Anda di halaman 1dari 1

2.

2 Farmasi Jaman Babylonia - Assyria Pada daerah selatan kerajaan Babylonia ( sekarang Iraq ),
bangsa Sumeria telah mengembangkan sistem tulis-menulis sekitar tahun 3000 SM sehingga
mereka telah memasuki periode sejarah. Bangsa Babylonia melakukan observasi terhadap
planet-planet dan bintang - bintang yang mendasari ilmu astronomi dan astrologi saat ini.
Kedudukan dan gerakan bintang - bintang diduga mempengaruhi kejadian di bumi. Kepercayaan
ini kemudian diadopsi oleh ilmu kedokteran dan kefarmasian berikutnya. Bangsa Sumeria dan
pewarisnya yakni bangsa Babylonia dan Assyria telah meninggalkan ribuan tablet lempung
dalam puing-puing peninggalan mereka sebagai salah satu peninggalan peradaban manusia yang
paling berharga. Sejarah mereka terkubur rapat - rapat dalam tablet lempung tersebut hingga
berabad - abad berikutnya sekelompok sejarahwan berhasil mengungkap bagian yang hilang
dari catatan - catatan kuno ini. Dari penelitian terhadap catatan - catatan kuno tersebut
disebutkan 3 aspek yang paling berpengaruh dalam ilmu pengobatan Babylonia - Assyria yakni :
ketuhanan ( divination ), pengusiran roh jahat/setan ( excorcism ) dan penggunaan obat-obatan.
Tiga aspek tersebut merupakan satu - kesatuan yang sulit untuk dipisahkan. Penyakit adalah
kutukan atau hukuman Tuhan, sedangkan pengobatan adalah pembersihan/pensucian dari kedua
hal tersebut. Konsep tersebut dikenal sebagai katarsis (catharsis). Konsep ini menjelaskan makna
asli kata pharmakon (Yunani), yang merupakan asal kata pharmacy (farmasi). Konsep
pharmakon dijelaskan sebagai berbagai usaha penyembuhan atau pensucian dengan cara
mengeluarkan atau membersihkan. Yang menarik, di dalam farmakologi (ilmu tentang obat dan
mekanisme kerjanya) dikenal obat katartik atau pencahar, yakni obat yang bekerja meningkatkan
motilitas kolon (usus besar) sehingga meningkatkan pengeluaran tinja (feses). Para pendeta di
masa itu berperan sebagai rohaniwan (diviner) dan pengusir setan, yang mendukung peran
mereka sebagai penyembuh/dokter. Dalam literatur lain disebutkan bahwa terdapat pemisahan
profesi penyembuh di antara bangsa Babylonia, yakni penyembuh empiris dan penyembuh yang
spiritualis. Penyembuh spiritualis dikenal sebagai asipu, yang menekankan pada penggunaan
mantra/doa-doa bersama dengan batu-batu bertuah/jimat-jimat dalam pengobatan. Pada salah
satu tablet lempung tercatat adanya mantra/doa yang tertulis di awal dan di akhir suatu formula
obat. Mantra/doa tersebut diharapkan memberi kekuatan menyembuhkan kepada obat-obatan
yang telah dibuat. Fenomena ini mungkin masih sering dijumpai di berbagai pengobatan
tradisional atau pengobatan alternatif bangsa kita. Penyembuh empiris dikenal sebagai asu, yang
menggunakan obat/ramuan tertentu dalam bentuk sediaan farmasi yang sekarang masih
digunakan seperti : pil, supositoria, enema, bilasan, dan salep. Kedua penyembuh tersebut
seringkali bekerjasama dalam menangani penyakit yang berat/sulit disembuhkan. Selain kedua
penyembuh tersebut terdapat sekelompok orang yang juga meracik obat dan kosmetik yang
disebut pasisu. Akan tetapi peranan dan kedudukan mereka dalam pengobatan belum diketahui
secara
past
Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu