Anda di halaman 1dari 11

I.

PENDAHULUAN
Pemenuhan sumber energi dalam bentuk cair pada sektor transfortasi
merupakan sektor paling kritis dan perlu mendapat perhatian khusus.
Pemenuhan kebutuhan bahan bakar untuk transportasi dalam negeri dilakukan
dengan mengimport sebanyak kurang lebih 25% (Setyadji,2005). Oleh karena itu
dilakukannya pengembangan bahan bakar alternatif dari bahan mentah
terbarukan dan ramah lingkungan. Salah satu bahan bakar alternatif tersebut
adalah minyak bio-diesel. Biodiesel adalah bioenergi atau bahan bakar nabati
yang dibuat dari minyak nabati, baik minyak yang belum digunakan maupun
minyak bekas dari penggorengan. Bio-diesel tersusun dari berbagai macam ester
asam lemak yang dapat diproduksi dari minyak-minyak tumbuhan seperti minyak
sawit (palm oil), minyak kelapa (palm knel oil), minyak jarak (castor oil) dan
masih ada 30 macam tumbuhan diIndonesia yang potensial untuk dijadikan
sumber energi bentuk cair ini (Setyadji,2005).
Bahan bakar dari minyak nabati atau hewani diproses dengan cara
mengubah minyak tumbuhan, lemak binatang atau minyak goreng bekas menjadi
bio-diesel yang disebut transesterifikasi. Transesterifikasi adalah reaksi anta
minyak atau lemak dengan alkohol sehingga terbentuk ester (biodiesel) dan
gliserol dengan menggunakan katalis NaOH atau KOH guna mempercepat
reaksi dan meningkatkan hasil akhir. Rekasi ini merupakan suatu reaksi
kesetimbangan untuk mendorong rekasi bergerak kekanan, maka perlu
digunakan alkohol dalam jumlah berlebih (Aunillah, A dan Pranowo,D, 2012).
Katalis yang banyak digunakan adalah katalis basa, namun katalis asam juga
dapat digunakan pada kadar asam lemak bebasnya tinggi. Menggunakan katalis
basa karena reaksi dapat berjalan pada suhu lebih rendah dan bahkan pada
suhu kamar (Sumangat, 2008).
Sintesis metil ester pada percobaan ini dilakukan melalui beberapa proses
yakni refluks dan ekstraksi. Refluks merupakan pemisahan suatu komponen dari
suatu zat (Khopkar,2007). Prinsip refluks yakni aliran berbalik kembali yakni
larutan dididihkan dalam labu kemudian mengembunkan uap menggunakan
tabung

pendingin

dan

meneteskan

embun

kembali

dalam

labu

(pudjaatmaka,2002). Setelah dilakukan refluks kemudian dilakukan ekstraksi

yakni pemisahan komponen dari campurannya berdasarkan kelarutan yang


selektif (khopkar,2007).
Manfaat biodiesel (metil ester) yakni sebagai bahan bakar cair hayati
pengganti minyak bumi. Semakin berkurangnya minyak bumi didunia, membuat
metil ester dapat menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi krisis energi dunia.
Selain dapat digunakan secara langsung pada mesin tanpa modifikasi juga
ramah lingkungan sehingga percobaan ini penting untuk dilakukan. Tujuan dari
percobaan ini adalah mempelajari reaksi transesterifikasi dalam pembuatan
senyawa metil ester serta dapat membedakan antara reaksi transesterifikasi dan
II.

esterifikasi.
METODOLOGI
Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah botol semprot, batang
pengaduk, beaker glass, bulp, corong pisah, labu leher 3, magnetik stirrer,
neraca analitik, peralatan refluks, pipet ukur, spatula, statif, termometer.
Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah akuades (H 2O), Kalium
Hidroksida (KOH) Metanol (CH3OH), dan Natrium Hidroksida (NaOH), Asam
Klorida (HCl), dan Minyak kelapa sawit.
Prosedur Kerja

.Pembuatan Larutan K-Metanolat


Langkah kerja pada proses ini adalah dimasukkan 40 ml metanol dalam

labu alas bulat. Lalu dimasukkan 0,4 gr KOH anhidrat dan diaduk sampai KOH
larut. Setelah itu ditutup labu untuk mencegah penguapan.

Reaksi Transesterifikasi
Pada proses ini sebanyak 40 ml larutan K-Metanolat yang dihasilkan

dimasukkan perlahan ke dalam 20 ml minyak goreng pada labu leher 3. Lalu


dirangkai alat refluks. Kemudian direfluks campuran pada suhu 65 oC dan diaduk
dengan magnetik stirrer selama 2 jam. Setelah itu, proses refluks dihentikan dan
didinginkan campuran. Terakhir dilakukan proses pemisahan (ekstraksi).

Proses Pemisahan (Ekstraksi)


Proses pemisahan dilakukan dengan dimasukkan campuran metil ester

dan sisa reaktan ke dalam corong pisah. Kemudian ditambahkan 10 ml akuades


dan 1 ml HCl. Lalu dikocok selama 5 menit, terbentuk 2 fasa. Setelah itu,
dipisahkan lapisan atas (metil ester) dengan lapisan bawah dan diambil lapisan

atas. Selanjutnya lapisan organik yang masih mengandung ester dan minyak
diekstrak dengan 10 mL dietil eter dan dikocok kembali selama 5 menit,
terbentuk 2 fasa. Lalu, diambil lapisan atas (metil ester) dan dicuci dengan 10 ml
akudes sebanyak 2 kali. Kemudian ditambahkan Na2SO4. Setelah itu, disaring.
Terakhir diuapkan pelarut pada udara terbuka.
Rangkaian Alat

Gambar 1. Rangkaian Alat Refluks

Gambar 2. Rangkaian Alat Ekstraksi


III.
No
A

Hasil dan Pembahasan


Data Pengamatan
Perlakuan
Pembuatan

Pengamatan
Larutan
K-

Metanolat
1

Dimasukkan

40

methanol

Metanol

dalam

ml

labu

alas bulat
Dimasukkan

0,4 gr KOH

KOH anhidrat
Diaduk

KOH larut

sampai KOH
larut

Ditutup

labu

untuk
mencegah
penguapan
B

Reaksi Transesterifikasi

Dimasukka

K-metanolat

K-metanolat

= 40 ml

ke

Minyak

dalam

minyak

goreng = 20

goring secara

ml

perlahan
Diaduk

T = 65o C

dengan

t = 2 jam

magnetik
stirrer

dan

diatur

suhu

65 C selama
3
4

2 jam
didinginkan
Dilakukan
pemisahan
hasil

C
1

Pemisahan Hasil
Dimasukkan
cmapuran
metil

ester

dan

sisa

reaktan
dalam corong
2

pisah
Ditambahkan

Akuades

akuades dan 10 ml
3

HCl
Dikocok

HCl = 1 ml
t = 5 menit

terbentuk

Dipisahkan

fase
Diambil

lapisan

atas

lapisan atas

lapisan

( metil ester)

bawah
Ditambahkan

Dietil eter =

dietil eter
Dicuci

10 ml
Dicuci 2 kali

dengan

masing-

akuades

masing

dari

10

ml
7

Ditambah

8
9

Na2SO4
Disaring
Diuapkan
pelarut

Pembahasan
Metil ester merupakan monoalkil ester dari asam-asam lemak
rantai panjang yang terkandung dalam minyak nabati atau lemak hewani
untuk digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel. Metil ester tersebut
dapat diperoleh melalui reaksi transesterifikasi trigliserida dan atau reaksi
esterifikasi asam lemak bebas tergantung dari kualitas minyaknabati yang
digunakan sebagai bahan baku (Hikmah dan Zuliyana,2010).
Reaksi transesterifikasi secara umum merupakan reaksi alkohol dengan
trigliserida menghasilkan metil ester dan gliserol dengan bantuan katalis basa.
Alkohol yang umumnya digunakan adalah methanol dan ethanol. Trigliserida
yang digunakan yakni berasal dari minyak kelapa sawit, dimana trigliserida
merupakan penyusun utama dari minyak tersebut (Arita, dkk,2008). Prinsip dari
reaksi transesterifikasi adalah mereaksikan trigliserida dengan alkohol rantai
pendek (methanol dan etanol) sehingga dihasilkan alkil ester dan gliserol dengan
bantuan katalis basa (Hikmah dan Zuliana, 2010). Dimana hasil yang diperoleh
dilakukan pemurnian melalui metode ekstraksi serta penambahan natrium sulfat
sehingga diperoleh metil ester murni.
Reaksi yang terjadi sebagai berikut :

A. Pembuatan metanolat
Pada percobaan ini sebanyak 0,4 KOH dimasukkan kedalam 40 mL
metanol didalam labu leher 3 sambil dilakukan pengadukan sampai semua KOH
larut. Penggunaan KOH tersebut berfungsi sebagai katalis dalam reaksi
transesterifikasi. Reaksi tranesterifikasi merupakan reaksi bolak balik yang relatif
lambat sehingga diperlukan katalis untuk mempercepat reaksi. Pengadukan
serta pemberian reaktan berlebih juga dapat mempercepat reaksi bergeser
kearah

produk

(Aziz,dkk,2011).

Menggunakan

metanol

karena

metanol

merupakan alkohol yang berungsi untuk memutuskan gliserin dengan asam


lemak. Selain itu menggunakan metanol karena metanol mempunyai atom
carbon sedikit, sehingga mempunyai kereaktifan lebih besar daripada alkohol
dengan atom karbon lebih banyak (Bannon,1988).
Selanjutnya, campuran KOH dan metanol tersebut dilakukan pengadukan untuk
mempercepat pelarutan KOH dan ditutup labu untuk mencegah penguapan pada
metanol. Pencampuran metanol dan KOH terlebih dahulu untuk membentuk KMetoksida yang merupakan katalis yang lebih kuat, sehingga mampu memecah
senyawa trigliserida (pusat desiminasi dan HAKI LP2M,2014)

B. Reaksi Transesterifikasi
Proses rekasi transesterifikasi ini dilakukan dengan metode refluks yang
bertujuan untuk menukarkan gugus alkohol primer dan menyempurnakan reaksi
yakni dengan mendidihkan campuran, lalu mengkondensasi uap dengan
pendingin air dan kembali menguap kelabu. Proses refluks dilakukan dengan
cara memasukkan minyak kelapa sawit kedalam larutan K-Metanolat yang telah
dibuat secara perlahan-lahan dan diaduk menggunakan magnetik stirer pada
suhu 65oC selama 2jam. Fungsi pengadukan agar reaksi antara minyak dan
metanol cepat terjadi.

Gambar 5. Metode refluks


Menggunakan suhu 65oC karena reaksi dipengaruhi oleh suhu,
persamaan Arhenius menunjukkan fraksi molekul yang bertumbukan sehinga
reaksinya
penggunaan

akan

berlangsung

waktu

tersebut

cepat

(Kusumaningsih,T,dkk,2006).

didasarkan

pada

waktu

optimum

Serta
reaksi

transesterifikasi dan Waktu reaksi memberikan pengaruh terhadap penurunan


asam lemak bebas (FFA) yang terdapat dalam minyak goreng. Semakin lama
waktu reaksi, kadar FFA yang dihasilkan semakin berkurang. Ini menandakan
terjadinya reaksi antara FFA dengan metanol menghasilkan ester. Lamanya
waktu reaksi memberikan kesempatan kepada molekul-molekul senyawa untuk
bereaksi semakin besar, sehingga FFA yang tersisa semakin berkurang (Aziz,
dkk, 2011).
Reaksi

Berdasarkan reaksi tersebut, proses pembentukan metil ester terjadi melalui


empat tahap. Pada tahap pertama adalah adanya reaksi katalis basa (KOH)
dengan alkohol (Metanol) membentuk alkosida dan katalis terprotonasi. Pada
tahap kedua penyerangan atom karbon karbonil dari molekul trigliserida oleh
anion alkohol (ion metoksida) untuk membentuk senyawa antara. Tahap ketiga
senyawa antara bereaksi dengan alkohol untuk meregenerasi anion alkohol (ion
metoksida). Ditahap terahir, pembentukan kembali senyawa antara dihasilkan
dalam bentuk ester asam lemak dan digliserida (Laksono,T,2013). Digliserida
dan monogliserida tersebut dikonversi oleh mekanisme yang sama membentuk
campuran alkil ester dan glisorel (Schuchardt,dkk,1998).
C. Pemisahan Campuran
Setelah direfluks campuran didinginkan untuk menetralkan suhu dan
selanjutnya dilakukan pemisahan metil ester dengan metode ekstraksi. Prinsip
metode ini umumnya yaitu didasarkan pada perbedaan kelarutan antara
senyawa tersebut. Proses ekstraksi dilakukan dengan cara dimasukkan
campuran kedalam corong pisah. Kemudian ditambahkan 10 mL akuades dan 1
mL HCl dan dikocok selama 5 menit sampai tebentuk 2 fasa. Fungsi
penambahan akuades yaitu untuk menambah kepolaran sehingga glisorel dapat
larut dan turun pada lapisan bawah karena adanya perbedaan berat jenis dimana
berat jenis gliserol dan air lebih besar dibandingkan metil ester. Dan pemilihan
pelarut ini berdasarkan prinsip like disolve like, senyawa akuades mengikat
gliserol atas kesamaan sifat kepolarannya. Penambahan HCl ini berfungsi untuk

memisahkan Fatty Matter didalam Heavy Phase (Glycerine- water- methanol)


atau untuk mencuci metil ester.
Lapisan organik yang masih mengandung ester dan minyak diekstrak
dengan 10mL dietil eter dan sehingga terbentuk dua lapisan lagi yaitu lapisan
organik dan air. Lapisan organik kemudian dicuci dengan 10 mL akuades
sebanyak 2 kali. Kedua larutan ini berfungsi semipolar sehingga dapat diperoleh
metil ester murni. Setelah dicuci campuran ditambahkan padatan natrium sulfat
anhidrat (Na2SO4) untuk mengikat air dalam larutan metil ester pada saat
pencucian sehingga metil ester yang didapat bebas H2O. Selanjutnya larutan
disaring

menggunakan

kertas

saring.

Fungsi

penyaringan

yaitu

untuk

memisahkan metil ester dan padatan natrium sulfat anhidrat. Pada percobaan ini,
dihasilkan larutan metil ester yang berupa cairan kuning bening.
IV.

SIMPULAN
a. Reaksi transesterifikasi yakni hasil dari suatu lemak atau minyak dengan
suatu alkohol untuk membentuk ester dan gliserol.
b. Reaksi transesterifikasi menggunakan trigliserida dengan kandungan
asam lemak bebas < 2% dan bantuan katalis basa, sedangkan reaksi
esterifikasi menggunakan trigliserida dengan kandungan asam lemak
bebas > 2 % dan bantuan katalis asam.