Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang
Obat-obatan stimulan sistem saraf pusat adalah obat-obatan yang dapat
bereaksi secara langsung ataupun secara tidak langsung pada SSP. Yang termasuk obat
stimulan SSP adalah amphetamine, methylphenidate, pemoline, cocaine, efedrin,
amfetamin, metilfenidat, MDMA, dan modafinil. Stimulan yang paling ideal dan
paling sering digunakan adalah dextroamphetamine (Dexedrine), Obat-obat stimulan
tersebut termasuk adalah obat yang termasuk golongan obat terlarang karena
mengakibatkan pengguna menjadi orang yang bersifat dan berkelakuan melawan
hukum dan ketagihan.(Sunardi, 2006)
Stimulan juga menaikkan kegiatan sistem saraf simpatetik, sistem saraf
pusat (CNS), atau kedua-duanya sekaligus. Beberapa stimulan menghasilkan
sensasi kegirangan yang berlebihan, khususnya jenis-jenis yang memberikan
pengaruh terhadap CNS. Stimulan dipakai di dalam terapi untuk menaikkan atau
memelihara kewaspadaan, untuk menjadi penawar rasa lelah, di dalam situasi yang
menyulitkan tidur (misalnya saat otot-otot bekerja), untuk menjadi penawar keadaan
tidak normal yang mengurangi kewaspadaan atau kesadaran (seperti di dalam
narkolepsi), untuk menurunkan bobot tubuh (phentermine), juga untuk memperbaiki
kemampuan berkonsentrasi bagi orang-orang yang didiagnosis sulit memusatkan
perhatian (terutama ADHD).(Anonim, 2103)

I.2

Tujuan Percobaan
-

Mahasiswa mengetahui efek yang ditimbulkan dari suatu obat stimulansia SSP
Mahasiswa mengetahui gejala konvulsi yang ditimbulkan setelah pemberian
suatu stimulansia SSP

I.3

Hipotesis
Efek yang ditimbulkan dari striknin dan kafein yang lebih kuat yaitu striknin
dibandingkan kafein. Namun onset dari kafein lebih kuat dibandingkan striknin.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Obat-obatan stimulan susunan saraf pusat adalah obat-obatan yang dapat


bereaksi secara langsung ataupun tidak langsung terhadap susunan saraf pusat. Efek
perangsangan susunan saraf pusat baik oleh obat yang berasal dari alam ataupun
sintetik dapat diperlihatkan pada hewan dan manusia. Perangsangan SSP oleh obat
pada umumnya melalui dua mekanisme yaitu mengadakan blockade system
penghambatan dan meninggikan perangsangan sinaps. (Sunaryo, 1995)
Sensasi yang ditimbulkan akan membuat otak lebih jernih dan bisa berpikir
lebih fokus. Otak menjadi lebih bertenaga untuk berpikir berat dan bekerja keras,
namun akan muncul kondisi arogan yang tanpa sengaja muncul akibat penggunaan
zat ini. Pupil akan berdilatasi (melebar). Nafsu makan akan sangat ditekan. Hasrat
ingin pipis juga akan ditekan. Tekanan darah bertendensi untuk

naik

secara

signifikan. Secara mental, pengguna akan mempunyai rasa percaya diri yang
berlebih dan merasa lebih senang. Obat stimulansia ini bekerja pada system saraf
dengan meningkatkan transmisi yang menuju atau meninggalkan otak. Stimulan
dapat meningkatkan denyut jantung, suhu tubuh dan tekanan darah. Pengaruh
fisik lainnya adalah menurunkan nafsu makan, pupil dilatasi, banyak bicara,
agitasi

dan

gangguan tidur.

Bila

pemberian

stimulant

berlebihan

dapat

menyebabkan kegelisahan, panik, sakit kepala, kejang perut, agresif dan paranoid.
Bila pemberian berlanjut dan dalam waktu lama dapat terjadi gejala tersebut diatas
dalam waktu lama pula. Hal tersebut dapat menghambat kerja obat depresan seperti
alcohol, sehingga sangat menyulitkan penggunaan obat tersebut. (Pendi, 2009)
Striknin
Striknin termasuk obat yang bekerja sebagai stimulan medula spinalis dan
konvulsinya disebut konvulsi spinal. Striknin merupakan alkaloid utama dalam
nux vormica, tanaman yang banyak tumbuh di India. Striknin merupakan
penyebab keracunan tidak sengaja. Striknin bekerja dengan cara mengadakan
antagonisme kompetitif terhadap transmiter penghambatan yaitu glisin di daerah
penghambatan postsinaps. Striknin menyebabkan pada semua bagian sistem

syaraf pusat. Obat ini merupakan konvulsan kuat dengan sifat kejang yang khas. Pada
hewan konvulsi berupa ekstensif tonik dari badan dan semua anggota gerak.
Gambaran konvulsi oleh striknin ini berbeda dengan konvulsi oleh obat
yang merangsang neuron pusat. Sifat khas lainnya adalah kontraksi ekstensor
yang simetris yang diperkuat oleh rangsangan sensorik seperti pendengaran,
penglihatan, perabaan. Setiap rangsangan sensorik dapat menimbulkan motorik
hebat. Pada stadium awal terjadi gerakan ekstensi yang masih terkoordinasi dan
akhirnya terjadi konvulsi tetani.
Caffein
Caffein adalah suatu obat stimulansi yang bersifat psikoaktif dari golongan
xanthine-alkaloid yang berwarna putih. Caffeine dimetabolisme di hati oleh
sitokrom P450 oksidase menjadi tiga metabolit, yaitu paraxanthine, theobromine
dan theophyline. Obat ini dapat menembus sawar otak dan mempengaruhi pembuluh
darah di otak, sehingga badan dan otak tidak bisa tidur, menyebabkan pelepasan
adrenalin ke tubuh dan membuat sel-sel selalu aktif dan terjaga. Obat ini juga
memanipulasi pelepasan dopamine di otak dan membuat perasaan menjadi tenang
dan melayang.(Anonim, 2008)
Penambahan caffeine terus menerus akan memblokade kerja adenosine
karena molekul caffeine yang mirip dengan adenosine dan menempati reseptor
adenosine (hormone ini melambatkan kerja syaraf menjelang waktu istirahat).
Gejala overdosis caffeine tidak seperti obat stimulansia yang lain. Dimulai dari
tingkat yang paling rendah adalah halusinasi, disorientasi dan disinhibisi. Pada
dosis yang lebih tinggi lagi akan menyebabkan rhabdomyolisis (kerusakan dari
jaringan otot). (Anonim, 2010)

BAB III
METODE KERJA
III.1

Alat dan Bahan


A. Alat
- Jarum suntik
- Timbangan hewan coba
B. Bahan
- Mencit dengan jenis kelamin dan umur yang sama
- Larutan Strignin Nitrate (0,01%) 0,75 mg/kgBB
- Larutan Kafein (1%) 100 mg/kgBB

III.2

Cara Kerja
1. Setiap kelompok mahasiswa mendapatkan 2 ekor mencit
2. Diamati keadaan biologi dari hewan coba meliputi ; bobot badan, frekwensi
jantung, laju nafas, reflex, tonus otot, kesadaran, rasa nyeri dan gejala lainnya
bila ada.
3. Dihitung dosis yang akan diberikan kepada hewan coba :
a. Larutan Strignin Nitrate (0,01%) 0,75 mg/kgBB
b. Larutan Kafein (1%) 100 mg/kgBB
4. Disuntikkan masing-masing zat pada hewan coba secara ip ( intra peritoneal )
5. Diamati gejala konvulsi yang terjadi dengan selang waktu setiap 10 menit.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
IV.1

Data Pengamatan
Tabel 1. Data biologi hewan coba
Pengamatan

Hewan Coba
Sebelum perlakuan Setelah perlakuan

Bobot badan
Frekwensi jantung
Laju nafas
Refleks
Tonus otot
Kesadaran
Rasa nyeri
Gejala lain :
Defekasi
Salivasi

19,4 g
244/menit
184/menit
+++
+++
+++
+++

19,4 g
232/menit
208/menit
++++
++++
++++
++++

++
++

++++
++

Tabel 2. Perhitungan dosis urethan pada mencit


Mencit
1
2

Berat mencit
19,4 g
19,7 g

Obat
Strignin
Kafein

Dosis (volume pemberian)


0,15 ml
0,2 ml

Tabel 3. Pengamatan gejala konvulsi yang terjadi

10
224/menit

Perlakuan
Nitras Strignin
20
30
40
200.menit 248/meni 240/meni

50
236/meni

60
232/meni

240/menit

232/meni

t
200/meni

t
196/meni

t
184/meni

t
208/meni

++++
++++
++++
++++

t
++++
++++
++++
++++

t
++++
++++
++++
++++

t
++++
++++
++++
++++

t
++++
++++
++++
++++

t
++++
++++
++++
++++

Pengamatan

Frekwensi jantung
Laju nafas
Refleks
Tonus otot
Kesadaran
Rasa nyeri
Gejala lain :
Defekasi

Salivasi

IV.2

++

Perhitungan dosis
Strignin C = 0,01 %
D = 0,75 mg/kgBB 750 g
BM = 19,4 g
0,75mg
x
=
kg BB 19,4 g
0,75mg
x
=
1000 g 19,4 g
x=

0,75 x 19,4
1000

0,01455 mg
ml injeksi
0,01 0,01455 x 103
=
100
y ml

y=

0,01455 x 103 x 100


0,01

0,1455 ml 0,15 ml
IV.3

Pembahasan
Pada praktikum kali ini yaitu tentang stimulansia sistem saraf pusat (SSP)
yang bertujuan untuk mengetahui efek dan gejala konvulsi yang ditimbulkan setelah
pemberian suatu stimulansia SSP terhadap hewan coba mencit. Obat yang digunakan
yaitu striknin 0,01 % dan kafein 1%. Percobaan yang dilakukan kelompok kami yaitu
menggunakan striknin 0,01 %. Sebelum dilakukan pemberian obat, dilakukan terlebih
dahulu pengamatan pada hewan coba meliputi bobot badan, frekwensi jantung, laju
nafas, refleks, tonus otot, kesadaran, rasa nyeri dan gejala lainnya seperti salivasi dan
defekasi. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa aktivitas hewan coba memberikan
respon yang normal. Dari hasil perhitungan didapatkan dosis injeksi untuk hewan
coba mencit yang berbobot 19,7 gram yaitu 0,15 ml.

Selanjutnya yaitu pemberian obat stimulansia secara ip (intra peritoneal) pada


hewan coba. Setelah pemberian striknin pada mencit diperoleh aktivitas mencit yang
meningkat setelah 10 menit dari laju nafas, refleks, tonus otot, kesadaran, rasa nyeri
dan gejala lainnya seperti salivasi dan defekasi. Serta mencit terlihat gelisah. Namun
pada frekwensi jantung didapatkan menurun mungkin dikarenakan kesalahan pada
pengamatan. Setiap 10 menit aktivitas mencit meningkat, namun pada menit ke-60
aktivitas mencit menurun, hal ini dikarenakan efek dari obat stimulansia mulai
menghilang. Gejala konvulsi yang ditimbulkan setelah pemberian striknin yaitu
spontan dan tipe gerak yang simetris dan tetanik. Pada pemberian striknin memiliki
onset yaitu 4 menit 29 detik, seedangkan onset kafein dari kelompok lain yaitu 1
menit 29 detik. Onset yang didapat dari pemberian kafein lebih cepat dibandingkan
striknin namun efek yang ditimbulkan striknin lebih kuat karena Striknin termasuk
obat yang bekerja sebagai stimulan medula spinalis dan konvulsinya disebut konvulsi
spinal. Striknin bekerja dengan cara mengadakan antagonisme kompetitif terhadap
transmiter penghambatan yaitu glisin di daerah penghambatan postsinaps. Striknin
menyebabkan pada semua bagian sistem syaraf pusat. Obat ini merupakan konvulsan
kuat dengan sifat kejang yang khas.

BAB V
KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut :
1. Obat-obatan stimulan sistem saraf pusat adalah obat-obatan yang dapat bereaksi
secara langsung ataupun secara tidak langsung pada SSP. Stimulan juga menaikkan
kegiatan sistem saraf simpatetik, sistem saraf pusat (CNS), atau kedua-duanya
sekaligus.
2. Dosis yang diberikan untuk hewan coba mencit berbobot 19,4 gr adalah 0,15 ml.

3. Efek striknin lebih kuat dibandingkan kafein.


4. Setelah pemberian striknin menimbulkan gejala konvulsi yaitu spontan dan tipe
geraknya adalah simetris dan tetanik. Serta onset yang didapat adalah 4 menit 29
detik.

DAFTAR PUSTAKA

Drh. Mien R, M.Sc.,Ph.D, E.Mulyati Effendi., MS, Yulianita, M.Farm, Nisa Najwa,
S.Farm., Apt. 2014. Buku Penuntun Praktikum Farmakologi I. Bogor: Universitas Pakuan
Farmakologi.1995.Farmakologi dan Terapi.Edisi 4.Gaya Baru:Jakarta
Wibowo, S., Gofir, A. 2001. Farmakoterapi dalam Neurologi. Edisi pertama. Jakarta:
Salemba Medika.