Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penanaman dan

isolasi

mikroba

bertujuan

untuk

memisahkan

mikroba

dari

lingkungannya dan menumbuhkannya sebagai biakan murni dalam medium buatan.


Penanaman dan isolasi mikroba ini ada 2 macam cara yaitu dengan cara goresan dan cara
tabur. Jelaskan mekanisme keduanya!
Selain dua cara di atas, ada kekhususan untuk menanam mikroba parasit obligat. Apa
yang dimaksud dengan mikroba parasit obligat? Bagaimana cara menanamnya?
1.2 Tujuan
Untuk mengetahui, mempelajari, serta memahami dari permasalahan yang dimaksud
tersebut.
1.3 Ruang Lingkup
Dalam pembahasan makalah ini, akan membahas tentang bagaimana cara penanaman
mikroba dan isolasi mikroba. Serta memahami tentang mikroba parasit obligat dan cara
penanaman mikroba tersebut.

BAB 1I
TINJAUAN PUSTAKA

Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari mikroba. Mikrobiologi adalah salah


satu cabang ilmu dari biologi, dan memerlukan ilmu pendukung kimia, fisika, dan
biokimia. Mikrobiologi sering disebut ilmu praktek dari biokimia. Dalam mikrobiologi
dasar diberikan pengertian dasar tentang sejarah penemuan mikroba, macam-macam
mikroba di alam, struktur sel mikroba dan fungsinya, metabolisme mikroba secara
umum, pertumbuhan mikroba dan faktor lingkungan, mikrobiologi terapan di bidang
lingkungan dan pertanian. Mikrobiologi lanjut telah berkembang menjadi bermacam macam ilmu yaitu virologi, bakteriologi, mikologi, mikrobiologi pangan, mikrobiologi
tanah, mikrobiologi industri, dan sebagainya yang mempelajari mikroba spesifik secara
lebih rinci atau menurut kemanfaatannya.
Jasad hidup yang ukurannya kecil sering disebut sebagai mikroba atau
mikroorganisme atau jasad renik. Jasad renik disebut sebagai mikroba bukan hanya
karena ukurannya yang kecil, sehingga sukar dilihat dengan mata biasa, tetapi juga
pengaturan kehidupannya yang lebih sederhana dibandingkan dengan jasad tingkat
tinggi. Mata biasa tidak dapat melihat jasad yang ukurannya kurang dari 0,1 mm. Ukuran
mikroba biasanya dinyatakan dalam mikron ( ), 1 mikron adalah 0,001 mm. Sel mikroba
umumnya hanya dapat dilihat dengan alat pembesar atau mikroskop, walaupun
demikian ada mikroba yang berukuran besar sehingga dapat dilihat tanpa alat
pembesar.
Secara klasik jasad hidup digolongkan menjadi dunia tumbuhan (plantae) dan
dunia binatang (animalia). Jasad hidup yang ukurannya besar dengan mudah dapat
digolongkan ke dalam plantae atau animalia, tetapi mikroba yang ukurannya sangat
kecil ini sulit untuk digolongkan ke dalam plantae atau animalia. Selain karena
ukurannya, sulitnya penggolongan juga disebabkan adanya mikroba yang mempunyai
sifat antara plantae dan animalia. Menurut teori evolusi, setiap jasad akan berkembang
menuju ke sifat plantae atau animalia. Hal ini digambarkan sebagai pengelompokan jasad
berturut-turut oleh Haeckel, Whittaker, dan Woese. Berdasarkan perbedaan organisasi
selnya, Haeckel membedakan dunia tumbuhan (plantae) dan dunia binatang (animalia),
dengan protista. Protista untuk menampung jasad yang tidak dapat dimasukkan pada
golongan plantae dan animalia. Protista terdiri dari algae atau ganggang, protozoa, jamur
atau fungi, dan bakteri yang mempunyai sifat uniseluler, sonositik, atau multiseluler
tanpa diferensiasi jaringan.

Mikroba di alam secara umum berperanan sebagai produsen, konsumen,


maupun redusen. Jasad produsen menghasilkan bahan organik dari bahan anorganik
dengan energi sinar matahari. Mikroba yang berperanan sebagai produsen adalah algae
dan bakteri fotosintetik. Jasad konsumen menggunakan bahan organik yang dihasilkan
oleh

produsen.

Contoh

mikroba

konsumen

adalah

protozoa.

Jasad

redusen

menguraikan bahan organik dan sisa-sisa jasad hidup yang mati menjadi unsur-unsur
kimia (mineralisasi bahan organik), sehingga di alam terjadi siklus unsur-unsur kimia.
Contoh mikroba redusen adalah bakteri dan jamur (fungi).
Sel mikroba yang ukurannya sangat kecil ini merupakan satuan struktur biologi.
Banyak mikroba yang terdiri dari satu sel saja (uniseluler), sehingga semua tugas
kehidupannya dibebankan pada sel itu. Mikroba ada yang mempunyai banyak sel
(multiseluler). Pada jasad multiseluler umumnya sudah terdapat pembagian tugas
diantara sel atau kelompok selnya, walaupun organisasi selnya belum sempurna.
Setelah ditemukan mikroskop elektron, dapat dilihat struktur halus di dalam sel
hidup, sehingga diketahui menurut perkembangan selnya terdapat dua tipe jasad, yaitu:
Prokariota (jasad prokariotik/ primitif), yaitu jasad yang perkembangan selnya
belum sempurna dan Eukariota (jasad eukariotik), yaitu jasad yang perkembangan selnya
telah sempurna.
Selain yang bersifat seluler, ada mikroba yang bersifat nonseluler, yaitu virus.
Virus adalah jasad hidup yang bersifat parasit obligat, berukuran super kecil atau
submikroskopik. Virus hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron. Struktur virus
terutama terdiri dari bahan genetik. Virus bukan berbentuk sel dan tidak dapat
membentuk energi sendiri serta tidak dapat berbiak tanpa menggunakan jasad hidup
lain.
Selain virus ada jasad hidup yang disebut viroid, yaitu bahan genetik RNA yang
bersifat infeksius (dapat menginfeksi) sel inang. Viroid membawa sifat genetiknya
sendiri yang dapat diekspresikan di dalam sel inang. Jasad yang lebih sederhana dari
virus adalah prion, yang terdiri suatu molekul protein yang infeksius. Adanya kenyataan
ini merupakan perkecualian sistem biologi, sebab prion menyimpan sifat genetiknya di
dalam rantaian polipeptida, bukan di dalam RNA atau DNA. Prion dapat menggandakan
diri di dalam sel inang dengan mekanisme yang belum diketahui dengan jelas.

Suatu bahan yang ditumbuhi oleh mikroba akan mengalami perubahan susunan
kimianya. Perubahan kimia yang terjadi ada yang dikenal sebagai fermentasi
(pengkhamiran) dan pembusukan (putrefaction). Fermentasi merupakan proses yang
menghasilkan alkohol atau asam organik, misalnya terjadi pada bahan yang
mengandung

karbohidrat.

Pembusukan

merupakan

proses

peruraian

yang

menghasilkan bau busuk, seperti pada peruraian bahan yang mengandung protein.
Pada tahun 1837, C. Latour, Th. Schwanndon, dan F. Kutzing secara terpisah
menemukan bahwa zat gula yang mengalami fermentasi alkohol selalu dijumpai adanya
khamir. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perubahan gula menjadi alkohol dan CO2
merupakan fungsi fisiologis dari sel khamir tersebut. Teori biologis ini ditentang oleh Jj.
Berzelius, J. Liebig, dan F. Wahler. Mereka berpendapat bahwa fermentasi dan
pembusukan merupakan reaksi kimia biasa. Hal ini dapat dibuktikan pada tahun 1812
telah berhasil disintesa senyawa organik urea dari senyawa anorganik. Pasteur banyak
meneliti

tentang

proses

fermentasi

(1875-1876).

Suatu

saat

perusahaan pembuat anggur dari gula bit, menghasilkan anggur yang masam.
Berdasarkan pengamatannya secara mikroskopis, sebagian dari sel khamir diganti
kedudukannya oleh sel lain yang berbentuk bulat dan batang dengan ukuran sel lebih
kecil. Adanya sel-sel yang lebih kecil ini ternyata mengakibatkan sebagian besar proses
fermentasi alkohol tersebut didesak oleh proses fermentasi lain, yaitu fermentasi asam
laktat. Dari kenyataan ini, selanjutnya dibuktikan bahwa setiap proses fermentasi
tertentu disebabkan oleh aktivitas mikroba tertentu pula, yang spesifik untuk proses
fermentasi tersebut. Sebagai contoh fermentasi alkohol oleh khamir, fermentasi asam
laktat oleh bakteri Lactobacillus, dan fermentasi asam sitrat oleh jamur Aspergillus.
Mikroorganisme yang ingin kita tumbuhkan, yang pertama harus dilakukan adalah
memahami kebutuhan dasarnya kemudian memformulasikan suatu medium atau bahan
yang akan digunakan. Air sangat penting bagi organisme bersel tunggal sebagai
komponen utama protoplasmanya serta untuk masuknya nutrien ke dalam sel. Pembuatan
medium sebaiknya menggunakan air suling. Air sadah umumnya mengandung ion
kalsium dan magnesium yang tinggi. Pada medium yang mengandung pepton dan ektrak
daging, air dengan kualitas air sadah sudah dapat menyebabkan terbentuknya endapan
fosfat dan magnesium fosfat.

Pertumbuhan bakteri selain memerlukan nutrisi, juga memerlukan pH yang tepat.


Kebanyakan bakteri tidak dapat tumbuh pada kondisi yang terlalu basa, kecuali Vibrio
cholerae yang dapat hidup pada pH lebih dari 8. Suhu juga merupakan variabel yang
perlu dikendalikan. Kelompok terbesar yaitu mesofil, suhu optimum untuk
pertumbuhannya 20-40oC.
Menurut susunannya, media dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu media alam,
media semi sintetik, dan media sintetik. Dalam media alam, komponen nutrisi tidak
dapat diketahui dengan pasti setiap waktu karena dapat berubah-ubah dalam bahan yang
digunakan dan bergantung dari asalnya sebagai contoh ialah kentang, jagung, serangga,
rambut dan sebagainya. Dalam media semi sintetik, selain bahan hasil pertanian,
digunakan pula zat-zat kimia yang komposisinya diketahui dengan tepat.
Mikroorganisme tersebar di alam dengan berbagai macam jenis dan sifat fisiologis
yang beragam, dimana mikroorganisme tersebut mempunyai kebutuhan akan nutrien
yang berbeda-beda pula. Namun demikian susunan kimia selnya hampir sama atau lebih
sama, yaitu terdiri atas air yang merupakan bagian terbesar, yaitu 80-90%, sedangkan
sisanya berupa komponen lainnya seperti protoplasma, dinding sel, membran sitoplasma,
cadangan makanan (lemak, polisakarida, polifosfat, protein, dan lain-lain) yang berat
keringnya kurang lebih 0-20%.
Mikroorganisme dapat menggunakan makanan dalam bentuk padat dan dapat pula
yang

hanya

menggunakan

bahan-bahan

dalam

bentuk

cairan

atau

larutan.

Mikroorganisme yang menggunakan makanannya dalam bentuk padat tergolong tipe


holozoik. Mikroorganisme yang dapat menggunakan makanannya dalam bentuk cairan
atau larutan disebut holofitik. Ada beberapa mikroorganisme yang dapat menggunakan
makanannya dalam bentuk padatan, tetapi makanan tersebut sebelumnya harus dicerna,
di luar sel dengan bantuan enzim ekstraseluler.

BAB II
PEMBAHASAN
5

Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme yang

berukuran

sangat

kecil

sehingga untuk mengamatinya diperlukan alat bantuan. Mikroorganisme disebut juga


organisme mikroskopik. Mikroorganisme seringkali bersel tunggal (uniseluler) maupun
bersel banyak (multiseluler) Namun, beberapa protista bersel tunggal masih terlihat oleh
mata telanjang dan ada beberapa spesies multisel tidak terlihat mata telanjang. Virus juga
termasuk ke dalam mikroorganisme meskipun tidak bersifat seluler.
Isolasi bakteri adalah proses mengambil bakteri dari medium atau lingkungan asalnya
dan menumbuhkannya di medium buatan sehingga diperoleh biakan yang murni. Bakteri
dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya harus menggunakan prosedur aseptik. Aseptik
berarti bebas dari sepsis, yaitu kondisi terkontaminasi karena mikroorganisme lain. Teknik
aseptik ini sangat penting bila bekerja dengan bakteri. Beberapa alat yang digunakan untuk
menjalankan prosedur ini adalah bunsen dan laminar air flow Bila tidak dijalankan dengan
tepat, ada kemungkinan kontaminasi oleh miroorganisme lain sehingga akan mengganggu
hasil yang diharapkan. Teknik aseptik juga melindungi laboran dari kontaminasi bakteri.
Bakteri di alam umumnya tumbuh dalam populasi yang terdiri dari berbagai spesies.
Oleh karena itu, untuk mendapatkan biakan murni, sumber bakteri harus diperlakukan dengan
pengenceran agar didapat hanya 100-200 bakteri yang ditransfer ke medium, sehingga dapat
tumbuh menjadi koloni yang berasal dari bakteri tunggal.
Medium merupakan bahan yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme
diatas atau didalamnya, medium tersebut harus memenuhi syarat-syarat, antara lain
adalah harus mengandung semua zat hara yang mudah digunakan oleh mikroba, harus
mempunyai tekanan osmosis, tegangan permukaan dan pH yang sesuai dengan
kebutuhan mikroba yang akan ditumbuhkan, tidak mengandung zat-zat yang dapat
menghambat pertumbuhan mikroba, harus berada dalam keadaan steril sebelum
digunakan, agar mikroba yang di tumbuhkan dapat tumbuh dengan baik.
Di setiap tempat seperti dalam tanah, udara, maupun air selalu dijumpai mikroba.
Umumnya jumlah mikroba dalam tanah terutama tanah sampah lebih banyak daripada di
dalam air ataupun udara. Umumnya bahan organik maupun anorganik lebih tinggi dalam
tanah sehingga cocok untuk pertumbuhan mikroba heterotrof maupun autotrof.
Keberadaan mikroba dalam tanah dipengaruhi oleh sifat kimia dan fisika tanah.
Komponen penyusun tanah yang terdiri atas pasir, debu, lempung dan bahan organik
6

maupun bahan penyemen lain membentuk struktur tanah. Struktur tanah akan
menentukan keberadaan oksigen dan lengas dalam tanah. Dalam hal ini akan terbentuk
lingkungan mikro dalam suatu tanah. Mikroba akan membentuk mikrokoloni dalam
struktur tanah tersebut, dengan tempat pertumbuhan tanah yang sesuai dengan sifat
mikroba dan lingkungan yang diperlukan.
Dalam suatu struktur tanah dapat dijumpai berbagai mikrokoloni, mikroba-mikroba
tersebut mempunyai kemampuan untuk merubah suatu senyawa lain menjadi senyawa
lain dalam rangka untuk mendapatkan energi dan nutrien. Demikian dengan adanya
mikroba tersebut, menyebaabkan terjadinya daur unsur-unsur seperti karbon, nitrogen,
fosfor, dan unsur lain di alam.

3.1

Penanaman Mikroba
Teknik dalam menginokulasi bakteri memiliki beberapa variasi metodemisalnya
metode goresan (streak plate), metode taburan (pour plate).
3.1.1

Metode Gores (streak plate)


Metode ini biasa disebut dengan Streak Plate bisa dilakukan pada medium
agar tegak steril, miring steril, atau medium agar pada cawan petri yang cair.
Apabila ingin mendapatkan kultur murni suatu mikrobia yang digunakan adalah
metode streak plate, karena hasil akhir metode ini adalah berupa kumpulan selsel yang semakin jarang pada ujung streak sehingga dapat diambil bakteri pada
jumlah seluler (satu sel). Selain itu bakteri yang didapat seharusnya merupakan
bakteri yang memang ingin dibiakkan di kultur tersebut dengan kata lain bukan
bakteri kontaminan, sebab yang diambil/dicuplik adalah koloni bakteri yang
beradadi atass tr eak yang dibuat dan bukan di luar streak. Kelebihan metode ini
adalah dapat segera diketahui adanya kontaminasi. Sedangkan kekurangannya
metode ini sulit dilakukan dan hanya dapat digunakan untuk menumbuhkan
bakteri aerob saja. Alat alat yang digunakan adalah jarum ose, cawan petri,
inkubator.

3.1.1.1 Cara Kerja


3.1.1.1.1
Metode piringan gores medium agar steril dicairkan,
3.1.1.1.2
Didinginkan pada suhu 45oC,
3.1.1.1.3 Dituangkan kedalam cawan petri steril dan dibiarkan sampai
menjadi padat,
7

3.1.1.1.4

3.1.1.1.5

Kemudian dengan kawat gelang penginokulasi (jarum oase)


yang penuh dengan biakan campuran (misalnya spesimen
ludah atau bahan lain),
Goresan dilakukan diatas permukaan agar.

Ada beberapa metode penggoresan yang berbeda, namun semua metode


bertujuan untuk meletakkan sebagian besar organism pada beberapa goresan
pertama. Apabila sebaran dilakukan dengan menggerakkan kawat gelang kian
kemari dari satu bagian ke bagian lain. Cawan petri, bakteri yang tertinggal pada
kawat gelang semakin berkurang. Jika dilakukan secara sempurna, goresan akhir
akan meninggalkan bakteri individual cukup terpisah satu sama lain, sehingga
setelah mengalami pertumbuhan, koloni yang berasal dari bakteri individual
akan benar-benar terpisah satu sama lain. Kemudian koloni tunggal dapat
ditinggalkan ke medium steril, dan akan tumbuhlah biakan murni. Ada beberapa
teknik goresan yang biasa dipakai yaitu goresan sinabung, goresan T, goresan
kuadran (Streak quadrant).

3.1.2

Metode Tabur (pour plate)


Metode ini dilakukan dengan menginokulasikan sejumlah bakteri ke
dasar cawan baru kemudian medium agar cair dimasukkan dan dibiarkan
memadat. Metode ini cocok digunakan apabila kita ingin menguji apakah suatu
koloni bakteri merupakan bakteri yang aerobik, anaerob fakultatif, ataukah
anaerob obligat. Pengujian ini dapat terjadi karena hasil akhir metode pour
plate adalah berupa pertumbuhan bakteri pada dasar medium, tengah medium,
dan
8

pada

permukaan

medium.

Bakteri

yang

terdapat

pada

dasar

medium mungkin adalah bakteri anaerob obligat, sedangkan bakteri yang


tumbuh pada bagian tengah medium adalah bakteri anaerob fakultatif, dan
bakteri yang tumbuh pada permukaan adalah bakteri aerob walaupun perlu
pengkajian lebih lanjut mengenai hal ini. Kekurangan metode ini adalah sulit
menentukan kontaminan dan kerapatan mikrobia karena jarak antar koloni
terlalu rapat.
3.1.2.1 Cara Kerja
3.1.2.1.1 Penginokulasian biakan campuran kedalam tabung uji yang
mengandung agar.
3.1.2.1.2 Didinginkan pada suhu 45oC.
3.1.2.1.3 Isinya diaduk untuk dituang bersama suspensi bakteri
3.1.2.1.4 Campuran itu kemudian dituangkan kedalam cawan petri
kosong dan medium yang mencair dituangkan diatasnya.
3.1.2.1.5 Cawan ini diputar untuk mencampur isinya sebelum medium
menjadi padat.

3.2 Isolasi Mikroba


Isolasi bakteri adalah proses mengambil bakteri dari medium atau lingkungan
asalnya dan menumbuhkannya di medium buatan sehingga diperoleh biakan yang murni.
Bakteri dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya harus menggunakan prosedur
aseptik.

Teknik isolasi mikroorganisme adalah suatu usaha untuk menumbuhkan

mikroba diluar dari lingkungan alamiahnya. Pemisahan mikroorganisme dari


lingkungannya ini bertujuan untuk memperoleh biakan bakteri yang sudah tidak
bercampur lagi dengan bakteri lainnya dan disebut biakan murni. Kegagalan dalam
9

pemindakan mikroba dapat menyebabkan kontaminasi pada pertumbuhan mikroba,


sehingga yang melatar belakangi pengadaan praktikum ini adalah untuk mengetahui
teknik isolasi mikroorganisme agar tidak terjadi kontaminasi dalam pertumbuhan
mikroba.
Faktor Faktor yang mempengaruhi dalam mengisolasi mikroba yaitu sifat
spesies, tempat hidup dari spesies tersebut, medium, cara menanam, cara inkubasi, cara
menguji bahwa mikroba yang diisolasi telah berupa biakan murni, cara memelihara agar
mikroba yang telah diisolasi tetap merupakan biakan murni. Teknik pertumbuhan
mikroorganisme :
3.2.1

Metode Gores ( Streak Plate Method )


Adalah suatu teknik di dalam menumbuhkan mikroorganisme di dalam
media agar dengan cara menstreak (menggores) permukaan agar dengan jarum
ose yang telah diinokulasikan dengan kultur bakteri. Mekanisme isolasi bakteri
adalah sebagai berikut :
3.2.1.1 Cairkan nutrien agar dalam penangas air.
3.2.1.2 Dinginkan sampai temperatur 50.
3.2.1.3 Tuangkan medium agar tersebut ke dalam cawan petri steril secara aseptik
dan biarkan sampai dingin dan padat.
3.2.1.4 Ambil 1 ose suspensi bahan yang mengandung bakteri atau campuran
bakteri secara aseptik, kemudian dibuat goresan pada permukaan agar.
3.2.1.5 Cawan petri diberi label (etiket) kemudian dibungkus dan dibalik untuk
mencegah terjadinya tetesan air pada permukaan agar dari hasil
kondensasi uap air.
3.2.1.6 Sesudah inkubasi akan terlihat koloni pada bekas goresan
3.2.1.7 Salah satu koloni dipilih dari masing-masing tipe koloni yang tumbuh.
3.2.1.8 Diambil secara aseptis dengan ose satu koloni yang dikehendaki dan
suspensikan dalam air steril.
3.2.1.9 Diperiksa dengan pengecatan Gram.
3.2.1.10 Dipindahkan masing-masing jenis hasil isolasi ke dalam medium
nutrien agar miring.
3.2.1.11 Diinkubasikan pada temperatur yang sesuai selama 24-28 jam.
3.2.1.12 Uji kembali kemurniaanya dengan pengecatan Gram.
3.2.1.13 Jika tiap tabung hanya terdapat satu macam bakteri berarti isolasi
tersebut telah berhasil.

3.2.2

Metode Tabur ( Pour Plate Method )

10

Cara

penaburan (pour

plate)

merupakan

samping penggoresan untuk memperoleh


campuran
media

mikroba.

agar

Cara

diinokulasi

ini

berbeda

dalam

cara

biakan
dari

keadaan

yang

di

dari

biakan

cara penggoresan

dimana

tetap

murni

kedua

cair

yaitu

pada

suhu

45oC, dan demikian pula koloni-koloni akan berkembang di seluruh


media, tidak hanya pada permukaan. Untuk beberapa tujuan hal ini
menguntungkan,
streptococcal pada

contohnya
sel-sel

dalam mempelajari
darah

merah.

pertumbuhan

Distribusikoloni-koloni

koloni
yang

lebih baik juga diperoleh dalam cawan penaburan yang dibuat dengan baik,
dan isolasi akan lebih mudah dibuat. Supaya koloni yang tumbuh dalam cawan
tidak terlalu banyak ataupun sedikit maka contoh diencerkan hingga beberapa
kali pengencerandan ditaburkan pada beberapa cawan. Berikut mekanisme
metode tabor :
3.2.2.1 Bahan yang mengandung bakteri atau campuran seencer mungkin
disuspensikan.
3.2.2.2 Medium untuk pertumbuhan bakteri (nutrien agar) dicairkan dalam
penangas air (100C), dinginkan sampai temperatur 50C, kemudian
diinokulasikan dengan satu ose suspensi secara aseptis. Lalu di kocok
hingga homogen.
3.2.2.3 Dituangkan ke dalam cawan petri steril berlabel secara aseptis.
3.2.2.4 Cawan-cawan petri tersebut dan selanjutnya diinkubasi pada
temperatur kamar.
3.2.2.5 Setelah 24-48 jam inkubasi, amati bentuk koloni bakteri baiky ang
tumbuh di permukaan dan di dalam agar, apakah koloni-koloni bakteri
terpisah merata atau masih menyatu dengan bakteri lain membentuk
spreader.
3.2.2.6 Diperhatikan koloni yang tumbuh pada media baik yang ada di
permukaan, tengah, dan dasar medium.

3.3 Penanaman Mikroba Parasit Obligat


Parasit Obigat adalah sebuah parasit yang di alam dapat tumbuh dan berkembang
biak hanya dalam kondisi tertentu. Seperti pada atau dalam organisme hidup, salah satu
contoh parasit obligat adalah virus. Virus adalah jasat hidup yang bersifat parasit
obligat, berukuran super kecil atau submikroskopik dan hanya dapat dilihat dengan
11

mikroskop elektron.karena virus hanya dapat bereproduksi didalam materia hidup


dengan menginfeksi dan memanfaatkan sel mahkuk hidup karena virus tidak memiliki
perlengkapan selular untuk bereproduksi sendiri.
Penanaman mikroba parasit obligat merupakan salah satu medium yang
digunakan adalah telur ayam. Karena, embrio dan membran pendukungnya
menyediakan keragaman tipe sel yang dibutuhkan untuk kultur berbagai tipe virus yang
berbeda. Membran kulit telur yang fibrinous terdapat dibawah kerabang. Membran
kulit telur bersama dengan cangkang telur membantu mempertahankan integritas
mikrobiologi dan telur.
Tahap tahap penanaman parasit obligat adalah sebagai berikut :
3.3.1 Menggunakan embrio ayang dengan umur 10-12 hari
3.3.2 Peneropongan dilakukan pada telur yag digunakan
3.3.3 Batas kantung udara dan letak kepala embrio ditentukan lalu diberi tanda
3.3.4 Alkohol 70% dioleskan lalu suspensi virus diinokulasi kedalam ruang alantois
(melewati batas kantung udara) dengan cara jarum dimasukin inci dengan
3.3.5
3.3.6
3.3.7

sudut 450 dan diinjeksikan 0,1-0,2 cc virus yang akan diinokulasikan


Lubang ditutup kembali dengan lilin
Lalu diinkubasi dengan suhu 380-390C selama 2-4 hari
Hari ke-4 diamati embrio tersebut dan di andingkan dengan telur dengan telur
yang tidak diinokulasikan dengan virus.
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Media biakan berfungsi untuk memberikan tempat dan kondisi yang mendukung
pertumbuhan dan perkembangbiakan dari mikroorganisme yang ditumbuhkan.
Komposisi media bahan sangat penting dalam memenuhi kebutuhan nutrisi
sterilisasi dilakukan bakteri demi mengoptimalkan pertumbuhannya, yang mana tiap-tiap
komposisi harus setimbang jumlahnya. Di dalam media harus terkandung semua unsur
hara yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan mikrobaMedia dibagi
menjadi 3 berdasarkan komposisinya, yaitu alami, semi sintetik dan sintetik. Media
dibagi menjadi 3 berdasarkan konsistensinya, yaitu cair, padat, dan setengah padat.
Isolasi bakteri adalah proses mengambil bakteri dari medium atau lingkungan
asalnya dan menumbuhkannya di medium buatan sehingga diperoleh biakan yang murni.
12

Ada beberapa metode untuk menginokulasi bakteri sesuai dengan jenis medium
tujuannya.
- Pada medium agar tegak, dilakukan metode tusuk menggunakan jarum ose.
- Pada medium agar miring, dilakukan metode gores dengan menggunakan loop ose.
- Pada medium petridisk, dapat digunakan metode streak plate(metode gores), pour
plate (metode tuang) atau spread plate (metode sebar) Setelah inokulasi, dilakukan
proses inkubasi, yaitu menyimpan medium pada alat atau kontainer ada temperatur
tertentu dan periode tertentu, sehingga tercipta lingkungan yang menyediakan kondisi
cocok untuk pertumbuhan bakteri.
Teknik penanaman dan isolasi mikroba sama sama dibagi menjadi dua yaitu
metode gores (streak plate) dan metode tuang (pour plate). Metode gores adalah suatu
teknik di dalam menumbuhkan mikroorganisme di dalam media agar dengan cara
menstreak (menggores) permukaan agar dengan jarum ose yang telah diinokulasikan
dengan kultur bakteri. Sedangkan metode tuang dilakukan dengan menginokulasi
medium agar yang sedang mencair pada temperatur 50C dengan suspensi bahan yang
mengandung bakteri, dan menuangkannya ke dalam petridishsteril.
Parasit Obligat adalah sebuah parasit yang di alam dapat tumbuh dan berkembang
biak hanya dalam kondisi tertentu seperti pada atau dalam organisme hidup. Seperti pada
atau dalam organisme hidup, salah satu contoh parasit obligat adalah virus. Penanaman
mikroba parasit obligat merupakan salah satu medium yang digunakan adalah telur
ayam. Karena, embrio dan membran pendukungnya menyediakan keragaman tipe sel
yang dibutuhkan untuk kultur berbagai tipe virus yang berbeda.
3.2 Saran
Sebelum digunakan sebaiknya alat-alat dan bahan yang akan digunakan harus
disterilkan terlebih dahulu agar tidak terkontaminasi oleh mikroba yang tidak diinginkan
tumbuh pada tempat tersebut.

13

DAFTAR FUSTAKA
Hadioetomo, Ratna Siri. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. PT Gramedia Pustaka
Utama : Jakarta
Volk , W. A & Wheeler. M. F. 1993. Mikrobiologi Dasar Jilid 1 Edisi ke 5. Erlangga,
Jakarta.
Power Point Penanaman Mikroba dan Isolasi Mikroba serta Mikroba Parasit Obligat
http://maskiahbiologi09.blogspot.com/2012/05/teknik-isolasi-mikroba.html
http://goresanpenaseru.blogspot.com/2013/07/isolasi-mikroba_9476.html
http://12650116-si.blogspot.com/2011/05/mikroba.html

14