi lain, guru
termasuk profesi yang yang sangat lambat dalam memanfaatkan
berbagai sarana dan prasarana khususnya dalam memanfaatkan
berbagai hasil-hasil tekhnologi. Proses pembelajaran akan efektif
manakala guru memanfaatkan sarana dan prasarana secara tepat,
untuk itulah perlu perencanaan yang matang tentang bagaimana cara
memanfaatkannya untuk keperluan pencapaian tujuan pembelajaran
efektif dan efisien.
Sanjaya (2010:32-33) menambahkan, memperhatikan beberapa hal tersebut,
maka perencanaan pembelajaran merupakan proses yang kompleks dan tidak
sederhana. Proses merencanakan memerlukan pemikiran yang matang, sehingga
akan berfungsi sebagai pedoman dalam mencapai tujuan.
DASAR PERLUNYA MERENCANAKAN PEMBELAJARAN
Uno (2006:3) mengatakan, perlunya merencanakan pembelajaran
sebagaimana disebutkan di atas, dimaksudkan agar dapat dicapai perbaikan
pembelajaran. Upaya perbaikan pembelajaran ini dilakukan dengan asumsi sebagai
berikut:
1. Untuk memperbaiki kualitas pembelajaran perlu diawali dengan
merencanakan pembelajaran yang diwujudkan dengan adanya desain
pembelajaran. Perbaikan kualitas pembelajaran haruslah diawali
dengan perbaikan desain pembelajaran. Merencanakan pembelajaran

dapat dijadikan titik awal dari upaya perbaikan kualitas pembelajaran.


Hal ini dimungkinkan karena dalam desain pembelajaran, tahapan
yang akan dilakukan oleh guru atau dosen dalam mengajar telah
terancang dengan baik, mulai dari mengadakan analisis dari tujuan
pembelajaran sampai dengan pelaksanaan evaluasi sumatif yang
tujuannya untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran yang
telah ditetapkan.
2. Untuk merancang suatu pembelajaran perlu menggunakan pendekatan
sistem. Hal ini disadari bahwa dengan pendekatan sistem, akan
memberikan peluang yang lebih besar dalam mengintegrasikan semua
variabel

yang

mempengaruhi

belajar,

termasuk

keterkaitan

antarvariabel pengajaran yakni variabel kondisi pembelajaran,


variabel metode, dan variabel hasil pembelajaran.
3. Perencanaan desain pembelajaran diacukan pada siswa secara
perseorangan. Kualitas pembelajaran juga banyak tergantung pada
bagaimana pembelajaran itu dirancang. Rancangan pembelajaran
biasanya dibuat berdasarkan pendekatan perancangnya. Apakah
bersifat intuitif atau bersifat ilmiah. Jika bersifat intuitif, rancangan
pembelajaran tersebut banyak diwarnai oleh kehendak perancangnya.
Akan tetapi, jika dibuat berdasarkan pendekatan ilmiah, rancangan
pembelajaran tersebut diwarnai oleh berbagai teori yang dikemukakan
oleh para ilmuwan pembelajaran. Di samping itu, pendekatan lain
adalah pembuatan rancangan pembelajaran yang bersifat intuitif
ilmiah yang merupakan paduan antara keduanya, sehingga rancangan
pembelajaran yang dihasilkan disesuaikan dengan pengalaman
empiris yang pernah ditemukan pada saat melaksanakan pembelajaran
yang dikembangkan pula dengan penggunaan teori-teori yang relevan.

Berdasarkan tiga pendekatan ini, pendekatan intuitif ilmiah akan dapat


menghasilkan pembelajaran yang lebih sahih dari dua pendekatan
lainnya bila hanya digunakan secara terpisah. Berbagai teori yang
telah dikembangkan mengenai belajar, misalnya teori behavioristik
yang menekankan pada perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori pengelolaan informasi yang menekankan pada bagaimana suatu
informasi itu diolah dan disimpan dalam ingatan. Teori ketiga berpijak
pada psikologi kognitif yang memandang bahwa proses belajar adalah
mengaitkan pengetahuan baru ke struktur pengetahuan yang sudah
dimiliki siswa, dan hasil belajar berupa terbentuknya struktur
pengetahuan baru yang lebih lengkap.
4. Untuk merencanakan suatu desain pembelajaran diacukan pada siswa
secara perseorangan. Seseorang belajar memiliki potensi yang perlu
dikembangkan. Tindakan atau perilaku belajar dapat ditata atau
dipengaruhi, tetapi tindakan atau perilaku belajar itu akan tetap
berjalan sesuai dengan karakteristik siswa. Siswa yang lambat dalam
berpikir, tidak mungkin dapat dipaksa segera bertidak secara cepat.
Sebaliknya siswa yang memiliki kemampuan berpikir tinggi tidak
mungkin dipaksa bertindak dengan cara lambat. Dalam hal ini jika
dalam merencanakan pembelajaran tidak diacukan pada individu yang
belajar seperti ini, maka besar kemungkinan bahwa siswa yang lambat
belajar akan makin tertinggal, dan yang cepat berpikir makin majuu
pembelajarannya. Akibatnya proses pembelajaran yang dilakukan
dalam suatu kelompok tertentu akan banyak mengalami hambatan
karena perbedaan karakteristik siswa yang tidak diperhatikan. Hal lain
yang merupakan karakteristik siswa adalah perkembangan intelektual
siswa, tingkat motivasi, kemampuan berpikir, gaya kognitif, gaya

belajar, kemampuan awal, dan lain-lain. Berdasarkan karakteristik ini,


maka dalam merancang pembelajaran, mau tidak mau harus diacukan
pada pertimbangan ini.
5. Pembelajaran yang dilakukan akan bermuara pada ketercapaian tujuan
pembelajaran, dalam hal ini akan ada tujuan langsung pembelajaran,
dan tujuan pengiring dari pembelajaran. Hasil pembelajaran
mencakup hasil langsung dan hasil tidak langsung (pengiring). Dalam
merancang pembelajaran perlu memilah hasil pembelajaran yang
langsung dapat diukur setelah selesai pelaksanaan pembelajaran, dan
hasil pembelajaran yang dapat terukur setelah melalui keseluruhan
proses pembelajaran, atau hasil pengiring. Perancan gpembelajaran
seringkali merasa kecewa dengan hasil nyata yang dicapainya karena
ada sejumlah hasil yang tidak segera bisa diamati setelah
pembelajaran berakhir terutama hasil pembelajaran yang termasuk
pada ranah sikap. Padahal, ketercapaian ranah sikap biasanya
terbentuk setelah secara kumulatif dan dalam waktu yang relatif lama
terintegrasi keseluruhan hasil langsung pembelajaran.
6. Sasaran akhir dalam merencanakan desain pembelajaran adalah
mudahnya

siswa

untuk

belajar.

Pembelajaran

adalah

upaya

membelajarkan siswa dan perencanaan pembelajaran merupakan


penataan upaya tersebut agar muncul perilaku belajar. Dalam kondisi
yang ditata dengan baik, strategi yang direncanakan akan memberikan
peluang dicapainya hasil pembelajaran. Disamping itu, peran guru
sebagai sumber belajar telah diatur secara terencana, pelaksanaan
evaluasi baik secara formatif maupun sumatif telah terencana,
memberikan kemudahan siswa untuk belajar. Dengan desain
pembelajaran, setiap kegiatan yang dilakukan guru telah terencana,

dan guru dapat dengan mudah melakukan kegiatan pembelajaran. Jika


hal ini dilakukan dengan baik, sudah tentu sasaran akhir dari
pembelajaran adalah terjadinya kemudahan belajar siswa dapat
dicapai.
7. Dalam merencanakan pembelajaran harus melibatkan semua variabel
pembelajaran. Desain pembelajaran diupayakan mencakup semua
variabel pembelajaran yang dirasa turut mempengaruhi belajar. Ada
tiga variabel pembelajaran yang perlu dipertimbangkan dalam merang
pembelajaran. Ketiga variabel tersebut adalah variabel kondisi,
metode dan variabel hasil pembelajaran. Kondisi pembelajaran
mencakup semua variabel yang tidak dapat diamnipulasi oleh
perencana pembelajaran, dan harus diterima apa adanya. Yang masuk
dalam variabel ini adalah tujuan pembelajaran, karakteristik bidang
studi, dan karakteristik siswa. Adapun variabel metode pembelajaran
mencakup semua cara yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan
pembelajaran dalam kondisi tertentu. Yang masuk dalam variabel ini
adalah strategi pengorganisasian pembelajaran, strategi penyampaian
pembelajaran, dan strategi pengelolaan pembelajaran. Adapaun
variabel hasil pembelajaran mencakup semua akibat yang muncul dari
penggunaan metode pada kondisi tertentu, seperti keefektifan
pembelajaran, efisiensi pembelajaran, dan daya tarik pembelajaran.
8. Inti dari desain pembelajaran yang dibuat adalah penetapan metode
pembelajaran yang optimal untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Inti dari desain pembelajaran adalah menetapkan metode
pembelajaran yang optimal untuk mencapai hasil pembelajaran yang
diinginkan. Fokus utama dalam merencanakan pembelajaran adalah
pada pemilihan, penetapan dan pengembangan variabel metode

pembelajaran. Pemilihan metode pembelajaran harus didasarkan pada


analisis kondisi dan hasil pembelajaran. Analisis akan menunjukkan
bagaimana kondisi pembelajarannya, dan apa hasil pembelajaran yang
diharapkan. Setelah itu, barulah menetapkan dan mengembangkan
metode pembelajaran yang diambil setelah perancang pembelajaran
mempunyai informasi yang lengkap mengenai kondisi nyata yang ada
dan hasil pembelajaran yang diharapkan. Ada tiga prinsip yang perlu
dipertimbangkan dalam upaya menetapkan metode pembelajaran.
Ketiga prinsip tersebut adalah 1). Tidak ada satu metode pembelajaran
yang unggul untuk semua tujuan dalam semua kondisi, 2). Metode
(strategi) pembelajaran yang berbeda memiliki pengaruh yang berbeda
dan konsisten pada hasil pembelajaran, dan 3). Kondisi pembelajaran
bisa memiliki pengaruh yang konsisten pada hasil pengajaran.
MANFAAT DAN FUNGSI MERENCANAKAN
PEMBELAJARAN
1. Manfaat Merencanakan Pembelajaran
Sanjaya (2010:33-34) menjelaskan, bahwa seperti yang telah
diketahui, untuk mencapai hasil yang optimal, senantiasa
tersedia

berbagai

alternatif.

Ketika

kita

merencanakan

menyusun pembelajaran, tentu kita mengambil keputusan


alternatif mana yang terbaik agar proses pencapaian tujuan
berjalan secara efektif. Dengan demikian, ada beberapa manfaat
yang

dapat

kita

peroleh

dalam

merencanakan

proses

pembelajaran.
a. Melalui proses perencanaan pembelajaran yang matang,
kita akan terhindar dari keberhasilan yang bersifat
untung-untungan. Artinya, dengan perencanaan yang
matang dan akurat, kita akan mampu memperediksi

seberapa besar keberhasilan yang akan dicapai. Sebab


perencanaan disusun untuk memperoleh keberhasilan,
dengan demikian kemungkinan-kemungkinan kegagalan
dapat diantisipasi oleh setiap guru. Inilah makna bahwa
salah satu manfaat dalam merencanakan pembelajaran
adalah menghindarkan dari hasil yang bersifat untunguntungan.
b. Sebagai alat untuk memecahkan masalah. Seorang
perencana yang baik akan dapat memprediksi kesulitan
apa yang akan dihadapi oleh siswa dalam mempelajari
materi tertentu. Dengan perencanaan yang matan, guru
akan dengan mudah mengantisipasi berbagai masalah
yang mungkin timbul.
c. Untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar secara
tepat. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan ilmu
pengetahuan dan tekhnologi, dewasa ini banyak sekali
sumber-sumber belajar yang mengandung berbagai
informasi. Dengan demikian, guru akan dihadapkan pada
kesulitan memilih sumber belajar yang dianggap cocok
dengan tujuan pembelajaran. Dalam rangka inilah
perencanaan

yang

matang

diperlukan.

Melalui

perencanaan, guru dapat menentukan sumber-sumber


mana saja yang dianggap tepat untuk mempelajari suatu
baha pembelajaran.
d. Merencanakan pembelajaran

akan

dapat

membuat

pembelajaran berlangsung secara sistematis. Artinya,


proses pembelajaran tidak akan berlangsung seadanya,
tetapi akan berlangsung secara terarah dan terorganisir.

Dengan demikian, guru dapat menggunakan waktu


seefektif mungkin untuk keberhasil proses pemeblajaran.
Sebab, melalui perencanaan yang matang, guru akan
bekerja setahap demi setahap untuk menuju perubahan
yang diinginkan sesuai dengan tujuan.
2. Fungsi Merencanakan Pembelajaran
Sanjaya (2010:35-37) menjelaskan bahwa merencanakan
pembelajaran memiliki beberapa fungsi diantaranya seperti
dijelaskan berikut ini.
a. Fungsi Kreatif
Pembelajaran dengan menggunakan perencanaan yang
matang, akan dapat memberikan umpan balik yang dapat
menggambarkan

berbagai

kelemahan

yang terjadi.

Melalui umpan balik itulah guru dapat meningkatkan dan


memperbaiki program. Secara kreatif, guru akan selalu
memperbaiki berbagai kelemahan dan menemukan halhal baru.
b. Fungsi Inovatif
Suatu inovasi hanya akan muncul seandainya kita
memahami adanya kesenjangan antara harapan dan
kenyataan. Kesenjangan itu hanya mungkin ditangkap,
manakala kita memahami proses yang dilaksanakan
secara sistematis. Proses pembelajaran yang sistematis
itulah yang direncanakan dan terprogram secara utuh.
Dalam kaitan inilah perencanaan memiliki fungsi inovasi.
c. Fungsi Selektif
Adakalanya untuk mencapai suatu tujuan atau sasaran
pembelajaran

dihadapkan

kepada

berbagai

pilihan

strategi. Melalui proses merencanakan, kita dapat

menyeleksi strategi mana yang kita anggap lebih efektif


dan

efisien

untuk

dikembangkan.

Tanpa

suatu

perencanaan, tidak mungkin kita dapat menentukan


pilihan yang tepat. Fugsi selektif ini juga berkaitan
dengan pemilihan materi pelajaran yang dianggap sesuai
dengan

tujuan

pembelajaran.

Melalui

proses

perencanaan, guru dapat menentukan materi mana yang


sesuai dan materi mana yang tidak sesuai.
d. Fungsi Komunikatif
Suatu perencanaan yang memadai, harus

dapat

menjelaskan kepada setiap orang yang terlibat, baik


kepada guru, pada siswa, kepala sekolah bahkan kepada
pihak eksternal seperti kepada orang tua dan masyarakat.
Dokumen perencanaan harus dapat mengkomunikasikan
kepada setiap orang, baik tentang tujuan dan hasil yang
ingin dicapai, strategi atau rangkaian kegiatan yang dapat
dilakukan. Oleh sebab itu, perencanaan memiliki fungsi
komunikasi.
e. Fungsi Prediktif
Perencanaan yang disusun secara benar dan akurat, dapat
menggambarkan apa yang akan terjadi setelah dilakukan
suatu treatment sesuai dengan program yang disusun.
Malalui

fungsi

prediktifnya,perencanaan

dapat

menggambarkan berbagai kesulitan yang akan terjadi.


Disamping itu, fungsi prediktif dapat menggambarkan
hasil yang akan diperoleh.
f. Fungsi Akurasi
Sering terjadi, guru merasa kelebihan bahan pelajaran
sehingga mereka merasa waktu yang tersedia tidak sesuai

dengan banyaknya bahan yang harus dipelajari siswa.


Akibatnya, proses pembelajaran berjalan tidak normal
lagi, sebab kriteria keberhasilan diukur dari sejumlah
materi pelajaran yang telah disampaikan pada siswa,
tidak peduli materi itu dipahami atau tidak. Melalui
perencanaan yang matang dapat menghindari hal
tersebut. Sebab, melalui proses perencanaan guru dapat
menakar

setiap

waktu

yang

diperlukan

untuk

menyampaikan bahan pelajaran tertentu. Guru dapat


menghitung jam pelajaran efektif, melalui program
perencanaan.
g. Fungsi Pencapaian Tujuan
Mengajar bukanlah sekedar menyampaikan materi, akan
tetapi membentuk mannusia secara utuh. Manusia utuh
bukan hanya berkembang dalam aspek intelektual saja,
akan tetapi juga dalam sikap dan keterampilan. Dengan
demikian pembelajaran memiliki dua sisi yang sama
pentingnya, yakni sisi hasil belajar dan sis proses belajar.
Melalui perencanaan itulah kedua sisi pembelajaran dapat
dilakukan secara seimbang.
h. Fungsi Kontrol
Mengontrol keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam suatu
proses pembelajaran tertentu. Melalui perencanaan kita
dapat menentukan sejaauh mana materi pelajaran telah
dapat diserap siswa, materi mana yang sudah dan belum
dipahami oleh siswa. Dalam hal inilah perencanaan
berfungsi sebagai kontrol, yang selanjutnya dapat

memberikan balikan kepada guru dalam mengembangkan


program pembelajaran selanjutnya.
LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN PERENCANAAN
Sanjaya

(2010:40-45)

PEMBELAJARAN
menjelaskan bahwa berdasarkan

komponen-

komponen dalam sistem pembelajaran, selanjutnya kita dapat menentukan


langkah-langkah dalam menyusun perencanaan pembelajaran, yaitu sebagai
berikut :
1. Merumuskan Tujuan Khusus
Tugas guru adalah menerjemahkan tujuan umum pembelajaran
menjadi tujuan yang spesifik. Tujuan yang spesifik itu itu
dirumuskan sebagai indikator hasil belajar. Fungsi rumusan
pembelajarn khusus adalah sebagai tekhnik untuk mencapai
tujuan

pembelajaran

umum.

Dengan

demikian,

maka

pencapaian tujuan-tujuan khusus dalam proses pembelajaran,


merupakan indikator pencapaian tujuan umum. Rumusan tujuan
pembelajaran,

harus

mencakup

aspek

penting

yang

diistilahkan oleh Bloom (1956) merupakan domain kognitif,


afektif dan psikomotor.
2. Pengalaman Belajar
Belajar bukan hanya sekedar mencatat dan menghapal, akan
tetapi proses berpengalaman. Oleh sebab itu, siswa harus
didorong secara aktif untuk melakukan kegiatan tertentu.
Walaupun tujuan pembelajaran hanya sebatas memahami data
atau fakta, akan tetapi sebaiknya hal itu tidak cukup hanya
diberikan oleh guru saja, akan tetapi siswa didorong untuk
mencari dan menemukan sendiri fakta tersebut, misalnya
melalui wawancara, observasi dan lain sebagainya. Dalam

kasus lain, kita juga bisa memfasilitasi siswa untuk belajar


secara kelompok. Aktifitas pembelajaran seperti ini sangat baik
untuk memberikan pengalaman pada siswa agar mampu
bersosialisai atau mampu berhubungan sosial dengan orang
lain. Hal ini sangat penting, sebab pada akhirnya manakala
siswa sudah kembali ke masyarakat, mereka membutuhkan
kemampuan untuk hidup bersama dengan orang lain.
3. Kegiatan Belajar Mengajar
Menentukan kegiatan belajar mengajar yang sesuai, pada
dasarnya kita dapat merancang melalui pendekatan kelompok
atau pendekatan individual. Pendekatan kelompok adalah
pembelajaran yang dirancang dengan menggunakan pendekatan
klasikal, yakni pembelajaran dimana setiap siswa belajar secara
kelompok, baik dalam kelompok besar maupun kelompok kecil.
Sedangkan pendekatan individual adalah pembelajaran dimana
siswa belajar secara mandiri melalui bahan belajar yang
dirancang sedemikian rupa, sehingga siswa dapat belajar
menurut kecepatan dan kemampuan masing-masing.
4. Orang-Orang yang Terlibat
Orang- orang yang akan terlibat dalam proses pembelajaran
khususnya yangberperan sebagai sumber belajar meliputi
instruktur atau guru, dan juga tenaga profesional. Peran guru
dalam

proses

pembelajaran

adalah

sebagai

pengelola

pembelajaran. Dalam pelaksanaan peran tersebut diantaranya


guru berfungsi sebagai penyampai informasi. Peran guru yang
lain adalah mengatur lingkungan belajar, untuk memberikan
pengalaman belajar yang memadai bagi setiap siswa.
5. Bahan dan Alat

Penyeleksian bahan dan alat juga merupakan bagian dalam


merencanakan pembelajaran. Dalam menentukan bahan dan
alat, dapat mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a. Keberagaman kemampuan intelektual siswa.
b. Jumlah dan keberagaman tujuan pembelajaran khusus
yang arus dicapai siswa.
c. Tipe-tipe media yang diproduksi dan digunakan secara
khusus.
d. Berbagai alternatif pengalaman belajar untuk mencapai
tujuan pembelajaran.
e. Bahan dan alat yang dapat dimanfaatkan.
f. Fasilitas fisik yang tersedia.
6. Fasilitas Fisik
Fasilitas fisik merupakan faktor yang akan berpengaruh
terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Fasilitas fisik
meliputi ruangan kelas, pusat media, laboratorium, atau ruangan
untuk kelas berukuran besar (semacam aula). Guru dan siswa
bekerja sama, menggunakan bahan pelajaran, memanfaatkan
alat, berdiskusi dan lain sebagainya. Kesemuanya itu, hanya
dapat digunakan melalui proses perencanaan yang matang
melalui pengaturan secara profesional termasuk adanya
sokongan finansial sesuai dengan kebutuhan.
7. Perencanaan Evaluasi dan Pengembangan
Prosedur evaluasi merupakan faktor penting dalam sebauah
sistem perencanaan pembelajaran. Melalui evaluasi, kita dapat
melihat

keberhasilan

pengelolaan

pembelajaran

dan

keberhasilan siswa mencapai tujuan pembelajaran. Evaluasi


terhadap hasil belajar siswa akan memberikan informasi
tentang:

a. Kelemahan dalam perencanaan pembelajaran, yakni


mengenai isi pelajaran, prosedur pembelajaran, dan juga
bahan-bahan pelajaran yang digunakan.
b. Kekeliruan mendiagnosis siswa tentang

kesiapan

mengikuti pengalaman belajar.


c. Kelengkapan tujuan pembelajarn khusus.
d. Kelemahan-kelemahan instrumen yang digunakan untuk
mengukur

kemampuan

siswa

mencapai

tujuan

pembelajaran.

REFERENSI
Bloom, B.S. 1956. Taxonomy of Educational Objectives The Classification
of Educational Goals Handbook 1: Cognitive Domain. New York :
Longman.
Commbs, Philip H. 1982. Apakah Perencanaan Pendidikan Itu. (Terjemahan)
Bhatara. Karya Aksara, Jakarta.
Degeng, I Nyoman Sudana. Buku Pegangan Teknologi Pendidikan. Pusat
Antar Universitas untuk Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas
Instruksional Universitas Terbuka. Depdibud RI. Dirjen Dikti, Jakarta.

Frank W. Banghart & Albert Trull, Jr. 1975. Educational Planning. New
York : Collier-Macmillan Limited.
Harjanto. 1997. Perencanaan Pengajaran. Rineka Cipta, Jakarta : v + 319.
Kaufman, Roger A. 1972. Educational System Planning. New Jersey
Prentice Hall Inc.
Reigeluth, C.M. 1983. Instructional Design Theories and Models : An
Overview of Their Current Status. Hillsdale, N.J. Lawrence Erlbaum
Associates.
Sanjaya, Wina. 2010. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran.
Kencana, Jakarta : vi + 284.
Uno, Hamzah B. 2006. Konsep Dasar Perencanaan Pembelajaran. Bumi
Aksara, Jakarta : v + 158.