Anda di halaman 1dari 5

PENULISANESAIGEOLOGI(GEO340114)

PSTeknikGeologiTA2015/2016SemesterGasal

KARAKTERISITK PETROLOGI ORGANIK BATUBARA


SEBAGAI RESERVOAR GAS METANE BATUABARA
DI FORMASI MMUARA ENIM, SUMATERA SELATAN
Oke Aflatun
1

Teknik Geologi, Universitas Sriwijaya, Palembang


Corresponding author: oke.aflatun@gmail.com

ABSTRAK:
Kandungan vitrinit yang tinggi merupakan ciri utama geokimia lapisan batubara Formasi Muaraenim di Lapangan
Rambutan pada cekungan Sumatra Selatan dan biasanya mengindikasikan adanya target utama pada pengembangan gas
metana batubara (GMB). Kehadiran vitrinit ini ditunjukkan dengan tingginya konsentrasi huminit (hingga 98.6%)
inertinite (O.4-8%) dan exinite( 0.4.7%)Peringkat batubara Muaraenim tersebut adalah subbituminus, yang secara
geokimia ditandai oleh kadar air tinggi (hingga 21%) dan kandungan karbon kurang dari 80 berat.% (daf). Mineral yang
ditemukan hanya dalam jumlah kecil (<5% vol.), sebagian besar sebagai besi sulfida. Material pengisi rekahan (cleat)
didominasi oleh kaolinit. Perilaku ini dapat berhubungan dengan meningkatnya kadar air batubara terhadap kedalaman
atau dengan variasi kandungan vitrinit yang signifikan pada lapisan batubara yang lebih dalam. Formasi Muara Enim ini
cenderung sebgai kerogen tipe I dan III.
Kata Kunci: formasi MuaraEnim, Vitrinite, Kerogen

PENDAHULUAN
Cekungan Sumatera Selatan yang merupakan
cekungan penghasil batubara terbesar yang cukup
signifikan, memiliki batubara yang cukup tebal dan juga
menerus (continuous), serta terdapat ada kedalaman
yang optimal, sehingga batubaranya memliki potensi
cukup besar untuk dikaji dan dikembangkan untuk
memproduksi Gas Metana Batubara(GMB)
Pada jurnal ini merujuk bebrapa jurnal dimana
mendapatkan
penelitian
geokimia
(Sorsowidjo
M.B,2013) , penyelidikan geofisika batubara Dengan
metoda well logging (djuanaedi, dkk,), .aplikasi
penginderaan jauh untuk indentifikasi penyebran
batuabara (Ambodo A.P ), organic petrology
karakteristik sample pada cekungan sumatera selatan .
(Hermiyanto M.H dkk.)
Penelitian
ini
dimaksudkan
adalah
untuk
menggambarkan peta sebaran prospek gas metana
batubara pada suatu wilayah kerja tambang batubara
ditinjau dari berbagai aspek di daerah Muara Enim,
Propinsi Sumatera Selatan. Lokasi daerah terletak pada
daerah Muara Enim dan sekitarnya, CekunganLematang,

Sumatera Selatan (Gambar 2 ). Berdasarkan peta


topografi dan peta morfologi, daerah penelitian
menempati dalam daerah perbukitan bergelombang
landai,
Di samping itu, studi literatur juga dilakukan untuk
memperoleh informasi penelitian terdahulu, baik
terpublikasi maupun tidak terpublikasi, data-data geologi
regional daerah penelitian dan informasi mengenai
kegiatan pengembangan gas metana batubara di daerah
penelitian.

GEOLOGI SETTING
Geologi dan Tektonik Regional Sumatra Selatan
Cekungan Sumatera Selatan ini berbentuk
asimetris, di sebelah baratdaya di batasi oleh sesar dan
singkapan batuan Pra-Tersier yang terangkat di
sepanjang kawasan kaki pengunungan Bukit Barisan. Di
timurlaut dibatasi oleh formasi sedimen dari Paparan
Sunda. Di sebelah selatan dan timur dibatasi oleh
Pegunungan Garba dan Tinggian Lampung, serta suatu
tinggian yang sejajar dengan pantai timur Sumatera,
sedangkan di utara dan baratlaut dibatasi oleh

OkeAflatun

Pegunungan Dua Belas dan Tinggian Tiga Puluh. Evolusi


Cekungan Sumatera Selatan ini diawali sejak Mesozoik
(Pulunggono dkk, 1992), dimana cekungan ini merupakan
salah satu dari seri cekungan back-arcTersier yang terletak
sepanjang Sumatera - Jawa, dan berkembang sepanjang
pinggiran utama dari Sunda land-craton, sebagai hasil
subduksi dari Indian Ocean Plateke bawah dari South East
Asian Plate. Secara struktural Cekungan Sumatera Selatan
dibagi menjadi 4 sub-cekungan, yaitu : Sub-Cekungan
Jambi, Sub-Cekungan Palembang Utara, SubCekungan
Palembang Tengah, dan Sub-Cekungan Palembang
Selatan. Daerah kajian GMB/CBM termasuk ke dalam area
Lematang/Muara Enim Deep, sehingga adanya daerah
depresi tersebut menyebabkan perkembangan Formasi
Gumai (lebih dari1000 m). Daerah tinggian maupun daerah
depresi yang terbentuk sejak riftingpada Oligosen,
paleomorfologinya tetap hingga diendapkannya Formasi
Baturaja dan Formasi Gumai. Selanjutnya, daerah
tersebutsecara berurutan ditutupi oleh Formasi Air Benakat
dan Formasi Muara Enim. Setelah pengendapan tersebut,
terjadi aktivitastektonik Plio-Pleistosen yangmengubah
pola struktur yang terbentuk sebelumnya
. Stratigrafi Batubara Formasi Muara Enim
Formasi Muara Enim adalah merupakan formasi pembawa
batubara di daerah penelitian yang berumur Miosen Akhir.
Karakteristik batubara yang tersingkap di permukaan di
daerah Bukit Asam dan sekitarnya, pada umumnya
berwarna hitam kecoklatan hingga hitam mengkilat,
dengan sisipan tapisan pengotor (dirty-bands) berwarna
abu-abu cerah sampai putih yang terbentuk dari
batulempung tufaan (tongstain). Shell (1978), secara lebih
rinci, mengelompokan batubara yang terdapat di Formasi
Muara Enim dibagi menjadi beberapa seam/lapisan
batubara. Secara berurutan dari muda ke tua adalah Niru,
Lematang, Benakat dan Kebon (Hanging Coal Seam) dan
Seam Manggus, Seam Suban, Seam Petai, Seam Merapi,
sertaSeam Keladi(diberikan notasi kelompok lapisan
batubara I) (Gambar 3. 6). Menurut Iskandar, 1994; secara
rinci, batubara yang terdapat di Formasi Muara Enim dapat
dibagi menjadi 6 (enam) seam.

terperangkap dan terserap (teradsorpsi) di dalam


(seam)lapisan batubara. Gas yang terproduksikan, biasanya
pada kondisi laju dan tekanan yang rendah. GMB
terbentuk akibat dari proses biologi dan proses termal yang
dipengaruhi oleh adanya tekanan. Gas metana yang
terdapat di batubara dapat berupa; gas bebas, gas yang
larut dalam air di batubara atau gas yang meresap di
permukaan batubara bituminous. Beberapa zat organik
cocok untuk menghasilkan gas metana batubara. Sebagian
besar gas metana batubara (90%) terdapat di dalam
struktur molekul batubara (macropore), dan beberapa di
antaranya (10%) terdapat di dalam rekahan (cleat) batubara
(micropore) atau larut oleh air yang terjebak pada rekahan.
Gas metana akan mengalir ke rekahan, dan sampai ke
sumur bor atau bermigrasi ke permukaan, metana yang
muncul ke permukaan batubara akan dilepaskan

PENGERTIAN CBM

Komponen reservoir CBM terdiri atas batuan


reservoir, isi dari reservoir yang terdiri atas komponen
utama, yaitu gas alam, sedangkan air sebagai komponen
ikutan, batuan penutup (seal) reservoir dan kondisi
reservoir. Reservoir CBM mempunyai porositas ganda.
Gas tersimpan dalam dua kondisi, yaitu mayoritas
tersimpan pada kondisi terserap di pori mikro, dan kondisi
bebas pada pori makro yang merupakan rekahan dan
disebut sebagai cleat. Cleat terdiri atas face cleat yang

Pengertian Gas Metana Batubara Gas Metana


Batubara (GMB) adalah natural gas yang diproduksi oleh
lapisan batubara, mengandung 90% gas metan dan 10%nya adalah karbondioksida dan nitrogen yang merupakan
jenis gas bumi (hidrokarbon), di mana gas metana menjadi
komponen utama yang terjadi secara alamiah dalam proses
pembentukan batubara (coalification)dalam kondisi

RESERVOIR COALBED METHANE


Lapisan batubara yang disebut reservoir CBM
merupakan lapisan batubara yang berada > 500 m di
bawah permukaan, dan diproduksikan fluida reservoirnya
dengan membuat suatu sumur. Untuk lapisan batubara <
500 m di bawah permukaan, merupakan potensi untuk
dikembangkan penambangan terbuka yang diambil
batubaranya langsung.

PETROLEUM SYSTEM
Terbentuk dan terakumulasinya minyak dan gas di
bawah permukaan harus memenuhi beberapa syarat yang
merupakan unsur-unsur petroleum system, yaitu adanya
batuan sumber (source rock), migrasi hidrokarbon sebagai
fungsi jarak dan waktu, batuaneservoir, perangkap
reservoir dan batuan penutup (seal). Petroleum system
pada reservoir CBM sama dengan reservoir migas
konvensional, namun karena lapisan batubara merupakan
batuan sumber sekaligus sebagai reservoar.

KOMPONEN RESERVOIR

Karakteristik petrologi organic batubara

merupakan jalur rekahan bersifat menerus sepanjang


pelapisan dan utt cleat yang merupakan jalur rekahan
bersifat tidak menerus. Uniknya, face cleat dan butt cleat
saling tegaklurus.eservoir, maka tidak memerlukan
migrasi, serta perangkap reservoir

GENERASI GAS METANA BATUBARA


Gas metana batubara dihasilkan dari 2 reaksi,
yaitu kimiawi dan biologi. Aktivitas kimiawi terjadi setiap
terjadi panas dan tekanan dalam cekungan yang disebut
juga peristiwa thermogenik. Semakin dalam lapisan
batubara, maka makin rendah kadar airnya, tetapi airnya
akan menjadi semakin saline. Volume gas akan meningkat
seiring dengan naiknya coal rank, dan seberapa jauh
lapisan batubara ditemui dan tekanan reservoirnya (USGS,
2000). Batubara tipe bituminous dapat menghasilkan air,
menurunkan porositas dan gas metana yang terbentuk
terjadi secara biogenik, karena temperatur naik di atas ratarata jumlah bakterinya. Pada saat yang sama, tekanan
mampu menurunkan campuran organik dan melepaskan
gas metana dan hidrokarbon. Namun gas anorganik dapat
pula dihasilkan oleh penurunan termal di batubara.
Batubara tipe antrachite memiliki gas metana, porositas,
serta kandungan air di matrik yang lebih sedikit (Gambar
2.3). Pada tipe peatdisertai dengan adanya longsoran
tanaman, dan
lignite(batubara coklat) yang dapat
meningkatkan metana biogenik, dihasilkan oleh bakteri
methanogenik. Gas metana batubara sama seperti gas bumi
yang kita kenal saat ini, namun perbedaannya gas metana
batubara terbentuk dan tersimpan dalam batubara yang
berfungsi sebagai reservoir dan sekaligus sebagai source
rock.. karakter tekanan gas yag dihasilkan sangat berbeda,
di mana tekanan gas metana batubara sangat rendah, bila
dibandingkan dengan tekanan gas konvensional, sehingga
strategi pemboran dan kompleksinya menjadi berbeda.
Jumlah sumur gas metana batubara yang diperlukan lebih
banyak bila dibandingkan dengan pemboran gas
konvensional. Sejak awal gas metana batubara
memerlukan kompresor untuk menaikkan tekanan gasnya
sesuai spesifikasi pipa tansmisi tekanan gasnya sesuai
spesifikasi pipa tansmisi. Ekonomis atau tidaknya
cadangan gas metana batubara yang ditambang,umumnya
dipengaruhi oleh 3 hal :
1. Besaran kandungan gasnya (metana) dan rank batubara.
Jika batubara-nya pada rankyang rendah, umumnya
kandungan
gasnya
juga
rendah,
sedangkan
hinggatingginya-pun kadar gas per satuan volumenya-pun
rata-rata berbanding lurus dengan rank batubara tersebut.

2. Besaran porositas dan permeabilitas lapisan batubaranya. Sebagai contoh, reservoir gas metana batubara di
Cekungan Powder River, USA, walaupun kandungan gas
rata-ratanya kecil, namun permeabilitasnya sangat besar,
dan juga kedalaman rata-ratanya sangat dangkal.
3. Kedalaman reservoir gas metana batubara dapat
mempengaruhi keekonomiannya. Reservoir yang terletak
pada kedalaman dangkal relatif tidak memerlukan biaya
besar

CLEAT DEVELOPMENT
Walaupun batubara mempunyai porositas yang besar, tetapi
permeabilitaslapisan utama ditentukan oleh sistem rekahan
(cleat) dalam lapisan batubara. Sistem rekahan ini
merupakan jalan utama alamiah dari gas dan air yang
mempengaruhi nilai ekonomis pada eksplorasi gas. Hal ini
ditunjukkan oleh serangkaian retakan yang sejajar,
biasanya berorientasi tegak lurus perlapisan. Saturangkaian
retakan yang disebut face cleat, biasanya dominan
dengan bidang individu yang lurus dan kokoh. Pola lain
yang retakannya lebih pendek, sering melengkung dan
cenderung berakhir pada bidang face cleatdisebut dengan
butt cleat (Gambar 2.1), dan contohnya terlihat pada
hasil analisispetrografi sayatan poles, (Gambar 2.2).
Rekahan sebagai faktor utama yang menentukan
permeabilitas lapisan, jarak atau spasinya dipengaruhi oleh
:
rankbatubara, tebal lapisan,
litho-type(komposisi
maceral), ash contentdan stress regional. Umumnya jarak
antar cleatlebih rapat satu sama lain bersamaan dengan
kenaikan rankbatubara. Berikut adalah rata-rata nilai jarak
antar cleatberdasarkan rank batubara tersebut : subbituminous(2-5 cm), high-volatile bitumimous(0.3-2 cm ),
medium-low volatile bituminous(<1 cm), dan pada
vitrinitedan low-ash coalsjarak antar cleatnya akan
semakin kecil.

METODE
Tahap-tahap yang dilakukan dalam pengerjaan
penelitian ini terdiri atas tahap persiapan, tahap
pengumpulan data berupa data primer dan sekunder,
tahap analisis data, dan tahap penulisan laporan.
Studi pustaka untuk mengumpulkan bahan bacaan yang
berhubungan dengan penelitian berupa skripsi, tesis,
majalah, jurnal dan buku-buku yang berkaitan dengan
parameter-parameter yang digunakan dalam penelitian.
Pembutan junal ini
menggunkan identifikasi litologi
khususnya batubara Formasi Muara Enim, menentukan
karakterisitik batubara sebgai resevoaw Gas Metana
Batubara (CBM). Identifikasi litologi menggunakan data
stratigrafi batubara pada Anggota Formasi Muara Enim

OkeAflatun

dan dihitung jumlah ketebalan batubara tersebut.


Selanjutnya melihat studi pustaka petrologi ornaik
batubara. Kemudian untuk mengetahui rank batubara .

HASIL DAN PEMBAHASAN


Komposisi maseral batubara Muaraenim terdiri dari
vitrinite kelompok hingga 98,6% dalam jumlah,dengan
telocollinite (1,0-70,8%), desmokolinit (23,4-66,6%),
corpocollinite (0-2%), dan telinite (0,6-9,4%). Kelompok
inertinit (0,4 - 8%) pada dasarnya terdiri dari sclerotinite
(0-5,2%),semifusinite (0-3%), inertodetrinite (0-1,0%), dan
fusinite (0-0,4%). Kelompok exinite (0,4-7%) Termasuk
resinite (0-4%), sporinite (0-1,4%), Cutinite (0-0,6%),
alginite (0-1,6%), danliptodetrinite (0-1,4%). Nilai
reflektansi vitrinit rata-rata batubara Muaraenim bervariasi
antara 0,42-0,45%. (Hermiyanto M.H dkk.2009) lihat table
1.
Hasil petrologi organik dan analisis RockEval dari
sampel permukaan (Hermiyanto, dkk. 2009) untuk
mendukung data kematangan dan potensi sumber batu
panas di Cekungan Sumatera Selatan dan juga untuk
mengetahui tingkat kematangan dan jenis maseral, yang
keduanya berkaitan dengan kehadiran hidrokarbon di mana
didapatkan hasil Sementara Formasi muaraenim cenderung
mengandung kerogen tipe I dan III ini berdaasarkan dari
organic petrology. Kerogen tipe III ini dikarakterisasikan
dengan rasio H/C relatif rendah (<01.0) rasio O/C relatif
rendah (0.2 0.3). Index hidrogen di bawah 300 dan index
oksigen di atas 100. Tipe kerogen ini juga disebut vitrinite.
Sumber utamanya berupa tanaman darat yang ditemukan
pada sedimentasi detrital tebal sepanjang continental
margin. Tipe hidrokarbon yang dihasilkan utamanya adalah
gas. tipe kerogen mengidinkasikan dengan meningkatnya
tingkat kematangan akibat dari suhu yang semakin
meningkat, komposisi unsur nya akan mengalami
perubahan dengan bertambahnya unsur C, tapi kehilangan
unsur H dan O karena mengeluarkan senyawa H2O dan
CH4. Oleh karena diman Formasi Muara Enim ini yang
menunjukan bahwa adanya potensi gas.
Terbentuk dan terakumulasinya gas pada Formasi
Muara Enim di bawah permukaan harus emenuhi beberapa
syarat yang merupakan unsur-unsur petroleum system,
yaitu adanya batuan sumber (source rock), migrasi
hidrokarbon (gambar 2.1) sebagai fungsi jarak dan waktu,
batuan reservoir, perangkap reservoir dan batuan penutup
(seal). Petroleum system pada reservoir CBM sama
dengan reservoir migas konvensional, namun karena
lapisan batubara merupakan batuan sumber sekaligus
sebagai reservoir

KESIMPULAN
Data yang digunakan untuk melakukan evaluasi
potensi Gas Metana Batubara (GMB) menggunakan
analisis dari sampel batubara, seperti analisis maceral,
vitrinite reflectance untuk menentukan komposisi batubara
yang mewakili arakter dari reservoar, dan pemetaan
batubara dipermukaan yang berfungsi untuk mengetahui
distribusi dari lapisan batubara sebagai reservoar gas
metana batubara, berupa data log dan seimik
Muaraenim bahan organikkembali didominasi oleh
kelompok vitrinit, pada dasarnya omposed dari telinite dan
desmokolinit, jarang mengurai inertinit, dengan exinite
kecil dan mineral masalah. Pada formasi muara in bertipe
karogen tipe I dan III . membuat kapasitas penyimpanan
dan generasi hidrokarbon potensial menguntungkan untuk
pengembangan CBM;
UCAPAN TERIMA KASIH
Jika ada, silahkan dituliskan pada bagian akhir teks,
sebelum daftar pustaka.

DAFTAR PUSTAKA
Hermiyanto. M.H dan Ningrum N. Sudini.2009. Oraganic
petrology and Rock-Eval characteristic in selscted
surficial samples of the Tertiary Formation, South
Sumatra Selatan. Jurnal Geologi Indonesia, Vol No.
03 September 2009 : 215-227
Muhartanto Aristo dan Iskandar Erwin. 2006. Penentuan
Peta Sebaran Potensi Gmb (Sweet pot Area) Di
Daerah Bukit Asam, Sumatra Selatan. MINDAGI
Vol. 10 No.1, Juni 2006
Sosrowidjojo Imam B. 2009. Coal Geochemistry Of The
Unconventional Muaraenim Coalbed Reservoir,
South Sumatera Basin: A Case Study From The
Rambutan
Fieldgeokimia
Reservoar
NonKonvensional Batubara Muaraenim, Cekungan
Sumatera Selatan: Studi Kasus Lapangan Rambutan.
IndonesIan MInIng JournalVol. 16, No. 2, June 2013 :
71 - 81

Karakteristik petrologi organic batubara