Anda di halaman 1dari 38

MAKALAH PERPINDAHAN KALOR

Pemicu 3: Perpindahan Kalor Radiasi dan Unit Proses Evaporasi

Disusun oleh :
Kelompok 9

Abu Bakar Ash Shiddiq

(1306449302)

Fachreza Maulana I.

(1406643085)

Farah Moulydia

(1306370650)

Pangiastika Putri Wulandari (1306370493)


Yolla Miranda

(1306414841)

UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Penulisan
makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Perpindahan Kalor. Dalam makalah
ini, kami ingin memaparkan jawaban Pemicu 3 mengenai Perpindahan Kalor Radiasi dan
Unit Proses Evaporasi.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dianursanti dan Ibu Tania Surya Utami,
sebagai dosen mata kuliah Perpindahan Kalor.Tidak lupa juga kami mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan kepada
kelompok kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.Kami menyadari dalam
pembuatan karya tulis ini masih terdapat kekurangan.Oleh karena itu, kritik dan saran dari
para pembaca yang membangun sangat kami harapkan.

Depok, Mei 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. i


DAFTAR ISI................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 1
I.1 LATAR BELAKANG ...................................................................................... 1
I.2 TUJUAN........................................................................................................... 1
BAB II TEORI DASAR................................................................................................ 2
II.1 RADIASI ......................................................................................................... 2
II.2 EVAPORATOR EFEK TUNGGAL............................................................... 8
BAB III JAWABAN PEMICU ....................................................................................12
BAB IV KESIMPULAN ...............................................................................................34
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 35

ii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peristiwa perpindahan kalor sangat dekat dalam kehidupan kita. Pada bagian
sebelumnya, kita telah membahas proses perpindahan kalor secara konduksi dan
konveksi. Pada makalah kali ini, kita akan membahas mengenai perpindahan kalor
secara radiasi.
Perpindahan kalor secara radiasi adalah perpindahan kalor tanpa melibatkan
medium penghantar. Perpindahan kalor secara radiasi dibagi atas dua yaitu radiasi
permukaan dan radiasi gas. Peristiwa perpindahan kalor secara radiasi banyak
berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Contohnya, panas yang dihasilkan oleh
sebuah lampu pijar di rumah.
Peristiwa radiasi yang lebih berhubungan dengan aspek teknik kimia adalah
radiasi gas. Dalam aspek teknik kimia, radiasi biasanya terjadi pada peralatan yang
digunakan dalam industri atau pabrik yaitu salah satunya furnace. Secara bahasa arti
furnace adalah tungku kompor. Namun, secara umum, istilah furnace digunakan
untuk mendefinisikan sebuah alat yang digunakan dalam proses pemanasan pada
skala industri. Misalnya, dalam sebuah proses ekstraksi metal dengan proses smelting
dan kolom distilasi pada oil refinery.

B. Tujuan

Memahami konsep radiasi secara umum

Memahami konsep tentang benda hitam (blackbody) dan benda tak hitam
(graybody)

Mengetahui maksud dari hukum Stefan Boltzmann, Asas Planck, dan Hukum
Kirchoff.

Menjelaskan faktor bentuk radiasi dan hubungan antara berbagai faktor bentuk

Memahami radiasi gas

Menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan


dengan proses radiasi gas.

Melakukan proses perhitungan tentang radiasi.

BAB II
TEORI DASAR

1. RADIASI
1.1 Mekanisme Fisis dari Radiasi Termal
Radiasi dapat digambarkan sebagai gas foton (photon gas) yang dapat
mengalir dan satu tempat ke tempat yang lain. Dengan menggunakan hubungan
relativitas antara massa dan energi, maka dapat diturunkan persamaan untuk massa
dan energi partikel itu, yaitu:
= 2 =
=


=
2

Persamaan densitas energi radiasi per satuan volume dan per satuan panjanggelombang sebagai dapat ditentukan dengan menerapkan prinsip termodinamika
statistik-kuantum:
=

85
1

di mana k ialah konstanta Boltzmann, 1,38066 10-23 J/molekul.K. Bila densitas


energi kita integrasikan sepanjang seluruh panjang-gelombang untuk benda hitam,
maka energi total yang dipancarkan sebanding dengan pangkat empat suhu absolut:
= 4
dengan adalah konstanta Stefan-Boltzmann yang nilainya : 5,66910-8 W/m2.K4
1.2 Sifat-sifat Radiasi Termal
Bila energi radiasi menimpa permukaan suatu bahan, maka sebagian dari radiasi
itu dipantulkan (refleksi), sebagian diserap (absorpsi), dan sebagian lagi diteruskan
(transmisi). Fraksi yang dipantulkan kita namakan reflektivitas , fraksi yang diserap
absorptivitas , dan fraksi yang diteruskan transmisivitas . Ketiga komponen ini
dihubungkan secara matematis sebagai:
++ =1
Di mana ketiganya mempengaruhi sifat-sifat radiasi sebagai berikut :

1. Absorpsi.
Radiasi yang jatuh akan diserap oleh bahan tergantung dari benda itu sendiri
(hitam, kelabu, atau putih).
2. Refleksi
Radiasi yang jatuh pada bahan akan dipantulkan, dua fenomena refleksi yang dapat
diamati adalah refleksi spekular dan refleksi baur. Pada refleksi spekular sudut
jatuh sama dengan sudut pantul radiasi. Dan pada refleksi baur, radiasi yang jatuh
tersebar merata ke segala arah.
3. Transmisi
Radiasi yang jatuh akan diteruskan oleh bahan, jarang suatu benda mampu
meneruskan radiasi (biasanya diserap)
Besar radiasi bisa dinyatakan dalam:
1. Daya emisi, E
Yakni energi yang dipancarkan suatu benda per satuan luas waktu. Jika
terdapat suatu benda hitam sempurna dalam keadaan vakum, maka lama kelamaan
suhu benda tersebut akan turun dan sama dengan suhu lingkungan akibat dari
permukaan yang memancarkan emisi radiasi termal, sampai pada suatu saat
keadaan setimbang. Pada saat ini, berlaku hubungan:
=
2. Emisivitas,
Yakni perbandingan emisi suatu benda dengan daya emisi benda hitam pada
suhu sama. Secara matematis pernyataan ini dituliskan sebagai:
=

Dengan E dan Eb adalah daya emisi benda dan benda hitam.


1.3 Faktor Bentuk Radiasi
Faktor Bentuk Radiasi dan Geometri Benda
Untuk menentukan jumlah energi yang dipindahkan dapat digunakan faktor
bentuk radiasi, faktor bentuk radiasi itu sebagai berikut :
F1-2 = Fraksi energi yang meninggalkan permukaan 1 dan mencapai permukaan 2
F2-1 = Fraksi energi yang meninggalkan permukaan 2 dan mencapai permukaan 1
Energi yang meninggalkan permukaan 1 dan sampai pada permukaan 2 maupun
sebaliknya dapat ditentukan melalui persamaan berikut:

E12 Eb1 A1 F12

(1)

E 21 Eb 2 A2 F21

(2)

Jika permukaan tersebut adalah permukaan hitam, maka seluruh radiasi yang
menimpa permukaan itu akan diserap, dan perpindahan energi netto adalah
Q12 Eb1 A1 F12 Eb 2 A2 F21

(3)

Jika suhu kedua permukaan sama, maka Q1-2 = 0, sehingga Eb1 = Eb2 dan A1F12
= A2F21, sehingga terdapat hubungan resiprositas
Q12 Eb1 Eb 2 A1 F12 Eb1 Eb 2 A2 F21

(4)

Sekarang akan ditentukan persamaan umum untuk faktor bentuk radiasi F12
(atau F21). Untuk itu diperhatikan unsur luas dA1 dan dA2 pada Gambar 2 di lampiran.
Sudut 1 dan 2 diukur antara garis normal (tegak-lurus) terhadap bidang itu dengan
garis yang menghubungkan kedua unsur luas itu, r. Proyeksi dA1 pada garis antara
kedua pusat ialah dA1 cos 1.
Hal ini lebih jelas terlihat pada gambar elevasi pada Gambar 3 di lampiran.
Diandaikan kedua permukaan itu bersifat baur, artinya intensitas radiasi sama ke
segala arah. Intensitas itu ialah radiasi yang dipancarkan per satuan luas per satuan
sudut padat pada suatu arah tertentu. Jadi, untuk mendapatkan energi yang
dipancarkan unsur luas dA1 ke suatu arah tertentu, kita harus mengalikan intensitas itu
dengan proyeksi dA1 di arah tertentu. Sehingga, energi yang meninggalkan dA1 pada
arah yang ditunjukkan oleh sudut1 ialah I b dA1 cos 1 , di mana Ib ialah intensitas
benda-hitam. Radiasi yang sampai ke suatu unsur luas dAn pada jarak r dari A1 ialah

I b dA1 cos 1

dAn
di mana dAn dibuat normal (tegak-lurus) terhadap vektor jari-jari.
r2 ,

Besaran dAn/r2 menunjukkan sudut padat berhadapan dengan bidang dAn. Intensitas
dapat kita peroleh dalam istilah daya emisi dengan mengintegrasi persamaan
sebelumnya di setengah bola yang melingkupi unsur luas dA1. Dalam sistem
koordinat bola seperti pada Gambar 4 di lampiran
dAn r 2 sin dd

(5)

Lalu

Eb dA1 I b dA1

/2

sin cos dd

Eb dA1 I b dA1

(6)

Eb I b
Sekarang kita perhatikan kembali soal pertukaran-energi pada Gambar 2 di
lampiran. Unsur luas dA diberikan oleh

dAn cos 2 dA2

(7)

sehingga energi yang meninggalkan dA1 yang sampai di dA2 ialah

dq12 Eb1 cos 1 cos 2

dA1 dA2
r 2

(8)

Energi yang meninggalkan dA2 dan sampai di dA1 adalah

dA2 dA1
r 2

dq21 Eb 2 cos 2 cos 1

(9)

sehingga pertukaran energi netto adalah:

q net12 ( Eb1 Eb 2 )1

A2 A1

cos 1 cos 2

dA1dA2
r 2

(10)

Integral itu ialah A1F12 atau A2F21 merunut persamaan (4). Untuk mengevaluasi
integral itu, geometri spesifik permukaan A1 dan A2 harus diketahui.
Perhatikan radiasi dan bidang kecil dA1 ke cakram rata A2, seperti pada Gambar
5 di lampiran. Sebagai unsur luas dA2dipilih cincin lingkaran dengan jari-jari x. Jadi

dA2 2xdx

(11)

1 = 2, dan kita terapkan persamaan (10) dan diintegrasi untuk luas A2:
dA1 FdA1 A2 dA1 cos 2 1
A2

2xdx
r 2

(12)

Dengan subtitusi r = (R2 + x2)1/2 dan cos 1= R / (R2 + x2)1/2 diperoleh

dA1 FdA1 A2 dA1

D/2

2 R 2 xdx
(R 2 x 2 ) 2

(13)

Setelah diintegrasi didapatkan


D/2

dA1 FdA1 A2

R 2

dA1 2
2
R x 0

dA1

D2
4R 2 D 2

(14)

Sehingga

FdA1 A2

D2
4R 2 D 2

(15)

1.4 Hubungan Antara Berbagai Faktor Bentuk


Beberapa Persamaan yang menghubungkan faktor-faktor bentuk dapat
diperoleh dengan memperhatikan sistem yang digambarkan pada gambar 1. Faktor
bentuk untuk radiasi dari bidang A3 ke bidang A1,2:
31,2 = 31 + 32 (16)
Faktor bentuk total ialah jumlah dari faktor-faktor bentuk yang membentuknya.
Dengan menggunakan hubungan respirositas, berlaku:
1,2 1,23 = 1 13 + 2 23 (17)
Persamaan (17) menyatakan bahwa radiasi total yang mencapai permukaan 3 ialah
jumlah dari radiasi dari permukaan 1 dan 2. Kemudian kita ingin mendapatkan faktor
bentuk F1-3 untuk permukaan pada gambar 2 dengan menggunakan faktor bentuk yang
diketahui, untuk siku empat tegak lurus dengan sisi bersama. Sesuai dengan
persamaan (16) kita dapat tulis:
12,3 = 12 + 13 (18)
1.5 Pertukaran Kalor Antara Benda tak Hitam
Iradiasi (G) adalah total radiasi yang menimpa suatu permukaan per satuan
waktu per satuan luas. Radiositas (J) adalah total radiasi yang meninggalkan suatu
permukaan per satuan waktu per satuan luas. Radiositas juga dapat dinyatakan sebagai
jumlah energy yang dipancarkan (emisi) dan energy yang dipantulkan (refleksi) jika
tidak ada energy yang diteruskan (transmisi). Radiositas dinyatakan dengan:
= + (19)
Dimana adalah emisivitas dan adalah daya emisi benda hitam. Karena
transmisivitas diandaikan nol, maka refleksivitas dapat dinyatakan dengan = 1
= 1 . Sehingga dapat dituliskan sebagai:
= + (1 ) (20)

1.6 Bidang Sejajar Tak-Berhingga


Perhatikan dua buah bidang sejajar tak-berhingga, A1 dan A2 sama, dan factor
bentuk radiasi adalah satu karena semua radiasi yang meninggalkan bidang yang satu
akan mencapai bidang yang lain. Jadi, persamaan yang digunakan

Jika dua silinder panjang konsentrik saling bertukar kalor, maka persamaan yang
digunakan
Pada kasus limit benda cembung (convex) yang di
lingkungi seluruhnya oleh permukaan cekung
(concave) yang luas,dalam hal ini A1/A2 = 0, maka
didapatkan,

1.7 Radiasi Gas


Jika sebuah gas menyerapatau memancarkan radiasi, biasanya hanya terjadi
pada pita panjang gelombang yang sempit. Beberapa gas seperti N2, O2 dan gas-gas
lain dengan struktur molekul simetri non-polar biasanya transparen terhadap radiasi
pada suhu rendah, sedangkan CO2, H2O dan berbagai gas hidrokarbon memberikan
radiasi yang cukup berarti. Absorpsi radiasi dalam lapisan-lapisan gas dapat diuraikan
secara analitis. Perhatikan gambar di bawah ini :
Sebuah

berkas

radiasi

monokromatik

dengan

intensitas I menimpa lapisan gas yang tebalnya


adalah dx. Berkurangnya intensitas sebagai akibat
absorpsi pada lapisan itu diandaikan sebanding
dengan tebal lapisan & intensitas radiasi pada titik
tersebut, sehingga
= ..........................(21)
7

di mana konstanta proporsionalitas (tetapan kesebandingan) a disebut sebagai


koefisien absorpsi monokromatik (monochromatic coefficient effect). Integrasi
persamaan menghasilkan :

0
x
0

= dx

= ............................(22)

Persamaan no.22 disebut dengan hukum Beer dan memberikan rumus lapuk
eksponensial (exponential decay formula) yang biasa dijumpai dalam berbagai
analisis radiasi yang berhubungan dengan absorpsi. Sesuai dengan definisi,
transmisivitas monokromatik dinyatakan sebagai :
= ............................(23)
2. Evaporator Efek Tunggal
2.1 Definisi Evaporasi
Evaporasi merupakan suatu proses penguapan sebagian dari pelarut sehingga
didapatkan larutan zat cair pekat yang konsentrasinya lebih tinggi. Tujuan dari
evaporasi itu sendiri yaitu untuk memekatkan larutan yang terdiri dari zat terlarut
yang tidak mudah menguap dan pelarut yang mudah menguap. Dalam kebanyakan
proses evaporasi, pelarutnya adalah air.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Evaporasi
1. Temperature steam, disesuaikan bahan yang akan dievaporasi karena bahan yang
tidak tahan suhu yang tinggi tentunya akan membentuk kerak pada kolom evaporator
sehingga akan mempengaruhi perpindahan panas dari steam ke bahan tersebut.
2. Tekanan operasi, mempengaruhi proses penguapan pelarut di samping temperature.
3. Laju alir umpan, bila laju alir umpan terlalu kecil proses kurang effisien dan juga bila
terlalu besar, sehingga untuk suatu proses laju alir umpan diusahakan adalah laju yang
dapat menghasilkan proses yang optimal.
4. Sifat fisik dan kimia umpan.
5. Luas permukaan kontak antara umpan dan media pemanas (panjang dan jumlah tube).
6. Laju alir steam
7. Laju air pendingin (kondensor)

Perbedaan Evaporasi dan Pengeringan


Evaporasi tidak sama dengan pengeringan, dalam evaporasi sisa penguapan
adalah zat cair kadang-kadang zat cair yang sangat viskos dan bukan zat padat.
Perbedaan lainnya adalah pada evaporasi cairan yang diuapkan dalam kuantitas
relative banyak, sedangkan pada pengeringan sedikit.
2.2 Mekanisme Evaporasi Pada Evaporator Efek Tunggal

Gambar Diagaram sederhana evaporator efek tunggal


Penggambaran secara umum evaporator efek tunggal telah diberikan dalam
bentuk diagram sederhana di atas. Untuk mekanisme kerja pada evaporator, umpan
(feed) masuk pada Tf0K dan steam jenuh masuk pada bagian pertukaran panas (heat
exchange tubes). Umpan masuk dipanaskan menggunakan dengan uap jenuh
(saturated steam). Uap kemudian mengembun dan memberikan panas pada larutan.
Larutan dalam evaporator kemudian teraduk secara sempurna, sehingga dapat
dianggap memiliki suhu dan konsentrasi yang sama, yaitu pada titik larutan T1dan
konsentrasi larutan hasil. Kemudian untuk komponen H2O pada larutan yang,
dievaporasi, menguap dan mengisi bagian atas evaporator dan dikeluarkan melalui
pipa uap dan cairan pekat dari evaporator dikeluarkan dari kolam melalui pipa cairan
pada bagian bawah evaporator.
Konsep pada koefisien perpindahan panas menyeluruh digunakan pada
perhitungan pada laju alir perpindahan panas sebuah evaporator. Persamaan umumnya
adalah :
Q = U . A . T
Q = U . A . (Ts T1)..................................(24)

Di mana q merupakan laju alir perpindahan panas dalam W (BTU/h), U adalah


koefisien perpindahan kalor menyeluruh dalam W/m2.K (BTU/h.ft2.0F), A adalah luas
area perpindahan panas dalam m2(ft2), Ts merupakan suhu pada uap kondensasi
(condensing steam) dalam 0K (0F) dan T1 merupakan titik didih cairan dalam 0K (0F)
2.3 Neraca Panas dan Massa Evaporator Efek Tunggal
Ada dua neraca entalpi yang diperlukan, satu untuk uap pemanas dan satu lagi
untuk sisi cairan atau uap larutan. Pada gambar dibawah ini terlihat diagram
evaporator tabung vertical efek tunggal:

Neraca entalpi pada pada sisi uap


adalah
= ( )
= (25)
Neraca entalpi untuk sisi cairan
adalah
= ( )
+ (26)
Jika tidak ada rugi kalor, kalor yang berpindah dari uap pemanas ke tabung harus
sama dengan kalor yang berpindah dari tabung pemanas ke cairan, dan qs=q. Jadi
dengan menghubungkan kedua persamaan diatas kita dapat tulis:
= = ( ) + (27)
Perpindahan panas dari steam ke permukaan pemanas
= = (28)
Dimana U adalah koefisien perpindahan panas overall, A adalah luas permukaan
perpindahan panas dan adalah beda suhu antara steam dengan larutan evaporator.
Neraca massa dari evaporator efek tunggal adalah:
Laju alir massa masuk = Laju alir massa keluar
F=L+V

10

2.4 Evaporator Ekonomis


Prinsip dasar dari jenis evaporator ini yaitu menggunakan panas/kalor yang
dilepaskan/disediakan dari proses kondensasi pada satu efek untuk memberikan panas
bagi efek lainnya. Uap yang terbentuk dari separator first effect akan memanasi
komponen yang sedang berada di unit second effect, ketika steam awal (steam
langsung) sedang memanasi komponen yang berada pada unit first effect. Pada suatu
multiple-effect evaporator, air dididihkan pada suatu rangkaian wadah (vessel),
masing-masingnya dilangsungkan pada tekanan yang lebih rendah dibandingkan
dengan dengan unit sebelumnya. Karena titik didih dari air berkurang/menurun
seiring dengan penurunan tekanan maka uap yang terbentuk dari satu wadah dapat
digunakan untuk memanaskan unit berikutnya dan hanya pada vessel pertama.(pada
tekanan tertingi) membutuhkan sumber panas eksternal. Laju uap dan air pendingin
bagi unit double effect diperkirakan 50% dibandingkan dengan unit single effect. Laju
alir berbagai jenis bagi multiple effect berkisar antara 3000 LPH sampai dengan
50,000 LPH.
Keuntungan

utama

penggunaan

sistem

Multiple Effect Evaporators yaitu energi yang


ekonomis dan efisien. Ekonomi energi bagi
multiple effect evaporators bergantung pada
jumlah unit efek (number of effects) dan
berkisar dari 220 kkal energi panas per 1 kg
air

yang

diuapkan.untuk

Triple

Effect

Evaporator sampai dengan 120 kkal untuk sebuah Six Effect Evaporator. Oleh karena
biaya operasi dari sistem Multiple Effect Evaporators ekonomis maka sistem dengan
aliran dengan debit besar menyukai
aplikasi

ini

pada

semua

sektor

industri dan khususnya pada proses


produksi garam dan desalinasi air.
Sistem ini sudah terbukti sangat
ekonomis,

dengan

prosesnya

menggunakan gas panas dengan suhu


di atas 250C atau biaya uap yang

11

rendah pada tekanan moderat sekitar 7 bar sampai 21 bar yang dibangkitkan dari
energi biomassa/ batubara/ waste heat yang tersedia. Grafik di bawah ini menunjukan
hubungan antara fraksi mol seperti NaOH dengan entalpi.

BAB III
JAWABAN PEMICU

1. Terdapat 2 buah bidang abu-abu yang keadaannya:


Bidang I : T1 = 1540 oF, 1 = 0,8
Bidang II : T2 = 540 oF, 2 = 0,5
Hitunglah jumlah kalor yang dipindahkan antara bidang I dan bidang II (q
= BTU/J.ft2) jika :
a. Kedua bidang sangat luas, tetapi letaknya berdekatan satu dengan yang lain.
b. Kedua bidang masing-masing berukuran 1 ft x 20 ft dan berjarak 5 ft satu
sama lain.
c. Bidang I berukuran 3 ft x 9 ft, bidang II berukuran 6 ft x 9 ft, yang letaknya
saling tegak lurus satu sama lain, berimpit pada sisi 9 ft.
Jawab :
T1 = 1540 oF -> 2000
o
R
Diketahui :
Bidang I : T1 = 1540 oF / 2000 oR, 1 = 0,8.
Bidang II : T2 = 540 oF / 1000 oR, 2 = 0,5
Dit. :

q (BTU/J.ft2)

T2 = 540 oF -> 1000


o
R

a. Dengan menggunakan rumus 8-40 pada buku J.P Holman, yaitu :


=

1 2
(1 1 )1 1 + 11 12 + (1 2 )2 2

(1 4 2 4 )
(1 1 )1 1 + 11 12 + (1 2 )2 2

12

Bidang I dan II memiliki luas yang sangat besar dan jarak yang sangat dekat,
sehingga pada kondisi tersebut dapat kita asumsikan luas permukaannya sama dan
menjadi tak hingga. Sehingga rumus untuk luas tak hingga yaitu:

(1 4 2 4 )
=

11 + 12 1

0.1714 108 (20004 10004 )


=

10.8 + 10.5 1

25710
=

2.25

= 11426.67 . 2

b. Kalor yang dipindahkan jika kedua bidang masing-masing berukuran 1 ft x 20 ft


dan berjarak 5 ft. Karena luas benda diketahui, maka kita harus mencari nilai F12
yang dapat dicari dengan grafik 8-12 pada buku J.P Holman, dimana kita harus
mengetahui nilai X/D dan Y/D dari benda untuk mencari F12 pada grafik 8-12.
Nilai Nilai X=panjang benda, Y=lebar benda, dan D=jarak antar benda

Mencari nilai X/D dan Y/D pada benda

1
= = 0.2

20
=
=4

Mencari nilai F12 melalui grafik 8-12.

13

Karena tidak ada garis Y/D = 4 pada grafik diatas, maka dilakukan interpolasi dari
nilai F12 garis Y/D = 5 dan garis Y/D = 3.
F12 garis Y/D = 5 = 0.09
F12 garis Y/D = 3 = 0.08

Dilakukan interpolasi untuk mendapatkan F12 garis Y/D = 4


43
0.08
=
53
0.09 0.08
= 0.085

Meghitung q (BTU/J.ft2) dengan A1 = A2 (Luas bidang 1 dan 2 sama)


(1 4 2 4 )
=
(1 1 )1 1 + 11 12 + (1 2 )2 2

(1 4 2 4 )
=

(1 1 )1 + 112 + (1 2 )2

0.1714 108 (20004 10004 )


=

(1 0.8)0.8 + 10.085 + (1 0.5)0.5

25710
=

13.015

14


= 1975.41 . 2

c. Kalor yang dipindahkan jika bidang I berukuran 3 ft x 9 ft, bidang II berukuran 6


ft x 9 ft, letaknya saling tegak lurus, dan berimpit pada sisi 9 ft.
9 ft
Bidang 2
6 ft

Bidang 1

3 ft

Asumsi : Tidak ada pengaruh lingkungan pada sistem


A1 = 3ft x 9ft = 27 ft2
A2 = 6 ft x 9ft = 54 ft2

Mencari nilai Y/X dan Z/X pada benda

3
= = 0.3

6
= = 0.6

Didapatkan nilai F12 yaitu 0,31

15

Pada kondisi tegak lurus ini digunakan rumus :

(1 4 2 4 )
=
(1 1 )1 1 + 11 12 + (1 2 )2 2

0.1714 108 (20004 10004 )


=
(1 0.8)0.827 + 127(0,31) + (1 0.5)0.5 54
= 174598,54

Nilai q (BTU/J.ft2) q pada setiap benda akan berbeda, karena kedua benda (I dan
II) memiliki perbedaan luas, jadi dilakukan perhitungan lagi untuk q (BTU/J.ft2)
setiap benda :

Pada benda I =

174598,54
=
= 6466,61 . 2
1
27 2

Pada benda II =

174598,54
=
= 3233,31 . 2
2
54 2

2. Hitunglah perpindahan panas radiasi yang terjadi antara gas hasil


pembakaran dengan dinding dapur jika diketahui:
Gas hasil pembakaran terdiri atas 10% CO2, 20% H2O, dan sisanya inert
(% mol). Tekanan toal = 1 atm.
Suhu gas 2040 oF, suhu dinding dalam dapur 540 oF.
Dinding dapur merupakan benda abu-abu dengan = 0,9.
Dapur berbentuk kubus dengan sisi 5 ft.
Faktor dimensi karakteristik untuk radiasi ke seluruh permukaan kubus
dianggap = 0,6.
Jawab:
Diketahui:
Tg = 2040 oF = 1115,56 oC = 1388,71 K = 2499,67 oR
Tw = 540 oF = 282,22 oC = 555,37 K

16

= 5,669 x 10-8 W/m2 K4


L = 5 ft = 1,524 m
Luas area kubus (A) = 6 x (1,524 m)2 = 13,94 m2
Le = 0,6 L
Perpindahan panas radiasi yang terjadi antara gas hasil pembakaran dengan
dinding dapur?
(Tg)4 = 5,669 x 10-8 W/m2 K4 x 1388,71 K = 210839,85 W/m2 = 210,84 kW/m2
(Tw)4 = 5,669 x 10-8 W/m2 K4 x 555,37 K = 5393,07 W/m2 = 5,39 kW/m2
Le = 0,6 L = 0,6 x 1,524 m = 0,914 m
P CO2 = (0,1) (1 atm) (1,0132 x 105 Pa) = 10132 Pa = 10,132 kPa
P CO2 x Le = 10,132 kPa x 0,914 ft = 9,26 kN/m = 0,29 atm.ft
P H2O = (0,2) (1 atm) (1,0132 x 105 Pa) = 20264 Pa = 20,264 kPa
P H2O x Le = 20,264 kPa x 0,914 ft = 18,52 kN/m = 0,59 atm.ft
P CO2 x Le + P H2O x Le = 0,29 atm.ft + 0,59 atm.ft = 0,88 atm.ft
P 2
10,13
=
= 0,33
P 2 + P 2
10,13 + 20,26

Mencari nilai g(Tg)

Gambar 8-34 (Emisivitas CO2)


P CO2 x Le = 0,29 atm.ft ; T = 2499,67 oR
Didapatkan CO2 dari gambar = 0,09

17

Gambar 8-36 (Faktor koreksi untuk emisivitas CO2)


Tekanan total = 1 atm, maka diperoleh factor koreksi (C CO2) untuk emisivitas
CO2 dari gambar = 1

18

Gambar 8-35 (Emisivitas H2O)


P H2O x Le = 0,59 atm.ft ; T = 2499,67 oR
Didapatkan H2O dari gambar = 0,13

Gambar 8-37 (Faktor koreksi untuk emisivitas H2O)


Nilai 0,5(P + P H2O) 0,55 atm, maka dperoleh factor koreksi (C H2O) untuk
emisivitas H2O dari gambar = 1

19

Gambar 8-38 (Faktor koreksi bila CO2 dan H2O terdapat bersama dalam 1
ruang tertutup)
P 2

Nilai P

2 + P 2

= 0,33

P CO2 x Le + P H2O x Le = 0,29 atm.ft + 0,59 atm.ft = 0,88 atm.ft


T = 1115,56 oC
Diperoleh dari dari grafik = 0,032

Dengan mengggunakan persamaan:


g(Tg) = [(C CO2) ( CO2) ] + [(C H2O) ( H2O) ] -
= [(1) (0,09)] + [(1) (0,13)] 0,032
= 0,188

Mencari nilai g(Tw)


555,37

P CO2 x Le (Tw / Tg) = 0.29 x 1388,71 = 0,116 .


555,37

P H2O x Le (Tw / Tg) = 0.59 x 1388,71 = 0,236 .


P CO2 x Le (Tw / Tg) + P H2O x Le (Tw / Tg) = 0,116 + 0,236 = 0,352 atm.ft

20

Gambar 8-34 (Emisivitas CO2)


P CO2 x Le (Tw / Tg) = 0,116 atm.ft ; T = 2499,67 oR
Didapatkan CO2 dari gambar = 0,068

Gambar 8-36 (Faktor koreksi untuk emisivitas CO2)


Tekanan total = 1 atm, maka diperoleh factor koreksi (C CO2) untuk emisivitas
CO2 dari gambar = 1

21

Gambar 8-35 (Emisivitas H2O)


P H2O x Le (Tw / Tg) = 0,236 atm.ft ; T = 2499,67 oR
Didapatkan H2O dari gambar = 0,078

Gambar 8-37 (Faktor koreksi untuk emisivitas H2O)


Nilai 0,5(P + P H2O) 0,55 atm, maka dperoleh factor koreksi (C H2O) untuk
emisivitas H2O dari gambar = 1

22

Gambar 8-38 (Faktor koreksi bila CO2 dan H2O terdapat bersama dalam 1
ruang tertutup)
Nilai P

P 2

2 + P 2

= 0,33

P CO2 x Le (Tw / Tg) + P H2O x Le (Tw / Tg) = 0,352 atm.ft


T = 282,22 oC
Diperoleh dari dari grafik = 0,002

Menghitung CO2
CO2 = CCO2 CO2 (Tg / Tw)0,65
CO2 = (1) (0,068) (1388,71 / 555,37)0,65
CO2 = 0,123
Menghitung H2O
H2O = C H2O H2O (Tg / Tw)0,65
H2O = (1) (0,078) (1388,71 / 555,37)0,65
H2O = 0,142
Dengan mengggunakan persamaan:
g(Tw) = CO2 + H2O -
23

= 0,123 + 0,142 0,002


= 0,263

Perpindahan panas radiasi yang terjadi:


q/A = energi yang dipancarkan gas energi dari pengurung diserap gas
q = [g(Tg) (Tg)4 - g(Tw) (Tw)4] . A
q = [(0,188)(210,84 kW/m2) - (0,263)(5,39 kW/m2)] . 13,94 m2
q = 532,79 kW
Jadi, perpindahan kalor yang terjadi antara gas hasil pembakaran dengan dinding
dapur adalah 532,79 kW.
3. Gas hasil pembakaran terdiri atas 10,3% (mol) H2O, 11,4% CO2 dan
sisanya inert, pada tekanan 1 atm. Gas tersebut mengalir melalui pipa yang
berdiameter 6 in dan mengalami perpindahan kalor secara radiasi dnegan
udara luar. Suhu gas masuk 2000F dengan suhu permukaan ujung pipa
800F, sedangkan suhu gas keluar 1000F dengan suhu permukaan ujung
pipa 600F. Jika massa gas x Cp gas (= m.Cp) gas dianggap tetap sebesar
90Btu/J.F, hitunglah panjang pipa yang dibutuhkan agar perpindahan kalor
terjadi sempurna.

Jawab:
Diketahui :

Komposisi gas = 10,3% H2O dan 11,4% CO2, sisanya gas inert.

Tekanan total = 1 atm.

mgas Cp,gas = C = 90 Btu/JF.


Ditanya :
Panjang pipa yang dibutuhkan agar perpindahan kalor terjadi secara sempurna

24

Gambaran sistem:

Karena diketahui kondisi sistem pada kedua ujung, maka dapat dibentuk
persamaan di mana perbedaan kalor yang diserap pada kedua ujung merupakan
akibat dari adanya kalor yang keluar ke udara dan menyebabkan suhu gas
menurun, selain karena adanya perpindahan kalor radiasi sepanjang L. Dengan
demikian persamaan yang digunakan menjadi:

Untuk kondisi 1:

Diasumsikan pipa berbentuk silinder dengan panjang tak hingga dan radiasinya
adalah ke permukaan cembung, sehingga dari Tabel 8-2 (Holman) dapat diketahui
panjang ekuivalen rata-rata Le yaitu 0,95D. Panjang berkas ekuivalen adalah:

Tekanan parsial komponen gas:

Sehingga:

25

Saat kondisi Tg= 2460, R= 1366 K, dari grafik buku Holman diperoleh:

Pada tekanan total 1 atm tidak ada faktor koreksi. Sehingga dari persamaan 8.52
buku Holman:

Pada Tw = 800F = 700 K diperoleh:

Dari grafik 8.34 dan 8.35 buku Holman diperoleh:

Jadi:

Nilai q/A dapat dicari dengan melakukan substitusi nilai yang sudah didapat ke
persamaan sebelumnya, yaitu:

Untuk kondisi 2:

26

Pada Tg = 1460 R = 811 K diperoleh:

Sehingga pada Tw = 589 K = 1060,8 R :

Dari grafik Holman diperoleh:

Dari persamaan 8.55 dan 8.56 buku Holman:

Sehingga panjang silinder agar perpindahakan kalor sempurna adalah 5,307 m.

27

4. Suatu evaporator digunakan untuk mengkonsentrasikan 4536 kg/jam (10000


lb/jam) larutan NaOH 20% di dalam air, yang masuk pada suhu 60oC
(140oF) untuk menghasilkan produk yang mengandung 50% zat padat.
Tekanan steam jenuh yang digunakan adlaah 172,4 Kpa (25 psia) dan
tekanan di bagian uap evaporator adalah 11,7 Kpa (1,7 psia). Koefisien
transfer panas menyeluruh adalah 1560 W/m2K (275 BTU/J.ft2.oF). Hitung
kebutuhan steam yang digunakan, steam economy dan luas permukaan
pemanasan dalam m2!
Jawaban :

Jumlah air yang menguap diperoleh dari neraca bahan.


Umpan yang masuk mengandung :
=

80%

=4
20%

Cairan hasil evaporasi (Thick Liquor) mengandung :


=

50%

=1
50%

Jumlah yang menguap adalah



=
=4
=3

Atau :

=
= 3 10000
= 6000

0,20

28

Laju alir massa dari cairan hasil evaporasi (Thick Liquor) adalah :
= 10000

6000
= 4000

Atau :
= 4000

0,4536

= 1814,4 /

a) Kebutuhan steam yang digunakan :

Panas dari pengenceran NaOH tidak diabaikan

Laju perpindahan panas menggunakan persamaan 16.4 dan Gambar 16.8 pada
Buku McCabe, Smith. Unit Operations in Chemical Engineering, edisi ke-5.
= = ( ) +

(16.4)

Suhu penguapan dari larutan 50% pada tekanan 11,7 Kpa (1,7 psia) adalah sebagai
berikut :
Titik didih air pada tekanan 11,7 Kpa (1,7 psia) = 120oF (Appendix 7, McCabe)
Titik didih larutan 50%

= 187oF (Gambar 16.4)

Kenaikan Titik Didih

= 187oF - 120oF = 67oF

Entalpi dari umpan dan cairan hasil evaporasi diperoleh dari Gambar 16.8 pada
Buku Mccabe :

Umpan, Larutan 20% zat padat, 60oC (140oF)

Hf = 90 Btu/lb

Cairan hasil evaporasi, Larutan 50% zat padat, 187oF

H = 215 Btu/lb

29

Entalpi dari uap yang meninggalkan evaporator diperoleh dari steam table, yaitu :

Entalpi superheated water pada 187oF dan 1,7 psia adalah = 1143,971 Btu/lb

Entalpi penguapan (s) pada tekanan 25 psia dari Appendix 7 adalah = 952 Btu/lb
Laju Perpindahan panas dan uap yang digunakan dapat diperoleh dari persamaan
(16.4) pada Buku McCabe, sebagai berikut :
= = ( ) +
= ((10000 4000)

(16.4)

1143,971
) (10000
90
)

+ (4000

215
)

= 6823826

30

Maka :
= = 6823826
952 = 6823826
= 7167,88
Atau,
= 7167,88

0,4536

= 3251,35

Jadi, steam yang digunakan adalah sebesar 7167,88 atau


3251,35 .

b) Steam Economy
Ekonomi dari uap yang digunakan adalah :
=

6000
= 0,837
7167,88

Jadi, steam economy dari uap yang digunakan pada evaporator tersebut sebesar
0,837.
c) Luas permukaan pemanas (m2) :
Untuk uap jenuh pada tekanan 172,4 kPa atau 25 psia, temperatur jenuh yang
diperoleh dari steam table adalah 240,03oF, maka :
=

6823826
=
275 . 2 . (240,03 187) .
= 467,92 2
Atau,
(0,3048 )2
= 467,92
= 43,47 2
(1 )2
2

Jadi, luas permukaan pemanas tersebut sebesar 43,47 2 .

31

5. Evaporator efek tunggal mengonsentrasikan 9072 kg/jam dari 1% larutan


garam menjadi 1,5% berat. Umpan masuk dengan suhu 3110K (37,80C). Ruang
uap dari evaporator bertekanan 101,325 kPa (1 atm abs) dan uap jenuh disuplai
pada tekanan 143,3 kPa. Koefisien transfer panas menyeluruh, U = 1704 W/m2K.
Hitung jumlah uap dan produk liquid dan luas transfer panas yang dibutuhkan.
Asumsikan larutan encer dan memiliki titik didih sama dengan air.

Jawab :
Asumsi : larutan encer, titik didih sama dengan air
Gambaran proses sistem :
Vapor
V
Feed F
Salt Solution

T1, yV, HV

TF, xF, hF

Condensate S

TS, hS

Steam S
Ts, Hs
Concentrated Liquid

T1, xL, hL

Persamaan Neraca massa keseluruhan :


F =L+V
9072 = L + V
Subtitusi ke persamaan neraca massa pada solute (solid)
FXf

LXl

9072 . (0,01) = L . (0,015)


L

= 6048 kg/h liquid

Subtitusi ke persamaan neraca massa keseluruhan :


F =L+V
9072 = 6048 + V
V = 9072 6048
= 3048 kg/h uap (vapor)

32

Kapasitas panas (Cp) pada umpan (feed/salt liquid) dapat diasumsikan 4,14
kJ/kg.0K karena diasumsikan memiliki titik didih mendekati titik didih air. Untuk
membuat neraca panas, lebih cocok untuk memilih titik didih larutan encer pada
evaporator, yang diasumsikan sama dengan air, P = 101,325 kPa dan suhu T1 =
373,20K (1000C) sebagai data dari suhu. Hv sebagai panas laten dari air pada
372,20K yang didapat dari steam table adalah 2257 kJ/kg (970,3 btu/lbm).
Sedangkan panas laten () dari uap (steam) pada kondisi 143,3 kPa (saturation
temperature,Ts= 382,2 0K) adalah 2230 kJ (958,8 btu/lbm).
Perhitungan enthalpy pada umpan (feed) :
hf = cpF (Tf T1)
Subtitusi ke dalam persamaan di bawah ini :
FhF + S = LhL + VHV
9072 . (4,14) . (311 373,2) + S . (2230) = 6048 . (0) + 3024 . (2257)
S = 4108 kg steam/h
Panas yang ditransfer melalui luas permukaan panas, A, adalah :
q = S . ()
= 4108 . (2230) . (1000/3600)
= 2.544.000 W
Subtitusi ke persamaan kapasitas evaporator efek tunggal :
q = U . A . T
2.544.000 = 1704 . A . (383,2 373,2)
A = 2.544.000 : [1704 . (383,2 373,2)]
A = 149,3 m2

33

BAB IV
KESIMPULAN

1. Radiasi termal adalah radiasi elektromagnetik yang dipancarkan oleh suatu benda
karena suhunya.
2. Radiasi merambat dengan kecepatan cahaya.
3. Sifat-sifat radiasi termal antara lain adalah refleksi, absorbsi, dan transmisi, serta
daya emisi.
4. Pada pepindahan kalor antara dua permukaan benda hitam tidak terjadi refleksi,
semua radiasi diabsorp, dan energi meninggalkan permukaan hanya dalam bentuk
emisi.
5. Faktor bentuk radiasi menyatakan hubungan geometri yang mengatur proses
perpindahan energi antara permukaan baur.
6. Benda hitam dapat menyerap seluruh radiasi elektromagnetik. Konsep benda hitam
adalah suatu idealisasi.Benda tidak hitam adalah benda yang tidak dapat menyerap
semua energi yang diterimanya
7. Kaitannya dengan hukum Planck, dia mengungkapkan bahwa distribusi spektrum dari
intensitas radiasi diasosiasikan degan emisi benda hitam
8. Terdapat dua metode dalam menyelesaian masalah perpindahan kalor radiasi antara
dua permukaan tertutup, yaitu metode pendekatan jaringan radiasi dan metode
pendekatan langsung.
9. Evaporasi adalah proses pemanasan untuk meningkatkan kepekatan konsentrasi dari
suatu larutan dengan menguapkan pelarut yang terdapat dalam larutan tersebut.
10. Steam pada evaporator ekonomis merupakan perbandingan antara laju distilat (V)
yang terbentuk dengan laju steam yang masuk (S). Steam ekonomi menunjukkan
kemampuan dari media pemanas untuk menguapkan sejumlah massa pelarut dalam
proses pemekatan larutan.

34

DAFTAR PUSTAKA

Geankoplis, Christie J. 1993. Transport Processes and Unit Operation Third Edition. New
Jersey : Prentice-Hall, Inc.
Holman, J.P. Heat Transfer 10th Edition. 2010. New York : McGraw-Hill
Incropera, Frank P. Fundamentals of Heat and Mass Transfer 6th Edition. 2006. New York
: John Wiley
McCabe, Warren L, Smith, Julian C., Hariott, Peter. 1993. Unit Operations of Chemical
Engineering, 5th Edition. New York : McGraw-Hill Companies, Inc.
White, Frank M. 1984. Heat Transfer.Canada : Addison-Wesley Publishing Company, Inc.

35