Anda di halaman 1dari 6

Kontrasepsi oral / pil

Kontrasepsi oral / pil biasanya dikemas dalam satu kotak yang berisi 21 atau 22 tablet,
dan sebagian kecil ada yang berisi 28 tablet dengan 6 atau 7 tablet terakhir berupa
tablet placebo sehingga tidak perlu lagi masa istirahat 6 atau 7 hari. Kebanyakan
kontrasepsi oral mengandung hormon estrogen dan gestagen sintetik, tetapi ada juga
yang mengandung progestin/gestagen saja, contohnya: Minipil yang dikenal
masyarakat umum sebagai kontrasepsi oral / pil untuk ibu menyusui, digunakan tanpa
masa istirahat yang terdiri dari 35 tablet.
Ada beberapa sediaan kombinasi (monofasik, bifasik, trifasik) dan gestagen saja.
-. Monofasik : Pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif
estrogen/progestin (E/P) dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif
-. Bifasik : Pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif
Estrogen/progestin (E/P) dengan dua dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa
hormon
aktif
-. Trifasik : Pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif
estrogen/progestin (E/P) dengan 3 dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa
hormon
aktif.
Cara kerja sediaan kombinasi :
-. Menekan ovulasi (pelepasan sel telur)
-. Mencegah implantasi (tertanamnya hasil pembuahan didalam rahim)
-. Lendir mulut rahim/serviks mengental sehingga sulit dilalui oleh sperma
-. Pergerakan saluran telur terganggu sehingga transportasi sel telur juga terganggu
Untuk mendapatkan jenis pil kontrasepsi yang memiliki efektifitas tinggi, yang
terpenting adalah sejauh mana kemampuan pil tersebut dapat menekan sekresi
hormon gonadotropin dan mempengaruhi fungsi alat genitalia. Pada sediaan
kombinasi monofasik, estrogen dan gestagen telah sejak awal menekan sekresi
gonadotropin. Penekanan ini terjadi tidak hanya terhadap sekresi basal FSH dan LH,
melainkan juga terhadap penekanan LH preovulasi. Akibat adanya pengaruh gestagen
sejak awal, fungsi implantasi akan terganggu, pembentukan lendir serviks tidak
fisiologis, dan motilitas tuba/saluran telur terganggu, sehingga transportasi sel telur
dengan sendirinya akan terganggu pula. Demikian pula cara kerja sediaan bifasik,
trifasik sama dengan cara kerja sediaan kombinasi monofasik.
Pembuatan sediaan bifasik berdasarkan pemikiran bahwa siklus haid seorang wanita
normal adalah bifasik berupa fase folikuler dan fase sekresi (fase estrogen dan fase
progesteron). Jadi, pemberian sediaan sekuensial mirip siklus haid normal, karena biar
bagaimanapun pemberian gestogen pada awal siklus haid seperti pada pemberian pil
kombinasi monofasik adalah tidak fisiologik. Namun kemungkinan terjadinya

kehamilan pada penggunaan pil kombinasi bifasik lebih besar dibandingkan dengan
monofasik. Karena pada sediaan bifasik fase pertamanya hanya mengandung hormon
estrogen, tidak dijumpai efek penekanan terhadap lendir serviks dan selaput
rahim/endometrium, sedangkan pada sediaan monofasik sejak awal telah terjadi
penekanan terhadap produksi lendir serviks oleh estrogen dan gestagen. Lagipula
untuk mendapatkan khasiat kontrasepsi yang baik, dosis estrogen dalam sediaan
bifasik haruslah tinggi, dan ini dapat menyebabkan terjadinya keputihan, perdarahan
bercak, dan mual sampai muntah, yang pada akhirnya akan membuat
ketidaknyamanan bagi pemakainya. Atas dasar inilah akhirnya yang paling banyak
digunakan adalah pil kombinasi monofasik. Sediaan kombinasi monofasik juga paling
efektif mencegah terjadinya kehamilan dan kemampuannya hampir menyerupai cara
sterilisasi/tubektomi.
Manfaat :
-. Efektifitas tinggi (hampir menyerupai efektifitas tubektomi) bila digunakan dengan
tepat ( 1 dalam 1000 wanita dalam tahun pertama penggunaan)
-. Risiko terhadap kesehatan sangat kecil
-. Tidak mengganggu hubungan suami istri
-. Siklus haid menjadi teratur, darah haid berkurang, nyeri haid berkurang
-. Dapat digunakan jangka panjang untuk mencegah kehamilan
-. Mudah dihentikan setiap saat, kesuburan segera pulih setelah pemakaian dihentikan
-. Membantu mencegah : hamil ektopik, kanker dan kista indung telur (ovarium),
kanker
endometrium, penyakit radang panggul, tumor jinak payudara, jerawat, dll.
-. Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat
Keterbatasan :
-. Mahal dan membosankan karena harus diminum setiap hari
-. Kadang-kadang timbul mual dan perdarahan bercak, pusing, nyeri payudara pada
awal
pemakaian
-. Tidak boleh digunakan oleh ibu menyusui (mengurangi produksi ASI)
-. Dapat meningkatkan tekanan darah, depresi, kenaikan berat badan
-. Tidak dapat mencegah infeksi menular seksual, HBV, HIV/AIDS
Wanita yang dapat dan tidak dapat menggunakan Pil kombinasi :
Pada prinsipnya hampir semua wanita boleh mengunakan pil hormonal kombinasi,
kecuali wanita hamil atau dicurigai hamil, menyusui eksklusif, perdarahan
pervaginam yang tidak diketahui penyebabnya, menderita penyakit hati akut, perokok
usia >35 tahun, ada riwayat penyakit jantung, stroke atau tekanan darah

>180/110mmHg, kencing manis (DM) >20 tahun, kanker payudara, epilepsy dan
pelupa.
Perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh selama penggunaan kontrasepsi
hormonal:
Semua organ tubuh wanita yang berada dibawah pengaruh hormon seks tentu dengan
sendirinya akan dipengaruhi oleh kontrasepsi hormonal. Pada organ-organ tersebut
akan terjadi perubahan-perubahan tertentu, yang terjadinya sangat tergantung pada
dosis, jenis hormon, dan lama penggunaannya. Organ-organ tubuh yang paling
banyak mendapat pengaruh kontrasepsi hormonal adalah endometrium/selaput
dinding rahim, miometrium/otot rahim, serviks/mulut rahim, vagina dan payudara.
Bila terdapat tumor pada uterus (mioma), dengan pemberian kontrasepsi hormonal
dosis rendah, tidak menyebabkan pembesaran pada tumornya. Namun perlu dilakukan
pemeriksaan USG secara berkala. Pemberian kontrasepsi hormonal yang mengandung
gestagen saja dapat menghambat pertumbuhan mioma uteri.Seperti diketahui bahwa
gestagen memiliki sifat menghambat pertumbuhan mioma uteri dengan jalan menekan
kerja estrogen. Sedangkan estrogen terutama bila dosis tinggi dapat memicu
pertumbuhan mioma uteri karena mioma uteri banyak mengandung reseptor estrogen.
Tidak jarang wanita mengeluh keputihan dan gatal-gatal selama penggunaan
kontrasepsi hormonal. Keputihan yang terjadi perlu dibedakan, apakah wanita
tersebut sedang menggunakan pil kombinasi atau pil yang mengandung gestagen saja.
Pada pil dengan kandungan gestagen yang dominan terjadi penghambatan
pematangan epitel vagina, sehingga terjadi penurunan indeks karyopiknotik. Selain
itu, gestagen dapat menghambat pembentukan glikogen dengan akibat pH vagina
menjadi alkalis.
Alasan yang paling sering dipakai untuk menghentikan penggunaan kontrasepsi
hormonal adalah timbulnya berbagai jenis efek samping. Selain itu, rasa takut sulit
untuk mendapatkan anak lagi juga merupakan alas an bagi wanita untuk tidak ingin
melanjutkan penggunaan kontrasepsi hormonal.

Kontrasepsi suntikan

1.
2.

Ada 2 jenis kontrasepsi suntikan berdasarkan kandungan hormonalnya, yaitu :


Kontrasepsi suntikan kombinasi yang mengandung hormon estrogen dan progestin
Kontrasepsepsi suntikan progestin saja
Kontrasepsi suntikan kombinasi
Jenis suntikan kombinasi atau yang lebih dikenal masyarakat dengan suntikan bulanan
adalah salah satu jenis kontrasepsi suntikan yang mengandung hormon estrogen (5 mg

estradiol sipionat) dan progestin (25 mg depo medroksiprogesteron asetat) yang


diberikan secara injeksi intra muskuler sebulan sekali (Cyclofem), atau jenis lain yaitu
5 mg estradiol valerat dan 50 mg noretindron enantat yang diberikan secara injeksi
intra muskuler sebulan sekali.
Cara kerja :
-. Menekan ovulasi
-. Mengentalkan lendir serviks sehingga penetrasi sperma terganggu
-. Selaput rahim (endometrium) menjadi menipis sehingga implantasi terganggu
-. Menghambat transportasi hasil pembuahan oleh tuba (saluran telur)
Efektifitas : Sangat efektif (0,1-0,4 kehamilan per 100 wanita) selama tahun pertama
penggunaan.
Keuntungan kontrasepsi :
-. Risiko terhadap kesehatan dan efek samping sangat kecil
-. Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri
-. Tidak diperlukan pemeriksaan dalam (tidak disukai oleh sebahagian wanita.)
-. Berjangka panjang
-. Tidak perlu motivasi setiap hari.
Keuntungan non kontrasepsi :
-. Mengurangi jumlah perdarahan haid, sehinga dapat mencegah terjadinya anemia
-. Mengurangi nyeri saat haid
-. Khasiat pencegahan terhadap kanker ovarium/indung telur dan endometrium/rahim
-. Mengurangi kejadian penyakit payudara jinak dan kista ovarium
-. Mencegah hamil ektopik (hamil diluar kandungan)
-. Melindungi klien dari jenis-jenis tertentu penyakit radang panggul
-. Pada keadaan tertentu dapat diberikan pada wanit usia perimenopause.
Efek samping :
-. Dapat terjadi perubahan pada pola haid, seperti : haid tidak teratur, perdarahan
bercak
atau perdarahan sela.
-. Kadang mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan, dan keluhan ini akan hilang
setelah
suntikan kedua dan seterusnya
-. Efektifitasnya berkurang bila digunakan bersamaan dengan obat-obatan epilepsi
(fenitoin dan barbiturat) atau obat TBC (rifampisin)
-. Penambahan berat badan
-. Tiadk menjamin perlindungan terhadap penyakit menular seksual, hepatitis, atau
HIV
-. Kesuburan tidak segera kembali setelah penghentian pemakaian

-. Dapat terjadi efek samping yang serius namun sangat jarang seperti serangan
jantung,
stroke, emboli paru dan otak, dan kemungkinan timbul tumor pada hati
Wanita yang boleh menggunakan kontrasepsi suntikan kombinasi :
Wanita usia reproduksi, telah memiliki anak ataupun belum, ingin
mendapatkan kontrasepsi yang efektifitasnya tinggi, pasca persalinan >6 bulan yang
sedang menyusui maupun tidak menyusui, anemia, menderita nyeri haid hebat, dan
wanita yang sulit minum pil setiap hari karena pelupa.
Wanita yang tidak boleh menggunakan kontrasepsi suntikan kombinasi :
Hamil atau diduga hamil, sedang menyusui < 6 minggu pasca persalinan,
perdarahan pervaginam yang belum diketahui penyebabnya, menderita penyakit hati
akut (hepatitis), usia >35tahun dan merokok, punya riwayat penyakit jantung, stroke
atau tekanan darah tinggi (>180/110mmHg), ada riwayat kelainan pembuluh darah
yang menyebabkan sakit kepala kronik atau migraine, tromboemboli atau menderita
penyakit kencing manis >20 tahun dan menderita keganasan pada payudara.
Waktu mulai menggunakan suntikan :
Suntikan pertama dapat diberikan dalam 7 hari siklus haid, atau
pascapersalinan > 6 bulan bila menyusui, 3 minggu pascapersalinan bila tidak
menyusui, atau dalam 7 hari pasca keguguran. Bila klien tidak haid, dapat diberikan
setiap saat asal saja dapat dipastikan bahwa wanita tersebut tidak hamil.Bila jenis
kontrasepsi sebelumnya hormonal lain dan ingin ganti cara, dapat diberikan langsung
tanpa menunggu haid, bila ragu-ragu dapat dilakukan tes kehamilan terlebih dahulu.
Cara penggunaan:
Suntikan kombinasi diberikan setiap bulan dengan suntikan intramuskuler
yang dalam, klien diminta datang setiap 4 minggu. Suntikan ulang dapat diberikan 7
hari lebih awal atau setelah 7 hari dari jadwal yang ditentukan, asal saja diyakinin
klien tersebut tidak hamil. Bila klien tidak haid lebih dari 2 bulan, harus difikirkan
kemungkinan terjadi kehamilan.

Kontrasepsi suntikan progestin


Profil :
Sangat efektif, aman, dapat dipakai oleh semua wanita usia reproduksi, tidak
menekan produksi ASI sehingga cocok untuk wanita yang menyusui, namun
kembalinya kesuburan lebih lambat, rata-rata 4 bulan.
Tersedia 2 jenis kontrasepsi suntikan yang hanya mengandung progestin, yaitu
:
-. Depo medroksiprogesteron asetat (DMPA), mengandung 150 mg DMPA yang

diberikan setiap 3 bulan (12 minggu) secara suntikan intramuskular yang dalam
-. Depo noretisteron enantat (Depo Noristerat), mengandung 200 mg noretindron
enantat,
diberikan setiap 2 bulan (8 minggu) dengan cara disuntik intramuskular .
Cara kerja, efektifitas, keuntungan dan efek samping :
Hampir sama dengan kontrasepsi suntikan kombinasi, kecuali bahwa jenis ini
tidak mengandung hormon estrogen sehingga tidak berdampak serius terhadap
penyakit jantung dan gangguan pembekuan darah, juga tidak mengganggu produksi
ASI, sehingga sangat aman dipakai oleh ibu-ibu menyusui, tidak ada efek mual dan
muntah. Hanya saja sering ditemukan gangguan haid seperti : siklus haid yang
memendek atau memanjang, perdarahan tidak teratur atau perdarahan bercak, bahkan
tidak haid sama sekali.