Anda di halaman 1dari 9

MENJAGA KREDIBILITAS ANGGARAN MELALUI

ELALUI PERHITUNGAN
TARGET PENERIMAAN PAJAK YANG LEBIH REALISTIS
Dhinar Ardhy Sutrisno
Kelas 7-B
B Program D-IV
D
Reguler 2016, PKN STAN
- 2016 -

I. PENDAHULUAN
Perhitungan target penerimaan pajak merupakan bagian paling penting dalam penyusunan
anggaran karena hal tersebut erat kaitannya dengan seberapa besar belanja publik yang
dapat dilakukan oleh sebuah negara pada tahun anggaran tertentu. International Monetary
Fund (IMF) dalam Economic Issues No. 27 (2001) menyebutkan:
Determining the optimal tax level is conceptually equivalent to determining the
optimal level of government spending.
Hal tersebut dapat dimaknai bahwa besaran anggaran belanja publik tergantung kepada
seberapa besar pemerintah dapat memperkirakan
memperkirakan tingkat pajak yang dapat diperoleh. Jika
pada akhirnya perolehan penerimaan pajak meleset atau terkoreksi negatif dari tingkat yang
ditetapkan semula, sudah dapat dipastikan akan terjadi penyesuaian entah pada belanja
publik atau pembiayaan yang dibutuhkan guna menutupi kekurangan ketersediaan dana
dana.
Kredibilitas anggaran dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dalam hal ini
menjadi hal yang dipertaruhkan.
Berbicara mengenai pencapaian target penerimaan pajak, Indonesia memiliki pengalaman
yang cukup panjang. Sebagaimana kita ketahui, kinerja
kinerja pencapaian target p
penerimaan
pajak Indonesia selalu menyita perhatian dari berbagai kalangan. Data
ata menunjukkan bahwa
dalam kurun waktu 8 tahun terakhir, target penerimaan
aan pajak hanya mampu terpenuhi,
bahkan melebihi target pada tahun 2008. Pada tahun itu penerimaan pajak mencapai
Rp607,4 triliun, melebihi target yang sebelumnya ditetapkan senilai Rp534,5 triliun, atau
dapat dikatakan melebihi target sebesar 14%.

Sumber: Ditjen Pajak dan Nota Keuangan dalam situs Indonesia-Investments.com,


Investments.com, Indonesia Does
Not Revise 2016 Tax Revenue Target, Realistic or Not?, diposting pada tanggal 5 Februari 2016.

Berdasarkan tabel di atas, pencapaian


pencapaian target penerimaan pajak Indonesia mencapai titik
terendah pada tahun 2015,, yaitu dari target sebesar Rp1.294,3 triliun hanya mampu
terealisasi Rp1.055,6 triliun,, artinya terdapat shortfall sebesar Rp238,7 triliun atau kurang
lebih 18%. Angka shortfall tersebut masih lebih besar dibandingkan dengan shortall yang
1

terjadi selama tahun 2010-2014. Lalu apa yang menyebabkan rendahnya pencapaian target
pajak dari tahun ke tahun? Terdapat beberapa pendapat terkait hal tersebut, antara lain:
a. Perlambatan ekonomi global tahun 2015
Menurut Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla (2015), perlambatan ekonomi global
pada tahun 2015 secara simultan berimbas pada laju pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan
secara otomatis mempengaruhi keseluruhan penerimaan pajak. Hal yang sama
diungkapkan oleh Ekonom Bank Dunia Ndiame Diop (2015) yang menjelaskan bahwa target
perpajakan akan sulit dicapai dalam beberapa tahun terakhir karena adanya perlambatan
ekonomi dan penurunan harga komoditas dunia. Shortfall pendapatan semakin tidak
terhindarkan saat harga minyak mengalami penurunan tajam sehingga mengoreksi total
pendapatan Negara ke level yang jauh lebih rendah.
b. Permasalahan teknis dari institusi perpajakan
Pengamat perpajakan Parwito (2015) menyatakan bahwa akar penyebab tidak tercapainya
target pajak ada pada permasalahan teknis di institusi perpajakan itu sendiri, seperti
kurangnya sumber daya perpajakan, perlunya perbaikan administrasi, minimnya dukungan
teknologi informasi, dan ketiadaan akses terhadap data wajib pajak pada institusi
perbankan.
c. Penetapan target yang terlalu ambisius
Ekonom dari Universitas Gajah Mada (UGM) Tony Prasetiantono (2015) menilai bahwa
target penerimaan pajak APBNP 2015 sebesar Rp1.484 triliun sangat ambisius seiring
dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi yang terlalu optimis, yaitu sebesar 5,7%. Pendapat
selanjutnya dari Pengamat perpajakan dari Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA)
Yustinus Prastowo (2015) yang menyatakan bahwa target tersebut bukan sesuatu hal yang
mustahil namun masih ada banyak hal yang harus dibenahi untuk mencapai target tersebut.
Sebagai informasi, jika dibandingkan dengan realisasi pajak tahun 2014 yang hanya
mencapai Rp1.146,87 trilliun dari target APBNP 2014 Rp1.246,11 triliun atau sekitar 92%,
target pajak pada APBNP 2015 (Rp1.489,26 triliun) meningkat kurang lebih 30%.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (2016) sendiri menilai perhitungan target pajak dua
tahun terakhir terlalu tinggi sehingga tidak realistis. Hal tersebut dikarenakan basis
perhitungan penerimaan pajak masih menggunakan angka ekonomi yang cukup tinggi, yaitu
target penerimaan dalam dua tahun terakhir. Padahal realisasi penerimaan terutama
penerimaan pajak tidak pernah mencapai target. Perhitungan yang tidak sesuai cenderung
membuat tekanan terhadap anggaran tahun ini (2016) semakin besar. Berkenaan dengan
hal tersebut, Menteri Keuangan mengusulkan kepada Presiden RI, Wakil Presiden RI, dan
forum sidang kabinet mengenai perlunya penyesuaian perhitungan target pendapatan dan
belanja agar anggaran tahun-tahun berikutnya menjadi lebih kredibel sehingga defisit
anggaran bisa tetap terjaga dan menghindarkan pemerintah dari krisis kepercayaan
masyarakat terhadap anggaran negara.
Bertitik-tolak dari permasalahan di atas, melalui paper ini penulis ingin menguraikan
bagaimana pemerintah melakukan penyesuaian target pajak dari yang dianggap terlalu
ambisius menjadi lebih realistis dalam rangka menjaga kredibilitas APBN dan kepercayaan
publik terhadap pemerintah. Selanjutnya penulis juga akan menjelaskan variabel-variabel
ekonomi makro yang digunakan dalam perhitungan target penerimaan pajak pada APBN
secara lebih komprehensif. Dari paper ini diharapkan pembaca dapat lebih memahami
proses perhitungan target penerimaan pajak di Indonesia.
2

II. PEMBAHASAN
1.

Proses Penetapan Penerimaan Pajak di Negara Lain


Office of Budget Responsibility, sebuah kantor yang khusus menangani penyusunan
anggaran pemerintah Inggris menyatakan bahwa perkiraan penerimaan perpajakan
merupakan hal yang sulit dilakukan karena melibatkan banyak variabel dengan tingkat
ketidakpastian yang tinggi. Tidak hanya itu, menurut kantor pajak Inggris Her Majesty's
Revenue and Customs (HMRC) terdapat unsur potential error selain unsur
ketidakpastian. Berdasarkan literatur, penyusunan target pajak dapat dipengaruhi oleh
banyak faktor. Faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan dalam 5 kategori, antra lain:
(i) peraturan perpajakan, (ii) faktor-faktor yang berkaitan dengan basis pemajakan, (iii)
faktor-faktor yang berkaitan dengan mekanisme pengawasan dan pemotongan/
pemungutan pajak, (iv) tingkat ketidakpatuhan pajak (tax evasion) dan keterlambatan
pembayaran pajak, dan (v) faktor terlait lainnya.
Terlepas dari faktor-faktor di atas, penentuan target penerimaan pajak membutuhkan
informasi ekonomi makro yang umumnya diperoleh dari badan statistik pemerintah,
bank sentral, dan institusi ekonomi dan keuangan pemerintah terkait lainnya. Meski
demikian informasi ekonomi yang digunakan oleh negara satu dapat berbeda dengan
negara lain karena dalam praktiknya tingkat keterukuran informasi tersebut dapat
bervariasi pada masing-masing negara. Negara dengan kategori low-income countries
cenderung tidak memiliki proses dan informasi yang memadai dalam penyusunan target
penerimaan pajak.
Sebuah studi yang dilakukan oleh IMF pada tahun 2005 terhadap 34 negara dengan
kategori low-income menunjukkan bahwa sangat sedikit negara dengan acuan dan
aturan formal yang menjelaskan bagaimana proses penentuan target penerimaan pajak
dan menjelaskan secara tegas apa yang menjadi tanggung jawab otoritas pajak dalam
proses tersebut. Di samping itu, studi tersebut juga menunjukkan bahwa dalam
membuat proyeksi penerimaan pajak negara-negara dimaksud menggunakan teknik
estimasi yang sederhana. Berbeda dengan negara-negara maju yang memiliki informasi
ekonomi yang detail dan terukur, sebagian besar negara kategori low-income
menggunakan pendekatan data agregat dalam teknik estimasinya.

2.

Proses Penetapan Target Penerimaan Pajak di Indonesia


Menurut Menteri Keuangan (2016), penetapan target pajak haruslah memperhatikan
indikator ekonomi makro serta usaha tambahan penggalian potensi pajak oleh
Direktorat Jenderal Pajak atau disebut extra effort. Perhitungan target pajak akan lebih
tepat jika menggunakan basis pajak berupa realisasi tahun sebelumnya untuk kemudian
dikalikan dengan jumlah dari perkiraan laju pertumbuhan ekonomi, laju inflasi, dan extra
effort tahun anggaran berikutnya. Adapun keterkaitan antara ketiga variabel tersebut
terhadap penerimaan pajak dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Laju Inflasi
Nopirin (1987) mendefinisikan inflasi sebagai suatu proses kenaikan harga-harga
umum barang-barang secara terus menerus selama periode tertentu. Definisi
senada diungkapkan oleh Sadono Sukirno (2002) terkait inflasi, yaitu suatu proses
kenaikan harga-harga yang berlaku dalam suatu perekonomian. Dalam kaitannya
dengan penerimaan pajak, Karran (1985) menuliskan bahwa inflasi memiliki korelasi
3

positif terhadap penerimaan pajak karena inflasi akan menyebabkan nilai nominal
dari uang (termasuk pendapatan yang kena pajak) meningkat, sehingga pajak yang
ditarik dari pendapatan tersebut juga akan meningkat. Inflasi akan meningkatkan
penerimaan pajak jika pajak yang dibebankan atas suatu objek dalam bentuk
persentase dari nilai objek pajak tersebut. Masih dalam kaitannya dengan
penerimaan pajak, jika suatu negara sangat bergantung terhadap pengumpulan
pajak penghasilan dengan tarif progresif, dan jika percepatan laju inflasi sedang,
negara akan mengalami inflasi yang nantinya meningkatkan penerimaan pajak.
Tetapi inflasi juga dapat berdampak negatif terhadap penerimaan pajak.
Peningkatan inflasi akan menurunkan penerimaan pajak jika pajak yang dibebankan
atas suatu objek dalam bentuk jumlah uang tetap atau lump sum taxes (Tanzi,
1989).
Indonesia merupakan negara dengan sistem pajak yang didasarkan pada
persentase, sehingga dengan mengacu kepada pendapat para ahli dapat dikatakan
bahwa laju inflasi yang terkendali berpengaruh positif terhadap tingkat pertumbuhan
penerimaan pajak. Laju inflasi yang terkendali menunjukkan proses peningkatan
harga barang dan jasa yang terjadi masih berada dalam kisaran daya beli
masyarakat secara umum. Namun sebaliknya, seperti peningkatan harga barang
dan jasa secara umum dan terus menerus serta tidak terkendali, justru
menempatkan posisi daya beli masyarakat pada tingkat yang semakin rendah, dan
oleh karenanya menurunkan tingkat konsumsi masyarakat atas barang dan jasa
yang beredar. Contoh sederhana terkait pengaruh tingkat inflasi yang terkendali
terhadap penerimaan pajak, jika laju inflasi berada pada tingkat 5,3% sebagaimana
tercantum dalam Nota Keuangan RAPBN 2017, maka pendapatan pajak dari Pajak
Pertambahan Nilai akan secara otomatis mengalami peningkatan secara
proporsional terhadap persentase peningkatan harga barang dan jasa.
b. Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi merupakan pertumbuhan dari pendapatan nasional yang
terjadi di suatu negara dari satu tahun ke tahun lainnya (Sadono Sukirno, 2012).
Pengertian lain mengenai pertumbuhan ekonomi juga diungkapkan oleh Simon
Kuznets (2007), yaitu kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari negara yang
bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya.
Mengenai bagaimana pertumbuhan ekonomi diukur, Roeslan (1987) berpendapat
bahwa pertumbuhan ekonomi adalah sebagian dari perkembangan kesejahteraan
masyarakat yang diukur dengan besarnya pertumbuhan domestik regional bruto per
kapita (PDRB per kapita).
PDRB dibedakan dalam dua bentuk perhitungan yaitu PDRB atas harga berlaku (at
current price) dan PDRB atas dasar harga konstan (at constant price). PDRB atas
dasar harga berlaku digunakan untuk menangkap perubahan dalam struktur
ekonomi dan PDRB atas dasar harga konstan untuk melihat pertumbuhan ekonomi
secara riil. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi suatu wilayah menandakan
semakin baik kegiatan ekonomi di peroleh dari laju pertumbuhan PDRB atas dasar
harga konstan (Todaro dan Smith, 2008).

100%
4

Dalam kaitannya dengan penerimaan pajak, hasil penelitian Wenni Rismawati


(2013) mengungkapkan, koefisien yang positif menunjukkan bahwa apabila
pertumbuhan ekonomi meningkat maka akan menyebabkan kenaikan pada
penerimaan Pajak Penghasilan. Hubungan tersebut dimulai dari peningkatan
pertumbuhan ekonomi akan menaikkan pendapatan per kapita, kenaikan tersebut
meningkatkan jumlah objek pajak penghasilan yang pada akhirnya meningkatkan
penerimaan pajak atas penghasilan orang pribadi. Sejalan dengan hal tersebut,
karena pendapatan per kapita merupakan cerminan daya beli masyarakat, maka
peningkatan yang terjadi akan mendorong konsumsi masyarakat atas barang dan
jasa yang tersedia, peningkatan konsumsi akan menyumbang pemasukan bagi
penyedia barang dan jasa, selanjutnya dari pemasukan yang bertambah akan
meningkatkan pula pajak penghasilan atas badan.
c. Tax Extra Effort
Extra Effort merupakan salah satu upaya DJP dalam rangka mengamankan
penerimaan perpajakan melalui beberapa program di bidang pengawasan,
ekstensifikasi, pemeriksaan, penyidikan, dan penagihan pajak. Lebih lanjut
mengenai contoh uraian kegiatan yang dilakukan dalam rangka optimalisasi
penerimaan pajak ditunjukkan dalam tabel berikut:
No.

Extra Effort

Kegiatan

Pengawasan

a. Pemanfaatan data internal dan eksternal secara optimal


melalui program satu hari-satu himbauan;
b. Percepatan analisis data Center for Tax Analysis (CTA)
serta moitoring evaluasi dan bimbingan teknis untuk
merealisasikan potensi pajak;
c. Coaching clinic untuk account representative dengan
produktifitas rendah.
d. Kerjasama dengan instansi terkait dalam kerangka
satgas pengamanan penerimaan, seperti KPK,
Bareskrim, PPATK, dan OJK.

Ekstensifikasi

a. Optimalisasi pemanfaatan data agregat dan data pihak


ketiga lainnya;
b. Bedah Wajib Pajak pengumpul (supplier);
c. Penyisiran (canvassing), operasi pasar tertutup/terbuka
di sentra ekonomi yang memberikan detterence effect;
d. Kegiatan penyisiran dan pemanfaatan hasil pegamatan
data potensi KP2KP dengan sasaran pelaku UMKM;
e. Melakukan pendataan kembali Pajak Bumi dan
Bangunan Sektor Perkebunan, Perhutanan, dan
Pertambangan (PBB P3) untuk mendapatkan data yang
akurat guna meningkatkan penggalian potensi pajak;
f. Impementasi UU Pengampunan Pajak.

Pemeriksaan

a. Penyelesaian tunggakan pemeriksaan khusus yang


sudah melebihi batas waktu 8 bulan;
b. Penyelesaian instruksi pemeriksaan, SP2, IDLP, dan
analisis risiko manual melalui himbauan atau konseling;
c. Memperketat pemeriksaan restitusi yang akan
meningkatkan refund discrepancy.
5

No.

Kegiatan

Extra Effort

Penagihan

a. Optimalisasi kegiatan penagihan aktif seperti penyitaan,


pemblokiran, pencegahan, dan penyanderaan, dengan
memanfaatkan antara lain data dari PPATK;
b. Pemberian kesempatan terakhir melalui pemanggilan
WP penunggak besar untuk mengetahui itikad baik
dalam pembayaran utang pajaknya (Tim KPDJP
Kanwil KPP dengan dukungan satgas)

Penyidikan

Pembentukan satgas faktur pajak fiktif dari kegiatan buper,


penyidikan, intelijen, maupun analisis ciri-ciri penerbit
(dalam SE-32). Hasil satgas faktur pajak fiktif kemudian
dikirim ke Kanwil dan KPP untuk ditindaklanjuti dengan
klarifikasi kepada WP pengguna.

Merujuk pada data website Direktorat Jenderal Pajak www.pajak.go.id, guna mencapai
target penerimaan pajak tahun 2015 sebesar Rp1.244,7 triliun DJP memiliki program
kerja berupa kegiatan pelayanan dan kehumasan perpajakan dengan target pajak Rp.
854,5 triliun, dan kegiatan extra effort perpajakan yang ditargetkan sebesar Rp. 390,2
triliun yang diperoleh melalui tindakan pengawasan maupun tindakan penegakan
hukum wajib pajak (law enforcement).
Target extra effort melalui tindakan pengawasan ditetapkan sebesar Rp. 367,7 triliun
dan melalui tindakan penegakan hukum sebesar Rp. 22,5 triliun. Target penerimaan
pajak melalui kegiatan extra effort pengawasan itu diperoleh dari target pemeriksaan
sebanyak Rp. 73.5 triliun, target ekstensifikasi dan intensifikasi Wajib Pajak Orang
Pribadi Non Karyawan Rp. 40 triliun dan target ekstensifikasi dan intensifikasi Wajib
Pajak Badan sebesar Rp. 254,2 triliun.
Pemeriksaan
73,5 Triliun

Pelayanan &
Kehumasan
Target Penerimaan
1.244,7 Triliun

854,5 Triliun

Pengawasan

Ekstra Effort

367,7 Triliun

390,2 Triliun

Law
Enforcement
22,5 Triliun

Ekstensifikasi &
Intensifikasi WP
OP Non Karyawan
40 Triliun
Ekstensifikasi &
Intensifikasi WP
Badan
254,2 Triliun

Dalam APBN seringkali tax effort digambarkan dalam bentuk persentase antara potensi
perpajakan yang masih dapat digali terhadap proyeksi PDB pada tahun yang akan
datang.

3.

Perhitungan Target Penerimaan Pajak di Indonesia


Berdasarkan data yang tersaji dalam Nota Keuangan APBNP 2015 dan Laporan
Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun Anggaran 2015 Audited, target penerimaan
pajak pada APBNP 2015 adalah Rp1.489.26 triliun, meningkat sebanyak Rp243,15
triliun dari target APBNP 2014 atau lebih tinggi hampir 30% dibandingkan realisasi
pendapatan pajak tahun 2014 yang hanya mencapai Rp1.146,87 triliun. Menteri
Keuangan (2016) mengatakan bahwa target tersebut, termasuk dua tahun sebelumnya,
ditetapkan menggunakan basis pajak yang tidak tepat, yaitu APBNP, bukan
realisasinya. Perhitungan tersebut membuat tahun anggaran 2016 dihadapkan dengan
situasi target penerimaan yang sangat tinggi.
2016

2016 =

2016 =

2015
2015

1.539,17

1.240,42
1.240,42

100%

100%

2016 = 24%
Belajar dari pengalaman tersebut, dengan memperhatikan variabel-variabel ekonomi
makro yang mempengaruhi serta basis perhitungan pajak yang lebih tepat, yaitu
realisasi penerimaan pajak tahun sebelumnya, perhitungan target penerimaan pajak
untuk RAPBN 2017 dapat dijelaskan dengan perhitungan sebagai berikut:

Target Pajak 2017

= (Estimasi Tax Ratio 2017) x (Realisasi Penerimaan Pajak 2016)


= (Pertumbuhan Alami 2017 + Extra Effort 2017) x (Target Pajak
APBNP 2016 Perkiraan Shortfall 2016)
= 13%* x (Rp1.539,17 triliun** Rp219 triliun***)
= 13% x Rp1.320,17 triliun
= Rp1491,79 triliun

Keterangan:
* Kepala Badan Kebijakan Fiskal (2016) dalam economy.okezone.com.
** Laporan Realisasi Anggaran pada LKPP TA 2015 Audited.
*** Menteri Keuangan (2016) dalam katadata.co.id.
Setelah melalui beberapa kali pembahasan dengan Komisi XI DPR RI, angka target
penerimaan pajak pada RAPBNP 2017 adalah Rp1495,89 triliun, tidak jauh dari hasil
perhitungan di atas. Menurut Kepala BKF (2016) target penerimaan tersebut lebih
mencerminkan angka yang kredibel,
artinya yang
bisa dicapai dan
dipertanggungjawabkan. Target penerimaan pajak yang lebih realistis akan membuat
defisit anggaran bisa tetap terjaga dan tidak menimbulkan krisis kepercayaan terhadap
anggaran negara. Kredibilitas, confidence, dan trust harus ditegakkan, mulai dari angkaangka APBN yang bisa mencerminkan realita ekonomi yang dihadapi (Menteri
Keuangan, 2016).

III. KESIMPULAN
Perhitungan target penerimaan pajak merupakan bagian paling penting dalam penyusunan
anggaran. Perolehan penerimaan pajak yang meleset dari target akan berimbas pada
belanja publik atau pembiayaan yang dibutuhkan guna menutupi defisit yang terjadi. Oleh
sebab itu penetapan target penerimaan pajak dengan dasar perhitungan yang lebih tepat
perlu dilakukan untuk menjaga kredibilitas, confidence, dan trust terhadap pemerintah.
Menurut Menteri Keuangan (2016), perhitungan target pajak yang tepat adalah
menggunakan basis pajak berupa realisasi tahun sebelumnya untuk kemudian dikalikan
dengan jumlah dari perkiraan laju pertumbuhan ekonomi, laju inflasi, dan extra effort
perpajakan oleh DJP.

Target Pajak Tahun1

= (Estimasi Tax Ratio Tahun1) x (Realisasi Penerimaan Pajak


Tahun0)
= (Pertumbuhan Alami Tahun1 + Rencana Extra Effort Tahun1)
x (Target Pajak APBNP Tahun0 Perkiraan Shortfall Tahun0)

Belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, penetapan target penerimaan pajak


RAPBN 2017 lebih memperhatikan data-data ekonomi makro dan basis pajak yang dijadikan
dasar perhitungan, yaitu realisasi penerimaan pajak tahun sebelumnya,
sehingga
mencerminkan target yang lebih kredibel, artinya yang bisa dicapai dan
dipertanggungjawabkan. Harapannya bahwa defisit anggaran bisa tetap terjaga dan tidak
menimbulkan krisis kepercayaan terhadap anggaran negara.

IV. REFERENSI
Nota Keuangan dan APBNP 2014 dan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun
Anggaran 2014 Audited
Nota Keuangan dan APBNP 2015 dan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun
Anggaran 2015 Audited
Nota Keuangan dan APBNP 2016 dan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun
Anggaran 2016 Audited
Nota Keuangan dan RAPBN 2017
Vito

Tanzi dan Howell Zee. 2001. Tax Policy for Developing Countries,
http://www.imf.org/external /pubs/ft/issues/issues27, diakses tanggal 14 Oktober 2016.

Indonesia-Investment. 2016. Indonesia Does Not Revise 2016 Tax Revenue Target,
Realistic or Not?, http://www. indonesia-investments.com/id/finance/financialcolumns/indonesia-does-not-revise-2016-tax-revenue-target-realistic-or-not/item6467,
diakses tanggal 14 Oktober 2016.
Arif Gunawan S. dan Anton Hermansyah. 2016. Behind tax-shortfall: Rethinking Indonesian
taxation,
http://www.thejakartapost.com/news/2016/01/12/behind-tax-shortfallrethinking-indonesian-taxation.html, diakses tanggal 14 Oktober 2016.

Badan Pusat Statistik. 2016. Ekonomi Indonesia Triwulan IV 2015 tumbuh 5,04 persen
tertinggi selama tahun 2015, https://www.bps.go.id/brs/view/id/1267, diakses tanggal
15 Oktober 2016.
Buku Kerja. Cara Menghitung Laju pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan data
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), http://www.bukukerja.com/2013/05/caramenghitung-laju-pertumbuhan.html, diakses tanggal 15 Oktober 2016.
Handoko,
Piter.
2016.
Menkeu
Hitung
Lagi
Target
Pajak
2016,
https://pemeriksaanpajak.com/2016/01/12/menkeu-hitung-lagi-target-pajak-2016,
diakses tanggal 13 Oktober 2016.
Kamaludin, Arif. 2016. Sri Mulyani Kritik Perhitungan Target Pajak Dua Tahun Terakhir,
http://katadata.co.id/berita/2016/08/04/sri-mulyani-kritik-perhitungan-target-pajak-duatahun-terakhir, diakses tanggal 13 Oktober 2016.
Khabibi, Ikhwanul. 2016. Sri Mulyani: Penerimaan Pajak Kurang Rp 219 T, Anggaran
Dipangkas Rp 133 T, http://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3268011/srimulyani-penerimaan-pajak-kurang-rp-219-t-anggaran-dipangkas-rp-133-t,
diakses
tanggal 15 Oktober 2016
Lestari, Daurina dan Asmara, Chandra G. 2015. Wapres Akui Target Penerimaan Pajak
Tinggi, http://www.viva.co.id/haji/read/707678-wapres-akui-target-penerimaan-pajaktinggi, diakses tanggal 15 Oktober 2016.
Marbun, Julkifli. 2015. Bank Dunia Nilai Target Penerimaan Pajak Ambisius,
http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/keuangan/15/03/18/nlex2p-bank-dunia-nilaitarget-penerimaan-pajak-ambisius, diakses tanggal 15 Oktober 2016.
Mustami, Adinda Ade. 2016. Target Pajak 2016 Alamiah Tumbuh 13%,
http://m.kontan.co.id/news/target-pajak-2016-alamiah-tumbuh-13, diakses tanggal 14
Oktober 2016.
Petriella, Yanita. 2015. Target Pertumbuhan Ekonomi Dinilai Terlalu Ambisius,
http://finansial.bisnis.com/read/20150216/9/403368/target-pertumbuhan-ekonomidinilai-terlalu-ambisius, diakses tanggal 15 Oktober 2016.
Rosid, Arifin. 2016. Penentuan target penerimaan pajak: Apa dan bagaimana peran otoritas
pajak?,
https://arifinrosid.com/2016/01/01/penentuan-target-penerimaan-pajak-apadan-bagaimana-peran-otoritas-pajak, diakses tanggal 14 Oktober 2016
Supriadi Agust. 2016. Target Setoran Pajak 2015 Dikabarkan Meleset Rp239 Triliun,
http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20160103012459-78-101787/target-setoranpajak-2015-dikabarkan-meleset-rp239-triliun/, diakses tanggal 15 Oktober 2016.
Utami, Suci Sedya. 2016. Sri Mulyani: Basis Perhitungan Penerimaan Pajak Tak Realistis,
http://m.metrotvnews.com/ekonomi/makro/zNPorMAK-sri-mulyani-basis-perhitunganpenerimaan-pajak-tak-realistis, diakses tanggal 13 Oktober 2016.