Anda di halaman 1dari 30

BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perawat merupakan tenaga kesehatan yang paling sering dan paling lama
berinteraksi dengan klien. Sehingga perawat adalah pihak yang paling
mengetahui perkembangan kondisi kesehatan klien secara menyeluruh dan
bertanggung jawab atas klien. Perawat merupakan penolong utama klien
dalam melaksanakan aktivitas penting guna memelihara dan memulihkan
kesehatan klien atau mencapai kematian yang khusnul khotimah.
Sebagai perawat muslim yang baik, kita harus bisa mendampingi dan
membantu pasien dalam kegiatannya. Contohnya ketika makan, minum obat,
membersihkn diri, sampai beribadah. Perawat harus tahu kebutuhan beribadah
pasiennya sesuai dengan agama yang dianut pasiennya.
Seorang muslim diwajibkan untuk menjalankan shalat 5 waktu, bagaimanapun
keadaannya termasuk ketika sakit. Bagi mereka yang sakit melakukan ibadah
sangat sulit, dalam hal ini yang membantu pasien adalah seorang perawat
karena sebagaimana ketahui bahwa perawat sebagai pendamping pasien,
perawat sebagai penolong pasien, dan perawat sebagai partner pasien pendek
kata, perawat berperan sebagai motivator dan edukator bagi pasien yang
ditanganinya.
Jadi, tugas kita disini adalah mendampingi pasien tersebut dan membantu
segala keterbatasan fisiknya. Tentu bantuan disini disesuaikan dengan agama
pasien dan bagaimana keadaan pasien sendiri. Apabila dia muslim maka:
Perawat hendaknya mengingatkan apabila waktu sholat telah datang.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana hukum mendoakan dan mengingatkan pasien berdasarkan
agama islam?
1

2. Bagaimana cara mengingatkan pasien untuk sholat?


3. Bagaimana cara melatih pasien bertayamum?
4. Bagaimana melatih pasien cara sholat dengan duduk dan tidur?
C. Tujuan
1. Mengetahui hukum mendoakan dan mengingatkan pasien berdasarkan
agama islam.
2. Mengetahui cara mengingatkan pasien untuk sholat.
3. Mengetahui cara melatih pasien bertayamum.
4. Mengetahui cara melatih pasien cara sholat dengan duduk dan tidur.

BAB 2
TINJAUAN TEORI
A. Hukum Mendoakan Dan Mengingatkan Pasien Berdasarkan Agama
Islam

Pendampingan keagamaan sangat penting di berikan bagi pasien, ketika


medis membuat prediksi beratnya penyakit bahkan sampai kemudian
dinyatakan sudah tidak bisa di lakukan apa-apa, bisa jadi pendampingan
keagamaan membawa pasien pada tingkat kepasrahan yang tinggi, setelah itu
terjadi perbaikan dari penyakit itu.
Pendampingan pasien sangat lah penting karena terlebih lagi pasien yang
barang kali tidak atau belum paham terhadap hubungan antara hamba dan
tuhannya. Pendamping harus menyadarkan dan membimbing pasien untuk
memahami bagaimana hubungan antara diri dengan tuhanya.
Untuk memberi pemahaman yang benar tentang bagaimana sakit itu
merupakan sapaan kasih sayang dari Tuhan kepada hamba-Nya. Disinilah
fungsi pendamping untuk memahamkan secara benar dan proporsional akan
hikmah sakit kepada pasien.
Kalau tidak dipahamkan seperti ini, pasien akan cenderung mengeluh,
marah-marah, menyalahkan, mengumpat, mengutuk, bahkan tidak mengakui
adanya Tuhan. Selama ini kalangan medis secara umum, mendudukkan
penyakit sebagai musuh yang jahat, harus dilawan dan di perangi.
Islam menempatkan penyakit sebagai takdir Allah SWT. dan meyakini takdir
itu merupakan bagian rukun iman. Islam pasti memberi tuntunan yang komplit
terhadap orang sakit. Hampir setiap ibadah mahdah (ibadah yang sudah
ditentukan) pasti akan ada ketentuan khusus (pengecualian) bagi orang sakit,
misalnya wudhu, puasa, dan sholat bahkan ibadah haji sekalipun ada
keringanan bagi orang sakit.
Sakit seharusnya tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang membuat orang
menderita. Sakit adalah peringatan, sehingga seseorang akan makin giat
melakukan peribadatan sehari-hari bahkan meninggkat dari biasanya dengan
berdzikir, doa-doa, melakukan amaliah, atau bersedekah. Yang lebih penting,
orang menjadi tersadarkan betapa ajal itu sudah dekat atau sekurangkurangnya ingat bahwa ajal akan datang sewaktu-waktu.
Sakit adalah menentukan untuk menyadarkan seseorang hamba dia
hanyalah makhluk, dia itu hamba Allah. Tugas kitalah untuk mengingatkan,
kita sakitkan mau sembuh, mari kita datang kepada yang punya kesembuhan,

siapa? Kepada Allah SWT. Sebagai petugas kesehatan, kita juga memahami
bahwa rumus pengobatan tidak seperti matematika, tidak seperti mesin. Dua
orang menderita suatu penyakit yang secara diagnosis medis sama, diberikan
obat yang sama, tetapi mengapa yang satu sembuh, yang lain belum tentu
sembuh? Bahkan ada kasus lain lagi, seseorang yang tidak menerima
pengobatan seperti itu, tetapi kualitas agamanya diatas rata-rata dan ia
menjalani ibadah khusus, secara klinis dia
mengalami kesembuhan. Baru setelah pasien paham tentang dirinya, mengapa
dirinya sakit, siapa Allah, siapa yang memiliki kesembuhan dari penyakit,
baru

obat

boleh

diberikan. Tapi,

mari

kita

sama-sama

memohon

kesembuhannya dari Allah.


Disitulah doa-doa dipanjatkan dan disitulah saatnya bermohon, sementara
dia terus memperbaiki hubungan dengan Allah. Padahal sesungguhnya,
sekalipun dalam keadaan sehat, atau tanpa cobaan atau kesulitan lain,
seseorang wajib berdoa dan bersyukur kepada Allah atas segala kenikmatan,
kesehatan dan seluruh karunia yang telah Dia berikan.
Inilah satu sisi paling penting dari doa: Di samping berdoa dengan lisan
menggunakan suara, penting pula bagi seseorang melakukan segala upaya
untuk berdoa melalui perilakunya. Berdoa dengan perilaku bermakna
melakukan segala sesuatu yang mungkin untuk mencapai harapan tertentu.
Misalnya, di samping berdoa, seseorang yang sakit sepatutnya juga pergi ke
dokter ahli, menggunakan obat-obatan yang berkhasiat, dan menjalani
perawatan rumah sakit jika perlu, atau perawatan khusus dalam bentuk lain.
Sebab, Allah mengaitkan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini pada
sebab-sebab tertentu. Segala sesuatu di dunia dan di alam semesta terjadi
mengikuti sebab-sebab ini. Oleh karena itu, seseorang haruslah melakukan
segala hal yang diperlukan dalam kerangka sebab-sebab ini, sembari berharap
hasilnya dari Allah, dengan kerendahan diri, berserah diri dan bersabar,
dengan menyadari bahwa Dialah yang menentukan hasilnya.
Sebagaimana telah disebutkan, doa tidak semestinya hanya dilakukan untuk
menghilangkan penyakit, atau kesulitan-kesulitan duniawi lainnya. Orang
beriman yang sejati haruslah senantiasa berdoa kepada Allah dan menerima

apa pun yang datang dari-Nya. Kenyataan bahwa sejumlah manfaat doa yang
diwahyukan di dalam banyak ayat Al Quran kini sedang diakui kebenarannya
secara ilmiah, sekali lagi mengungkapkan keajaiban yang dimiliki Al Quran.
B. Mengingatkan Pasien Untuk Sholat
Selain memberikan asuhan keperawatan kepada pasien, seorang perawat
juga harus mampu memberi penjelasan kepada pasien terutama pasien yang
beragama islam, walaupun dia sedang sakit tapi tetap wajib untuk
melaksanakan ibadah sholat, karena ibadah bisa meringankan beban pikiran
maupun sakitnya. Kecuali pasien dalam keadaan tidak sadar atau koma.
Islam adalah agama mudah, tidak memberatkan. Oleh karena itu, jika dalam
sebab-sebab tertentu seperti sakit misalnya, sholat bisa dikerjakan secara
jama atau qashar.

Dan mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan mengerjakan


shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi
orang-orang yang khusyu. (Al-baqarah:45)
Ada 3 posisi sholat untuk orang sakit:
1.

Berdiri seperti biasa

2.

Duduk jika tak mampu berdiri

3.

Dan berbaring jika tak mampu berdiri atau duduk


Shalatlah kamu sambil berdiri, dan jika kamu tidak mampu, maka sambil
duduk, dan jika tidak mampu, maka dengan berbaring. (HR. Bukhari).

a) Orang Sakit Tetap Wajib Shalat


Tidak ada keringanan bagi orang yang sedang sakit untuk meninggalkan
shalat lima yang telah difardhukan Allah SWT. Kalau pun ada keringanan,
bukan untuk meninggalkan shalat, melainkan keringanan untuk tidak
melakkan gerakan-gerakan yang tidak mampu dilakukan.

Udzur yang dibenarkan sehingga seseorang benar-benar boleh


meninggalkan shalat terbatas pada hal-hal tertentu, antara lain udzur para
wanita yang mendapat darah haidh atau nifas.
Wanita yang mendapat haidh atau nifas. Mereka bukan hanya
dibolehkan untuk tidak mengerjakan shalat, bahkan haram hukumnya bila
mengerjakan shalat. Bila seorang wanita meninggalkan shalat karena haidh,
kewajiban shalatnya gugur secara total, dalam arti dia tidak perlu
menggantinya di hari lain.
Selain wanita haidh, orang yang diberi keringanan untuk menjama
shalat adalah orang yang untuk sementara waktu boleh tidak shalat. Namun
dia harus menggantinya di waktu lain, baik dalam format jama taqdim atau
pun jama takhir.
Namun orang yang menderita suatu penyakit, tidak diberi keringanan
untuk meninggalkan shalat, kecuali bila dia sama sekali tidak sadar atau
tidak mampu melakukannya meski sambil berbaring. Katakanlah orang
yang kena musibah kecelakan, saat terjadinya kecelakaan itu, tentu dia
harus segera mendapat pertolongan. Boleh jadi keadaannya setengah sadar
meski tidak pingsan, dimana saat itu nyaris mustahil baginya untuk
melaksanakan shalat.
Maka kalau pun dia tertinggal waktu shalat, bukan berarti kewajiban
shalatnya

menjadi

gugur.

Sebaliknya,

bila

keadaannya

telah

memungkinkan, maka dia wajib mengganti shalatnya yang luput itu dengan
shalat qadha.
b) Membimbing sholat
Setelah perawat mengkaji agama pasien, yang harus dilakukan adalah
menanyakan apakah pasien kita mampu melakukan ibadahnya . Jadi, tugas
kita disini adalah mendampingi pasien tersebut dan membantu segala
keterbatasan fisiknya. Tentu bantuan disini disesuaikan dengan agama
pasien dan bagaimana keadaan pasien sendiri. Apabila dia muslim maka:

Perawat hendaknya mengingatkan apabila waktu sholat telah datang.

Bukanlah menghadap wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu


kebajikan, tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah,
hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan yang
mendermakan harta-harta yang dicintai kepada kerabat, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, orang-orang dalam perjalanan, para peminta-minta,
dan (memerdekakan) hamba sahaya, menegakkan shalat dan menunaikan
zakat, dan orang-orang yang menepati janji apabila mereka berjanji, dan
orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam saat
peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. (QS.Al-Baqarah
: 177)

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa.


Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu (Al-Baqarah :
238)
c) Melakukan sebisanya
Seseorang yang sakit tetap diwajibkan untuk mendirikan shalat dengan
melakukan gerakan dan posisi-posisi shalat sebisa dan semampu yang dia
lakukan, meski pun tidak sampai sempurna.
Dalilnya adalah firman Allah SWT :


Dan bertaqwalah kepada Allah

semampu yang kamu bisa (QS. At

Taghabun : 16)

Dan juga sabda Rasulullah SAW :



Bila kalian diperintah untuk mengerjakan sesuatu, maka kerjakannya
semampu yang bisa kamu lakukan. (HR.Bukhari )

1. Tidak Mampu Berdiri


Berdiri merupakan rukun di dalam shalat fardhu, dimana seorang bila
meninggalkan salah satu dari rukun shalat, maka hukum shalatnya itu
tidak sah.
Namun bila seseorang karena penyakit yang dideritanya, dia tidak mampu
berdiri tegak, maka dia dibolehkan shalat dengan posisi duduk. Dasarnya
adalah hadits nabawi berikut ini :

: r

Dari Imran bin Hushain berkata, Aku menderita wasir, maka aku bertanya
kepada Rasulullah SAW. Beliau bersabda, Shalatlah sambil berdiri,
kalau tidak bisa, maka shalatlah sambil duduk. Kalau tidak bisa, shalatlah
di atas lambungmu. (HR. Bukhari)

2. Tidak Bisa Ruku


Sebagaimana kita ketahui bahwa ruku di dalam shalat adalah rukun
yang bila tidak dikerjakan, maka shalat itu tidak sah hukumnya. Di dalam
Al-Quran Allah SWT telah menetapkan :

Ruku lah dan sujudlah (QS. Al-Hajj : 77)
Dan alasan sakit membolehkan seseorang tidak melakukan gerakan ruku
yang seharusnya. Hanya saja para ulama agak sedikit berbeda tentang
posisi yang menggantikan ruku.
Menurut jumhur ulama, orang yang tidak bisa melakukan gerakan atau
berposisi ruku, dia harus berdiri tegak, lalu mengangguk kepala, namun
masih tetap berdiri.
Dasarnya adalah hadits berikut ini :

Berdirilah untuk Allah dengan Khusyu
Maksudnya, bila orang sakit tidak mampu melakukan gerakan ruku,
maka dia mengambil posisi dasar yaitu berdiri. Rukunya hanya dengan
mengangguk saja.
Namun menurut pendapat Al-Hanafiyah, orang yang tidak mampu
melakukan gerakan ruku, secara otomatis tidak lagi wajib melakukan
posisi berdiri. Sehingga dia shalat sambil duduk saja, rukunnya dengan
cara mengangguk dalam posisi duduk, bukan dari posisi berdiri.

3. Tidak Bisa Sujud


Posisi sujud adalah bagian dari rukun shalat yang apabila ditinggalkan
akan membuat shalat itu menjadi tidak sah. Sebagaimana ruku yang juga
merupakan rukun shalat, sujud juga diperintahkan di dalam Al-Quran.

Ruku lah dan sujudlah (QS. Al-Hajj : 77)
Namun orang yang sakit dan tidak mampu untuk melakukan gerakan
sujud, tentu tidak bisa dipaksa. Dia mendapatkan keringanan dari Allah
SWT untuk sebisa-bisanya melakukan sujud, meski tidak sempurna.
Orang yang bisa berdiri tapi tidak bisa sujud, dia cukup membungkuk
sedikit saja dengan badan masih dalam keadaan berdiri. Dia tidak boleh
berbaring, sambil menganggukkan kepala untuk sujud. Bila hal itu
dilakukannya malah akan membatalkan shalatnya.
Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW :





Bila kamu mampu untuk sujud di atas tanah, maka lakukanlah.
Namun bila tidak, maka anggukan kepala. Jadikan sujudmu lebih rendah
dari rukumu. (HR. Ath-Thabrani)
4. Tidak Bisa Menghadap Kiblat
Seseorang yang sedang menderita sakit tertentu sehingga tidak mampu
berdiri atau duduk, maka dia tetap wajib sholat dengan menghadap kiblat.
Namun caranya memang agak berbeda-beda di antara para ulama.
Sebagian mengatakan bahwa caranya dengan berbaring miring, posisi
bagian kanan tubuhnya ada di bawah dan bagian kiri tubuhnya di atas.
Mirip dengan posisi mayat yang masuk ke liang lahat.
10

Dalilnya karena dalam pandangan mereka, yang dimaksud dengan


menghadap kiblat harus dada dan bukan wajah. Maka intinya adalah
bagaimana dada itu bisa menghadap kiblat. Dan caranya dengan shalat
dengan posisi miring.
Dalil lainnya adalah sabda Rasulullah SAW sendiri yang memerintahkan
untuk shalat di atas lambung.
Dasarnya adalah hadits nabawi berikut ini :

: r

Dari Imran bin Hushain berkata,Aku menderita wasir, maka aku bertanya
kepada Rasulullah SAW. Beliau bersabda,Shalatlah sambil berdiri, kalau
tidak bisa, maka shalatlah sambil duduk. Kalau tidak bisa, shalatlah di
atas lambungmu. (HR. Bukhari)
Namun sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang menjadi ukuran
dalam menghadap kiblat adalah kaki, bukan dada. Asalkan kakinya sudah
menghadap kiblat, maka dianggap posisi badannya sudah memenuhi
syarat.
Maka orang yang sakit itu dalam posisi telentang dan kakinya membujur
ke arah kiblat.
Namun akan jauh lebih baik bila badannya bisa sedikit dinaikkan dan
bersender di bantal, karena baik dada mau pun kaki sama-sama bisa
menghadap kiblat. Umumnya ranjang di rumah sakit bisa ditinggikan di
bagian kepala, maka ranjang seperti ini tentu akan lebih baik lagi.
Adapun seseorang yang sakitnya amat parah sehingga tidak bisa lagi
menggerakkan badan atau menggeser posisinya agar menghadap ke kiblat,
dan juga tidak ada yang membantunya untuk menggeserkan posisi shalat
menghadap ke kiblat, maka dia boleh menghadap ke arah mana saja.

11

d) Orang Sakit Mengganti Shalat Yang Terlewat


Apabila karena alasan sakit seseorang terpaksa harus meninggalkan
shalat fardhu dari waktunya, maka hukumnya secara syariah tidak berarti
kewajiban shalat atasnya menjadi gugur.
Shalat fardhu lima waktu tetap menjadi kewajiban atasnya, hanya saja ketika
sakit dan tidak mampu dikerjakan, sementara tidak perlu dikerjakan.
Misalnya ketika seorang pasien sedang dioperasi yang membutuhkan waktu
panjang, dan tidak mungkin shalat-shalat itu dijamak sebelum atau
sesudahnya. Maka apabila selama masa operasi kedokteran itu pasien harus
meninggalkan beberapa waktu shalat, ada kewajiban untuk mengganti
shalat-shalat itu begitu nanti sudah mampu dilakukan.
Demikian juga para ulama sepakat bahwa orang yang pingsan, hukumnya
sama dengan orang yang tidur. Bila ada pasien berada dalam keadaan
pingsan atau koma, maka semua shalat fardhu yang ditinggalkannya itu
wajib diganti kalau sudah sehat.
e) Orang Sakit Menjama Shalat
Para ulama berbeda pendapat tentang kebolehan orang yang sedang sakit
untuk menjama shalatnya. Sebagian ulama tidak memperbolehkannya,
namun sebagian yang lain membolehkan adanya shalat jama bagi orang
yang sedang sakit.

1. Tidak Boleh Dijama


Mereka yang tidak membolehkan orang sakit untuk menjama shalat
di antaranya adalah mazhab Al-Hanafiyah dan Asy-Syafiiyah, serta
sebagian dari ulama dari mazhab Al-Malikiyah.
Dasarnya karena sama sekali tidak ada dalil apa pun dari Rasulullah
SAW yang membolehkan hal itu. Dan selama tidak ada dalil, maka kita

12

tidak boleh mengarang sendiri sebuah aturan tentang shalat. Sehingga


setiap orang yang sakit wajib menjalankan shalat sesuai dengan waktuwaktu shalat yang telah ditetapkan, dan tidak ada istilah untuk dijama.

2. Boleh Dijama
Imam Ahmad bin Hanbal membolehkan jama' karena disebabkan
sakit. Begitu juga Imam Malik dan sebagian pengikut Asy-Syafi'iyyah.
Sedangkan dalam kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah dari mazhab
Al-Hanabilah menuliskan bahwa sakit adalah hal yang membolehkan
jama' shalat. Syeikh Sayyid Sabiq menukil masalah ini dalam
Fiqhussunnah-nya.
Sedangkan

Al-Imam

menyebutkan

An-Nawawi

bahwa sebagian

dari

mazhab

Asy-Syafi'iyyah

imam berpendapat membolehkan

menjama' shalat saat mukim (tidak safar) karena keperluan tapi bukan
menjadi kebiasaan.
Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh Ibnu Sirin dan Asyhab dari
kalangan Al-Malikiyah. Begitu juga Al-Khattabi menceritakan dari AlQuffal dan Asysyasyi al-kabir dari kalangan Asy-Syafi'iyyah.
Begitu juga dengan Ibnul Munzir yang menguatkan pendapat
dibolehkannya jama' ini dengan perkataan Ibnu Abbas ra, beliau tidak
ingin memberatkan ummatnya.
Allah SWT berfirman :

Allah tidak menjadikan dalam agama ini kesulitan. (QS. Al-Hajj : 78)


13

Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak bagi orang pincang, tidak
bagi orang sakit. (QS. Annur : 61)
Mazhab Al-Hanabilah dan sebagian ulama dari kalangan mazhab AlMalikiyah berpendapat bahwa seorang yang sedang sakit diberi
keringanan untuk menjama dua shalat, baik jama taqdim atau pun jama
takhir.
Dalil lainnya adalah asumsi bahwa Nabi SAW pernah menjamak shalat di
Madinah, yang mana alasannya bukan karena safar, takut, hujan atau haji.
Maka asumsinya adalah karena sakit. Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu
bahwa Rasulullah SAW menjama' zhuhur, Ashar, Maghrib & Isya' di
Madinah meski tidak dalam keadaan takut maupun hujan. (HR. Muslim)
f) Orang Sakit Shalat Berjamaah
Shalat berjamaah sangat dianjurkan dalam syariah, karena keutamaannya
berbanding 27 derajat. Meski ada sementara kalangan yang mewajibkan
shalat berjamaah, namun jumhur ulama umumnya sepakat mengatakan
bahwa shalat berjamaah hukumnya adalah sunnah muakkadah.
Sedangkan melakukan shalat lima waktu hukumnya adalah fardhu ain
bagi tiap muslim. Bila shalat ditinggalkan, maka selain berdosa besar, juga
ada ancaman yang dahsyat di neraka nanti. Oleh karena itu, seseorang yang
sakit dan mendapat udzur tidak mampu melakukan shalat berjamaah, dia
dibolehkan

untuk

tidak

melakukannya.

Yang

penting,

dia

tidak

meninggalkan shalat lima yang menjadi kewajibannya.


1. Menjadi Makmum
Namun bila seseorang yang sedang menderita sakit tetap memaksakan
diri untuk bisa shalat berjamaah, dibolehkan hukumnya, asalkan dengan
syarat bahwa ikutnya dia dalam shalat berjamaah itu tidak menambah
parah penyakitnya, atau tidak malah membuat kesembuhannya menjadi
terhambat.
14

2. Tidak Menjadi Imam


Selain itu, seorang yang sakit tidak diperkenankan untuk menjadi imam,
karena ada banyak udzur yang bersifat darurat pada dirinya. Apabila
udzur itu terjadi pada orang sehat, boleh jadi shalatnya itu tidak sah.
Seorang yang tidak mampu berdiri tegak, tidak diperkenankan menjadi
imam bagi orang-orang yang sehat dan mampu berdiri. Dan orang yang
sehat, bila shalat di belakang orang yang sakit dengan tidak berdiri,
maka baginya shalat itu menjadi tidak sah. Kalau dia berdiri berarti
menyalahi imam yang shalatnya duduk. Tetapi kalau dia duduk, maka
dia menyalahi aturan shalat yang mengharuskan orang sehat shalat
dengan berdiri.
Demikian juga orang yang berpenyakit salasul-baul, yaitu tidak
bisa mengontrol untuk buang air kecil, sehingga dia selalu berada dalam
keadaan najis. Bila dia shalat sendiri, shalatnya sah. Namun bila dia
menjadi imam, shalat makmumnya menjadi tidak sah, karena
bermakmum kepada imam yang dalam ukuran makmum shalat itu tidak
sah.

C. Melatih Pasien Bertayamum


Tayammum secara bahasa diartikan sebagai Al Qosdu (
) yang


berarti maksud. Sedangkan secara istilah dalam syariat adalah sebuah
peribadatan kepada Allah berupa mengusap wajah dan kedua tangan dengan
menggunakan shoid yang bersih. Shoid adalah seluruh permukaan bumi
yang dapat digunakan untuk bertayammum baik yang terdapat tanah di
atasnya ataupun tidak.
Tayamum berarti menyapukan tanah (debu) ke wajah dan kedua tangan
sampai siku dengan beberapa syarat.

15

Tayamum ialah pengganti wudlu atau mandi, sebagai keringanan untuk


orang yang tidak dapat memakai airbkarena ada halangan, misalnya sakit yang
luar biasa pada badan yang mengakibatkan keparahan atau kematian.
a) Dalil Disyariatkannya Tayammum
Tayammum disyariatkan dalam islam berdasarkan dalil Al Quran, As
Sunnah dan Ijma (konsensus) kaum muslimin. Adapun dalil dari Al Quran
adalah firman Allah Azza wa Jalla,

atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau
berhubungan badan dengan perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air,
maka bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih);
sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. (QS. Al Maidah:6).
Adapun dalil dari As Sunnah adalah sabda Rasulullah shollallahu alaihi
was sallam dari sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyallahu anhu,
Dijadikan bagi kami (ummat Nabi Muhammad shollallahu alaihi was
sallam permukaan bumi sebagai thohur/sesuatu yang digunakan untuk
besuci (tayammum) jika kami tidak menjumpai air
b) Media yang dapat Digunakan untuk Tayammum
Media yang dapat digunakan untuk bertayammum adalah seluruh
permukaan bumi yang bersih baik itu berupa pasir, bebatuan, tanah yang
berair, lembab ataupun kering. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shollallahu

16

alaihi was sallam dari sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyallahu anhu
di atas dan secara khusus,


..


Dijadikan (permukaan,

pent.

) bumi seluruhnya bagiku (Nabi shollallahu

alaihi was sallam) dan ummatku sebagai tempat untuk sujud dan sesuatu
yang digunakan untuk bersuci
Jika ada orang yang mengatakan bukankah dalam sebuah hadits
Hudzaifah ibnul Yaman Nabi mengatakan tanah?! Maka kita katakan
sebagaimana yang dikatakan oleh Ash Shonani rohimahullah, Penyebutan
sebagian anggota lafadz umum bukanlah pengkhususan. Hal ini merupakan
pendapat Al Auzaai, Sufyan Ats Tsauri Imam Malik, Imam Abu Hanifah
demikian juga hal ini merupakan pendapat Al Amir Ashonani, Syaikh Al
Albani, Syaikh Abullah Alu Bassaam rohimahumullah-, Syaikh DR. Sholeh
bin Fauzan Al Fauzan dan Syaikh DR. Abdul Adzim bin Badawiy Al
Kholafiy hafidzahumallah.
Keadaan yang Dapat Menyebabkan Seseorang Bersuci dengan
Tayammum
Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan hafidzahullah menyebutkan
beberapa keadaan yang dapat menyebabkan seseorang bersuci dengan
tayammum,
1. Jika tidak ada air baik dalam keadaan safar/dalam perjalanan ataupun
tidak.
2. Terdapat air (dalam jumlah terbatas) bersamaan dengan adanya
kebutuhan lain yang memerlukan air tersebut semisal untuk minum dan
memasak.
a) Jika orang sakit khawatir bila menggunakan air sakitnya semakin
parah atau memperlambat kesembuhannya, atau anggota badannya

17

terluka, atau dalam keadaan dingin yang berlebihan sehinngga


hawatir

menambah

parah

situasi

yang

dialaminya

apabila

menggunakan air. Hal ini diperbolehkan berdasarkan firman Allah:


Hai

orang-orang

yang

beriman,

apabila

kamu

hendak

mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai


dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai
dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan
jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat
buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak
memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik
(bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah
tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan
kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu
bersyukur.
b) Ketidakmapuan menggunakan air untuk berwudhu dikarenakan sakit
dan tidak mampu bergerak untuk mengambil air wudhu dan tidak
adanya orang yang mampu membantu untuk berwudhu bersamaan
dengan kekhawatiran habisnya waktu sholat.
c) Khawatir kedinginan jika bersuci dengan air dan tidak adanya yang
dapat menghangatkan air tersebut. Berdasarkan hadits yang
diriwayatkan oleh Imam bukhari dan muslim dari abdurrahman bin
jubair yang artinya:
sewaktu Amr bin Ash diutus berperang Dzatus salasil, berkata:
saya bermimpi bersetubuh pada suatu malam yang sangat dingin,
saya takut tertimpa madharat kalau saya mandi. Karenanya
bertayammumlah saya beserta kawan-kawan untuk sembahyang
shubuh. Setelah kami datang kembali kepada Rasulullah pun
bersabda:hai Amr, engkau telah sembahyang dengan temantemanmu sedang engkau junub? aku berkata:aku ingat firman
Allah Azza wajalla,dan jangan engkau membunuh dirimu,
sesungguhnya Allah sangat menyayangi akan kamu, karenanya
saya bertayammum dan sembahyang. Maka tertawalah rasulullah
dan tidak mengatakan apa-apa lagi. (HR. Ahmad dan Abu Daud).
18

c) Tata Cara/Praktek Bertayammum


1. Membaca basmalah
2. Renggangkan jari-jemari, tempelkan ke debu, tekan-tekan hingga debu
melekat.
3. Angkat kedua tangan lalu tiup telapak tangan untuk menipiskan debu
yang menempel, tetapi tiup ke arah berlainan dari sumber debu tadi.
4. Niat tayamum: Nawaytuttayammuma listibaa hatishhalaati fardhollillahi
ta'aala (Saya niat tayammum untuk diperbolehkan melakukan shalat
karena Allah Ta'ala).
5. Mengusap telapak tangan ke muka secara merata.
6. Bersihkan debu yang tersisa di telapak tangan.
7. Ambil debu lagi dengan merenggangkan jari-jemar, tempelkan ke debu,
tekan-tekan hingga melekat
8. Angkat kedua tangan lalu tiup telapak tangan untuk menipiskan debu
yang menempel, tetapi tiup ke arah berlainan dari sumber debu tadi.
9. Mengusap debu ke tangan kanan lalu ke tangan kiri

d) Niat Tayammum Dan Tata Cara Bertayammum Yang Benar


Tayammum adalah mengusap muka dan dua belah tangan dengan debu
atau tanah yang suci. Pada suatu waktu tayamum bisa jadi pengganti wudhu
dan mandi dengasn syarat-sayarat tertentu. Lalu bagaimana melakukan
tayamum yang benar? Untuk melakukan tayammum yang benar Kita
haruslah mengetahui niat tayammum dan tata cara bertayammum yang
benar. Ada beberapa hal yang patut di ketahui diantaranya :
1.

Memukulkan dua telapak tangan ke tanah/ debu dengan sekali pukulan

19

Dalam hal ini Ulama berbeda pendapat dalam masalah cukup tidaknya
bertayammum dengan sekali pukulan ke permukaan bumi. Di antara
mereka ada yang berpendapat cukup sekali, tidak lebih, sebagaimana
disebutkan dalam hadits Ammar di atas. Demikian pendapat Al-Imam
Ahmad, Atha`, Makhul, Al-Auzai, Ishaq, Ibnul Mundzir dan mayoritas
ahlul hadits. Demikian juga pendapat ini adalah pendapat jumhur ahli
ilmi. Sedangkan pendapat yang mengatakan dua kali pukulan ke tanah
seperti pendapat kebanyakan fuqaha dengan bersandar hadits Ibnu
Umar dari Rasulullah:Tayammum itu dua kali pukulan, sekali untuk
wajah dan sekali untuk kedua tangan sampai siku. (HR. AdDaraquthni). Namun para imam menghukumi hadits ini mauquf terhadap
Ibnu Umar. Demikian pernyataan Ibnul Qaththan, Husyaim, AdDaraquthni, dan yang lainnya.
2. Meniup atau mengibaskan tanah/debu yang menempel pada dua telapak
tangan tersebut.
3.

Mengusap wajah terlebih dahulu, lalu mengusap kedua telapak tangan,


bagian dalam maupun luarnya. Ataupun mengusap telapak tangan dahulu
baru setelahnya mengusap wajah. Dalam ihyaulumuddin disebutkan
dalam mengusap wajah tidak diwajibkan menyampaikan debu itu pada
tempat-tempat tumbuhnya rambut cukup meratakan debu itu pada kulit
wajah yang dapat dicakup kedua telapak tangan

e) Cara tayammum untuk bagian luka


Apabila terdapat luka yang di balut, maka melakukan tayammum dan
menyapu balut luka tersebut dengan sisa badan yang tidak terbalut dan
mestinya terkena air, dikenai air. Cara ini didasarkan pada hadits riwayat abu
daud dari jabir bin Abdullah, ia berkata:
Artinya: bahwasanya seorang laki-laki pecah kepalanya, ia mandi, ia pun
mati untuk itu nabi pun bersabda:sesungguhnya cukup baginya
bertayammum dan membalut lukanya, kemudian menyapu atas balutannya
itu dan membasuh semua anggota yang lain. (HR. Abu Daud).[20]
f) Satu tayammum untuk satu sholat
Satu tayammum hanya untuk satu sholat, sehingga tiap-tiap
melakukan sembahyang melakukan tayammum lebih dahulu. Hal ini
20

berdasarkan hadits nabi yang diriwayatkan oleh ad daruquthni dari ibnu


abbas. Ibnu abbas berkata:
Artinya:menurut sunnah, tidaklah boleh seseorang sembahyang dengan
tayammum, selain dari satu sembahyang saja, kemudian ia bertayammum
lagi untuk sembahyang yang lain, (HR. Ad Daruquthni).
Dalam kitab mutiara ihyaulumuddin dijelaskan, tayammum hanya
boleh untuk satu shalat fardhu dan boleh melakukan shalat sunnah
berapapun yang di kehendaki.
g) Syarat-syarat tayammum
1. Tidak ada air dan sudah berusaha mencarinya, tetapi tidak ketemu
2. berhalangan menggunakan air, seperti sedang sakit, apabila terkena air
penyakitnya akan bertambah parah
3. Telah masuk waktu Shalat
4. Dengan tanah atau debu yang suci
h) Fardu Tayammum

1) Niat dalam hati (untuk shalat) Lafadz niat Tayammum adalah :


Nawaitut-tayammuma li istibaahatish-shaalati fardhal lillahi ta'aalaa.
Kemudian meletakan kedua belah telapak tangan diatas debu untuk
diusapkan ke muka.
2) Mengusap muka dengan telapak tangan dengan dua kali usapan
3) Mengusap dua belah tangan hingga siku-siku dengan tanah atau debu
dua kali

i) Sunnah Tayammum
1) Membaca basmalah (Bismillaahir-rahmaanir-rahiim)
2) Mendahulukan anggota yang kanan dari pada yang kiri
3) Menipiskan debu

21

4) Menghadap kiblat
5) Membaca doa ketika selesai tayammum
6) menggosok sela jari setelah menyapu tangan hingga siku
j) Perkara yanga membatalkan Tayammum
1) Segala hal yang membatalkan wudhu
2) Murtad, keluar dari Islam
3) Apabila orang yang bertayammum dan mendapatkan air sebelum ia
mengerjakan sembahyang maka ia harus berwudhu baru sembahyang.
Dalam hal ini timbul perbedaan pendapat fuqaha, bila didapati air selesai
sembahyang. Perbedaan pendapat timbul dalam memahami hadits yang
diriwayatkan oleh imam ahmad dan at-tirmidzi dari abu dzar berkata abu
dzar:
Artinya:nabi SAW bersabda:bahwasanya tanah itu alat bersuci
bagi orang islam, walaupun sepuluh tahun lamanya ia tidak mendapatkan
air. Maka apabila ia mendapatkan air hendaknya ia kenakan badannya
dengan air itu, karena yang demikian itu lebih baik. (HR.Ahmad dan Attirmidzi).
k) Hukum Melihat Air Bagi Orang Yang Tayammum
a. Jika ada air setelah bertayammum tetapi sholat belum dikerjakan, maka
ia wajib berwudhu.
b. Pada waktu sedang sholat kemudian terdapat air sholatnya harus di
lanjutkan seperti bagi orang musyafir dan sholatnya tidak batal.
c. Jika telah selesai melaksanakan sholat baru ada air sementara, waktu
sholat masih ada, maka boleh mengulang sholat dengan berwudhu, dan
boleh pula tidak mengulanginya.
d. Jika air ada setelah sholat dikerjakan dan waktu sholat telah habis, maka
sholat tidak perlu di ulangi, karena sholatnya sudah sah.
D. Melatih Pasien Cara Sholat Dengan Duduk Dan Tidur
Setelah perawat mengkaji agama pasien, yang harus dilakukan adalah
menanyakan apakah pasien kita mampu melakukan ibadahnya . Jadi, tugas
kita disini adalah mendampingi pasien tersebut dan membantu segala
keterbatasan fisiknya. Tentu bantuan disini disesuaikan dengan agama pasien
dan bagaimana

22

keadaan pasien sendiri. Apabila dia muslim maka, Perawat hendaknya


mengingatkan apabila waktu sholat telah datang.
1. Tata Cara Shalat Bagi Orang Yang Sakit
Tata cara shalat bagi orang sakit adalah sebagai berikut:
a) Diwajibkan bagi orang yang sakit untuk shalat dengan berdiri apabila
mampu dan tidak khawatir sakitnya bertambah parah, karena berdiri
dalam shalat wajib merupakan rukun shalat. Allah azza wa jalla
berfirman:

Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu (QS. AlBaqarah: 238)
Diwajibkan juga bagi orang yang mampu berdiri walaupun dengan
menggunakan tongkat, bersandar ke tembok atau berpegangan tiang,
berdasarkan hadits Ummu Qais radliyallahuanha yang berbunyi:
Sesungguhnya Rasulullah shallallahualaihi wa sallam ketika berusia
lanjut dan lemah, beliau memasang tiang di tempat shalatnya sebagai
sandaran. (HR. Abu Dawud dan dishahihkan al-Albani dalam
Silsilah ash-Shahihah 319)
Demikian

juga

orang

bungkuk

diwajibkan

berdiri

walaupun

keadaannya seperti orang rukuk. Syaikh ibnu Utsaimin rahimahullah


berkata,
Diwajibkan berdiri bagi seorang dalam segala caranya, walaupun
menyerupai orang ruku atau bersandar kepada tongkat, tembok,
tiang, ataupun manusia.
b) Orang yang mampu berdiri namun tidak mampu ruku atau sujud, ia
tetap wajib berdiri. Ia harus shalat dengan berdiri dan melakukan ruku
dengan

menundukkan

badannya.

Bila

ia

tidak

mampu

membungkukkan punggungnya sama sekali, maka cukup dengan


menundukkan lehernya, kemudian duduk, lalu menundukkan badan
untuk sujud dalam keadaan duduk dengan mendekatkan wajahnya ke
tanah sebisa mungkin.

23

c) Orang sakit yang tidak mampu berdiri, maka ia melakukan shalatnya


dengan duduk, berdasarkan hadits Imron bin Hushain dan ijma para
ulama. Ibnu Qudamah rahimahullah menyatakan, Para ulama terlah
berijma bahwa orang yang tidak mampu shalat berdiri maka dibolehkan
shalat dengan duduk.

d) Orang yang sakit yang khawatir akan bertambah parah sakitnya atau
memperlambat kesembuhannya atau sangat susah berdiri, diperbolehkan
shalat dengan duduk. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: Yang
benar

adalah,

kesulitan

(masyaqqah)

membolehkan

seseorang

mengerjakan shalat dengan duduk. Apabila seorang merasa susah


mengerjakan shalat berdiri, maka ia boleh mengerjakan shalat dengan
duduk berdasarkan firman Allah subhanahu wa taala:
..
.
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki
kesukaran bagimu (QS. Al-Baqarah:185)

24

Sebagaimana orang yang berat berpuasa bagi orang yang sakit,


walaupun masih mampu puasa, diperbolehkan baginya berbuka dan
tidak berpuasa, demikian juga shalat, apabila berat untuk berdiri maka
boleh mengerjakan shalat dengan duduk. Orang yang sakit apabila
mengerjakan shalat dengan duduk sebaiknya duduk bersila pada posisi
berdirinya, berdasarkan hadits Aisyah radliyallahuanha yang berbunyi:
Aku melihat Nabi shallallahualaihi wa sallam shalat dengan
bersila.
Juga, karena duduk bersila secara umum lebih mudah dan lebih
tumaninah (tenang) daripada duduk iftirasy.
Apabila

rukuk,

maka

lakukanlah

dengan

bersila

dengan

membungkukkan punggung dan meletakkan tangan di lutut, karena ruku


dilakukan dengan berdiri
Dalam keadaan demikian, masih diwajibkan sujud diatas tanah
dengan dasar keumumam hadits Ibnu Abbas radliyallahuanhu yang
berbunyi:
Sesungguhnya Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bersabda:
Aku diperintahkan untuk bersujud dengan tujuh tulang; dahi beliau
mengisyaratkan dengan tangannya ke hidung-, kedua telapak tangan, dua
kaki dan ujung kedua telapak kaki. (Muttafaqqun aalaihi).
Bila tetap tidak mampu, ia melakukan sujud dengan meletakkan
kedua telapak tangannya ke tanah dan menunduk untuk sujud. Bila tidak
mampu, hendaknya ia meletakkan tangannya di lututnya dan
menundukkan kepalanya lebih rendah dari pada ketika ruku.
e) Orang sakit yang tidak mampu melakukan shalat berdiri dan duduk, cara
melakukannya adalah dengan cara berbaring, boleh dengan miring ke
kanan atau ke kiri, dengan menghadapkan wajahnya ke arah kiblat. Ini

25

berdasarkan sabda Rasulullah shallallahualaihi wa sallam dalam hadits


Imran bin al-Husain radliyallahuanhu:
Shalatlah dengan berdiri, apabila tidak mampu maka duduklah dan
bila tidak mampu juga maka berbaringlah. (HR. Al-Bukhori no.1117)

Dalam hadits ini Nabi shallallahualaihi wa sallam tidak menjelaskan


pada sisi mana seseorang harus berbaring, ke kanan atau ke kiri, sehingga
yang utama adalah yang termudah bagi keduanya. Apabila miring ke
kanan lebih mudah, itu yang lebih utama baginya dan apabila miring ke
kiri itu yang termudah maka itu yang lebih utama. Namun bila keduaduanya sama mudahnya, maka miring ke kanan lebih utama dengan dasar
keumuman hadits Aisyah radliyallahuanha yang berbunyi:
Dahulu

Rasulullah

shallallahualaihi

wa

sallam

menyukai

mendahulukan sebelah kanan dalam seluruh urusannya, dalam memakai


sandal, menyisir dan bersucinya. (HR. Muslim no.396).
Melakukan ruku dan sujud dengan isyarat merendahkan kepala ke
dada, ketentuannya, sujud lebih rendah daripada ruku. Apabila tidak
mampu menggerakkan kepalanya, maka para ulama berbeda pendapat
dalam tiga pendapat:
f) Melakukannya dengan mata. Apabila ruku, ia memejamkan matanya
sedikit kemudian mengucapkan kata samiallahu liman hamidah lalu
membuka matanya. Apabila sujud maka memejamkan matanya lebih
dalam.
g) Gugur semua gerakan namun masih melakukan shalat dengan perkataan.

26

h) Gugur kewajiban shalatnya. Inilah adalah pendapat yang dirajihkan


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah
merajihkan pendapat kedua dengan menyatakan, Yang rajih dari tiga
pendapat tersebut adalah gugurnya perbuatan saja, karena ini saja yang
tidak mampu dilakukan. Sedangkan perkataan, tetap tidak gugur, karena ia
mampu melakukannya dan Allah berfirman:

Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu (QS.


At-Taghobun: 16)

i) Orang yang tidak mampu berbaring, boleh melakukan shalat dengan


terlentang dan menghadapkan kakinya ke arah kiblat, karena hal ini lebih
dekat kepada cara berdiri. Misalnya bila kiblatnya arah barat maka letak
kepalanya di sebelah timur dan kakinya di arah barat.
j) Apabila tidak mampu menghadap kiblat dan tidak ada yang mengarahkan
atau membantu mengarahkannya, maka hendaklah ia shalat sesuai
keadaannya tersebut, berdasarkan firman Allah subhanahu wa taala:

Allah

tidak

membebani

seseorang

melainkan

sesuai

dengan

kesanggupannya (QS. Al-Baqarah/ 2:286).


k) Orang sakit yang tidak mampu shalat dengan terlentang maka shalatnya
sesuai keadaannya dengan dasar firman Allah subhanahu wa taala:

27

Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu (QS.


At-Taghobun: 16)
l) Orang yang sakit dan tidak mampu melakukan shalat dengan semua
gerakan di atas (ia tidak mampu menggerakkan anggota tubuhnya dan
tidak mampu juga dengan matanya), hendaknya dia melakukan shalat
dengan hatinya. Shalat tetap diwajibkan selama akal seorang masih sehat.
m) Apabila shalat orang yang sakit mampu melakukan perbuatan yang
sebelumnya tidak mampu, baik keadaan berdiri, ruku atau sujud, maka ia
wajib melaksanakan shalatnya dengan kemampuan yang ada dan
menyempurnakan yang tersisa. Ia tidak perlu mengulang yang telah lalu,
karena yang telah lalu dari shalat tersebut telah sah.

n) Apabila orang yang sakit tidak mampu melakukan sujud di atas tanah,
hendaknya ia cukup menundukkan kepalanya dan tidak mengambil
sesuatu

sebagai

alas

sujud.

Hal

ini

didasarkan

hadits

Jabir

radliyallahuanhu yang berbunyi:

28

Rasulullah

shallallahualaihi

wa

sallam

menjenguk

orang

sakit,

beliau melihatnya sedang mengerjakan shalat di atas (bertelekan) bantal, beliau


pun mengambil dan melemparnya. Kemudian ia mengambil kayu untuk dijadikan
alas shalatnya, Nabi shallallahualaihi wa sallam pun mengambilnya dan
melemparnya. Beliau shallallahualaihi wa sallam bersabda: Shalatlah di atas
tanah apabila engkau mampu dan bila tidak maka dengan isyarat dengan
menunduk (al-Imaa) dan jadikan sujudmu lebih rendah dari rukumu.

BAB 3
PENUTUP
A. Kesimpulan
Peranan perawat tidak sebatas memberikan pengobatan secara fisik
melainkan juga pengobatan psikis (kejiwaan) pasien. Diyakini, dengan dibantu
oleh terapi secara psikis akan lebih membantu kesembuhan pasien karena
kondisi kejiwaannya lebih tenang.
kedudukan perawat amat penting, karena satu-satunya tenaga kesehatan
yang secara 24 jam dituntut untuk selalu di samping pasien. Kebutuhan dasar
manusia dalam pandangan keperawatan meliputi biologi, psikis, sosial, dan
spiritual hingga funcgsi perawat untuk membantu pasien. Dalam menjalankan

29

tugas, seorang perawat harus melandasi kepada pikiran dan perasaan cinta,
afeksi, dan komitmen mendalam kepada pasiennya.
B. Saran
Sebagai seorang perawat yang professional, kita tidak hanya dituntun mahir
dalam hal memberikan asuhan keperawatan secara biologis, psikologis, sosial,
tetapi juga harus mampu memberikan asuhan keperawatan kepada pasien
secara spiritual.

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Agama RI. 2005. AL-Quran Dan Terjemahannya, Bandung: PT
Syamil Media Cipta
Rokhman Saleh, Nanang. Maimunah, Siti. 2012. Tuntunan Ibadah Pasien.
Surabaya: Amantra
Shihab, M. Quraish. 1998. Wawasan Al-Quran Tafsir MaudhuI Atas Barbagai
Persoalan Umat, Bandung: Penerbit Mizan

30