Anda di halaman 1dari 3

1.

Keraguan, ketidakpastian, verifikasi dan audit


Hal ini dilakukan dalam rangka memahami sifat dan tujuan dari proses ya
spesifik audit perusahaan. Serta perlu menghargai dua proporsi yang relative
sederhana dan terhubung. Yang menjadi faktor diantaranya adalah yang pertama,
faktu tertentu yang diamati dan diidentifikasi tetapi tidak pada manusia yang
dampaknya memicu keraguan dan ketidakpastian dalam pemikiran setiap individu.
Yang kedua adalah faktor keraguan yang muncul yang membuat atau memberikan
beberapa bentuk fungsi verifikasi baik mengurangi atau menghapus. Bukti untuk
mendukung proporsi ini dapat diamati dengan aktivitas keseharian dari masingmasing.
Sifat dari keraguan meruapakan keadaan, dimana berlangsungnya verifikasi
secara intuitif, atau dengan instruksi langsung dari waktu ke waktu, apapun
mekanismenya, namun verifikasi dapat digambarkan sebagai bentuk dari audit yang
dilakukan dengan tujuan untuk membangun atau meningkatkan korespondensi antara
objek dengan keraguan dengan beberapa kriteria yang dapat diterima dan dapat
dinilai. Semakin besar korespondensi atau penilaian antara objek dan kriteria, semakin
besar kemungkinan menghapus atau mengurangi keraguan. Kebutuhan ini juga
menentukan komunitas sosial, ekonomi dan umum dalam psikis, untuk menurunkan
fenomena ketidakpastian. Keberadaan audit perusahaan yang dianggap meruapakan
suatu kebutuhan sebagai fungsi yang dirancang untuk mengurangi atau
menghilangkan keraguan yang dimiliki oleh pemegang saham dan pihak lainnya
tentang kualitas informasi keuangan perusahaan yang dilaporkan kepada mereka.
Pencapaian tujuan ini diyakini mendorong penggunaan informasi, dan memberikan
stabilitas dalam hubungan manusia yang berkaitan dengan penggunaan tersebut.
2. Contoh Keraguan, Ketidakpastian, dan Verifikasi
Sifat Verifikasi secara umum meruapakan audit yang terutama ditentukan oleh
proses verifikasi memiliki, namun secara umum dijelaskan karakteristik tertentu
dalam hal ini digambarkan pada bagian ini. Contoh keraguan dan ketidakpastian di
ilustrasikan dari kegiatan atau aktivitas sehari-hari yang lebih kompleks dan kasus
yang tidak biasa. Yang jelas dalam contoh yang diberikan merupakan situasi yang
menciptakan atas permintaan untuk variasi verifikasi. Semua kasus yang dikutip
berhubungan dengan beberapa bentuk fenomena nyata yang dapat diamati. Namun
beberapa fenomena dapat diamati dan untuk itu lebih bervariasi ini sebagian
merupakan fenomena individual. Pengaruh dari waktu ke waktu dapat berarti
terverifikasi, dan ketersediaan bukti yang yang sesuai dengan yang memverifikasi.
Terkadang situasi terdapat bukti yang dapat memperlihatkan suatu ketidakpastian dan
keraguan dan biasanya menghubungkan antara dua orang atau lebih.
Kesimpulan yang dapat ditarik, dari analisis sebelumnya adalah bahwa dalam
semua kasus tentang ketidakpastian dan keraguan terlibat dalam ungsi verifikasi yang
dapat digunakan oleh individu sebelum mengambil suatu keputusan atau tindakan.
Oleh karena itu tidak hanya dimaksudkan untuk menghapus atau mengurangi

keraguan da ketidakpastian. Peran utamanya dinilai dari kemungkinan manusia untuk


membuat keputusan yang tepat, dan rasional sehubungan dengan kegiatan manusia
lainnya. Peran utama dalam kegiatan manusia adalah melihat bentuk control atau
pengendalian serta peraturan manusia yang menekankan khusus pada efek dalam
menstabilkan atas ketidakpastian serta keraguan.
3. Verifikasi dan Fungsi Audit
Masing - masing contoh yang digunakan dalam buku ini untuk
menggambarkan kebutuhan untuk verfikasi yang dimiliki oleh karakteristik audit, dan
oleh karena itu membenarkan penggunaan istilah tersebut. Verifikasi dilakukan
melalui prosedur yang diamati setelah itu dilaporkan dan biasanya secara tidak
langsung dikaurangi atau dihapus sebagai hasilnya. Pada prakteknya, bagaimana pun
situsi ini jarang diberi audit label, istilahnya biasa disebut atribut untuk kegiatan yang
secara eksplisit bersifat audit yang melibatkan seseorang sebagai auditor. Contoh yang
paling umum di wilayah akuntansi adalah penggunaan akuntan professional dengan
memberikan pendapat atas kualitas laporan keuangan yang akan dipublikasikan.
Proses pembentukan laporan keuangan ini telah sesuai dengan informasi keuangan
yang yang memenuhi standar kualitas yang ditentukan untuk seorang auditor. Audit
atas laporan keuangan sehingga dapat dilihat sebagai fungsi lembaga dan biaya dalam
situasi dimana dewan direksi dipercayakan oleh pemegang saham untuk
mengorganissir sumber daya dan operasi. Secara khusus, auditor dapat dilihat sebagai
penengah untuk menentukan konsisten dari laporan keuangan dengan prosedur
akuntansi yang ditetapkan.
4. Laporan keuangan dan Verifikasi
Verifikasi atas pengungkapan laporan keuangan adalah hal yang cukup
memakan waktu. Hubungan antara informasi keuangan yang handal dan dapat
diverifikasi dibuat oleh teori akuntansi keuangan. Argumen dasar mereka adalah dapat
diandalkan artinya memadai antara angka yang dilaporkan dengan fenomena yang
terjadi., lpaoran keungan juga harus diverifikasi untuk memberikan jaminan
korespondensi tersebut.
5. Relevansi, Reliable, dan Verifikasi
memahami titik terakhir ini sangat penting karena digunakan untuk mengatasi
alasan audit perusahaan. Secara khusus, seperti yang disebutkan dalam bab
sebelumnya dan dalam konteks peraturan presentase antara kebenaran dan keadilan
terutama kualitas yang ditentukan yang menjadi fokus utama dari auditor perusahaan.
Yang menjadi faktor utama adalah relevansi laporan keuangan dilaporkan sebagai
suatu masukan dan dapat mempengaruhi pada model keputusan, serta keandalan
merepresentasikan setiap fenomena yang terjadi, dengan kata lain keraguan dan
ketidakpastian dianggap memiliki hubungan dengan isi akuntansi laporan keuangan

yang dipublikasikan dari organisasi perusahaan. Laporan keuangan diungkapkan


berisi pengetahuan bentuk akuntansi yang tepat sebagai masukan untuk model
keputusan yang diambil.