Anda di halaman 1dari 9

AKUNTANSI PERBANKAN DAN LPD

LAPORAN KEUANGAN LPD


(SAP PERTEMUAN 09)

Oleh:
KELOMPOK 2:
Ni Made Sintya Surya Dewi

( 1206305008 ) (02)

Zuli Widyawati

(1206305026) (06)

Ni Nym. Tria Suhartiningsih (1206305057) (09)


AA Mirah Pradnya Paramita (1206305107) (21)
Gusti Ayu Sidney

(1206305146) (24)

PROGRAM REGULER
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2014

LAPORAN KEUANGAN LPD


LPD merupakan salah satu unsur kelembagaan Desa Pakraman yang menjalankan
fungsi keuangan Desa Pakraman untuk mengelola potensi keuangan Desa Pakraman.
Lembaga ini sangat berpotensi dan telah terbukti dalam memajukan kesejahteraan
masyarakat desa dan memenuhi kepentingan Desa itu sendiri. Lembaga Perkreditan Desa
berfungsi sebagai salah satu wadah kekayaan desa yang berupa uang atau surat berharga
lainnya, menjalankan fungsinya dalam bentuk usaha-usaha ke arah peningkatan taraf hidup
krama desa dan dalam kegiatan usahanya banyak menunjang pembangunan desa. Usahausaha dilakukan dengan tujuan untuk mendorong pembangunan ekonomi masyarakat desa
melalui tabungan yang terarah serta penyaluran modal yang efektif; memberantas praktek
ijon, gadai gelap, dan lain-lain yang dapat dipersamakan dengan itu di pedesaan;
menciptakan pemerataan dan kesempatan berusaha bagi warga desa dan tenaga kerja di
pedesaan; meningkatkan daya beli, melancarkan lalu lintas pembayaran dan peredaran uang
di pedesaan
Lembaga Perkreditan Desa telah berkembang dengan pesat dan telah memberi
manfaat yang sangat luas bagi LPD dan anggota-anggotanya, dan seiring dengan itu telah
timbul berbagai kebutuhan baru berkenaan dengan eksistensi kelembagaan, unsur-unsur
manajemen, kegiatan dan operasionalnya, sehingga diperlukan pengaturan yang lebih
akurat untuk menjamin kepastian dan perlindungan hukum bagi keberadaan dan kegiatan
LPD dan keberadaan Krama Desa yang menjadi anggotanya. Kekurang hati-hatian dalam
mengelola LPD dapat berakibat buruk terhadap kepercayaan masyarakat terhadap LPD.
Karena itu perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap kebutuhan kebutuhan baru
yang berkembang dari praktek kegiatan LPD.
Kebijakan akuntansi LPD adalah prinsip-prinsip dasar dalam pelaporan keuangan
yang disusun berdasarkan ksepakatan bersama sesuai dengan aturan dan standar yang
berlaku. Beberapa contoh yang menyangkut kebijakan akuntansi LPD, diantaranya:
1. Dasar Penyusunan Laporan Keuangan
Laporan keuangan disusun dengan menggunakan harga perolehan.

2. Pengakuan Pendapatan dan Beban


Pencatatan pendapatan dan beban menganut metode akrual basis yaitu diakui pada saat
terjadinya transaksi dan bukan pada saat realisasi pembayaran.
a. Tidak dibenarkan mengantisipasi pendapatan, akan tetapi biaya-biaya yang telah
direalisasi sebelum tanggal neraca walaupun belum dapat diketahui secara pasti,
jumlahnya, harus dilaporkan dengan cara estimasi yang wajar.
b. Namun demikian pelaksanaan prinsip diatas harus tetap memperhatikan asas
proper matching cost against revenue yaitu biaya dan pendapatan dihadapkan
secara tepat dalam periode yang sama agar tidak menjadi pergeseran biaya atau
pendapatan ke periode yang lain.
3. Piutang Usaha
Piutang usaha berupa kredit yang diberikan dicatat sebesar nilai perolehan dikurangi
dengan cadangan atas kemungkinan piutang yang tidak dapat ditagih.\
4. Beban Ditangguhkan (Biaya Praoperasi)
Semua beban yang dikeluarkan sebelum beroperasi komersial ditangguhkan
pembebanannya dan diamortisasi selama tahun dengan tarif amortisasi 25% setiap
tahun dari nilai saat transaksi.
5. Aktiva Tetap
Aktiva tetap dinyatakan di neraca berdasarkan harga peorlehan dikurangi dengan
akumulasi penyusutan. Aktiva tetap tidak termasuk tanah disusutkan dengan metode
garis lurus. Biaya pemeliharaan dan perbaikan dibebankan pada laba-rugi pada saat
terjadinya. Jika aktiva tetap sudah tidak dapat digunakan lagi, maka harga perolehan
dan akumulasi penyusutannya akan dihapus dalam pembukuan. Laba atau rugi atas
pengalihan aktiva tetap diakui pada periode berjalan.
6. Akuntansi Utang Usaha
Utang usaha berupa simpanan dan deposito nasabah dinyatakan secara lengkap
sehingga menggambarkan seluruh kewajiban LPD pada akhir periode. Untuk
mengetahui

batas

waktu

pembayaran,

simpanan

pengelompokkan sesuai dengan jatuh temponya.


Laporan Keuangan LPD Disampaikan Kepada :
Bendesa Adat
Gubernur Provinsi Bali
Bupati Kabupaten

dan

deposito

dilakukan

Camat
Lurah
Badan Pengawas LPD
Kelian Banjar
Krama Desa (Melalui paruman Banjar)

Dalam rangka menuju tata kelola organisasi yang baik, LPD perlu memformalkan bahwa
budaya perusahaan dalam bentuk Catur Dharma LPD yang terdiri dari:
1)
2)
3)
4)

Menjadi milik yang bermanfaat bagi krama dan desa pakraman


Memberikan pelayanan yang terbaik bagi nasabah
Saling menghargai dan membina rasa kekeluargaan
Berusaha mencapai yang terbaik dengan menyediakan ruang dan waktu untuk
perbaikan berkelanjutan
Sampai saat ini LPD belum sepenuhnya menerapkan dasar pengakuan akrual dalam

laporan keuangannya. Dasar pengakuan yang digunakan kebanyakan menggunakan


cash basis yang dimodifikasi. Dengan diberlakukan IFRS, ke depan kemungkinan
laporan keuangan LPD akan menunjukkan ke arah fair value.
Akuntan publik independen berperan dalam menilai dan memberikan opini terhadap
laporan keuangan LPD sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum dan
standar akuntansi yang ada. Akuntan public harus berkomunikasi dengan BPI sebelum
memulai suatu penugasan audit. Untuk LPD yang mempunyai asset di atas 5 Milyar
disarankan untuk menggunakan jasa akuntan public independen.
Pengurus LPD adalah pelaksana utama atau actor tata kelola LPD. Keseluruhan
model tata kelola organisasi mengakui peran sentral dari pengurus sebagai salah satu
pelaku tata kelola organisasi. Dengan menetapkan tekanan pada pengelola puncak dan
menangani operasi sehari-hari atau entitas, pengaruh pengelolaan atas kualitas tata
kelola menjadi signifikan. Pengelola bertanggung jawab memantau risiko organisasi
dan melaksanakan pengendalian untuk mengurangi resiko.

7. Tujuan Analisis Laporan Keuangan


Tujuan Analisis Laporan Keuangan menurut Berstein (1983) adalah sebagai berikut:
a. Screening
Analisis dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui situasi dan kondisi perusahaan
dari laporan keuangan tanpa harus menemui langsung obyek yang dituju.
b. Understanding
Memahami kondisi suatu perusahaan, kondisi keuangannya dan apa yang
dihasilkan.
c. Forecasting
Analisis dilakukan untuk meramalkan kondisi keuangan suatu perusahaan di masa
yang akan datang
d. Diagnosis
Analisis dimaksudkan untuk melihat kemungkinan masalah yang terjadi, baik dalam
manajemen, operasi, keuangan atau masalah lain dalam suatu perusahaan.
e. Evaluation
Analisis dilakukan untuk menilai prestasi pihak eksekutif dalam mengelola suatu
perusahaan.
8. Analisis Laporan Keuangan LPD
Menurut Gede Edy Prasetya, dalam buku Penyusunan & Analisis Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah (2005:17) menyebutkan bahwa analisis laporan
keuangan pada dasarnya merupakan analisis yang dilakukan terhadap berbagai macam
informasi yang tersaji dalam laporan keuangan.
Menurut Harahap (2004:190) memberikan pengertian mengenai Analisis Laporan
Keuangan yaitu menguraikan pos pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang
lebih kecil dan melihat hubungannya yang lebih signifikan atau yang memiliki makna
antara yang satu dengan yang lain baik antara data kuantitatif maupun data non
kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui posisi keuangan lebih dalam yang sangat
penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat.
Analisis laporan keuangan (financial statement analysis) adalah hubungan antara
suatu angka dalam laporan keuangan dengan angka lain yang mempunyai makna atau
dapat menjelaskan arah perubahan (trend) suatu fenomena (Soemarso,1999:430).
Untuk mengetahui kinerja laporan keuangan maka diperlukan suatu analisis. Salah
satu analisis laporan keuangan adalah analisis sumber dan penggunaan modal kerja
yaitu suatu analisa untuk mengetahui sumber-sumber serta penggunaan modal kerja

atau untuk mengetahui sebab-sebab berubahnya modal kerja dalam periode tertentu.
Yang digunakan sebagai dasar perencanaan sumber dan penggunaan modal kerja
periode-periode

berikutnya,

serta

dapat

digunakan

sebagai

dasar

penilaian

kebijaksanaan manajemen dalam mengelola modal kerjanya dan dapat digunakan


sebagai dasar pengambilan keputusan oleh LPD atau kreditur. Untuk membuat laporan
sumber dan penggunaan modal kerja, terlebih dahulu harus menyajikan

laporan

perbadingan neraca antara dua titik waktu yang akan dianalisis. Dari laporan
perbadingan neraca tersebut akan disusun laporan perubahan modal kerja dan dapat
dianalisis unsur-unsur Non Current Acount yang mempunyai efek memperbesar dan
memperkecil modal kerja. Selanjutnya dikelompokkan dan disusun laporan sumber dan
penggunaan modal kerja.
9. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan LPD sebagai Lembaga Keuangan
LPD
Kinerja keuangan LPD dikatakan baik pada saat penilaian keseluruhan aspek keuangan
maupun manajemen yang dilakukan berpredikat Sehat, dan tingkat kesehatan LPD
pada dasarnya dinilai dengan pendekatan kualitatif atas lima faktor yang berpengaruh
terhadap kondisi dan perkembangan LPD sebagai lembaga keuangan, yaitu: (1)
permodalan (capital), (2) kualitas aktiva produktif (asset), (3) manajemen
(management), (4) rentabilitas (earning), dan (5) likuiditas (liquidity), kelima faktor
yang digunakan untuk menilai kesehatan LPD ini lebih dikenal dengan analisis
CAMEL.
10. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2012 Tentang Perubahan Kedua
Atas Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 8 Tahun 2002 Tentang Lembaga
Perkreditan Desa
Pasal 16
1. Tahun Buku LPD adalah tahun Takwim/Kalender.
2. Selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah Tahun Buku berakhir, Pengurus LPD
harus menyampaikan Laporan Tahunan disertai Laporan Keuangan kepada
Prajuru Desa.
3. Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus disampaikan kepada Krama
Desa paling lambat 2 (dua) minggu sebelum rapat Desa.

Pasal 17
Pengurus menyampaikan laporan tentang kegiatan, perkembangan keuangan dan
kinerja LPD

kepada Bendesa dan LPLPD (Lembaga Pemberdayaan Lembaga

Perkreditan Desa) secara teratur setiap bulan, 3 (tiga) bulan dan tahunan. Laporan
LPD disampaikan secara tertulis. Laporan kepada Bendesa disampaikan melalui
Pengawas Internal LPD. Laporan kepada LPLPD digunakan sebagai bahan untuk
mengefektifkan pelaksanaan pemberdayaan LPD dan bahan laporan kepada

Gubernur.
Pasal 18 (Ayat 4)
Atas permintaan Krama Desa melalui paruman, sekali dalam 1 tahun harus
dilakukan audit. Audit bisa dilakukan oleh pihak internal oleh Bendesa dan bisa
dilakukan oleh pihak ketiga dengan memanfaatkan jasa Akuntan Publik dengan

biaya ditanggung oleh LPD yang besangkutan.


Pasal 22
(1) Pembagian keuntungan bersih LPD pada akhir tahun pembukuan ditetapkan
sebagai berikut:
o Cadangan Modal 60% (enam puluh persen);
o Dana Pembangunan Desa 20% (dua puluh persen);
o Jasa Produksi 10% (sepuluh persen);
o Dana Pemberdayaan 5% (lima persen); dan
o Dana Sosial 5% (lima persen).
(2) Penyetoran dan penggunaan keuntungan Dana Pemberdayaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf d ditetapkan dengan Peraturan Gubernur dengan
pertimbangan MUDP (Majelis Utama Desa Pakraman).

REFERENSI
Suartana, I Wayan. 2009. Arsitektur Pengelolaan Risiko Pada Lembaga Perkreditan Desa
(LPD). Udayana University Press, Denpasar.
Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2012 Tentang Perubahan Kedua Atas
Peraturan Daerah Provinsi Bali

Nomor 8

Tahun 2002 Tentang Lembaga

Perkreditan Desa
Yudiawan, IGN Agung. 2012. Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja pada LPD
Desa Adat Sibetan Kabupaten Karangasem Periode 2008 2010.