Anda di halaman 1dari 19

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa:


Nama

: Muh. Firdaus

Nim

: C 111 12 316

Judul Referat

: Night Terror

Judul Kasus

: Gangguan Obsesif Kompulsif

adalah benar telah

menyelesaikan Laporan Kasus yang berjudul Gangguan Obsesif

Kompulsif dan Referat yang berjudul Night Terror dan telah disetujui serta telah dibacakan
di hadapan pembimbing dan supervisor.

Makassar, Agustus 2016


Mengetahui,
Supervisor

dr. Indrawaty, M.Kes, Sp. KJ

Pembimbing

dr. Hilmi U.

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN.....

DAFTAR ISI................................................................................................

ii

IDENTITAS PASIEN.....

LAPORAN PSIKIATRIK..

I.
II.
III.
IV.
V.
VI.
VII.
VIII.
IX.
X.
XI.

RIWAYAT PENYAKIT.
STATUS MENTAL....
PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LEBIH LANJUT.
IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA...
EVALUASI MULTIAKSIAL.....
DAFTAR PROBLEM.........
RENCANA TERAPI.......................
PROGNOSIS..................................
FOLLOW UP..............
DISKUSI.....
WAWANCARA... .

2
5
7
8
9
11
11
12
12
13
20

REFERAT NIGHT TERROR......................................................................


I.
PENDAHULUAN...........
II.
EPIDEMIOLOGI........
III.
DEFINISI................................................................
IV.
PATOFISIOLOGI.......................................
V.
GAMBARAN KLINIS...............

22
22
22
23
23

VI.
VII.
VIII.
IX.

26
KRITERIA DIAGNOSIS....
PENATALAKSANAAN.....
PROGNOSIS...................................
PENUTUP...............

DAFTAR PUSTAKA.....

26
29
29
30
31

LAPORAN KASUS
GANGGUAN OBSESIF KOMPULSIF (F42)

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. R

Usia

: 35 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Status Perkawinan

: Sudah Menikah

Agama

: Islam

Suku

: Makassar

Pekerjaan

: Pegawai swasta

Alamat

: BTN Batara Bumi Gowa

LAPORAN PSIKIATRIK
Diperoleh dari catatan medis, autoanamnesis dan alloanamnesis dari :
Nama
: Ny. N
Umur
: 32 tahun
Jenis kelamin
: Perempuan
Agama
: Islam
Pendidikan Terakhir
: S1
Pekerjaan
: Perawat
Alamat
: BTN Batara Bumi Gowa
Hubungan dengan pasien
: Istri pasien
I. RIWAYAT PENYAKIT
1. Keluhan Utama
Cemas
2. Riwayat Gangguan Sekarang
1

a) Keluhan dan Gejala


Seorang pasien laki-laki umur 35 tahun datang ke Poli RSKD Dadi
bersama istrinya dengan keluhan cemas yang dialami sejak 1 tahun
yang lalu. Pasien merasa cemas setiap keluar dari rumah dan jika pergi ke
tempat yang ramai. Saat berkendara, pasien sering merasa takut
menabrak seseorang dan sering berhenti untuk mengecek apakah ada
orang tertabrak atau tidak. Pasien juga selalu mengecek barang-barang
dan peralatan seperti pintu, keran air, kabel listrik dan alat berat di tempat
kerja karena takut membahayakan orang lain. Awal mula cemas
dirasakan sejak 1 tahun yang lalu. Saat itu, pasien selalu merasa
dicurigai oleh orang sekitarnya dan merasa was-was serta takut salah saat
bekerja.
b) Hendaya dan premorbid
Hendaya dalam bidang sosial
Hendaya dalam bidang pekerjaan
Hendaya dalam waktu senggang

(+)
(-)
(-)

c) Faktor stressor psikososial


Stressor psikososial tidak jelas
d) Hubungan gangguan, sekarang dengan riwayat penyakit fisik dan psikis
sebelumnya:
Infeksi
Trauma
Kejang
Rokok
Alkohol
Obat-obatan

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

3. Riwayat gangguan sebelumnya :


Tidak ada
4. Riwayat kehidupan pribadi :
a) Riwayat prenatal dan perinatal (0-1 tahun)

Pasien lahir di Soroako pada tahun 1971, lahir normal di rumah, cukup
bulan, dan ditolong oleh bidan.
b) Riwayat Kanak Awal (1-3 tahun)
Pasien meminum ASI selama 2 tahun. Pertumbuhan dan perkembangan
masa kanak-kanak awal pasien seperti berjalan, berbicara baik,
perkembangan motorik berlangsung baik. Pasien bermain dengan teman
seusiannya.

c) Riwayat Kanak Pertengahan (3-11 tahun)


Pasien tinggal bersama kedua orangtuanya dan cukup mendapatkan
perhatian dan kasih sayang. Hubungan pasien dengan saudara baik. Pasien
juga mendapatkan pendidikan yang layak.
d) Riwayat Kanak Akhir dan Remaja (12-18 tahun)
Setelah lulus SMP, pasien melanjutkan pendidikan ke SMA.
e) Riwayat Masa Dewasa
Riwayat Pendidikan: Pendidikan pasien sampai tingkat SMA.
Riwayat Pekerjaan: Bekerja di perusahaan kontraktor di Kalimantan

sebagai pengendali alat berat.


Riwayat Pernikahan: Sudah menikah dan hubungan dengan istri dan

anaknya baik.
Riwayat Kehidupan Sosial: Pasien dikenal sebagai orang yang pendiam

dan kurang bergaul.


Riwayat Kehidupan beragama: Pasien beragama Islam, rajin beribadah.
5. Riwayat kehidupan keluarga :
Pasien merupakan anak pertama dari empat bersaudara (, , , )
Hubungan dengan keluarga baik
Riwayat keluarga dengan gangguan serupa tidak ada
6. Situasi sekarang :
Saat ini pasien tinggal bersama teman kerjanya di Kalimantan. Pasien
biasanya dapat pulang ke daerahnya di Gowa bila mengambil cuti selama 2
minggu.
7. Persepsi pasien tentang diri dan kehidupannya :

Pasien sadar sepenuhnya terhadap penyakitnya dan tahu apa yang harus
dilakukan.
II. STATUS MENTAL
A. Deskripsi umum
Penampilan

: Seorang laki-laki memakai kemeja putih lengan

pendek, jaket warna hijau tua dan celana panjang hitam. Wajah seseuai

umur, perawakan sedang dan perawatan diri cukup.


Kesadaran
: Baik
Aktivitas psikomotor:Tenang
Pembicaraan
:Spontan, lancar, intonasi biasa
Sikap terhadap pemeriksa : Kooperatif

B. Keadaan Afektif (mood), perasaan, dan empati, perhatian :


Mood
: Cemas
Afek
: Cemas
Empati
: Dapat dirabarasakan
Keserasian
: Serasi
C. Fungsi Intelektual (kognitif) :
1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum, dan kecerdasan sesuai dengan
pendidikan.
2. Daya konsentrasi
: Baik
3. Orientasi
:
Orientasi waktu
: Baik
Orang
: Baik
Tempat
: Baik
4. Daya ingat :
Jangka panjang
: Baik
Jangka sedang
: Baik
Jangka pendek
: Baik
Jangka segera
: Baik
5. Pikiran abstrak
: Baik
6. Bakat kreatif
: Tidak diketahui
7. Kemampuan menolong diri sendiri : Baik
D. Gangguan Persepsi :
1. Halusinasi
2. Ilusi
3. Depersonalisasi
4. Derealisasi

: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada

E. Proses Berpikir :
1. Arus pikiran :
Produktivitas
Kontinuitas
Hendaya berbahasa
2. Isi pikiran :
Preokupasi
Gangguan isi pikiran

: Baik, spontan
: Relevan, koheren
: Tidak ada hendaya dalam berbahasa
: Tidak ada
:Obsesif (Pasien harus mengecek hal-hal

tertentu untuk melegakan kecemasannya), kompulsif (pasien


melakukan

suatu

tindakan

berulang

kali

untuk

melegakan

kecemasannya)
F. Pengendalian impuls : Tidak terganggu
G. Daya nilai :
Norma sosial
Uji daya nilai
Penilaian realitas

: Baik
: Baik
: Baik

H. Tilikan (insight)

:Derajat

(Sadar

akan

sakitnya

dan

mengetahui harus berbuat apa dan meminta bantuan pengobatan)


I. Taraf dipercaya

: Dapat dipercaya

III. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT:


1. Status Internus
a. Keadaan umum
: Baik
b. Kesadaran
: Compos mentis
c. Tanda vital
- Tekanan darah : 120/80 mmHg
- Nadi
: 72x/menit
- Suhu
: 36,8C
- Pernapasan
: 18x/menit
Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterus, jantung, paru dan
abdomen dalam batas normal, ekstremitas atas dan bawah tidak ada
kelainan.

2. Status Neurologi
a. GCS
: E4M6V5
b. Rangsang meningeal : tidak dilakukan
c. Tanda ekstrapiramidal
- Tremor tangan : tidak ada
- Cara berjalan
: normal
- Keseimbangan : baik
d. Sistem saraf motorik dan sensorik dalam batas normal
e. Kesan
: normal

IV. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA :


Seorang pasien laki-laki datang ke Poli RSKD Dadi bersama istrinya dengan
keluhan cemas yang dialami sejak 1 tahun yang lalu. Pasien merasa cemas
setiap keluar dari rumah dan jika pergi ke tempat yang ramai. Saat berkendara,
pasien sering merasa takut menabrak seseorang dan sering berhenti untuk
mengecek apakah ada orang tertabrak atau tidak. Pasien juga selalu mengecek
barang-barang dan peralatan seperti pintu, keran air, kabel listrik dan alat berat
di tempat kerja karena takut membahayakan orang lain. Awal mula cemas
dirasakan sejak 1 tahun yang lalu. Sejak saat itu, pasien selalu merasa dicurigai
oleh orang sekitarnya dan merasa was-was serta takut salah saat bekerja.
Pada pemeriksaan status mental didapatkan seorang laki-laki memakai
kemeja warna putih lengan pendek, jaket warna hijau tua dan celana panjang
hitam. Wajah tampak sesuai usia, postur tubuh sedang, perawakan sedang dan
perawatan diri cukup, pembicaraan spontan, lancar, intonasi biasa. Sikap
terhadap pemeriksa kooperatif. Mood cemas, afek cemas dan serasi, perasaan
empati dapat dirabarasakan, fungsi kognitif dalam batas normal. Ditemukan
adanya gangguan isi pikir berupa obsesif (pasien harus mengecek hal-hal

tertentu unuk melegakan kecemasannya) dan kompulsif (pasien melakukan suatu


tindakan berulang kali untuk melegakan kecemasannya).

V. EVALUASI MULTIAKSIAL :
Aksis I :
Berdasarkan alloanamnesis dan autoanamnesis dan pemeriksaan
status mental didapatkan adanya gejala klinis yang bermakna yaitu berupa
pola perilaku cemas saat keluar rumah dan pergi ke tempat ramai, merasa
takut menabrak seseorang dan sering berhenti untuk mengeceknya, selalu
memeriksa barang-barang seperti pintu, keran air, kabel listrik dan alat
berat di tempat kerjanya, selalu merasa was-was dan takut berbuat salah
saat bekerja. Keadaan ini menimbulkan penderitaan (distress) serta
terdapat hendaya (dissability) pada fungsi psikososial sehingga dapat
disimpulkan bahwa pasien menderita Gangguan Jiwa. Pada pemeriksaan
status mental tidak ditemukan hendaya berat dalam menilai realita
sehingga didiagnosis Gangguan Jiwa Non Psikotik. Pada pemeriksaan
status internus dan neurologik tidak ditemukan adanya kelainan, sehingga
kemungkinan adanya gangguan mental organik dapat disingkirkan dan
didiagnosis berdasarkan PPDGJ III dengan Gangguan Jiwa Non Psikotik
Non Organik.
Berdasarkan alloanamnesis dan autoanamnesis dan pemeriksaan status
mental didapatkan adanya mood cemas, afek cemas, gejala obsesif dan
tindakan kompusif terjadi hampir setiap hari selama lebih dari dua minggu
berturut-turut,

sehingga

berdasarkan

Pedoman

Penggolongan

dan

Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ III) diagnosis diarahkan pada


Gangguan Obsesif Kompulsif (F42).

Aksis II :
Pasien merupakan orang pendiam dan kurang bergaul
Aksis III :
Tidak ada diagnosa
Aksis IV :
Stressor psikososial : tidak jelas
Aksis V :
GAF scale saat ini 80-71: Gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas
ringan dalam sosial, pekerjaan, sekolah, dll.
VI. DAFTAR PROBLEM :
Organobiologik
Tidak ditemukan kelainan fisik yang bermakna, namun diduga terdapat
ketidak seimbangan neurotransmitter, maka dari itu pasien memerlukan

psikofarmakoterapi.
Psikologik
Ditemukan gangguan obsesif kompulsif, sehingga diperlukan psikoterapi.
Sosiologik
Ditemukan adanya hendaya dalam bidang sosial sehingga perlu dilakukan
sosioterapi.

VII. RENCANA TERAPI :


Farmakoterapi :
- Fluoxetine 20mg tab 0-0-1
- Risperidone 2 mg tab 2 x
- Trihexyphenidil 2 mg tab 2 x 50 mg 0-0-1
Psikoterapi
Psikoterapi supportif adalah adalah bentuk psikoterapi yang memberikan
dukungan kepada pasien yang berada dalam keadaan krisis atau trauma
psikologis.
-

Kontrol rutin ke poliklinik jiwa


Berusaha melawan gagasan untuk melakukan suatu kegiatan

berulang-ulang
Menenangkan pikiran jika timbul cemas atau panik dengan

relaksasi dan berpikir positif


Meminum obat secara teratur

Menyarankan agar pasien lebih banyak berdoa dan mendekatkan


diri kepada Tuhan agar dirinya diberi ketenangan dalam
mengahadapi masalah yang ada.

Sosioterapi :
Memberikan penjelasan kepada pasien, keluarga pasien dan orang
disekitarnya tentang gangguan yang dialami pasien sehingga mereka dapat
menerima dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk membantu
proses pemulihan pasien.

VIII. PROGNOSIS :
Ad vitam
Ad sanationam
Ad fungtionam

: dubia ad bonam
: dubia ad malam
: dubia ad bonam

IX. FOLLOW UP :
Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan penyakitnya,
efektifitas terapi serta kemungkinan terjadinya efek samping dari obat yang
diberikan.

X. DISKUSI
Gangguan obsesif kompulsif ditandai dengan adanya obsesi dan / atau
dorongan. Obsesi adalah pikiran berulang dan terus-menerus, mendesak, atau
gambaran yang dialami sebagai sesuatu yang mengganggu dan tidak diinginkan,
sedangkan kompulsif adalah perilaku berulang atau tindakan mental dimana
seseorang merasa didorong untuk melakukan sesuatu sebagai respon terhadap
sebuah obsesi atau sebagai aturan yang harus diterapkan secara teguh.1

Beberapa gangguan obsesif-kompulsif dan gangguan terkait lainnya juga


ditandai dengan preokupasi dan perilaku atau tindakan mental berulang sebagai
respon terhadap preokupasinya. Gangguan obsesif-kompulsif dan terkait
lainnnya secara umum ditandai dengan adanya perilaku berulang yang berfokus
pada tubuh (misalnya, menarik rambut) dan berulang kali mencoba untuk
mengurangi atau menghentikan perilaku.1
Pedoman Diagnostik Gangguan Obsesif Kompulsif F42 2
Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala-gejala obsesif atau tindakan
kompulsif, atau kedua-duanya, harus ada hampir setiap hari selama

sedikitnya dua minggu berturut-turut.


Hal tersebut merupakan sumber penderitaan (distress) atau mengganggu

aktivitas penderita
Gejala-gejala obsesif harus mencakup hal-hal berikut:
a) Harus disadari sebagai pikiran atau impuls dari diri sendiri
b) Sedikitnya ada 1 pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan,
meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita
c) Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut diatas bukan
merupakan hal yang memberi kepuasan atau kesenangan atau
anxietas, tidak dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud
diatas
d) Gagasan, bayangan pikiran, atau impuls tersebut harus merupakan
pengulangan yang tidak menyenangkan (unpleaseantly repetitive)

Ada kaitan erat antara gejala obsesif, terutama pikiran obsesif dengan
depresi.

Penderita

gangguan

obsesif

kompulsif

seringkali

juga

menunjukkan gejala depresif dan sebaliknya penderita gangguan depresi


berulang dapat menunjukkan pikiran-pikiran obsesif selama episode
depresifnya. Dalam berbagai situasi dari kedua hal tersebut, meningkat

10

atau menurunnya gejala depresif umumnya dibarengi secara paralel


dengan perubahan gejala obsesif.
Bila terjadi episode akut dari gangguan tersebut, maka diagnosis
diutamakan dari gejala-gejala yang timbul lebih dahulu.
Diagnosis ditegakkan hanya bila tidak ada gangguan depresif pada saat
gejala obsesif kompulsif tersebut timbul.
Bila dari keduanya tidak ada yang menonjol,

maka lebih baik

menganggap depresi sebagai diagnosis yang primer. Pada gangguan


menahun, maka prioritas diberikan pada gejala yang paling bertahan saat

gejala yang lain menghilang.


Gejala obsesif sekunder yang terjadi pada gangguan skizofrenia, sindrom
Tourette, atau gangguan mental organik, harus dianggap sebagai bagian

dari kondisi tersebut.


Pedoman Diagnostik Predominan Pikiran Obsesif atau Pengulangan F42.0 2
Keadaan ini dapat berupa: gagasan, bayangan, pikiran, atau impuls

(dorongan perbuatan), yang sifatnya mengganggu (ego alien);


Meskipun isi pikiran tersebut berbeda-beda, umumnya hampir selalu
menyebabkan penderitaan (distress).

Pedoman Diagnostik Predominan Tindakan Kompulsif (Obsessional Rituals)


F42.1 2

Umumnya

tindakan

kompulsif

berkaitan

dengan:

kebersihan

(khususnya mencuci tangan), memeriksa berulang untuk meyakinkan


bahwa suatu situasi yang dianggap berpotensi bahaya tidak terjadi,
atau maaslah kerapihan dan keteraturan.
Hal tersebut dilatarbelakangi perasaan takut terhadap bahaya yang
mengancam dirinya atau bersumber dari dirinya dan tindakan ritual
tersebut merupakan ikhtiar simbolik dan tidak efektif untuk
menghindari bahaya tersebut.

11

Tindakan ritual kompulsif tersebut menyita banyak waktu sampai


beberapa jam dalam sehari dan kadang-kadang berkaitan dengan
ketidakmampuan mengambil keputusan dan kelambanan.

Pedoman Diagnostik Campuran Pikiran dan Tindakan Obsesif F42.2:


Kebanyakan dari penderita obsesif-kompulsif memperlihatkan pikiran
obsesif serta tindakan kompulsif.
Diagnosis ini digunakan bilamana kedua hal tersebut sama-sama

menonjol, yang umumnya memang demikian.


Apabila salah satu memang jelas lebih dominan, sebaiknya dinyatakan
dalam diagnosis F42.0 atau FF42.1. Hal ini berkaitan dengan respons
yang berbeda terhadap pengobatan. Tindakan kompusif lebih responsif
terhadap terapi perilaku.

Pedoman Diagnostik Gangguan Obsesif Kompulsif 300.3 (F42) menurut


DSM V 1

Adanya obsesif, kompulsif, atau keduanya.


Obsesif didefiniskan sebagai (1) dan (2):
1. Pikiran yang berulang dan terus-menerus, mendesak, atau
gambaran pengalaman, pada suatu waktu selama gangguan,
sebagai sesuatu yang mengganggu dan tidak diinginkan, dan pada
sebagian besar individu menyebabkan kecemasan atau penderitaan
2. Individu mencoba untuk mengabaikan atau menekan pikiran,
desakan, atau gambaran seperti itu, atau menetralisirnya dengan
beberapa pemikiran lain atau tindakan (misalnya, dengan
melakukan kompulsif).
Kompulsif didefinisikan sebagai (1) dan (2):

12

1. Perilaku berulang (misalnya, mencuci tangan, mengurutkan,


memeriksa) atau aktivitas mental (misalnya, berdoa, menghitung,
mengulangi kata-kata diam-diam) dimana individu merasa
didorong untuk melakukannya sebagai respon terhadap sebuah
obsesi atau sebagai aturan yang harus diterapkan dengan teguh.
2. Perilaku atau aktivitas mental yang bertujuan untuk mencegah atau
mengurangi kecemasan atau penderitaan, atau mencegah beberapa
peristiwa atau situasi yang ditakuti; Namun, perilaku ini atau
tindakan mental tidak secara yang realistis berhubungan dengan
apa yang mereka coba atasi atau cegah, dan secara jelas berlebihan.
Catatan: Anak-anak kecil mungkin tidak mampu mengatakan
tujuan perilaku atau aktivitas mental.tersebut.

Obsesif atau kompulsif menghabiskkan waktu (misalnya, mengambil


lebih dari 1 jam per hari) atau menyebabkan distress klinis signifikan
atau penurunan sosial, pekerjaan, atau bidang-bidang penting lainnya
berfungsi.

Gejala obsesif-kompulsif tidak disebabkan oleh efek fisiologis


dari zat (misalnya, penyalahgunaan obat, obat) atau kondisi medis
lain.

Gangguan tersebut tidak lebih baik dijelaskan oleh gejala gangguan


mental lain (misalnya, kecemasan yang berlebihan, seperti dalam
gangguan cemas menyeluruh)

Pada pasien ini, pasien memiliki pikiran obsesif, yaitu selalu berpikir
untuk mengecek hal-hal tertentu yang dilakukannya untuk memastikan tidak
melukai atau mencelakai orang lain. Pasien ini juga melakukan tindakan

13

kompulsif, yaitu pasien melakukan hal-hal tertentu berulang kali untuk


melegakan kecemasannya, seperti berhenti dari motor untuk mengecek tidak
menabrak orang, selalu memeriksa barang-barang seperti pintu, keran air, kabel
listrik, dan alat berat di tempat kerjanya. Oleh karena itu, diagnosis mengarah ke
gangguan obsesif kompulsif.
Penelitian menunjukkan bahwa farmakoterapi, terapi perilaku atau
kombinasi dari keduanya secara signifikan efektif mengurani gejala-gejala pada
pasien dengan gangguan obsesif kompulsif. Pendekatan standar, yaitu memulai
terapi dengan SSRI atau clomiparamine dan beralih ke rencana farmakalogi
yang lain jika obat serotonin spesifik tidak efektif. Obat-obatan seretonergik
meningkatkan persentase pasien dengan gangguan obsesif kompulsif yang
berespon terhadap pengobatan sampai sekitar 50-70%. Selain itu, jika
pengobatan dengan SSRI dan clomipramine tidak berhasil, menambahkan
antipsikosis atipikal seperti risperidone dapat membantu pada beberapa kasus.3
Fluoxetin adalah suatu selective seretonin re-uptake inhibitor (SSRI),
memiliki efek yang kecil di terhadap neurotransmitter lain. Obat ini diabsorbsi
setelah konsumsi oral, dan mencapai kadar puncaknya dalam plasma setelah 6-8
jam dan dieliminasi setelah 1-4 hari, dinana metabolit aktif (norfluoxetin) waktu
paruhnya 7-10 hari. 4
Terapi perilaku dianggap lebih efektif dibandingkan dengan farmakoterapi
pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif, dan beberapa data
menunjukkan bahwa efek manfaatnya lebih lama dengan terapi perilaku. Oleh
karena itu, banyak klinisi mempertimbangkan terapi perilaku sebagai pilihan
terapi pada gangguan obsesif kompulsif. Pendekatan terapi perilaku pada

14

gangguan ini, adalah pemaparan dan respon pencegahan. Desensitisasi, pikiran


untuk berhenti, flooding, dan terapi implosion dan pengkondisian aversif juga
telah digunakan pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif. 3
Pada pasien ini diberikan Fluoxetine 20 mg yang merupakan obat SSRI,
Risperidone

mg

yang

merupakan

obat

antipsikosis

atipikal,

dan

Trihexyphenidil 2 mg untuk mencegah efek samping dari antipsikosis. Meskipin


SSRI dapat menyebabkan gangguan tidur, mual, diare, sakit kepala, cemas, efek
samping ini biasanya cepat dan secara umum lebih ringan dari efek samping
yang berkaitan dengan obat trisiklik seperti clomipramine. Kombinasi terapi
yang paling baik adalah dengan mengombinasikan SSRI dan terapi perilaku.
Pada pasien ini faktor pendukungnya yaitu, pasien patuh minum obat,
dukungan dari keluarga baik untuk kesembuhan pasien, tidak ada riwayat
penyakit yang sama di dalam keluarga, tidak ada kelainan organik, hubungan
dengan anggota keluarga baik, onset kompulsi terjadi pada masa dewasa,
kompulsi tidak bizzare, tidak ada kepercayaan yang mengarah ke waham. Faktor
penghambatnya yaitu pasien orang yang pendiam dan kurang bergaul, pasien
tinggal jauh dari keluarganya.

15

XI.

WAWANCARA AUTOANAMNESIS

DM

: Dokter Muda

: Pasien

DM

: Selamat pagi pak

: Selamat pagi dok

DM

: Perkenalkan saya firdaus, dokter yang bertugas hari ini. Siapa nama

bapak?
P

: Nama saya R , dok.

DM

: Pak R, kalau boleh tahu apa keluhannya datang kesini?

: Saya sering merasa cemas dok

DM

: Sejak kapan itu pak?

: Kurang lebih sekitar satu tahun dok

DM

: Tiap kapan saja muncul rasa cemasnya?

: Biasa kalau saya naik motor

DM

: Seperti apa yang dirasakan pak kalau cemas?

: Keringat dingin, berdebar-debar, kepala berdenyut

DM

: Kenapa bisa timbul rasa cemas ta? Ada yang di takuti kah ?

: Anu dok, iye , saya takut mencelakai orang lain seperti takut ada kah
orang yang saya tabrak, atau adakah orang yang terlindas.

DM

: Kan cemas ta mulai muncul sekitar satu tahun yang lalu, bagaimana awal

mulanya itu?
P

: Tidak ada ji dok, saya cuma sering merasa dicurigai dok, merasa was-was,
takut-takut salah juga saat bekerja.

DM

: Kalau boleh tahu, bapak kerja dimana?

: Saya bekerja di kalimantan dok, sebagai pengendali alat-alat berat dok.

DM

: Oh, kalau bekerjaki bagaimana?

: Saya sering was-was dok, takut-takut kalau mencelakai orang dok.

DM

: Kalau was-was begitu, tidak terganggu ji pekerjaan ta?

: Tidak ji dok

DM

: Kan bapak sering merasa was-was, bagaimana dengan di rumah, sering


mengecek barang-barang berulang-ulang? Seperti pintu, keran air?

16

: Iye dok, biasa saya cek pintu, kabel listrik, keran air dok, biasa juga saya
berhenti di jalan kalau naik motor, takut ada orang tertabrak atau terlindas.

DM

: Apa yang terjadi kalau tidak kita lakukan itu pak?

: Terpikir terus dalam kepalaku dok, bikin cemas sama khawatir dok.

DM

: Terus, ada tidak usahanya bapak untuk melawan pikiran-pikiran itu?

: Ada ji dok, saya coba tapi tidak bisa

DM

: Ada suara-suara atau bisikan yang kita dengar kah untuk lakukan itu?

: Tidak adaji dok

DM

: Kalau bayangan-bayangan ada kita lihat?

: Tidak adaji juga dok

DM

: Bapak sering merasa mudah lelah atau capek?

: Tidak ji dok

DM

: Bagaimana perasaan ta misalnya kalau diajakki pergi makan atau


liburan? Mau jeki atau malas kita rasa pergi?

: Mau ji dok.

DM

:Kalau makan dan tidur ta bagaimana?

: Baik ji dok.

DM

: Baik pak R, terima kasih atas informasi yang diberikan. Kami sarankan
bapak untuk mencoba berpikiran positif dan latihan untuk melawan
pikiran-pikiran dalam diri bapak untuk melakukan perbuatan yang
berulang-ulang. Kami juga akan memberikan beberapa obat yang
membantu untuk mengurangi gejala-gejala tadi yang dikeluhkan.

: Oh iye, terima kasih banyak dok.

17