Anda di halaman 1dari 30

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ternando (2015) Salah satu karakteristik industri pertambangan,
selain bersifat padat modal, dan padat teknologi, juga memiliki resiko dari
aspek keselamatan dan kesehatan kerja. Kegiatan pekerjaan dalam industri
pertambangan memiliki resiko bahaya cukup tinggi, yang senantiasa
mengancam keselamatan para pekerja tambang maupun bagi keberlangsungan
usaha pertambangan itu sendiri. Lebih jauh lagi, apabila potensi bahaya dan
kondisi lingkungan kerja pertambangan tidak dapat dicegah maupun
ditanggulangi maka akan menimbulkan kerugian berupa korban jiwa,
ketidakamanan peralatan dan terhalangnya produksi.
Dalam industri pertambangan yang terpenting adalah bagaimana
membuat perencanaan lereng yang baik dan kestabililannya. Karena setiap
aktivitas manusia yang berhubungan dengan penggalian atau penimbunan
akan selalu menghadapi permasalahan dengan lereng. Lereng-lereng tersebut
harus dianalisis kemantapannya serta dipantau untuk mencegah bahaya
longsoran sewaktu-waktu akan datang jika tidak dipantau setiap saat. Saat ini
telah dikembangkan alat pendeteksi pergeseran lereng salah satunya alat
pendeteksi pergeseran lereng berbasis mikrokontroler.
Farida, dkk (2006) Indonesia yang tergolong kaya sumber energi
matahari, mempunyai total intensitas penyinaran rata-rata 4,5 kWh per meter
persegi per hari. Di samping itu, karena letaknya tepatdi garis khatulistiwa,
lamanya matahari bersinar di Indonesia berkisar 2.000 jam per tahun. Energi
matahari yang sangat besar tersebut belum termanfaatkan sebagai sumber
energi alternatif. Energi matahari yang diterima permukaan bumi sering
terabaikan, bahkan terkadang terasa mengganggu karena menyebabkan
ketidaknyamanan tubuh. Gagasan pemanfaata energi matahari untuk
membangkitkan energi listrik merupakan gagasan yang bagus dan penting,
sebagai upaya mencari sumber energi alternatif pembangkit listrik pengganti
bahan bakar fosil yang cadangannya di perut bumi semakin menipis. Energi

surya relatif lebih mudah diperoleh, dapat dikatakan tidak menimbulkan polusi
sama sekali, dan tersedia hampir setiap hari.
Keselamatan dan kesehatan kerja pada kegiatan usaha pertambangan
merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam upaya mendukung
kelancaran operasional penambangan dan menjaga kesinambungan hasil
produksi yang diharapkan. Salah satu aspek keselamatan dan kesehatan kerja
yang perlu diperhatikan yaitu salah satunya pada bagian lereng. Untuk
menghindari terjadinya bahaya yang di akibatkan oleh lereng, maka lereng
tersebut harus di tangani dan dilakukan pemantauan secara rutin setiap saat
dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan (renewable energy). Oleh
sebab itu, perlu dikembangkan alat pendeteksi pergeseran lereng berbasis
mikrokotroler dengan pemanfaatan energi matahari yang dapat berperan
sebagai alat penunjang keselamatan kerja maupun manajemen perusahaan
pertambangan yang selalu memperhatikan aspek keselamatan dan kesehatan
kerja, sehingga dapat diciptakan lingkungan kerja tambang yang aman, sehat
dan kondusif pada lingkungan pekerjaan, terutama dalam upaya peningkatan
produktifitas perusahaan menuju Indonesia yang dapat bersaing pada MEA
2015.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana menentukan laju pergerakan longsoran ?
2. Bagaimana peran alat dalam mencegah kecelakaan kerja pada lereng
tambang ?
3. Bagaimana desain instalasi solar system untuk memenuhi kebutuhan
energi listrik alat tersebut?
4. Bagaimana efektifitas penggunaan energi matahari untuk pengoperasian
alat tersebut?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut ini:
1. Mengungkapkan proses terjadinya longsoran lereng.
2. Mengungkapkan peran alat terhadap pergerakan lereng.
3. Mengungkapkan peran alat dalam rangka pencegah kecelakaan kerja pada
lereng tambang.

4. Mengungkapkan desain instalasi solar system untuk memenuhi kebutuhan


energi listrik alat.
5. Mengungkapkan efektifitas

penggunaan

energi

matahari

untuk

pengoperasian alat.
D. Manfaat Penelitian
Adapun beberapa manfaat yang diperoleh setelah melakukan
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Teoritis
a. Sumbangan terhadap ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang
pendeteksian kelongsoran lereng pada kegiatan penambangan.
b. Penulis bisa mengaplikasikan teori-teori yang sudah didapat pada
perkuliahan ke dalam kondisi nyata di lapangan.
2. Praktis
a. Sebagai referensi tambahan bagi peneliti lain dalam bidang yang
terkait dengan stabilitas lereng tambang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Longsoran Lereng
Longsoran adalah suatu proses perpindahan material dari suatu
tempat ke tempat lain akibat gaya berat (gravitasi).
Longsoran bisa terjadi karena proses alami maupun karena akibat
kegiatan manusia. Jika ditinjau dari mekanisme dan bentuk bidang

longsorannya, terdapat beberapa jenis longsoran yang dapat terjadi,


tergantung dari kondisi dan jenis material pembentuk lereng yang
bersangkutan.
Jenis-jenis longsoran :
1. Longsoran busur (circular failure)
2. Longsoran bidang (plane failure)
3. Longsoran baji (wedge failure)
4. Gulingan (toppling)
Faktor Stabilitas Lereng :
1. Penyebaran batuan
2. Morfologi daerah
3. Struktur geologi
4. Iklim
5. Hasil kerja manusia
6. Geometri lereng
7. Pengaruh air tanah
8. Sifat fisik dan sifat mekanika material
B. Alat Pendeteksi Pergerakan Lereng
Komponen-komponen Alat :
1. Panel SuryaI-Sun 10,11 Vp
2. Catu daya
3. Sensor Ping Parallax 40 KHz
4. Liquid Crystal Display (LCD)
5. Buzzer
6. Penahan catu balik switching mode power supply (SMPS)
7. Baterai GP NiCad
8. Boost Converter IC switching regulator LM 78S40
9. Mikrokontroler ATmega 8535
10. USB-TTL
11. Fan (Kipas Angin)
12. LED Indikator
13. WiMAX wimax wireless point to point and multipoint
C. Penggunaan Energi Matahari
Faridah, dkk (2006) Indonesia yang tergolong kaya sumber energi
matahari, mempunyai total intensitas penyinaran rata-rata 4,5 kWh per
meter persegi per hari. Di samping itu, karena letaknya tepat di garis
khatulistiwa, lamanya matahari bersinar di Indonesia berkisar 2.000 jam
per tahun. Energi matahari yang sangat besar tersebut belum
termanfaatkan sebagai sumber energi alternatif. Energi matahari yang
diterima permukaan bumi sering terabaikan, bahkan terkadang terasa
mengganggu karena menyebabkan ketidaknyamanan tubuh. Gagasan

pemanfaatan energi matahari untuk membangkitkan energi listrik


merupakan gagasan yang bagus dan penting, sebagai upaya mencari
sumber energi alternatif pembangkit listrik pengganti bahan bakar fosil
yang cadangannya di perut bumi semakin menipis. Energi surya relatif
lebih mudah diperoleh, dapat dikatakan tidak menimbulkan polusi sama
sekali, dan tersedia hampir setiap hari.
(Supeno, 2014) Panel surya adalah alat yang terdiri dari sel surya
yang memanfaatkan cahaya matahari menjadi energi listrik (Gambar 2.4).
Cara kerja PV (Photovoltaic) identik dengan cara kerja dioda
semikonduktor, terdapat dua lapisan yang dinamakan p-n junction. Gaya
tolakan antara bahan semi-konduktor akan menyebabkan aliran electron
sehingga menimbulkan medan listrik dan electron dapat disalurkan ke
saluran awal dan akhir untuk digunakan pada perabot listrik, sehingga
akan terbangkit tegangan DC.
Atom Silikon (Si) adalah atom yang mampunyai empat elektron
valensi. Masing-masing elektron ini membentuk ikatan dengan elektron
valensi dari atom-atom Silikon yang bersebelahan sehingga terbentuk
molekul yang stabil.
Kehadiran atom (dopping) dengan jumlah elektron valensi ganjil
memicu ketidakstabilan atom-atom Si. Kehadiran atom Phospor, yang
mempunyai lima elektron valensi menyebabkan gabungan atom ini
mempunyai kelebihan satu elektron untuk membentuk pasangan stabil.
Atom Silikon seperti ini disebut sebagai Silikon jenis p. Jika atom
Si ditambahkan dengan atom Boron, yang memiliki tiga elektron valensi,
menyebabkan gabungan atom ini kekurangan satu elektron untuk
membentuk pasangan stabil. Atom-atom Silikon pada keadaan ini disebut
sebagai jenis n.

Jika kristal Silikon jenis p dan jenis n dipersatukan, secara listrik


kekurangan dan kelebihan elektron pada tiap-tiap kristal akan saling
berinteraksi. Elektron-elektron pada Kristal jenis p akan tertarik dan
mengalir kearah hole-hole pada kristal jenis n. Saat terjadi keseimbangan
listrik pada sambungan p-n ini, maka kristal jenis n mempunyai banyak
electron sehingga bersifat sangat elektronegatip sedangkan pada kristal
jenis p kelebihan hole sehingga bersifat sangat elektropositip. Pada
sambungan p-n terjadi pengosongan muatan sehingga tercipta lapisan
kosong yang mempunyai medan listrik cukup kuat akibat beda muatan
pada kristal p dan kristal n. Medan listrik ini dapat mempercepat elektronelektron yang jatuh pada lapisan pengosongan (depletion layer). Lapisan

pengosongan ini juga menciptakan potensial barrier, yaitu tegangan


hambat agar elektron mampu melewati lapisan pengosongan.
Penyambungan kristal Silikon jenis n dan jenis p menciptakan dioda
yang peka terhadap gangguan elektron pada daerah pengosongan. Cahaya
Matahari merambat sebagai gelombang elektromagnetik dan sebagai
materi yang disebut foton. Keberdaan foton mampu mempengaruhi
elektron-elektron

yang

ditabraknya.

Foton

yang

masuk

daerah

pengosongan dioda p-n akan mengionisasi atom-atom Silikon (atom Si).


Atom-atom

yang

terionisasi

akan

mampu

melepaskan

elektron-

elektronnya. Elektron-elektron yang terlepas dari atom Si akan memasuki


daerah pengosongan kemudian dipercepat oleh medan listriknya.
Pengurangan dan penambahan elektron pada tiap-tiap kristal akan
mempengaruhi kuat arus pada kristal. Jika beda potensial masing-masing
ujung kristal dihubungkan dengan beban di luar kristal akan tercipta
kalang aliran arus.
D. Teknologi WiMax
WiMAX adalah

singkatan

dari Worldwide Interoperability

for Microwave Access, merupakan teknologi akses nirkabel pita lebar


(broadband wireless access atau disingkat BWA) yang memiliki kecepatan
akses yang tinggi dengan jangkauan yang luas. WiMAX merupakan
evolusi dari teknologi BWA sebelumnya dengan fitur-fitur yang lebih
menarik. Disamping kecepatan data yang tinggi mampu diberikan,
WiMAX juga merupakan teknologi dengan open standar. Dalam arti
komunikasi perangkat WiMAX di antara beberapa vendor yang berbeda
tetap dapat dilakukan (tidak proprietary). Dengan kecepatan data yang
besar (sampai 70 MBps), WiMAX dapat diaplikasikan untuk koneksi
broadband last mile, ataupun backhaul.

WiFi
802.11g

WiMAX
802.162004*

WiMAX
802.16e

CDMA200
0 1x EVDO

WCDMA/ UMTS

Approximat
e max reach
(dependent
on many

100
Meters

8 Km

5 Km

75 Mbps

30 Mbps

3.1 Mbps

(20 MHz

(10 MHz

(EVDO

band)

band)

Rev. A)

factors)

Maximum

54

throughput

Mbps

Typical
Frequency

2.4 GHz 211 GHz 26 GHz

1900 MHz

bands

2 Mbps (10+ Mbps


for HSDPA)

1800,1900,2100 MH
z

Fixed
Wireless
Application

Portable

Wireles Broadband Wireless


s LAN

(eg-DSL

Broadban

alternative d

Mobile
Wireless
Broadband

Mobile Wireless
Broadband

)
(Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/WiMAX)

BAB III
METODE PENULISAN
B. Metode Penelitian
Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode
eksperimental. Kegiatan yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi
perancangan desain, simulasi yang akhirnya membentuk suatu prototipe.
Prototipe yang akan dihasilkan yaitu sistem slomotion (Solar Slope
Movement Detection) yang dikontrol oleh Mikrokontroler Atmega 8535.
C. Tempatdan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Elektro Jurusan
Teknik Elektro UNP dan Laboratorium Tambang TB3 di Jurusan Teknik
Pertambangan UNP untuk pengujian prototipe, dimulai dari Oktober
November2015.
D. Alatdan Bahan
1. Panel SuryaI-Sun 10,11 Vp
2. Catu daya
3. Sensor Ping Parallax 40 KHz

10

4. Liquid Crystal Display (LCD)


5. Buzzer
6. Penahan catu balik switching mode power supply (SMPS)
7. Baterai GP NiCad
8. Boost Converter IC switching regulator LM 78S40
9. Mikrokontroler ATmega 8535
10. USB-TTL
11. Fan (Kipas Angin)
12. LED Indikator

E. Data
Data yang dibutuhkan adalah :
1. Data kebutuhan energi listrik alat SSLoTion
2. Data pengujian sampel pada prototipe alat
F. Prosedur Penelitian
1. Prosedur Perancangan Desain Solar Slope Failure Detection

Simula
si

Desain

Kontrol

Mesin

Prototip
e

Pengujian alat dimaksudkan untuk mengetahui unjuk kerja dan


karakteristik alat sehingga dapat diketahui tingkat keberhasilan hasil
perancangan alat. Dalam penelitian ini dilakukan beberapa pengujian
untuk mendapatkan unjuk kerja alat dan melakukan perbaikan pada
alat hasil perancangan yang telah dilakukan. Pengujian dilakukan
pada alat SSLoTion Solar Slope Failure Detection : Alat
Pendeteksi Pergeseran lereng Hemat Energi.
2. Prosedur Perancangan Desain Prototipe
Prosedur perencanaan dimulai dari mengumpulkan data-data yang
berkaitan dengan prototipe, menentukan ukuran prototipe, dan
mendesain gambar prototipe.

11

3. Pengujian terhadap penggunaan boost converter


Unit boost converter digunakan untuk menjaga level tegangan
keluaran dari sistem agar selalu pada level yang ditentukan. Tetapi,
disatu sisi, unit ini membutuhkan catu daya, yang pada alat ini
diperoleh dari sel surya. Sehingga bisa mengurangi efisiensi energi
yang dihasilkan sel surya. Oleh karena itu dilakukan pengujian
penggunaan boost converter. Dari sini akan diketahui seberapa perlu
pemakaian boost converter pada alat ini. Untuk pengujian ini dibuat
alat pendeteksi pergerakan lereng berbasis energi matahari sederhana
tanpa menggunakan boostconverter merupakan solar sistem yang
sangat sederhana seperti pada Gambar 3.1. Panel surya menggunakan
jenis panel surya mini.

Gambar 3.1. Alat Pendeteksi Pergerakan Lereng Berbasis energi matahari


sederhana tanpa boost converter
4. Pengujian terhadap Alat hasil perancangan
Faridah, dkk (2006), Pada bagian ini dilakukan pengujian terhadap
alat pendeteksi pergeseran lereng dengan menggunakan rangkaian
boost converter dan penyimpan sementara, seperti hasil perancangan
pada Gambar 3.2. Boost converter yang digunakan dalam penelitian
ini mampu menaikkan tegangan dengan baik dari 3 V hingga 40 V.
Pada kondisi penyinaran ideal, matahari bersinar cerah dan hanya
sedikit tertutup awan, tegangan keluaran panel surya mini mencapai
3,01 V, sudah cukup untuk tegangan operasi minimal boost converter
yaitu sebesar 3 V. Tegangan keluaran dari boost converterdiset hingga
15V. Namun, setelah dihubungkan dengan unit penyimpan sementara

12

mempunyai tegangan di atas tegangan panel surya maka arus dari


panel surya terhalang untuk mengalir ke boost converter. Diperlukan
keluaran panel surya yang lebih tinggi dari tegangan baterai pada unit
penyimpan sementara.

BAB IV
PEMBAHASAN
A. Penentuan Laju Pergerakan Longsoran
Pada tambang terbuka, masalah yang penting adalah yang berhubungan
dengan

perancangan lereng dan kestabilan dimana akan dipantau selama

tahap operasi.
Menurut Laroque (1977) dalam bahan ajar geoteknik menyatakan"Pada
dasarnya pemantauan adalah pemeriksaan dinding pit terhadap kemungkinan
terjadinya suatu ketidakstabilan agar kemudian dapat diambil suatu tindakan
perbaikan. Tujuannya adalah untuk melindungi manusia dan peralatan".
Beberapa tanda-tanda ketidak mantapan lereng yang harus dipantau
untuk dapat memberikan peringatan awal mengenai ketidakstabilan lereng
tambang sebagai berikut:
1. Rekahan tarik
Rekahan tarik akan terjadi jika material lereng telah bergerak ke
arah pit. Perpindahan ini tidak dapat dideteksi dari lantai pit dan sangat
penting untuk menginspeksi crest pada highwall di atas daerah
penambangan aktif. Adapun bentuk rekahan tarik dapat dilihat pada
gambar 1 sebagai berikut:

13

Gambar 1. Rekahan tarik


(Sumber: bahan ajar geoteknik)
Inspeksi yang harus diperhatikan ketika periode musin hujan dan
setelah peledakan.
2. Scarps
Scarps terjadi jika material telah bergerak ke bawah secara vertikal
atau hampir vertikal. Adapun bentuk dari scarps dapat dilihat pada gambar
2 sebagai berikut:

Gambar 2. Scarps
(Sumber: bahan ajar geoteknik)

3. Aliran air tak normal


Peningkatan aliran air di dalam lereng dapat menyebabkan
pengaruh yang buruk pada lereng. Adapun bentuk pengaruh aliran air tak
normal pada lereng dapat dilihat pada gambar 3 sebagai berikut:

14

Gambar 3. Pengaruh aliran air tak normal pada lereng


(Sumber: bahan ajar geoteknik)
4. Pelendutan atau rayapan
Muka lereng yang melendut mengindikasikan adanya rayapan atau
pergerakan subsurface perlahan-lahan dari lereng. Adapun bentuk dari
pelendutan atau rayapan pada lereng dapat dilihat pada gambar 4 sebagai
berikut:

Gambar 4. Pelendutan atau rayapan


(Sumber: bahan ajar geoteknik)
Pemantauan akan menghasilkan banyak data, tetapi pengetahuan
mengenai data mana yang penting akan dapat mengarahkan tindakan
selanjutnya. Plotting perpindahan terhadap waktu tidak akan memberikan
informasi yang cukup bagi perencana tambang. Laju perpindahan
merupakan parameter paling penting yang harus dipantau.
Menurut (Ryan and Call, 1992) tentang laju kritis menyatakan
bahwa laju yang menunjukkan transisi dari pergerakan stabil ke tidak stabil
adalah rata-rata 12 mm/hari.

15

Data empirik menunjukkan bahwa pada laju 50 mm/hari akan


terdapat rentang waktu 48 jam sebelum lereng longsor.
(Sjoberg, 1996) menyatakan bahwa di Aznalcollar Mine, Spain, laju
perpindahan melebihi 1600 mm/hari dan perpindahan lereng total mecapai
10 m tetapi lereng masih belum longsor dan kegiatan penambangan masih
berlangsung.
Tetapi, tidak ada angka yang dapat digunakan secara global. Jadi,
sebenarnya para personal yang bekerja di tambanglah yang memegang
peranan lebih penting.
B. Peran Alat terhadap Pergerakan Lereng
1. Sensor Ping
Alat ini menggunakan sensor Ultrasonik untuk mengindikasikan
perubahan jarak pada titik maupun bidang lereng. Sensor yang digunakan
adalah sensor PING. Sensor PING adalah sensor dengan sinyal frekuensi 40
KHz produksi parallax yang banyak digunakan untuk mendeteksi jarak
suatu objek.
Bentuk fisik dari sensor PING dapat kita lihat pada gambar 11,
12,dan 13 di bawah ini:

Gambar 11. Bentuk fisik sensor PING


(Sumber: www.robotshop.com/en/parallax-ping-ultrasonic-sensor.html)

16

Gambar 12. Instalasi sensor PING


(Sumber: Datasheet PING))TMultrasonic distance sensor, 2008: 6)
Sensor

PING

mendeteksi

jarak

suatu

objek

dengan

cara

memancarkan gelombang ultrasonik (40 KHz) selama t = 200 s,


kemudian

mendeteksi

pantulannya.

Sensor

PING

memancarkan

gelombang ultrasonik sesuai dengan kontrol dari mikrokontroller


pengendali (pulsa trigger dengan TOUT minimal 2 s). Spesifikasi sensor
ini adalah sebagai berikut:
1. Kisaran pengukuran 3cm-3m
2. Inputtrigger positive TTL pulse, 2 s (min), 5 s tipikal
3. Echo hold off 750 s dari fall of trigger pulse
4. Delay before next measurement 200 s
5. Burst indicator LED menampilkan aktifitas sensor.

Gambar 13. Diagram waktu sensor PING


(Sumber: Datasheet PING))TMultrasonic distance sensor, 2008: 2)
1. Prinsip Kerja Sensor PING (Sensor Jarak Ultrasonik)

17

Pada dasanya, sensor PING terdiri dari sebuah chip pembangkit


sinyal 40 KHz, sebuah speaker ultrasonik dan sebuah microphone
ultrasonik. Speaker ultrasonik berfungsi untuk mengubah sinyal 40 KHz
menjadi

suara, sementara microphone ultrasonik berfungsi untuk

mendeteksi pantulan suaranya. Sensor PING mendeteksi jarak objek


dengan cara memancarkan gelombang ultrasonik (40 KHz) selama T BURST
(200 s) kemudian mendeteksi pantulannya. Sensor PING memancarkan
gelombang ultrasonik sesuai dengan kontrol dari mikrokontroler
pengendali (pulsa trigger dengan TOUT minimal 2 s).

Gambar 14. Prinsip kerja sensor PING


(Sumber: Datasheet PING))TMultrasonic distance sensor, 2008: 1)
Gelombang ultrasonik ini merambat melalui udara dengan kecepatan
344 meter per detik, mengenai objek dan memantul kembali ke sensor.
Sensor PING mengeluarkan pulsa output high pada pin SIG setelah
memancarkan gelombang ultrasonik. Setelah gelombang pantulan
terdeteksi, maka sensor PING akan membuat output low pada pin SIG.

18

Lebar pulsa high (TIN) akan sesuai dengan lama waktu tempuh gelombang
ultrasonik untuk 2x jarak ukur dengan objek. Maka jarak yang diukur
adalah:
S=( T x V ) 2 .(9)

Dimana:

= Jarak antara sensor ultrasonik dengan objek yang


dideteksi

= Cepat rambat gelombang ultrasonik di udara (344


m/s)

TIN

= Selisih waktu pemancaran dan penerimaan


pantulan gelombang.

2. Rangkaian Mikrokontroler ATMega8535


Rangkaian sistem minimum mikrokontroler ATMega8535 diukur
dengan cara menghubungkan rangkaian dengan sumber catu daya 5
volt, Pengukuran tegangan dilakukan terhadap parameter logika 0
dan logika 1 pada port I/O mikrokontroler ATMega8535.
Hasil pengukuran Ternando (2015) dapat dilihat pada table 11
sebagai berikut:
Tabel 11. Pengukuran Parameter Mikrokontroler ATMega8535
Logika port

Tegangan pada port MC ATmega8535

Low (0)

0,2 V

High (1)

4,8 V

a. Analisa
Mikrokontroler bekerja pada dua kondisi logika yaitu kondisi low
(0) dimana tegangan yang terbaca pada instrumen pengukuran
tegangan didapatkan tegangan port sebesar 0,2 VDC yang berarti
sistem masih dalam batas ideal. Logika yang kedua yaitu kondisi high
(1) dimana tegangan yang terbaca pada instrument pengukuran
tegangan didapatkan tegangan port sebesar 4,8 VDC yang berarti

19

sistem masih dalam batas ideal karena mikrokontroler ATMega8535


memiliki tegangan kerja antara 4,5Vdc hingga 5,5Vdc.
3. Rangkaian LCD
Pengujian LCD ini untuk mengetahui apakah LCD yang dipakai
rusak atau bisa dipakai semestinya. LCD memiliki 16 kaki yang terdiri
dari 8 pin jalur data, 2 pin power supply, 1 pin untuk mengatur kontras,
3 pin control dan 2 pin ground. Pengujian pertama yang dilakukan dengan
memberi tegangan pada kaki power supply (5VDC), maka LCD akan
menyala dapat dilihat pada gambar 20 sebagai berikut:

Gambar 20. Tampilan LCD Tanpa Program


(Sumber : Ternando, 2015)
Pada Gambar 21 dapat dilihat tampilan LCD tanpa program,
namun demikian tidak berarti LCD akan bekerja dengan baik jika dapat
menyala, maka tahap selanjutnya yaitu dengan memasangkan LCD ke
Port

mikrokontroler,

dan

kemudian

didownloadkan

program

kedalamnya, sehingga akan tertampil pada layar LCD seperti gambar 21


sebagai berikut:

Gambar 21. Tampilan LCD Terisi Program


(Sumber : Ternando, 2015)
4. Pengujian Rangkain Buzzer
Pengujian rangkaian buzzer perlu dilakukan untuk membuktikan
bahwa rangkaian dapat menghidupkan buzzer dengan baik. Pengujian
buzzer dilakukan dengan cara:
a. Rangkaian buzzer dihubungkan dengan sumber tegangan 5 Volt.

20

b. Untuk membuat buzzer tetap hidup perlu dilakukan pemberian


masukan pada rangkaian. Jika diberi masukan tegangan 0 Volt maka
buzzer tidak aktif dan jika buzzer diberi masukan 5 Volt, maka buzzer
akan aktif.
5. Rangkain Sensor Ultrasonik
Pengujian dilakukan dengan mengukur hasil pengukuran antara
jarak sensor ke bidang lemah pada lereng dengan rangkaian sensor
ultrasonik. Cara pengujian sensor ultrasonik untuk mendapatkan hasil
pemantauan pergeseran lereng yang diharapkan, yaitu dengan
meletakkan sensor ultrasoik dekat objek yang akan kita amati,
kemudian ukur jarak objek dengan sensor ultrasonik sebagai data set
yang akan di input melalui program dan apakah sensor dapat
mendeteksi perbedaan jarak sesuai dengan yang diharapkan.
A. Analisa Pemograman
Program merupakan bagian utama karena merupakan induk sistem
kendali yang akan dibuat. Pemograman mikrokontroler menggunakan
software BASCOM-AVR. Adapun bentuk dari listing program dapat dilhat
pada lampiran 12.
Perintah locate digunakan untuk menempatkan kursor pada LCD,
sehingga locate 2,1 artinya tempat kursor LCD pada posisi baris 2,kolom 1.
Perintah LCD diikuti dengan parameter teks yang akan ditampilkan pada
LCD, karena LCD yang digunakan berukuran2 baris x 16 karakter, jika teks
lebih dari 16 karakter maka teksnya akan terpotong.
B. Prinsip Kerja Alat Secara Keseluruhan
Setelah melakukan perancangan dan pembuatan alat sesuai dengan
langkah-langkah yang telah ditentukan, maka alat ini dapat diuji dengan
simulasi dalam skala labor. Hasil simulasi dari pengujian tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Simulasi Alat (Ternando:2015)
a. Sensor Ultrasonik sebagai alat pendeteksi pergeseran lereng, dimana
sensor tersebut akan diletakkan di dekat objek yang akan dipantau.
b. Jarak antara sensor ultrasonik sebagai alat pendeteksi dengan objek
yang akan dipantau terlebih dahulu di tentukan karena ini akan di

21

jadikan sebagai data sheet yang akan di input melalui program


mikrokontroler.
c. Penulis memberikan jarak antara sensor ultrasonik sebagai alat
pendeteksi objek yang akan dipantau dalam percobaan ini 19 cm, jadi
apabila jarak sensor dengan objek sama dengan 19 cm (X = 19 cm)
dengan kondisi awal yang telah memberikan tanda-tanda diantaranya
rekahan tarik, scarps, aliran air tak normal, rayapan yang ditandai
dengan led indikator warna hijau.
d. Apabila jarak sensor ultrasonik dengan objek yang mengalami
pergerakan mencapai 1,2 cm dari kondisi awal (X = 20,2 cm), maka
sensor

akan

berkerja

dengan

memberikan

perintah

kepada

mikrokontroler dan mikrokontroler akan mengaktifkan buzzer,


menghidupkan led kuning sebagai lampu indikator dan LCD akan
menampilkan

perintah

kondisi

lereng

siaga

atau

lereng

menunjukkan transisi dari pergerakan stabil ke tidak stabil (Ryan and


Call, 1992). Maka dengan adanya pemberitahuan dini tentang kondisi
lereng yang dipantau, team yang bekerja pada bidang tersebut seperti
orang geoteknik, orang geologi dan orang perancanaan dapat
merancang perbaikan dan melakukan design lereng selanjutnya.
e. Apabila jarak sensor ultrasonik dengan objek yang mengalami
pergerakan 5 cm dari kondisi awal (X = 24 cm), dan sensor akan
berkerja dengan memberikan perintah kepada mikrokontroler dan
mikrokontroler akan mengaktifkan buzzer, menghidupkan led merah
sebagai lampu indikator dan LCD akan menampilkan perintah
kondisi lereng bahaya atau lereng menunjukkan rentang waktu
selama 48 jam sebelum terjadi longsoran (data empirik). Maka dalam
rentangan waktu 48 jam tersebut para pekerja tambang dapat
menyelamatkan diri dan mengevaluasi seluruh alat dan peralatan yang
berada pada area tersebut. Hasil simulasi dan prinsip kerja alat
tersebut dapat dilihat pada gambar 22 dan 23 sebagai berikut:

22

30
25
20
Kondisi Awal

15

Kondisi Bahaya
Kondisi Siaga

10
5
0
Kondisi Awal memberikan tanda-tanda

Gambar 22. Diagram hasil simulasi dari pengujian alat


30
25
20
Kondisi Awal
Kondisi Bahaya
Kondisi Siaga

15
10
5
0
Kondisi Awal memberikan tanda-tanda

Gambar 23. Grafik hasil simulasi dari pengujian alat


C. Desain Instalasi Solar Sistem untuk Memenuhi Kebutuhan Energi
Listrik alat SSLoTion
1. Data Kebutuhan Listrik Alat
Rincian pemakaian listrik alat pendeteksi pergerakan lereng menurut
Ternando (2015) :
N

Komponen

Tegangan

o
1

Mikrokontroler ATmega

(Volt)
5

8535
Buzzer

23

3
4
5

LCD
LED Indikator
Fan (kipas pendingin)

5
5
12

Panel surya yang digunakan terdiri dari dua jenis, yaitu jenis yaitu panel
surya mini dan I-Sun. Panel tersebut mempunyai tegangan 10,11 Vp dan
daya maksimum 2,2 watt pada tegangan 7,5 V (gambar 1).

Gambar 1. Tampak depan I-Sun Solar Panel


(Sumber : http://windupradio.com/isun.htm)
Faridah, dkk (2006) menjelaskan bahwa untuk menaikkan tegangan
diperlukan boost converter. Boost converter dapat menaikkan tegangan
dengan baik dari 3 V menjadi 40 V. Setelah panel surya dihubungkan
dengan komponen tersebut maka tegangan keluaran diset hingga 12 V.
Tegangan sengaja dinaikkan untuk mencegah adanya kekurangan tegangan
yang disebabkan oleh hilangnya energi.
40VDC
5VDC

Penahan Catu Daya

5VDC

Boost Converter

5VDC

Mikrokontroler
LCD
Buzzer

6 VDC
5VDC
12VDC

LED indikator

Fan

Gambar 3. Sketsa Pembagian Tegangan


Kemudian dilanjutkan dengan mengubungkan boost converter dengan
penahan catu daya (Ternando:2015) yang akan memisahkan kebutuhan

24

tegangan pada komponen alat yaitu 5 V dan 12 V. Komponen alat yang


memerlukan tegangan 5 V adalah mikrokontroler ATmega 8535, Buzzer,
LCD, LED Indikator dan Sensor Ping. Komponen alat yang memerlukan
tegangan 12 V adalah Fan (kipas pendingin).
Diharapkan dengan menggunakan rancangan solar system (panel surya Isun), kebutuhan listrilk alat pendeteksi pergerakan lereng dapat terpenuhi

2. Diagram Blok Rangakain

kabe
DC-DC Boost
Converter
kabe

Penahan Catu Daya

kabe

kabe

Mikro
Controller

Sensor PING
(Ultrasonik)

ATmega8535

kab

kabe

Penyimpan
Sementara

Buzzer
Led Indikator

kabe

LCD

25

D. Desain Alat SSLoTion

Batang penghubung
Penyimpan sementara
Penahan Catu Daya

Sensor Ping

Mikrokontroler

Panel Surya

Boost Converter

3m

Buzzer

LCD
LED indikator

Lereng

Gambar 4. Desain Alat SSLoTion

26

E. Desain Ukuran Prototipe

27

Gambar 5. Desain Ukuran Prototipe

BAB V
PENUTUP

28

A. Kesimpulan

B. Saran
Dalam pembuatan karya tulis ini, penulis memberikan beberapa
saran dalam penyempurnaan sistem ini.
1. Alat pendeteksi pergeseran lereng berbasis mikrokontroler untuk
kebutuhan di lapangan harus mengalami penyesuaian.
2. Alat pendeteksi pergeseran lereng berbasis mikrokontroler untuk
pemakaian di lapangan sebaiknya ditambahkan sensor getar, sensor tekan
dan sensor yang dapat memantau dengan radius lebih jauh demi
kesempurnaan alat ini.

DAFTAR PUSTAKA
A. Muri Yusuf. 2005. Metodologi Penelitian. Padang: UNP Press.
Afrie Setiawan. 2010. 20 Aplikasi Mikrokontroler ATmega8538 dan ATmega16.
Yogyakarta : Andi.

29

Anonim. 2009. Data-data Laporan dan Arsip PT. Nusa Alam Lestari
Asral Hanif. 2013. Studi Kasus Alarm Gas Analyzer 5WIB850A1 pada Kiln
Indarung. Laporan penelitian tidak diterbitkan. Padang: Politeknik Negeri
Padang.
Bishop, Owen. 2004. Dasar-dasar Elektronika. Edisi Bahasa Indonesia. Jakarta:
Erlangga.
Encu Sutarman. 2013. Konsep dan Aplikasi Mekanika Tanah. Yogyakarta: ANDI.
Datasheet ATmega8535. 2006. Microcontroller, (Online), (www.atmel.com,
diakses pada tanggal 05 Desember 2014).
Datasheet BPW77NA. 2008. Phototransistor, (Online), (http://www.digchip.com/
datasheets/parts/datasheet/1820/BPW77NA.php, diakses pada tanggal 12
Desember 2014).
Datasheet E2A-M30LN30. 2012. Proximity Sensor, (Online), (http://pdf1.
alldatasheet.com/datasheet-pdf/view/528267/OMRON/E2AM30LN30.html, diakses pada tanggal 10 Desember 2014).
Datasheet LM78xx. 2014, (Online), (https://www.fairchildsemi.com/datasheets/
LM/LM7805.pdf, diakses pada tanggal 10 Desember 2014).
Datasheet PINGTM. 2008.
Ultrasonic Distance Sensor,
(www.jameco.com, diakses pada tanggal 10 Desember 2014).

(Online),

Dermanto, Trikueni. 2014. Desain Sistem Kontrol, (Online), (http://trikuenidesain-sistem.blogspot.com/2014/04/Limit-Switch.html,


diakses
pada
tanggal 17 Desember 2014
Eka Az-Zahra. 2012. Proximity Switch (Sensor Jarak), (Online), (http://electricmechanic.blogspot.com/2012/09/proximity-switch-sensor-jarak.html,
diakses pada tanggal 17 Desember 2014).
Firdaus Hafidz. 2009. Pengertian Monitoring Dan Evaluasi _ Firdaus
Hafidz.htm. Suzanne Blogg. [Compatibility_Mode].pdf (di akses pada
tanggal 14 Desember 2014 , pukul 19:38).
Melisa Solo. 2011. Monitoring-dan-controlling.html. http: //melisasolo. blogspot.
Com /2011/12/. [Compatibility_Mode]. pdf (di akses pada tanggal 14
Desember 2014 , pukul 19:14)
Meri Sanda. 2014. Hubungan Antara Persepsi Karyawan Tentang Manajemen
Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Dengan Frekuensi Kecelakaan Kerja Di
Area Penambangan PT. Semen Padang. Padang: Skripsi FT. UNP.
Nono

Haryono. 2010. Limmit Switch, (Online), (http://otosensing.


blogspot.com/2010/09/limit-switch.html#more, diakses pada tanggal 17
Desember 2014).

30

Nurcahyo Sidik. 2012. Aplikasi dan Teknik Pemrograman Mikrokontroler AVR


Atmel. Yogyakarta : Andi.
Nuwrile Ardkhiyari. 2013. Monitoring http: //nuwrileardkhiyari. blogdetik.
com/2013/12/01/. [Compatibility_Mode].pdf (di akses pada tanggal 14
Desember 2014 , pukul 19:08)
Rijal Abdullah. 2009. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Pertambangan
Batubara Bawah Tanah. Padang: UNP Press.
Rifki Fajri. 2014. Kendali Kecepatan Dan Arah Putaran Motor DC Dengan
Metoda Pulse Width Modulation (PWM) Pada Robot Pemadam Api.
Padang: Skripsi FT. UNP.
Veyra Nazyha. 2013. Monitoring.http://veyranazyha1207.blogspot.com/2013/03/.
[Compatibility_Mode].pdf (diakses tanggal 14 Desember 2014).
Zufialdi Zakaria. 2009. Analisis Kemantapan Lereng Tanah. Universitas
Padjadjaran. [Compatibility_Mode].pdf (diakses tanggal 15 Januari 2015).