Anda di halaman 1dari 12

Tindakan Malpraktek yang Menyebabkan Kematian Akibat Syok Anafilaktik

Pamela Vasikha
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana NIM 102013407
Jl. Arjuna Utara no. 16 Jakarta Barat
Pamelavasikha@yahoo.com

Pendahuluan
Skenario 8, dr. A seorang dokter umum yang sedang praktek di tempat praktek
pribadinya, didatangi oleh pasiennya seorang lelaki muda yang datang dengan keluhan batuk.
Setelah melakukan pemeriksaan lengkap, dokter mendiagnosis TBC. Dr. A memberikan resep
dan menyarankan pasien untuk disuntik. Dr. A menjelaskan bahwa ia akan memberikan suntikan
streptomisin, dan pasien setuju untuk disuntik di daerah bokong. Tidak lama setelah disuntik
pasien tersebut mengeluh pusing dan pandangannya gelap dan tak lama kemudian tidak sadarkan
diri. Lalu dr. A memeriksa tekanan darah pasien 80/50 mmHg dan nadi lemah 150x/menit. Dr. A
langsung menelpon ambulans dan karena panik dr. A tidak tahu apa yang harus ia perbuat.
Setibanya ambulans di tempat praktek dr. A, pasiennya ternyata sudah meninggal.
Kesehatan merupakan kebutuhan pokok manusia selain sandang, pangan, papan. Tanpa
hidup yang sehat, hidup manusia menjadi tanpa arti, sebab dalam keadaan sakit, manusia
mungkin tidak dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan baik atau seperti keadaan yang
normal.1
Di dalam pelaksanaan tindakan pelayanan kesehatan, tenaga medis yaitu dokter maupun
perawat tidak menutup kemungkinan terjadi suatu kesalahan ataupun kelalaian. Kesalahan
ataupun kelalaian yang dilakukan dokter dalam melakukan tugas profesinya dapat berakibat fatal
baik terhadap badan maupun jiwa dari pasiennya (dalam istilah medis / hukum kejadian ini
disebut malpraktek) dan hal ini tentu saja sangat merugikan bagi pihak pasien sebagai korban
malpraktek.1
Hingga saat ini masyarakat masih sering beranggapan keliru bahwa tindakan medis yang
menimbulkan kerugian dapat dikategorikan sebagai malpraktek medis.2

Kejadian Tidak Diinginkan


Insiden keselamatan pasien adalah setiap kejadian yang tidak disengaja dan tidak
diharapkan, yang dapat mengakibatkan atau berpotensi menjadi cedera. Insiden keselamatan
pasien meliputi Kejadian yang Tidak Diharapkan (KTD) atau adverse event, Kejadian Nyaris
Cidera (KNC) atau near miss, Kejadian Tidak Cidera (KTC), Kondisi Potensial Cidera (KPC)
dan Kejadian Sentinel (KS) atau sentinel event.3

Sekalipun dokter telah berupaya sebaik mungkin, adakalanya hasil pengobatan tidak
sesuai dengan harapan pasien ataupun dokter, ketidakberhasilan itu dapat berupa antara lain
timbulnya nyeri kronik, kecacatan, koma atau bahkan kematian. Kejadian tidak diharapkan
(KTD) / adverse event dapat dikelompokkan sebagai berikut:4
1.
Perjalanan penyakit yang tidak dapat dihentikan misal karena keganasan atau
stadium yang sudah lanjut; atau karena komplikasi penyakit yang terjadi kemudian.
2.
Merupakan risiko yang tidak dapat diketahui atau dibayangkan sebelumnya
(unforeseeable risk) = resiko seperti ini dimungkinkan dalam ilmu kedokteran karena
sifat ilmu yang empiris dan sifat tubuh manusia yang sangat bervariasi serta rentan
terhadap pengaruh oleh factor eksternal, sebagai contoh salah satunya adalah syok
anafilaktik, perdarahan pasca operasi.
3.
Merupakan risiko yang sudah dapat diketahui namun dapat diterima oleh pasien
(foreseeable but accepted)
4.
Akibat dari kegagalan dokter melaksanakan pelayanan yang layak (reasonable
care) dalam melaksanakan tugas profesionalnya, tanpa alasan yang dapat dibenarkan.

Syok Anafilaktik
Anafilaktik adalah reaksi hipersensitivitas generalisata atau sistemik yang beronset cepat,
serius, dan mengancam. Jika reaksi tersebut cukup hebat, dapat menimbulkan syok yang disebut
dengan syok anafilaktik. Syok anafilaktik merupakan salah satu manifestasi klinis dari
anafilaktik yang ditandai dengan adanya hipotensi yang nyata dan kolaps sirkulasi darah. Istilah
syok anafilaktik menunjukkan derajat kegawatan, tetapi terlalu sempit untuk menggambarkan
anafilaksis secara keseluruhan karena anafilaksis yang berat dapat terjadi tanpa adanya hipotensi,
dimana obstruksi saluran napas merupakan gejala utamanya.5,6
Diagnosis anafilaksis dapat ditegakkan berdasarkan adanya gejala klinik sistematik yang
muncul beberapa detik ataupun menit setelah pasien terpajan oleh alergen atau faktor yang
mencetusnya. Gejala yang timbul dapat ringan seperti pruritus atau urtikaria sampai kepada
gagal napas atau syok anafilaktik yang mematikan. Tetapi kadang-kadang gejala anafilaksis yang
berat seperti syok anafilaktik atau gagal napas dapat langsung muncul tanpa tanda-tanda awal.6

Tabel 1.1 Gejala dan Tanda Anafilaksis Berdasarkan Organ Sasaran6


Sistem
Umum

Gejala dan Tanda


Lesu, lemah, rasa tak enak yang sukar
dilukiskan, rasa tidak enak di dada dan perut,
rasa gatal di hidung dan palatum

Pernapasan
2

Hidung
Laring

- Lidah
- Bronkus
Kardiovaskular

Gastrointestinal

Kulit
Mata
Susunan Saraf Pusat

Hidung gatal, bersin, dan tersumbat


Rasa tercekik, suara serak, sesak napas,
stridor, edema, spasme
Edema
Batuk, sesak, mengi, spasme
Pingsan, sinkop, palpitasi, takikardia,
hipotensi sampai syok, aritmia.
Kelainan EKG: gelombang T datar dan
terbalik, atau tanda-tanda miokard infark
Disfagia, mual, muntah, kolik, diare yang
kadang-kadang disertai darah, peristaltik usus
meninggi
Urtika, angioedema di bibir, muka, atau
ekstremitas
Gatal, lakrimasi
Gelisah, kejang

Gejala-gejala di atas dapat timbul pada satu organ saja, tetapi dapat pula muncul gejala
pada beberapa organ secara serentak atau hampir serentak. Kombinasi gejala yang sering
dijumpai adalah urtikaria atau angioedema yang disertai gangguan pernapasan baik karena
edema laring atau spasme bronkus. Kadang-kadang didapatkan kombinasi urtikaria dengan
gangguan kardiovaskular seperti syok yang berat sampai terjadi penurunan kesadaran. Setiap
menifestasi sistem kardiovaskular, kulit, atau pernapasan juga bisa disertai gejala mual, muntah,
kolik usus, diare yang berdarah, kejang uterus atau perdarahan vagina.6
Syok anafilaktik terjadi setelah pajanan antigen terhadap system imun yang menghasilkan
degranulasi sel mast dan pelepasan mediator. Aktivasi sel mast dapat terjadi baik oleh jalur yang
dimediasi immunoglobulin E (IgE) (anafilaktik) maupun yang tidak dimediasi IgE (anafilaktoid).
Pencetus syok anafilaktik meliputi gigitan atau sengatan serangga, obat-obatan dan makanan;
anafilaksis dapat juga bersifat idiopatik. Mediator radang meliputi histamine, leukotriene,
triptase, dan prostaglandin. Bila dilepaskan, mediator menyebabkan peningkatan sekresi mucus,
peningkatan tonus otot polos bronkus, edema saluran napas, penurunan tonus vascular, dan
kebocoran kapiler. Konstelasi mekanisme tersebut menyebabkan gangguan pernapasan dan
kolaps kardiovaskular.7

Tabel 1.2 Obat Pencetus Anafilaksis6


Anafilaktik (melalui IgE)
Anafilaktoid (tidak melalui IgE)
Antibiotik (penisilin, sefalosporin)
Zat penglepas histamin secara langsung:
Ekstrak allergen (bisa tawon, polen)
- Obat (opiat, vankomisin, kurare)
Obat (glukokortikoid, thiopental, suksinilkolin)
- Cairan hipertonik (media radiokontras,
manitol)
Enzim ( kemopapain, tripsin)
- Obat lain (dekstran, fluoresens)
3

Serum heterolog (antitoksin tetanus, globulin


antilimfosit)
Protein manusia (insulin, vasopressin, serum)

Aktivasi komplemen:
-

Protein manusia (immunoglobulin,


produk darah lainnya)
- Bahan dialysis
Modulasi metabolism asam arakidonat
- Asam asetilsalisilat
- Antiinflamasi nonsteroid

Penatalaksanaan / SOP Syok Anafilaktik


Penanggulangan syok anafilaktik memerlukan tindakan cepat sebab penderita berada
dalam keadaan gawat. Sebenarnya pengobatan syok anafilaktik tidaklah sulit asal tersedia obatobat emergensi dan alat bantu resusitasi gawat darurat serta dilakukan secepat mungkin. Kalau
terjadi komplikasi syok anafilaktik setelah kemasukan obat atau zat kimia, baik peroral maupun
parenteral, maka tindakan yang perlu dilakukan yaitu:8
Segera baringkan penderita pada alas yang keras. Kaki diangkat lebih tinggi dari kepala
untuk meningkatkan aliran darah balik vena, dalam usaha memperbaiki curah jantung dan
menaikkan tekanan darah.
Segera berikan adrenalin 0,3 0,5 mg larutan 1:1000 untuk penderita dewasa atau 0,01
g/kgBB untuk penderita anak-anak, i.m. Pemberian ini dapat diulang tiap 15 menit sampai
keadaan membaik. Beberapa penulis menganjurkan pemberian infus kontinyu adrenalin 24g/menit.
Dalam hal terjadi spasme bronkus dimana pemberian adrenalin kurang memberi
respons, dapat ditambahkan aminofilin 5 6 mg/kgBB i.v dosis awal yang diteruskan 0,4-0,9
mg/kgBB/ menit dalam cairan infus.
Dapat diberikan kortikosteroid, misalnya hidrokortison 100mg atau deksametason 510mg intravena sebagai terapi penunjang untuk mengatasi efek lanjut dari syok anafilaktik atau
syok yang membandel.
Penilaian A, B, C dari tahapan resusitasi jantung paru, yaitu:
-

Airway penilaian jalan napas = jalan napas harus dijaga tetap bebas, tidak
ada sumbatan sama sekali. Untuk penderita yang tidak sadar, posisi kepala dan
leher diatur agar lidah tidak jatuh ke belakang menutupi jalan napas, yaitu
dengan melakukan ekstensi kepala, tarik mandibula ke depan dan buka mulut.
Breathing support = segera memberikan bantuan napas buatan bila tidak ada
tanda-tanda bernapas, baik melalui mulut ke mulut atau mulut ke hidung. Pada
syok anafilaktik yang disertai udem laring, dapat mengakibatkan terjadinya
obstruksi jalan napas total atau parsial. Penderita yang mengalami sumbatan
jalan napas parsial, selain ditolong dengan obat-obatan, juga harus diberikan
4

bantuan napas dan oksigen. Penderita dengan sumbatan jalan napas total,
harus segera ditolong dengan lebih aktif, melalui intubasi endotrakea,
krikotirotomi, atau trakeotomi.
Circulation support = bila tidak teraba nadi pada arteri besar (arteri karotis
atau arteri femoralis) segera lakukan kompresi jantung luar.

Penilaian A, B, C ini merupakan penilaian terhadap kebutuhan bantuan hidup


dasar yang penatalaksanaannya sesuai dengan protocol resusitasi jantung paru.

Bila tekanan darah tetap rendah, diperlukan pemasangan jalur i.v untuk koreksi
hypovolemia akibat kehilangan cairan ke ruang ekstravaskular sebagai tujuan utama dalam
mengatasi syok anafilaktik. Pemberian cairan akan meningkatkan tekanan darah dan curah
jantung serta mengatasi asidosis laktat. Pemilihan jenis cairan antara larutan kristaloid dan koloid
tetap merupakan perdebatan didasarkan atas keuntungan dan kerugian mengingat terjadinya
peningkatan permeabilitas atau kebocoran kapiler. Pada dasarnya, bila memberikan larutan
kristaloid, maka diperlukan jumlah 3-4x dari perkiraan kekurangan volume plasma. Biasanya
pada syok anafilaktik berat diperkirakan terdapat kehilangan cairan 20-40% dari volume plasma.
Sedangkan bila diberikan larutan koloid, dapat diberikan dengan jumlah yang sama dengan
perkiraan kehilangan volume plasma. Tetapi perlu dipikirkan juga bahwa larutan koloid plasma
protein atau dextran juga bisa melepaskan histamin.
Dalam keadaan darurat, sangat tidak bijaksana bila penderita syok anafilaktik dikirim ke
rumah sakit, karena dapat meninggal dalam perjalanan. Kalau terpaksa dilakukan, maka
penanganan penderita di tempat kejadian sudah harus semaksimal mungkin sesuai dengan
fasilitas yang tersedia dan transportasi penderita harus dikawal oleh dokter. Posisi waktu dibawa
harus tetap dalam posisi telentang dengan kaki lebih tinggi dari jantung.
Kalau syok sudah teratasi, penderita dengan cepat-cepat dipulangkan, tetapi harus
diawasi / diobeservasi dulu selama kurang lebih 4 jam. Sedangkan penderita yang telah
mendapat terapi adrenalin lebih dari 2-3x suntikan harus dirawat di rumah sakit semalam untuk
observasi.

Malpraktek
Malpraktek kedokteran adalah sebuah proses yang melibatkan kesalahan prosedur
penanganan seorang pasien yang dilakukan oleh dokter. Kesalahan yang dimaksud diantaranya
adalah kesalahan pada diagnose, kesalahan pemberian obat, kesalahan pemberian terapi atau
kesalahan penanganan pasien oleh dokter. Dalam semua kasus malpraktek kedokteran, pasien
tentu adalah pihak yang dirugikan. Kerugian yang ditanggung tidak hanya secara materil, namun
lebih dari itu bisa saja berupa kerugian secara kejiwaan dan mental pasien beserta keluarga.9
5

Menurut John D Blum, medical malpractice dapat dirumuskan sebagai a form of


professional negligence in which miserable injury occurs to a plaintiff patient as the direct result
of an act or omission by the defendant practioner (malpraktek medik merupakan bentuk
kelalaian profesi dalam bentuk luka atau cacat yang dapat diukur yang terjadinya pada pasien
yang mengajukan gugatan sebagai akibat langsung dari tindakan dokter).9
Sedangkan berdasarkan Black Law Dictionary, malpraktek dirumuskan sebagai any
professional misconduct, unreasonable lack of skill or fidelity in professional or judiacry duties,
evil practice, or illegal or immoral conduct (perbuatan jahat dari seorang ahli, kekurangan
dalam keterampilan yang dibawah standart, atau tidak cermatnya seorang ahli dalam
menjalankan kewajibannya secara hukum, praktek yang jelek atau illegal atau perbuatan yang
tidak bermoral).9
Dengan demikian, malpraktek dapat diartikan sebagai kesalahan tenaga kesehatan yang
karena tidak mempergunakan ilmu pengetahuan dan tingkat keterampilan sesuai dengan standart
profesinya yang akhirnya mengakibatkan pasien terluka atau cacat atau bahkan meninggal dunia.
Malpraktek medik tidak hanya dilakukan oleh orang-orang dari kalangan profesi dokter saja.
Tetapi juga dapat dilakukan oleh orang-orang yang berprofesi di bidang pelayanan kesehatan
atau biasa disebut tenaga kesehatan.9
Menurut teori dan doktrin, sesuatu tindakan praktik kedokteran yang dilakukan oleh
dokter dan dokter gigi dapat dikategorikan sebagai perbuatan malpraktik dokter dilihat dari 3
aspek/hal:10
1.
Intensional Professional Misconduct: Bahwa seorang dokter atau dokter gigi
dinyatakan bersalah/buruk berpraktik, bilamana dokter tersebut dalam berpraktik melakukan
pelanggaran-pelanggaran terhadap standar-standar dan dilakukan dengan sengaja. Misalnya
seorang dokter atau dokter gigi sengaja membuat keterangan palsu atau tidak sesuai dengan
diagnosis ataupun memang sama sekali tidak melakukan pemeriksaan. Seorang dokter membuka
rahasia pasien dengan sengaja tanpa persetujuan pasien ataupun tanpa permintaan penegak
hukum sebagaimana diatur dalam undang-undang. Seorang dokter melakukan aborsi tanpa
indikasi medis (illegal).
2.
Negligence atau tidak sengaja (kelalaian) yaitu seorang dokter atau dokter gigi
yang karena kelalaiannya (culpa) yang mana berakibat cacat atau meninggalnya pasien. Seorang
dokter atau dokter gigi lalai melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan sesuai dengan
keilmuan kedokteran, maka hal ini masuk dalam kategori malpraktik, namun juga hal ini sangat
tergantung terhadap kelalaian yang mana saja yang dapat dituntut atau dapat dihukum, hal ini
tergantung oleh hakim yang dapat melihat jenis kelalaian yang mana. Misalnya dokter sebelum
melakukan tindakan medis seharusnya melakukan sesuatu terlebih dahulu namun itu tidak
dilakukan atau melakukan sesuatu tapi tidak sempurna.
3.
Lack of Skill yaitu seorang dokter atau dokter gigi yang melakukan tindakan
medis tetapi diluar kompetensinya atau kurang kompetensinya. Misalnya, dokter cardiovaskuler
melakukan operasi tulang.

Orang-orang yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan mungkin saja melakukan tindakan
malpraktek medis, tidak hanya profesi dokter saja. Didalam Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun
1996 tentang Tenaga Kesehatan, yaitu dalam pasal 2 ayat (1) ditentukan bahwa tenaga kesehatan
terdiri dari:
-

Tenaga medis
Tenaga keperawatan
Tenaga kefarmasian
Tenaga kesehatan masyarakat
Tenaga gizi
Tenaga keterapian fisik
Tenaga keteknisan medis

Sejak tahun 2006 2012 tercatat ada 182 kasus kelalaian medik atau malpraktek yang
terbukti dilakukan dokter di seluruh Indonesia. Malpraktek ini terbukti dilakukan dokter setelah
melalui sidang yang dilakukan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI).
Dari 182 kasus malpraktek di seluruh Indonesia itu, sebanyak 60 kasus dilakukan dokter umum,
49 kasus dilakukan dokter bedah, 33 kasus dilakukan dokter kandungan, dan 16 kasus dilakukan
dokter spesialis anak.11

Jenis Jenis Malpraktek


Malpraktek dibagi menjadi 2 bentuk yaitu malpraktek etik (ethical malpractice) dan
malpraktek yuridis (yuridical malpractice), ditinjau dari segi etika profesi dan segi hukum.12
Malpraktek etik = tenaga kesehatan melakukan tindakan yang bertentangan dengan etika
profesinya sebagai tenaga kesehatan. Misalnya seorang bidan yang melakukan tindakan yang
bertentangan dengan etika kebidanan.12
Malpraktek yuridis = Soedjatmiko membedakan malpraktek yuridis ini menjadi 3
bentuk, yaitu malpraktek perdata (civil malpractice), malpraktek pidana (criminal malpractice)
dan malpraktek administratif (administrative malpractice).12
- Malpraktek perdata (civil malpractice) = malpraktek perdata terjadi apabila
terdapat hal-hal yang menyebabkan tidak terpenuhinya isi perjanjian
(wanprestasi) didalam transaksi terapeutik oleh tenaga kesehatan, atau terjadinya
perbuatan melanggar hukum sehingga menimbulkan kerugian kepada pasien.
Adapun isi daripada tidak dipenuhinya perjanjian tersebut dapat berupa:12
a. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatan wajib dilakukan
b. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan,
tetapi terlambat melaksanakannya
c. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan,
7

tetapi tidak sempurna dalam pelaksanaan dan hasilnya


d. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya
dilakukan
sedangkan untuk perbuatan atau tindakan yang melanggar hukum haruslah
memenuhi beberapa syarat seperti:12
a. Harus ada perbuatan (baik berbuat maupun tidak berbuat)
b. Perbuatan tersebut melanggar hukum (tertulis ataupun tidak
tertulis)
c. Ada kerugian
d. Ada hubungan sebab akibat (hukum kausal) antara perbuatan
melanggar hukum dengan kerugian yang diderita
e. Adanya kesalahan (schuld)
sedangkan untuk dapat menuntut pergantian kerugian (ganti rugi) karena kelalaian
tenaga kesehatan, maka pasien harus dapat membuktikan empat unsur berikut:12
a. Adanya suatu kewajiban tenaga kesehatan terhadap pasien
b. Tenaga kesehatan telah melanggar standar pelayanan medik
yang lazim dipergunakan
c. Penggugat (pasien) telah menderita kerugian yang dapat
dimintakan ganti ruginya.
d. Secara faktual kerugian itu disebabkan oleh tindakan dibawah
standar.

Dalam malpraktek perdata yang dijadikan ukuran dalam malpraktek yang


disebabkan oleh kelalaian adalah kelalaian yang bersifat ringan (culpa levis). Karena
apabila yang terjadi adalah kelalaian berat (culpa lata) maka seharusnya perbuat tersebut
termasuk dalam malpraktek pidana.12
Contoh dari malpraktek perdata, misalnya seorang dokter yang melakukan operasi
ternyata meninggalkan sisa perban didalam tubuh si pasien. Setelah diketahui bahwa ada
perban yang tertinggal kemudian dilakukan operasi kedua untuk mengambil perban yang
tertinggal tersebut.12
Dalam hal ini kesalahan yang dilakukan oleh dokter dapat diperbaiki dan tidak
menimbulkan akibat negative yang berkepanjangan terhadap pasien.12

Malpraktek Pidana = terjadi apabila pasien meninggal dunia atau mengalami


cacat akibat tenaga kesehatan kurang hati-hati atau kurang cermat dalam

melakukan upaya perawatan terhadap pasien yang meninggal dunia atau cacat
tersebut. Malpraktek pidana ada tiga bentuk yaitu:12
a. Malpraktek pidana karena kesengajaan (intensional), misalnya pada
kasus aborsi tanpa indikasi medis, tidak melakukan pertolongan pada
kasus gawat padahal diketahui bahwa tidak ada orang lain yang bisa
menolong, serta memberikan surat keterangan yang tidak benar.
b. Malpraktek pidana karena kecerobohan (recklessness), misalnya
melakukan tindakan yang tidak lege artis atau tidak sesuai dengan
standar profesi serta melakukan tindakan tanpa disertai persetujuan
tindakan medis.
c. Malpraktek pidana karena kealpaan (negligence), misalnya terjadi
cacat atau kematian pada pasien akibat tindakan tenaga kesehatan yang
kurang hati-hati. Kelalaian dapat terjadi dalam 3 bentuk, yaitu
malfeasance, misfeasance dan nonfeasance. Malfeasance berarti
melakukan tindakan yang melanggar hukum atau tidak tepat/layak
(unlawful atau improper), misalnya melakukan tindakan medis tanpa
indikasi yang memadai (pilihan tindakan medis tersebut sudah
improper). Misfeasance berarti melakukan pilihan tindakan medis
yang tepat tetapi dilaksanakan dengan tidak tepat (improper
performance), yaitu misalnya melakukan tindakan medis dengan
menyalahi prosedur. Nonfeasance adalah tidak melakukan tindakan
medis yang merupakan kewajiban baginya.

Malpraktek administratif = terjadi apabila tenaga kesehatan melakukan


pelanggaran terhadap hukum administrasi negara yang berlaku, misalnya
menjalankan praktek bidan tanpa lisensi atau izin praktek, melakukan
tindakan yang tidak sesuai dengan lisensi atau izinnya, menjalankan praktek
dengan izin yang sudah kadaluarsa, dan menjalankan praktek tanpa membuat
catatan medik.12

Pembuktian Malpraktek di Pelayanan Kesehatan


Untuk dapat menilai dan membuktikan suatu perbuatan (tindakan medis) / civil
malpractice termasuk kategori malpraktek atau tidak, menurut Hubert W. Smith tindakan
malpraktek meliputi 4D yaitu:1
a. Duty (adanya kewajiban) = dalam unsur ini tidak ada kelalaian jika tidak terdapat
kewajiban, oleh karena itu unsur yang pertama ini menyatakan harus ada hubungan hukum
antara pasien dengan dokter / rumah sakit.

b. Dereliction (adanya penyimpangan dalam pelaksanaan tugas) = yaitu dokter dalam


melakukan kewajiban terhadap pasien melakukan tindakan penyimpangan dari standart profesi
tersebut.
c. Direct Caution (penyimpangan akan mengakibatkan kerusakan) = dalam unsur ini
terdpat hubungan kausal yang jelas antara tindakan medik yang dilakukan dokter dengan
kerugian yang dialami pasien.
d. Damage (kerusakan) = yaitu bahwa tindakan medik yang dilakukan dokter merupakan
penyebab langsung timbulnya kerugian terhadap pasien.

Pengaturan Tindak Pidana Malpraktek Menurut KUHP


Tindakan medis merupakan suatu tindakan yang penuh dengan resiko. Resiko tersebut
dapat terjadi disebabkan oleh sesuatu yang tidak dapat diprediksikan sebelumnya atau resiko
yang terjadi akibat tindakan medis yang salah. Dikatakan tindakan salah apabila tenaga medis
tidak melakukan pekerjaannya sesuai dengan standart profesi medik & prosedur tindakan medik.
Apabila seorang tenaga medis melakukan tindakan salah, maka tenaga medis tersebut dapat
dikategorikan melakukan tindakan malpraktek, sehingga dapat menyangkut aspek hukum
pidana.13
Dalam hal tindak pidana malpraktek tidak diatur dengan jelas dalam KUHP. Pengaturan
di dalam KUHP lebih kepada akibat dari perbuatan malpraktek tersebut.13
-

Pasal 359 = Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan


orang lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau
pidana kurungan paling lama satu tahun
Pasal 360
Ayat 1 = Barang siapa karena kesalahannya menyebabkan orang luka
berat dihukum dengan penjara selama-lamanya lima tahun atau hukuman
kurungan selama-lamanya satu tahun
Ayat 2 = Barang siapa karena kesalahannya menyebabkan orang luka
sedemikan rupa sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak
dapat menjalankan jabatannya atau pekerjaannya sementara, dihukum
dengan hukuman penjara selama-lamanya Sembilan bulan atau hukuman
kurungan selama-lamanya enam bulan atau hukuman denda setinggitingginya Rp. 4.500,Pasal 361 = Jika kejahatan yang diterangkan dalam bab ini dilakukan dalam
melakukan suatu jabatan atau pekerjaan, maka hukuman dapat ditambah
dengan sepertiganya dan si tergugat (yang bersalah) dapat dipecat dari
pekerjaannya, dalam waktu mana kejahatan itu dilakukan dan hakim dapat
memerintahkan supaya keputusannya itu diumumkan

10

Sehubungan dengan aturan tindak pidana malpraktek, maka diperlukan pembuktian


terhadap tindak pidana malpraktek tersebut. Pembuktian dalam hal malpraktek merupakan upaya
untuk mencari kepastian yang layak melalui pemeriksaan dan penalaran hukum tentang benar
tidaknya peristiwa itu terjadi dan mengapa peristiwa itu terjadi. Berdasarkan pasal 184 KUHAP
yang dapat digunakan sebagai alat bukti yang sah adalah keterangan saksi, keterangan ahli, surat,
petunjuk, dan keterangan terdakwa. Berdasarkan pasal 183 KUHAP, hakim dapat menjatuhkan
pidana dengan syarat ada dua alat bukti yang sah dan keyakinan hakim yang diperoleh dari dua
alat bukti tersebut.13

Kesimpulan
Malpraktek medik merupakan kelalaian yang berat dan pelayanan kedokteran di bawah
standar. Malpraktek dapat dibagi menjadi malpraktek etik dan malpraktek yuridis. Selain itu
dalam pelayanan kedokteran meskipun dokter telah berusaha sebaik mungkin, terkadang timbul
kejadian yang tidak diinginkan (adverse event) yang dapat berakibat merugikan pasien. Apabila
dokter sebenarnya dapat mencegah adverse event tetapi tidak dilakukan maka dokter dapat
dikatakan melakukan malpraktek.
Berdasarkan skenario 8, dokter tersebut diduga melanggar pasal 359 KUHP yang
berbunyi Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati,
diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu
tahun. Dokter tersebut dikatakan melanggar pasal 359 KUHP karena ia tidak melakukan
tindakan pertolongan pertama pada salah satu kasus gawat darurat yaitu syok anafilaktik yang
menimpa pasien tersebut yang diakibatkan oleh pemberian suntikan streptomisin.

Daftar Pustaka
11

1.

Pohan TS. Perlindungan hukum bagi pasien korban malpraktek berdasarkan hukum
positif Indonesia. 2014. Diunduh dari http://fh.unram.ac.id/wpcontent/uploads/2014/09/PERLINDUNGAN-HUKUM-BAGI-PASIEN-BAGIKORBAN-MAL-PRAKTEK-BERDASARKAN-HUKUM-POSITIF-INDONESIA.pdf,
26 September 2016.
2. Taufani A. Tinjauan yuridis malpraktek medis dalam sistem hukum Indonesia. 2011.
Diunduh dari https://core.ac.uk/download/pdf/12346960.pdf, 25 September 2016.
3. Yuwantina LH. 2012. Peningkatan Program Patient Safety melalui Metode Failure
Mode and Effect Analysis. J Adm. Kebijak. Kesehat. Mei-Agustus 2012; 10(2):61.
4. Samil RS. Etika kedokteran Indonesia. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2004.h.178-9.
5. Ikatan Dokter Indonesia. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan
Primer.
2014.
Diunduh
dari
http://fk.unila.ac.id/wpcontent/uploads/2015/10/PPK-Dokter-di-Fasyankes-Primer.pdf, 24 September 2016.
6. Rengganis I, Sundaru H, Sukmana N, Mahdi D. Renjatan anafilaktik. Diambil dari
Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Simadibrata M, Setiyohadi B, Syam AF. Buku ajar ilmu
penyakit dalam. Jakarta: Interna Publishing; 2014.h.4130-2.
7. Khodorkovshy B. Syok Anafilaktik. Diambil dari Greenberg MI. Greenbergs text-atlas
of emergency medicine. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2008.h.24.
8. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI; 2007.h.217-9.
9. Latifah N. Pertanggungjawaban pidana dokter dalam kasus malpraktek medik menurut
KUHP.
2013.
Diunduh
dari
http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/5825/JURNAL%20IFHA.pdf?
sequence=1, 24 September 2016.
10. Hanafiah MJ, Amir A. Etika kedokteran dan hukum kesehatan. Edisi 3. Jakarta: EGC;
1999.h. 70-1.
11. Hasibuan DC. Peran perawat dalam penerapan keselamatan pasien (patient safety).
2016. Diunduh dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/57124/5/Chapter
%20I.pdf, 27 September 2016.
12. Pangaloan IT. Penyelesaian tindak pidana malpraktek yang dilakukan oleh bidan. 2011.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/37057/4/Chapter%20I.pdf,
26
September 2016.
13. Sinaga JB. Pengaturan tindak pidana malpraktek. 2013. Diunduh dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/39387/3/Chapter%20II.pdf,
28
September 2016.

12

Anda mungkin juga menyukai