Anda di halaman 1dari 4

TEST SEROLOGI DEMAM TIFOID

Salmonella memiliki antigen somatik (O) dan flagellar (H). Beberapa salmonella juga memiliki
antigen envelope yaitu Vi (virulence). Salmonella yang menyebabkan demam tifoid dan demam
paratifoid memiliki komposisi antigenik sebagai berikut :
Serotipe

Antigen O

Antigen H

S.typhi

9 , 12, (Vi)

d:

Serogroup
Fase 1 : 2
Group D1

S.paratyphi A

1, 2, 12

a : (1, 5)

Group A

S.paratyhphi B

1, 4, (5), 12

b : 1, 2

Group B

S.paratyhphi C

6,7 , (Vi)

c : 1,5

Group C1

A. FELIX WIDAL TEST


Tes ini untuk memeriksa kadar antibodi aglutinasi terhadap antigen O dan H pada bakteri
Salmonella typhi. Kadar antibodi diukur dengan cara melakukan doubling dilution dari serum penderita
menggunakan sebuah tabung besar. Pada umumnya, antibodi O muncul pada hari ke 6-8 dan antibodi H
pada hari ke 10 -12 setelah munculnya onset penyakit. Tes ini dilakukan pada serum penderita akut,
dimana darah yang dikumpulkan sebanyak 1 ml.
Tes ini memiliki tingkat sensitivitas dan spesifitas sedang. Pada sebagian kasus yang telah
terbukti secara kultur menderita demam tifoid sebanyak 30% tes menunjukkan hasil negatif. Hal ini
mungkin disebabkan karena terapi antibiotik yang telah menumpulkan respons antibodi. Selain itu,
Salmonella typhi memiliki antigen O dan antigen H yang juga dimiliki oleh serotipe Salmonella lainnya,
dan juga mengalami reaksi silang dengan epitope dari Enterobacteriacae, dan hal ini dapat
menyebabkan positif palsu. Positif palsu ini juga dapat terjadi pada berbagai keadaan seperti malaria,
tifus, bakteremia, dan sirosis. Pada area endemis, biasanya kadar antibodi rendah pada populasi normal.

1|Page

Dalam menentukan batas/ cut-off positif dari hasil tes widal positif dapat menjadi sulit ditentukan karena
dapat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Oleh sebab itu, penting untuk menentukan batas kadar antibodi pada populasi normal, untuk
menentukan batas ambang dimana antibodi dianggap signifikan untuk dikatakan positif. Jika paired sera
ada, peningkatan kadar titer antibodi sebesar empat kali lipat antara serum fase akut dan konvalensens
dapat dijadikan diagnostik. Reaksi Widal tunggal dengan titer antibodi O 1/200 atau titer antibodi H
1/400 menunjang diagnosis demam tifoid pada pemderita dengan gejala klinis yang khas.
Pada penderita yang telah sembuh, aglutinin O masih tetap dijumpai setelah 4 6 bulan,
sedangkan aglutinin H menetap lebih lama antara 9 12 bulan.

B. TEST TUBEX
Tes ini merupakan tes sederhana dan cepat dan memakan waktu hanya selama dua menit. Tes ini
dapat mendeteksi antibodi IgM O9 dari Salmonella typhi, namun tidak untuk kadar IgG. Antigen O9
yang digunakan untuk tes ini bersifat sangat spesifik karena epitope immunodominantnya merupakan
gula dideoxyhexose yang jarang ditemukan. Antigen ini ditemukan pada serogrup Salmonella D, namun
tidak pada mikroorganisme lainnya. Hasil Tubex positif menunjukkan adanya infeksi Salmonella,
namun sayangnya tes ini tidak dapat menentukan tipe Salmonella D yang mana yang menginfeksi.
Infeksi oleh Salmonella serotipe A tidak memberikan hasil positif terhadap tes ini.
Dalam satu bungkus set tes tubex, didalamnya terdapat (1) tabung yang berukuran V sebanyak 6
buah sehingga beberapa sampel dapat diperiksa secara bersamaan, (2) reagen A yang mengandung
partikel magnetik yang dilapisi oleh S.typhi LPS, (3) reagen B, yang mengandung partikel latex
berwarna biru yang dilapisi oleh antibodi monoklonal yang bersifat spesifik terhadap antigen O9.
Reagen ini bersifat stabil pada suhu 4C, dan paling tidak selama seminggu pada suhu lingkungan.
Cara melakukan tes ini antara lain satu tetes dari serum dicampur dengan satu tetes reagen A
pada tabung selama satu menit. Kemudian dua tetes reagen B ditambahkan dan dicampur selama 1 2
menit. Hasil dari tes ini dapat dibaca langsung atau beberapa jam kemudian, bergantung dari warna
campuran reaksi. Proporsi berbagai macam warna dapat ditemukan dari kemerahan sampai dengan
kebiruan, dan sistem penilaian ditentukan berdasarkan sistem skoring dari grafik yang tersedia.Warna
merah menunjukkan negativitas sedangkan warna biru menunjukkan hasil tes positif.

2|Page

C. TYPHIDOT TEST
Tes ini menggunakan antigen 50 kD untuk
mendeteksi antibodi IgG dan IgM spesifik terhadap
S. typhi. Tes dot EIA ini bersifat sederhana, cepat,
dan memiliki tingkat spesifitas sebesar 75%,
ekonomis, dan memiliki tingkat sensitivitas (95%).
Deteksi terhadap kadar IgM menunjukkan tifoid akut
pada perjalanan fase awal infeksi, sedangkan deteksi
terhadap IgM dan IgG menunjukkan tifoid akut pada
pertengahan fase infeksi. Pada daerah endemis
dengan tingkat transmisi tifoid yang tinggi, maka
deteksi terhadap IgG meningkat, dimana IgG dapat
tetap bertahan selama dua tahun setelah infeksi
tifoid. Oleh sebab itu deteksi terhadap kadar IgG
tidak dapat membedakan antara kasus dengan fase
akut atau konvalesens. Positif palsu juga dapat
ditimbulkan akibat infeksi sebelumnya. Pada kasus
reinfeksi, respon imun sekunder kadar IgG meningkat secara signifikan melampaui kadar IgM, sehingga
kadar IgM pada akhirnya tidak dapat terdeteksi, dan efeknya tertutupi. Untuk meningkatkan tingkat
akurasi diagnostik maka Typhidot yang terdahulu dimodifikasi dengan menginaktivasi IgG total pada
sampel serum sehingga kadar IgM dapat diperiksa. Tes yang telah dimodifikasi diberi nama TyphidotM. Deteksi terhadap kadar IgM spesifik dala, waktu tiga jam menunjukkan infeksi tifoid akut.
3|Page

Pada pemeriksaan laboratorium demam tifoid, metode yang digunakan sebagai gold standard
harus memiliki tingkat sensitivitas, spesifitas, nilai prediktif positif dan negatif sebesar 100%. Nilai
sensitivitas Typhidot-M yaitu sebesar > 93%.

D. IgM DIPSTICK TEST


Tes ini merupakan tes untuk mendeteksi kadar antibodi IgM spesifik terhadap S.typhi pada
serum atau pada whole blood sample. Tes ini berdasarkan pada ikatan antara antibodi IgM spesifik
terhadap S.typhi terhadap antigen S.typhi LPS dan pewarnaan terhadap antibodi yang berikatan dengan
antibodi IgM yang terkonjugasi terhadap partikel koloid.
Tes ini dilakukan dengan cara inkubasi terhadap strip tes kedalam serum dan reagen deteksi,
serum kemudian didilusi pada perbandingan 1 : 50 terhadap reagen deteksi. Pada sample whole blood
dilusi dilakukan dengan perbandingan 1: 25 dengan reagen deteksi. Masa inkubasi selama tiga jam pada
temperatur ruangan. Setelah masa inkubasi selesai, maka strip kemudian dibilas dengan menggunakan
air dan dikeringkan. Hasil tes dibaca dengan inspeksi visual dari tes strip untuk dilakukan pewarnaan
antigen dan kontrol. Hasil tes kemudian dinilai negatif apabila tidak ada pewarnaan pada antigen dan
kontrol, dan diklasifikasi dengan tingkat +1, +2, +3, +4 . Tes ini memiliki tingkat sensitivitas 65%
hingga 77%, dan tingkat spesifitas 95 100%.

SUMBER :
World Health Organization. Background document : The diagnosis, treatmenr, and prevention of typhoid fever.

Oleh :
Virly Isella (2015 061 017)
4|Page