Anda di halaman 1dari 3

NAMA

: Moh Luqni Maulana Albi

KELAS

: Sosiologi D V

NIM

: 1148030142

MATA KULIAH

: Sosiologi Industri

Sosiologi industry : perspektif dan modal


Oleh : M.A Smith

Sosiologi industry adalah suatu subyek yang amat penting dan menarik. Kegunaanya sangat jelas, karena
dunia industry dan pola-pola ekonomi dan struktur industry akan membentuk masyarakat seperti kita,
identitas sosial kita dan gaya hidup kita serta membentuk bentuk masyarakat dimana kita hidup.
Radikalisme Sosiologis
Pengkajian sosial membahas berbagai kontroversi di dalam masyarakat berkenaan dengan usaha
mendapatkan dan mendisribusikan sumber-sumber kekuatan politik, ekonomi dan mendisribusikan
sumber-sumber kekuatan politik, ekonomi dan sosial di dalam masyarakat. Setiap hasil penelitian selalu
mengungkapkan berbagai bentuk ketidakadilan di alam masyarakat, seperti pekerja diperbudak oleh
teknologi yang tidak manusiawi, kecenderungan membentuk birokrasi dan ketertutupan organisasi
berskala besar, kekacauan dalam kehidupan keluarga, semakin tajamnya perbedaan antara berbagai
anggota kelompok masyarakat, dan munculnya hal-hal yang di luar perhitungan di dalam perencanaan
regional dan local, pokoknya hal-hal yang tidak manusiawi dalam kehidupan manusia.
Bagaimana mungkin sosiologi menentang eksistensi aturan-aturan sosial, ekonomi dan politik
yang sudah mapan dengan kritik-kritikanya yang radikal? Kritik radikal ini berasal dari tradisi eropa pada
bad ke-19 yang merupakan kombinasi suatu analisa kapitalisme industry dengan suatu model penelitian
ilmiah tingkah laku manusia. Adalah suatu yang logis yang didasarkan atas pengunaan science dan analisa
empiris dari gejala-gejala alam. Indrustrialisme merupakan suatu pusat perubahan yang menjadi sasaran
utama pada kritikus sosiologi.
Max weber melihat adanya suatu bahaya akibat industrialisasi terhadap kebebasan individu dan
integritas ilmu-ilmu sosial. Industrialisme adalah hasil dari pertumbuhan rasionalisme, rasionalitas dapat
di pandang melalui pertumbuhan science yang mengakibatkan sekularisasi nilai-nilai tertentu dalam

masyarakat serta luluhnya pengaruh dunia barat. Fungsi rasionalisme adalah untuk membuktikan adanya
pertumbuhan birokrasi dan dominasi struktur otoritas yang hirarkis.
Menurut weber kebudayaan manusia tidak terbentuk hanya dari suatu system ekonomi, dan bukan
juga suatu hasil dari refraksi pertarungan antar kelas. Emil Durkheim juga menyatakan dalam thesisnya
bahwa pembagian kerja dalam masyarakat, serta perbedaan tugas dan aturan adalah sumber dari
perbedaan hirarki seseorang atau kelompok dalam masyarakat dan juga merupakan sumber terbentuknya
organisasi-organisasi sosial (Giddens, 1971).
Radikalisme sosiologi berasal dari abad ke-19 telah menimbulkan pergorakan dalam masyarakat.
Diagnose kapitalisme industry yang sedan menderita telah menimbulkan suatu pandangan bahwa
sosiologi mempunyai dua buah tujuan yaitu pandangan bahwa sosiologi mempunyai dua buah tujuan
yaitu eksitensi kebebasan individu dan revolusi kebebasan masyarakat. Peter Berger (1971, hal 2 ) telah
menyatakan bahwa hubungan antara sosiologi dan kebebasan bukanlah merupakan suatu hubungan yang
sederhana seperti yang dikatakan oleh kaum radikal yang ahrus mempercayai untuk memahami hubungan
tersebut, perlu di adakan diskusi-diskusi tentang issue utama kedua, yaitu tentang revolusi kebebasan
masyarakat, yang oleh para teorisi abad 19 telah di terima sebagai suatu kebenaran.
Karl Max dan weber dan Durkheim, sebagai contoh perwujudan tradisi eropa klasik yang di
anggap sebagai lambing ilmiah dari sosiologi, yang dengan kemampuan mereka untuk memisahkan fakta
dari nilai telah menyumbangkan sesuatu yang disebut oleh Mills sebagai kedaulatan sosiologi (Mills.
1959). Secara ekplisit Karl Max menolak pendapat suatu bentuk rasionalisme yang memisahkan peneliti
dari subyek yang telah di telitinya.
Sumbangan Weber terhadap status sosiologi sebagai suatu science perlu pertimbangan. Posisinya
dapat di karakteristikan dalam tiga kriteria, yaitu :
1. selalu memisahkan fakta dari nilai.
2. tidak pernah berpura-pura mengambil kesimpulan hanya dari fakta.
3. tidak pernah menggunakan pbyektivitas sbagai cara untuk memahami akan keacuhan terhadap nilainilai moral.
Weber mengabaikan kenyataan sosial sebagai variable tanpa batasan. Fungsi sosiologi adalah
memperbaiki suatu kerangka konsepsional dengan cara yang cukup logis. Weber benpendapat bahwa
sosiologi adalah ilmu yang mencoba untuk memahami dan menerangkan suatu tindakan sosial beserta
sebab-sebab akibatnya. (Weber, 1949)
Durkheim berpandangan bahwa adanya suatu persamaan atau kesesuaian antara model ilmiah
dari suatu ilmu pengetahuan dengan pengertian tentang hubungan antara manusia dengan masyarakat
adalah suatu yang tidak perlu diragukan lagi, sosiologi selalu berkaitan dengan fakta-fakta sosial dan
fakta sosial adalah sesuatu yang merupakan hasil teknik-teknik kuantitatif dan hasil dari pengujian nilainilai dalam ilmu pengetahuan alam.
Pandangan para ahli sosiologi di bagi kedalam beberapa kelompok yang didasarkan atas issueissue berikut ini. Dapatkah sosiologi menjadi suatu ilmu yang bebas nilai (netral yang tidak memihak)?
Sampai seberapa jauh kemmpuan metode ilmiah untuk bisa memahami keinginan dan tingkah laku
manusia yang bermacam-macam.?
Ilmu pengetahuan mempunyai dua tujuan yaitu :

1) Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang mempelajari alam semesta dan evolusinya,
komposisi serta strukturnya.
2) Untuk mengungkapkan hokum yang berlaku di alam semesta, beserta polanya yang universal dan
kecenderungan-nya.
Sosiologi ternyata sejalan dengan kedua tujuan tersebut. Keinginan yang gigih untuk menjadikan
sosiologi sebagai suatu ilmu yang aplikatif dengan cara mengamati evolusi, komposisi dan struktur
serta berbagai efek di dalam kehidupan masyarakat misalnya degradasi norma-norma sosial
tertentunya adanya berbagai perbedaan dalam bentuk strata sosial.
Sekarang sudah jelas bahwa suatu penilaian secara sosiologis tentang ruang lingkup pekerjaan
dan kehidupan organisasi ekonomi dan industry kelak berkembang menjadi suatu pusat konsepsional
dan issue-issue empiris.
MODEL SOSIOLOGI
Di akui bahwa pemikiran radikal di dalam sosiologi telah memberikan suatu pukulan terhadap
struktur dan model-model sosiologi yang telah di kembangkan sebelumnya. Kritik kapitalisme
tentang politik dan ekonomi dan kaitanya baik dengan karakter aturan sosial maupun dengan tindakan
sosial telah menjadi focus utama dalam pembicaraan sebelumnya. Di dalam ekonomi kita mengenal
ekonomi micro dan macro demikian hal nya dengan sosiologi istilah yang sama juga di sebut dengan
sosilogi micro dan sosiologi macro, yang disebut pertama berkaitan dengan struktur lembaga-lembaga
kemasyarakatan, pola yang sudah mapan dan tingkah lakunya dan hubungan-hubungan serta
kepentinganya yang sudah stabil. Dalam dunia ekonomi dan dunia kerja serta industry ada beberapa
pertanyaan yang perlu di ungkapkan meliputi:
-

System ekonomi yang bagaimana yang kita pilih dan bagaimana pola-pola hak pemilikan,
kekyaan dan pendapatan para anggota masyarakatnya?
Bagaiamna karakter hierarchie sosialnya dan bagaimana hubunganya dengan hierarchie industry
dan organisasi dalam masyarakat?
Apakah pengaruh dari teknologi terhadap masyarakat?
Bagaimana hubungan antara nilai-nilai ekonomi dan nilai-nilai politik dalam hal tujuan dan citacitanya.

Pertanyaan di atas muncul dalam analisa sosiologi makro dengan tujuan untuk mengetahui hubungan
antara dunia dengan kehidupan politik dengan struktur dan partai-partai politik, karakteristik system
serta aturan-aturan pemerintahan.
Pendekan sosiologi makro ditujukan untuk mengtur komponen-komponen utama dalam tinjauan
sosiologi terhadap masyarakat. Di dalam buku ini sosiologi makro digunakan untuk pelajari suatu
system sosialyang terdapat dalam masyarakat industry, dengan penekanan terhadap analisa ekonomi
dan lembaga-lembaga kemasyarakatan.