Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam rangka memasuki era industrialisasi maka kebutuhan energi terus meningkat dan untuk
mengatasi hal ini perlu dipikirkan penambahan energi melalui pemilihan energi alternatif yang ramah
terhadap lingkungan. Salah satu energi altematif tersebut adalah pemanfaatan energi panas bumi yang
cukup tersedia di Indonesia. Makalah ini akan menguraikan secara garis besar tentang apa itu energi
panas bumi dan eksplorasinya sampai saat ini di Indonesia.
Cadangan energi primer di Indonesia memang lebih sedikit dibandingkan dengan dibelahan
dunia lain. Tetapi cadangan energi panas bumi yang ada di Indonesia relatif cukup untuk memenuhi
kebutuhan yang dapat dihasilkan oleh energi panas bumi kita. Karena energi panas bumi adalah salah
satu energi non fosil yang dapat diperbarukan, yang digolongkan dalam energi yang sangat sukar habis
dan sangat menguntungkan bila dieksplorasi secara optimal dan dimanfaatkan secara benar.
1.2 Tujuan
Pembuatan makalah dengan tema energi panas bumi ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata
kuliah. Serta memberitahukan penjelasan tentang energi panas bumi dan potensinya di Indonesia.
1.3 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari Energi Panas Bumi?
2. Bagaimana pembentukan Energi Panas Bumi?
3. Apa saja macam-macam dari Energi Panas Bumi?
4. Bagaimana pemanfaatan Energi Panas Bumi itu sendiri?
5. Apa saja Kelebihan dan Kekurangan Energi Panas Bumi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.

Pengertian Energi Panas Bumi


Energi geothermal merupakan sumber energi terbarukan berupa energi thermal (panas) yang

dihasilkan dan disimpan di dalam inti bumi. Istilah geothermal berakar dari bahasa Yunani dimana kata,
"geo", berarti bumi dan,"thermos", berarti panas, menjadi geothermal yang juga sering disebut panas
bumi. Energi panas di inti bumi sebagian besar berasal dari peluruhan radioaktif dari berbagai mineral
di dalam inti bumi.

Panas bumi adalah anugerah alam yang merupakan sisa-sisa panas dari hasil reaksi nuklir yang
pernah terjadi pada awal mula terbentuknya bumi dan alam semesta ini. Reaksi nuklir yang masih
terjadi secara alamiah di alam semesta pada saat ini adalah reaksi fusi nuklir yang terjadi di matahari
dan juga di bintang-bintang yang tersebar di jagat raya. Reaksi fusi nuklir alami tersebut menghasilkan
panas berorde jutaan derajat Celcius. Permukaan bumi pada mulanya juga memiliki panas yang sangat
dahsyat, namun dengan berjalannya waktu (dalam orde milyard tahun) suhu permukaan bumi mulai
menurun dan akhirnya tinggal perut bumi saja yang masih panas berupa magma dan inilah yang
menjadi sumber energi panas bumi.
Energi panas bumi digunakan manusia sejak sekitar 2000 tahun SM berupa sumber air panas
untuk pengobatan yang sampai saat ini juga masih banyak dilakukan orang, terutama sumber air panas
yang banyak mengandung garam dan belerang. Sedangkan energi panas bumi digunakan sebagai
pembangkit tenaga listrik baru dimulai di Italia pada tahun 1904. Sejak itu energi panas bumi mulai
dipikirkan secara komersial untuk pembangkit tenaga Isitrik.
Energi panas bumi adalah termasuk energi primer yaitu energi yang diberikan oleh alam seperti
minyak bumi, gas bumi, batubara dan tenaga air.

2.2.

Pembentukan Energi Panas Bumi di Indonesia


Terjadinya sumber energi panas bumi di Indonesia serta karakteristiknya dijelaskan Budihardi

(1998), yaitu ada tiga lempengan yang berinteraksi di Indonesia yaitu ;


1)

Lempeng Pasifik

2)

Lempeng India-Australia

3)

Lempeng Eurasia

Tumbukan antar lempeng India-Australia di selatan dan lempeng Eurasia di utara menghasilkan
zona penunjaman di kedalaman 160 210km di bawah Pulau JawaNusatenggara dan 100km di bawah
Pulau Sumatera.
Sistem yang terjadi di Indonesia umumnya merupakan sistem hidrothermal yang mempunyai
temperatur tinggi (>225oC). Pada dasarnya sistem panas bumi jenis hidrothermal terbentuk sebagai
hasil perpindahan panas dari suatu sumber panas ke sekelilingnya yang terjadi secara konduksi dan
secara konveksi. Adanya suatu sistem hidrothermal dibawah permukaan sering kali ditunjukkan oleh
adanya menifestasi panes bumi di permukaan seperti; mata air panas, kubangan lumpur panas, geyser.
2

Gambar 1. Terbentuknya Energi Panas Bumi di Indonesia

2.4 Macam-macam Energi Panas Bumi di Indonesia


Sampai saat ini, energi panas bumi bisa dikelompokan menjadi

Gambar 2. Pengelompokan Energi Panas Bumi


Energi Panas Bumi Uap Basah
Pemanfaatan energi panas bumi yang ideal adalah bila panas bumi yang keluar dari perut bumi
berupa uap kering, sehingga dapat digunakan langsung untuk menggerakkan turbin generator
listrik. Namun uap kering yang demikian ini jarang ditemukan termasuk di Indonesia dan pada
umumnya uap yang keluar berupa uap basah yang mengandung sejumlah air yang harus
dipisahkan terlebih dulu sebelum digunakan untuk menggerakkan turbin.
3

Gambar 3. Pembangkitan Tenaga Listrik dari Energi Panas Bumi "Uap Basah".
Uap basah yang keluar dari perut bumi pada mulanya berupa air panas bertekanan tinggi yang
pada saat menjelang permukaan bumi terpisah menjadi kira-kira 20 % uap dan 80 % air. Atas
dasar ini maka untuk dapat memanfaatkan jenis uap basah ini diperlukan separator untuk
memisahkan antara uap dan air. Uap yang telah dipisahkan dari air diteruskan ke turbin untuk
menggerakkan generator listrik, sedangkan airnya disuntikkan kembali ke dalam bumi untuk
menjaga keseimbangan air dalam tanah. Skema pembangkitan tenaga listrik atas dasar
pemanfaatan energi panas bumi "uap basah" dapat dilihat pada Gambar 3.
Energi Panas Bumi Air Panas
Air panas yang keluar dari perut bumi pada umumnya berupa air asin panas yang disebut
"brine" dan mengandung banyak mineral. Karena banyaknya kandungan mineral ini, maka air
panas tidak dapat digunakan langsung sebab dapat menimbulkan penyumbatan pada pipa-pipa
sistim pembangkit tenaga listrik. Untuk dapat memanfaatkan energi panas bumi jenis ini,
digunakan sistem biner (dua buah sistem utama) yaitu wadah air panas sebagai sistem
primemya dan sistem sekundernya berupa alat penukar panas (heat exchanger) yang akan
menghasilkan uap untuk menggerakkan turbin.
Energi panas bumi "uap panas" bersifat korosif, sehingga biaya awal pemanfaatannya lebih
besar dibandingkan dengan energi panas bumi jenis lainnya. Skema pembangkitan tenaga listrik
panas bumi "air panas" sistem biner dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Skema Pembangkitan Tenaga Listrik Energi Panas Bumi "Air Panas"
Energi panas bumi Batuan Panas
Energi panas bumi jenis ini berupa batuan panas yang ada dalam perut bumi akibat berkontak
dengan sumber panas bumi (magma). Energi panas bumi ini harus diambil sendiri dengan cara
menyuntikkan air ke dalam batuan panas dan dibiarkan menjadi uap panas, kemudian
diusahakan untuk dapat diambil kembali sebagai uap panas untuk menggerakkan turbin.
Sumber batuan panas pada umumnya terletak jauh di dalam perut bumi, sehingga untuk
memanfaatkannya perlu teknik pengeboran khusus yang memerlukan biaya cukup tinggi.
Skema pembangkitan tenaga listrik energi panas bumi "batuan panas" dapat dilihat pada
Gambar 4.

Gambar 5. Skema Pembangkitan Tenaga Listrik Energi Panas Bumi "Batuan Panas
2.4 Pemanfaatan Energi Panas Bumi

Energi geothermal merupakan sumber energi bersih bila dibandingkan dengan bahan bakar fosil
karena sumur geothermal melepaskan sangat sedikit gas rumah kaca yang terperangkap jauh di dalam
inti bumi, ini dapat diabaikan bila dibandingkan dengan jumlah gas rumah kaca yang dilepaskan oleh
pembakara bahan bakar fosil.
Ada cukup energi geothermal di dalam inti bumi, lebih dari kebutuhan energi dunia saat ini.
Namun, sangat sedikit dari total energi panas bumi yang dimanfaatkan pada skala global karena dengan
teknologi saat ini hanya daerah di dekat batas-batas tektonik yang menguntungkan untuk dieksploitasi.
Pembangkit listrik geothermal saat ini beroperasi di dua puluh empat negara di seluruh dunia,
dan negara yang terbesar di dunia dalam hal kapasitas instalasi energi panas bumi adalah Amerika
Serikat. Pada tahun 2010 Amerika Serikat memiliki tujuh puluh tujuh pembangkit listrik tenaga panas
bumi yang memproduksi lebih dari 3000 MW.
Amerika Serikat juga merupakan lokasi bagi kompleks pembangkit listrik tenaga geothermal
terbesar di dunia, terletak di Geysers, California. Namun, Amerika Serikat hanya memperoleh sekitar
0,3% pasokan listriknya dari pembangkit listrik panas bumi, bahkan meskipun negara ini merupakan
Negara terbesar di dunia dalam hal kapasitas instalasi geothermal.
2.5 Kelebihan dan Kekurangan Energi Panas Bumi
Bila pembangkit listrik memanfaatkan tenaga panas bumi dilakukan dengan cara yang benar,
tidak ada produk samping yang berbahaya bagi lingkungan. Pemerhati lingkungan pasti akan
menyukainnya!
Pada proses produksi, tidak digunakan bahan bakar fosil. Selain itu, energi geothermal tidak
menyebabkan efek rumah kaca apapun. Setelah pembangunan pembangkit listrik tenaga geothermal,
hanya ada sedikit pemeliharaan. Dalam hal konsumsi energi, pembangkit listrik tenaga panas bumi
adalah pembangkit energi mandiri.
Keuntungan lain untuk energi geothermal adalah bahwa pembangkit listrik tidak harus yang
besar untuk melindungi lingkungan alam.
Kekurangan Energi Geothermal, ada beberapa kekurangan pada energi geothermal. Pertama,
Kita tidak bisa membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi di sembarang lahan kosong di suatu
tempat. Daerah tempat pembangkit energi geothermal yang akan dibangun harus mengandung batubatu panas yang cocok pada kedalaman yang tepat untuk pengeboran. Selain itu, jenis bebatuannya
harus mudah untuk dibor ke dalam. Hal ini penting untuk menjaga area sekitar karena jika lubang dibor
dengan tidak benar, maka mineral dan gas yang berpotensi membahayakan bisa menyembur dari bawah
6

tanah. Pencemaran dapat terjadi karena pengeboran yang tidak tepat di stasiun panas bumi. Dan juga,
memungkinkan pula pada suatu area panas bumi tertentu terjadi kekeringan.

Kelebihan Energi Panas Bumi


Biaya operasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) lebih rendah
dibandingkan dengan biaya operasi pembangkit listrik yang lain.
Ramah lingkungan, energi yang clean.
Mampu berproduksi secara terus menerus selama 24 jam, sehingga tidak
membutuhkan tempat penyimpanan energi (energy storage).
Tingkat ketersediaan (availability) yang sangat tinggi yaitu diatas 95%.
Bebas emisi ( binary-cycle ).
Tidak memerlukan bahan bakar.
Harga yang kompetitive.

Kekurangan Energi Panas Bumi


Tidak bisa diekspor
Cairan bersifat korosif
Effisiensi sedikit rendah, namun karena tidak menggunakan bahan bakar tingkat
effisiensi bukan faktor yang sangat penting
Untuk teknologi dry steam dan Flash, masih menghasilkan emisi walaupun sangat
kecil.

BAB III
CADANGAN ENERGI PANAS BUMI DI INDONESIA
3.1 Sejarah Perkembangan Energi Panas Bumi di Indonesia
Usulan JB Van Dijk pada tahun 1918 untuk memanfatkan sumber energi panas bumi di daerah
kamojang, Jawa Barat, merupakan titik awal dari perkembangan panas bumi di Indonesia. Secara
kebetulan, peristiwa itu bersamaan waktu dengan awal pengusahaan panasbumi di dunia, yaitu di
Larnderello, Italia, yang juga terjadi di tahun 1918. Bedanya, kalau di Indonesia masih sebatas usulan,
di Italia pengusahaan telah menghasilkan uap alam yang dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan
tenaga listrik.
1926 1928
Lapangan panas bumi Kamojang, dengan sumurnya bernama KMJ-3, yang pernah
menghasilkan uap pada tahun 1926, merupakan tonggak pemboran eksplorasi panasbumi pertama oleh
Pemerintah kolonial Belanda. Sampai sekarang, KMJ-3 masih menghasilkan uap alam kering dengan
suhu 140C dan tekanan 2,5 atmosfer (atm).Sampai tahun 1928 telah dilakukan lima pemboran
eksplorasi panasbumi, tetapi yang berhasil mengeluarkan uap ya itu tadi hanya sumur KMJ-3
dengan kedalaman 66 meter. Sampai saat ini KMJ-3 masih menghasilkan uap alam kering dengan suhu
1400 C dan tekanan 2,5 atmosfer.
Sejak 1928 kegiatan pengusahaan panasbumi di Indonesia praktis terhenti dan baru dilanjutkan
kembali pada tahun 1964. Dari 1964 sampai 1981 penyelidikan sumber daya panasbumi dilakukan
secara aktif bersama-sama oleh Direktorat Vulkanologi (Bandung), Lembaga Masalah Ketenagaan
(LMK PLN dan ITB) dengan memanfaatkan bantuan luar negeri.
1970-an
Tahun 1972 telah dilakukan pemboran pada enam buah sumur panasbumi di pegunungan
Dieng, dengan kedalaman mencapai 613 meter. Sayangnya, dari keenam sumur tersebut tidak satu pun
yang berhasil ditemukan uap panasbumi.Penyelidikan yang lebih komprehensif di Kamojang dilakukan
pada 1972 menyangkut geokimia, geofisika, dan pemetaan geologi. Di tahun itu Cisolok, Jawa Barat,
dan kawah Ijen, Jawa Timur, juga dilakukan penyelidikan.Lalu di tahun 1974, Pertamina aktif di dalam
kegiatan di Kamojang, bersama PLN, untuk pengembangan pembangkitan tenaga listrik sebesar 30
MW. Selesai tahun 1977. Saat itu Selandia Baru memberikan bantuan dana sebesar 24 juta dolar New
Zealand dari keperluan 34 juta dolar NZ. Sekurangnya dibiayai Pemerintah Indonesia.Selain itu,
Pertamina juga membangun dua buah monoblok dengan kapasitas total 2 MW di lapangan Kamojang
8

dan Dieng. Diresmikan 27 November 1978 untuk monoblok Kamojang dan tanggal 14 Mei 1981 untuk
monoblok Dieng.PLTP Kamojang sendiri diresmikan 1 Februari 1983 dengan kapasitas 30 MW.
Perkembangan cukup penting di Kamojang terjadi pada tahun 1974, ketika Pertamina bersama PLN
mengembangkan lapangan panasbumi tersebut. Sebuah sumur panasbumi dieksplorasi dengan
kedalaman 600 meter yang menghasilkan uap panasbumi dengan semburan tegak oleh suhu pipa pada
garis alir 1290.Di luar Pulau Jawa, sumber daya panasbumi dikembangkan di Lahendong, Sulawesi
Utara, dan di Lempung Kerinci. Kunjungan tim survei di Lahendong di tahun 1971 melibatkan
Direktorat Geologi Bandung, PLN, dan pakar panasbumi dari Selandia Baru. Survei tersebut pada
1977/1978 oleh tim survei dari Kanada, yaitu Canadian International Development Agency (CIDA).
1980-an
Pada 1980-an usaha pengembangan panasbumi ditandai oleh keluarnya Keppres No. 22 Tahun
1981 untuk menggantikan Keppres No. 16 Tahun 1974. Menurut ketentuan dalam Keppres No.
22/1981 tersebut, Pertamina ditunjuk untuk melakukan survei eksplorasi dan eksploitasi panasbumi di
seluruh Indonesia. Atas dasar itu sejak 1982 kegiatan di Lahendong diteruskan oleh Pertamina dengan
mengadakan survei geologi, geokimia, dan geofisika. Pada 1982 itu juga Pertamina menandatangani
kontrak pengusahaan panasbumi dengan Unocal Geothermal of Indonesia (UGI) untuk sumur
panasbumi di Gunung Cisalak, Jawa Barat. Baru pada tahun 1994 beroperasi PLTP Unit I dan II
Gunung Salak.Dan pada Februari 1983 sumur panasbumi di Kamojang berhasil dikembangkan secara
baik, dengan beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Unit-I (130 MW). Dan
baru pada Februari 1987 Pertamina berhasil mengoperasikan PLTP Unit II.Sementara pengusahaan
panasbumi di Gunung Drajat, Jawa Barat, dilakukan oleh Pertamina dengan Amoseas of Indonesia Inc.
dan PLN (JOC-ESC). Tahun 1994 beropasi PLTP Unit I di Gunung Drajat.
1990-an
Pada tahun 1991 Pemerintah sekali lagi mengeluarkan kebijakan pengusahaan panasbumi
melalui Keppres No. 45/1991 sebagai penyempurnaan atas Keppres No. 22/1981. Dalam Keppres No.
45/1991 Pertamina mendapat keleluasaan, bersama kontraktor, untuk melakukan eksplorasi dan
eksploitasi panasbumi. Pertamina juga lebih diberi keleluasaan untuk menjual produksi uap atau listrik
kepada PLN atau kepada badan hukum pemegang izin untuk kelistrikan.Di samping itu, pada tahun
1991 keluar juga Keppres No. 49/1991 untuk menggantikan Keppres No. 23/1981 yang mengatur
tentang pajak pengusahaan panasbumi dari 46% menjadi 34%. Tujuannya adalah untuk merangsang
peningkatan pemanfaatan energi panasbumi. Pada tahun 1994 telah ditandatangani kontrak
pengusahaan panasbumi antara Pertamina dengan empat perusahaan swasta. Masing-masing untuk
9

daerah Wayang Windu, Jawa Barat (PT Mandala Nusantara), Karaha, Jawa Barat (PT Karaha Bodas
Company), Dieng, Jawa Tengah (PT Himpurna California Energy), dan Patuha, Jawa Barat (PT Patuha
Power Limired). Untuk selanjutnya, 1995, penandatanganan kontrak (JOC & ESC) Pertamina Bali
Energy Limited dan PT PLN (Persero) untuk pengusahaan dan pemanfaatan panasbumi di daerah
Batukahu, Bali.Masih di tahun 1995 penandatanganan kontrak (SSC & ESC) untuk Kamojang Unit-IV
dan V antara Pertamina dengan PT Latoka Trimas Bina Energi, serta ESC antara PT Latoka Trimas
Bina Energi dengan PT PLN (Persero). Dan masih di tahun 1995 dikeluarkan MOU antara Pertamina
dengan PT PLN untuk membangun PLTP (120 MW)di Lahendong, Sulawesi Utara dan monoblok (2
MW) di Sibayak, Sumatera Utara.
PENGATURAN PEMERINTAH
Pada awalnya, pengusahaan panasbumi dipercayakan oleh Pemerintah kepada Pertamina,
berdasarkan Keppres No. 6 Tahun 1974 tanggal 20 Maret 1974. Meskipun dengan wilayah kerja yang
masih terbatas, yaitu di Pulau Jawa saja.Setelah itu wilayah kerja meluas, yaitu ketika Pemerintah
mengeluarkan Keppres No. 22/1981 tentang kuasa pengusahaan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya
panasbumi untuk pembangkit tenaga listrik di Indonesia. Pelaksanaannya diserahkan kepada
Pertamina.Pertamina diwajibkan menjual energi listrik yang dihasilkan dari pengusahaan panasbumi
kepada PLN. Selain itu, kalaupun Pertamina belum atau tidak bisa melaksanakan pengusahaan tersebut,
bisa bergandengan dengan pihak lain dalam bentuk Kontrak Operasi Bersama (Joint Operation
Contract). Sampai saat itu, pajak pengusahaan panasbumi sebesar 46%. Hal ini diatur Keppres No. 23
Tahun 1981. Dalam perkembangan kemudian, Pemerintah mengizinkan instansi lain (selain
Pertamina), baik BUMN, swasta nasional, termasuk koperasi untuk mengembangkan usaha dalam
bidang ketenagalistrikan skala kecil (10 MW) dan keperluan lain yang terkait.Soal ini diatur Keppres
No. 45/ 1991 yang menyempurnakan Keppres No. 22/ 1981. Pertamina selaku pemegang kuasa
eksplorasi, untuk menjual hasil produksi panasbumi, baik berupa energi atau listrik tidak hanya kepada
PLN. Kemudian Keppres No. 49/1991 sebagai pengganti Keppres No. 23/1981. Di sini diatur
kewajiban fiskal pengusahaan panasbumi. Ditetapkan bahwa total bagian yang disetor kepada
Pemerintah sebesar 34% dari net operating income.

10

3.2 Potensi Energi Panas Bumi di Indonesia


Dalam rangka memasuki era industrialisasi maka kebutuhan energi terus meningkat dan untuk
mengatasi hal ini perlu dipikirkan penambahan energi melalui pemilihan energi alternatif yang ramah
terhadap lingkungan. Salah satu energi altematif tersebut adalah pemanfaatan energi panas bumi yang
cukup tersedia di Indonesia. Tulisan ini akan menguraikan secara garis besar tentang kebutuhan energi
dan peranan energi panas bumi dalam rangka memenuhi kebutuhan energi serta prospeknya di
Indonesia.
Untuk mengatasi kebutuhan energi listrik yang terus meningkat ini, usaha diversifikasi energi
mutlak harus dilaksanakan. Salah satu usaha diversifikasi energi ini adalah dengan memikirkan
pemanfaatan energi panas bumi sebagai penyedia kebutuhan energi listrik tersebut. Dasar pemikiran ini
adalah mengingat cukup tersedianya cadangan energi panas bumi di Indonesia, namun pemanfaatannya
masih sangat sedikit. Indonesia sebagai negara vulkanik mempunyai sekitar 217 tempat yang dianggap
potensial untuk eksplorasi energi panas bumi.
Bila energi panas bumi yang cukup tersedia di Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal,
kiranya kebutuhan energi listrik yang terus meningkat akan dapat dipenuhi bersama-sama dengan
sumber energi lainnya. Pengalaman dalam memanfaatkan energi panas bumi sebagai penyedia energi
listrik seperti yang telah dilaksanakan di Jawa Tengah dan Jawa Barat akan sangat membantu dalam
pengembangan energi panas bumi lebih lanjut.
Didalam Kebijakan Energi Nasional, penggunaaan Energi Baru Terbarukan ditargetkan sebesar
25% pada tahun 2025. Oleh karena itu, kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui
Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi terus mengoptimalkan sumber EBT
yaitu diantaranya panas bumi, surya, biomassa, energi air, energi samudera. Ketua Asosiasi Panas Bumi
Abadi Poernomo mengungkapkan Indonesia menempati posisi ketiga setelah Amerika dan Filipina
dalam hal pemanfaatan panas bumi untuk sumber energi listrik. Dari total potensi panas bumi di
Indonesia sebesar 28.617 MW, sumber energi panas bumi yang saat ini sudah digunakan sebesar 1341
MW. Sedangkan untuk Amerika pemanfaataan panas bumi sebesar 3093 MW dan Filipina di posisi
kedua sebesar 1904 MW.

11

Tabel 1. Potensi Energi Panas Bumi di Indonesia


Dan dari hasil survey geologi, Indonesia merupakan Negara dengan potensi paling besar di
dunia yakni mencapai 27.000 Mega Watt (MW) atau setara dengan 40 % cadangan dunia. Dari potensi
sebesar itu, baru 1194 MW yang termanfaatkan. Jadi Indonesia berpotensi besar dalam pemanfaatan
energi Geothermal.

Gambar 6. Peta Potensi Sumber Daya Panas Bumi di Indonesia


Indonesia sebagai negeri vulkanik memiliki 217 tempat yang diperkirakan potensial sebagai
sumber energi panas bumi.

12

Tabel 2. Pemanfaatan dan Perkembangan Panas Bumi di Berbagai Negara


Apabila dilihat dari Tabel 2 tersebut di atas, tampak bahwa pemenuhan kebutuhan energi listrik
pada beberapa negara melalui pemanfaatan energi panas bumi terus meningkat. Angka-angka untuk
berbagai negara pada tahun 2000 masih merupakan perkiraan yang masih terus dikaji ulang.
Apabila dilihat dari Tabel 2 tampak bahwa pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia pada
tahun 1985 baru 32,3 MW, sedangkan menurut data terakhir sampai dengan tahun 1997 energi panas
bumi yang sudah dimanfaatkan mencapai 305 MW. Dalam waktu sekitar 10 tahun telah terjadi
kenaikan kurang lebih 10 kali, suatu kenaikan yang cukup optimis dalam hal pemanfaatan energi panas
bumi. Padahal pemanfaatan yang mencapai 305 MW pada tahun 1997 tersebut baru 1,83 % dari potensi
energi panas bumi yang ada.
Pangsa pemanfaatan energi panas bumi 1,83 % dari total potensi yang tersedia sudah barang
tentu masih sangat kecil. Oleh karena itu kemungkinan untuk menaikkan pangsa pemanfaatan energi
panas bumi masih sangat terbuka lebar, dengan kata lain bahwa prospek pemanfaatan energi panas
bumi di Indonesia masih sangat menguntungkan bagi para penanam modal yang akan bergerak dalam
bidang energi panas bumi. Hal ini terbukti dengan akan dibangunnya lagi 4 unit berkekuatan 55 MW di
Gunung Salak Jawa Barat, suatu proyek patungan antara Pertamina dan PT Unocoal Geotherrnal
Indonesia. Proyek-proyek berikutnya sudah barang akan segera disusul oleh penanam modal lainnya,
mengingat bahwa kebutuhan energi di Indonesia yang terus meningkat.
Mengingat akan banyaknya kebutuhan energi yang diperlukan untuk menggerakkan
pembangunan khususnya dalam bidang industri seperti telah ditampilkan pada Grafik l di atas, maka
persoalan berikutnya adalah bagaimana mengenai penyediaan energi untuk memenuhi kebutuhan
13

energi tersebut. Mengenai penyediaan energi tersebut usaha diversifikasi telah dilakukan agar
kebutuhan energi tidak semata-mata tergantung pada minyak bumi saja. Untuk itu dapat dilihat
penyediaan energi primer berdasarkan jenis energi yang ada di Indonesia seperti tampak pada Grafik 1.

Gambar 7. Energi Primer di Indonesia


Bila dikaji dari data yang telah diolah melalui Grafik 2 tersebut di atas, tampak bahwa usaha
diversifikasi energi primer telah berhasil menurunkan pangsa pemakaian minyak bumi dalam usaha
memenuhi kebutuhan energi dari 63,7 % pada akhir Pelita V menjadi 52,3 % pada akhir Pelita Vl.
Sedangkan pangsa pemakaian batubara mengalami kenaikan dari 8,2 % pada akhir Pelita V menjadi
17,5 % pada tahun 1998/99 ini.
Selain dari pada itu, bila dikaji lebih cermat ternyata pemakaian energi panas bumi yang selama
ini sering terabaikan, temyata sudah mulai diperhatikan sebagai usaha mencukupi kebutuhan energi di
Indonesia. Hal ini tampak dari kenyataan bahwa pada tahun 1994/95 (akhir Pelita V) pangsa energi
panas bumi hampir tak berarti hanya sekitar 0,6 % saja dari seluruh pemenuhan kelzutuhan energi, akan
tetapi pada tahun 1998/99 pangsa energi panas bumi telah naik hampir 3 kali lipat menjadi 1,7 %.
Keadaan ini sudah barang tentu sangat memberikan harapan bagi pengembangan energi panas bumi
pada masa mendatang.

14

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari penjabaran diatas dapat disimpulkan bahwa
:
Energi panas bumi potensial untuk mengisi atau bahkan mengganti kebutuhan sumber energi
berbahan bakar fosil untuk pembangkitan tenaga listrik. Potensi panas bumi di Indonesia perlu
ditingkatkan pemanfaatanya untuk pembangkitan tenaga listrik dengan perhitungan kemungkinan
penjualan energi listrik ke negara tetangga terdekat. Tenaga yang dihasilkan dari panas bumi ini juga
berdampak negatif relatif sangat kecil. Hal ini dikarenakan polusi yang timbul dapat dikontrol oleh
sistem pemanfaatan energi panas pumi yang dipergunakan.
4.2 Saran
Untuk mengurangi pemakaian bahan bakar yang semakin hari semakin sedikit energi panas
bumi merupakan suatu super alternatif. Dengan dampak negatif yang relatif kecil ini seharusnya dapat
dimanfaatkan dengan baik bagi kehidupan

BAB V
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/Documents/in/Geothermal?page=2
http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/35162426/GEOCHEMISTRY_OF_THE_UNG
ARAN_GEOTHERMAL_SYSTEM-libre.pdf?

15

AWSAccessKeyId=AKIAJ56TQJRTWSMTNPEA&Expires=1425426243&Signature=Lh7eIQHZ
wwwCWgz1yr%2B5TwlnazM%3D

16