Anda di halaman 1dari 30

PERSAINGAN USAHA

Disusun Oleh :
Patia Chairunnisa

110110140137

Haidar Banamah

110110140164

Suha Isnia Putri

110110140175

Dinda Meitasari

110110140177

Friyanka Khowara

110110140185

Nabhila Handayani Anastri

110110140201

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Perusahaan


Dibawah Bimbingan
Dr. Hj. Sonny Dewi Judiasih, S.H., M.H., C.N
Hj, Aam Suryamah, S.H., M.H.

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2016

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Persaingan dapat diartikan sebagai suatu proses sosial dimana individu
atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing, mencari keuntungan melalui
bidang-bidang kehidupan

yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat

perhatian umum (baik perseorangan maupun kelompok manusia) dengan cara


menarik perhatian atau dengan mempertajam prasangka yang ada tanpa
menggunakan ancaman atau kekerasan. 1
Persaingan usaha merupakan ekspresi kebebasan yang dimilki setiap
individu dalam rangka bertindak untuk melakukan transaksi perdagangan
dipasar.

Persaingan

usaha

diyakini

sebagai

mekanisme

untuk

dapat

mewujudkan efisiensi dan efektivitas dari pelaku usaha, karena pelaku usaha
yang dapat melakukan hal tersebut dapat dikatakan sebagai pemenang
persaingan usaha. Persaingan memberi imbalan kepada penemuan-penemuan
produk baru dan terobosan-terobosan baru terkait dengan penurunan biaya,
pemanfaatan kombinasi bahan produksi baru, penciptaan jalur-jalur distribusi
yang lebih baik, dan pembukaan pasar baru.2
Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, bila persaingan dipelihara
secara konsisten, akan tercipta kemanfaatan bagi masyarakat konsumen, yaitu
berupa pilihan produk yang bervariatif dengan harga pasar serta dengan kualitas
tinggi.3 Namun persaingan usaha ini juga memiliki dampak negatif karena
memerlukan biaya yang lebih banyak serta pengorbanan dengan keuntungan
yang lebih rendah dibanding monopoli, maka dari itu banyak pelaku usaha yang
1 John Lewis Gilin, Cultural Sociology, New York: The Macmillan
Company, sebagaimana dikutip dalam Soerjono Soekanto, Sosiologi:
Suatu Pengantar, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002, hlm. 91
2 Knud Hansen, Undang-Undang Larangan Praktek Monopoli dan
Persainga Usaha Tidak Sehat, Jakarta: Katalis, 2002, hlm.7
3 Irna Nurhayati. Kajian Hukum Persaingan Usaha : Kartel Antara Teori
dan Praktik. Jakarta: Jurnal Hukum Bisnis Vol.30-No.2-Tahun 2011
hlm.6.

meniadakan adanya persaingan karena dengan menghilangkan persaingan


memungkinkan pelaku usaha mendapat keuntungan yang jauh lebih besar.
Sehingga untuk menghindari hal tersebut diperlukan aturan yang mampu
mengakomodir para pelaku usaha yang tidak menginginkan persaingan ataupun
tidak menghendaki persaingan yang sehat.
Langkah yang diambil oleh pemerintah dalam menciptakan kondisi
persaingan usaha yang sehat adalah dengan menetapkan dan memberlakukan
aturan hukum persaingan usaha. Saat ini aturan hukum yang mengatur
mengenai praktik persaingan usaha di Indonesia adalah Undang-Undang RI
Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha
Tidak Sehat. Lahirnya Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1999 tentang
Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat didasari atas
kesepakatan

yang

dibuat

pemerintah

Indonesia

dengan

IMF,

dimana

kesepakatan tersebut mensyaratkan Indonesia untuk membuat peraturan yang


melindungi pelaku usaha dari persaingan tidak sehat.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Tujuan dari Undang-Undang ini
sendiri sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak
Sehat, antara lain:4
1. Menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efesiensi ekonomi
nasional sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan
rakyat
2. Mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan-pengaturan
persaingan usaha yang sehat sehingga menjamin adanya kepastan
kesempatan usaha yang sama bagi pelaku usaha besar, menengah, dan
kecil
3. Mencegah praktik monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat yang
ditimbulkan oleh pelaku usaha
4 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat

4. Terciptanya efektivitas dan efesiensi kegiatan usaha


Selain itu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat juga memberikan definisi-definisi
mengenai apa itu persaingan usaha tidak sehat serta prosedural dalam
penegakan hukumnya melalui sebuah komisi independen yakni Komisi
Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang mengatur mengenai sanksi serta
prosedur penegakan hukum persaingan usaha.5
A. Sejarah Persaingan Usaha Secara Umum
Tujuan dari adanya kebijakan persaingan usaha adalah untuk memastikan
bahwa kompetisi atau persaingan pasar tidak terbatasi dalam cara-cara yang
membahayakan bagi masyarakat, dalam hal ini konsumen. Bila dibandingkan
dengan sejarah hukum lain, sejarah tentang anti monopoli atau persaingan
usaha relatife baru. Baik sejarahnya dalam dunia internasional maupun di
Indonesia.6
1. Inggris
Sejak abad ke-17 hingga abad ke-20 telah terjadi perkembangan pengaturan
serta penafsiran untuk kasus-kasus monopoli di Inggris, bail penerapan doktrin
konspirasi criminal maupun doktrin restraint of trade, dan akhirnya pada awal ke20 kebijaksanaan mengenai hukum anti monopoli yang ditujukan kepada
persaingan pasar yang fair dan pencegahan eksploitasi kekuatan pasar oleh
kekuatan

perusahaan

tunggal

secara

monopoli

ataupun

kartel

sudah

ditinggalkan. Saat ini Inggris sedang dalam proses mengadopsi model baru dari
sebuah hukum anti monopoli yang berdasarkan kepada sistem hukum anti
monopoli di European Community.7

5 Andi Fahmi Lubis, Hukum Persaingan Usaha: Antara Teks dan


Konteks, Jakarta: Creative Media, 2009, hlm. 311
6 Munir Fuady, Hukum Anti Monopoli: Menyongsong Era Persaingan
Sehat, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000, hlm.35.
7 Munir Fuady, Op.Cit., hlm.38.

2. Amerika Serikat
Aturan hukum yang menjadi dasar terselenggaranya persaingan usaha yang
sehat di Amerika Serikat ialah Antitrust Law. Aturan hukum tersebut merupakan
pembaharuan atas aturan hukum terdahulunya yaitu judul Act to Protect Trade
and Commerce Againts Unlawful Restraints and Monopolies, yang lebih dikenal
dengan Sherman Act. Penyebab munculnya berbagai pengaturan mengenai
monopoli tersebut di Amerika Serikat adalah terjadinya revolusi dalam bidang
transportasi dan komunikasi yang mengarahkan kepada monopoli pasar,
berbagai inovasi dalam bidang teknologi, bertambah besarnya perusahaanperusahaan yang juga dilakukan melalui merger, serta terjadinya ketidakstabilan
pasar sebagai akibat dari krisis makro ekonomi dan perang harga yang
memberikan insentif untuk tersbentuknya kartel serta trust. Tapi Antitrust Law
telah terbukti dapat mencegah pemusatan kekuatan ekonomi pada sekelompok
perusahaan sehingga perekonomian lebih tersebar, membuka kesempatan
usaha bagi para pendatang baru, serta memberikan perlindungan hukum bagi
terselenggaranya proses persaingan yang berorientasi pada mekanisme pasar.8
3. Indonesia
Dalam sejarah Indonesia tidak banyak yang dapat dicatat seputar kelahiran serta
perkembangan hukum persaingan usaha di Indonesia karena yang banyak
dicatat dalam sejarah justru tindakan-tindakan atau perjanjian dalam bisnis yang
sebenarnya harus dilarang oleh Undang-undang Anti Monopoli.

Sebelum

mengatur

adanya

undang-undang

yang

secara

formal

serta

komprehensif mengatur mengenai persaingan usaha, di Indonesia telah terdapat


beberapa upaya konkret untuk membuat konsep hukum persaingan usaha.
Sebelum tahun 1999pun, secara sectoral dan tidak terkodifikasi, aturan tentang
persaingan usaha telah dapat ditemukan tersebar di berbagai produk perundangundangan, seperti dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Kitab UndangUndang Hukum Perdata, Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang
8 Andi Fahmi Lubis, dkk, Hukum Persaingan Usaha Antara Teks &
Konteks, Indonesia, 2009, hlm. 4
9 Munir Fuady, Op.Cit., hlm.41.

Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984


tentang Perindustrian, Undang-undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha
Kecil, namun pengaturan tersebut sangatlah minim, tidak memadai dan tidak
popular dalam masyarakat sehingga tidak pernah diterapkan. 10
Hingga

akhirnya

diundangkan

suatu

hukum

persaingan

usaha

yang

komprehensif yaitu di dalam Undang-undang Nomor Tahun 1999 Tentang


Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Beberapa factor
yang mendorong diundangkannya hukum persaingan usaha di Indonesia adalah
adanya desakan dari IMF (International Monetary Fund) agar Indonesia menyusu
aturan persaingan usaha yang komprehensif, dan adanya gagasan untuk
memangkas segala jenis monopoli yang merugikan pasca rezim Orde Baru. 11
B. Dasar Hukum Persaingan usaha
UU tentang Nomor 5 Tahun 1999 Larangan Praktek Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat yang dimaksudkan untuk menegakkan aturan
hukum dan memberikan perlindungan yang sama bagi setiap pelaku usaha di
dalam upaya untuk menciptakan persaingan usaha yang sehat. Hal-hal yang
diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 1999 dapat dikelompokkan ke dalam 11 Bab
dan dituangkan ke dalam 53 Pasal dan 26 Bagian, yang cakupan materi dan
sistematikanya sebagai berikut.
NO

BAB

PERIHAL/ISI/TENTANG/MATER PASAL

JUMLAH

.
1
2
3
4
5
6

I
II
III
IV
V
VI

I
Ketentuan dan Umum
Asas dan Tujuan
Perjanjian yang Dilarang
Kegiatan yang Dilarang
Posisi Dominan
Komisi Pengawas Persaingan

1
2 s.d. 3
4 s.d. 16
17 s.d. 24
25 s.d. 29
30 s.d. 37

1 pasal
2 pasal
13 pasal
8 pasal
5 pasal
8 pasal

7
8

VII
VIII

Usaha
Tata Cara Penanganan Perkara
Sanksi

38 s.d. 46
47 s.d. 49

9 pasal
3 pasal

10 Arie Siswanto, Hukum Persaingan Usaha, Ghalia Indonesia, 2008,


hlm. 71
11 Ibid, hlm. 72.

9
10
11

1X
X
XI

Ketentuan Lain
Ketentuan Peralihan
Ketentuan Penutup
Jumlah

50 s.d. 51
52
53
53

2 pasal
1 pasal
1 pasal
53 pasal

Dalam Penjelasan Umum UU Nomor 5 Tahun 1999 dinyatakan bahwa


secara umum, materi UU Nomor 5 Tahun 1999 mengandung 6 bagian
pengaturan yang terdiri atas:
1. Perjanjian yang Dilarang;
2. Kegiatan yang Dilarang;
3. Posisi Dominan;
4. Komisi Pengawas Persaingan Usaha;
5. Penegakan Hukum;
6. Ketentuan Lain-lain
Selain UU Nomor 5 tahun 1999, diatur pula keputusan serta peraturan
pelaksana lainnya yang timbul akibat dikeluarkan UU tersebut. Keputusan dan
peraturan ini memiliki tujuan agar implementasi undang-undang ini dapat
berjalan efektif sesuai asas dan tujuannya. Keputusan dan peraturan yang
dimaksud yaitu :
1. Keputusan Presiden Republik Indonesia 49 Nomor 75 Tahun 1999
Tentang Komisi Pengawas Persaingan Usaha
2. Keputusan Komisi Pengawas Persaingan

Usaha

63

Nomor

05/Kppu/Kep/Ix/2000 Tentang Tata Cara Penyampaian Laporan Dan


Penanganan Dugaan Pelanggaran Terhadap Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1999
3. Peraturan Mahkamah Agung 81 Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2003
Tentang Tata Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan Terhadap putusan
Kppu
C. Asas dan Tujuan
Guna memahami makna suatu aturan perundang-undangan, perlu disimak
terlebih dahulu apa asas dan tujuan dibuatnya suatu aturan. Asas dan tujuan
akan memberi refleksi bagi bentuk pengaturan dan norma-norma yang

dikandung dalam aturan tersebut. Asas dari UU No. 5 tahun 1999 sebagaimana
diatur pada Pasal 2 bahwa:
Pelaku usaha di Indonesia dalam menjalankan kegiatan usahanya berasaskan
demokrasi ekonomi dengan memperhatikan keseimbangan antar kepentingan
pelaku usaha dan kepentingan umum.
Asas demokrasi ekonomi tersebut merupakan penjabaran Pasal 33 UUD
1945 dan ruang lingkup pengertian demokrasi ekonomi yang dimaksud dahulu
dapat ditemukan dalam penjelasan atas Pasal 33 UUD 1945. Demokrasi
ekonomi pada dasarnya dapat dipahami dari sistem ekonominya sebagaimana
diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar.
Adapun tujuan dari UU No. 5 tahun 1999 sebagaimana diatur pada Pasal 3
adalah untuk:
a. menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efsiensi ekonomi nasional
sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat;
b. mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan
usaha yang sama bagi pelaku usaha besar, pelaku usaha menengah dan
pelaku usaha kecil;
c. mencegah praktek monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat yang
ditimbulkan oleh pelaku usaha, dan
d. terciptanya efektivitas dan efsiensi dalam kegiatan usaha.
Dua hal yang menjadi unsur penting bagi penentuan kebijakan (policy objectives)
yang ideal dalam pengaturan persaingan di negara-negara yang memiliki
undang-undang persaingan adalah kepentingan umum (public interest) dan
efsiensi ekonomi (economic effciency). Ternyata dua unsur penting tersebut
(Pasal 3 (a) juga merupakan bagian dari tujuan diundangkannya UU No. 5 Tahun
1999. Pasal 2 dan 3 tersebut di atas menyebutkan asas dan tujuan-tujuan utama
UU No. 5 Tahun 1999. Diharapkan bahwa peraturan mengenai persaingan akan
membantu dalam mewujudkan demokrasi ekonomi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 33 Ayat 1 UUD 1945 (Pasal 2) dan menjamin sistem persaingan
usaha yang bebas dan adil untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat serta

menciptakan sistem perekonomian yang efsien (Pasal 3). Oleh karena itu,
mereka mengambil bagian pembukaan UUD 1945 yang sesuai dengan Pasal 3
Huruf a dan b UU No. 5 Tahun 1999 dari struktur ekonomi untuk tujuan
perealisasian kesejahteraan nasional menurut UUD 1945 dan demokrasi
ekonomi, dan yang menuju pada sistem persaingan bebas dan adil dalam pasal
3 Huruf a dan b UU No. 5 Tahun 1999. Hal ini menandakan adanya pemberian
kesempatan yang sama kepada setiap pelaku usaha dan ketiadaan pembatasan
persaingan usaha, khususnya penyalahgunaan wewenang di sektor ekonomi.
Selaku asas dan tujuan, Pasal 2 dan 3 tidak memiliki relevansi langsung
terhadap pelaku usaha, karena kedua pasal tersebut tidak menjatuhkan tuntutan
konkrit terhadap perilaku pelaku usaha. Walaupun demikian, kedua pasal
tersebut harus digunakan dalam interpretasi dan penerapan setiap ketentuan
dalam UU No. 5 Tahun 1999, sehingga tujuan-tujuan yang termuat dalam Pasal
2 dan 3 tersebut dapat dilaksanakan seefsien mungkin. 12
D. PERSAINGAN USAHA KEGIATAN YANG DILARANG
Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (UU Antimonopoli), tidak
ditentukan suatu rumusan mengenai apa yang dimaksud dengan kegiatan,
berbeda dengan perjanjian yang terdapat rumusannya. Karena itulah,
berdasarkan pengertian perjanjian yang dirumuskan dalam undang-undang
tersebut dapat dirumuskan bahwa yang dimaksud dengan kegiatan adalah
suatu aktivitas yang dilakukan oleh satu atau lebih pelaku usaha yang berkaitan
dengan proses dalam menjalankan kegiatan usahanya. Dalam UU Antimonpoli,
tepatnya dalam BAB IV telah ditentukan beberapa kegiatan yang dilarang
dilakukan dalam praktik persaingan usaha, kegiatan-kegiatan tersebut adalah
monopoli, monopsoni, penguasaan pasar, dan persengkokolan.
A. MONOPOLI
Dalam Pasal 1 ayat (1) UU Antimonopoli, dituliskan yang dimaksud dengan
monopoli adalah:
12 Andi Fahmi Lubis, dkk., Op. Cit., hlm.14-15.

penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau atas
penggunaan jasa tertentu oleh satu pelaku usaha atau satu kelompok
pelaku usaha
Selanjutnya dalam Pasal 17 ayat (1) dan (2) dikatakan:
(1)Pelaku usaha dilarang melakukan penguasaan atas produksi dan atau
pemasaran barang dan atau jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya
praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat
(2)Pelaku usaha patut diduga atau dianggap melakukan penguasaan
atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) apabila:
a. Barang atau jasa yang bersangkutan belum ada substitusinya; atau
b. Mengaikabatkan pelaku usaha lain tidak dapat masuk ke dalam
persaingan usaha barang dan atau jasa yang sama; atau
c. Satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih
dari 50% pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu)
Melihat ketentuan pasal-pasal tersebut, terdapat kesan bahwa monopoli ini
adalah sesuatu yang negatif, padahal belum tentu seperti itu. Kata monopoli
adalah kata yang bermakna netral, yaitu penguasaan atas produksi dan/atau
pemasaran barang dan/atau atas penggunaan jasa tertentu oleh satu pelaku
usaha atau satu kelompok pelaku usaha. Monopoli bukanlah merupakan suatu
kejahatan jika memang didapatkan dengan cara-cara yang fair dan tidak
melanggar hukum, dan jikapun terjadi penguasaan, tidak harus berarti negatif
karena memang ada beberapa keadaan yang menyebabkan monopoli tidak
dapat dihindari (seperti alasan efisiensi atau dilindungi oleh undang-undang
dengan hak usaha eksklusif)13, yang dilarang adalah praktek monopoli atau
monopolizing yang oleh Pasal 1 point (b) UU Antimonopoli diartikan sebagai
pemusatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkan
dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa tertentu
sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat merugikan

13 Shidarta, Catatan Seputar Hukum Persaingan Usaha,


http://business-law.binus.ac.id/2013/01/20/catatan-seputar-hukumpersaingan-usaha/, diakses pada 25 September 2016 pukul 15.39 WIB.

kepentingan umum. Berdasarkan uraian tersebut dapat dilihat unsur-unsur dari


praktik monopoli adalah:
1. Terjadinya pemusatan kekuatan ekonomi pada satu atau lebih pelaku
usaha;
2. Terdapat penguasaan atas produksi atau pemasaran barang atau jasa
tertentu;
3. Terjadi persaingan usaha tidak sehat; dan
4. Tindakan tersebut merugikan kepentingan umum.14
Maka, jika suatu penguasaan memang mengakibatkan persaingan tidak sehat
atau merugikan kepentingan umum, barulah dapat dikatakan penguasaan
tersebut merupakan suatu pelanggaran. Sedangkan penguasaan yang memang
terjadi karena adanya keunggulan produk, perencanaan dan pengelolaan bisnis
yang baik, atau didapat dengan perjuangan jangka panjang, tentu saja bukan
merupakan tindakan penguasaan atas produksi dan pemasaran barang dan jasa
(monopoli) yang dilarang.15
Suatu perusahaan dikatakan telah melakukan monopolisasi jika pelaku usaha
mempunyai kekuatan untuk mengeluarkan atau mematikan perusahaan lain; dan
pelaku usaha tersebut telah melakukannya atau mempunyai tujuan untuk
melakukannya.16
Jika kita melihat rumusan Pasal 1 ayat (1) UU Antimonopoli, agar dapat
dikategorikan sebagai monopoli harus terdapat unsur-unsur penguasaan atas
produksi, dan atau pemasaran barang dan atau atas penggunaaan jasa tertentu
serta dilakukan oleh satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha. 17 Dan
untuk Pasal 17 unsur-unsurnya adalah (1)Melakukan perbuatan penguasaan
atas suatu produk; (2)Melakukan perbuatan atas pemasaran suatu produk;
(3)Penguasaan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli; dan

14 Andi Fahmi Lubis dkk, Hukum Persaingan Usaha Antara Teks &
Konteks, Komisi Pengawas Persaingan Usaha, 2009, hlm. 133.
15 Ibid.
16 Ibid., hlm. 127.
17 Ibid., hlm. 130

(4)Penguasaan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya praktek persaingan


usaha tidak sehat.18
Untuk membuktikan unsur-unsur perbuatan di atas maka kriteria ini harus
dipenuhi:
1. Tidak terdapat produk substitusinya;
2. Pelaku usaha lain sulit masuk ke dalam pasar persaingan terhadap
produk yang sama dikarenakan hambatan masuk yang tinggi;
3. Pelaku usaha lain tersebut adalah pelaku usaha yang mempunyai
kemampuan bersaing yang signifikan dalam pasar bersangkutan; dan
4. Satu atau satu kelompok pelaku usaha telah menguasai lebih dari 50%
pangsa pasar suatu jenis produk.19
Lalu, jika melakukan praktek monopoli terdapat beberapa dampak negatif yang
ternyata dapat merugikan konsumen maupun pelaku usaha lainnya, yaitu antara
lain:
1. Adanya peningkatan harga produk barang maupun jasa tertentu sebagai
akibat tidak adanya persaingan sehat, sehingga harga yang tinggi dapat
memicu atau menyebabkan terjadinya inflasi yang merugikan masyarakat
luas;
2. Pelaku usaha mendapatkan keuntungan secara tidak wajar, dan dia
berpotensi untuk menetapkan harga seenaknya guna mendapatkan
keuntungan

yang

berlipat,

tanpa

memperhatikan

pilihan-pilihan

konsumen, sehingga konsumen mau tidak mau tetap mengkonsumsi


produk barang dan jasa tertentu yang dihasilkannya;
3. Terjadi eksploitasi terhadap daya beli konsumen yang tidak memberikan
hak pilih pada konsumen untuk mengkonsumsi produk lainnya, sehingga
konsumen tidak peduli lagi pada masalah kualitas serta harga produk;
4. Terjadi inefisiensi dan tidak efektif dalam menjalankan kegiatan usahanya
yang pada akhirnya dibebankan pada masyarakat luas/konsumen
berkaitan dengan produk yang dihasilkannya;

18 Ibid.
19 Ibid., hlm. 131.

5. Terjadi entry barrier, yaitu keadaan dimana tidak ada perusahaan lain
yang mampu menembus pasar monopoli untuk suatu produk yang
sejenis;
6. Menciptakan pendapatan yang tidak merata, dimana sumber dana serta
modal akan tersedot ke perusahaan monopoli.20
B. MONOPSONI
Pengaturannya terdapat dalam pasal 18 UU Antimonpoli yang menyatakan:
1. Pelaku usaha dilarang menguasai penerimaan pasokan atau menjadi
membeli tunggal atas barang dan atau jasa dalam pasar bersangktuan
yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau
persaingan usaha tidak sehat.
2. Pelaku usaha patut diduga atau dianggap menguasai penerimaan
pasokan atau menjadi pembeli tunggal sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2) apabila satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha
menguasai lebih dari 50% pangsa pasar satu jenis barang atau jasa
tertentu.
Maka, monopsoni adalah suatu keadaan dimana suatu kelompok usaha
menguasai pasar yang besar untuk membeli suatu produk, sehingga perilaku
pembeli tunggal akan dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan
atau persaingan tidak sehat, dan apabila pembeli tunggal tersebut juga
menguasai lebih dari 50% pangsa pasar suatu jenis produk atau jasa. 21
Sedangkan dalam teori ekonomi, monopsoni dikenal sebagai suatu pasar
dimana hanya terdapat seorang pembeli atau pembeli tunggal. 22 Tetapi, sama
seperti monopoli, terdapat pula monopsoni yang tidak melanggar undangundang, seperti jika terdapat kondisi dimana tidak ada persaingan yang terjadi
dalam suatu bidang produk/jasa yang disebut juga natural monopoly.23
C. PENGUASAAN PASAR
Dalam pasal 19 UU Antimonopoli disebutkan bahwa pelaku usaha dilarang
melakukan satu atau beberapa kegiatan, baik sendiri maupun bersama pelaku
20
21
22
23

ibid.
Ibid., hlm. 138.
Ibid., hlm. 136.
Shidarta, Catatan Seputar Hukum Persaingan Usaha, Op.cit.

usaha lain yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau
persaingan usaha tidak sehat berupa:
1. Menolak dan atau menghalangi pelaku usaha tertentu untuk dapat
melakukan kegiatan usaha yang sama pada pasar yang bersangkutan;
2. Menghalangi konsumen atau pelanggaran pelaku usaha pesaingnya
untuk tidak melakukan hubungan usaha pesaingnya itu;
3. Membatasi peredaran dan atau penjualan barang dan atau jasa pada
pasar bersangkutan; atau
4. Melakukan praktek diskriminasi terhadap pelaku usaha tertentu. 24
Pihak yang dapat melakukan penguasaan pasar adalah para pelaku usaha
yang
mempunyai market power, yaitu pelaku usaha yang dapat menguasai pasar
sehingga dapat menentukan harga barang dan atau jasa yang di pasar yang
bersangkutan. Wujud penguasaan pasar yang dilarang dalam UU Antimonopoli
tersebut dapat terjadi dalam bentuk penjualan barang dan/atau jasa dengan
cara:
1. Jual

rugi

(predatory

picing)

dengan

maksud

untuk

mematikan

pesaingnya;
2. Melalui praktek penetapan biaya produksi secara curang serta biaya
lainnya;
3. Perang harga maupun persaingan harga. 25
D. PERSENGKOKOLAN
Menurut Pasal 1 angka 8 UU Antimonopoli, persengkokolan usaha atau
conspiracy adalah suatu bentuk kerja sama yang dilakukan oleh pelaku usaha
dengan pelaku usaha lain dengan maksud untuk menguasai pasar bersangkutan
bagi kepentingan pelaku usaha yang bersekongkol. Selanjutnya dalam undangundang dikatakan terdapat tiga bentuk kegiatan persekongkolan yang dilarang
yaitu persekongkolan untuk memenangkan tender (Pasal 22), perekongkolan
mencuri rahasia perusahaan saingan (Pasal 23), dan persekongkolan merusak
kualitas atau citra produk saingan (Pasal 24).26

24 Andi Fahmi Lubis dkk, Hukum Persaingan Usaha Antara Teks &
Konteks, Op.cit., hlm. 139.
25 ibid.
26 Ibid., hlm. 147.

Dalam pasal 22 sendiri sudah terdapat larangan yang jelas mengenai


melakukan persekongkolan tender, dan yang dimaksud dengan tender sendiri
adalah tawaran untuk mengajukan harga untuk memborong suatu pekerjaan,
untuk mengadakan barang-barang, atau untuk menyediakan jasa. 27 Jika melihat
pengertian persekongkolan dalam Pasal 1 angka 8 UU Antimonopoli, terlihat
bahwa terdapat unsur pelaku usaha lain. Ini berarti persekongkolan melibatkan
lebih dari satu pelaku usaha dan berdasarkan keterlibatan pihak lain tersebut
maka ada 3 bentuk persekongkolan yaitu:
1. Horizontal, yakni tindakan kerja sama yang dilakukan oleh para penawar
tender, misalnya mengupayakan agar salah satu pihak ditentukan sebagai
pemenang dengan cara bertukar informasi harga serta menaikkan atau
menurunkan harga penawaran;
2. Vertikal, yakni apabila kerja sama tersebut dilakukan antara penawar
dengan panitia pelaksana tender;
3. Horizontal dan vertikal, yakni persekongkolan antara panitia tender,
lelang, pengguna barang dan jasa, atau pemberi pekerjaan dengan
pelaku usaha atau penyedia barang dan jasa. 28
Persekongkolan ini juga memiliki dampak-dampak tertentu, yaitu:
1. Konsumen atau pemberi kerja membayar lebih mahal;
2. Barang atau jasa yang diperoleh (dari sisi mutu, jumlah, waktu, atau nilai)
sering kali lebih rendah dari yang akan diperoleh bila tender dilakukan
secara jujur;
3. Adanya hambatan bagi peserta potensial;
4. Nilai proyek untuk tender pengadaan jasa menjadi lebih tinggi karena
adanya mark uap oleh pihak-pihak yang bersekongkol. 29
Selanjutnya adalah perekongkolan mencuri rahasia perusahaan saingan
yang diatur dalam Pasal 23. Tapi, selain dalam UU Antimonopoli, pengaturannya
juga dapat dijumpai dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 tentang
27 Penjelasan Pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang
Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
28 Andi Fahmi Lubis dkk, Hukum Persaingan Usaha Antara Teks &
Konteks, Op.cit., hlm. 152.
29 Ditha Wiradiputra, Kegiatan yang Dilarang,
http://staff.ui.ac.id/system/files/users/ditha.wiradiputra61/material/kegi
atanyangdilarangrev.pdf, 2008, diakses pada 25 September 2016
pukul 15.58 WIB.

Rahasia Dagang. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan rahasia dagang


adalah informasi yang tidak diketahui oleh umum di bidang teknologi dan atau
bisnis, mempunyai nilai ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha, dan
dijaga kerahasiaannya oleh pemilik rahasia dagang. Dan lingkupnya ini meliputi
metode produksi, metode pengolahan, metode penjualan, atau informasi lain di
bidang teknologi dan/atau bisnis yang memilki nilai ekonomi dan tidak diketahui
masyarakat umum.30
Terakhir terdapat persekongkolan merusak kualitas atau citra produk saingan
yang diatur dalam pasal 24 UU Antimonopoli. Berdasarkan pasal tersebut para
pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk:
1. Menghambat pelaku usaha pesaing dalam memproduksi;
2. Menghambat pemasaran, atau memproduksi dan memasarkan barang,
jasa, atau barang dan jasa dengan maksud agar barang, jasa, atau
barang dan jas yang ditawarkan atau dipasok di pasar bersangkutan
menjadi berkurang atau menurun kualitasnya;
3. Bertujuan untuk memperlambat waktu proses produksi, pemasaran, atau
produksi pemasaran barang, jasa, atau barang dan jasa yang sebelumnya
sudah dipersyaratkan, serta
4. Kegiatan persekongkolan seperti ini dapat menimbulkan praktik monopoli
dan/atau persaingan usaha yang tidak sehat. 31
Secara ekonomis, hambatan perdagangan dibedakan menjadi (1)Restrictive
trade agreement, yaitu bentuk kolusi di antara para pemasok yang bertujuan
menghapus persaingan usaha secara keseluruhan ataupun sebagian, dan
(2)Restrictive

trade

practice,

yaitu

suatu

alat

untuk

mengurangi

atau

menghilangkan persaingan usaha di antara para pemasok produk yang saling


bersaing,32
E. DUMPING
Pelaku usaha dilarang melakukan pemasokan barang dan/atau jasa dengan
30 Andi Fahmi Lubis dkk, Hukum Persaingan Usaha Antara Teks &
Konteks, Op.cit., hlm. 161.
31 ibid., hlm. 189.
32 ibid.

cara melakukan jual rugi atau menetapkan harga yang sangat rendah dengan
maksud untuk menyingkirkan atau mematikan usaha pesaingnya di pasar
bersangkutan, sehingga dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli
dan/atau persaingan usaha tidak sehat (Pasal 20)
F. MANIPULASI BIAYA PRODUKSI
Pelaku usaha dilarang melakukan kecurangan dalam menetapkan biaya
produksi dan biaya lainnya yang menjadi bagian dari komponen harga barang
dan atau jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak
sehat (Pasal 21)
E. PERJANJIAN YANG DILARANG
Dari Pasal 4 sampai dengan Pasal 16 Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1999, terdapat beberapa perjanjian yang dilarang, sebagai berikut :
a. Oligopoli (Pasal 4)
Adalah keadaan pasar dengan produsen dan pembeli barang hanya berjumlah
sedikit, sehingga mereka atau seorang dari mereka dapat mempengaruhi harga
pasar. Oligopoli bersifat rule of reason.
Contoh : Produksi mie instan yang dipasarkan di Indonesia, 75% berasal dari
kelompok pelaku usaha A, B. Ini berarti keterikatan pelaku usaha A,B, dan C
sudah oligopoli.
b. Penetapan harga (Pasal 5)
Penetapan harga (price fixing). Dalam rangka penetralisasi pasar, pelaku usaha
dilarang membuat perjanjian, antara lain :
1) Perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga
atas barang dan atau jasa yang harus dibayar oleh konsumen atau
pelanggan pada pasar bersangkutan yang sama;
2) Perjanjian yang mengakibatkan pembeli yang harus membayar dengan

harga yang berbeda dari harga yang harus dibayar oleh pembeli lain
untuk barang dan atau jasa yang sama;
3) Perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga di
bawah harga pasar;
4) Perjanjian dengan pelaku usaha lain yang memuat persyaratan bahwa
penerima barang dan atau jasa tidak menjual atau memasok kembali
barang dan atau jasa yang diterimanya dengan harga lebih rendah
daripada harga yang telah dijanjikan.
Contoh penetapan harga : beberapa perusahaan taksi sepakat bersama-sama
menaikkan tarif.
c. Diskriminasi Harga dan Diskon (Pasal 6 sampai 8)
Pasal 6: Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian yang mengakibatkan
pembeli yang satu harus membayar dengan harga yang berbeda dari harga yang
harus dibayar oleh pembeli lain untuk barang dan/atau jasa yang sama.
Pasal 7: Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pe1aku usaha
pesaingnya

untuk

menetapkan

harga

di

bawah

pasar,

yang

dapat

mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat.


Pasal 8: Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain
yang rnemuat persyaratan bahwa penerima barang dan/atau jasa tidak akan
menjual atau memasok kembali barang dan/atau jasa yang telah diterimanya,
dengan harga yang lebih rendah daripada harga yang telah diperjanjikan,
sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat.
Pembagian wilayah ini bersifat rule of reason.
Contoh : Perusahaan A hanya menjual produknya di Jawa Tengah dan
perusahaan B di Jawa Timur.
d. Pembagian wilayah (Pasal 9)
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya
yang bertujuan untuk membagi wilayah pemasaran atau alokasi pasar terhadap

barang dan atau jasa, sehingga mengakibatkan terjadinya praktik monopoli


dan /atau persaingan usaha tidak sehat. Pembagian wilayah ini bersifat rule of
reason.
Contoh : Perusahaan A hanya menjual produknya di Jawa Tengah dan
perusahaan B di Jawa Timur.
e. Pemboikotan (Pasal 10)
Pelaku usaha dilarang untuk membuat perjanjian dengan pelaku usaha
pesaingnya yang dapat menghalangi pelaku usaha lain untuk melakukan usaha
yang sama, baik untuk tujuan pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri.
Pemboikotan bersifat per se dan rule of reason.
Contoh : Asosiasi produsen rokok bersepakat dengan asosiasi petani tembakau
agar para petani menjual tembakau mereka kepada produsen rokok anggota
asosiasi itu saja.
f. Kartel (Pasal 11)
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya
yang bermaksud untuk mempengaruhi harga dengan mengatur produksi dan
atau pemasaran suatu barang dan atau jasa. Kartel bersifat per se.
Contoh : Beberapa perusahaan semen sepakat untuk mengurangi produksi
selama 2 bulan agar pasokan menipis.
g. Oligopsoni (Pasal 13)
Keadaan dimana dua atau lebih pelaku usaha menguasai penerimaan pasokan
atau menjadi pembeli tunggal atas barang dan/atau jasa dalam suatu pasar
komoditas. Oligopsoni bersifat rule of reason.
Contoh : Perusahaan mie A, B, dan C bersama-sama berjanji untuk menyerap

75% pasokan terigu nasional.


h. Integrasi Vertikal (Pasal 14)
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain yang
bertujuan untuk menguasai produksi sejumlah produk yang termasuk dalam
rangkaian produksi barang dan atau jasa tertentu yang mana setiap rangkaian
produksi merupakan hasil pengelolaan atau proses lanjutan baik dalam satu
rangkaian langsung maupun tidak langsung. Integrasi vertikal bersifat rule of
reason.
Contoh : Satu perusahaan di hulu mengakuisi perusahaan di hilirnya. Akuisisi ini
menyebabkan terjadi posisi dominan, yang kemudian disalahgunakan untuk
memenangkan persaingan secara tidak sehat.
Contoh : Perjanjian antara produsen terigu A danprodusen mie B, bahwa jenis
terigu yang dijual kepada B tidak boleh dijual kepada pelaku usaha dijual kepada
pelaku usaha lain.
KPPU
Komisi Pengawas Persaingan Usaha atau KPPU, sebagai lembaga independen
telah ditunjuk oleh Pasal 30 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang
Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, sebagai
lembaga yang bertugas mengawasi dan menegakkan pelaksanaan atas undangundang tersebut. Ide untuk membentuk undang-undang tentang persaingan
sehat dan anti monopoli sendiri muncul setelah ditandatanganinya Letter of
Intent (LOI) antara Pemerintah RI dengan IMF pada tanggal 29 Juli 1998. 33
KPPU yang ada sekarang ini dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden
Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 1999.
33 I Ketut Karmi Nurjaya, Peranan KPPU dalam Menegakkan UndangUndang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat, Jurnal Dinamika Hukum Vol. 9 No. 1
Januari 2009, hlm. 84.

Sebenarnya, penegakan hukum persaingan usaha dapat saja dilakukan


oleh kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan. Dalam hal ini, pengadilan
merupakan tempat penyelesaian yang resmi dibentuk oleh negara, namun untuk
hukum persaingan usaha, penyelesaian sengketa pada tingkat pertama tidak
diselesaikan oleh pengadilan. Alasan yang dapat dikemukakan adalah kerena
hukum persaingan usaha membutuhkan orang-orang spesialis yang memiliki
latar belakang dan/atau mengerti seluk beluk bisnis dalam rangka menjaga
mekanisme pasar. Institusi yang melakukan penegakan hukum persaingan
usaha harus beranggotakan orang-orag yang tidak saja berlatar belakang
hukum, tetapi juga ekonomi dan bisnis. Hal ini sangat diperlukan mengingat
persaingan usaha sangat terkait erat dengan ekonomi dan bisnis. 34
Dengan demikian, penegakan hukum Antimonopoli dan persaingan usaha
berada dalam kewenangan KPPU. Namun demikian, tidak berarti bahwa tidak
ada lembaga lain yang berwenang menangani perkara monopoli dan persaingan
usaha. Pengadilan Negeri (PN) dan Mahkamah Agung (MA) juga diberi
wewenang untuk menyelesaikan perkara tersebut. PN diberi wewenang untuk
menangani keberatan terhadap putusan KPPU dan menangani pelanggaran
hukum persaingan yang menjadi perkara pidana karena tidak dijalankannya
putusan

KPPU

yang

sudah

in

kracht. MA diberi

kewenangan

untuk

menyelesaikan perkara pelanggaran hukum persaingan apabila terjadi kasasi


terhadap keputusan PN tersebut.35
Alasan

lain

mengapa

dibutuhkan

institusi

yang

secara

khusus

menyelesaikan kasus praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat


adalah agar berbagai perkara tidak bertumpuk di pengadilan. Institusi yang
secara khusus menyelesaikan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak
sehat dapat dianggap sebagai suatu alternatif penyelesaian sengketa, sepanjang

34 Ayudha D Prayoga, Persaingan Usaha dan Hukum yang


Mengaturnya di Indonesia, Jakarta: Proyek Elips, 2000, hlm. 16.
35 Andi Fatmi Lubis et. al, Hukum Persaingan Usaha Antara Teks dan
Konteks, 2009, hlm. 311.

pengertian alternatif disini adalah di luar pengadilan. Di Indonesia lembaga yang


demikian seringkali dianggap sebagai kuasi yudikatif sudah lama dikenal. 36
Dapat dikemukakan alasan filosofis dan sosiologis dari pembentukan
KPPU ini. Alasan filosofis yang dijadikan dasar pembentukannya, yaitu di dalam
mengawasi pelaksanaan dari suatu aturan hukum diperlukan suatu lembaga
yang mendapat kewenangan dari negara (pemerintah dan rakyat). Dengan
kewenangan yang diberikan oleh negara, diharapkan lembaga pengawasan ini
dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan sebaik-baiknya, serta sedapat
mungkin mampu bertindak independen. Adapun alasan sosiologis yang dijadikan
alasan pembentukan KPPU adalah menurunnya citra pengadilan dalam
memeriksa dan mengadili suatu perkara, serta beban perkara pengadilan yang
sudah menumpuk. Alasan lain bahwa dunia usaha membutuhkan penyelesaian
yang cepat dan proses pemeriksaan yang bersifat rahasia. Oleh karena itu
diperlukan lembaga khusus yang beranggotakan orang-orang yang ahli dalam
bidang ekonomi dan hukum, dengan demikian penyelesaian yang cepat dapat
terwujud.37
Tugas dan wewenang KPPU tercantum pada Pasal 35 dan Pasal 36
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999: 38
Pasal 35
Tugas Komisi meliputi:
a. melakukan penilaian terhadap perjanjian yang dapat mengakibatkan
terjadinya

praktek

monopoli

dan

atau

persaingan

usaha

tidak

sehat

sebagaimana diatur dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 16;


b. melakukan penilaian terhadap kegiatan usaha dan atau tindakan
pelaku usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau
persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam Pasal 17 sampai
dengan Pasal 24;

36 Ibid., hlm. 126.


37 Ibid., hlm. 128.
38 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat

c. melakukan penilaian terhadap ada atau tidak adanya penyalahgunaan


posisi dominan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau
persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam Pasal 25 sampai
dengan Pasal 28;
d. mengambil tindakan sesuai dengan wewenang Komisi sebagaimana
diatur dalam Pasal 36;
e. memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijakan Pemerintah
yang berkaitan dengan praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat;
f. menyusun pedoman dan atau publikasi yang berkaitan dengan Undangundang ini;
g. memberikan laporan secara berkala atas hasil kerja Komisi kepada
Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat.
Pasal 36
Wewenang Komisi meliputi:
1. menerima laporan dari masyarakat dan atau dari pelaku usaha tentang
dugaan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat;
2. melakukan penelitian tentang dugaan adanya kegiatan usaha dan atau
tindakan pelaku usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli
dan atau persaingan usaha tidak sehat;
3. melakukan penyelidikan dan atau pemeriksaan terhadap kasus dugaan
praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang dilaporkan oleh
masyarakat atau oleh pelaku usaha atau menghadirkan pelaku usaha, saksi,
saksi ahli, atau setiap orang sebagaimana dimaksud huruf e dan huruf f, yang
tidak bersedia memenuhi panggilan Komisi;
4. meminta keterangan dari instansi Pemerintah dalam kaitannya dengan
penyelidikan dan atau pemeriksaan terhadap pelaku usaha yang melanggar
ketentuan undang-undang ini;
5. mendapatkan, meneliti, dan atau menilai surat, dokumen, atau alat
bukti lain guna penyelidikan dan atau pemeriksaan;

6. memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kerugian di pihak


pelaku usaha lain atau masyarakat;
7. memberitahukan putusan Komisi kepada pelaku usaha yang diduga
melakukan praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat;
8. menjatuhkan sanksi berupa tindakan administratif kepada pelaku usaha
yang melanggar ketentuan Undang-undang ini.
Berdasarkan ketentuan UU Anti Monopoli, pemeriksaan yang dilakukan
KPPU dilakukan dalam dua tahap:39
a. Pemeriksaan pendahuluan
Pemeriksaan pendahuluan ini telah disebutkan dalam Pasal 39 ayat 1
UU Anti Monopoli, dimana jangka waktunya adalah 30 hari sejak
tanggal surat penetapan dimulainya suatu pemeriksaan pendahuluan.
Pemeriksaan pendahuluan ini didasarkan pada dua hal yaitu:
1) Pemeriksaan atas dasar inisiatif
Pemeriksaan atas dasar inisiatif dilakukan atas dasar inisiatif KPPU
sendiri, yang tidak didasarkan pada laporan dari pihak yang
merasa dirugikan sesuai dengan ketentuan Pasal 40 UU Anti
Monopoli.
2) Pemeriksaan atas dasar laporan
Pemeriksaan atas dasar laporan ini adalah pemeriksaan yang
dilakukan oleh KPPU karena adanya laporan yang disampaikan
baik karena ada laporan masyarakat maupun dari pelaku usaha
yang dirugikan oleh tindakan pelaku usaha yang dilaporkan.
b. Pemeriksaan lanjutan
Pemeriksaan lanjutan merupakan tindak lanjut dari pemeriksaan atau
penyidikan

yang

dilakukan

oleh

KPPU

dalam

pemeriksaan

pendahuluan, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 39 ayat 2 UU Anti


Monopoli. Pemeriksaan lanjutan dilakukan oleh KPPU apabila telah
ditemukan adaya indikasi praktek monopoli atau persaingan usaha
tidak sehat. Pemeriksaan lanjutan dilakukan dalam jangka waktu
paling lama 60 hari dan dapat diperpanjang 20 hari sejak yanggal
ditetapkannya pemeriksaan lanjutan.
39 I Ketut Karmi Nurjaya, Op.Cit., hlm. 86-87.

Pasal 7 Keputusan Presiden Nomor 75 Tahun 1999 menyatakan bahwa untuk


menyelesaikan suatu perkara, KPPU bisa melakukan sidang majelis yang
beranggotakan

sekurang-kurangnya

tiga

orang

anggota

KPPU

dimana

keputusannya ditandatangani oleh seluruh anggota majelis. Dengan demikian


penyelesaian atau pemeriksaan perkara penegakan hukum persaingan harus
dilakukan dalam sidang dalam bentuk majelis, majelisnya beranggotakan
minimal 3 orang. Sama halnya denga putusan pengadilan, putusan KPPU
mengenai hasil pemeriksaanya harus dibacakan dalam suatu sidang yang
dinyatakan terbuka untuk umum dan segera diberitahukan kepada pelaku usaha
yaitu dengan menyampaikan petikan putusan KPPU pada pelaku usaha. 40
Pembentuk UU Anti Monopoli memandang bahwa UU Anti Monopoli
mempunyai dua aspek hukum, yaitu aspek hukum perdata dan aspek hukum
pidana. Permintaan

eksekusi

kepada

Pengadilan

Negeri

adalah

untuk

melaksanakan sanksi administratif yang dikenakan KPPU, sebagaimana


dimaksud dalam UU Anti Monopoli, yang bersifat perdata. Sedangkan
penyerahan putusan KPPU kepada penyidik, adalah upaya penerapan sanksi
pidana kepada pelaku usaha yang diduga telah melakukan tindak pidana
berdasarkan UU Anti Monopoli. Penyerahan ini dilakukan karena KPPU tidak
berwenang untuk menjatuhkan sanksi podana kepada pelaku usaha tetapi itu
merupakan wewenang peradilan umum. Putusan KPPU tidak serta merta
menjadi bukti untuk menyimpulkan pelaku usaha telah bersalah melakukan
tindak pidana, tetapi hanya merupakan bukti permulaan bagi kepolisian sebagai
penyidik tunggal untuk melakukan penyidikan. 41
Contoh Kasus
KPPU vs Carrefour
PT Sari Boga Snack, yang merupakan salah satu pemasok dari Carrefour,
melaporkan mengenai permasalahan penerapan syarat-syarat perdagangan
yang dianggap memberatkan pemasok kepada KPPU khususnya mengenai
permasalahan listing fee dan minus margin. Akhirnya KPPU memproses perkara
40 Ibid., hlm. 88.
41 Ibid., hlm. 88-89.

ini dengan dugaan awal terjadinya pelanggaran terhadap Pasal 19 huruf a


(menolak dan atau menghalangi pelaku usaha untuk melakukan kegiatan usaha
yang sama pada pasar bersangkutan), Pasal 19 huruf b (menghalangi konsumen
atau pelanggan pelaku usaha pesaingnya untuk tidak melakukan hubungan
usaha dengan pelaku usaha pesaingnya) dan Pasal 25 ayat (1) huruf a (posisi
dominan dalam menetapkan syarat-syarat perdagangan dengan tujuan untuk
mencegah dan atau menghalangi konsumen memperoleh barang dan atau jasa
yang bersaing, baik dari segi harga maupun kualitas) UU No. 5 Tahun 1999 yang
dilakukan oleh Carrefour dalam menetapkan syarat-syarat perdagangan kepada
pemasoknya.42
Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan dan bukti-bukti yang
ditemukan selama persidangan berlangsung, KPPU melalui Putusan Perkara
Nomor 02/KPPU-L/2005 memutuskan Carrefour terbukti secara sah dan
meyakinkan melanggar Pasal 19 huruf a UU No. 5 Tahun 1999 dan
memerintahkan kepada Carrefour untuk menghentikan kegiatan pengenaan
persyaratan minus margin kepada pemasok, serta membayar denda sebesar Rp.
1.500.000.000,- (satu miliar lima ratus juta rupiah). Berdasarkan putusan KPPU
tersebut, diharapkan Carrefour tidak mencoba menyalahgunakan kembali
market power yang dimilikinya kepada para pemasoknya. Bagi hypermarket lain
putusan KPPU haruslah dipandang sebagai peringatan/warning agar tidak
mengikuti jejak Carrefour yang harus berurusan dengan KPPU. 43
KPPU vs Bridgestone
KPPU melalui Putusan Perkara Nomor 08/KPPU-I/2014 menjatuhkan
denda maksimum sebesar Rp 25 miliar kepada 6 produsen ban dalam negeri.
Enam perusahaan ini dianggap melanggar Pasal 5 UU Anti Monopoli. Enam
perusahaan tersebut adalah PT Bridgestone Tire Indonesia, PT Sumi Rubber
Indonesia, PT Gajah Tunggal (GJTL), PT Goodyear Indonesia (GDYR), PT Elang
Perdana Tyre Industry, dan PT Industri Karet Deli. Enam produsen ban itu
42 Andi Fatmi Lubis et. al, Op.Cit., hlm. 142.
43 Ibid.,

terbukti melakukan kartel selama periode 2009 2012. KPPU menemukan fakta
dalam rapat presidium Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI) dalam kurun
waktu 2009 sampai dengan 2012 yang mengindikasikan adanya kesepakatan
untuk menahan produksi dan mengatur pengaturan harga. Fakta lain, pada rapat
Sales Director APBI Desember 2008 yang disampaikan dalam rapat presidium
tanggal 21 Januari 2009, diperoleh kesimpulan "Anggota APBI jangan melakukan
banting membanting harga."44
KPPU vs Yamaha
Berdasarkan data dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI),
terdapat empat prodsen otomotif di Indonesia, yaitu Honda (AHM), Yamaha
(YMMI), dan PT Suzuki Indomobil Motor (Suzuki) dan PT TVS Motor Company
Indonesia (TVS). Dari keempat pabrikan tersebut, Honda dan Yamaha
menguasai kurang lebih 97 persen pasar motor skutik. Bahkan, dalam beberapa
tahun terakhir, Honda memimpin pasar motor skutik di tanah air. Selain
penguasaan pasar skutik yang sangat dominan dari kedua pabrikan tersebut,
KPPU juga menemukan adanya pergerakan harga motor skutik Yamaha dan
Honda yang saling beriringan. Kenaikan harga motor skutik Yamaha selalu
mengikuti kenaikan harga motor skutik Honda. 45 Hal inilah yang memunculkan
inisiatif dari KPPU untuk melakukan penyelidikan inisiatif yang telah dilakukan
sejak tahun 2014. Proses peradilan perkara Dugaan Pelanggaran Pasal 5 Ayat
(1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli
dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dalam Industri Sepeda Motor Jenis Skuter
Matik 110-125 CC di Indonesia yang Dilakukan oleh PT Yamaha Indonesia Motor
Manufacturing dan PT Astra Honda Motor dengan Nomor Perkara 04/KPPU44 6 Produsen Ban dari Goodyear Hingga Gajah Tunggal Terbukti
Kartel, Didenda Rp 25 Miliar. 2015.
<http://finance.detik.com/industri/2797378/6-produsen-ban-darigoodyear-hingga-gajah-tunggal-terbukti-kartel-didenda-rp-25-miliar>
[diakses pada 25/09/2016]
45 Cium Kartel Harga Motor Skutik Yamaha dan Honda, KPPU Gelar
Sidang Perdana. 2016. http://www.kppu.go.id/id/blog/2016/07/ciumkartel-harga-motor-skutik-yamaha-dan-honda-kppu-gelar-sidangperdana/ [diakses pada 25/09/2016]

I/2016 ini pun masih berjalan hingga saat ini dan masih dalam tahap
pemeriksaan lanjutan.

PENUTUP

A.

SIMPULAN
Hukum persaingan usaha merupakan hukum yang mengatur segala

sesuatu yang berkaitan dengan persaingan usaha. Hukum persaingan usaha


diatur dalam Undang-Undang Pasal 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Dalam melakukan kegiatan usaha

di Indonesia, pelaku usaha harus berasaskan demokrasi ekonomi dalam


menjalankan kegiatan usahanya dengan memperhatikan keseimbangan antara
kepentingan pelaku usaha dan kepentingan umum. Terdapat beberapa kegiatan
yang dilarang dilakukan pelaku usaha yaitu terdapat dalam Pasal 17--24
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999. Selain kegiatan yang dilarang, juga
terdapat perjanjian yang dilarang pelaku usaha yaitu tedapat dalam Pasal 4--16
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999.
Tercapainya tujuan pembentukan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999
masih tergantung pada beberapa faktor, yakni Pertama, kemampuan undangundang itu sendiri dalam memberikan sejumlah rambu-rambu sebagai
pengaturannya patut dinilai apakah rambu-rambu tersebut realistis untuk saat ini
untuk menciptakan reformasi dalam hukum bisnis. Kedua, tergantung pada
struktur hukum bisnis yang berlaku di Indonesia pada saat ini. Usaha untuk
mempaduserasikan undang-undang ini dengan berbagai undang-undang yang
mengatur persoalan bisnis di negara kita perlu dilakukan dan memerlukan waktu.
Dengan kata lain, berlakunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 ini masih
harus ditindak lanjuti dengan usaha reformasi hukum bisnis pada umumnya.
Selain itu dapat terlaksana atau tidaknya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999
akan

tergantung

pada

kemauan

dan

komitmen

pemerintah

untuk

melaksanakannya dan harus ada kemauan kuat, bukan kemauan setengah hati.
Oleh karena itu, pemerintah dituntut untuk melakukan penataan kelembagaan
yang memungkinkan dilaksanakannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999
dan menyiapkan personel yang handal sebagai pendukungnya. Untuk itu
diperlukan kajian yang mendalam dan komprehensif bukan hanya pada materi
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 saja tetapi juga terhadap semua
komponen hukum bisnis yang berhubungan dengan hal tersebut. Selain itu,
pengkajian dan sosialisasi terhadap masyarakat juga penting dalam mewujudkan
terlaksananya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999.