Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Di era globalisasi saat ini ditandai dengan banyaknya manusia
memenfaatkan peralatan modern yang berbasiskan komputer atau elektronik
untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Adanya kemudahan kemudahan
peralatan yang semakin canggih merupakan sumbangan yang banyak dan tak
ternilai dari kemajuan teknologi peralatan yang menggunakan komponen
elektronika. Banyak orang yang bekerja di bidang industri dan kependidikan
teknik khususnya
kelistrikan atau elektro, misalnya teknisi, instalatir, jaringan dan tenaga listrik.
Mempunyai pengetahuan mengenai asal bahan, jenis-jenis bahan, fungsi
bahan, dan sifat-sifat dari bahan adalah sangat penting dimiliki bagi mereka
yang bekerja di bidang industri dan kependidikan teknik.
Semikonduktor adalah sebuah bahan dengan konduktivitas listrik yang
berada diantara insulator dan konduktor. Semikonduktor disebut juga sebagai
bahan

setengah

penghantar

listrik.

Sebuah

semikonduktor

bersifat

sebagai insulator pada temperatur yang sangat rendah, namun pada temperatur
ruangan besifat sebagai konduktor. Bahan semikonduksi yang dipakai adalah
silikon, germanium dan gallium, arsenida.
Semikonduktor sangat berguna dalam bidang elektronik, karena
konduktansinya yang dapat diubah-ubah dengan menyuntikkan materi lain
(biasa disebut pendonor elektron). Adapun macam-macam penggunaan bahan
semikonduktor antara lain dioda, transistor, termistor, SCR, ID.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalahnya sebagai berikut:
1. Apa saja yang termasuk piranti semikonduktor?
C. Tujuan Makalah
Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan dari makalh ini adalah:
1. Untuk mengetahui apa saja yang termasuk piranti semikonduktor?

BAB II
PEMBAHASAN

A. DIODA
1. Pengertian Dioda
Dioda merupakan komponen semikonduktor yang paling sederhana. Kata dioda
berasal dari pendekatan kata yaitu dua elektroda yang mana (di berarti dua)
mempunyai dua buah elektroda yaitu anoda dan katoda.
Dioda adalah komponen aktif dua kutub yang pada umumnya bersifat
semikonduktor, yang memperbolehkan arus listrik mengalir ke satu arah (kondisi
panjar maju) dan menghambat arus dari arah sebaliknya (kondisi panjar mundur).
Dioda dapat disamakan sebagai fungsi katup di dalam bidang elektronika. Dioda
sebenarnya tidak menunjukkan karakteristik kesearahan yang sempurna, melainkan
mempunyai karakteristik hubungan arus dan tegangan kompleks yang tidak linier dan
seringkali tergantung pada teknologi atau material yang digunakan serta parameter
penggunaan. Beberapa jenis dioda juga mempunyai fungsi yang tidak ditujukan untuk
penggunaan penyearahan. Awal mula dari dioda adalah peranti kristal Cat's Whisker
dan tabung hampa (juga disebut katup termionik). Saat ini dioda yang paling umum
dibuat dari bahan semikonduktor seperti silikon atau germanium. Walaupun dioda
kristal (semikonduktor) dipopulerkan sebelum dioda termionik, dioda termionik dan
dioda kristal dikembangkan secara terpisah pada waktu yang bersamaan. Prinsip kerja
dari dioda termionik ditemukan oleh Frederick Guthrie pada tahun 1873. Sedangkan
prinsip kerja dioda kristal ditemukan pada tahun 1874 oleh peneliti Jerman, Karl
Ferdinand Braun. Pada waktu penemuan, peranti seperti ini dikenal sebagai

penyearah (rectifier). Pada tahun 1919, William Henry Eccles memperkenalkan


istilah dioda yang berasal dari di berarti dua, dan ode (dari ) berarti "jalur".
2. Fungsi Dioda
Fungsi Dioda adalah untuk menyalurkan arus listrik yang mengalir dalam satu
arah dan menahan arus tersebut dari arah sebaliknya. Dioda juga dapat berfungsi
sebagai penyearah arus, rangkaian catu daya dan juga untuk stabilisator tegangan.
Fungsi dioda sebenarnya tidak menunjukan hidup mati yang sempurna atau bisa di
bilang benar benar menghantar saat panjar maju dan menyumbat pada saat panjar
mundur, tetapi mempunyai karakteristik listrik tegangan arus taklinier kompleks yang
tergantung pada teknologi yang kita gunakan dan kondisi penggunaanya.
Berikut fungsi dioda beserta contohnya :
1. Penyearah, contoh : dioda bridge.
2. Penstabil tegangan (voltage regulator), yaitu dioda zener.
3. Pengaman /sekering.
4. Sebagai rangkaian clipper, yaitu untuk memangkas/membuang level sinyal
yang ada di atas atau di bawah level tegangan tertentu.
5. Sebagai rangkaian clamper, yaitu untuk menambahkan komponen DC kepada
suatu sinyal AC.
6. Pengganda tegangan.
7. Sebagai indikator, yaitu LED (light emiting diode).
8. Sebagai sensor panas, contoh aplikasi pada rangkaian power amplifier.

9. Sebagai sensor cahaya, yaitu dioda photo.


10. Sebagai rangkaian VCO (voltage controlled oscilator), yaitu dioda varactor.
3.

Spesifikasi Dioda
Beberapa spesifikasi yang penting antara lain : tegangan puncak, arus maju rata-

rata, arus sentakan maju, tegangan maju maksimum, tegangan maju, arus balik,
disipasi daya dan waktu pulih balik.
Disamping itu dioda harus dicek apakah rusak atau tidak. Cara pengecekan dapat
dengan menggunakan multitester yang selektornya diletakkan pada posisi ohm meter.
Maka pada arah maju (prasikap maju) tahanannya akan kecil, pada umumnya <
100. Sedang pada arah balik (prasikap balik) tahanannya > 5000. Perlu diingat
bahwa colok + pada multitester justru terhubung dengan kutub baterei, sedang
colok pada multitester justru terhubung dengan kutub + baterei.
Jika hasil pengukuran menunjukkan :
1. Kedua tahanannya (tahanan maju dan balik) sangat besar, maka dioda
telah putus
2. Kedua tahanannya sangat kecil, maka dioda terhubung singkat.
3. Pada satu arah (forward bias) tahanannya kecil dan pada arah yang
lain (reverse biased) tahanannya besar, maka dioda baik.
4.
4. Karakteristik Dioda
Karakteristik dioda dapat ditunjukkan oleh hubungan antara arus yang lewat
dengan beda potensian ujung-ujungnya. Karakteristik dioda pada umumnya diberikan
oleh pabrik, tetapi dapat juga diselidiki sendiri dengan rangkaian seperti gambar 1

Gambar 1 Rangkaian untuk menyelidiki karakteristik dioda


Dengan memvariasi potensio P dan mencatat V dan I kemudian menggambarkan
dalam grafik, maka diperoleh kurve karakteristik dioda (karakteristik statis). Pada
umumnya hasilnya adalah seperti pada gambar 2.

Gambar 2 Karakteristik Dioda


Tampak untuk dioda Ge, arus baru mulai ada pada tegangan 0,3 V sedang untuk
dioda Si pada 0,7 V. Tegangan ini sesuai dengan tegangan penghalang pada
sambungan P-N, dan disebut tegangan patah atau tegangan lutut (cut in voltage atau
knee voltage). Tampak pula bahwa arus IR = Io dalam orde A, sedang arus maju IF
dalam orde mA. Dari lengkungan kurve yang tidak linier, maka tentu saja tahanan

dioda tidak tetap, baik tahanan maju maupun tahanan baliknya. Jika tegangan balik
diperbesar maka akan mencapai keadaan arus meningkat secara tajam, yang hanya
dapat dibatasi oleh tahanan luar. Tegangan kritis ini disebut tegangan dadal (break
down voltage = peak inverse voltage).
5. Cara Kerja Dioda
Untuk dapat memahami bagaimana cara kerja dioda kita dapat meninjau 3 situasi
sebagai berikut ini yaitu :
1. Dioda diberi tegangan nol

Ketika dioda diberi tegangan nol maka tidak ada medan listrik yang menarik
elektron dari katoda. Elektron yang mengalami pemanasan pada katoda hanya mampu
melompat sampai pada posisi yang tidak begitu jauh dari katoda dan membentuk
muatan ruang (Space Charge). Tidak mampunya elektron melompat menuju katoda
disebabkan karena energi yang diberikan pada elektron melalui pemanasan oleh
heater belum cukup untuk menggerakkan elektron menjangkau plate.
2. Dioda diberi tegangan negatif

Ketika dioda diberi tegangan negatif maka potensial negatif yang ada pada plate
akan menolak elektron yang sudah membentuk muatan ruang sehingga elektron
tersebut tidak akan dapat menjangkau plate sebaliknya akan terdorong kembali ke
katoda, sehingga tidak akan ada arus yang mengalir.
3. Dioda diberi tegangan positif

Ketika dioda diberi tegangan positif maka potensial positif yang ada pada plate akan
menarik elektron yang baru saja terlepas dari katoda oleh karena emisi thermionic,
pada situasi inilah arus listrik baru akan terjadi. Seberapa besar arus listrik yang akan
mengalir tergantung daripada besarnya tegangan positif yang dikenakan pada plate.

Semakin besar tegangan plate akan semakin besar pula arus listrik yang akan
mengalir.
Oleh karena sifat dioda yang seperti ini yaitu hanya dapat mengalirkan arus
listrik pada situasi tegangan tertentu saja, maka dioda dapat digunakan sebagai
penyearah arus listrik (rectifier).
6. Struktur dan Simbol Dioda

Struktur dan Simbol dioda


Gambar ilustrasi di atas menunjukkan sambungan PN dengan sedikit porsi kecil
yang disebut lapisan deplesi (depletion layer), dimana terdapat keseimbangan hole
dan elektron. Seperti yang sudah diketahui, pada sisi P banyak terbentuk hole-hole
yang siap menerima elektron sedangkan di sisi N banyak terdapat elektron-elektron
yang siap untuk bebas merdeka. Lalu jika diberi bias positif, dengan arti kata
memberi tegangan potensial sisi P lebih besar dari sisi N, maka elektron dari sisi N
dengan serta merta akan tergerak untuk mengisi hole di sisi P. Tentu kalau elektron
mengisi hole disisi P, maka akan terbentuk hole pada sisi N karena ditinggal elektron.
Ini disebut aliran hole dari P menuju N, kalau mengunakan terminologi arus listrik,
maka dikatakan terjadi aliran listrik dari sisi P ke sisi N.
7. Persamaan Dioda
Pada tegangan maju bukit potensial sambungan p-n berkurang yaitu menjadi Vh
= Vho V. Di sini Vho adalah tinggi bukit potensial tanpa panjar, dan V adalah beda
tegangan pada diode.

Sesuai dengan statistic Boltzemann, banyakya electron pada bagian p yang


mempunyai energy diatas Vh sebanding dengan e-qV/kT , atau secara matematik np = nn
e-qV/kT
Dengan n adalah rapat electron dari bagian n, q adalah muatan electron, k tetapan
Boltzmann, dan T suhu dalam kelvin.
Begitu juga halnya dengan lubang. Jika rapat lubang pada bagian p adalah pp maka
rapan lubang pn yang dapat berdifusi ke bagian n adalah
Pn = pp e-qv/kT
Arus yang disebabkan difusi pembawa muatan np dan pn disebut arus injeksi. Besar
arus injeksi adalah
II = K ( np + pn ) = K (Nd + Na) e qV/kT
Nd adalah rapat atom donor, dan Na adalah rapat atom akseptor. Karena Nddan Na
merupakan tetapan arus injeksi II dapatlah ditulis sebagai
II = K e qV/kT
= K eiq ( Vho +V)/kT
(1.1)
Kita dapat menyatakan tetapan K dengan arus penjenuhan Is ,yaitu arus yang
mengalir jika diode diberi tegangan mundur.Kita tahu bahwa tanpa tegangan arus
diode adalah nol,karena pada keadaan ini arus injeksi sama dengan arus penjenuhan,
tetapi berlawanan arah . hal ini berarti
II = (V = 0 ) = - IS = k e-qV/kT
Akibatnya persamaan (1.1) dapat ditulis sebagai
II = - Is-qV/kT e-qV/(Vho-V)/kT atau II = Ise-qV/kT
(1.2)
Arus total yang mengalir dalam keadaan tegangan maju adalah
I = II + Is = - Is (eqV/kT 1)
(1.3)
Persamaan (1.3) disebut persamaan dioda, dan memberikan bentuk fungsi teoritis
untuk ciri dioda dengan tegangan maju.
8. Rangkaian Dioda
1. Penyearah Arus Bolak Balik
Misalkan sumber tegangan VDD diganti dengan sumber tegangan bolak-balik
(gambar 12).Bentuk isyarat keluaran dapat diperoleh secara grafik seperti gambar 13.

Gambar 3. Diode pada rangkaian AC

Pada saat t2, VDD = Vp, arus diode id (t) ditentukan oleh titik q2. Untuk
mendapatkan V0 (t2) kita buat grafik id terhadap V0, dan diperoleh bentuk isyarat
keluaran. Pada waktu isyarat masukan v i negative garis beban memotong lengkung
ciri q3 dengan arus diode i= 0, sehingga tegangan keluaran v o = 0 juga.Tampak isyarat
keluaran hanya mempunyai nilai positif saja. Untuk tegangan masukan vi< 0,7 V
(tegangan potong), tidak ada tegangan keluaran, karena arus maju pada VD< 0,7 V
(Si) sangat kecil. Di samping itu tegangan keluaran pada daerah ini cacat karena
lengkung ciri berbentuk tidak linier.

Gambar 4.cara grafik untuk menentukan bentuk isyarat keluaran.

Untuk mendapatkan tegangan keluaran yang benar-benar merupakan bagian


positif daripada isyarat masukan diperlukan diode dengan ciri seperti pada gambar 5

Gambar 5.Isyarat keluaran pada diode ideal.

Dari pembahasan diatas dinyatakan jika digunakan rangkaian seperti pada


gambar 3, bentuk isyarat masukan dan keluaran Nampak seperti pada gambar 6.
(untuk diode ideal).

Gambar 6.Penyearah setengah gelombang dengan diode ideal.

Penyearah diatas disebut penyearah setengah gelombang. Kita dapat


menyearah gelombang penuh dengan dua cara. Cara pertama memerlukan
transformator dengan sadapan pusat (center tap- CT) seperti ditunjukkan pada
gambar 7.Penyearah seperti ini disebut penyearah gelombang penuh.

Gambar 7.Aliran arus pada penyearah gelombang penuh, jika isyarat masukan positif.

Jika isyarat masukan sedang positif ,arus akan melalui diode D1 dan mengalir
seperti gambar 7. Jika isyarat masukan negative, diode D2 menghantar dan jalan arus
seperti pada gambar 8.

Gambar 8.Aliran arus pada penyearah gelombang penuh jika isyarat masukan negative.

Tampak arus diode mengalir di RL dari atas kebawah,yaitu memberikan isyarat


keluaran positif. Jika diode dibalik, isyarat akan negative seperti ditunjukkan pada
gambar 9.

Gambar 9.Penyearah gelombang penuh dengan keluaran negative.

Cara lain untuk mendapatkan keluaran gelombang penuh adalah dengan


menggunakan empat diode seperti pada gambar 10. Penyearah seperti ini disebut
dengan penyearah jembatan.Jika isyarat positif arah arus terlihat seperti pada gambar
1 dengan D1 dan D2 menghantar.jika Isyarat masukan sedang negative, arah arus
Nampak seperti pada gambar 11. Dengan diode D3 dan D4 menghantar.

Gambar 10.Aliran arus pada penyearah jembatan jika isyarat masukan positif.

Gambar 11.Aliran arus pada penyearah jembatan jika isyarat negatif.

Untuk penyearah jembatan, tampak transpormator tak memerlukan adanya CT.


bahkan bila diode yang digunakan mempunyai kemampuan tegangan yang cukup ,
tanpa transformator pun penyearah ini dapat digunakan. Untuk mendapatkan
tegangan arus searah positif dan negative dapat digunakan rangkaian seperti gambar
12

Gambar 12.Penyearah jembatan untuk menghasilkan isyarat keluaran positif dan negatif.

2. Rangkaian Setara Dioda

Dalam membahas rangkaian yang mengandung diode ,kita sering kali dapat
menggantikan diode dengan suatu rangkaian setara. Ada 2 macam rangkaian setara.
1. Rangkaian setara DC untuk isyarat besar.
Pada gambar 13 untuk arus 6 mA ciri maju untuk diode dapat digantikan dengan
garis lurus A. pada keadaan hambatan ini diode jika diukur dengan ohmmeter adalah
rF = VD / ID
= 0,50 V / 6 mA = 83. Untuk ID + 2 mA
RF = VD / ID
= 0,4 V / 2 mA = 200.

Gambar 13.hambatan dc diode adalah kebalikan kemiringan garis putus-putus.

Jika diberi tegangan panjar mundur hambatan diode r B dapat dinyatakan


sebagai kebalikan kemiringan garis lurus b, yang untuk arus mundur lebih dari 5A
mempunyai hambatan
RB = V/I (mundur) = 30 V/ 5 A = 6 M .

Jadi untuk tegangan maju, diode dapat dipandang sebagai resistor dengan
hambatan rF = 80 200 ., dan pada tegangan panjar mundur dipandang sebagai
resistor dengan hambatan rB = 5 M. ini dilukis kan pada gambar 14.

Gambar 14.Rangkaian setara diode.

Dengan memberi tegangan panjar maju atau mundur diode dapat digunakan
sebagai saklar. Penggunaan diode untuk membentuk gelombang mudah dipahami
dengan gambar diatas. Penggunting terpanjar ( biased clipper ). Sebagai penerapan
pengertian rangkaian setara dc, marilah kita tinjau rangkaian penggunting terpanjar
sebagaimana ditunjukkan pada gambar 15.

Gambar 15. (a) rangkaian tergunting terpanjar. (b) rangkaian setara terpanjar maju . (c) rangkaian
setara terpanjar mundur.

9. Jenis-Jenis Dioda
1. Dioda zener
Diode zener adalah diode silicon yang sangat terkotori, tidak seperti diode
normal, memiliki breakdown yang mendadak pada tegangan yang relative rendah
(biasanya kurang dari 6 V). efek yang sama terjadi pada diode yang kurang terkotori.
Diode runtuhan (avalanche diode) ini juga memiliki breakdown yang sangat cepat
dengan aliran arus yang dapat di abaikan pada kondisi di bawah tegangan runtuhan
dan aliran arus yang relative besar ketika mencapai tagangan runtuhannya. Untuk
diode runtuhan, tegangan breakdown ini biasanya terjadi pada tegangan di atas 6 V.
namun dalam prakteknya, kedua jenis diode ini di sebut sebagai diode zener.

Walaupun breakdown mundur merupakan efek yang sangat tidak di inginkan


pada rangkaian yang menggunakan diode konvensional, breakdown mundur sangat
berguna dalam kasus diode zener di mana tegangan breakdownnya di ketahui secara
persis. Ketika diode mengalami breakdown mundur

dan asalkan rating

maksimumnya tidak di lampaui tegangan yang timbul pada diode tersebut akan tetap
konstan (sama dengan tegangan zener nominal) tanpa terpengaruh oleh aliran arus.
Sifat semacam ini menjadikan diode zener ideal untuk digunakan sebagai pengatur
tegangan (voltage regulator).
2. Diode dengan kapasitansi variable
Kapasitansi dari diode yang diberikan bias-mundur akan bergantung kepada lebar
dari lapisan serapan yang pada gilirannya berubah-ubah menurut tegangan mundur
yang diberikan kepada diode. Hal ini memungkinkan diode untuk digunakan sebagai
kapasitor yang dikendalikan oleh tegangan. Diode-dioda yang secara khusus di buat
untuk memenfaatkan efek ini di kenal sebagai diode kapasitansi variable. Diodedioda semacam ini digunakan (seringkali secara berpasangan) untuk system penala
(tuning) pada pesawat penerima radio dan TV.

Karakteristik umum dari sebuah diode kapasitansi variable diperlihatkan pada


gambar.

80
60
40

Kapasitansi (pF)

20
0
-12

-10

-8

-6

-4

-2

Tegangan mundur (V)

Gambar 16 karakteristik tipikal dari sebuah diode kapasitansi variable


3. Thyristor
Thyristor (rectifier yang dikendalikan silicon) adalah perangkat tiga terminal yang
dapat digunakan untuk pengsaklaran dan mengendalikan daya AC. Thyristor dapat
berubah dengan sangat cepat dari kondisi menghantar ke kondisi tidak menghantar.
Dalam kondisi mati, thyristor memiliki arus bocor yang dapat diabaikan, sementara
dalam kondisi hidup perangkat ini memiliki resistansi yang sangat rendah. Ini
mengakibatkan hilangnya daya yang sangat kecil pada thyristor bahkan ketika level
daya yang cukup besar sedang di kendalikan. Apabila berada dalam kondisi

menghantar, thyristor akan tetap menghantar (yaitu disaklarkan ke kondisi hidup)


hingga arus maju berhenti mengalir ke dalam perangkat tersebut..
Sebagaimana diode silicon konvensional thyristor memiliki sambungan anode dan
katoda; control di terapkan dengan menggunakan sebuah terminal (lihat gambar 17).
Perangkat tersebut di picu ke dalam kondisi menghantar dengan jalan memberikan
pulsa arus kepada terminal ini. Pemicuan thyristor yang efektif membutuhkan suatu
pulsa pemicu gerbang yang memiliki waktu kenaikan (rise time) yang cepat yang
diperoleh dari sumber dengan resistansi rendah. Pemcuan dapat menjadi kacau
apabila arus gerbang tidak mencukupi atau ketika arus gerbang berubah secara
lambat.
Katoda (k)
Gerbang
(g)
4.

Anoda (a)

Gambar 17 Sambungan-sambungan thyristor


4. Triac
Triac adalah pengembangan dari thyristor yang ketika di picu, akan menghantar
baik pada setengah siklus positif maupun negative dari tegangan yang diberikan.
Triac memiliki tiga terminal yang dikenal sebagai terminal-utama satu (MT1),
terminal-utama dua (MT2) dan gerbang (G), seperti yang di perlihatkan pada gambar
17. triac dapat dipicu baik oleh tegangan positif maupun negative yang di catu antara
G dan MT1 dengan masing-masing tegangan positif dan negative pada MT2.
5. Light Emiting Diode

Light Emting Diode (dioda pemancar cahaya) menghasilkan cahaya ketika arus
mengalir melewatinya. Pada awalnya LED hanya dibuat dengan warna merah.
Namun, sekaang warna-warna jingga, kuning,hijau,biru dan putih juga tersedia
dipasaran. Terdapat pula LED infra merah,yang menghasilkan vcahaya infra merah,
alih-alih cahaya tampak. Sebuah LED yang tipikal memiliki kemasan berbentuk
kubah yang terbuat dari bahan plastik,dengan piggiran yng menonjol (rim) pada
bagian bawah kubah.Terdapat dua buah kaki terminal dibagian bawah kubah.
Biasanya, kaki katoda lebih pendek dari kaki anoda. Cara lain membedakan kaki
katoda dengan kaki anoda adalah dengan memperhatikan bagian rim (apabila LED
yang bersangkutan memang memilikinya). Rim dibuat berbentuk datar pada sisi yang
berdekatan dengan kaki katoda. Sebuah LED membutuhkan arus sekitar 20 mA untuk
memancarka cahaya dengan kecerahan maksimum, meskipun arus sekecil 5mA pu
masih dapat menghasilkan cahaya yang jelas tampak. Jatuh tegangan maju sebuah
LED rata-rata adalah 1,5 V, sehingga

pasokan tegangan 2V dapat menyalakan

sebagian besar LED dengan kecerahan maksimum. Dengan level-level tegangan yang
lebih tinggi, LED dapat terbakar apabila tegangan maju yang diberikan akan melebihi
2 V. kita harus penting untuk menyambungkan resistor pembatas arus secara seri
kesebuah LED

B. TRANSISTOR
1. Pengertian Transistor
Pengertian Transistor adalah komponen elektronika semikonduktor yang memiliki
3 kaki elektroda, yaitu Basis (Dasar), Kolektor (Pengumpul) dan Emitor (Pemancar).
Komponen ini berfungsi sebagai penguat, pemutus dan penyambung (switching), stabilitasi
tegangan, modulasi sinyal dan masih banyak lagi fungsi lainnya. Selain itu, transistor juga
dapat digunakan sebagai kran listrik sehingga dapat mengalirkan listrik dengan sangat akurat
dan sumber listriknya.Transistor sebenarnya berasal dari kata transfer yang berarti

pemindahan dan resistor yang berarti penghambat. Dari kedua kata tersebut dapat kita
simpulkan, pengertian transistor adalah pemindahan atau peralihan bahan setengah
penghantar menjadi suhu tertentu. Transistor pertama kali ditemukan pada tahun 1948 oleh
William Shockley, John Barden dan W.H, Brattain. Tetapi, komponen ini mulai digunakan
pada tahun 1958. Jenis Transistor terbagi menjadi 2, yaitu transistor tipe P-N-P dan transistor
N-P-N.

2. Jenis-jenis Transistor
a. Bipolar Junction Transistor (BJT)
Bipolar junction transistor (BJT) adalah jenis transistor yang memiliki tiga
kaki, yaitu (Basis, Kolektor, dan Emitor) dan di pisah menjadi dua arah aliran, positif
dan negatif. Aliran positif dan negatif diantara Basis dan Emitor terdapat tegangan
dari 0v sampai 6v tergantung pada besar tegangan sumber yang dipakai. Dan besar
tegangan tersebut merupakan parameter utama transistor tipe BJT. Tidak seperti Field
Effect transistor (FET), arus yang dialirkan hanya terdapat pada satu jenis
pembawaan (Elektron atau Holes). Di BJT, arus dialirkan dari dua tipe pembawaan
(Elektron dan Holes), hal tersebut yang dinamakan dengan Bipolar.
Ada dua jenis tipe transistor BJT, yaitu tipe PNP dan NPN. Dimana NPN,
terdapat dua daerah negatif yang dipisah dengan satu daerah positif. Dan PNP,
terdapat dua daerah positif yang dipisah dengan daerah negatif.

NPN

Gambar 1 NPN

Pada transistor jenis NPN terdapat arah arus aliran yang berbeda dengan transistor
jenis PNP, dimana NPN mengalir arus dari kolektor ke emitor. Dan pada NPN, untuk
mengalirkan arus tersebut dibutuhkan sambungan ke sumber positif (+) pada kaki basis. Cara
kerja NPN adalah ketika tegangan yang mengenai kaki basis, hingga dititik saturasi, maka

akan menginduksi arus dari kaki kolektor ke emitor. Dan transistor akan berlogika 1 (aktif).
Dan apabila arus yang melalui basis berkurang, maka arus yang mengalir pada kolektor ke
emitor akan berkurang, hingga titik cutoff. Penurunan ini sangatlah cepat karena
perbandingan penguatan yang terjadi antara basis dan kolektor melebihi 200 kali.

Contoh gambar rangkaian penggunaan transistor NPN:

PNP

Gambar 2 simbol PNP

Pada PNP, terjadi hal sebaliknya ketika arus mengalir pada kaki basis, maka transistor
berlogika 0 (off). Arus akan mengalir apabila kaki basis diberi sambungan ke ground (-) hal

ini akan menginduksi arus pada kaki emitor ke kolektor, hal yang berbeda dengan NPN, yaitu
arus mengalir pada kolektor

emitor. Penggunaan transistor jenis ini mulai jarang digunakan. Dibanding dengan NPN,
transistor jenis PNP mulai sulit ditemukan dipasaran.
Contoh gambar rangkaian penggunaan transistor PNP:

Karaktersitik dan daerah kerja


Transistor BJT digunakan untuk 3 penggunaan berbeda: mode cut off, mode linear
amplifier, dan mode saturasi. Penggunaan fungsi transistor bisa menggunakan karakteristik
dari masing-masing daerah kerja. Selain untuk membuat fungsi daripada transistor,
karakteristik transistor juga dapat digunakan untuk menganalisa arus dan tegangan transistor

Gambar 4 Daerah Kerja Transistor

Karakteristik dari masing-masing daerah operasi Transistor sebagai berikut:

Daerah Potong (cutoff):


Dioda Emiter diberi prategangan mundur. Akibatnya, tidak terjadi pergerakan
elektron, sehingga arus Basis, IB = 0. Demikian juga, arus Kolektor, IC = 0, atau
disebut ICEO (Arus Kolektor ke Emiter dengan harga arus Basis adalah 0).

Daerah Saturasi
Dioda Emiter diberi prategangan maju. Dioda Kolektor juga diberi prategangan
maju. Akibatnya, arus.Kolektor, IC, akan mencapai harga maksimum, tanpa
bergantung kepada arus Basis, IB, dan dc. Hal ini, menyebabkan Transistor menjadi
komponen yang tidak dapat dikendalikan. Untuk menghindari daerah ini, Dioda
Kolektor harus diberi prateganan mundur, dengan tegangan melebihi VCE(sat), yaitu
tegangan yang menyebabkan Dioda Kolektor saturasi.

Daerah Aktif
Dioda Emiter diberi prategangan maju. Dioda Kolektor diberi prategangan
mundur. Terjadi sifat-sifat yang diinginkan, dimana:
Atau

Daerah Breakdown
Dioda Kolektor diberiprategangan mundur yang melebihi tegangan Breakdown-nya,
BVCEO (tegangan breakdown dimana tegangan Kolektor ke Emiter saat Arus Basis
adalah nol). Sehingga arus Kolektor, IC, melebihi spesifikasi yang dibolehkan.
Transistor dapat mengalami kerusakan.

b. FET
Field Effect Transistor adalah jenis transistor yang dapat digunakan untuk
menghasilkan sinyal untuk mengontrol komponen yang lain. Komponen Transistor efek
medan (field-effect transistor = FET) mempunyai fungsi yang hampir sama dengan
transistor bipolar. Meskipun demikian antara FET dan transistor bipolar terdapat
beberapa perbedaan yang mendasar. Perbedaan utama antara kedua jenis transistor
tersebut adalah bahwa dalam transistor bipolar arus output (IC) dikendalikan oleh arus
input (IB). Sedangkan dalam FET arus output (ID) dikendalikan oleh tegangan input
(VGS), karena arus input adalah nol. Sehingga resistansi input FET sangat besar, dalam
orde puluhan megaohm.
Transistor efek medan mempunyai keunggulan lebih stabil terhadap temperatur
dan konstruksinya lebih kecil serta pembuatannya lebih mudah dari transistor bipolar,
sehingga amat bermanfaat untuk pembuatan keping rangkaian terpadu. FET bekerja
atas aliran pembawa mayoritas saja, sehingga FET cenderung membangkitkan noise
(desah) lebih kecil dari pada transistor bipolar. Namun umumnya transistor bipolar
lebih peka terhadap input, atau dengan kata lain penguatannya lebih besar.Jenis dari
transistor FET itu sendiri adalah JFET dan MOFET

c. JFET
Keluarga FET yang penting lainnya adalah JFET (Junction Field Efect Transistor)
dan MOSFET (Metal-Oxide Semiconduktor Field-Effect Transistor). JFET terdiri atas
kanal-P dan Kanal N. JFET adalah komponen tiga terminal dimana salah satu terminal
dapat mengontrol arus antara dua terminal lainnya. JFET terdiri atas dua jenis, yakni kanalN dan kanal-P, sebagaimana transistor terdapat jenis NPN dan PNP. Pada umumnya
penjelasan tentang JFET adalah kanal-N, karena kanal-P adalah kebalikannya.

Gambar 5 Transistor JFET

Cara kerja JFET


Jika channel antara source dengan drain cukup lebar maka elektrok akan mengalir dari
source ke drain, hal ini sama seperti hukum GGL dimana beda potensial tinggi ke potensial
rendah. Dan jika channel ini menyempit, maka aliran elektron akan berkurang atau berhenti
sama sekali. Lebar channel sangat ditentukan oleh Vgs (Tegangan antara Gate dengan Source).
Ilustrasinya seperti gambar berikut

Gambar 6. cara kerja JFET

Drain harus lebih positif dari source sedangkan gate harus lebih negatif dari source. Jika
tegangan gate cukup negatif, maka lapisan pengosongan akan saling bersentuhan sehingga
saluran akan terjepit sehingga Id = 0. Tegangan Vgs ini kadang-kadang disebut sebagai
tegangan pinch-off (pinch-off voltage) dan besarnya tegangan ini ditentukan oleh karakteristik
JFET.Sambungan gate dengan source merupakan diode silicon yang diberi prategangan terbalik
sehingga idealnya tidak ada arus yang mengalir. Dengan demikian maka Is = Id. Karena tidak
ada arus yang mengalir ke gate maka resistansi masukan JFET sangat tinggi (puluhan sampai
ratusan Mega OHM).
d. MOSFET

Gambar 7 Transistor MOSFET

MOSFET (Metal Oxide Semiconduktor Field effect transistor adalah suatu transistor dari bahan
semiconduktor (silicon) dengan tingkat konsentrasi ketidakmurnian tertentu. Tingkat dari
ketidak murnian ini akan menentukan jenis transistor tersebut, yaitu transistor MOSFET tipe
N (NMOS) dan transistor MOSFET tipe-P (PMOS).

Cara kerja MOSFET dibedakan menjadi dua yaitu

Transistor Mode Pengosongan (Transistor Mode Depletion)

Gambar 8 Mode Depletion

Pada transistor mode depletion, antara drain dan source terdapat saluran
yang menghubungkan dua terminal tersebut, dimana saluran tersebut terdapat
fungsi sebagai saluran tempat mengalirnya elektron bebas. Lebar dari saluran
itu sendiri dapat dikendalikan oleh tegangan gerbang. Transistor MOSFET
mode pengosongan terdiri dari tipe-N dan tipe-P

Transistor Mode Peningkatan (transistor Mode Enchancement)

Gambar 9 Mode Enchancement

Transistor mode enchancement ini pada fisiknya tidak memiliki saluran antara
drain dan source nya karena lapisan bulk meluas dengan lapisan SiO2 pada
terminal gate.

Transistor sebagai Penguat


Salah satu fungsi Transistor yang paling banyak digunakan di dunia Elektronika
Analoga adalah sebagai penguat yaitu penguat arus,penguar tegangan, dan penguat
daya. Fungsi komponen semikonduktor ini dapat kita temukan pada rangkaian PreeAmp Mic, Pree-Amp Head, Mixer, Echo, Tone Control, Amplifier dan lain-lain.
Prinsip kerja transistor pada contoh rangkaian di bawah adalah, arus kecil pada
basis (B) yang merupakan input dikuatkan beberapa kali setelah melalui Transistor.
Arus output yang telah dikuatkan tersebut diambil dari terminal Collector (C). Besar
kecilnya penguatan atau faktor pengali ditentukan oleh beberapa perhitungan resistor
yang dihubungkan pada setiap terminal transistor dan disesuaikan dengan tipe dan
karakteristik transistor. Signal yang diperkuat dapat berupa arus DC (searah) dan arus
AC (bolak-balik) tetapi maksimal tegangan output tidak akan lebih dari tegangan
sumber (Vcc) Transistor.

Bentuk signal input dan output penguatan

Pada gambar pertama (Transistor Sebagai Penguat), tegangan pada Basis (dalam
mV) dikuatkan oleh Transistor menjadi besar (dalam Volt). Perubahan besarnya
tegangan output pada Collector akan mengikuti perubahan tegangan input pada Basis.
Pada gambar kedua dapat terlihat perubahan dan bentuk gelombang antara input dan
output yang telihat melalui Osciloscope.Berdasarkan cara pemasangan ground dan
pengambilan output, penguat transistor dibagi menjadi tiga bagian yaitu

:
1) Konfigurasi Common Base
Penguat Common Base digunakan sebagai penguat tegangan. Pada rangkaian ini Emitor
merupakan input dan Collector adalah output sedangkan Basis di-ground-kan/
ditanahkan.

Sifat-sifat Penguat Common Base:


1

Isolasi input dan output tinggi sehingga Feedback lebih keci.

Cocok sebagai Pre-Amp karena mempunyai impedansi input tinggi yang


dapat menguatkan sinyal kecil.

Dapat dipakai sebagai penguat frekuensi tinggi.

Dapat dipakai sebagai buffer.

2) Konfigurasi Common Emitor:


Penguat Common Emitor digunakan sebagai penguat tegangan. Pada rangkaian ini
Emitor di-ground-kan/ ditanahkan, Input adalah Basis, dan output adalah Collector.

Sifat-sifat Penguat Common Emitor:


1

Signal output berbeda phasa 180 derajat.

Memungkinkan adanya osilasi akibat feedback, untuk mencegahnya sering


dipasang feedback negatif.

Sering dipakai sebagai penguat audio (frekuensi rendah).

Stabilitas penguatan rendah karena tergantung stabilitas suhu dan bias


transistor.
Jika tegangan keluaran turun oleh pertambahan arus beban , maka VBE
( tegangan basis emiter ) bertambah dan arus beban bertambah beasr pula ,
sehingga titik q( kerja ) bergeser keatas sepanjang garis beban , dan
VEC( tegangan emiter colector) berkurang . Akibatnya Vo (tegangan
keluaran ) bertambah besar melawan turunnya Vo oleh arus beban sehingga
keluaran Vo akan tetap
Emiter menjadi bagian bersama untai masukan dan keluaran. Resistansi
keluarannya adalah resistansi didalam penguat yang terlihat oleh beban,
resistansi keluaran, diperoleh dengan membuat Vs = 0 dan RL ( hambatan beban
) = . Dengan menghubungkan pembangkit luar pada ujung keluaran , maka
arus mengalir kedalam penguat.

Konfigurasi emitor-bersama lebih sering digunakan sebagai penguat arus. Sesuai


dengan namanya emitor dipakai bersama sebagai terminal masukan maupun
keluaran. Arus input dalam konfigurasi ini adalah

Besarnya arus kolektor adalah

Atau

Untuk menyederhanakan persamaan di atas kita telah mendifinisikan nisbah


transfer arus
sebagai

dan kita dapat mencatat besarnya arus cutoff kolektor sebagai

Dengan demikian bentuk sederhana persamaan arus keluaran (kolektor) dalam


bentuk
arus masukan (basis) dan nisbah transfer-arus adalah

Gambar Karakteristik transistor n-p-n untuk konfigurasi emitor-bersama


Bentuk karakteristik emitor-bersama diperlihatkan pada gambar besarnya
arus masukan B i relatif kecil untuk tegangan kolektor-emitor lebih besar 1 V,
dan
harganya tergantung pada besarnya tegangan sambungan emitor-basis. Untuk
BJT silikon misalnya, untuk tegangan panjar maju sekitar 0,7 V akan
memberikan B i yang cukup besar.

c. Penguat Common Collector


Penguat Common Collector digunakan sebagai penguat arus. Rangkaian ini hampir
sama dengan Common Emitor tetapi outputnya diambil dari Emitor. Input dihubungkan
ke Basis dan output dihubungkan ke Emitor. Rangkaian ini disebut juga dengan Emitor
Follower (Pengikut Emitor) karena tegangan output hapir sama dengan tegangan input.

Sifat-sifat Penguat Common Collector:


1

Signal output dan sigal input satu phasa (tidak terbalik seperti Common
Emitor).

Penguatan tegangan kurang dari 1 (satu).

Penguatan arus tinggi (sama dengan HFE transistor).

Impedansi input tinggi dan impedansi output rendah sehingga cocok


digunakan sebagai buffer.

Berdasarkan titik kerjanya penguat transistor ada tiga jenis, yaitu:


1

PenguatKelas A
Penguat kelas A adalah penguat yang titk kerja efektifnya setengah
tegangan VCC penguat. Untuk bekerja penguat kelas A memerlukan bias
awal yang menyebabkan penguat penguat dalam kondisi siap untuk
menerima sinyal.

2. PenguatKelas B
Penguatkelas B adalah penguat yang bekerja berdasarkan
tegangan bias dari sinyal input yang masuk. Titik kerja penguat kelas B
berada di titik cut-off transistor. Dalam kondisi tidak ada sinyal input
maka penguat kelas B berada dalam kondisi OFF dan baru bekerja jika
ada sinyal input dengan level di atas 0,6 Volt (batas tegang bias
transistor).

Penguat kelas B mempunyai efisiensi yang tinggi karena baru


bekerja jika ada sinyal input. Namun karena ada batasan tegangan 0.6
Volt maka penguat kelas B tidak bekerja jika level sinyal input dibawah

0.6Volt. Hal ini menyebabkandistorsi (cacatsinyal) yang disebut distorsi


cross over, yaitu cacat pada persimpangan sinyal sinus bagian atas dan
bagian bawah.
3. Penguatkelas AB
Penguat kelas AB merupakan gabungan dari penguat kelas A dan
penguat kelas B. Penguat kelas AB diperoleh dengan sedikit menggeser
titik kerja transistor sehingga distorsi cross ever dapat diminimalkan
Titik kerja transistor tidak lagi di garis cutt-off namun sedikit di atasnya.

4.

Penguatkelas C
Penguat kelas C mirip dengan penguat kelas yaitu titik kerjanya

berada di daerah cutt-off transistor. Bedanya adalah penguat kelas C hanya


perlu satu transistor untuk bekerja normal tidak seperti kelas B yang harus
menggunakan dua transistor.

Dalam dunia elektronika, fungsi transistor ini adalah sebagai berikut:

Sebagai sebuah penguat (amplifier).

Sirkuit pemutus dan penyambung (switching).

Stabilisasi tegangan (stabilisator).

Sebagai perata arus.

Menahan sebagian arus.

Menguatkan arus.

Membangkitkan frekuensi rendah maupun tinggi.

Modulasi sinyal dan berbagai fungsi lainnya.

Dalam rangkaian analog, transistor digunakan dalam amplifier (penguat). Rangkaian


analog ini meliputi pengeras suara, sumber listrik stabil, dan penguat sinyal radio.
Dalam rangkaian-rangkaian digital, transistor digunakan sebagai saklar berkecepatan
tinggi.

C. TERMISTOR

Nama termistor berasal dari Thermally Sensitive Resistor. Termistor biasanya


termasuk material-material semikonduktor yang dibagi dua golongan:oksida logam dan
semikonduktor kristal tunggal.
Termistor atau thermal resistor adalah suatu jenis resistor yang sensitive
terhadap perubahan suhu. Prinsipnya adalah memberikan perubahan resistansi yang
sebanding dengan perubahan suhu. Perubahan resistansi yang besar terhadap perubahan
suhu yang relatif kecil menjadikan termistor banyak dipakai sebagai sensor suhu yang
memiliki ketelitian dan ketepatan yang tinggi. Termistor yang dibentuk dari bahan
oksida logam campuran (sintering mixture), kromium, kobalt, tembaga, besi, atau nikel,
berpengaruh terhadap karakteristik termistor, sehingga Pemilihan bahan oksida tersebut
harus dengan perbandingan tertentu. Dimana termistor merupakan salah satu jenis
sensor suhu yang mempunyai koefisien temperatur yang tinggi.
Termistor dibedakan dalam 2 jenis, yaitu termistor yang mempunyaikoefisien
negatif, yang disebut NTC (Negative Temperature Coefisient), temistor yang
mempunyai koefisien positif yang disebut PTC (Positive TemperatureCoefisient).
Kedua jenis termistor ini mempunyai fungsinya masing masing, tetapidi pasaran, yang
lebih banyak digunakan adalah termistor NTC. Karena termistor NTC material
penyusunnya yaitu metal oksida, dimana harganya lebih murah darimaterial penyusun
PTC yaitu Kristal tunggal.

Tipe Termistor dibagi menjadi 2 yaitu:


1. NTC
NTC merupakan termistor yang mempunyai koefisient negatif. Dimana
bahannya terbuat dari logam oksida yaitu dari serbuk yang halus kemudian dikompress

dan disinter pada temperatur yang tinggi. Kebanyakan pada material penyusun termistor
biasa mengandung unsur - unsur seperti Mn2O3, NiO, CO2O3, Cu2O, Fe2O3, TiO2, dan
U2O3. Oksida-oksida ini sebenarnya mempunyai resistansi yang sangat tinggi, tetapi
dapat diubah menjadi bahan semikonduktor dengan menambahkan beberapa unsur lain
yang mempunyai valensi yang berbeda disebut dengan doping dan pengaruh dari
resistansinya dipengaruhi perubahan temperatur yang diberikan. Termistor logam
oksida digunakan dalam daerah 2000K sampai 7000K. Untuk digunakan pada
temperatur yang sangat tinggi, termistor dibuat dari Al2O3, BeO, MgO, Y2O3, dan
Dy2O3.
2. PTC
PTC merupakan termistor dengan koefisien yang positif. Termistor PTC
memiliki perbedaan dengan NTC antara lain :
1. Koefisien temperatur dari thermistor PTC bernilai positif hanya dalam interfal
temperatur tertentu, sehingga diluar interval tersebut akan bernilai nol atau
negatif,
2. Harga mutlak dan koefisien temperatur dari termistor PTC jauh lebih besar
daripada termistor NTC.
Jenis-jenis PTC:
Jenis pertama terdiri dari thermally sensitif silicon resistors, kadang-kadang
disebut sebagai "Silistors". Device ini menunjukkan nilai koefisien suhu positif yang
cukup seragam (sekitar 0,77% /C) kebanyakan dari silistor melalui berbagai
wilayah/rentang operasional, tetapi dapat juga menunjukkan koefisien suhu negatif
diwilayah temperatur yang melebihi 150C. Device ini paling sering digunakan untuk
kompensasi terhadap device semiconducting silicon dalam kisaran temperature antara
-60C ke 150.
Jenis kedua merupakan polycrystalline bahan keramik yang biasanya
resistivitasnya tinggi tetapi terbuat dari semiconduktor dengan penambahan dopants.
A. Kakteristik Thermistor
Kebanyakan termistor digunakan pada daerah temperatur dalam konsentrasi
inonisasi (n atau p) yang berpengaruh terhadap fungsi temperatur. Dimana energy
aktivasi Ea adalah hubungan pada energi gap dan tingkat impuritas. Dimana nilai

hambatan semakin kecil ketika temperaturnya dinaikkan, ini yang biasa disebut
termistor NTC
Dimana R adalah hambatan pada suhu T, R0 adalah hambatan awal ketika T0
(pada temperatur ruang), B adalah Konstanta termistor dimana besarnya bergantung
dari jenis bahan dan memiliki dimensi yang sama dengan suhu. Hargakonstanta
termistor yang memenuhi pasar biasanya antara rentang 2000-5000 K.
Dengan =R

A
l

merupakan resistivitas listrik thermistor. Selain konstanta

thermistor (B), sensitivitas ()juga menentukan karakteristik dari termistor. Nilai


sensitivitas menentukan sejauh mana termistor

yang dibuat dapat dengan cepat

mendeteksi perubahan temperatur lingkunagan termistor. Termistor yang baik


sensitifitasnya lebih besar dari -2,2%/K.
Ciri khas dari harga adalah sekitar = -5% yang mana 10 kali lebih sensitiv dari
pada detektor temperatur resistansi metal. Resistansi dari termistor berada pada daerah
1 K sampai 10 M.

Karakteristik dari termistor:

Resistansi tinggi 30 sampai 41,5k


Respon waktu cepat, untuk thermistor manik detik
Lebih murah daripada RTD
Sensitivitas sangat tinggi (1000 kali lebih sensitif daripada RTD
Perubahan resistansi 10% per C. Misal resistansi nominal 10 maka

resistansi akan berubah 1 utk setiap perubahan temperatur 1 C


Tidak sensitif terhadap shock dan vibrasi
Dilindungi capsul (plastik, teflon/material lembam)
Memperlambat waktu respon karena kontak termal kurang baik

Proses Kerja Termistor


Termistor dibuat dari bahan semikonduktor. Cara kerja Termistor yaitu ketika
suhu

meningkat

maka

karena Termistor terbuat

dari

resistansi Termistor
bahan

akan

semikonduktor

menurun.
yang

Hal

mempunyai

ini
sifat

menghantarkan electron ketika suhu naik. Termistor yanng paling sering digunakan
untuk pengukuran suhu adalah Termistor dua kawat meskipun banyak jenis Termistor.
Mengukur termistor menggunakan multitester baik digital maupun analog pada
posisi kiloohm, jika Termistor tidak mempunyai tahanan artinya rusak. Nilai tranducer
harus stabil pada suhu kamar dan menurun ketika ujung tranducer ketika dipanaskan.
Setiap penambahan derajat Termistor mempunyai perubahan hambatan sangat besar.
Ketika Termistor dihubungkan ke kontroler adalah cara terbaik untuk mengukurnya.
Pada mode VDC pasang kabel multi meter dikabel Termistor. Bila terukur tegangan 5
volt maka artinya tidak ada hubugan atau tahanan pada Termistor, jika tegangan 0 volt
maka Termistor short. Namun jika pada suhu ruangan 25 derajat maka Termistor harus
mendapat tegangan sebesar 2,5 volt. Namun ada pula pendingin ruangan yang
controllernya menggunakn tegangan 3,3 volt ketika thermistor memutuskan arus dan
tegangan 1,7 volt ketika suhu ruangan 25 derajat.

Anda mungkin juga menyukai