Anda di halaman 1dari 18

PERTANGGUNGJAWABAN HUKUM PERAWAT

PADA KEJADIAN TAK DIHARAPKAN (KTD)

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS


MATA KULIAH: ETIKA DAN HUKUM KESEHATAN

OLEH:
NIA FIRDIANTY DWIATMOJO (22020115410014)
AGUS PUTRADANA (22020115410015)

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

DAFTAR ISI

PERTANGGUNG JAWABAN HUKUM PERAWAT PADA


KEJADIAN TAK DIHARAPKAN (KTD)

HALAMAN JUDUL....................................................................................................

KATA PENGANTAR ................................................................................................

A. LATAR BELAKANG................................................................................
................................................................................................................
B. PERMASALAHAN..................................................................................

3
4

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA


A. ASPEK MEDIS DAN KEPERAWATAN..................................................
B. ASPEK ETIK..........................................................................................
C. ASPEK YURIDIS....................................................................................

5
6
7

BAB III: PEMBAHASAN...........................................................................................

BAB IV: PENUTUP


A. SIMPULAN.............................................................................................
B. SARAN...................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

9
10

PERTANGGUNG JAWABAN HUKUM PERAWAT PADA


KEJADIAN TAK DIHARAPKAN (KTD)

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Keselamatan

pasien

menjadi

bagian

penting

dalam

pelayanan

keperawatan. Perawat sebagai tenaga terdepan yang bersentuhan langsung


dengan pasien bertanggung jawab menyediakan layanan yang menunjang
keselamatan tersebut. Ballard (2003) menyatakan bahwa keselamatan pasien
merupakan komponen penting dan vital dalam asuhan yang berkualitas. Hal ini
menjadi penting karena keselamatan pasien merupakan satu langkah untuk
memperbaiki mutu layanan (Cahyono, 2008), dan menjadi salah satu indicator
klinik mutu pelayanan keperawatan (Dirbinyankep, 2008).
Keselamatan pasien selain menjadi bagian penting dalam pelayanan
keperawatan. Keselamatan pasien merupakan tanggung jawab moral perawat
serta pengelola rumah sakit (Cook, Hoas, Guttmannova, & Joyner, 2004).
Elemen penting lainnya dalam manajemen keperawatan adalah peran
perawat (Marquis & Houston, 2010). Berbagai peran dijalankan oleh perawat
saat memberikan asuhan, salah satunya sebagai pembela pasien (client
advocate). Perawat diharapkan mampu membantu mepertahankan lingkungan
yagn aman bagi pasien dan mengambil tindakan, untuk mencegah terjadinya
kecelakaan dan melindungi pasien dari kemungkinan efek yang tidak diinginkan
dari suatu tindakan diagnostik atau pengobatan (Potter & Perry, 2005). Perawat
diharapkan mampu bertanggung jawab dan melindungi hak pasien. Salah satu
hak yang harus dipenuhi adalah hak memperoleh keamanan dan keselamatan
dirinya selama dalam perawatan di rumah sakit (UU No. 44/2009 pasal 32n
tentang rumah sakit). Perawat memiliki kontribusi yang besar dalam menjamin
keselamatan pasien.
Keselamatan pasien dapat diperoleh bila faktor yang berkontribusi
terhadap insiden keselamatan dapat diminimalisir bahkan dihindari. Faktor yang
berkontribusi terhadap

hal ini menurut Henriksen, et.al (2008) adalah factor

manusia yang meliputi: sumber daya yang tidak memenuhi persyaratan,


kesalahan dalam mengambil keputusan klinis, salah persepsi, pengetahuan

manusia, keterbatasan dalam mengoperasikan alat dan mesin, sistem, tugas dan
pekerjaan. Hal ini juga diungkapkan oleh Internasional Council of Nurse (ICN)
(2002) yang menyatakan faktor yang berpengaruh terhadap KNC dan KTD
melibatkan faktor manusia dan sistem. Faktor manusia meliputi pengetahuan,
keterampilan, lama kerja sedangkan system meliputi standar, kebijakan dan
aturan dalam organisasi. Teori Burke dan Litwin dalam Cahyono (2008)
mengungkapkan

factor

yang

berpengaruh

adalah

lingkungan

eksternal,

kepemimpinan, budaya organisasi, manajemen, struktur dan system, serta tugas


dan keterampilan individu.
Delapan faktor diungkapkan oleh Depkes (2008) sebagai factor yang
dapat mempengaruhi keselamatan pasien meliputi: factor eksternal rumah sakit,
faktor organisasi dan manajemen, lingkungan kerja, kerjasama tim, petugas,
beban kerja, pasien dan komunikasi. Hasil penelitian Van Der Schaaf (1992)
dalam Aspden, et.al (2204) mengungkapkan berbagai factor penyebab terjasinya
insiden keselamatan dikelompokkan kedalam tiga abgisn besar: 1) tekhnikal
meliputi peralatan dan perangkap lunak, 2) organisasi meliputi kebijakan,
prosedur, dan protocol, 3) manusia atau sumber daya manusia meliputi
kesalahan dan pelanggaran.
Kejadian tidak diharapkan

(KTD)

merupakan

kejadian

yang

mengakibatkan cedera yang tidak diharapkan pada pasien karena suatu indakan
(commission) atau karena tidak bertindak (omission) dan bukan karena
underlying disease atau kondisi pasien (KKP-RS, 2008). Lebih jauh Medical
Human Resources (2008) mendefinisikan KTD sebagai kejadian yang tidak
diduga atau tidak diharapkan tetapi menimbulkan cedera, kerugian atau
kerusakan.
Bentuk KTD yang dilaporkan oleh Yahya (2006) memaparkan di Indonesia
sepanjang tahun 2004-2005 laporan dari berbagai sumber tentang dugaan
malpraktek didapatkan data 47 insiden meliputi: pasien meninggal karena
operasi, meninggal saat melahirkan, operasi yang mengakibatkan luka dan
cacat, keracunan obat, salah pemberian obat, dan kelalaian ang mengakibatkan
kematian. Bentuk KTD lain yang dilaporkan oleh Mengis & Nicholini (2010)

PERTANGGUNG JAWABAN HUKUM PERAWAT PADA


KEJADIAN TAK DIHARAPKAN (KTD)

berupa kesalahan dalam pemberian obat-obatan dan kurang optimalnya


intervensi pembedahan.
Dampak yang ditimbulkan dari KNC dan KTD dapat merugikan baik pihak
rumah sakit, staf yang terlibat terutama pasien yang enerima layanan. Dampak
yang ditimbulkan antara lain menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat
terhadap pelayanan kesehatan (Walshe & Boaden, 2006).
B. PERMASALAHAN
Keselamatan pasien dapat diperoleh bila faktor yang berkontribusi
terhadap insiden keselamatan dapat diminimalisir bahkan dihindari. Keselamatan
pasien

selain

menjadi

bagian

penting

dalam

pelayanan

keperawatan.

Keselamatan pasien merupakan tanggung jawab moral perawat serta pengelola


rumah sakit.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahn
sebagai berikut Bagaimana pertanggungjawaban hukum perawat pada kejadian
tak diharapkan (KTD).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. ASPEK MEDIS DAN KEPERAWATAN
1. Kejadian tidak diharapkan (KTD)
Kejadian tidak diharapkan didefinisikan sebagai kejadian yang hasilnya
tidak diharapkan mencelakakan pasien karena melakukan suatu tindakan atau
karena tidak bertindak dan bukan karena kondisi sakit pasien (institute of
medicine, 2000). Menurut Medical Human Resources (2008) KTD merupakan
kejadian yang tidak diduga atau tidak diharapkan tetapi menimbulkan cedera.
KKP-RS

(2008)

mendefenisikan

KTD

sebagai

suatu

kejadian

yang

mengakibatkan cidera yang tidak diharapkan pada pasien karena suatu


tindakan (commission) atau karena tidak bertindak (omission), dan bukan
karena underlying disease atau kondisi pasien.
KTD ada yang dapat dicegah dan ada yang tidak dapat dicegah. KTD
yang dapat dicegah (preventable adverse event) berasal dari kesalahan proses
asuhan pasien. KTD sebagai dampak dari kesalahan proses asuhan sudah
banyak dilaporkan terutama di Negara maju. KTD yang tidak dapat dicegah
adalah

suatu

kesalahan

akibat komplikasi

yang

tidak dapat dicegah

(unpreventable adverse event) walaupun dengan pengetahuan yang mutakhir


(Cahyono,2008).
Seperti halnya kejadian nyaris cedera, kejadian tidak diharapkan terjadi
juga melalui suatu proses atau tahapan. Proses ini menggambarkan rangkaian
kejadian sehingga pada hasil akhir terlihat pembedaan KNC dengan KTD.

Gambar 1.1
Perbedaan Proses Terjadinya KNC dan KTD

PERTANGGUNG JAWABAN HUKUM PERAWAT PADA


KEJADIAN TAK DIHARAPKAN (KTD)

Sumber : konvensi nasional mutu rumah sakit (yahya 2006)


2. Beberapa kemungkinan terjadinya KTD
a. Hasil dari suatu perjalanan penyakitnya sendiri atau komplikasi penyakit,
tidak berhubungan dengan tindakan keperawatan dan medis yang dilakukan
tenaga kesehatan.
b. Hasil dari suatu resiko yang tidak dapat dihindari yaitu
1. Resiko yang tidak dapat diketahui sebelumnya (unforeseeable). Resiko
seperti ini dimungkinkan oleh karena sifat ilmu yang empiris dan sifat
tubuh manusia yang sangat bervariasi serta rentan terhadap pengaruh
oleh factor eksternal, sebagai contoh adalah syok anafilatik.
2. Resiko yang meskipun telah diketahui sebelumnya (forseeable) tetapi
dianggap dapat diterima (acceptable), dan telah diinformasikan kepada
pasien dan telah disetujui oleh pasien untuk dilakukan tindakan. Yaitu :
1) Resiko yang derajat probabillitas dan derajat keparahannya cukup
kecil, dapat diantisipasi, diperhitungkan atau dapat dikendalikan,
misalnya

efek

samping

obat,

pendarahan

dan

infeksi

pada

pembedahan.
2) Resiko yang derajat probabillitas dan derajat keparahannya besar
pada ketentuan tertentu, yaitu apabila tindakan medis yang beresiko
tersebut harus ditempuh (the only way), terutama dalam keadaan
gawat darurat.
c. Hasil dari suatu kelalaian medis

Yaitu melakukan yang seharusnya tidak dilakukan, atau tidak melakukan


yang seharusnya dilakukan.
d. Hasil dari suatu kesengajaan
Untuk mengetahui penyebab suatu hasil yang tidak diharapkan perlu
dilakukan penelitian mendalam (audit medis), bahkan bila diperlukan dapat
dilakukan

pula

pemeriksaan

mendalam

terhadap

pasien

termasuk

melakukan autopsy klinik bila pasien telah meninggal.


3. Faktor-Faktor yang berpengaruh terhadap KTD
Faktor yang berkontribusi terhadap hal ini menurut Henriksen, et.al
(2008) adalah factor manusia yang meliputi: sumber daya yang tidak memenuhi
persyaratan, kesalahan dalam mengambil keputusan klinis, salah persepsi,
pengetahuan manusia, keterbatasan dalam mengoperasikan alat dan mesin,
sistem, tugas dan pekerjaan. Hal ini juga diungkapkan oleh Internasional
Council of Nurse (ICN) (2002) yang menyatakan faktor yang berpengaruh
terhadap KNC dan KTD melibatkan faktor manusia dan sistem. Faktor manusia
meliputi pengetahuan, keterampilan, lama kerja sedangkan system meliputi
standar, kebijakan dan aturan dalam organisasi. Teori Burke dan Litwin dalam
Cahyono (2008) mengungkapkan factor yang berpengaruh adalah lingkungan
eksternal, kepemimpinan, budaya organisasi, manajemen, struktur dan system,
serta tugas dan keterampilan individu.
Delapan faktor diungkapkan oleh Depkes (2008) sebagai factor yang
dapat mempengaruhi keselamatan pasien meliputi: factor eksternal rumah sakit,
faktor organisasi dan manajemen, lingkungan kerja, kerjasama tim, petugas,
beban kerja, pasien dan komunikasi. Hasil penelitian Van Der Schaaf (1992)
dalam Aspden, et.al (2204) mengungkapkan berbagai factor penyebab
terjasinya insiden keselamatan dikelompokkan kedalam tiga abgisn besar: 1)
tekhnikal meliputi peralatan dan perangkap lunak, 2) organisasi meliputi
kebijakan, prosedur, dan protocol, 3) manusia atau sumber daya manusia
meliputi kesalahan dan pelanggaran.
Peneletian yang dilakukan Reason (1997) dalam Henrikson (2008)
menyebutkan dua kelompok besar factor penyebab terjadinya KTD, yaitu
kesalahan atau kegagalan yang bersifat aktif (active error or active failure) dan

PERTANGGUNG JAWABAN HUKUM PERAWAT PADA


KEJADIAN TAK DIHARAPKAN (KTD)

kondisi laten (latent condition). Kegagalan aktif lebih kepada tindakan yang tidak
aman yang dilakukan oleh staf yang memberikan pelayanan langsung keada
pasien atau langsung bersentuhan dengan system (Reason 2000).
B. ASPEK ETIK
Etika keperawatan adalah kesepakatan /peraturan tentang penerapan nilai moral
dan keputusa-keputusan yang ditetapkan untuk profesi keperawatan (Wikipedia,
2008).
Prinsip etik, meliputi :
1. Respect (hak untuk dihormati)
Perawat harus menghargai hak-hak pasien/klien
2. Autonomy (hak pasien memilih)
Hak pasien untuk memilih treatment terbaik untuk dirinya
3. Beneficence (bertindak untuk keuntungan orang lain/pasien)
Kewajiban untuk melakukan hal tidak membahayakan pasien/orang lain dan
secara aktif berkontribusi bagi kesehatan dan kesejahteraan pasiennya.
4. Confidentiality (hak kerahasiaan)
Menghargai kerahasiaan terhadap semua informasi tentang pasien/klien yang
dipercayakan pasien kepada perawat.
5. Non-maleficence (utamakan-tidak mencederai orang lain)
Kewajiban perawat untuk tidak dengan sengaja menimbulakn kerugian atau
cedera.
Prinsip : jangan membunuh, menghilangkan nyawa orang lain, jangan
menyebabkan nyeri atau penderitaan pada orang lain, jangan membuat
orang lain berdaya dan melukai perasaan orang lain.
6. Justice (keadilan)
Kewajiban untuk berlaku adil kepada semua orang. Perkataan adil sendiri
berarti tidak memihak atau berat sebelah.
7. Fidelity (loyalty/ketaatan)
Kewajiban untuk setia terhadap kesepakatan dan bertanggungjawab
terhadap kesepakatan yang telah diambil. Masing-masing profesi memiliki
aturan sendiri yang berlaku.
8. Veracity (truthfulness & honesty)
Kewajiban untuk mengatakan kebenaran. Terkait erat dengan prinsip
otonomy, khususnya terkait informed-consent.
Aspek legal dalam praktik keperawatan tercantum dalam:

UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan


PP No. 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan
Kepmenkes No. 1239 tahun 2001 tentang regristrasi dan praktik perawat

Area Overlapping (Etik Hukum)


a. Hak pasien
1. Hak untuk diinformasikan
2. Hak untuk didengarkan
3. Hak untuk memilih
4. Hak utnuk diselamatkan
b. Informed-consent
Informed-consent dalah

dokumen

yang

legal

dalam

pemberian

persetujuan prosedur tindakan medic dan atau invasive, bertujuan untuk


perlindungan terhadap tenaga medic jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan
yang diakibatkan oleh tindakan tersebut. Selain itu dapat melindungi pasien
terhadap intervensi/tindakan yang akan dilakukan kepadanya.
Dasar-dasar informed consent UU No. 23/1992 tentang kesehatan pasal
53 ayat (2) dan peraturan Menteri Kesehatan RI No. 585 tentang persetujuan
tindakan medik.
Potensial area tuntutan:
a. Malpraktik
Kelalaian bertindak yang dilakukan seseorang terkait profesi/pekerjaannya yang
membutuhkan keterampilan professional dan tekhnikal yang tinggi
b. Dokumentasi
Medical record adalah dokumen legal dan dapat digunakan dipengadilan
sebagai bukti
c. Informed consent
Persetujuan yang dibuat oleh klien untuk menerima serangkaian prosedur
sesudah diberikan informasi yang lengkap termasuk resiko pengobatan dan
fakta-fakta yang berkaitan dengan itu, telah dijelaskan oleh tenaga kesehatan.
d. Accident and incident report
Terjadinya suatu insiden atau kecelakaan, perawat perlu menajmin kelengkapan
dan keakuratan pelaporan askep.
C. ASPEK YURIDIS

PERTANGGUNG JAWABAN HUKUM PERAWAT PADA


KEJADIAN TAK DIHARAPKAN (KTD)

Menurut Nasution (2005), dilihat dari kacamata hokum, hubungn antara pasien
dengan tenaga kesehatan termasuk dalam ruang lingkup hokum perjanjian.
Dikatakan sebagai perjanjian (transaksi) karena adanya kesanggupan dari tenaga
kesehatan untuk mengupayakan kesehatan atau kesembuhan pasien. Sebaliknya
pasien menyetujui tindakan terapeutik yang dilakukan oleh tenaga kesehatan.
Posisi yang demikian ini menyebabkan terjadinya kesepakatan berupa perjanjian
terapeutik.
Secara yuridis kesepakatan ini melahirkan hak dan kewajiban pada masingmasing pihak dan harus dilaksanakan sebagaimana telah diperjanjikan. Apabila
salah satu pihak tidak melaksanakan kewajibannya atau bertindak diluar apa yang
telah diperjanjikan, pihak yang dirugikan dapat mengajukan tuntutan ganti rugi.
Kerugian yang timbul tersebut merupakan suatu kejadian yang tidak diinginkan
(KTD) dalam pemberian pelayanan kesehatan.
Pertanggungjawaban perawatan dalam hal KTD berkaitan erat dengan peraturan
hukum mengenai keselamatan pasien dan sudah diatur dalam perundangundangan yang memberikan jaminan kepastian perlindungan hukum terhadap
semua komponen yang terlibat, meliputi:
Keselamatan pasien :
1. Pasal 53 (3) UU No. 36/2009
Pelayanan kesehatan harus mendahulukan keselamatan dan nyawa pasien
2. Pasal 32 UU No. 44/2009
Pasien berhak memperoleh keselamatan dan keamanan selama di rumah sakit
3. UU No. 44/2009
Rumah sakit wajib menerapkan standar keselamatan pasien
4. UU No. 36/2009
Tentang kesehatan UU No. 44 tahun 2009 tentang rumah sakit peraturan terkait
lainnya: registrasi dan perizinan tenaga kesehatan.
Hak pasien :
1. Pasal 32d UU No. 44/2009
Memperoleh layanan bermutu sesuai standar profesi dan sop
2. Pasal 32e UU No. 44/2009
Layan yang efektif dan efesien
3. Pasal 32j UU No. 44/2009
Memperoleh informasi terkait tindakan medis, alternative tindakan, resiko dan
komplikasi
4. Pasal 32q UU No. 44/2009

Menggugat atau menuntut rumah sakit apabila rumah sakit diduga memberikan
layanan tidak sesuai standar baik perdata maupun pidana

Tanggung jawab hukum perawat sebagai tenaga kesehatan:


Pasal 12 kepmenkes 148/2010
tentang pelaksanaan praktek. Dalam melaksanakan praktek, perawat wajib untuk
melakukan pencatatan asuhan keperawatan secara sistematis dan memenuhi
standar
Tanggung jawab hukum rumah sakit :
1. Pasal 29b UU No. 44/2009
Memberikan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi, dan
efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai denga standar
pelayanan RS.
2. Pasal 46 UU No. 44/2009
Rumah sakit bertanggung jawab secara hokum terhadap semua kerugian
yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan di RS.
3. Permenkes no 1691/MENKES/PER/VIII/2011
4. UU Rumah Sakit pasal 46
Bukan tanggung jawab rumah sakit:
1. Pasal 45 (1) UU no. 44/2009
Rumah Sakit tidak bertanggung jawab secara hokum apbila pasien dan atau
keluarganya menolak atau menghentikan pengobatan yang dapat berakibat
kematian pasien setelah adanya penjelasan medis yang komprehensif.
2. Pasal 45 (2) UU no. 44/2009
Rumah Sakit tidak dapat dituntut dalam melaksanakan tugas dalam rangka
menyelamatkan nyawa manusia.
Ditinjau dari aspek hukum :
1. Pelaporan insiden, analisi dan solusi sesuai dengan Permenkes No.
1691/MENKES/PER/VIII/2011. Tentang keselamatan pasien di Rumah Sakit
2. Pasal 32q UU No. 44/2009
1

PERTANGGUNG JAWABAN HUKUM PERAWAT PADA


KEJADIAN TAK DIHARAPKAN (KTD)

Setiap pasien mempunyai hak untuk menggugat atau menuntut Rumah Sakit
apabila rumah sakit memberikan pelayanan tidak sesuai standar baik perdata
maupun pidana.
3. Pasal. 46 UU No. 44/2009
Rumah sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian
yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan di Rumah
Sakit.

BAB III
PEMBAHASAN
Pelayanan keperawatan sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan yang
tidak terpisahkan dari pelayanan RS dan merupakan proporsi terbesar dari tenaga
kesehatan lain yang bertanggung jawab untuk memberikan pelayanan keperawatan
yang optimal dan berkualitas terhadap klien selama 24 jam secara berkesinambungan,
oleh karena itu diperlukan SDM keperawatan yang berkualitas tinggi, yang tanggap dan
responsive terhadap situasi yang ada (Gillies, 1996).
Kejadian Tidak Diharapkan dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu:
1. Masalah komunikasi
Medical error, kegagalan komunikasi, informasi tidak didokumentasikan dengan
baik, masalah komunikasi dengan pekerja non-klinis dan antar staf dengan pasien.
2. Arus informasi yang tidak adekuat
Ketersediaan informasi yang kritis saat akan merumuskan keputusan penting,
informasi penting tidak disertakan saat pasien ditransfer ke unit lain atau dirujuk ke
rumah sakit lain.
3. Masalah SDM
Gagal mengikuti kebijakan, SPO dan proses-proses, dokumentasi yang buruk,
kesalahan berbasis pengetahuan, staf tidak punya pengetahuan yang adekuat.
4. Hal-hal yang berhubungan dengan pasien
Identifikasi pasien yang tidak tepat, assessment yang tidak lengkap, kegagalan
memperoleh concent, pendidikan pasien tidak adekuat.
5. Transfer Pengetahuan di Rumah Sakit
Kekurangan pada orientasi atau training, tingkat pengetahuan staf untuk
menjalankan tugasnya, transfer pengetahuan di rumah sakit pendidikan
6. Pola SDM atau alur Kerja
Para Dokter, Perawat dan staf lain sibuk karena SDM tidak memadai, pengawasan
atau supervise yang tidak adekuat
7. Kegagalan-kegagalan teknis
Kegagalan alat atau perlengkapan, instruksi tidak adekuat, peralatan dirancang
secara buruk, kegagalan alat tidak teridentifikasi secara tepat
8. Kebijakan dan prosedur yang tidak adekuat

PERTANGGUNG JAWABAN HUKUM PERAWAT PADA


KEJADIAN TAK DIHARAPKAN (KTD)

Pedoman cara pelayanan dapat merupakan factor penentu terjadinya banyak


medical error. Kegagalan dalam proses layanan dapat ditelusuri sebabanya pada
buruknya dokumentasi, bahkan tidak ada pencatatan atau SPO yang tidak adekuat.
Pemecahan masalah etik, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Identifikasi masalah etik


Kumpulkan fakta-fakta
Evaluasi tindakan alternative dari berbagai perspektif etik
Buat keputusan dan uji cobakan
Bertindaklah, dan kemudian reflesikan pada keputusan tersebut.
Penyelesaian kasus yang terjadi:

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Memperjelas masalah
Identifikasi komponen etik perawat
Identifikasi orang yang terlibat
Identifikasi alternatif yang terbaik
Terapkan prinsip-prinsip etik
Memutuskan tindakan

BAB IV
PENUTUP
A. SIMPULAN
Kejadian tidak diharapkan (KTD) adalah suatu kejadian yang tidak
diingikan yang menimbulkan cidera akibat Commission, Ommission dan bukan
karena underlying disease.
Kejaadian tidak diinginkan merupakan sebuah tindakan dalam praktikan
sehari-hari dunia medis dan paramedis dimana berhubungan dengan pasien
safety. Pasien pastinya menginginkan sebuah tindakan medis yang aman yang
membuat kelangsungan hidupnya membaik. Kejadian tidak diinginkan ini
menjadi suatu kerugian bagi pasien atas sebuah tindakan yang salah yang
masyarakat biasa menyebutnya sebagai tindakan malpraktek.
Pertanggungjawaban perawat dalam hal kejadian tidak diharapkan (KTD)
berkaitan erat dengan peraturan hukum mengenai keselamatan pasien dan
sudah diatur dalam perundang-undangan yang memberikan jaminan kepastian
perlindungan hukum terhadap semua komponen yang terlibat.
B. SARAN
1. Pemerintah
Mensosialisasikan peraturan dan UU yang ada untuk menjaga keselamatan
pasien dan melindungi tenaga kesehatan dari hukum. Disamping itu
pemerintah

diharapkan

dapat

mendukung

terlaksananya

sosialisasi

pentingnya pengetahuan tentang peraturan yang terkait materi keselamatan


pasien serta kejadian tidak diinginkan dilingkungan pelayanan kesehatan.
Pemerintah juga diharapkan dapat memfasilitasi adanya kerjasama lintas
sektoral pihak terkait.
2. Rumah sakit
Rumah sakit diharapkan dapat menetapkan suatu unit kerja keselamatan
pasien rumah sakit dengan fungsi unit kerja mengelola program keselamatan
pasien dan pusat informasi keselamatan pasien. Dalam hal ini rumash sakit
menetapkan program dan kerangka acuannya, menetapkan alur dan
tatalaksana pencatatan dan pelaporan KTD, melakukan analisis tentang
masalah cidera dan keselamatan pasien.
1

PERTANGGUNG JAWABAN HUKUM PERAWAT PADA


KEJADIAN TAK DIHARAPKAN (KTD)

3. Perawat
Perlu berupaya menambah pengetahuannya terkait keselamatan pasien
dengan meluangkan waktu pribadinaya mengakses informasi baik melalui
buku atau internet.

DAFTAR PUSTAKA
Peningkatan Kemampuan Teknis Perawat Dalam System Pemberian Pelayanan
Keperawatan Di Rumah Sakit. September 2008
Komalawati, Veronica (2010) Community & Patient Safety Dalam Perspektif Hukum
Kesehatan.
Departemen Kesehatan RI.2006.Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit
(Patient Safety).
PERSI-KARS, KKP-RS (2006).membangun budaya keselamatan pasien rumah sakit
lokakarya program KP-RS. 17 November 2006.
AHRQ Publication no.04-RG005, Agency For Health-Care Research and Quality
Desember 2003.
Yahya, Adib A. (2006) Konsep dan Program Patient Safety. Proceedings of National
Convention VI of The Hospital Quality Hotel Permata Bidakara, Bandung 14-15
November 2006.