Anda di halaman 1dari 21

BAB I

Pendahuluan
Perkembangan teknologi saat ini telah membuat kehidupan manusia jauh lebih
baik, serba instan dan lebih cepat. Disamping dampak-dampak positif yang sudah kita
rasakan hingga saat ini, dampak-dampak negativenya juga turut mempengaruhi kehidupan
manusia. Tidak terkecuali dengan arsitektur, lingkungan dimana kita tinggal. Tanpa kita
sadari, rumahrumah yang kita tempati juga turut merusak lingkungan yang ada.
Saat ini, Indonesia sedang mengalami pembangunan besar-besaran, sumber-sumber
material yang ada, seperti batu-batuan dalam bumi, kayu, minyakbumi, gas, dll, terus
dikerok dari dalam bumi. Pembuangan gas emisi dari pengesplotasian sumber daya bumi,
proses pengolahan material, pendistribusian material, dan pengaplikasian material dalam
membangun turut mengambil andil dalam perusakan lingkungan. Kondisibumi yang
memburuk ini atau lebih dikenal dengan Global Warming telah kita rasakan dampaknya,
beberapa pakar telah memprediksi bumi di masadepan yang hancur apabila kita masih
tetap seperti yang sekarang ini. Kondisi ini telah membuat kita sadar betapa pentingnya
menjaga kelestarian alam untuk anak cucu kita yang belum lahir.
Lingkungan yang demikian secara tidak langsung berimbas kepada menurunnya
kualitas kesehatan yang signifikan. Oleh karena itu para ahli telah memikirkan solusisolusi untuk memperbaiki kondisi bumi kearah yang lebih baik, terkhusus dalam bidang
arsitektur. Muncullah istilah Eco House. Sebuah istilah untuk rumah yang meminimalisi
dampak negatif terhadap lingkungan dari bangunan. Bagaimana caranya?, jawabannya
akan dibahas lebih lanjut. Karena setiap langkah kita akan berdampak pada generasi
masadepan, maka kesadaranakan lingkungan perlu diterapkan pada desain bangunan.

1.1 Latar Belakang


Zaman yang sudah modern seperti saat ini, banyak sekali fasilitas yang sudah
memadai. Dengan adanya kebutuhan yang serba instant, membuat orang semakin malas
untuk melakukan sesuatu secara konvensional. Kebutuhan papan yang sekarang menjadi
kebutuhan capital bagi setiap orang membuat bidang properti menjadi meningkat. Hal ini
dapat mempengaruhi percepatan arus urbanisasi dan dampak social yang terjadi. Mereka
1

yang belum memiliki tempat tinggal secara permanen, telah membentuk lingkungan yang
kumuh. Selain itu, pemanfaataan sumber daya alam yang sudah tidak diperhitungkan lagi
seberapa besar dampak yang akan terjadi, menambah kerusakan pada alam ini. Banyak
sekali dampak yang terjadi dari pemanfaatan alam yang tidak dimanfaatkan secara sebaikbaiknya. Akhir-akhir ini telah kita rasakan dampak yang terjadi akibat pengaruh dari
kerusakan alam ini. Sekarang, ruang hijau menjadi semakin berkurang, dan resapan air
juga semakin berkurang sehingga menyebabkan terjadinya banjir.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana cara menangani semua yang terjadi di permukaan bumi ini dengan cara
arsitektural.Karena arsitektur adalah salah satu pemeran utama sebagai penyebab dan
penanggung jawab atas segala perubahan dimuka bumi Salah satu cara yang paling tepat
untuk menangani damak pergantiaan iklim ini dalam bidang arsitektur ialah ndengan cara
menerapkan konsepGreen Architecture.Karena dengan cara ini segala dampak
perusakkan alam, penghematan energy dan lain lainya dapat ditekan.
1.3 Pemecahan Masalah
Dengan adanya bencana yang terjadi, kini ramai dengan istilah Green
Architecture. Green Architecture merupakan sebuah konsep merancang dengan
memadukan antara bangunan dengan kondisi lingkungan yang sudah ada, sehingga
keberadaan bangunan tersebut tidak merugikan lingkungannya. Konsep ini semakin
banyak dikembangkan seiring dengan isu internasional yaitu global warming. Green
Architecture pendekatan pada bangunan yang dapat meminimalisasi berbagai pengaruh
membahayakan pada kesehatan manusia dan lingkungan. Arsitektur hijau meliputi lebih
dari sebuah bangunan. Keselarasan hidup manusia dan alam terangkum dalam konsep
green architecture. Konsep yang kini tengah digalakkan dalam kehidupan manusia modern.
Dalam perencanaannya, harus meliputi lingkungan utama yang berkelanjutan. Untuk
pemahaman dasar arsitektur hijau (green architecture) yang berkelanjutan, di antaranya
lanskap, interior, dan segi arsitekturnya menjadi satu kesatuan.

BAB II

Kajian Teori
2.1 Studi Literatur
Definisi Eco house
Eco house adalah rumah yang meminimalisi dampak negatif terhadap lingkungan
dari bangunan melalui peningkatan efisiensi dan kebijaksanaan penggunaan material,
energi, dan pengaturan ruang. Eco house menekankan penghematan energi dan memanfaat
kan potensi lingkungan yang ada dimana bangunan itu berada.
PrinsipPrinsip Eco Housing
1. Material
Material yang sumbernya dari local
Dapat didaur-ulang, tidak beracun, dan mudah diperbaharui
Dalam proses ekstraksinya, distribusi, dan pemakaiannya menggunakan energi
yang minim dan tidak merusak lingkungan. Contoh : Pasir, batu kali, bambu,
kerikil,dll.
2. Pencahayaan Alami
Memaksimalkan cahaya matahari untuk penerangan ruangan di siang hari, dan
menggunakan penerangan buatan dengan sumber daya terbarukan pada malam
hari, misalnya lampu yang energinya dari panel surya. Bila tidak

memungkinkan, digunakan lampu hemat energi.


Bukaan-bukaan/lubang cahaya minimal 1/10 dari luas lantai ruangan.
Untuk rumah di perkotaan yang susunannya berderet, dapat menggunakan
system refleksi cahaya natural untuk memasukkan cahaya matahari kedalam
ruangan.

3. Penghawaan Alami
Memaksimalkan teknik sirkulasi udara, seperti sistem cross ventilation
Membuat bukaan-bukaan yang cukup, seperti jendela, lubangan gin, dll.
4. Sanitasi Air
Membuat system penampungan air hujan untuk menghemat air atau sumur air
mandiri.

Meminimalisi air buangan, seperti membuat saluran air cucian agar bias
digunakan untuk menyirami tanaman.

5. Efisiensi Energi Alam


Menggunakan Photovoltaic, yaitu panel surya pada atap, energynya bias

digunakan untuk penerangan, pemanasan air/ruangan dll.


Menggunakan bio energi, energi yang diperoleh dari pengolahan limbah
biologi melalui suatu proses sistem (masih jarang digunakan)

6. Arah Bangunan Organisasi Ruangan


Penyesuaian kelompok ruang dengan orientasi arah edar matahari-angin
Arah rumah disesuaikan dengan bukaan dan arah edar matahari misalnya,
rumah dibangun kearah yang cahaya mataharinya mengenai sedikit bagian
bangunan (untuk meminimalisir panas matahari yang masuk ke ruangan).
Tiga factor utama sangat menentukan bagi perletakan bangunan yang tepat:

Radiasi matahari dan tindakan perlindungan.


Fasade selatan dan utara menerima lebih sedikit panas dibandingkan dengan
fasade barat dan timur. Karena itu sisi bangunan yang sempit harus
diarahkan pada posisi matahari rendah, berarti arah dan timur tidak dapat
dihindari, maka pandangan bebas melalui jendela pada sisi ini juga harus
dicegah. Bila didepan fadase timur dan barat terdapat bidang reflektif yang
luas, orientasi ini lebih merugikan lagi, karena kesilauan yang diakibatkan

oleh matahari rendah tidak dapat diterima.


Arah dan kekuatan angin.
Ventilasi silang merupakan faktor yang sangat penting bagi kenyamanan
ruangan, karena itu untuk daerah tropica basah, posisi bangunan yang
melintang terhadap arah angin utama lebih penting dibandingkan dengan
perlindungan terhadap radiasi matahari. Orientasi terbaik adalah posisi yang
memungkinkan terjadinya ventilasi silang selama mungkin bila mungkin 24
jam tanpa bantuan peralatan mekanis. Jenis, posisi dan ukuran lubang
jendela pada sisi atas dan bawah angin dari bangunan dapat meningkatkan
efek ventilasi silang. Arah dan kekuatan angin adalah besaran yang variable
meskipun terdapat catatan dari pengalaman terdahulu tetap tidak dapat
diketahui dengan tepat karena itu untuk setiap bangunan, sebelum
perencanaan dimulai, dianjurkan untuk melakukan penyelidikan apakah

lingkungan tebuka atau tidak, bagaimana letak dan bentuk dan bnagunan

bangunan disekitarnya, apakah ada lorong atau penghambat angin dll.


Topografi
Pemanasan tanah dan intensitas pemantulan dapat dikurangi dengan
pemilihan lokasi yang sudut miringnya sekecil mungkin terhadap cahaya
matahari. Tetapi pengubahan topografi yang ada, bila mungkin, akan
memakan biaya yang besar, sehingga perbaikan iklim ini hanya dapat
dilakukan pada pemilihan lokasi bangunan.

Faktorfactor berikut dapat diabaikan, karena hanya yang disebut diatas saja yang
berpengaruh langsung terhadap iklim ruangan didalam bangunan, demikian juga terhadap
letak dan arahnya.

Pembuangan air permukaan dan arah aliran air tanah


Pencapaian lokasi dan sarananya
Persyaratan tata kota dan perancangan

Dianggap bahwa orientasi bangunan atau kelompok bangunan itu bervariasi. Tetapi
bila bentuknya hanya memungkinkan satu orientasi, Maka hanya tedapat sedikit
kemungkinan untuk memperbaiki iklim ruangan.
Semuanya itu merupakan keunggulan sumber daya yang ada dan dapat
dimanfaatkan untuk mengurangi biaya energi (hemat energi) pada suatu rumah. Kenapa
sumber daya alam itu tidak dicoba dimanfaatkan dan kenapa mesti lari dari masalah dan
mengatasinya dengan sistem artificial (buatan) yang sudah pasti lebih mahal dan boros?

Beberapa contoh kekeliruan yang terjadi adalah :


a. Penggunaan lampu penerangan di dalam ruang pada siang hari saat cuaca cerah
cemerlang.
Hal ini merupakan pemborosan. Kenapa tidak diusahakan dengan sistem bukaan
dinding atau atap sehingga sinar dan cahaya dapat masuk ke ruangan?.
b. Penggunaan kipas angin di dalam ruangan, karena sistem penghawaan kurang baik.
c. Penggunaan material sintetis pada daerah yang berlimpah sumber daya alam hayati.
d. Dan lain-lain banyak lagi.

Secara garis besar, desain ramah lingkungan/ekologi dapat didefinisikan sebagai


merancang sebuah desain untuk memastikan masyarakat yang mampu memenuhi
kebutuhannya tanpa mengurangi kesempatan generasi mendatang. Ini mencakup segala
bentuk desain yang meminimalkan dampak merusak lingkungan dengan mengintegrasikan
dirinya secara fisik, secara sistemik dan temporal dengan proses hidup lingkungan alam
(Yeang, K.,2008). UIA atau International Union of Architect merekomendasikan untuk
mengurangi dampak perubahan iklim dan kerusakan lingkungan melalui Sustainable by
Design Strategy atau Strategi Desain Berkelanjutan pada Deklarasi Copenhagen pada 7
Desember 2009. Adams, W.M. (2006) 4 dalam "The Future of Sustainability: Re-thinking
Environment and Development in the Twenty-first Century "mengungkapkan bahwa
terdapat 3 aspek yang saling terkait dari keberlanjutan yaitu Ekonomi, Sosial dan
Lingkungan dan untuk mencapai keberlanjutan, ketiga aspek tersebut harus terpenuhi.
Untuk bisa menerapkan strategi desain yang berkelanjutan, diperlukan sebuah rekomendasi
yang lebih detail seperti LEED for Homes yang merupakan sebuah strategi desain yang
meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya dengan integrasi prinsipramah
lingkungan dalam proses desain konstruksi rumah.
Ada 8 kriteria yang dibahas dalam guideline di antaranya ialah:
1. Proses Inovasi dan Desain (Innovation and Design Process/ ID) membahas tentang
metode desain, pengaruh kawasan sekitar (regional) dalam sistem penilaian dan
contoh level performa;
2. Lokasi dan hubungan (Location and Linkages/LL) membicarakan penempatan
rumah secarasosial dan lingkungan yang berdampak pada komunitas yang lebih
luas;
3. Pengelolaan Tapak yang Berkelanjutan (Sustainable Sites/ SS) membahas
penggunaan lahan dengan memperhatikan pencegahan dampak kepada tapak;
4. Efisiensi Air (Water Efficiency/ WE) membahas praktek untuk menggunakan air
secara efisien baik di dalam atau di luar rumah
5. Energi dan Atmosfir (Energy and Atmosphere/EA) membahas efisiensi energi dari
segi desain selubung bangunan serta sistem pemanasan dan pendinginan;
6. Material dan Sumber Daya (Materials and Resources/ MR) membahas tentang
efisiensi penggunaan material, pemilihan material ramah lingkungan serta
pengurangan limbah pada saat konstruksi;
7. Kualitas
Udara
Dalam
Ruangan

(Indoor

Environmental

Quality/

EQ)membicarakanpeningkatan kualitas udara dengan mengurangipolusi dan


kesempatan paparan dengan polutan;
8. Kesadaran dan Pendidikan (Awareness & Education/ AE) membahas pendidikan
pemilik, penyewa dan manajer bangunan mengenai operasi dan pemeliharaan dari
elemen bangunan
ramah lingkungan dari rumah yang bersertifikat LEED.
Berdasarkan literatur di atas, maka dilakukan sebuah telaah terhadap Rumah Dr.
Heinz Frick.

2.2 Studi Kasus Eco-House Desain Rumah Heinz Frick yang Ramah
Lingkungan dan Terjangkau
Gambar 1. Desain Rumah Heinz Frick yang Ramah Lingkungan dan Terjangkau
Material
Penggunaan
material

bahan
bangunan

sebagian besar adalah


material

bekas seperti:

kayu bekas
ubin

bekisting,

bekas,

kertas,

limbah

limbah
kayu,

besi beton, tiang listrik


bekas, pegangan pintu
bekas, panel listrik bekas. Material ramah lingkungan juga diterapkan seperti cat dan
pembersih. Ini juga merupakan strategi yang berhasil untuk Aspek efektivitas dan efisiensi
biaya (cost effectiveness & efficiency). Kayu

bekisting

yang

digunakan

dalam

pengecoran rumah berasal dari Kalimantan. Kayu usuk Bangkirai (5x7cm) dari sumber
yang sama dimanfaatkan untuk konstruksi rangka langit-langit dan pagar teras.
Pecahan keramik dari UNIKA digunakan ulang secara kreatif untuk finishing
dinding dan lantai Kamar Mandi Tamu.
Gambar 2. Penggunaan keramik bekas pada Kamar Mandi Tamu

Langit langit rumah didesain dengan banyak material bekas. Papan papan
akustik dari Vermiculit, yang dibongkar oleh Pelatihan Industri Kayu Atas (PIKA) dari
tempat lain, dimanfaatkan sebagai langit-langit di dapur, teras tempat makan dan ruang
keluarga. Papanbekas peti kemas digunakan untuk langit langit selasar. Kayu kayu
bekas PIKA juga digunakan untuk membuat lubang penghawaan pada langit langit
Dapur.
Gambar 3. Papanpapan akustik dari Vermiculit dipasang di Dapur, Teras Tempat Makan
Ruang Keluarga.

Gambar 4. Kayu peti kemas bekas yang dipasang diselasar Rumah

Tangga

pada

teras

barat,

yang

menuju

ke tangki

air

atas,

dibangun

menggunakan tiang listrik bekas sebagai balok tangga, lempengan besi sebagai anak
tangganya, dicor dengan beton dan difinishing dengan batu alam. Semua pegangan
pintu Rumah ini digunakan kembali dari rumah yang lain dari Swiss.
Gambar 5. Tangga pada Teras Barat Rumah dari bahan tiang listrik bekas

Gambar 6. Pegangan pintu Rumah

10

Kerja sama antara UNIKA dan AKIN


sejak 1995

menghasilkan

cat

perekat

dari tepung tapioca, 5% minyak pinus


(untuk

mengurangi

hama

dan

lumut/cendawan kelabu), litopon (pigmen


putih),

kaolin

serta

talkum

(bahan

pengisi). Campuran bahan-bahan tersebut


menghasilkan cat ramah lingkungan yang
diaplikasikan dua kali sehingga permukaan
dinding benar tertutup dan tidak mudah
tergores.

Pencahayaan
Energi dan Atmosfir (Energy and Atmosphere/ EA). Penghematan energi juga
dilakukan dengan menghemat pemakaian listrik. Hal ini dilakukan dengan desain
bukaan pintu, jendela, dan ventilasi yang memungkinkan pencahayaan dan penghawaan
alami. Dengan demikian, energi listrik yang dipakai dapat diminimalkan terutama pada
siang hari. Solar panel juga digunakan di rumah ini sebagai penyedia listrik untuk
perangkat komputer pada rumah ini. Konsep pencahayaan alami diadopsi dengan desain
bukaan pada sisi utara, selatan dan timur. Cahaya langit bisa menjangkau hampir semua
bagian sehingga dapat menghemat penggunaan listrik hingga 50% dari tetangga
tetangga lainnya.

Gambar 7. Pintu geser di Teras Tempat Makan yang dibuka pada siang hari

11

Konstruksi dinding Rumah ini menggunakan con-block (tebal 10 cm). Sedangkan,


pada bagianyang menghadapi sinar matahari, digunakanlapisan batu alam setebal 20 cm.
Penggunaanlapisan batu alam memperlambat radiasi panasmatahari ke dalam ruangan
selama 8.5 jam. Maka radiasi matahari barat pada sore hari baru mencapai bagian dalam
ruangan pada malam hari.
Strategi ini dilakukan untuk memenuhiAspek efektivitas dan efisiensi biaya (cost
effectiveness & efficiency). Pada bagian sisi rumah barat yang paling panas terdapat jendela
dengan menggunakan sirap sehingga panas matahari tidak masuk ke dalam bangunan
secara langsung. Tetapi siripsirip ini juga teptai mengijinkan terjadinya ventilasi silang.
Penghawaaan
Kualitas Udara Dalam Ruangan (Indoor Environmental Quality/ EQ). Semarang
terletak pada 0659S 11023B, dengan 3 m di atas muka laut, sehingga termasuk iklim
tropis lembab. Temperatur harian antara 24-32c, curah hujan bulanan antara 60430mm/bulan, kelembaban siang hari 82-90%, kelembaban malam hari 59-78%, kecepatan
angin rata - rata 6-11 mph. Datadata tersebut mendasari konsep penghawaan alami secara
silang pada bangunan, yang dimaksimalkan dengan adanya bukaan seperti: jendela tipe
nako, lubang ventilasi di atas jendela dan pintu jalusi. Bukaan tersebut memaksimalkan
sirkulasi udara yang masuk dan mengurangi kelembaban dalam ruang. Kemudian, untuk

12

mengurangi dampak serangga pengganggu maka dipasanglah kawat kassa pada jendela dan
lubang angin
Gambar 8. Jendela nako pada Perpustakaan yang dilengkapi dengan sirip

Gambar 9. Lubang angin di atas jendela pada Kamar Tidur

Gambar 10. Pintu jalusi pada Kamar Tidur

13

Sebagai elemen estetika dan penghijauan vertikal (vertical greenery), tanaman


tanaman rambat ditanam pada sisi Barat dan Selatan rumah. Efek dari tanaman vertikal
ialah menyejukkan suasana rumah.
Gambar 11. Tanaman rambat pada dinding eksterior

Sanitasi Air

14

Efisiensi air diterapkan dalam bangunan dengan didasari pengalaman Dr. Frick
selama 6 tahun tinggal di Kalimantan. Solusi penyediaan air bersih ditawarkan dengan
pemanfaatan air hujan untuk penggunaan air yang tidak diminum, seperti untuk mandi,
menyiram kloset, mencuci, mengepel dan menyiram tanaman. Sedangkan, air minum tetap
diambil dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), biasanya digunakan untuk minum,
memasak dan kebutuhan dasar lainnya jika tidak terjadi hujan.
Air hujan dari atap dikumpulkan dengan talang vertikal dan disalurkan oleh talang
horizontal ke dua bak air di permukaan tanah. Kemudian, sebuah pompa digunakan untuk
memompa air hujan ke bak air hujan ketiga di sisi Utara rumah. Dari bak tersebut, air
hujan disalurkan dengan prinsip gravitasi ke kamar mandi, tempat cuci dan kran kran
lainnya.
Gambar 12. Talang horisontal dan vertikal pengumpul air hujan
Bak air hujan yang pertama
(berukuran

12m3)

digunakan

untuk keperluan rumah tangga. Air


hujan

tersebut

disaring

secara

sederhana dengan kawat kasa. Bak


dibuat dari lantai dan dinding
beton bertulang setebal 20 cm,
mengingat kualitas beton yang
terlalu

rendah.

Kemudian

ditambahkan lapisan kimia khusus


dan

cat

kolam

renang

untuk

membuat tangki kedap air. Bak


penampung air menghabiskan biaya lebih dari 14 juta Rupiah pada tahun 1999.

Gambar 13. Bak penampungan air hujan pertama (volume 12m3)

15

Bak kedua berada di sisi Timur rumah (di depan teras tempat makan) dengan tutup
saringan kawat kasa untuk menyaring kotoran dari atap dan menghindari nyamuk
bersarang.
Gambar 14. Bak penampungan air hujan kedua (volume 2m3)

Sebagai tambahan, pemanfaatan Air PDAM juga digunakan. Air PDAM ditampung
dalam tangki air, di sisi Utara rumah, sebelum didistribusikan ke Dapur. Tangki

16

berkapasitas 1m3. Strategi penghematan air dilakukan dengan penggunaan shower pada
Kamar Mandi, penghematan air ketika mencuci, dll.
Gambar 15. Bak penampungan air hujan ketiga (1m3) dan bak penampungan air PDAM
(1m3)

Sebagai catatan ada beberapa Aspek Ekonomi, yang dipenuhi dalam Rumah ini seperti:
1. Meningkatkan

Kualitas

Hidup

Warga

Lokal

terutama

Masyarakat

Berpenghasilan Rendah (Improving Quality of Live especially Local Poor).


Dicapai dalam desain dengan menggunakan tenaga lokal dan material lokal seperti
material batako, batu alam, kayu daur ulang, atap genteng serta baja. Selain itu
limbah daur ulang juga digunakan.
2. Fungsionalitas (Functionality)
Aspek fungsionalitas (functionality) dilakukan dengan membuat fungsi bangunan
yang optimal. Sebuahkamar tidur utama, 2 kamar tidur tamu, 2 kamar mandi, teras
barat merupakan bagian bangunan yang termasuk zona privat (privat zone).
Kemudian dapur, teras tempat makan, ruang tinggal, perpustakaan dan tempat kerja
serta teras selatan merupakan zona semi-privat (semiprivate zone).

Gambar 20. Ruang Tidur Utama

17

Gambar
21. Kamar
Mandi
Tamu

Gambar

22. Dapur

18

3.

Efisien
si
Biaya
(Cost Effectiveness & Efficiency)
Aspek efektivitas dan efisiensi biaya (cost effectiveness & efficiency)
tercapai dengan penggunaan struktur bangunan yang efektif secara biaya dan
material bangunan, serta finishing yang efisien.Sistem struktur yang efektif
diterapkan dengan penggunaan pondasi lajur beton yang berundak. Lantai
bangunan merupakan lantai beton yang dilapisi lapisan aspal untuk melindungi
bangunan dari kelembapan dan iklim tropis.
Elemen bangunan terdiri dari pondasi lajur, sloof, kolom, balok, dinding,
lantai serta atap. pondasi yang dipilih oleh Dr. Frick ialah pondasi batu kali
(cyclopean concrete). Tanah pada lokasi merupakan tanah keras (harus digali
dengan linggis). Karena itu, pondasi selebar 50 cm dan tinggi 40 cm sudah dapat
menanggung beban yang ada. Selain itu sloof (beton bertulang) berukuran 20 cm x
30 cm diletakkan untuk mengikat kolom satu sama lain. Konstruksi pelat lantai
berkubah con-block dengan bentang sebesar 3 m diterapkan di atas bengkel dan bak
penampung air hujan. Tujuannya adalah untuk menghemat biaya konstruksi karena
pelat lantai berkubah dapat menyebabkan pengurangan tulangan baja. Tulangan
beton tetap diterapkan pada ring balk yang menerima beban horisontal yang cukup
besar.
Penelitian Dr. Frick menemukan bahwa konstruksi pelat lantai berkubah
con-block ini dapat menahan beban sebesar 4 kN/m2 selama 24 jam tanpa

19

terjadinya retak atau penurunan yang berarti. Sehingga, konstruksi yang sama juga
diterapkan di atas kamar-kamar tidur untuk mengurangi juga radiasi thermal.

BAB III
3.1 Kesimpulan
Eco house merupakan solusi secara arsitektural untuk masalah kondisi bumi yang
semakin memburuk.Desain Rumah karya Dr. Heinz Frick, Semarang, merupakan desain
yang ramah lingkungan sekaligus tetap terjangkau. Hal ini dibuktikan dengan terpenuhinya
aspek-aspek strategi desain LEED for Homes yang memiliki 8 poin utama. Selain itu dari
aspek ekonomi menggunakan acuan kerangka desain arsitektur berkelanjutan di Indonesia.
Dapat disimpulkan bahwa desain Rumah Dr. Heinz Frick ini merupakan solusi
yang tepat untuk Indonesia karena desainnya yang tepat guna dan terjangkau.

3.2 Saran

20

Eko house perlu dipermudah aksesnya ke masyarakat, agar eco house ini bukan
sekedar teori belaka,karena dalam penerapannya masih sulit dan membutuhkan biaya yang
besar.

DAFTAR PUSTAKA
Tanuwidjaja Gunawan, Mulyono Lo Leonardo Agung, Silvanus Devi Calista Desain
Rumah Heinz Frick Yang Ramah Lingkungan dan Terjangkau, Semarang.
Frick,H., (2000), Laporan pembangunan rumah ekologis di Semarang 1999, tidak
diterbitkan
Widja I Made 2004, Eco House Pada Perkembangan Rumah Tradisional BaIi Studi
Kasus Desa Adat Mengwi, Badung.

21

Boecker, Jhon 2009, Judul, New Jersey: Wiley, Inc